Bartender -4

https://i2.wp.com/sphotos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/s720x720/537732_309548465827891_1878706461_n.jpg

AUTHOR: VYEJUNGMIN~ [misstypo]

MUSIC: Seishun – Kyousoukyoku

DONGHAE’S POV

Ku tuangkan Vodka yang ada didalam botol ini kearah gelas yang berukuran kecil. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan, banyak sekali orang-orang yang datang kesini untuk melampisakan amarahnya. Tsk! Kalau aku jadi mereka, aku akan melampiaskan amarahku didalam kamar dan langsung membawa diriku kedalam mimpi yang indah. Bukan melampiaskan seperti bermabuk-mabukan didalam club malam seperti ini. Tapi, kalau tak ada orang yang datang ke club, mungkin Club yang dimiliki oleh Siwon akan langsung bangkrut. Itu sangat tak lucu bukan?

Jam sudah menunjukan dua belas malam, dan club ini semakin tengah malam semakin ramai. Banyak sekali pengunjung yang datang hari ini. aku tak begitu ingat aku datang jam berapa yang ku ingat hanya sekarang tiba-tiba sudah pukul dua belas malam saja. Sepertinya aku terlalu bersemangat untuk bekerja hari ini.

Mataku sebenarnya sudah mengantuk dari tadi, Tapi karna banyak sekali pelanggan aku harus kuat jangan sampai aku ketiduran. Malu sekali saat bekerja aku malah ketiduran diatas meja bartender. Untung saja saat itu club tak banyak sekali pelanggan seperti hari ini.

Ku balikan tubuhku untuk menguap, tak sopan sekali jika menguap di hadapan orang. Itu sama sekali tak pernah diajarkan oleh ayahku. Jadi aku harus menjaga kesopananku. Kubalikan tubuhku saat seseorang menepuk bahuku pelan. Awal mataku mengantuk tiba-tiba saja menjadi segar kembali saat melihat seorang gadis yang beberapa hari ini menjadi pusat perhatianku. Ia akhirnya datang kembali, setelah tiga hari lalu, saat aku terakhir kali melihatnya dan ia kembali hadir dihadapanku.

Hah! Sepertinya aku merindukan gadis yang ada didepanku. Merindukannya sampai-sampai aku melupakan kalau aku sudah mempunyai seorang kekasih. Ternyata daya pikat gadis yang ada didepanku benar-benar sangat kuat sekali sampai-sampai aku melupakan HaeBin.

Ternyata mahasiswa yang adi dikampus saat mereka mengatakan bahwa daya pikat gadis didepanku sangat kuat, dan aku bisa merasakannya saat ini. Ia tersenyum, dan aku pasti akan membalas senyumannya. Mana mungkin aku tak membalas senyuman yang amat sangat aku sukai ini.

“Apa kabar Sunbaenim?” Sapanya mendahuluiku, ia kembali tersenyum. Kali ini senyumannya semakin lebar. Wajahnya berseri-seri. Astaga! Aku baru tak melihatnya beberapa hari saja ia sudah sangat cantik saat ini. apa dia selalu merawat tubuhnya, wajahnya dan lain sebagainya. Ia benar-benar cantik sekali malam ini.

“Hei, kemana saja kau tiga hari ini?” Tanyaku langsung padanya. Ia hanya terkekeh pelan mendengar pertanyaanku yang langsung pada intinya.

Dan aku merasa, kalau diriku seperti seorang kekasih yang ditinggal sebentar oleh sanga kekasih yang pergi entah kemana untuk beberapa hari. Tapi itu memang yang aku rasakan saat sekarang.

“Hanya menjernihkan fikiranku. Tiga hari yang lalu benar-benar sangat berat untukku.”

“Kau punya masalah?” Tanyaku padanya. Ia menganggukan kepalanya pelan. “Masalah apa memangnya? Kau bisa bercerita denganku, dan mungkin saja masalah yang sedang kau fikirkan itu hilang dari dalam fikiranmu bukan?” Ia menganggukan kepalanya pelan.

“Sebelum bercerita aku pesan vodka satu gelas.” Ku gelengkan kepala, menolak permintaanya. Dia ini benar-benar tak menjaga kesehatanya apa? “Ayolah, sudah beberapa hari ini aku tak minum Vodka, berikan satu gelas untukku.”

