Wrong Married -2-

https://i1.wp.com/sphotos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/292749_299450673504337_1890998821_n.jpg

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

 

JAEKYUNG’S POV

 

Kesabaranku hampir habis, sudah hampir setengah jam aku menunggunya di sini. Aku tidak akan pulang kalau bukan Donghae yang menjemputku karena kalau aku pulang sendirian seperti tadi aku pasti tidak akan selamat lagi. Aku mendengar suara langkah seseorang yang berjalan kea rah tempat persembunyianku, aku mengeratkan pelukanku di tasku.

 

“Jaekyung-Ssi…” Ucap seseorang, aku mendongakan kepalaku. Dia datang, akhirnya dia.

 

=======

 

“Jaekyung-Ssi…” Ucap seseorang, aku mendongakan kepalaku. Dia datang, akhirnya dia.

 

“Kau! Kenapa lama sekali?? Aku hampir saja di hajar habis-habisan oleh Fansmu itu!” Ucapku saat ia berjalan mendekatiku.

 

“Bukankah sudah kubilang? Kalau kau berkeliaran seperti ini kau pasti akan celaka, dan lihat bukan apa yang sudah alami sekarang?” Cerocosnya panjang lebar. Ah! kenapa nasibku seperti ini? Aku baru saja sampai di korea dan aku mendapatkan musibah seperti ini. Sunggu sialnya nasibku.

 

“Baik-baik, ada benarnya juga kemarin kau berkata seperti itu. Tolong bantu aku, kakiku lecet karena aku berlari dari halte dekat kantorku kesini!” Ucapku memelas, dia terlihat sangat khwatir melihatku seperti ini. Siapa yang tidak khwatir? Aku duduk di pojokan gang buntu yang banyak sekali debu, sampah berserakan, kakiku lecet, rambutku yang tadi sempat terkuncir kini terlepas karena berlari-lari untuk mengindar dari fans laki-laki ini. Aku benar-benar berantakan sekarang, dan aku benar-benar ingin menangis.

 

“Ya! Kenapa matamu merah? Dan kemana Highheelsmu?” Ucapnya tambah khwatir. Tentu saja mataku merah karena aku benar-benar ingin menangis.

 

Dan akhirnya pertahananku tumpah juga, air mataku mengalir dan membuat sungai kecil. Aku terisak kecil dan menundukan kepalaku. Aku tidak mau di kejar-kejar seperti tadi, aku benar-benar takut. Bagaimana kalau salah satu fans dari laki-laki ini menemukanku dan membuktikan perkataanya, menjambak rambutku sampai aku botak? Aku benar-benar takut sekarang.

 

“Ya! Kenapa kau malah menangis? Kakimu hanya lecetkan? Aku akan mengobatimu saat kita sudah sampai di Dorm. Sudah jangan menagis lagi, kau sudah dewasakan?”

 

Aku masih terisak, aku menangis bukan karena kakiku lecet atau apa, aku menangis takut karena fansnya. Aku ditarik menuju mobilnya, membukakan pintu mobilnya dan menuntunku untuk duduk di kursi depan yang bersebelahan dengan kursi pengemudi. Dia segera menutup pintu mobi setelah aku duduk manis di bangu depan, ia segera berlari kecil, membuka pintu mobil dan menutupnya kemabali. Dia menstarter mobilnya dan kemudian mobilnya melaju.

 

aku berhenti terisak, tapi air mataku tidak bisa di ajak kompromi, masih mengalir saja. Benar-benar memalukan. Aku melihatnya mencuri pandang padaku, mungkin dia masih menghwatirkanku yang masih mengluarkan air mata.

 

“Kau tidak apa-apa kan? Kumohon berhentilah menangis. Apa yang di lakukan oleh fansku?” Tanyanya dengan nada yang masih khwatir. Aku menggeleng kecil, dan dia menghentikan mobilnya.

 

“Dimananya yang sakit?” Ucapnya sambil menghadaku, aku menunjukan kearah dadaku. Aku sakit hati, mereka ingin sekali menjambakku.

 

“Apa mereka memukul kearah dadamu?” Aku menggelengkan kepalaku lagi, ia mengusap wajahnya dengan gusar.

