Wrong Married -1-

https://i0.wp.com/sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/282310_286186831497388_1622652755_n.jpg

A/n: Ini ff aku mengambil setting saat jaman Sebelum sorry2. Atau sesudah Sorry2. Pokoknya tahun 2009 waktu donghae masih imut-imut ! hahaha

Author : SIAPA AUTHORNYA???

Innceon, Airport, Korea.
03.45 pm KST. 2009 May 19

JAEKYUNG’S POV

Aku menghirup udara di Negaraku, Korea. Hampir kurang dari lima tahun aku meninggalkan Negara Tercintaku. Hah! Aku bersyukur kalau Orang tuaku mengizinkan aku untuk tinggal di Negaraku. Tapi itupun ada syaratnya, aku harus menjadi direktur di perusaan Appaku yang ada di Korea yang telah di kelola oleh kakak Appaku, aish! Menyebalkan tapi tidak apa-apalah. Hitung-hitung aku memperaktekannya, selama di amerika aku selali di paksa belajar bisnis oleh kedua orang tuaku, karena mereka hanya mempunyai aku satu-satunya.

Di amerika dan Korea itu berbeda. Sangat berbeda, aku tidak bisa menjabarkan perbedaan korea dan Amerika jadi kuharap kalian sendiri perebedaan antara korea dan amerika.

Benar apa yang di katakana oleh orang-orang seenak-enaknya Negara lain lebih enak Negara sendiri. Aku baru saja sampai di bandara Innceon aku membuka eraian rambutku. Hei bukan berarti aku tebar pesona terhadap warga Korea.

Aku begitu merindukan Negara ini, aku benar-benar merindukan sahabatku si kembar Hye Eun dan Hye Sun. Apa kabar mereka? Pasti mereka bertambah cantik, waktu dulu saja mereka begitu cantik, kalau aku tidak di paksa untuk pindah ke amerika dan tetap di korea mungkin aku dan si Kembar itu pasti dari Sekolah menengah Atas sampai menjadi Mahasiswa tetap bersama. Tapi orang tuaku selalu memaksaku untuk ikut dengan mereka.

Aku berjalan keluar dari bandara, dan aku menuju ke arah café yang terdekat di dari bandara ini, aku sungguh haus padahal aku di dalam pesawat tadi sudah meminum air. Aku terus saja berjalan dengan bersenandung kecil hari ini benar-benar sangat cerah. Sepuluh langkah lagi aku pasti akan sampai di pintu café tersebut, tapi tiba-tiba.

Bruukkk…

Aku di tabrak oleh orang yang entah kenapa tidak bisa melihat jalan. Aku merasa sesak karena laki-laki ini menindihku. Aku memaksanya untuk segera bangun tapi laki-laki ini malah menyerukan kepalanya keleherku dan berhasil membuat mataku melebar saat dia menghembuskan nafasnya di leherku.

“Se-ssa-khhh.” Aku berbicara sebisaku, laki-laki ini sunggu berat, di tidak melihatku yang sudah hampir kehabisan nafas, laki-laki menyebalkan.

“B-iiss-hhaa-kha-kkau-hh-mmh-ehn-yihkiir-kkh-auhh-bh-eh-rhat-” Dia hanya diam, memandangku dengan intes. Aku melototkan mataku, dan dia gelagapan. Seakan Dia sadar saat aku sudah hampir kehabisan nafas, dia segera beranjak dari atasku, dan langsung membangunkanku, aku menarik nafas sedalam-dalamnya dan akhirnya nafasku kembali dengan normal. Aku mendelik kepadanya, tapi dia melengoskan wajahnya ke arah lain. Namja ini sungguh menyebalakan.

“Tidak Sopan.” Ucapku ketus, aku segera beranjak dari tempat itu dan berjalan meniju café yang kutuju tadi. Belum sempat aku berjalan dua langkah tiba-tiba lenganku di tarik olehnya dan.

Cup!

Dia mencium tepat di bibirku, sontak aku melotot ke arahnya tapi dia tidak menghiraukan mataku yang melotot, dia malah memperdalam ciumanya, dan tiba-tiba tanganya memegang pinggangku. Namja ini tidak punya sopan santun Eoh? Main cium sembarangan saja. Aku merasakan kalau ada cahaya di mana-mana. Dan aku baru sadar kalau ini Blitz dari kamera. Apa-apaan ini?

Jantungku berdetak dengan cepat selama duapuluh tahun aku hidup di dunia ini, baru kali ini aku berciuman. Ah, Ani lebih tepatnya di cium oleh Namja yang tidak tahu asal-usulnya. Aku memukul dadanya, karena aku kehabisan nafas akibat ciumanya yang membuat siapapun melayang. Jangan bilang aku menikmatinya.

