How Can I

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

MUSIC: G.NA – I’ll Back Off So You Can Live Better (English Ver.)
TVXQ – HOW CAN I

JAEKYUNG’S POV

Aku kembali menatapnya yang sedang membaca buku di kantin. Entah sudah berepa lama aku menatapnya yang hanya membaca buku. Dan dengan cepat pula aku mengalihkan pandanganku kearah lain saat ia mendongakan wajahnya. Mungkin ia merasa ada yang sedang memerhatikannya.

Ia menutup buku yang ia baca dan beranjak pergi meninggalkan Kantin dikampus kami. Aku hanya menunduk lesu melihatnya yang pergi begitu saja. Aku meangambil ponselku yang aku letakan didalam tasku. Aku menyentuh layar ponselku dan mendapatkan layar ponselku yang terpampang wajah Tampannya. Aku mengambil fotonya diakun pribadinya secara diam-diam.

Aku ingin sekali mengobrol dan dekat dengannya, tapi aku selalu tak bisa. Nyaliku begitu ciut setiap kali ia ada dihadapanku atau dia didekatku. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh, seperti apa yang aku lakukan tadi; memandanginya secara diam-diam.

Entah kenapa aku bisa menyukai laki-laki sedingin dia, dia tak pernah berbicara dengan teman-teman kampusnya, hanya menyendiri membaca buku seperti yang ia lakukan. Sebenarnya ia mempunyai teman, temannya itu Hyukjae dan Kyuhyun. Tapi ia selalu saja sendirian seperti tadi.

Setiap ia datang kekantin ia selalu saja sendirian dan aku ingin sekali mendekatinnya dan menemaninya untuk membaca buku atau mengobrol. Tapi sepertinya itu hanya akn menjadi hal sia-sia saja. Ia benar-benar tak pernah berbicara, setiap ia bicara kalau ada hal penting yang ia bicarakan. Semua mahasiswa disini mengiranya itu bisu, tak bisa berbicara.

Ia jarang sekali untuk tersenyum, dan itu membuat imajinasiku menjadi-jadi, selalu memikirkan kalau dia selalu tersenyum padaku dan mahasiswa yang lainnya. Walaupun ia bersikap seperti itu banyak sekali Mahasiswa Yeoja disini yang mengejar-ngejarnya. Aku ingin sekali seperti mereka, mengejar-ngejarnya sampai ia menjadi milkku. Tapi aku tahan, aku tak ingin harga diriku hancur karenanya.

Aku tersentak kaget saat seseorang menepuk bahunku dengan keras, dan itu sontak membuatku menoleh kearah sampingku. Dan mendapatkan laki-laki yang selama ini menjadi sahabatku, sekaligus orang yang mencintaiku. Tapi aku dengan bodohnya tak mencintai laki-laki yang ada disampingku ini. mianhae Changmin~a mataku hanya tertuju pada Laki-laki dingin itu.

“Changmin~a, Appo!” Rengekku pada Changmin yang sudah menyeruput minumanku. Eish! Itu kebiasaan buruknya.

“Eish! Hanya seperti itu saja kau meringis kesakitan!” Ucapnya, dan ia mengambil ponsel yang ada ditanganku. Ganti, aku yang kali ini yang menepuk bahunnya cukup kasar. Ia mengaduh kesakitan dan itu hanya sebentar. Ia mengotak-atik ponselku, aku biarakan saja Karena ia selalu melakukan apa yang ia suka.

“Kau sudah puas melihat laki-laki yang kau cintai itu?” Blush, sontak pipiku memerah. Ia sendiri sudah tau kalau aku menyukai laki-laki dingin itu. Ia menghormatiku kalau aku mencintai laki-laki itu. Ia tau saat ia menyatakan cintanya padaku dan aku langsung berkata jujur padanya kalau aku mencintai laki-laki lain.

Selama seminggu aku dan dia tak pernah saling sapa, atau lainnya. Mungkin ia benar-benar sakit hati saat aku menolaknnya, tapi hari berikutnya ia kembali padaku dan meminta maaf atas kelakuannya itu. Dan aku menerimannya kembali, selama ia tak ada didekatku aku begitu kesepian, aku merasakan kehilangannya.

Aku kembali dikejutkan oleh Changmin, dan aku reflek memukul kepalanya itu, “Eishhh! Appo, kau ini gadis atau laki-laki? Kekuatanmu itu benar-benar besar!” Ucapnya sambil mengelus kepalanya. Aku hanya terkikik geli melihat tingkahnya yang menggemaskan seperti itu. Dan tanpa sadar aku mencubit pipinya itu. “Jangan mencubit pipiku!” Ucapnya sambil melepaskan tanganku yang ada dipipinya.

“Kau tau? Kalau kau sedang kesal seperti itu, kau menggemaskan sekali!” Ucapkku sambil tertawa. Ia hanya bisa merengut kesal melihatku seperti ini.