 

“Kumohon bicaralah, bukankah tadi kau sempat memarahiku?” Ia sudah kehabisan kesabaran, aku masih tidak mau bicara lagi.

 

“Baik-baik kalau kau tidak mau bicara. Aku juga mengerti kalau kau sedang dalam keadaan yang tidak baik. Kita bicarakan ini kalau kita sudah sampai di Dorm nanti, dan keadaanmu dalam keadaan yang baik!”

 

Aku hanya mengangguk patuh apa yang ia bicarakan tadi. Mobil kembali berjalan, aku memalingkan wajahku kearah jendela melihat pemandangan sore hari, kami melewati jalan yang dekat dengan sungai han, indah disaat sore ini sungai han indah.

 

Aku kembali melamun, merenungkan kejadian tadi yang baru saja menimpaku. Hak Highheelsku patah dua-duanya, kakiku lecet, benar-benar sangat mengerikan. Kalau saat di bandara kemarin aku tidak bertemu dengan laki-laki ini aku pasti akan hidup tentram, tidak seperti ini. Aku pasti akan merasa seperti narapidana yang berhasil kabur dan dicari oleh semua orang.

 

“Ayo turun.” Aku tersentak kaget saat suara itu mengaggetkanku yang sedang melamun. Tidak tersa mobil ini sudah berhenti di parkiran sebuah apartemen. Aku membuka pintu mobil dan langsung turun. Aku sedikit tertatih saat melangkah menuju Donghae yang di depan mobil ini. Aigo! Sakit di kakiku baru saja aku rasakan, ini benar-benar sakit. Donghae yang melihatku tertatih segera melangkah kearahku, sebelum ia menopang tanganku di pundaknya ia kembali kearah mobil, dan ia masuk. Aku melihat ia sedang menggeledah mobilnya, mencari sesuatu yang tidak aku ketahui. Ia kembali padaku dan menunjukan sebuah masker, apa maksudnya ia memberikan masker padaku?

 

“Untuk berjaga-jaga, jika ada yang melihatku membawamu bagaimana? Akan membuat scandal makin memanas.” Ucapnya yang seolah mengerti dengan raut wajahku. Dia bodoh atau tidak? Walaupun aku memakai masker tetap saja ketahuan oleh media kalau ia sendiri tidak memakai masker.

 

“Tenang, aku memakai topi dan maskernya juga ada dua. Aku selalu membawa cadangan masker didalam mobilku.” Ia segera memasangkan masker yang ia bawa tadi padaku, dan dia sendiri ikutan memakainya.

 

“Selesai bukan, jadi kita tidak akan ada yang mengetahui.” Ucapnya dengan tampang polos. Aku hanya memasang tampang datarku saja. Terserah ia saja, aku hanya akan menurut padanya.

 

Ia membantuku untuk berjalan, kami sudah keluar dari area parkir dan kami sedang berjalan di koridor apartemen ini, banyak sepasang mata yang melihat kami dengan curiga. Bagaimana tidak curiga? Aku memakai masker dan jalan di bantu oleh laki-laki yang bertopi dan bermasker. Mungkin mereka akan menganggap kami sebagai teroris.

 

Saat kami berjalan tiba-tiba saja security datang kehadapan kami, melihat kami dengan tajam, dan reflek Donghae menghentikan langkahnya. Mengerti dengan raut wajah Security itu Donghae merogoh kantongnya dan membuka Dompetnya memperlihatkan kartu identitasnya, dengan cepat pula Donghae membisikan kalau dirinya Lee Donghae dari member Super Junior. Dan Security tersebut membungkuk meminta maaf dan ia minggir untuk memberikan kami jalan.

 

Kami memasuki Lift, dan keadaan didalam lift sangat hening. Aku tidak dalam keadaan yang baik aku malas untuk membuka mulut dan mengucapkan sapatah kata apapun. Sampai Lift kembali terbuka kami tidak membuka mulut.

 

Kami berhenti di sebuah Pintu Apartemen, Donghae melepaskan tanganku yang tadi hanya bertengger di bahunya, ia menekan beberapa password untuk membuka pintu ini. Pintu terbuka dan ia kembali memapahku sampai di dalam Apartemen ini.