Dia melepas ciumanya, dan berbalik ke arah kamera yang sejak tadi mengambil adaganku dengan Namja aneh ini.

“Kalian lihat, aku sudah mempunyai Yeojachingu jangan mengambil keputusan kalau aku sedang menjalin asmara dengan salah satu dari Model. Dia Yeojachinguku. Kalian lihat itu, kami akan segera menikah!” Aku hanya melongo mendengarkan teriakanya. Apa dia bilang? Aku yeojachingunya? Sejak kapan? Aku baru saja mengenalnya saat dia menabrakku dan menindiku beberapa menit yang lalu.

Aku merasakan kalau aku di tarik paksa olehnya dan mulai berlari dari kerumunan wartawan tadi. Dengan sekuat tenaga dia menarikku dan berlari entah kemana karena takut para wartawan kembali mengejarnya, aku tidak bisa melawanya karena aku masih Shock dengan kejadian tadi.

Aku tersentak kaget saat menyadari kata-katanya, ‘Aku mohon bantu aku’ jadi maksud dari kata-kata itu kejadian barusan tadi. Aigo! Aku benar-benar sudah gila, belum genap duapuluh empat jam aku di korea mendapatkan kejadian seperti ini.

Saat sudah tahu dia sudah berhenti berjalan dan menundukanku di sebuah kedai aku mulai meliriknya tajam. Meminta penjelasan.

“Baik-baik, akan aku jelaskan tenang saja! Ya! Jangan menatapku seperti itu.” Dia memalingkan wajahnya, mungkin saja takut dengan tatapan tajamku.

“Berani-beraninya kau menciumku! Dasar Namja gila!” Ucapku tajam, dan dia langsung menolehakan kepalanya yang sedari tadi hanya menatap jendela di kedai yang tidak jauh dari kejadian tadi.

“Kalau kau tidak ada disana mungkin aku juga tidak akan menciummu!” Ucapnya, dan aku menyringai dengan tatapan mengejek.

“Kalau aku tidak di sana mungkin saja kau masih berlari entah kemana. Dengan kata-kata menjijikan ‘Aku mohon bantu aku’ cih! Itu sangat menjijikan!” Ucapku dingin, Dia melebarkan matanya mendengar ucapanku barusan, jangan merasa kaget kalau aku ini orangnya sangat dingin dengan orang yang baru aku kenal, apa lagi kalau orang yang tidak aku kenal sampai membuat kesalahan seperti orang yang ada di hadapaku ini. Seenak jidatnya menciumku, di semua wartawan pula! Bagaimana nasibku.

“Kau tidak mengerti dengan masalaku!” Ucapnya tidak kalah dingin. Aku kembali menyringai, “Jangan menatapku dengan seringaianmu itu, kau sungguh menyebalkan.” Ucapnya lagi.

“Siapa juga yang perduli dengan masalahmu!” kataku dingin, dia membelalakan matanya.

“Kau tidak mengenaliku?” Tanyanya dengan nada mengejek, “Kau yakin?” Ucapnya tidak sabar karena aku hanya diam menatapnya dengan tatapan bengisku.

“Tentu saja, aku baru saja kembali dari amerika selama lima tahun di sana, aku tidak tahu kau siapa? Memangnya itu penting jika aku mengetahui seluk beluk dirimu.” Ucapnya, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan memundurkan tubuhnya untuk bersender ke sandaran kursi.

“Kau benar-benar tidak tahu aku? Bukankah aku sudah melepaskan penyamaranku sedari tadi?” Dia memejamkan matanya, “Kau bisa membantuku untuk menutupi hubunganku dengan seseorang yang sangat aku sayangi?” Aku sedikit-sedikit mengerti arah pembicaraanya.

“Kau mau aku sebagai kedoknya? Menutupi hubunganmu dengan Yeojachingu aslimu? Kau pikir aku siapa?”Aku melotot ke arahnya. Dia mulai menegakan tubuhnya dan megulurkan tanganya, bermaksud untuk berkenalan?

“Lee Donghae Imnida Member Super Junior.” Aku menyeritkan alisku saat mendengar kata terakhirnya? Dia bilang apa tadi Super Junior? Apa itu Super Junior. Seakan melihat reaksiku yang aneh dia segera menjelaskan Super Junior itu.

“Kau tidak tahu Super Junior?” Tanyanya dan aku menggeleng dengan polosnya, dia mendesah kesal.