“Sudahlah, ngomong-ngomong aku lapar!” Ia memegang perut ratanya itu, dan aku juga merasakan kalau perutku ini juga butuh asupan makanan.

“Ya sudah kita pesan makanan saja!” Ucapku dan dia menganggukan kepalanya, menandakan kalau dia setuju dengan ucapanku.

*

Setelah dari kafteria aku dan Changmin kembali kekelas kami, masih ada satu jadwal pelajaran lagi yang harus kami ikuti. Aku dan Changmin berjalan beriringan, banyak sekali mahasiswa disini yang membicarakan kami kalau kami ini begitu cocok menjadi sepasang kekasih. Dan aku menaggapinya dengan senyumanku saja. Dan Changmin sendiri menganggapnya sama denganku.

“Hah! Apa mereka tak bosan apa mengatakan kita ini cocok seperti sepasang kekasih?” Ia berbicara saat kami sudah ada didalam kelas dan menundukan pantat kami dikursi. Aku dan dia selalu duduk dibangku yang sama.

“Sudah lupakan, dan jangan tanggapi omongan mereka!” Ucapku sambil membuka buku mata pelajaran hari ini.

“Kau berbicara seperti itu, membuatku sakit hati saja!” Aku sontak menatap wajahnya, dia benar-benar blak-blakan sekali. Dia menolehkan wajahnya kearahku dan aku masih menatapnya.

“Mianhae Changmin~a! kalau selama ini perasaanmu tak pernah aku balas dan aku selalu menyakiti perasaanmu padaku!” Ucapku sambil menunduk lesu. Aku merasa bersalah padanya, karenaku ia merasa sakit hati seperti itu.

Seseorang memegang tanganku yang ada diatas meja, aku mendongakan wajahku dan melihat Changmin yang tersenyum padaku, dan aku membalas senyumannya, “Aku hanya bercanda. Aku memang sempat sakit hati saat kau menolakku dan kau berkata jujur padaku kau menyukai Donghae Sunbaenim. Tapi beberapa setelah kita tak pernah saling sapa dan hari berikutnya aku benar-benar merasa kehilanganmu, aku menyadarinya kalau aku merasakan kehilangan seorang sahabat yang aku cintai! Dan aku merelakanmu untuk mencintai Donghae Sunbae!!” Ucapnya lembut, aku hanya bisa tersenyum melihatnya yang sudah merelakanku untuk mencintai Donghae Sunbae.

“Sekali lagi maaf Changmin~a!!” Aku kembali meminta maaf padanya, ia hanya menggelengkan kepalanya saja, bertanda kalau aku tak perlu meminta maaf padanya.

“Annia! Tak perlu meminta maaf padaku. Tapi Jaekyung~a, kalau boleh memberi saran sebaiknya kau menyatakan perasaanmu pada Donghae Sunbaenim. Kalau kau pendam terus kau akan merasakan perasaan seperti itu padamu!” Ucapnya memberi saran padaku, dan perkataan itu aku menagkapa apa yang ia katakana. Jadi selama ini sahabatku ini mencintaiku dari dulu?

Aku menatapnya tak percaya, ia langsung menutup mulutnya saat ia keceplosan mengatakan perasaannya padaku, “Kau mencintaiku sejak kapan?” Tanyaku padanya. Ia hanya tersenyum agak kaku. Aku masih menunggunya untuk bicara, ia tak membuka suara sedikitpun. Aku mencubit pinggangnya dan dia megaduh kesakitan. Aku mendelik meminta penjelasan.

“Baik-baik, tapi nanti saja dosennya sudah masuk!” Ucapnya sambil menjulurkan lidahnya padaku dan aku hanya bisa merengut kesal.

*

Kami keluar kelas sejak duapuluh menit yang lalu, aku dan Changmin seperti biasa setelah selesai jam pelajaran terakhir kami selalu duduk di taman yang dekat dengan kampus kami. Hanya untuk menatap pemandangan sore senja saja, karena melihat pemandangn disini bagus sekali.

“Jaekyung~a!!!” Ucapnya memanggil namaku, aku yang sedang menyenderkan kepalaku dibahunya sontak mengadahkan kepalaku untuk melihat wajahnya.

“Hmm??” Aku membalas dengan dehamanku, aku merasakan kalau ia sedang menarik nafasnya sedalam mungkin dan mengluarkannya dengan perlahan.

“Annio, aku hanya ingin memanggilmu saja!” Ucapnya cepat, aku menegakan tubuhku dan melihatnya dengan alis yang bertaut, merasa aneh dengan panggilan tadi.

“Kau ada masalah?” Tanyaku dengan cepat, ia hanya menggeleng. Aku mendesaknya, “Katakan kau kenapa?”

