I Can’t Life Without You

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

 

a/n: yang di italic itu artinya plesbeck yahhh!!! Hohohoh ingat plesbeck!!

 

AUTHOR’S POV

 

“Ah~ kenapa aku bermimpi seperti ini lagi? Kumohon enyahkan mimpi buruk itu dari fikiranku” Gumam seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya, ia beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, sebelum masuk kekamar mandi sekilas ia melirik kearah jam dinding yang tergantung disebuah dinding dekat dengan meja kerjanya. Jam dua dinihari, lirihnya. Ia selalu saja terbangun saat jam dua dinihari.

“Aku membencimu Lee Donghae, kau bermain wanita dibelakangku! Aku sudah tak percaya lagi dengan bualanmu itu. Dan enyahlah kau dari hadapanku!” Teriak nyaring seorang Yeoja, wajahnya merah padam, menahan rasa marah yang ia tahan sedari tadi.

 

“Aku berani bersumpah Je~ dia hanya temanku saja. Dia tiba-tiba saja masuk kedalam ruanganku saat aku lembur.” Sangkal laki-laki itu

 

“Aku tak percaya, aku melihat adegan itu dengan mata kepalaku sendiri, jadi jangan menyangkal apa yang kau perbuat!” Teriak lagi wanita itu lebih nyaring.

 

“Je~ aku bisa menjelaskannya, tapi kau tak mau mendengarnya. Aku benrani bersumpah Je~ aku tak berselingkuh!!!”

 

“AKU TAK PERCAYA –” Ucapan wanita itu terputus akibat ciuman yang dilakukan oleh laki-laki yang ia debat tadi. Dengan sekuat tenaga wanita itu memukul dada sang laki-laki didepannya sedangkan laki-laki tersebut terus saja menciumnnya dengan kasar. Dengan kasar pula wanita itu mendorong tubuh laki-laki yang ada didepannya.

 

“Aku akan mengurus surat cerai kita dalam waktu dekat ini!” Ucap wanita itu sambil melegang pergi meninggalkan laki-laki yang menatapnya dengan pandangan kosong.

 

“Aku tak akan pernah menandatanginnya Je~” Ucapnya pelan, ia terduduk di sofa yang ada didalam ruangan tengah apartemennye, ia mengusap wajahnya dengan tangannya.

Hah! Ia mendesah pelan saat mengingat pertengkarannya dengan sang suami seminggu yang lalu. Ia berjalan dengan langkah yang tertatih mungkin saja itu akibat mimpinya yang ia alami selama satu minggu terakhir ini.

Setelah masuk kekamar mandi untuk mencuci mukannya ia kembali ke tempat tidurnya, untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh mimpi buruknya yang baru saja ia alami. Perlahan-lahan ia menutup matanya untuk tidur kembali, tapi usahanya sia-sia, selalu saja ia tak bisa tertidur kalau ia sudah mendapatkan mimpi yang sama seminggu trakhir ini.

Tangannya meraba-raba, mencari benda mati hitam yang berbentuk persegi itu, setelah menemukan ia segera mengaktifkan ponselnya yang semula terkunci kini telah terbuka. Ia tak terkejut lagi saat melihat layar ponselnya yang penuh dengan pesan dari sang suami selama seminggu ini.

Isi pesan yang sama, selalu mengirim pesan dengan kata-kata minta maaf itu hanya kesalah pahaman saja. Ia sudah tak perduli lagi dengan suaminnya. Memang dari dulu saat mereka belum menikah suaminya itu tak pernah mencintainnya. Saat masih menjabat sebagai mahasiswa saja dirinya dijadikan barang taruhan oleh suaminya dan teman-temannya. Miris. Mirisa sekali kalau mengingat bagaimana ia menjadi barang taruhan oleh laki-laki yang sudah berstatus suaminnya.

Gadis itu sedang berajalan dikoridor kampusnya, seharusnya ia sudah pulang sedari tadi. Tapi saat ia sudah sampai dihalte ia ingat ada beberapa barang yang tertinggal didalam kelasnya. Ia mengerutuki kecerobohannya yang tak pernah hilang pada dirinya.

 

Saat ia melewati ruang Dance, ia mendengar sayup-sayup suara yang sedikit ia kenali. Karena penasaran ia segera mendekati raungan itu. Sebelum ia membuka pintu ruangan itu ia tak sengaja mendengar ucapan yang berasal dari dalam ruangan itu.

 

“Yah! Kau hebat sekali Hae~a bisa mendapatkan Jaekyung yang sudah menjadi pacarmu itu. Hmm~ kira-kira kau sudah menjalani hubungan dengan Jaekyung berapa hari?” Tanya laki-laki yang sedang membuka tutup botol yang ada ditangannya.