“Super Junior itu Boyband yang aku…” Aku segera menyela ucapnya.

“Aku hanya tahu DBSK, dan menyukai Shim Changmin.” Kataku jujur, aku memang hanya tahu DBSK sebelum pindah dari ke korea ke amerika aku sempat menyukai DBSK dan sangat tergila-gila oleh Magnae DBSK. Aku melihatnya hanya mendengus kesal.

“Siapa namamu dan berapa umurmu?” Tanyanya acuh. Hei untuk apa dia menanyakan umurku, tak penting

“Han Jaekyung. Dan untuk apa kau menyanyakan umurku?” Dia mendengus kesal mendengar jawabanku, “Kau juga tidak memberitahukan Umurmu saat perkenalan tadi.”

“Umurku duapuluh tiga tahun.” Aku mencelos mendengar umurnya, aku kira ia masih seumuran denganku. “Sekarang giliranmu.”

“Umurku duapuluh tahun.” Jawabku acuh.

“Sekarang kau tinggal dimana?” Dia kembali mengorek tentangku. Karena kau tidak sabar ingin pulang ke apartemenku yang baru di berikan oleh orang tuaku saat satu minggu yang lalu, dan meninggalkan namja ini yang sedari tadi berceramah tidak penting. Aku mulai mengambil buku dan pulpen dari dalam tasku, aku menuliskan alamat apartemen. Entah dia mau apa meminta alamatku. Dia sedikit kaget saat aku memberikan alamat Apartemen dan nomor apartemenku. Tapi dia langsung berbicara lagi.

“Kau punya ponsel tidak? Kalau kau punya aku bisa menghubungimu.” Aku mulai geram saat dia berkoar-koar lagi.

“Aku tidak punya.” Jawabku acuh, “Aku mau pulang aku sudah lelah saat kau menariku untuk berlari-lari tidak jelas seperti tadi.” Aku beranjak dari tempat duduku dan mulai menarik koperku yang berwarna hitam. Belum sampai aku keluar dari kedai itu aku di tarik oleh orang yang kuyakini orang itu yang bernama Lee Donghae.

“Aku akan mengantarkanmu. Tidak baik untukmu kalau kau pulang sendirian. Aku takut kalau kau celaka oleh Fansku.” Namja ini terlalu percaya diri sekali. Aku menatapnya tidak percaya bahwa dia mempunyai seorang fans.

“Kau tidak mempercayai kalau aku mempunyai Fans?” Aku tidak menghiraukannya, cukup lelah juga , “Baiklah kalau kau tidak percaya, aku antarkan kau ke apartemenmu.” Aku menurut saja apa yang di katakanya, mulai malas meladeninya berbicar.

Kami berdua keluar bersama dari kedai yang menjadi tempat berdebadnya kami, dia melambaikan tanganya untuk memberhentikan taksi yang akan membawaku pulang ke apartemenku yang di berikan oleh Appa dan Eomma.

Setelah mendapatkan taksi, kami langsung masuk kedalamnya, dan tidak lupa koper yang aku bawa di taruh di dalam bagasi mobil. Setelah selesai aku mulai memejamkan mataku karena hari ini begitu lelah. Sayup-sayup aku mendengar sang supir taksi menanyakan arah tujuan kami, biarkan saja Donghae yang menjawabnya aku tidak perduli yang terpenting aku harus sampai di Apartemenku.

Aku merasakan pundakku di pukul-pukul kecil oleh tangan seseorang, aku membuka mataku yang tadinya terlelap.

“Waeyo?” Tanyaku yang ternyata Donghae lah yang memukul pindakku.

“Kau yakin kau tinggal di daerah itu?” Tanya Donghae tidak yakin kalau aku tinggal di daerah yang aku tulis di kertas tadi. Aku sedikit kesal mendengar Donghae yang sedari tadi hanya berbicara yang tidak bermutu. Aku mengacuhkanya dan mulai memejamkan mataku lagi. Aku sunggu lelah.

***

Jaekyung Apartement
06.55 pm KST. 2009 May 19

Akhirnya sampai juga di Apartemenku, aku melihatnya ia segera duduk di ruang tamuku, aku yang benar-benar lelah kenapa malah dia yang duduk terlebih dahulu. Ia Tidak menghiraukan kalau aku melotot ke arahnya karena ia seenak jidatnya main duduk tanpa persetujuan dari sang empunya Apartemen ini.

“Kau sangat tidak sopan?” Ucapku Dingin, dia hanya bisa senyum sepolos mungkin.

“Kau di korea sendirian? Orang tuamu kemana?” Dia mengalihkan pembicaraan agar suasanyanya mencair. Cih pintar sekali laki-laki ini.