“Annio! Kajja, kita pulang aku takut nanti Eommamu memukulku karena aku membawamu pulang malam hari!” Ajaknya sambil beranjak dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkanku. Aku hanya bisa mendengus kesal melihatnya. Aku berlari-lari kecil untuk mengejar langkahnya setelah sampai aku langsung mengapit lengannya dan menyenderkan kepalaku dilengannya.

Aku sadar kalau aku bersikap seperti ini pada Changmin, pasti Changmin mengharapkan seseuatu lebih pada persahabatabku ini, tapi aku benar-benar tak bisa memberikan harapan Changmin inginkan. Maafkanlah sahabatmu ini Changmin~a, kau tak boleh mencintaiuku kau harus mencintai wanita yang baik untuk dirimu, bukan aku. Aku tak pantas menjadi pendamping hidupmu, aku terlalu banyak menyakitimu, memberikan harapan tinggi dan menghempaskanmu kebawah dan lebih dalam. Aku benar-benar tak ingin menyakitimu.

Aku dan Changmin hanya diam dalam perjalanan, tak biasanya kami seperti ini. biasanya kami sering tertawa jika kami pulang dari kampus tapi sekarang kami benar-benar hening. Entah kenapa aku sendiri tak tau.

Aku menajamkan tatapanku pada seseorang yang sedang ada didepan toko buku, aku seperti pernah melihat orang itu, dan aku perhatikan lebih lama lagi ternyata itu Donghae Sunbae. Aku menundukan kepalaku saat tiba-tiba saja ia melihatku, aku benar-benar gugup jika Donghae Sunbae menatapku seperti itu.

Aku semakin memepererat peganganku pada lengan Changmin, mungkin Changmin merasakan peganganku pada lengannya ia menunduk dan memandangku dengan tatapan bingungnya, “Wae?” Tanyanya, aku menggeleng pelan dan berjalan dengan cepat.

“Ya! Ya! Ada apa?” Tanyanya lagi saat kami sudah jauh dari toko musik tadi, aku mengatur nafasku agar normal seperti semula. Aku memegang dadaku yang bedeteak lebih cepat. Aku kembali mengingat bagaimana Donghae Sunbae menatapku, dia menatapku dingin, sangat dingin. Aku berfikir apa jangan-jangan Donghae Sunbae mengetahuinya kalau aku memperhatikannya dari jauh, dan sekarang ia membenciku sampai ia menatapku seperti itu?

“Kau baik-baik sajakan? Setahuku kau itu tak mengidap sakit jantung atau Asma. Kau kenapa Jaekyung~a jangan membuatku takut seperti ini!” Ia berucap kembali, aku tak menghiraukan pertanyaannya dan malah memeluk tubuhnya dengan erat, aku tak perduli ini dimana, aku hanya perlu sandaran untuk kesedihanku ini.

“Min~a!!!” Aku sedikit terisak, melihat ia menatapku seperti ini membuat hatiku begitu sesak, dan tanpa sadar aku meneteskan airmataku. Aku menangis dipelukannya, dan dia menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

“Kau bisa menceritakannya dirumah saja, dan itupun jika perasaanmu tak berantakan seperti ini!” Ucapnya lembut ditelingkau. Aku semakin mempererat pelukanku ini padanya, dan akhirnya aku menangis dengan terisak-isak. Lee Donghae hanya dengan tatapan seperti itu saja kau berikan padaku kau sudah membuatku menangis seperti ini.

“Kajja Changmin~a, kita pulang!” Ucapku dan menggenggam tangannya. Mungkin aku akan melupakan kejadian hari ini. aku benar-benar tak ingin mengingatnya!

*

Setelah sampai rumah dan Changmin berpamitan untuk pulang aku langsung pergi kekamarku untuk berendam, menenangkan pikiranku yang berantakn seperti ini. seperti biasa aku selalu melakukan kegiatan berendam jika aku sedang ada masalah seperti ini.

Saat aku memejamkan mataku aku mengingat kejadian yang baru saja aku alami, aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha menghilangkan ingatan itu pada otakku. Tapi tetap tak bisa, ingatan tadi benar-benar berbekas didalam otakku. Aku menenggelamkan diriku didalam batubh berharap ingatan itu benar-benar lenyap didalam otakku, tapi yang aku dapatkan nafasku sesak dan perlu asupan oksigen. Aku segera bergegas menuju kearah shower untuk membilas tubuhku yang penuh dengan buih yang berasal dari sabun cair yang aku pakai.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian aku beranjak keluar dari kamarku dan berjalan menuju kearah ruang makan, disanan sudah ada Appa, Eomma dan Oppaku. Makan malam kami begitu hening, tak ada pembicaraan apapun. Memang Appa tak memperbolehkan kami untuk berbicara saat kami makan.

Setelah selesai makan aku kembali kedalam kamarku yang ada diatas, aku mengambil sebuah Novel di meja belajarku. Aku tak pernah belajar setiap malamnya, percuma belajar malam kalau paginya semua yang dipelajari itu semuanya hilang ditelan oleh mimpi kita. Jadi labih baik aku belajar dikampus saja, karena pasti gampang diingat bukan?