 

“Lima hari!” Ucapnya Cuek, ia malas sekali kalau temannya itu menannyakan hubungannya dengan laki-laki yang ada disampingnnya.

 

“Ah, aku belum memberikan uang taruhanku saat kau menang taruhan dari kami padamu bukan?” Gadis yang ada masih tetap setia didepan pintu untuk mendengarkan pembicaraan mereka hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.

 

“Ne! cepat berikan!”Ucap laki-laki bernama Hae itu sambil menjulurkan tangannya untuk menagih uang dari temannya, “Dan Kyuhyun~a kau juga harus memberikan uang itu padaku!” Teriak laki-laki itu, orang yang diteriakinya hanya bisa mendengus kesal. Kesal karenaia kalah dari temannya itu.

 

“Aish! Kalau Jaekyung menerimaku aku pasti menang taruhan ini!” Gadis yang masih asik dengan kegiatan mengupinya itu hanya bisa mematung mendengar teriakan laki-laki yang bernama Kyuhyun itu.

 

“BRAKKK”

 

Dengan tak sabar ia membuka pintu ruangan Dance itu, dan menghasilkan bunyi yang memekikkan telinga. Ketiga orang yang ada didalamnnya hanya bisa terperangah kaget saat mengetahui siapa yang membuka pintu itu dengan kasar.

 

“Je~” Donghae langsung beranjak dari duduknya, dan langsung berjalan menuju Yeojachingunya yang ada diambang pintu. Mata gadis itu memerah akibat menahan emosi, dan air mata yang ia tahan dipelupuk matanya agar tak jatuh keluar.

 

“Aku bisa menjelaskannya Je~” Ucap Donghae memohon, Gadis yang dipanggil Je itu hanya bisa menggeleng pelan ia tak percaya. Gadis itu masih diam, dan air mata yang masih ia tahan dipelupuk matanya perlahan-lahan jatuh. Ia menangis, ini terlalu menyakitkan baginya, hubungannya dengan pria yang ada didepannya baru saja menginjak lima hari dan ia mendengarkan dengan jelas kalau dirinya itu hanya sebagai barang taruhan.

 

Gadis itu membuka suara, “Kau menjadikanku barang taruhan Donghae~a? aku kira kau benar-benar mencintaiku setulus hati, tapi apa yang kudengar tadi kau hanya menganggaku sebagai barang taruhan yang dinilai dengan uang yang tak seberapa itu. Seharusnya aku percaya dengan ucapan teman-temanku kalau kau hanya mempermainkanku saja! Haha!” Wanita itu menahan isak tangisnya, walaupun air matanya yang sudah sedari tadi sudah tak terbendung lagi dan mengalir dengan deras.

 

“Aku memang menjadikanmu barang taruhan, tapi aku berani bersumpah saat kau duduk sendiri dikursi taman kampus dan aku sedang mendengarkan musik aku terkena sindrom Cinta pada pandangan pertama, aku menyukaimu dan mencintaimu dengan setuluh hatiku Je~!”

 

“AKU TAK PERCAYA!!!” Teriak wanita itu dan meninggalkan laki-laki yang bernama Lee Donghae itu yang hanya bisa diam dan mematung.

 

Wanita itu berjalan sedikit tergesa, ia menyetop taxi saat ia sudah dekat dengan jalan raya, ia ingin segera pulang Ia benar-benar tak menyangka kalau laki-laki yang Ia cintai itu menjadikan dirinya sebagai barang taruhan. Hati perempuan mana yang tak akan sakit hati?

 

“Sialan, kalau dia benar-benar mencintaiku seharusnya ia mengejarku” Geram wanita itu, ia masih tetap terisak, tangannya dengan cekatan menghapus air mata yang terus saja mengalir.

Ia kembali membuka matanya, matanya memanas saat ia mengingat masa lalunya. Sudah dua kali ia dikhiatani olah laki-laki yang ia cintai. Dengan perlahan matanya terlelap, karena ia lelah menangis terus akibat yang di lakukan oleh Suaminnya.

***

Pagi menjelang, wanita yang sedang terlelap itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralisirkan cahaya yang masuk dari celah jendelanya. Ia perlahan menundukan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya di punggu kasurnya. Ia mengusap matanya agar penglihatannya menjadi lebih jelas lagi. Ia menoleh kesamping dan mendongakkan wajahnya untuk melihat jam. Jam tujuh pagi, ia harus bersiap-siap untuk pergi kekantornya. Sebagai direktur ia harus memberi contoh disiplin kepada karyawannya.

Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kearah kamar mandi untuk melakukan aktivitas rutin pagi yang dilakukan oleh semua orang. Setelah mandi dan memakai baju yang sudah rapi ia segera memberskan kamarnya, dan mengumpulkan benda-benda yang sangat penting untuk dibawa kekantornya. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan ia terlonjak kaget saat ia melihat laki-laki yang sedang duduk tenag di sofa yang ada diruang tengah apartmennya.