“Kalau kau memesan jus atau apa akan aku layani. Jika vodka dan minuman alkohol lainnya aku tak akan melayanimu.”

“Baiklan,berikan aku Jus jeruk satu gelas..” Ucapnya dengan sangat malas. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya yang merengut seperti itu. Kadar kencantikannya benar-benar bertambah. Aku suka.

Dengan cepat ku buat jus jeruk yang ia inginkan tadi. Aku tak sabar untuk mendengar cerita yang ia alami tiga hari yang lalu. Sepertinya ia mendapatkan masalah yang sangat berat sekali, sampai-sampai ia menghilang beberapa hari ini.

Selesai membuat jus jeruk, langsung saja ku bawa dan menaruhnya didepannya. Dengan cepat pula ia langsung menyedotnya sampai habis setengah gelas. Tsk! Apa dia benar-benar haus sampai-sampai isinya sampai sisa setengah seperti itu?

“Ayo cepat ceritakan padaku Je~!” Ucapku tanpa sadar memanggilnya Je. Ia mendelik menatapku karna aku memanggilnya dengan sapaan Je. Mulutku ini kadang seperti monyet yang tanpa sadar berbicara sesuka hatinya, “Hehehe, maaf itu reflek dari mulutku.” Ucapku sambil tersenyum manis padanya. Ia hanya mendenguskan nafasnya.

“Aku bingung harus menceritakan dari mana. Banyak sekali masalah akhir-akhir ini. yah sebenarnya sudah sangat lama sekali masalah yang aku hadapi sekarang…” Ucapnya pelan. Aku masih menunggu ucapannya yang menggantung itu. Ia kembali menghembuskan nafasnya lagi dengan pelan.

Ku genggam tangannya yang sedari tadi asik memainkan jari-jarinya. Aku melakukan seperti ini agar ia merasa nyama, ini yang diajarkan oleh ibuku. Eomma selalu mengatakan padaku jika ada seseorang yang mempunyai masalah atau apa genggamlah tangannya dengan erat dan tulus, alirkan perasaan tenangmu padanya agar ia tenang. Jadi sekarang aku melakuakknya pada gadis yang ada didepanku

Ia mendongakan kepalanya saat merasakan elusan ditelapak tangannya. Aku yang mengelus telapak tangannya, ia tersenyum dan aku sendiri membalas senyumannya. Bagaimana aku mendeskripsikan gadis yang ada didepanku? Benar-benar tak bisa kukatakan dengan kata-kata.

Pantas saja banyak sekali laki-laki yang ada dikampus memuji kencantikan gadis yang ada didepanku saat ini, dan banyak gadis-gadis dikampus kami yang tak menyukainya. Padahal ia tak pernah dekat-dekat dengan laki-laki, malahan ia seperti menjauh atau lebih tepatnya ia memang tak mempunyai seorang teman.

“Keluargaku..” Ucapnya sangat pelan. Oh, ini dia masalah yang sangat besar. Apa mungkin yang akan ia ceritakan padaku seperti ucapan Siwon waktu itu? Saat Siwon mengatakan bahwa keluarganya tak menyukai karna kelakuannnya selama ini.

“Sebaiknya kau tak menceritakannya disini. Ini terlalu banyak orang. Kau bisa menungguku satu jam lagi? Kau bisa menginap diapartmentku malam ini. aku tak akan melakukan apa yang aku lakukan saat pertama kali kita bertemu..” Ucapku panjang lebar padanya. Yah, aku mengatakan padanya untuk tak menceritakan sekarang karna club ini ramai sekali. Ia menganggukan kepalanya pelan. Mematuhi ucapanku tadi.

Ku usap lembut puncak kepalanya, menenangkan kembali dirinya yang sedang dilanda masalah. Aku hanya bisa memberikan hal-hal seperti ini saja padanya. Kuharap ia baik-baik saja saat ini. “Duduklah disini, jangan pergi kemana-mana. Aku harus pergi sebentar kebelakang.” Ucapku pada gadis didepanku dengan lembut. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.

***

Ku parkirkan mbolku di area parkir apartmentku. Setelah memarkirkannya dengan benar kami berdua keluar dari dalam mobil. Kutunggu gadis itu berjalan untuk menghampiriku, setelah sampai disampingku dengan segera ku genggam tangannya, berjalan bersama kearah apartmentku.