“Ne sendirian, orang tuaku ada di amerika.” Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, yang bertanda ia mengerti.

“Kau di sini untuk mencari kerja?” Tanyanya polos dan pertanyaan itu membuat mataku yang hampir keluar. Namja ini benar-benar

“Kau fikir di amerika tidak ada lapangan pekerjaan. Aku disini akan mengurus Han Corporation.” Jawabku ketus, seketika aku melihat ia membelalakan matanya. Dia baru tau kalau direktur dari perusahaan yang besar itu aku? Aku hanya menyeringai kecil melihatnya yang masih memblalakan matanya

“Kau tidak percaya? Yasudah kalau tidak percaya. Kau bisa pergi dari sini.” Aku mengusirnya, dan dia hanya mendengus kesal dengan tingkahku yang tidak sopan ini. Biarkan saja, aku tidak perduli.

“Baiklah aku percaya, kalau kau ingin bertemu denganku lagi kau tinggal menyebrang jalan, di depanmu itu gedung Agencyku. Kau tinggal datang saja.” Aku mengacuhkannya, lagipula untuk apa aku mencarinya, tak penting sekali

“Mungkin kau yang mencariku.” Aku bergumam kecil, dan lihat dia tertawa. Aku bisa simpulkan kalau namja ini benar-benar gila. Aku melihatnya dia yang sedang berkutat dengan dompetnya dia mencari sesuatu di dalam dompetnya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku yang masih berdiri tak jauh darinya.

“Ini kartu namaku, di kartu itu lengkap ada nomor telpon, alamat apartemenku dan lain-lain. Kalau kau ada masalah kau bisa menghubungiku. Mungkin beberapa hari lagi atau besok kau akan mulai di buru oleh wartawan dan beberapa fansku. Berhati-hatilah!!!!” Ucapnya panjang lebar, aku hanya bisa melongo mendengarkan ucapanya. Apa memang benar akan seperti itu? Kenapa aku bergidik ngeri mendengar ucapanya. Aku mengangguk kecil bahwa aku mengerti.

“Yasudah aku pulang dulu, mungkin drama kita akan segera di mulai. Calon istriku!!!” Pamitnya, dan apa itu? Calon istri?

“Aku tidak sudi menjadi istrimu. NAMJA GILA!!!!” Aku berteriak saat dia keluar dari apartemenku. Dia benar-benar, akh!!!!

Aku langsung kekamarku dan merebahkan tubuhku yang hampir remuk ini. Besok aku harus bangun pagi-pagi untuk memberi kesan pertama sebagai pemimpin baru di perusahaan keluargaku. Aku akan melupakan kejadian hari ini. Yah harus melupakannya.

***

Super Junior Dorm.
07.25 pm KST
AUTHOR’S POV

“Aku pulang” Donghae berteriak Kencang saat memasuki Dorm. Kenapa sepi sekali biasanya jam tujuh mereka masih ribut dan masih betah di ruang Tengah untuk memperebutkan Remot TV. Pikir Donghae, Karena ia merasa ada yang aneh, Donghae segera bergegas ke ruang Tengah, sesampainya di ruang tengah Donghae tercengang melihat TV yang menayangkan adegannya yang sedang berciuman dengan Yeoja yang bernama Han Jaekyung.

Donghae melihat Leeteuk Hyungnya berdiri dari duduknya, dan menghadap ke arah Donghae dengan wajah yang menyeramkan. Donghae benar-benar takut sekarang. Semoga saja Heechul Hyung dan Kangin Hyung tidak akan marah juga. Doanya dalam hati, Tapi dugaannya salah Heechul dan Kangin ikut berdiri juga. Donghae benar-benar di ambang kematian. Tuhan tolong selamatkan aku dari amukan mereka. Donghae kembali berdoa.

“Jelaskan apa yang di maksud tadi? Dan siapa Yeoja yang kau cium itu?” Leeteuk membuka suara. Dorm sunyi seperti tanpa penghuni, sekarang Dorm sangat mencekam. Donghae melihat Leeteuk Hyungnya menghembuskan nafasnya dengan kesal.

“Tadi siang aku jalan-jalan, aku bertemu dengan Model Son Hye Jin. Dan ada salah satu media yang mengetahui kami bertemu. Media itu menyangka kalau aku berpacaran dengan Hye Jin.”

Donghae hanya melihat Teuki Hyung mendengus kesal, yang lain hanya diam saja mungkin mereka takut melihat Teuki Hyung murka seperti itu. Dan Donghae juga seperti mereka begitu takut saat melihat Teuki Hyung yang marah besar.