“Bagaimana bisa kau masuk keapartmenku ini?” Ucap wanita itu Dingin, laki-laki itu mendongak dan menatap wanita itu dengan pandangan lembut, “Jangan menatapku dengan pandangan menjijika itu, aku sudah tak terpengaruh dengan pandangan itu!” Ucapnya tajam.

Peria itu berdiri, “Je~ mari kita sudahi perang dingin ini, dan aku tak akan menerima surat cerai itu.” Mohonnya pada Istrinya, Wanita itu hanya melengosakan wajahnya ia tak sanggup melihat laki-laki yang ada di hadapannya. Ia melangkah mundur saat melihat laki-laki itu berjalan mendekatinya. Dengan cepat laki-laki itu memeluk tubuh wanita yang ada dihadapannya.

Ia berbisik, “Aku merindukanmu Jaekyung~a!!!” Bisiknya lembut, dan seketika pelukannya terlepas akibat dorongan dari wanita itu.

Wanita itu menatap tajam laki-laki yang ada dihadapannya dan mengucapkan kata-kata yang membuat hati laki-laki itu terluka, “Tapi aku tak merindukanmu. Enyah kau dari hidupku jangan pernah kembali didalam hidupku!” Wanita itu meninggalkan laki-laki yang hanya mematung menghadapi pintu kamar yang di huni oleh istrinya itu.

Dengan cepat ia membalikan tubuhnya dan denga berajalan tergesa pula ia melangkah menuju Istrinya yang akan keluar dari apartmen milik Istrinya. Dengan cepat ia menarik pergelangan tangan Istrinya dan membalikan tubuh istrinya dengan cepat pula Donghae mencium bibir merah ranum milik Istrinya.

Mendapat perlakuakn seperti itu Jaekyung hanya bisa membelalakan matanya saja, ia begitu kaget saat laki-laki itu mencium tepat dibibirnya. Ia kaget bukan ini ciuman pertamannya, melainkan ciuman dari sang suami itu mengakibatkan tubuhnya lumpuh seketika. Badannya bergetar pelan, tas yang ada di tangannya hampir saja jatuh kalau ia tak memegangnya dengan erat.

Seolah sadar apa yang sudah di lakukan oleh suaminya, Jaekyung mendorong tubuh suaminya lebih kuat. Air matanya tiba-tiba saja mengalir begitu saja tanpa peringatan atau apa. Ia mengusap bibirnya yang telah dicium oleh Suamninya sendiri, dan setelah mengusap ia segera pergi dari hadapan suaminnya. Sang suami hanya bisa menggeram melihat kepergian istrinya.

Ia kembali masuk kedalam apatrmen milik istrinya ini dan segera menghempaskan tubuhnya disofa yang ada diruangan tersebut. Ia memejamkan matanya, dan dengan seketika ia mengingat bagaimana ia bisa bertemu dengan Jaekyung, dan bisa menjadi istrinya.

“Kau lihat wanita yang sedang duduk dan memegang ponsel? Siapa yang bisa mengikatnya menjadi yeojachingu dari kalian aku akan memberikan jatah uangku selama satu bulan dan meminjamkan motorku selama satu bulan!” Ucap seorang laki-laki yang sedang asik mengunyah permen karet itu.

 

“Bukankah dia Hoobae kita, kudengar saat Ospek bulan kemarin dia pernah menampar sunbaenya gara-gara sunbaenya itu menggodanya!” Jawab laki-laki yang disamping laki-laki yang sedang mengunyah permen karet itu.

 

“Bagaimana Kyu? Kau tertarik tidak? Dan kau Hae? Kau mau taruhan uang sebulanku aku taruhkan, tapi kalau aku yang mendapatkannya kalian berdua yang memberikan uang sebulan kalian padaku!” Cengiran lebar itu terlukis dibibir laki-laki yang mengunyah permen karet itu. Tapi berbeda dengan kedua laki-laki itu, mereka membelalakan matanya. Salah satu dari mereka memukul kepala laki-laki itu, “Aish! Appo!!! Kyu!!!”

 

“Aku tak tertarik Hyuk! Kau dan kyuhyun saja” Ucap laki-laki yang bernama Hae. Dia yang sedari tadi hanya fokus pada buku yang ada di depannya, dan ia sama sekali tak tertarik dengan taruhan temannya itu.

 

“Jangan membaca buku saja, kau belum lihat bagaimana paras wanita yang akan menjadi korban kita bukan? Kau pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama Donghae~a!!!” Laki-laki yang beranama Donghae itu segera meletakan buku yang sedari ia baca, dan mendongakan kepalanya. Ia merasa dunia milik ia dan gadis yang sedang duduk di bangku ditaman kampusnya. Gadis itu sedang mendengarkan musik lewat headsetnya, mulutnya bergerak kecil mengikuti alunan lagu yang berasal dari ponselnya dan terhubung keheadsetnya.