 

Saat kami memasuki ruang tengah apartemen ini beberapa pasanga mata menatap kami dengan pandangan kaget. Siapa yang tidak kaget? Melihatku yang tak karuan dan dipapah oleh seseorang. Salah satu dari mereka berdiri dan menghampiri kami dan membantuku untuk duduk di kursi yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

“Gwenchana?” Tanyanya padaku, aku hanya mengangguk, “Ryeowook-ah ambilkan minum!” Panggil laki-laki ini lantang. Aku melihat Donghae yang ikutan duduk, ia duduk di depanku dan memejamkan matanya, mungkin saja ia lelah karena memapahku.

 

“Dia. Yang kemarin aku cium dibandara itu!” Ucap Donghae tiba-tiba dan membuatku kaget.

 

“Jadi ini Yeoja yang meninggalkan dirimu hyung?” Celetuk seseorang sambil memberikan minuman padaku dan tersenyum manis padaku. Donghae hanya mengangguk, dan aku hanya bisa diam bingung. Apa maksud dari perkataan Namja yang memberikanku minum, dia bilang kalau aku meninggalkanya?

 

“Tapi kenapa penampilannya seperti ini? Apa dia habis dikejar-kejar oleh fansmu?” Tanya Namja yang berdiri di pinggiran sofa dan tanganya sibuk menekan tombol yang ada di benda yang berbentuk persegi panjang itu.

 

“Ne, tadi siang dia hampir saja di hajar habis-habisan oleh fansku. Bagaimana ini?” Ucapnya bingung. Aku masih saja diam, “Bisakah kau bicara? Kenapa kau malah menutup mulutmu terus? Aku sudah cukup frustasi melihatmu yang hanya diam dan tak bicara.” Dia mengerang frustasi, dan mengacak-ngacak rambutnya.

 

“Aku sedang tidak ada mood untuk bicara.” Ucapku seaddanya, dan aku langsung mendengar gelak tawa dari seseorang yang dari tadi hanya fokus pada benda persegi panjang itu.

 

“Kalau kau tak ada mood untuk berbicara, kenapa kau malah berbicara seperti itu? Aigo ternyata Yeoja ini bodoh sekali!” Sial, laki-laki itu menyebalkan sekali. Rasanya aku ingin menampol mulutnya itu.

 

“Diamlah Cho Kyuhyun!” Bentak namja yang ada di samping laki-laki yang bernama Cho Kyuhyun itu.

 

“Minumlah dulu air ini agar kau baik-baik saja, dan setelah kau baik-baik saja bisa kau ceritakan kronologis kejadian yang kau alami?” Ucap laki-laki yang ada disampingku ini dengan lembut, “Ah, Leeteuk imnida…” Ia mengenalkan dirinya kepadaku dan aku hanya tersenyum tipis. Dia benar-benar sopan. Sepertinya aku sudah cukup baik untuk bicara.

 

Aku menceritakan kronologisnya kepada mereka semua dari awal sampai akhir, mereka hanya menganggukan kepalanya saja yang berarti mereka mengerti dengan kondisiku tadi yang benar-benar buruk.

 

Donghae. Dia hanya bisa menundukan kepalanya saja, mungkin dia merasa bersalah padaku yang bisa masuk kedalam kehidupan yang begitu banyak peraturan. Aku menyenderkan pungguku kesofa empuk diruangan ini.

 

“Kami akan menikah Hyung!” Aku hampir saja tersedak air saat aku meminum air putih tadi yang diberikan oleh laki-laki yang bernama Ryeowook itu.

 

“Kau sudah Gila?” Ucapku tak terima, cukup, masa dimana hidupku tertram dirusak oleh orang tuaku yang menjadikan aku atasan di kantor pamanku, dan sekarang ia juga akan merusaknya menjadi lebih parah???

“Tidak, terima kasih. Aku tak mau mencampuri urusanmu. Lee Donghae-ssi!!!” Ucapku penuh penekanan, dan dia hanya menatap sendu kearahku, “Jangan perlihatkan ekspresi menjijikan seperti itu, itu tak pantas untuk dirimu!”

 

“Kau mau kalau kau akan di terror oleh fans dari Donghae Hyung?” Tanya Ryeowook padaku.

 

“Tapi kan kalau aku dan Donghae tak pernah bertemu lagi atau tak berhubangan denganku, scandal itu akan perlahan-lahan mereda!”