Hari sudah sangat larut, jam dua dini hari aku baru saja keluar dari club. Aku tak menyangka bisa-bisanya hari ini sangat ramai, biasanya Club akan tutup pada saat jam satu pagi, tapi kali ini jam dua. Aku benar-benar lelah, untung sekali besok itu hari minggu kalau tidak bisa-bisa aku akan membolos besoknya.

Ku tolehkan kearah sampingku, mendapatkan gadis yang beberapa hari ini hadir difikiranku. Han Jaekyung, yah dia yang membuatku seperti ini. memikirkannya setiap saat. Tapi aku suka saat diriku memikirkannya. Kalian tahu? Gadis ini benar-benar misterius sekali.

Setelah berjalan kearah lobi apartment dan lift akhirnya kami sampai pada kamar diapartmentku. Dengan cepat ku tekan passwordnya agar pintu masuk terbuka. Setelah terbuka kami berdua masuk yang sebelumnya melepaskan sepatu dengan sadal yang sudah ada diapartmentku. Setelah menganti sepatu dengan sandal kami berdua kembali masuk lebih dalam keapartmentku.

Ku lepas tangan Jaekyung saat ia sudah duduk disofa yang ada diruang tengah. Aku sendiri beranjak berjalan menuju kearah dapur untuk menyiapkan minuman untuknya. Aku yakin ia pasti haus setelah di club ia menungguku kurang lebih satu jam.

Setelah menyiapkan minuman untuknya dan menaruh dihadapannya, Aku kembali beranjak berjalan, bukan kearah dapurku melainkan kearah kamarku. Ingin sekali rasanya melepaskan segala kelelahan yang aku rasakan beberapa jam lalu saat. Tapi saat itu pula aku ingat kalau ada seseorang yang ada didalam apartment. Aku beranjak yang tadi semula merebahkan tubuhku, berjalan menuju kearah kamar mandi yang ada didalam kamarku. Cukup mencuci muka sepertinya akan menyegarkan tubuhku kembali.

Setelah mencuci muka, aku kembali kearah ruang tengah yang ada didalam apartment. Ku lihat Jaekyung sedang asik dengan ponselnya. Entah aku tak tahu apa yang sedang ia senyumi. Dia mirip seperti orang gila tersenyum sendiri dengan ponselnya.

Ku tepuk pelan bahunya setelah aku duduk disampingnya. Ia terlonjak kaget, sepertinya ia tak menyadari kehadiranku lagi. “Apa yang sedang kau senyumi?” Tanyaku padanya, ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Huh! Membuatku sedikit penasaran saja.

Ku intip kearah ponselnya, tapi dengan cepat ia langsung menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya. Dengan cepat pula tanganku menyambar tangannya yang ada dibelakang tubuhnya. “Hei, ayo perlihatkan padaku. Cepat!” Ujarku padanya. Ia masih saja menggelang-gelengkan kepalanya. Membuatku sedikit gemas saja melihatnya.

“Kalau kau tak akan memberitahukanku, akan ku gelitiki tubuhmu. Ayo cepat perlihatkan sekarang juga!!!” Aku mulai menggelitiku tubuhnya. Ia sedikit bertriak akibat gelitikan yang aku lakukan pada tubuhnya.

“Ah, aku tak mau.. aku malu memperlihatkannya padamu. Kau pasti akan menganggapku gadis aneh!” Ucapnya yang tak membuahkan hasil aku masih tetap menggelitiki pinggangnya.. “Ah, ne ne ne! aku akan memberitahukan padamu. Tapi tolong berhenti, itu benar-benar membuatku geli….” Paksanya sambil tangannya menggenggam tanganku.

Dengan cepat ku hentikan gelitikanku pada pinggangnya. Ku tatap matanya, entah setan dari mana tiba-tiba saja wajahku mendekat kearahnya. Melihat wajahnya yang memerah mengingatku pertama kali aku bertemu dengannya, menghabiskan malam panjang dengannya. Aku sendiri tak tahu kenapa ingatan itu muncul kembali.