 

Beberapa detik laki-laki yang bernama Donghae itu melamun, membayangkan kalau dia bisa bersanding disamping gadis yang sedang duduk dibangku kampus. Ia benar-benar ingin gadis itu menjadi miliknya, bukan berarti ia menyetujui taruhan yang diajukan oleh teman-temannya itu.

 

Ia tersentak kaget saat salah satu temannya menepuk bahunya, “Ya! Kau mengagetkanku saja.” Ujarnya kesal karena imajinasinya terbang entah kemana gara-gara tepukan bahunya yang tak bisa dibilang cukup pelan itu.

 

“Kau terkena sindrom ‘Cinta Pada Pandangan Pertama’ Huh? Terlihat jelas sekali dari raut wajahmu” Ledek laki-laki yang sedang mengambil suatu benda dari dalam tasnya, ia sedikit menyeringai saat melihat wajah temannya sedikit memerah, “Omo! Lihatlah Hyuk wajanya itu!” Tunjuk laki-laki itu yang sudah memegang PSPnya. Laki-laki yang bernama Hyuk itu segera Menoleh dan dengan cepat ia menutup mulutnya untuk menahan tawanya yang akan meledak.

 

“Yak! Kalau kau ingin tertawa, tertawa saja bodoh tak usah kau tahan” Kesal Donghae yang melihat temannya yang sedang menahan kuat tawanya, sedetik kemudian ia mendengar ledakan tawanya dari sampingnnya. Ia melihat temannya itu dengan pandangan datar. “Memalukan sekali!”

 

“Jadi bagaimana kalian ikut?” Tanyanya lagi Hyukjae pada teman-temannya.

 

“Aku ikut saja, uang sebulan sangat membantuku untuk membeli kaset game edisi baru!” Kikik Kyuhyun, membayangkan kalau dirinya pasti menang taruhan yang diajukan oleh Hyukjae.

 

“Aku ikut juga, tapi aku tak tertarik dengan uangnnya!”

 

“Aku tau aku tau, kau tertarik dengannya bukan?” Kembali, Hyukjae menggoda Donghae. Donghae memukul kepala temannya dengan buku yang cukup tebal itu kekapala Hyukjae “Aish! Sakit bodoh!” Gumam Hyukjae yang terkena hantaman itu.

***

 

Laki-laki itu sedikit meringis mengingat bagaimana dulu istrinya dijadikan barang taruhan oleh teman-temannya, tapi ia memang tak ada niatan sedikitpun untuk membuat Jaekyung barang taruhan. Ia benar-benar tulus mencintai istrinya itu. Dan hari itu pula Jaekyung mulai menjauhinya, Donghae sering menghubunginnya tapi Jaekyung terus saja menolak panggilan Donghae.

Sebulan telah mengakhiri Hubungan mereka tapi Donghae tak pantang menyerah, ia dengan keberanian datang kekeluarga Han. Memberanikan dirinya untuk melamar Jaekyung didepan kedua orang tua Jaekyung. Ia datang tak sendiri, melainkan dengan Ibunya dan kakaknya karena ayahnya telah meninggal saat ia lulus SMA.

Dan pada saat hari pelamaran itu, akhirnya Donghae diterima sebaigaimenantu keluarga Han. Saat itu pula Donghae senang tak terhingga, tapi kesenangannya runtuh akibat yang diucapkan oleh Jaekyung yang baru saja pulang dari kampusnnya. Saat itu pula Donghae menjelaskan kenapa Jaekyung dijadikan barang taruhan oleh dirinya dan teman-temannya. Dan hasilnya ia kembali diterima oleh keluarga han, walaupun Jaekyung masih tak menerimannya tapi lama-kelamaan Jaekyung menerima Donghae sebagai Suaminnya.

Donghae menghembuskan nafasnya perlahan, hidup berjauhan dengan Jaekyung membuat hidupnya berantakan. Pekerjaanya menjadi terbengkalai, kalau saja temannya itu tak datang ia pasti tak akan mengalami masalah serumit ini.

***

JAEKYUNG’S POV

 

“Oh~ sajangnim, kau taka pa?” Tanya sekertarisku saat aku berjalan aku hampir saja terjatuh karena aku tersandung oleh kaki meja. Aku ini kenapa?

“Ne, aku taka apa!” Ucapku sedikit parau, akhir-akhir ini stamina tubuhku menjadi menurun. Entah aku juga tak tau, apa ini akibat satu minggu tak bertemu dengannya? Ah, lupakan laki-laki penghianat itu Je~

Aku kembali berjalan menuju ruanganku, tapi tiba-tiba saja pandanganku menjadi blur dan aku mendengar teriakan dari sekertarisku.