 

“Tapi tetap saja tidak bisa. Kau lupa kalau Donghae kemarin ia berbicara kalau kalian kan menikah?

 

“Pokoknya aku tidak ma–” Ucapanku terpotong.

 

“Bukankah saat kau masih meringkuk digang sepi itu kau mau melakukan apa saja yang nanti aku putuskan?” Aku menatap Donghae yang dengan geram, ternyata aku salah berbicara seperti itu kepada Donghae.

 

“Baik-baik, aku akan mengikuti keputusanmu itu.” Akhirnya aku pasrah. Aku ingin penderitaan ini secepatnya selesia, “Bisa kau antarkan aku pulang? Aku lelah dan ingin secepatnya istirahat!” Donghae hanya mengangguk.

 

“Hmm… Oppadeul terima kasih atas kebaikan kalian, aku pasti akan berkunjung nanti” Ucapku berpamitan.

 

“Iya. Kau bisa kemari besok untuk mengikuti rapat tentang scandal Donghae dan dirimu. Donghae jangan lupa untuk menjemputnya pagi nanti!” Ucap Leeteuk Oppa, dan dia tak lupa mewanti-wanti Donghae untuk menjemputku besok pagi.

 

“Ye~ Sekali lagi Kamsahamnida Oppa!” Aku membungkuk sopan, “Dan ah aku lupa, aku Han Jaekyung. Bangapseumnida Oppa!!!” Aku memperkenalkan diriku dan kembali membungkukan badanku, memberi kesan sopan kepada mereka.

 

***

 

Aku berjalan berdampingan denagan laki-laki yang membawaku kesebuah musibah yang membuatku ingin mengakhiri hidupku ini. Setelah keluar dari apartemen tadi aku langsung menutup mulutku, tidak ingin berbicara lagi dengan laki-laki brengsek ini.

 

Tiba-tiba dengan lancangnya laki-laki ini menggengam tanganku, menautkan jari-jarinya dengan jari-jariku. Dan dengan sialnya, kenapa jantungku berdetak dengan cepat dan darahku berdesir cepat. Ini aneh, benar-benar aneh. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini.

 

Kami sudah sampai di tempat parkiran, aku langsung saja masuk kedalam mobil saat Donghae menekan tombol yang ada di kunci mobil yang berarti mobil itu telah tak terkunci lagi. Aku ingin cepat-cepat terlepas dari genggaman tanganya yang mengakibatku menjadi gugup.

 

Donghae menjalankan mobilnya, ia menyetir dengan sangat hati-hati seperti saat ia membawaku kedormnya. Mobil seperti tadi hening, aku sibuk dengan pikiranku sendiri, dan ia pun sama sibuk dengan pikirannya.

 

Aku menyenderkan kepalaku ke jendela mobil, memejamkan mataku yang sudah sangat lelah gara-gara insiden dikejar oleh Fans dari laki-laki ini. Dan tak terasa aku tertidur selama perjalanan menuju arah apartemenku yang tak jauh dari apartemen laki-laki ini.

 

Aku merasakan tubuhku diguncang-guncang kecil oleh seseorang, aku masih tak rela mataku terbuka. Begitu berat untuk membuka mataku.

 

“Hei! Bangun, kita sudah sampai diparkiran apartemenmu, kau mau tidur didalam mobilku?” Ucap seseorang, yang sepertinya ia tadi yang mengguncang-guncang tubuhku. Dengan tak rela akhirnya aku membuka mataku, mengucek-nguncek kecil mataku agar pandanganku menjadi lebih jelas lagi.

 

“Ah? Sudah sampai?” Tanyaku, dan dia hanya mengangguk kecil. “Kamsahamnida” Ucapku dan mengangguk kecil.

 

“Aku antarkan!” Ucapnya saat aku akan membuka pintu mobil ini, aku menoleh.

 

“Tak usah. Aku bisa sendiri.” Ucapku, dan dia hanya menggeleng.

 

“Bagaimana kalau ada fansku didalam dan nanti ada keributan?” Usahanya masih kekeh. Dan aku menggeleng lagi.

 

“Ini apartemen yang menjaga keamanannya dengan sangat ketat, tak aka nada keribuatan. Kau pulang saja!” Ucapku lelah. Aku benar-benar lelah. Aku melihatnya hanya menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia akhirnya menyerah. “Aku pulang!” Aku keluar dari dalam mobilnya, dan aku masih bisa mendengar ucapanya, “Mianhae” Itu ucapannya yang aku dengar.