“Siapa Yeoja yang kau Cium itu?” Donghae hanya memalingkan wajahnya untuk melihat Kangin Hyung yang ambil suara. Donghae sedikit gelagapan untuk menjawabnya. Ia memberanikan Diri untuk menjawab pertanyaan Kangin Hyung.

“Dia Yeojachinguku yang telah meninggalkanku selama Hampir lima tahun lamanya.” Donghae berbicara Bohong kepada Hyung-Hyungnya dan Dongsaeng-dongsaengnya. Mianhae.

“Dia cinta pertamamu?” Tanya Hyukjae yang sedari tadi hanya diam dan sekarang mengambil suara. Donghae mengangguk kecil sebagai tanda setuju.

“Sudah-sudah, kita urus kejadian ini besok saja. Aku sudah sangat lelah. Kalian masuk kamar masing-masing.” Ucap Leeteuk Hyung sambil berjalan ke arah kamarnya.

Donghae berjalan ke arah kamarnya yang tidak jauh dari ruang tengah. Ia membuka Hoodienya untuk penyamarannya tadi siang. Tak lama setelah mengganti baju, pintu kamarnya terbuka dan kepala manusia yang menyembul dari arah sana.

“Kau belum tidur Donghae-ah?” Tanya Suara itu, ia cukup hafal karena ia tau suara cempreng itu hanya di miliki oleh Couplenya di Super Junior.

“Hmm, Wae Eunhyuk-ah?” Tanyanya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.

“Yeoja yang kau cium tadi itu bernar-benar Cinta pertamamu?” Tanyanya penasaraan. Donghae hanya menggeleng. Karena memang benar dia bukan siapa-siapaku. Kami baru saja berkenalan dengannya tadi.

“Jadi, kau akan benar-benar menikah dengannya? Bagaimana dengan perusahaan? Kau tidak takut kalau kau nanti di depak oleh perusahaan?” Pertanyaan Hyuk membuat kepalanya pening, ia tidak perduli mungkin SME akan mengadakan konverensi pers untuk memberitakan skandalku.

“Aku tidak perduli, aku lelah ingin bertemu dengan bantal dan gulingku. Pergilah ke kamarmu.” Usirku pada Hyukjae. Eunhyuk hanya diam dan setelah itu ia mendengus kesal sambil keluar dari kamarnya Donghae.

***

JAEKYUNG’S POV

Aku menggeliat malas saat telingaku menangkap suara alarm yang paling aku benci selama hidupku ini. Aku beranjak untuk duduk, mengucek mataku untuk memperjelas pandanganku yang masih kabur ini. Aku masih butuh tidur delpan jam lagi untuk memperoleh tenagaku kembali seperti semula, tapi bukankah aku tadi malam tidur jam delapan malam? Aku tidak perduli.

Masih jam setengah tujuh. Yah setengah tujuh! MWO! SETENGAH TUJUH? Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Tidak butuh lama untuk membersihkan tubuhku. Aku kembali ke kamarku dan aku lupa kalau bajuku masih ada di dalam koper dan belum sempat untuk memrapihkan baju-bajuku. Aku segera mengobrak-ngabrik koperku mencari baju kantoran yang di berikan oleh Eommaku. Aku memakai baju kantoranku asal, aku bukan seseorang yang memperhatikan penampilanku memakai baju apa saja aku suka.

Setelah selesai dengan pakaianku, aku mulai menyisir rambut panjangku yang bergelombang ini. Aku melangkah keluar seperti ada yang kurang, aku memukul kepalaku sendiri semua berkas-berkas masih ada di dalam tas, dan tasku masih ada di kamar, aku berjalan ke kamarku kembali dan ternyata bukan berkas-berkas saja yang kurang ternyata aku belum memakai Hihgheelsku. Aku ini benar-benar akan menjadi bodoh kalau sedang buru-buru.

Semua persiapan sudah selesai, aku melirik jam yang ada di dinding jam tujuh lewat lima belas menit. Aku sudah sangat terlambat dan aku pasti akan di cap sebagai pemimpin yang tidak disiplin waktu.

Aku keluar gedung apartemenku, dan aku langsung di suguhi pemandangan gedung depan apartemenku ini ramai, banyak sekali wartawan dan anak-anak remaja. Aku tidak perduli lagi dengan urusan seperti itu, membuang-buang waktu saja.

Aku menyetop taksi yang berlalu lalang di depan gedung apartemnku. Setelah masuk aku memberikan alamat yang aku tuju kepada supir taksi itu. Kami Cuma butuh lima belas menit untuk sampai di gedung perusahaanku. Aku memberi ongkos jalan dan membungkuk hormat padanya.