“SAJANGNIM!!!!”

***

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali untuk menormalkan penglihatanku ini. Aku mengusap mataku berkali-kali agar mataku bisa melihat dengan Normal. Mataku menangkap sosok laki-laki yang sedang tertidur di sofa ruangan ini, laki-laki yang sudah satu minggu ini tak tinggal serumah lagi denganku. Mataku melebar saat mengetahui siapa sosok laki-laki itu.

“Lee Donghae~” Ucapku parau, ia sedikit menggeliat dari tidurnya. Dan sedetik kemudian ia langsung beranjak dari tidurnya dan langsung berjalan mendekatiku. Aku hanya memasang wajah tak mengerti kenapa dia bisa berelebihan seperti ini.

“Je~ kau tak apa kan? Apa kepalamu pusing? Perutmu sakit? Katakana padaku!!!” Cerocosnya, aku masih diam tak menanggapi ucapannya. Dia berlebihan sekali aku hanya tertidur dan dia langsung berelebihan seperti ini. seolah mengerti dengan raut mukaku ia membuka suara lagi, dan apa yang diucapkannya membuat mataku melebar.

“Kau tak sadarkan diri selama dua hari Je~!”  Dua hari? Aku bahkan tak mengalami kecelakaan atau apapun, “Kau pingsaan saat kau akan masuk kedalam ruang kerjamu, dan sekertarismu langsung menghubungiku kalau kau pingsan mendadak dikantormu, saat aku mendengar kau pingsan aku langsung pergi kekantormu dan melarikanmu kerumah sakit ini.” Aku mendengar ucapannya hanya bisa terdiam, aku sedikit linglung sekarang.

“Kau baik-baik saja kan Je~?” Donghae bertannya lagi, aku masih tetap tak menjawab ucapannya, melihat aku yang tak merespon ucapnnya dia hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ia mengusap kepalaku pelan, dan itu membuatku merasakan kehangatan yang dialirkan oleh sang suami pada istrinya.

Ia menuntunku untuk merebahkan diriku dikasur yang sedang menjadi alas dudukku, “Kau istirahat saja, kalau kau sudah sehat kembali kau bisa keluar dari rumah sakit ini.” Aku mengangguk, dia tersenyum melihatku yang mengangguk. Ia tersenyum karena aku akhirnya merespon apa yang ia katakana tadi padaku.

“Donghae~a, aku lapar!” Ucapku saat ia akan beranjak dari duduknnya, ia kembali mengembangkan senyumnnya saat aku merengek padanya untuk memberikanku makanan, “Tapi aku tak mau masakan rumah sakit!” Ucapku lagi, kalau yang ini aku sedikit err… Manja padanya.

“Baiklah, aku akan segera kesini setelah aku membeli makanan untukmu!” Dia kembali mengelus-ngelus lembut rambutku, aku hanya bisa memejamkan mataku saja. Merasa tenang dengan sikap suamiku ini. kekesalan selama satu minggu ini entah seketika lenyap terbang bersama bunga mimpiku selama dua hari ini.

Duapuluh menit aku menunggu Donghae yang sedang keluar untuk membeli makanan untukku, kalau dalam satu menit ia tak datang aku akan pergi sendiri ke kafteria rumah sakit ini. aku baru saja akan beranjak dari tidurku tiba-tiba saja pintu kamar ini terbuka dan muncullah Donghae yang membawa dua bungkus pelastik yang di ada dimasing-masing kedua tangannya.

“Eo? kau mau kemana?” Tanya Donghae sambil berajaln kearahaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku saja, “Cah~ ya sudah, ayo makan aku sudah membawakan makanan kesukaanmu ini.” Tunjunknya kearah dua bungkus pelastik itu padaku. Ia membuka kedua bungkus pelastik itu dan kemudia ia makanan kesukaanku –Bibimbab dan Kimbab– dan sebungkus lagi yang berisikan bubur.

“Aku suapi ne!” Dia mengambil sendok yang sudah terhidang didalam mangkuk buburnya, sebelum bubur itu masuk kedalam mulutku ia meniupnya terlebih dahulu agar mulutku tak kepanasan saat memakan bubur itu. Manis bukan suamiku yang satu ini? tapi mengingat kejadian satu minggu yang lalu aku ingin sekali memukul kepalanya itu.

Setelah bubur itu masuk kedalam mulutku, tiba-tiba saja perutku mual aku segeran menutup mulutku dan beranjak dari kasur berlari kearah kamar mandi yang ada diruangan ini. aku sudah beberapa kali keluar masuk kedalam kamar mandi tapi apa yang aku muntahkan selalu tak ada Cuma hanya air biasa. Aku kembali keluar dan melihat wajah Donghae yang terlihat Khawatir akibat apa yang terjadi padaku.