 

***

 

Aku menekan memasukan Password dipintu apartemenku, agar aku cepat masuk kedalam apartemenku. Aku ingin cepat secepatnya masuk, mandi, dan segera bertemu dengan kasur dan bantal yang ada didalam kamarku.

 

Saat aku memasuki apartemen tadi, tak sedikit yang melihatku. Berbagai tatapan yang membuatku ngeri. Mereka menatapku dengan padangan seakan-akan aku ini makhluk yang harus dienyahkan dari muka bumi ini.

 

Aku menyesal tak menerima permintaan Donghae yang mengantarku sampai di depan kamarku. Ah, lupakan mungkin besok akan lebih baik lagi dari yang sekarang. Sepertinya aku harus menghubungi pamanku untuk meminta izin, tak masuk kantor seahari. Ia pasti mengerti dengan kondisiku.

 

Sebelum aku menghubungi pamanku, aku lebih baik membersihkan tubuhku dan pasti akan menjadi segar seperti tadi pagi.

 

***

 

Lima belas menit, akhirnya aku keluar dari dalam kamar mandi. Dengan keadaan yang lebih baik aku duduk di sofa diruang tengah apartemenku ini. Aku membokar tasku yang masih bertengger di sofa ini. Aku mengambil ponselku yang ada di dalam tasku. Tanganku dengan lincah mencari nomor ponsel pamanku dikontak ponselku.

 

Setelah mendapatkannya, aku segera menekan tombol berwarna hijau yang berarti aku telah mengubungi pamanku. Masih bernada yang berarti belum belum diangkat oleh pamanku. Dan beberapa detik panggilanku di angkat oleh pamanku.

 

“Yeoboseo, paman” Ucaku mengawali percakapan ini.

 

“Ah, Jaekyung-ah? Ada apa?” Jawab pamanku.

 

“Paman, boleh besok aku absen tidak masuk kantor? Tiba-tiba staminaku turun!” Aku ragu-ragu mengucapkan kata-kata seperti itu, aku takut kalau paman tak memperbolehkanku tak hadir dikantor.

 

“Boleh-boleh saja, aku harus mengutamakan kesehatan. Paman juga mengerti, kau baru saja sampai di korea kemarin dan tadi pagi, di hari pertamamu di Korea kau sudah hadir di kantor. Seharusnya, aku datang kekantor seminggu kemudian!” Ucap pamanku dengan nada yang sangat lembut. Ah, aku jadi bertambah menyayangi pamanku yang ini.

 

“Hehehe, paman. Aku kan ingin merasakan bekerja di korea seperti apa. Ah baiklah paman, terima kasih atas izinnya, aku akan mengubungi sekertarisku dulu ne paman!” Ucapku mengakhiri percekapan ini.

 

“Ne, ingat Jaekyung-ah kau harus menjaga kesehatamu itu. Arraseo? Baiklah kau tidur sekarang ne” Aku hanya mengangguk walaupun ia tak tahu, “Ya sudah, paman tutp telphonenya Ne?”

 

“Ne paman.” Dan telpon tertutup.

 

Aku kembali mengutak-ngatik ponselku, mencari nomor ponsel Hyemi Onnie, Sekertarisku. Setelah menenemukanya aku segera menekan tombol hijau itu kembali. Dan telponpun langsung di angkat oleh Hyemi Onnie.

 

“Ah, Sajangnim Yeoboseo~” Aku tersenyum, kenapa onnie ini masih tetap saja memanggilku dengan sebutan Sajangnim.

 

“Jangan panggil aku sajangnim ne, ah iya aku mengubungi onnie aku hanya ingin meminta izin kalau besok pagi aku tak bisa berangkat kekantor, bisa onnie gantikan aku? Aku Cuma sehari tak hadir dan besok-besoknya aku akan masuk lagi. Staminaaku tiba-tiba turun. Bagaimana? Apa Onnie bisa?” Ucapku panjang lebar.

 

“Ah, Mianhada Nona. Baik kalau seperti itu, aku akan mengantikanmu. Nona harus menjaga kesehatan agar nona selalu sehat.” Ucapnya menasehatiku.