Kurasakan tubuh bagian bawahku sedikit sakit, astaga! Jangan bilang miliku sedikit menegang? Tsk! Berdekatan dengan gadis didepanku membuat diriku sedikit bernafsu. Ah, tidak-tidak. Aku tidak akan melakukannya lagi dengannya, tidak boleh ini tidak boleh terjadi. Tapi kalau aku menyentuh bibirnya dengan bibirku sepertinya boleh-boleh saja.

Saat ku rasakan hembusan nafasnya, ku miringkan kepalaku ia sudah menutup matanya rapat-rapat. Aroma tubuhnya benar-benar menguar, membaui indera penciumanku. Aroma tubuhnya berpaduan antar vanilla dan wangi anggur yang sangat manis.

Bukannya menuju kearah bibirnya, melainkan aku menghirup aromanya yang ada dileher. Ini benar-benar sangat manis. Dan tiba-tiba saja aku menyukai aroma lehernya ini. aku terus saja menghirup aroma yang ada dilehernya. Kehilangan akal akhirnya, ku hirup lagi terus menerus sampai kebelakang lehernya. Tepat dilehernya ku gigit pelan cuping telingannya. Dan menghasilkan ia sedikit mendesah pelan.

Ku rasakan tangannya yang mendarat dipuncak kepalaku, ia sedikit meremasnya. Dan ini yang membuatku bertambah hialng akal. Shit! Bisakah dia tak menggodaku? Ah, tidak-tidak. Aku yang gampang tergoda olehnya. Sial! Kenapa aku harus bertemu dengan gadis ini.

Ia menarik kepalaku lebih dekat lagi dengan lehernya, kuberanikan diriku untuk menjilat lehernya dan menghisap lehernya. Kudengar hembusaan nafasnya sedikit memberat. Aku yakin ia sudah tergoda juga. Dan aku tak sadar jika aku sudah mindih tubuhnya. Dengan segera ku jauhkan kepalaku dengan lehernya. Aku tak mau melakukan malam panjang lagi dengannya. Oh, oh, jangan berfikir aku laki-laki munafik yang menyia-nyiakan mangsanya. Aku hanya tak ingin melakukannya lagi, aku masih mempunyai seorang kekasih dan dia sendiri juga mempunyai seorang kekasih.

Aku tak ingin mengkhianati kekasihku dan aku juga tak ingin gadis yang ada didepanku mengkhianati kekasihnya. Kembali seperti semula, aku duduk disampingnya dengan tangan yang mengusap tengkukku. Tiba-tiba saja gugup melandaku saat ini. ku lihat Ia merapikhan rambutnya yang semula sedikit rapi kini sedikit acak-acakan akibatku.

Ku tolehkan kepalaku kearahnya, tersenyum dan ia membalas senyumanku, “Tidurlah kau dikamarku. Aku akan tidur disini saja.” Ucapku, ia menggelengkan kepalanya. Ku miringkan kepalaku, menuntut penjelasan darinya, “Hanya saja, aku tak enak denganmu. Bukan kah ini milikmu? Aku yang akan tidur disini.”

“Aish! kau ini. aku lupa ternyata ada kamar lagi diapartmentku. Ayo ku antar kau kedalam kamarku..” Ajakku padanya, tapi ia kembali menggelengkan kepalanya. “Ada apa lagi?” Tanyaku sedikit geram.

“Aku ingin melihat kamartersebut..”

***

Ku rentangan tanganku selebar mungkin. Sudah pagi, dan aku malas sekali untuk beraktifitas hari ini. lelah. Semalam aku baru saja tidur jam tiga pagi. Gara-gara gadis yang ternyata sangat menyebalkan itu. Kalau saja ia tak mengajakku berdebat mungkin aku sudah tidur setengah jam yang lalunya. Tapi gadis itu, ah dia benar-benar sangat menyebalkan.

Akhirnya kami berdua terdampar didalam kamarku. Kami tidur dalam satu ranjang. Ah, kalian jangan berfikiran kalau aku menghabiskan malam lagi dengan gadis menyebalkan itu. Yah kalian tahukan tadi aku mengatakan apa? Kami berdua berdebat tentang kamar. Aku berbohong kalau apartment ini memiliki kamar lagi, yah sebenarnya memang mempunyai kamar lagi, tapi kuncinya ada pada ibuku. Entah kenapa bisa ada di ibu, aku sendiri tak tahu.