“Kau tak apakan? Perutmu mual karena kau sedang mengandung dua bulan Je~” Aku tersentak kaget saat ia mengatakan padaku kalau aku sedang mengandung benihnya yang ia tanam pada rahimku. Aku mengelus perutku yang rata ini, perutku terisi nyawa, lebih tepatnya malaikat kecilku dan Donghae.

Wajah Donghae sedikit Khwatir ketika melihat raut wajahku yang masih datar-datar saja. Aku masih tetap mengelus perutku saja, aku masih tak menyangka bahwa diperutku ada nyawa yang sangat berharga bagiku. Aku tersenyum tipis, hatiku bahagia mendengar kabar gembira seperti ini.

“Kau tak suka dengan kehadirannya?” Pertanyan bodoh itu sukses membuat tanganku mendarat sempurna di kepalanya, ia mendengus pelan “Appo Je~ kenapa kau memukul kepalaku?” Aku masih tak menjawab pertanyannya itu. Dia ini kenapa bodoh sekali, tentu saja aku gembira adanya kehadirannya. Ini pasti akan memberi warna dikehidupanku mendatang.

“Bodoh! Tentu saja aku senanga dengan kehadirannya, kau fikir aku wanita kejam dengan bodohnya membunuh nyawa yang belum melihat Dunia ini!!!” Dia menghela nafas dan dia langsung memeluk tubuhku erat, seerat mungkin. Dan ucapan dia yang ia bisikan padaku membuat hatiku luluh padanya.

“Saranghae Je~ dan aku Merindukanmu!” Aku luluh, ternyata aku tak akan sanggup kalau ia tak ada di hidupku.

***

Aku duduk di ruang keluarga di rumah kami –aku dan suamiku–saat aku keluar dari rumah sakit waktu itu, ia memaksaku untuk pulang kerumah yang aku tinggalkan. Sebenarnya waktu itu aku membrontak keras tak mau tinggal serumah lagi dengannya, tapi saat ia memohon padaku aku jadi tak tega, jadi aku menerimanya lagi dan aku tinggal dirumahku lagi.

Usia kandunganku sekarang sudah menginjak bulan kesembilan. Bayiku sebentar lagi akan lahir, aku benar-benar tak sabar ingin melihat wajah anak kami berdua, perutku semakin besar. Kehamilanku ini berdampak pada Donghae, karena pasca kehamilanku beranjak ke bulan keepat dan kelima saat itu aku selalu meminta aneh-aneh pada Donghae, tapi ia tak mengeluh atau apa. Aku tau ia pasti lelah, saat ia pulang dari kantor aku selalu memintannya mengitari kawasan Seoul.

Dan masalahku dan Donghae, aku sudah melupakannya. Ia sudah menceritakan kronologis bagaimana temannya itu bisa memluk suaminku saat itu.

“Bisa kau ceritakaan apa yang kau lakukan pada malam itu?” Ia tersentak kaget saat aku datang tiba-tiba kearahnya yang sedang menonton TV. Seolah mengerti ia memperbaiki posisinya itu.

 

“Dia temanku saat aku masih duduk di bangku SMA, ia datang malam-malam karena ia sedang meminta bantuan padaku, ibunya sedang sakit keras dan ia sedang membutuhkan uang banyak untuk mengoprasi ginjal ibunya. Saat itu ayahnya sudah tak peduli lagi dengan keluarganya, ia yang sebagai anak tertua memiliki tanggung jawab yang besar. Ia datang padaku dan memohon padaku agar aku meminjaminya uang. Karena aku tak tega aku segera menulis cek padanya dan aku memberikan padanya. Karena ia terlalu senang, ia langsung memelukku begitu erat dan pada saat itu pula kau datang dan melihatku yang sedang berpelukan, aku berani bersumpah, aku tak pernah berniat berselingkuh darimu. Cukup waktu kita masih kulia dulu, aku menyesal karena aku menjadikanmu barang taruhan, tapi aku juga tak pernah terbesit untuk menjadikanmu barang taruhan. Kau tau Cinta pada pandangan pertama?” Tanyannya memberi jeda setelah ia berbicara panjang padaku tadi, aku menggeleng dan dia menghembuskan nafasnya pelan.

 

“Saat aku mendongakkan wajahku dan melihatmu, saat itu pula aku tertarik padamu, kau yang sedang duduk dibangku taman kampus aku seolah tersihir olehmu. Kau tau, saat aku memandangmu tanpa berkedip seolah dunia ini hanya milik aku dan dirimu Je~ jadi aku tak pernah menganggapmu sebagai barang taruhan atau aku selingkuh dibelakangmu. Aku benar-benar tulus mencintaimu!!” Dia langsing memeluk tubuhku erat, aku juga membalas pelukan suamiku. Jadi dia benar-benar tulus mencintaiku. “Saranghae Lee Jaekyung~” Ucapnya di telingaku. Aku tersenyum dan membalas.