 

“Ah, kamsahamnida Onnie, aku tutp telponnya, karena aku ingin istirahat!” Ucapku mengakhiri.

 

“Ne, selamat beristirahat Nona, dan selamat malam. Tutuplah terlebih dahulu!” Aku mengakhiri percakapan ini, dan meletakan ponselku dimeja yang ada di depanku.

 

Aku menutup mataku, dan tak terasa perutku berbunyi. Aku baru sadar kalau dari siang hingga sekarang aku belum saja makan. Sebaiknya sebelum tidur aku lebih baik makan dulu. Aku tidak mau kalau Magh bisa menyerangku.

 

Aku beranjak dari dudukku, berajalan kearah dapur, dan membuka lemari pendingin. Didalam lemari pendingin Cuma ada ramen yang bisa aku masak sekarang, karena nasi tak ada dan aku belum memasaknya.

 

Setelah mengambil ramen aku segera memasaknya, tak lama kemudian ramenpun terhidang. Aku membawanya kearah meja makan dekat dengan dapur. Aku memakannya dengan lahap karena aku benar-benar lapar.

 

Setelah memakan ramen, aku segera mencuci mangkok dan panci yang aku gunakan untuk memasak. Setelah mencuci, aku kembali ke ruang tengah bermaksud untuk mengambil ponselku. Aku lelah, dan butuh tidur. Dengan cepat aku mengambil ponselku dan pergi menuju kealam mimpi yang sangat indah.

 

***

 

Aku terbangun saat telingaku mendengar suara alarm dari jam yang ada di pinggir kasurku ini. Aku menggeliat pelan untuk melemaskan tubuhku. Aku beranjak dari tidurku dan duduk dipinggiran kasurku.

 

Aku merasakan getaran di kasurku, aku mencari getaran tersebut. Dan aku menemukannya, ternyata getaran itu berasal dari ponselku. Aku mengambil dan melihat siapa yang menghubungiku sepagi ini.

 

Aku menyeritkan alisku, Lee Donghae? Ah aku ingat, pagi ini aku akan berdiskusi dengan mereka –Super Junior– aku segera mengangkatnya.

 

“Yeoboseo?” Ucapku.

 

“Aku akan menjemputmu, limabelas menit aku sampai di depan pintu apartemenmu!” Aku mendengus sebal, dia seenaknya mengatur-ngaturku. Tak mau mendengar ucapanya yang membut gendang telingaku menjadi rusak. Biar dia mengangapku tak sopan, memang dari pertama bertemu dengannya aku sudah tak berperilaku sopan terhadapnya.

 

Aku bergegas dari dudukku, berjalan menuju kamar mandiku. Aku dengan cepat mandi, tak mau berlama-lama dan itu akan membuat laki-laki itu semakin menyebalkan jika ia menungguku lama. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian yang menurutku sangat nyaman untuk aku pakai, aku bergegas keluar karena bel apartemenku di tekan beberapa kali dan itu membuatku tak nyaman. Aku tau siapa tamu itu.

 

Aku membuka pintu apartemenku dan menyembullah wajah yang menurutku sangat menyebalkan, lihatlah wajahnya yang berkerut dan semakin berkerut itu semakin menyebalkan saja.

 

“Kenapa lama sekali?” Ucapanya dengan nada kesal. Aku hanya mendengus melihatnya.

 

“Dan kenapa pagi-pagi sekali?” Aku menatapnya malas, “Aku bahkan belum sarapan pagi ini, dan buru-buru karena kau menelponku pag-pagi sekali dan membawaku pergi sepagi ini untuk melakukan rapat.” Ia hanya menatapku, dan mendengus sebal.

 

“Baiklah, kau sarapan diperusahaanku bekerja saja.” Akhirnya ia mengalah, “Ayo pergi…”

 

Aku menutup pintu dan mengunci pintu apartemenku. Aku melihatnya membenarkan topi dan maskernya yang memang dalam keadaan baik-baik saja. Aku berjalan mendahuluinya, aku tak mau di pandangi oleh orang-orang yang ada digedung apartemenku. Sebenarnya aku berjalan sendirianpun tetap aku di pandangi oleh orang-orang yang sedang berlalu lalang.