Ku sibak selimut yang sedari tadi melilit tubuhku. Beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kearah kamar mandi. Lebih baik aku segera mandi saja. Sebelum beranjak kearah kamar mandi ku tolehkan kebelakang lebih dahulu, melihat gadis itu yang masih terlelap dengan mimpi indahnya. Dia tidur seperti orang mati saja.

Mandi, berpakaian rapi, membuat sarapan. Yah, aku harus melakukan itu secepatnya karna tiba-tiba saja perutku berbunyi minta diisi. Aku baru mengingat kalau aku belum menyentuh makanan sejak masuk kerja tadi. Sial sekali diriku ini.

***

Ruangan makan hanya terdengar dengan suara dentingan sendok, garpu. Tak ada suara atau kata-kata yang keluar dari mulut kami masing-masing. Aku masih kesal karna saat aku sedang mandi tiba-tiba saja pintu kamarku menjeblak terbuka. Oh, bahkan kami sudah melihat tubuh kami masing-masing saat tidur bersama. Tapi aku masih tetap malu bukan?

Ia dengan seenak jidatnya masuk kedalam kamar mandi yang sedang kupakai untuk mandi. Aku yang melihatnya masuk itu hanya bisa melongo melihatnya yang dengan dengan tampang tak sadarnya membuka celanannya dan ia lengsung duduk di closet. Membuang air kecil. Saat ia mendongak ia tak langsung berteriak melainkan ia menatap tubuhku dari atas sampai bawah. Dan untuk diriku sendiri dengan bodohnya, bukannya langsung mengambil handuk melainkan aku hanya terbengong melihatnya.

Dan sedetik kemudian kami berdua berteriak bersamaan. Kami berdua kelabakan. Ia langsung memakai celananya kembali dan aku mengambil handuk yang aku sampirkan disamping pintu kamar mandi. Setelah ia memakai celanannya dengan benar ia langsung bergegas meninggalkanku yang tiba-tiba saja nyawaku melayang keawang-awang yang sangat tinggi. Siallllllllllll!!!!!!!!!!!!!!!!!

Hanya itu lah yang ada dibenakku sedari tadi.

“Mianhae!” Ku dongakan wajahku saat aku mendengar membuka suara terlebih dahulu. aku hanya menganggukan kepalaku saja. Lebih baik aku tak usah membahas kejadian tadi. Hanya membuat pipiku bersemu merah karna malu saja.

“Aku benar-benar tak tahu kalau Sunbaenim sedang mandi..” Ucapnya kembali. Dan pipiku bertambah merah saja.

“Lupakan!” Ucapku sambil mengelus tengkukku. Aku gugup lagi.

“Aku benar-benar tak tahu. Aku selalu begitu kalau sedang tertidur dan ingin sekali buang air kecil. Aku tak akan memperdulikan keadaan jika aku benar-benar sudah tak tahan. Itu sudah menjadi kebiasaanku sudah sangat lama sekali. Sekali lagi aku minta maaf padamu Sunbaenim..”

Aku hanya bisa menarik nafasku lebih dalam. Aku tak marah atau apa. Aku hanya malu saja. Yah hanya malu. “Aku tak marah padamu..” Ucapku pelan sambil menatap wajahnya yang hanya menunduk. Oh, aku benci melihat seorang wanita menundukan kepalanya. “Oh, ayolah. Kau tak menangis bukan?” Tanyaku hatai-hati padany.

Ia menengadahkan kepalanya, “Menangis? Menangis karna apa? Aku tak menangis hanya sedang menatap kearah ponselku..” Aku hanya bisa mengangakan mulutku saja. Aku kira ia menangis karna aku. Tapi apa yang aku lihat? Ia sedang menunjukan ponselnya didepan wajahku. Dengusan napasku keluar begitu saja. Ternyata wanita ini sedikit menyebalkan bukan?

“Sunbaenim. Kau tak masuk kekampus?”

Aku menyeringai mendengar pertanyaannya. Apa yang dia bilang tadi? Kuliah? Hari ini hari minggu apa dia tak melihat kearah kalender diponselnya atau memang ponselnya itu tak ada kalendernya? Aku tak perduli. Aku tak menjawabnya, kembali fokus kearah piring yang masih terisisa setengah makanan yang aku makan.

“Habiskan saja makananmu itu. Dan setelah itu kau cerita padaku. Yah!” Ucapku sambil tersenyum. Ia hanya menganggukan kepalanya pelan. Dan ia kembali memakan makannya lagi.