Mataku sedikit berat, aku mengantuk dan ingin cepat-cepat sekali menyembunyikan tubuhku didalam selimut kesayanganku ini.

*

“Sunbaenim~” Aku berteriak sekencangnnya saat ia berjalan keluar dari dalam kelasnnya. Aku sudah menunggunya sejak mata pelajaranku selesai. Kira-kira aku sudah menunggunya selama dua jam lebih. Aku melihatnya menghentikan langkahnya itu. Dengan langkah cepat aku melangkahkan kakiku agar bisa sampai ditempatnya berdiri.

Ia menatapku dengan pandangan seperti biasanya ia perlihatkan padaku. Aku sedikit menundukan kepalaku untuk menghindari tatapan datarnya itu. Perlahan aku menautkan tanganku sendiri, dan meremas-remasnya karena aku begitu gugup berdekatan dengannya.

“Waw?” Ucapnya Dingin, aku hampir saja pingsan mendengar suaranya seperti itu. Walaupun ia menjawab sapaanku dengan suara dinginnya aku tetap merasa bahagia, selama dua tahun aku berkuliah disini baru kali ini aku bisa mengobrol dengannya. Aku begitu pengecut jika aku berurusan dengan laki-laki yang ada didepankku ini.

Aku mendongakan wajaku dan tersenyum kearahnya, walaupun sia-sia untuk tersenyum karena ia hanya menatapku dengan pandangan datar tapi aku tetap mempertahankan senyumanku yang menurutku ini sangat manis, aku tak ingin berlama-lama lagi aku takut kalau laki-laki ini pasti sangat bosan jika aku berlama-lama dengannya.

Dengan gerakan cepat aku merogoh isi dalam tasku, aku mengmbil kotak yang cukup besar dan menyodorkannya dihadapannya. Ia melihatku dengan pandangn aneh dan bingung. Aku memegang tangannya dan menaruh kotak itu padannya.

“Aku berharap kau memakan coklatku sebagai tanda aku menyukaimu Sunbaenin!” Ucapku jujur, walapun nadaku terdengar Jelas, tapi jantungku berdetak keras. Ia memperhatikan kotak coklat yang ada dipengannya itu. Dan tiba-tiba saja ia menatapku dengan pandangan rendahnya itu. Hatiku sedikit was-was, aku takut kalau coklat yang aku berikan padanya itu ia kembalikan padaku lagi.

Hatiku mencelos saat ia dengan seenak hatinya membalikan kotak tersebut dan membuka pitanya, jadilah coklat yang ada didalamnya terjatuh kelantai. Aku merasakan sesuatu mendesak dipelupuk mataku, aku terus menahannya dan akhirnya cairan yang ada dipelupuk mataku akhirnya keluar juga.

Aku menatapnya dengan pandangan nanarku, air mataku terus saja keluar melihatnya yang hanya menyeringai kearahku, “Kau! Menyatakan perasaanmu padaku hanya dengan coklat murahanmu ini?” Hatiku kembali sakit saat ia berbicara seperti itu, aku terus saja terisak melihat perlakuan kasarnya padaku, aku menunduk lesu, melihat karyaku yang berceceran dilantai.

Ia membalikan badannya meninggalkanku yang akhirnya terduduk di koridor kampusku ini. aku memegang dadaku seerat mungkin untuk menghentikan rasa sakit yang ia timbulkan padaku. Aku menatapnya yang sudah menjauh dari tempatku ini, aku kembali menangis, kali ini tangisku menjadi lebih keras lagi.

*

Aku terbangun dari tidurku, aku menggeleng-gelengkan kepalaku saat aku mengingat apa yang baru saja terjadi. Aku meraba-raba wajahku dan mendapatkan wajahku basah, sepertinya aku ikut menangis sampai-sampai airmataku ikut keluar.

Laki-laki itu kenapa kejam sekali padaku, aku berharap didunia nyata ia tak akan menolakku seperti apa yang ada didalam mimpiku tadi. Miris. Dalam mimpi saja ia menolakku mentah-mentah apa lagi didunia nyata ini, ia pasti akan menolakku seperti yang ada didalam mimpiku tadi.

Aku beranjak dari tempat tidurku, dan berjalan keluar menuju kearah dapur bermaksud untuk mengambil minum. Aku memegang dadaku yang masih sajah bergemuruh keras. Hanya sebuah mimpi, tapi kenapa efeknya sangat besar sekali. Aku memejamkan mataku sebentar sambil memegang dadaku, menetralkan detak jantungku yang masih saja bergemuruh keras.

Aku kembali kedalam kamarku dan melanjutkan tidurku yang sempat terganggu dengan mimpi tadi. Sebelum aku benar-benar tidur aku mengambil ponselku dan memasangkan Headsetku. Mendengarkan musik sambil tidur cukup membuatku untuk tak mengingat mimpi itu lagi dan tak ada lanjutan dari mimpi tadi.