 

Kami berdua masuk lift, dan aku bisa bernafas lega karena lift Cuma hanya ada kami berdua. Tiba-tiba saja Donghae membalikan tubuhku, bermaksud untuk menghadapnya. Ia memasangkan masker lagi, seperti semalam. Jantungku berdetak cepat dan darahku berdesir sanagt cepat. Aku berharap pipiku tak merona merah. Aku pasti malu kalau pipiku merona mera–

 

“Kenapa pipimu merona merah? Apa kau sakit?” Belum sempat tadi aku bicara dalam hati ternyata ia sudah mengetahui kalau pipiku sangat merah. Aish, aku benar-benar malu.

 

“Annio… Gwenchana!” Ucapku gugu. Aku membalikan tubuhku seperti semula, kalau menghadap padanya terlalu lama bisa-bisa pipiku akan sangat merah, dan itu benar-benar akan memalukanku.

 

Pintu lift terbuka, kami sudah ada di lantai dasar. Aku berjalan mendahuluinya lagi dan dia berjalan di belakangku. Aku melambatkan jalanku dan mensejajarkan langkahku dengannya.

 

“Dimana kantor perusahaanmu?” Ia menunjukan kearah depan, dan aku mengikutinya. Oh, benar ternyata kantor perusahaannya dekat dengan apartemenku. Kami hanya perlu menyeberang jalan saja dan kami sudah sampai didepan kantornya.

 

Ia membuka pintu pintu perusahaanya, ada banyak pasang mata yang melihat kami berjalan. Aku sedkit menundukan kepalaku. Aku malu kalau aku diperhatikan oleh banyak orang.

 

“Ayo, kita kekantin dulu. Acar rapatnya akan dimuali sepuluh menit lagi.” Ucapnya, aku hanya mengangguk kecil, menurutinya lagi. Lapar, itu yang mendominasiku.

 

Kami menuju kekantin perusahaan Donghae, setelah sampai kami memesan makanan. Dan dengan cepat kami habiskan karena kami sedang terburu-buru rapat akan di mulai sepuluh meint lagi. Setelah selesai makan, kami menuju kearah kasir untuk membayar makanan kami.

 

Kami keluar, dan kembali berjalan menuju kelantai tiga untuk melaksanakan rapat. Setelah sampai di ruangan tersebut menit mebungkuk sopan karena kami telat tiga menit.

 

“Ah, kalian sudah datang ternyata. Baik kita akan memulainya..” Ucap laki-laki paruh baya memulai, “Karena scandal ini mengguncang karir Super Junior, kau harus memperbaikinya dengan ucapnmu sewaktu kau di kejar-kejar oleh wartawan, kau ingat apa yang kau katakana? Kau akan menikahinya bukan? Nah, besok kita akan melakukan Conferensi Press dengan berbagai media…” Aku mendengarkan dengan baik, aku masih ingat dengan perkataan Donghae saat itu, ia akan menikahiku. Hidupku pasti akan berubah. Aku melihat kearah Donghae dan ia hanya menganggu pelan.

 

“Dan anda, Agashi kalau kau menolaknya kami akan tetap memaksa anda untuk menikah dengan Donghae…” Aku hanya menghela nafasku dengan pelan.

 

“Setelah acara Conferensi Press, tiga hari kemudian kalian menika… sekian dari rapat sekarang” Ucapnya mengakhiri. Apa dia bilang? Tiga hari?

 

Apa tak terlalu cepat??? Aku hanya pasrah, dan Donghaepun sama denganku terlihat pasrah…

 

====TO BE CONTINUE===

 

NO CUAP-CUAP!!! HANYA ADA KISS :*

 

Dimaklumi TYPO karena ga aku edit hehehe sekian dan terima kasihhh~~~

 

 

6 thoughts on “Wrong Married -2-

  1. Hoho so sweet banget si pas jaekyung nangis dihadapan hae, knapa hae nggak langsung meluk jaekyung aja ya biar tambah romantis #plak #efek ngayal jd author ..
    Aq rasa tulisan mu makin bagus saeng,,,;-)
    Keep writing yach …..

  2. wow daebak thor aku itu suka bgt sama cerita yg awalnya itu nikah tanpa cinta tapi lama-lama jadi cinta aaaaa so sweet >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s