 

“Nado Saranghae~”

 

Ting~ Nong~

 

Aku tersentak kaget saat aku mendengar bunyi bel rumahku, dengan hati-hati aku beranjak dari dudukku dan aku berjalan menuju pintu rumahku dengan sangat hati-hati. Aku membuka pintu rumahku dan muncullah sosok wantina yang hampr saja merusak hubungan kami.

“Annyeonghaseo~” Ucapnya ramah sambil tersenyum manis padaku, tapi dilihat-lihat lagi ia juga sedikit gugup berhadapan denganku. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.

“Ada apa?” Tanyaku langsung, aku tak suka berbelit seperti ini. sepertinya ia ingin berbicara banyak padaku jadi aku mengajaknya untuk masuk kedalam rumahku. “Ayo masuk!” Setelah masuk dan mempersilahkan ia duduk tak lupa dengan minuman yang aku sajikan.

“Anda Ny. Lee?” Aku diam, dan ia mengambil nafas sebelum ia bicara lagi, “Sebetulanya kehadiran saya disini, saya ingin meminta maaf pada anda karena hubungan anda dan suami anda menjadi berantakan karenaku. Saat itu aku memang tak bermaksud apa-apa, aku terlalu senang saat suami anda meminjamkan uang padaku karena saat itu kebutuhanku sangat emndesak sekali dan aku ingat kalau temanku Lee Donghae menjadi Direktur diperusahaanya, dan untung sekali rumah sakit yang merawat ibuku sangat dekat dengan perusahaan suami anda, aku senang karena suami anda meminjamkanku uang dan tanpa sadar aku memeluk suami anda, aku tersentak kaget saat menyadarinya kalau aku memeluk suami anda, sebelum melepaskan pelukan aku sempat mendengar nama anda di ucap oleh suami anda,”

“Jadi saat itu aku telah merusak hubungan suami istri yang harmonis, aku ingin sekali meminta maaf tapi nyaliku benar-benar kecil aku takut kau akan marah besar padaku. aku benar-benar minta maaf–” Ucapannyaku potong karena aku sudah tau dari penjelasan dari mulut suamiku.

“Aku sudah mendengar dari mulut suamiku.” Ucapku ringkas, “Dan aku sudah memaafkanmu saat suamiku menceritakaanya, jadi kau tak usah merasa bersalah lagi.” Dia tersenyum dan aku membalas senyumannya.

“Dan aku ingin mengembalikan uang yang aku pinjam pada suami anda,” Aku menggelang pelan.

“Uangnya kau simpan saja untuk keluargamu, aku tau kau lebih membutuhkannya.” Ucapku ramah. Sebelum ia membantah aku menyela bantahannya, “Aku benar-benar tulus membantumu.” Ia tersenyum lagi, kali ini ia memelukku.

“Terima kasih.” Ucapnya dan aku mengangguk. Tepat saat ia akan pulang kerumahnya, tiba-tinba saja pertuku sakit tak tertahankan. Ia yang belum jauh dari arah rumahku kembali lagi kearahku dengan berlari dengan sangat cepat. Wajahnya terlihat khawatir melihatku yang sedang meringis dan menahan sakit.

“Omo, kau akan melahirkan. Aigo! Aku harus memanggil Taksi. Ny. Lee kau simpan dimana ponselmu?” Ucapnya panik, aku memberi arah kalau ponselku ada di ruang TV. Setelah kembali padaku ia mencari kontak nomor Donghae, aku terus menahan sakit diperutku. Aku melihatnya yang sedang berbicara dengan seseorang diseberang sana. Ayo cepat aku sudah tak tahan lagi.

***

DONGHAE’S POV

 

Aku yang sedang melakukan rapat dengan orang penting terganggu dengan deringan ponselku. Aku sedkit memiliki firasat pada diriku. Aku meminta izin sebentar untuk mengangkat telpon. Aku sedikit mengertukan keningku saat melihat nama yang tertera di layar ponselku. Baboje~? Tak biasanya ia menelponku, aku segera mengangkat telpon itu. Dan saat itu pula aku mendengar suara panik dari seberang telpon sana, ada apa dengan isrtiku?

Aku segera lari meninggalkan rapat ini, persetan dengan turunya persentasi perusahaanku. Istriku lebih penting dari pada rapat ini. Aku menuju area parkir dan setelah itu aku masuk kedalam mobilku, melaju cepat menuju rumahku. Aku benar-benar takut apa yang terjadi dengan istriku, isi kepalaku sekarang kalau Jaekyung itu terjatuh dari tangga, tapi aku segera menepis fikiran bodoh itu. Aku segera berlari saat aku sudah sampai didepan pintu gerbang rumahku. Aku melihat kepala Jaekyung yang ada dipangkuan orang, aku melihat kearah orang itu dan mendapatkan temanku saat yang meminta bantuan padaku.