*

Aku melangkahkan kakiku kearah kantin, aku sudah ditunggu oleh Changmin dua menit yang lalu, sebenarnya kami keluar bersama tapi tiba-tiba saja aku ingin kekamar mandi dan aku menyuruh Changmin kekantin lebih dulu.

Aku duduk didepannya dan dia mendongakan wajahnya kearahku, aku tersenyum dan ia juga membalas senyumanku. Hah! Kami benar-benar aneh. “Ya! Untuk apa kau tersenyum seperti itu padaku?” Ucapnya, aku menahan tawaku. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba saja aku bisa tersenyum seperti itu padannya.

“Lapar~” Ucapku sedikit manja pada Changmin, dan tiba-tiba Changmin menjitak kepalaku, aku mengaduh pura-pura sakit dengan jitakan kepalanya. “Appo, Changmin~a!!!”

“Hehehehe, mianhae. Kau mau makan apa? Nanti aku pasankan!” Ucapnya sambil menyerahkan buku menu yang ada disampingnnya. Aku membuka buku menu yang ada ditanganku dan menjatuhkan pilihanku pada Jajjangmyun dan menjatuhan pilihan minuman pada air dingin.

Changmin beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju kearah penjual yang ada dikantin ini. aku mengambil ponsel yang ada didalam tasku dan menyentuh layar ponselku, aku tersenyum melihat wajanya yang tepampang dilayar ponselku. Aku hampir saja menjatuhkan ponselku saat ada suara yang benar-benar aku inginkan itu.

“Boleh aku duduk disini?” Aku tak menoleh kearah samping, “Apa aku boelh duduk disini? Aku tak mendapatkan tempat duduk karena kantin sudah penuh!” Ucapnya sedikit gusar, aku mendongakan wajahku dan aku mendapatkan wajah tampannya, aku sempat melongo sesaat dan kembali sadar saat ia mulai kesal dengan kelakuanku.

“Ah, n-ne Sun-baenim!” Ucapku sedikit gugup, aku menggeser dudukku untuk mempersilahkan ia duduk. Aku memperhatikan sekitar kantin dan apa yang diucapkannya benar juga ternyata kantin sudah sesak dipenuhi oleh mahasiswa yang baru saja keluar dari kelasnya.

Saat aku menoleh kedepan dan aku mendapatkan Changmin yang membawa baki makanan, ia memberikan semangkuk Jajjangmyun dan air dingin padaku, aku merasakan seseorang sedang menatapku secara diam-diam, aku menoleh kearah samping dan mendapati Donghae Sunbae menatapku. Aku menatapnya dan dia buru-buru mengalihkan tatapannya kearah lain. Aku mengecurutkan bibirku, kesal.

“Selamat makan!” Ucapku dan aku mulai menyuapkan Jajjangmyun pada mulutku, Changmin juga sama menyupaka Jajjangmyun pada mulutnya.

Selama makan dikantin aku begitu tak tenang bawarasa, seseorang memperhatikanku dengan begitu intens. Aku menolehkan kesampingku dan mendapatkan Donghae Sunbae menatapku kembali dan itu membuatku sedikit tersedak oleh Jajjangmyun yang aku makan. Aku menepuk-nepuk dadaku karena tersedak oleh Jajjangmyun. Air putih terulurkan padaku, aku mengambilnya dan meneguknnya dengan cepat.

Aku mendongak dan ternyata Donghae Sunbae lah yang mengulurkan minuman itu padaku. Aku sempat melongo sebentar dengan kelakuannya itu. Aku tak salah lihat bukan? Laki-laki dingin ini menyerahkan air putih ini padaku, dan aku hampir tersedak kembali mendengar suara cemasnya itu, “Gwenchana?” Ucapnya begit kontras kalau dia mengkhawatirkanku. Aku melihatnya menghela nafasnya sebentar.

Ia beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan kami yang masih terbengong melihat tingkah Donghae yang benar-benar membuatku sedikit aneh, “Ada apa dengan laki-laki dingin itu?” Ucap Changmin, aku tak menghiraukannya. Aku masih tak percaya apa yang ia lakukan tadi. Memberikanku minum dan mencemaskanku. Apa aku boleh berteriak sekarang? Tapi sepertinya tak bisa, ini dikantin bukan dikamarku.

*

Setelah kejadian dua minggu yang lalu, aku semakin menyukainnya. Aku kembali menatapnya secara diam-diam dikantin, ia masih melakukan kegiatan favoritnnya; membaca buku yang mungkin saja akan ada kuis atau apa. Saat ia mendongakan wajahnya, aku pura-pura mensibukan diriku dengan ponselku. Aku kembali menatapnya saat ia membaca bukunya lagi.