Aku melirik ponselku. Yang aku temukan di meja pinggir kasurku tadi, aku melirik jam yang ada di dalam ponsel itu. Dan yah jam delapan kurang sepuluh menit. Aku sudah pasti di cap tidak baik oleh pegawaiku nanti.

Sebelum masuk kedalam aku menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Aku harap hari ini berjalan dengan lancar. Aku sudah ada di depan pintu perusahaanku, aku begitu gugup untuk memulainya dari awal.

Aku membuka pintu, dan aku melihat ada beberapa puluh pegawai di perusahaanku yang membungkuk memberi salam padaku. Aku berjalan untuk masuk kedalam dengan membalas bungkukan badanku. Setelah sampai di ujung aku membalikan tubuhku untuk memperkenalkan diriku.

Aku sempat heran ada beberapa pegawaiku yang berbisik-bisik saat aku memperlihatkan sosoku. Aku memiringkan kepalaku dan berdeham agar mereka diam dan berhenti untuk berbisik-bisik seperti itu.

“Annyeonghaseo… Han Jaekyung imnida hari ini saya yang akan menjadi peminpin di perusahaan ini. Mohon bantuanya dan maafkan saya, karena di hari pertama aku sudah tidak displin waktu.” Aku memperkenalkan diriku dan membeungkuk pada pegawai-pegawaiku. “Sekertarisku yang mana?” Aku bertanya tentang sekertarisku yang baru, aku tidak tau hari ini aku harus mengerjakan apa sebagai pemimpin.

“Ah, Sajangnim saya.” Aku melirik kea rah sampingku, aku tidak menyadari kalau ada seseorang yang dari tadi ada di sampingku.

“Ah ya sudah, kalian bisa bekerja seperti semula.” Aku menyuruh mereka untuk kembali ke pekerjaan mereka seperti semula, dan mereka menuruti perkataanku. Tentu saja bodoh karena kau itu pemimpinya.

“Sajangnim anda sudah di tunggu oleh pemimpin dulu kami.” Aku melirik ke arah sekertarisku, pemimpin perusahaan dulu, berarti yang di maksud sekertarisku Paman Han Jong si? Aigo! Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, dia paman kesayanganku.

“Paman Jong si ada di mana?” Aku bertanya pada sekertarisku yang mengikutiku berjalan menuju arah lift, di lihat-lihat perusahaan keluargaku ini sangat besar dan megah.

“Ada di dalam ruangan anda sajangnim. Di lantai Lima.” Ucap Asisten pribadiku ini. Dia ini formal sekali, di lihat-lihat sepertinya ia lebih atas di umurku. Kira-kira berapa umurnya?

“Ah… Jangan seformal ini, berapa umurmu dan nama? Aku baru saja duapuluh tahun.” Ucapku dia hanya tersenyum sopan terhadapku.

“Umurku baru saja menginjak duapuluh empat tahun dan namaku Shin Hyemi. Anda atasan saya, jadi walaupun anda di bawah umur saya, saya tetap akan memanggilmu dengan sebutan Sajangnim.” Jawabnya, aku hanya tersenyum kecut mendengar Jawabanya, aku kan tidak ingin di panggil seperti itu, kalau dengan sebutan Sajangnim aku seperti sudah sangat tua.

“Panggil aku apa saja, aku tidak begitu suka dengan sebutan ‘Sajangnim’ terlihat tua sekali.” Ucapku sambil beranjak naik ke atas lift yang akan mengantarku ke lantai lima. Dia kembali tersenyum mendengar ucapanku.

“Baik. Saya akan memanggilmu dengan Nona? Apa tidak terdenga tua?” Ujarnya, aku menimbang-nimbang lagi. Sepertinya Nona tidak buruk.

“Baiklah, kau memanggilku dengan sebutan nona. Dan satu lagi jangan terlalu formal denganku. Aku tidak suka melihat orang yang terlalu formal seperti tadi.” Lift terbuka, dan aku segerakeluar dari lift itu. Asistenku masih mengikuti dari belakang. Aku sedikit menghentikan langkahku untuk bertanya dimana ruanganku.

“Dimana?” Tanyaku dan dia langsung menunjukan ruangkanku. Aku segera membuka pintu tersebut, saat sudah terbuka aku melihat seulet tubuh pamanku yang sedang memandang pemandangan di luar.

“PAMAN!!!!!!” Teriaku membahana, beliau langsung membalikan tubuhnya dia tersenyum manis melihatku.