***

“Jadi kau ada masalah apa? Mungkin saja aku bisa memabantumu..” Aku membuka suara terlebih dahulu. setelah hampir satu jam kami sama-sama bungkam tak mengluarkan satu kata pun. Hanya terlalu fokus terhadap acara TV pagi ini.

Ia sedikit mendeham. Aku masih menunggu apa yang akan ia ucapkan padaku. “Masalah keluarga..” Ucapnya pelan. Aku mengangguk paham padanya. “Kau tahu beberapa hari yang lalu dikantin kampus. Saat itu juga ada kau disana dan teman-temanmu.” Aku mengangguk-anggukan kepalaku.

“Yang laki-laki itu?”

“Ne, Dia. Dia kekasihku. Dan aku pernah mengatakan padamu saat kita melakukan, err– yah kau tahu bukan. Sebenarnya dia bukan kekasihku melainkan calon suamiku. Tapi aku tak pernah menyukainya. Aku sudah menolak mentah-mentah perjodohan itu. Tapi sayangkedua orang tuaku terlalu keras kepala.”

“Ya, menurutuku dia laki-laki yang err–sedikit tampan. Tapi kau malah menolaknya.

“Tapi aku tak mencintainya..” Aku menoleh kearah samping saat mendengar ucapan Jaekyung yang naik satu oktaf. Entah kenapa dia ini.

“Cintai itu datang dengan sendirinya. Jika kau menjalaninya bersama pasti rasa cinta itu akan tiba-tiba menumbuh.” Aku mengelus rambutnya pelan. Ia menghembuskan nafas kasar, aku tahu kalau aku berada diposisinya aku pasti akan sepertinya. Menolak mentah-mentah perjodohan itu.

“Baiklah, semuanya itu ada ditanganmu. Manusia itu mempunyai hak masing-masing. Jadi kau boleh menentang keinginan orang tuamu.”

Ku lihat ia mengusap wajahnya dengan pelan. Mungkin ia lelah karna pembicaraan ini. ku peluk ia, agar ia sedikit tenang dengan elusan tanganku di bahunya.

“Aku bingung Sunbae. Kau mau menolongku atau tidak?” Tanya dengan tatapan memelasanya. Perasaanku tiba-tiba saja menjadi buruk. ah, tidak. Jangan berfikiran yang aneh-aneh Lee Donghae.

“Ya, aku akan menolongmu. Jadi aku akan membantumu bagaimana?”

Ia tersenyum sangat manis saat aku mengatakan bahwa aku menerima permintaannya. Dan perasaan buruk yang menjalar ketubuhku semakin banyak.

***

Entah, bagaimana perasaanku sekarang. Karna yang aku tahu aku benar-benar menyesal menerima permintaannya itu. Kalian tahu ia meminta tolongku seperti apa? Ya, dia membawaku kerumahnya dan sekarang kami berdua sedang disidang oleh kedua orang tuanya. Aku benar-benar seperti orang bodoh di hadapan kedua orang tuanya.

Yang aku ingat tadi, setelah aku akan menolongnya ia dengan sangat bersemangat menarikku keluar dari dalam kamar apartmentku. Memanggil taksi dan memberikan alamat rumah yang tak aku ketahui. Setelah sampai dialamat tersebut ia kembali menarik-nariku, membawaku masuk kedalam rumah yang benar-benar besar. Tapi rumah itu tak sebesar milik kedua orang tuaku. Oh, kalian tak menganggapku sombong bukan? Karna itu memang kenyataannya, bukan mengada-ngada. Kalian mau bukti? Ya, tapi nanti jika aku pulang kerumahku. Kalian pasti akan melihatnya.

Kembali ketopik semula, setelah menarikku dengan paksa. Ia menundukan disofa yang menurutku benar-benar mewah ia sendiri meninggalkanku diruang tamu sendirian yang benar-benar seperti prang bodoh. Aku benar-benar dibuat kesal olehnya hari ini.

Kurang dari sepuluh menit akhirnya ia datang, tapi tak sendirian. Melainkan ia datang dengan kedua orang tuanya. Dan aku memblalakan mataku, Orang tua? Dia membawa kedua orang tuanya. Dan aku mengerti dengan permintaan tolongnnya. Aku mengerti sekali. Bahwa ia meminta tolong padaku untuk melamarnya, menjadikan ia sebagai istriku. Dan sekarang sudah hampir lima menit kami disini masih enggan untuk membuka suara.