Aku mendapatkan ide gila, aku tak bisa menyanggupi dengan perasaanku ini. aku ingin sekali mengutarkan isi hatiku padanya, tapi aku benar-benar pengecut jika aku berdiri didepannya. Tapi apa boleh buat, kalau aku ingin mendekatinnya aku harus berusaha mendekatinya, bukan menatapnya dari pandangan jarak jauh seperti apa yang aku lakukan sekarang.

Aku mendongakan wajahku saat aku merasakan seseorang menepuk bahuku pelan, “Sudah masuk, kau mau masuk tidak? Tiga menit lagi dosennya akan datang Jaekyung~a” Ucap Changmin disampingku ini.

“Kajja Changmin~a kita masuk!” Ucapku pada Changmin dan menggenggam tangannya. Dan saat aku akan keluar dari kantin aku merasakan kalau ada seseorang yang sedang menatapku dengan cepat, dan orang yang ditatapnya itu segera memalingkan wajahnnya. Aku menghembuskan nafasku berat.

*

“Bagaimana? Apa semuanya sudah kau persiapkan?” Tanya Changmin padaku, hari ini aku benar-benar ingin menyatakan perasaanku padanya. Memendam perasaanku padanya terlalu lama membuatku sedikit sakit hati, ah Annie lebih tepatnya sangat sakit.

Aku sudah mengajaknya untuk bertemu disalah satu café yang dekat dengan kampus kami. Aku mengajaknya untuk bertemu sesudah jam kuliah kami selesai. Dan aku sudah ada didalam café ini kurang lebih duapulu menit. Aku menunggu Donghae Sunbae dengan Changmin, tapi sepuluh menit kemudian Changmin sudah meninggalkanku sendirian didalam café ini.

Aku melirik kearah jam tanganku yang melingkar dipergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Berarti aku sudah menunggunya kurang lebih satu jam. Aku mulai resah, aku mempunyai perasaan buruk yang tiba-tiba saja merasuki tubuhku. Aku mengambil ponselku yang ada ditasku, saat aku mengambil ponselku aku sekilas melihat seseorang yang sangat aku kenal. Hatiku mencelos perih saat orang yang aku tunggu-tunggu selama satu jam terakhir ini, ia sedang berpelukan dengan seorang Yeoja didepan café ini.

Aku berhasil mengambil ponselku dan mencari Nomor Changmin yang tersimpan didalam ponselku, setelah ketemu aku dengan tak sabar menekan tombol hijau yang ada diponselku. Aku tak sabar untuk menunggu Changmin yang mengangkat panggilanku. Dia kemana kenapa lama sekali? Aku mematikan panggilanku dan bergegas keluar dari dalam café tersebut. Lama-kelamaan aku melihat pemandangan seperti itu hanya akan mempertambah buruk pada perasaanku.

Dengan tergesa aku berjalan menuju Halte yang dekat dengan café ini, sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggilku, tapi aku benar-benar tak menghiraukan panggilannya. Aku ingin segera pulang, tidur, dan melupakan kejadian hari ini! aku segera masuk kedalam bus yang baru saja berhenti dihalte.

Aku duduk dibangku yang paling pojok dan paling belakang, aku memejamkan mataku untuk melupakan kejadian tadi. Tapi sialnya kejadian tadi benar-benar teriang-iang dikepalaku. Aku mendongakan kepalaku menahan airmata yang sudah ada dipelupuk mataku ini, tapi alhasil sia-sia saja, airmataku tetap mengalir dengan deras. Aku memegang dadaku yang begitu sakit, dan sesak. Laki-laki brengsek, aku membencimu.

*

DONGHAE’S POV

Aku melihatnya keluar dari dalam café, sial gadis yang ada dipelukanku ini benar-benar membuatku kesal. Hari ini dia benar-benar berani muncul dihadapanku selama tiga tahun lebih ia meninggalkanku dan pergi dengan laki-laki yang entah aku tak tau siapa.

Aku segera melepaskan pelukannya dan berlari menuju Jaekyung yang pergi begitu saja. Aku memanggilnya tapi ia tak menghiraukan panggilanku. Aku melihatnya masuk kedalam bus dan aku menghentakan kakiku, merasa kesal pada diriku sendiri yang dengan bodohnya aku menerima pertemuan dengan permpuan sialan ini. aku membalikan tubuhku saat ia kembali memelukku dan menghempaskan tangannya dengan kasar, aku menatapnya tajam, dan dia menundukan kepalanya mungkin dia takut dengan tatapn tajamku.

“Kau! Kau benar-benar merusak hariku ini! jangan pernah kau muncul dihadapanku lagi, aku benar-benar tak sudi bertemu dengan wanita sepertimu itu!” Ucapku tajam, dan dia semakin menundukan kepalannya dan aku mendengar suara isakannya itu, aku tak perduli ia menangis atau apa, aku sudah tak sudi dengan wanita yang menangis ini. aku beranjak pergi dari tempat ini dan meninggalkannya sendirian.