“Omo, Lee Donghae Istrimu akan melahirkan! Aku tak tau apa-apa dengan soal ini!” Ucapnya panik. Aku segera membopong Jaekyung menuju kemobilku dan dia mengikutiku dari belakang. Aku menaruh Jaekyung di jok mobil belakang yang ditemani oleh temanku. Aku langsung saja tancap gas agar kami cepat sampai dirumah sakit.

Setelah sampai rumah sakit, aku langsung membopongnya keluar dari mobilku, segera masuk kedalam rumah sakit dan kami langsung disambut oleh suster yang ada didepan. Aku mengikuti istriku dari belakang dan temanku juga mengikutinya. Setelah memasuki ruangan bedah dan tak diperbolahkan masuk, aku duduk di depan ruangan ini.

“Bisa kau menelpon Eommaku, aku ingin memberitahukannya kalau Jaekyung akan melahirkan.” Aku memberikan ponselku padanya dan ia mengambil ponselku. Sayup-sayup aku mendengar nada tunggu dari ponselku.

“Eo, Ajhumma? Aku, teman Lee Donghae aku sedang menemaninya dirumah sakit. Akh! Buak dia yang sakit, melainkan Menantu anda sedang melahurkan, aku disuruh oleh Donghae untuk menghubungi anda agar anda datang kerumah sakit ini bersama kakaknya. Ah, ne anda tutuplah terlebih dahulu.” Ucapnya mengakhiri. Ia memberikan ponselku padanya.

“Tenang dia baik-baik saja, ia tak terjatuh apapun, mungkin ini memang saatnya ia melahirkan.” Aku mengangguk.

***

Anakku akhirnya lahir, dia perempuan. Ia sangat mirip dengan ibunya. Dari semua wajahnya itu yang mendominasikan mirip denganku hanya bibir mata dan dagu saja, selebihnya mirip dengan ibunya.

Anakku sudah menginjak satu bulan, aku mengganggunya saat ia sedang tertidur. Aku tersentak kaget saat ada seseorang yang tiba-tiba saja memukul kepalaku dengan keras.

“Jangan mengganggunya bodoh, kau tak lihat ia sedang tertidur itu?” Aku membalikan tubuhku untuk menghadap Jaekyung yang sedang berdiri di pinggiran kasur.

“Tapi kau tak perlu memukulkukan Bodoh.” Aku membalsanya, dan dia mendengus kesal.

“Aish! Terserah kau saja. Minggir aku akan memindahkannya di box bayi.” Ia menarik tubuhku sampai aku berdiri, saat sesudah ia melahirkan tiba-tiba saja kekuatannya menjadi sangat kuat aku jadi tak berani untuk melawannya.

Ia menggendong buah hati kami dengan hati-hati dan kembali merebahkannya di box kecil yang sudah aku persiapkan saat ia hamil bulan ketiga. Ia kembali padaku dan segera merebahkan dirinya yang mungkin lelah akibat mengurusi buah hati kami yang menangis tanpa hentinya dari pagi sampai aku pulang kerja tadi.

“Kau lelah?” Tanyaku dan dia mengangguk pelan. Aku mendekatkan diriku utnuk merengkuh tubuhnya kedalam pelukanku untuk menetralisirkan tubuhnya yang lelah itu.

“Maaf, aku tak bisa pulang tadi saat kau menelponku, dikantor tadi aku benar-benar sangat sibuk, jadi aku tak bisa pulang cepat.” Ia mengangguk lagi dengan mata yang terpejam, aku menghentikan perkataanku dan aku ikut memejamkan mataku untuk mengikuti kedalam mimpinya. Tanganku mengelus punggunnya agar ia rileks dalam tidurnya.

Kehidupanku bertambah bahagia saat kehadirannya datang keduniaku, dan hidupku semakin bertambah bahagia saat terlahirkan malaikat kecil dikehidupanku. Aku bahagia dengan keluarga kecilku ini. aku mencintai kalian, aku benar-benar tak bisa hidup sempurna kalau tak ada kehadiran kalian di duniaku. Saranghae!!!

=====END====

 

Horeee~~ ffnya uda end hohohoh, membosankan? Feel gada? Oke aku maklumi yah hehehehe..

 

Ya sudah deh makasih uda mau baca.

*kecup atu-atu*

9 thoughts on “I Can’t Life Without You

  1. Ngebayangin dong hae frustasi pas mau dicerein jae kyung kok aq nya malah jd senyum2 yaa…wajah nya itu lho kalo cemberut atau pun sedih malah tambah kyeopta…,seperti biasa hae itu selalu manis semanis cerita ini …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s