“Aigo!!! Keponakanku sudah besar ternyata.” Ucapnya, aku langsung memeluk tubuhnya. Dia paman kesayanganku.

“Hehehe, iya kira-kira sudah lima tahun aku tidak di korea, dan menetap di amerika.” Aku semakin memperat pelukanku pada tubuhnya.

“Maaf, paman memberikan perusahaan paman padamu. Masa mudamu paman ambil untuk mengurusi perusahaan ini.” Sesalnya. Aneh karena pamanku memberikan perusahaan ini? Yah karena pamanku tidak mempunyai anak, lebih tepatnya anaknya meninggal bersama ibunya anaknya masih ada di dalam kandungan ibunya, istri pamanku mengalami kecelakaan saat ia akan menyebrang jalan setelah berbelanja di pusat perbelanjaan. Kira-kira kecelakaan itu sudah duapulah tahu lalu, dan selama itu pula pamanku tidak pernah menikah lagi.

“Gwenchana, aku suka karena ada alasanmengurus perusahaan ini aku jadi bisa pulang ke korea.” Aku melepaskan pelukanku, aku melihat wajah pamanku sama. Masih tetap seperti lima tahun yang lalu dia masih tetap tampan.

“Paman setiap hari akan melihat kerjamu. Hmmm. Semangat mulai bekerja sekarang, paman pulang dulu.” Pamitnya, aku tersenyum saat ia melambaikan tanganya dan keluar dari ruanganku.

“Nona, anda sekarang akan mengadakan Meeting di lantai enam dan sepertinya mereka sedang menunggu anda.” Ucap Hyemi Onnie –aku lebih suka memanggilnya Onnie-.

“Baiklah Onnie, kita langsung ke lantai enam.” Aku berjalan menuju pintu dan Hyemi Onnie ikut berjalan di belakangku, aku sedikit gugup menghadapi Meeting pertama di korea. Setidaknya dulu di amerika aku sudah belajar dengan orang tuaku tentang meeting di kantor. Aku pasti bisa.

***

Meeting tadi cukup melelahkan, dua jam kami meeting hoah! Aku tidak menyangka. Sudah jam istirahat, aku keluar dari ruanganku aku lapar, jadi aku memilih ke restoran yang ada di samping kantorku.

Aku berjalan di lobi kantorku, banyak pegawai-pegawaiku keluar dari ruangannya. Saat melihatku berjalan mereka semua membungkuk terhadapku untuk memberi salam hormat. Tapi setelah aku cukup jauh dari mereka, sayup-sayup aku mendengar mereka membicarakanku dan aku sedkit-dikit mendengar nama namja gila itu.

Aku tidak memperdulikanya, dan aku tidak mempunyai urusan dengan namja gila itu. Sebelum ke restoran aku menuju kea rah toilet, tiba-tiba saja aku ingin buang air kecil. Aku masuk ke salah satu bilik kamar mandi.

“Hei… Apa atasan baru kita itu yeojachingu Donghae Oppa? Aku tidak percaya.” Aku mendengar salah satu pegawaiku. Aku mengurung niatku untuk keluar. Aku menajamkan pendengaranku.

“Aku juga tidak percaya, aku melihat berita Donghae Oppa yang berciuman di bandara itu tadi malam, sekilas wanita yang di cium Donghae oppa memang seperti atasan kita.” Aku kaget mendengar perkataan pegawaiku. Jadi apa yang di bilang oleh namja gila itu tidak main-main. Aish bagaimana ini.

“Bagaimana kalau mereka menikah? Aku tidak suka dengan Donghae Oppa menikah dengannya. Tidak ada cantik-cantiknya.”

Brakkk!!!

Aku kesal. Aku membanting pintu di salah satu toilet di kantorku ini. Aku melihat pegawaiku menolehkan wajahnya ke arahku. Aku melihat salah satu dari mereka akan membuka mulut tapi sepertinya ia mengurungkan niatnya, karena yang keluar adalah diriku bukan salah satu pegawai ini.

“Sajangnim…” Ucap salah satu dari mereka, aku mengacuhkannya dan langsung berjalan keluar dari toilet ini. Aku berjalan tergesa-gesa menuju ke ruanganku. Aku tidak perduli dengan bungkukan badan mereka. Aku ingin pulang!!!!

“Hyemin Onnie, hari ini aku pulang terlebih dahulu. Tiba-tiba saja badanku tidak enak.” Ucapku pada asistenku, dan dia hanya mengangguk patuh terhadapku.

“Perlu ku antarkan Nona?” Tawarnya, aku hanya tersenyum manis menaggapinya.