Aku masuk kedalam mobilku yang aku parkirkan didekat café yang akan mendekatkan diriku pada Jaekyung, tapi semua itu benar-benar telah hancur dengan kecrobohanku sendiri. Aku memuku setir mobilku dan mengacak-ngacak rambutku ini. aku benar-benar pusing, aku yakin kalau dia pasti bertambah sakit hati lagi gara-gara apa yang aku lakukan selama ini.

Aku tau, sangat tau kalau dia yang selalu memperhatikaku dari jauh selam kurang lebih dua tahun terakhir ini. awalnya aku memang sangat risih ia memperhatiaknu secara diam-diam. Mengikutiku setiap aku kekantin dan memperhatikaku yang sedang membaca buku dikantin. Tapi lama-kelamaan aku menjadi terbiasa dengan kehadirannya.

Aku benar-benar suka dengan ekspresinya ketika aku memergokinya yang sedang menatapku, setiap kali ia ketahuan ia mengalihkan tatapannya pada ponselnya, berpura-pura sibuk dengan mengutak atik ponselnya. Aku selalu tersenyum melihatnya yang seperti itu. Dan kadang-kadang juga ia selalu membidikku dengan kamera yang ia selalu bawa kekampus. Aku pura-pura tak tau kalau dia membidikku dengan kamerannya itu.

Lama kelamaan aku jatuh cinta pada Jaekyung karena ia selalu memperhatikanku. Tapi aku tak begitu berani untuk mendekatinya dan mengajaknya berkencan, dan alhasil aku selalu bersikap dingin padanya. Dan aku merasa kesal saat sahabat jangkungny –Shim Changmin–itu mengungkapkan perasannya pada Jaekyung dan saat itu aku bersyukur ternyata Jaekyung tak menerima perasaan Changmin dan dia mengatakan kalau dia benar-benar mencintaiku.

Dan aku kembali merasa kesal saat aku keluar dari toko buku, aku dengan tak sengaja bertemu dengan Jaekyung yang sedang bergekayut manja dengan Changmin, saat itu pula hatiku begitu mendidih melihatnya yang begitu manja pada Changmin. Dan aku menatapnya dengan tajam dan dia hanya bisa menundukan kepalanya, tak berani menatapku. Akhirnya ia berjalan menarik Changmin dengan cepat dan pergi dari jarak pandangku.

*

“Sunbaenim~!!!” Aku menoleh kearah belakang saat ada seseorang yang memanggiku, dan hatiku begitu senang saat orang yang memanggilku ini Jaekyung. Ia tersenyum padaku dan aku juga membalas senyumannya. Selama kejadian dua minggu yang lalu aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Setiap aku kekantin ia selalu saja tak ada.

“Ne!” Jawabku senormal mungkin. Ia menyerahkan benda yang mirip dengan undangan pernikahan itu padaku. Aku menerimannya dan tak melihat namannya yang ada di undangan yang aku pegang sekarang. “Undangan pernikahan? Pernikahan siapa?” Tanyaku, aku membolak balikan undangan tersebut, dan tiba-tiba hatiku mencelos mendengar perkataannya itu.

“Aku dan Changmin Oppa akan menikah lima hari lagi!” Ucapnya pelan, bagaikan banyak jarum yang tiba-tiba menusuk hatiku beberapa kali. Sakit, sakit sekali hati ini mendengar apa yang ia ucapkan. Aku tersenyum kaku padanya. “Sunbae akan hadir bukan keacara penikahnku dengan Changmin?” Tanyanya, dan aku dengan berat hati mengangguk apa yang ia ucapkan. “Ah, Gomaweo Sunbaenim!” Ucapnya sambil membungkukan tubuhnya, “Aku pergi dulu, Changmin sudah menungguku diparkiran!” Ia berpamitan padaku, dan pergi meninggalkanku yang hanya terbengong melihat pungungnya menjauh dari jarak pandangaku.

Aku benar-benar sakit hati, aku terlambat dari segalanya. Kenapa aku begitu pengecut untuk menyatakan perasaanku padanya dan mengatakan sejujur padanya kalau aku begitu mencintainya dari apapun?

Tanpa sadar aku memegang dadaku yang begitu nyeri, mendapatkan fakta bahwa sebentar lagi Jaekyung akan menikah dengan Changmin. Aku membalikan tubuhku dan berjalan menuju arah parkiran. Aku ingin cepat pulang dan tidur, melupakan kejadian hari ini.

*

Aku memang sudah benar-benar gila, menghadiri upacar pernikahannya dengan Changmin, berjalan masuk kedalam Greja yang nanti akan menjadi saksi bisu bahwa sebentar lagi Jaekyung akan menjadi nyonya Shim. Menbayangkan seperti itu saja membuat hatiku begitu sakit. Aku menundukan tubuhku disalah satu kursi yang ada didalam greja tersebut. Menunggu acara pernikan ini dimulai.