“Eomma, Appa!” Aku menoleh kearah sampingku, mendapatkan wajahnya yang benar-benar berharap bahwa kedua orang tuanya akan menyetujui apa yang ia ingin kan.

Aku memandang kedua orang tua Jaekyung. Mereka berdua seperti tak menganggap kehadiran kami disini yang kuarang dari enam menit tujuh menit. Ah, aku tak tahu. Yang aku tahu hanya kedua orang tuanya acuh tak acuh dengan permintaan Jaekyung.

Ku dengar helaan nafas berat dari depan. Ku pandangan Appa Jaekyung dan ia sedang memandangku dengan tatapan datarnya. Hah! Ternyata masih ada yang lebih seram dari pada Appaku, tapi aku menyayangi Appa. Ah, aku menjadi rindu pada Appa yang ada di surga sana. aku menjadi ngawur sekarang.

“Baiklah. Appa akan mengatakannya sekarang juga. Pertunangan kau dan anak dari keluarga Kim sudah berakhir kemarin. Bukan Appa yang membatalakannya, melainkan keluarga mereka sendiri. Mereka mengatakan bahwa anaknnya tak pantas berdampingan denganmu. Jadi mereka membatalakannya. Awalnya Appa terkejut dengan ucapan mereka. Tapi setelah itu Appa mengerti apa yang mereka katakan. Anak mereka sering kali bermain wanita dan mereka baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu..”

Oh, aku benar-benar seperi sedang menonton adegan yang benar-benar dramatis sekali. Kenapa? Karna wanita yang ada disampingku mengluarkan air matanya. Ck! Benar-benar menjengkelkan sekali. Aku hanya bisa memutar bola mataku jengah menatapnya.

“Nak..”

Aku menoleh kearah depan saat aku dipanggil oleh Appa Jaekyung. Ia menatapku tajam. Entah kenapa ia menatapku seperti itu. Yang aku tahu, ia pasti akan mengatakan hal-hal yang akan membuat perasaanku sedikit tersakiti terlihat jelas karna ia memandangku dengan tatapan tajamnya yang menusuk sampai kedalam mataku. Tapi, hei aku tak akan takut padanya yang hanya memandangku seperti itu. Kalau yang memandangku seperti itu bukan orang tua Jaekyung, mungkin aku akan memandanganya dengan tatapan datarku. Tapi sepertinya itu benar-benar tak sopan.

Aku memangguk saat ia memanggilku, memandanganya dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Tak datar maupun yah, kalian bisa mendeskripsikannya bukan? Aku malas sekali untuk mendeskripsikannya. Kalian bisa membayangkan ekspresi wajah tampanku ini.

“Kau bisa menjaga anakku baik-baik??”

–TO BE CONTINUED–

Hai, ini TBC yah? Wkwkwkw tbnya nanggung banget. Abis aku bingung mau bikin tb yang kea giman? Hahahaha ini nyambung ga sih? aku bingung masa bikinnya. Kadang ngeblank gitu tapi mga aja syukaaaa yahhh! Hahahahahaha THX yang uda baca…

Han Jaekyung

17 thoughts on “Bartender -4

  1. wah ortu jaekyung udah ngerestuin hae ma je dong… aps mrk akan segera menikah… je lum hamil ya… wkekek… next part kpn neh saeng…:-)

  2. Jangan-jangan nanti HaeKyung bakal disuruh nikah. kekekeke….

    Kata DongHae, HaeKyung menyebalkan tapi tetap suka. -_-

    Ah, maaf aku ga comment dipart 2 & 3, cOz ga bisa dibuka melalui hp.

  3. salam kenal thorrr…aq reader bru..q tertarik sm smua ff yg ad disini
    tolong lanjutkan y…y…y…
    q jd pnasaran apakah donghae akan memutuskn kekasihnya yg maniak belanja itu (matre)??????

  4. masih menunggu kelanjutannya nich ff ini
    begitupun dengan yang lainnya
    bagaimana hubungan mereka selanjutnya
    apa donghae bakal bener” menikahi jaekyung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s