“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.” Tolakku halus. Aku mengambil tasku yang ada di atas mejaku. Dan segera pergi dari ruanganku.

Aku melihat pegawai yang tadi membicarakanku di toilet menundukan kepalanya. Aku tidak menghiraukannya aku hanya ingin pulang saja.

Aku berjalan menuju halte yang dekat dengan kantorku. Jalan yang aku lewati tidak begitu ramai. Anak sekolah, mungkin masih SMP. Aku melihat mereka yang sedang membuka majalah dan mereka dengan ganasnya menyobek kertas majalah tersebut, aku bergidik ngeri melihat mereka.

“Aku tidak rela Donghae Oppa menikah dengan wanita murahan itu. Kalau aku bertemu denganya aku akan menjambaknya rambutnya sampai botak” Aku melotot mendengar ucapan dari salah satu mereka. Jantungku berdegup kencang, bergidik ngeri saat mendengar ia akan menjambak rambutku sampai rontok.

Salah satu dari mereka memperhatikanku diam-diam, apa dia tau kalau yang di majalah itu aku? Sesekali dia melihat majalah dan melihat wajahku. Perlahan-lahan aku menggeser tempatku berdiri dari mereka. Aku melihatnya berbisik-bisik kepada salah satu temanya. Aku merasakan firasatku tidak enak, saat aku menoleh kearah mereka, dengan bersamaan mereka menoleh ke arahku, salah satu mereka berteriak keras dan aku segera berlari meninggalkan halte, mereka akan menjambakku jika aku tertangkap.

“YAK!!! ITU DIA WANITA MURAHAN!!!!!!” Aku berlari tanpa arah, mereka berjumlah enam orang dan aku hanya sendirian. Ternyata keputusanku untuk pulang itu menimbulkan kesialan yang sangat fatal.

Mereka masih terus saja mengejarku, kakiku sudah sangat sakit untuk berlari karena aku memakai Highheels tujuh senti. Aku berharap aku bisa selamat dari amukan merek.aku terus berlari tanpa arah. Tuhan tolong selamatkan aku.

Aku berbelok arah dan bersembunyi di tembok, aku berharap mereka tidak menemukanku. Nafasku tersengal-sengal tidak karuan karena aku terus saja berlari. Aku tidak mendengar suara mereka, ternyata mereka telah menyerah, tidak mengejarku kembali.

Aku mengobrak-abrik tasku, mencari dompet dan ponselku. Aku mnarik kertas yang ada di dalam dompetku. Segera mungkin aku mengetik nomor yang ada di kertas itu.

“Yeoboseo… Bisa kita bertemu?” Aku memotong ucapanya.

“Nugu?”

“Aku Jaekyung, kau masih ingatkan?” Aku mengingatkanya, di terdiam sebentar. Mungkin dia sedang mengingat-ingatku.

“Ah, Jaekyung-ssi ada apa? Aku tidak bisa bertemu denganmu. Aku sedang akan ada sidang di managemenku.”

“Aku harap kita bisa bertemu? Mwo apa kau tidak bisa bertemu? Aku sedang di kejar-kejar oleh Fansmu.” Aku pasrah, kalau aku di temukan oleh fans laki-laki sialan ini dan di jambak sampai botak tidak apa-apa.

“Kau ada dimana? Aku akan menjemputmu. Kau mau ke kantorku dan membuat perjanjian denganku?”

“Apapun perjanjianya aku akan ikuti apa maumu, aku tidak mau di jambak oleh fansmu!!!! Aku ada di salah satu di sekitar disrtik Seoul, aku harap kau menemukanku.”

“Baik. Kau tunggu aku di sana. Jangan pergi kemana-mana.”

Dia menutup telpon, aku terduduk di tanah aku lelah karena harus berlari-lari seperti tadi. Perutku keroncongan karena aku memang belum menyentuh makanan dari malam tadi.

Kesabaranku hampir habis, sudah hampir setengah jam aku menunggunya di sini. Aku tidak akan pulang kalau bukan Donghae yang menjemputku karena kalau aku pulang sendirian seperti tadi aku pasti tidak akan selamat lagi. Aku mendengar suara langkah seseorang yang berjalan kea rah tempat persembunyianku, aku mengeratkan pelukanku di tasku.

“Jaekyung-Ssi…” Ucap seseorang, aku mendongakan kepalaku. Dia datang, akhirnya dia datang…

======TBC======

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=300645926718145&set=a.102985269817546.3823.100003182196976&type=1&permPage=1

No cuap-cuap! Cuma ada KISS :*

9 thoughts on “Wrong Married -1-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s