Aku menoleh kebelakang saat seseorang menepuk pundakku, aku menatap aneh Changmin untuk apa ia menemuiku disini? “Bisa ikut denganku?” Ucapnya, dan aku mengangguk menyetujui apa yang ia minta.

“Sunbaenim, aku ingin kau menerima permintaanku ini, dan kau tak boleh untuk menolak permintaan ini!” Ucapnya tegas, dan aku mengangguk sedikit ragu. Memang apa permintaan dia itu?

“Dengarkan baik-baik penjelasanku, kau menggantikanku menjadi calon pengantin laki-laki, kau tak boleh menolak permitaanku ini.” Aku membulatkan mataku, apa dia bilang mengantikannya? Apa dia sudah gila? “Hanya itu yang aku inginkan dan ah, jangan lupa kau harus menjaga Jaekyung dengan baik. Aku memberikan kesempatan emas ini padamu dan kau tak boleh menyia-nyiakannya! Arreseo? Cepatlah berganti pakaian!” Ucapnya sambil mendorong tubuhku kedalam sebuah ruangan.

Aku keluar saat aku sudah mengganti pakaian yang diberikan oleh Changmin tadi, aku melihatnya yang hanya menundukan wajanya saja. Aku menepuk bahunya pelan dan dia mendongakan wajahnya, aku tersenyum dan ia pun membalas senyumanku.

“Bagaimana dengan keluargamu? Pasti mereka malu dengan pengantin laki-laki yang berbeda!” Ucapku, dan dia menggeleng pelan.

“Annie, aku sudah mengambil keputusan ini dan memikirkannya dengan matang-matang. Aku memang menjamin keluargaku malu mendapatkan kejadian seperti ini! kalau mereka memarahiku, aku akan menaggungnya dengan sepenuh hatiku! Dan keluargamu semuanya ada disini” Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya, jadi dia mengundang semua keluargaku? Astaga laki-laki ini. Dia dengan berani mengorbankan cintanya itu padaku begitu saja. Aku memeluknya dan ia terkesiap kaget saat aku memeluknya.

“Gomaweo Changmin~a!!!!” Ucapku berterima kasih dan ia mengangguk.

*

Ia kembali menatapku dengan pandangan tak percayanya, “Benarkah aku menikah denganmu Sunbaenim?” Ucapnya dengan nada tak percaya, ini sudah seratus kalinya ia mengatakan seperti itu padaku. Aku dan dia sedang ada didalam kamar Apartmenku, mengistirahatkan tubuhku yang kaku akibat kelelahan melayani undangan yang datang.

“Benar Je~ mulai sekarang aku suamimu!” Aku mendengar ia mendengus kesal.

“Bukankah hari ini Changmin yang akan menikahiku? Buka kau kan?” Ucapnya lagi, aku sontak bangun dari tidurku dan menatapnya dengan malas.

“Kau tak tau? Kalau semua undangan yang disebarkan oleh Changmin itu semuanya tertera namaku dan namamu Ny. Ha–ah, annie Ny. Lee! Kau di bohongi oleh Changmin, dan hanya undangan yang kau berikan padaku itu tertera nama Shim Changmin dan dirimu! Benar-benar bodoh!” Ucapku dan menghasilkan pukulan keras dikepalaku. “Appo! Bodoh!” Ucapku sambil mengelus kepalaku. Ia merebahkan tubuhnya dan ia membelakangiku, aku sendiri mengikutinya yang merebahkan tubuhnya. Aku memeluk tubuhnya dari belakang dan berbisik lembut di telinganya.

“Saranghae, Han Jaekyung!!!” Ucapku lembut ditelinganya, dan tubuhnya menegang mendengar suara bisikanku ini. ia membalikan tubuhnya dan ia tersenyum padaku.

“Nado Saranghae Lee Donghae!” Ucapnya, dan aku langsung mencium bibirnya dengan lembut. Setelah menciumnya kami langsung tidur. Begitu lelah hari ini, dan ingin secepatnya masuk kedalam alam bawah sadar kami.

Hidupku benar-benar sempurna sekarang! Gomaweo Shim Changmin karena kau telah mengorbankan cintamu itu padaku! Sekali lagi aku hanya bisa mengucapkan Terima Kasih padamu! Ucapku dalam hati dan setelah itu aku tak sadar, aku tertidur dengan memeluk tubuh rampaing Jaekyung!

=====END====

Eh, ff gaje. Hohohoh aku datang dengan ff gaje ini wkwkwkw. Udah ah, aku ga bisa cuap-cuap. Cuma mau bilang maskasih uda baca!!!! CIUM READERS!!!

5 thoughts on “How Can I

  1. Kyyyyyyaaaaaaaa……..
    Changminnya knp baik baaanget? T.T
    Kasian changmin, yauda sama adik aku aja deh changminnya xD

    Keren thor, aku suka ide ceritanya :3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s