Wrong Married 4

https://i1.wp.com/sphotos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/420964_287700731345998_212301375_n.jpg

 

 

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

 

DONGHAE’S POV

 

Selama perjalan menuju Dorm aku membayangkan adeganku dengan Jaekyung tadi, aish! Apa yang aku lakukan tadi? Kenapa aku bisa dengan lancangnya tiba-tiba saja aku mengecup bibirnya. Tapi kalau boleh jujur, sejak kejadian ciuman pertama kami lakukan dibandara itu membuatku menjadi sedikit… ketagihan! Hyah! Lee Donghae, kau melupakan kekasihmu Hyejin. Tapi kalau boleh jujur lagi, bibir Hyejin dengan Jaekyung menurutku masih lebih manis Bibir Jaekyung! Tuhan tolong enyahkan fikiran kotor ini yang selalu membayangkan bibir merah alami milik Jaekyung itu~

 

Setelah memarkirkan mobilku diparkiran apartemen aku langsung keluar dari dalam mobil, aku ingin segera sampai di dorm, masuk kekamar, bertemu dengan bantal guling dan selimut dan segera menutup mataku. Hari ini benar-benar sangat lelah sekali.

 

Aku segera masuk kedalam dorm, tapi aku terlonjak kaget saat Eomma ada didalam Dorm, beliau menatapku dengan tatapan tajam. Aish! Aku pasti akan dimarahi olehnya.

 

“Lee Donghae!!!” Ucapnya tajam, aku hanya tersenyum tak jelas dan mentap wajah Eomma dengan tatapan polos yang aku punya. “Ya! Jangan pasang muka sok polosmu Hae~ya!!! Cepat kemari!” Perintahnya lagi.

 

Aku menurut, aku mendekatinya dan menghempaskan pantatku di sofa yang telah diduduki oleh Eommaku, “Wae Eomma??” Tanyaku hati-hati. “Appo Eomma! Kenapa kau mencubitku??” Aku mengelus lenganku dengan lembut setelah Eommaku dengan sekuat tenaga mencubit lenganku.

 

“Kau akan menikah? Kenapa tak bilang pada eomma? Hmm?” Aku, kembali tersenyum sepolos mungkin, dan lagi Eomma mencubitku, “Jangan memamerkan senyum sok polsmu itu Hae~ya!”

 

“Aku… ketahuan oleh media kalau aku sudah punya pacar, dan disaat itu karena aku kesal aku langsung mengatakan pada mereka kalau aku akan menikah. Dan yah tiga hari kami akan menikah Eomma!” Aku menunduk, dan tiba-tiba Eomma mengelus kepalaku dengan lembut. Maafkan anakmu ini Eomma yang dengan berani membohongimu

 

“Kenapa bersedih? Seharusnya orang yang akan menikah itu pasti bahagia! Eomma merestui kalian, Eomma kesini ingin melihat calon menantu eomma seperti apa? Apa dia benar-benar cantik seperti yang ada di TV tadi?” Aku tersenyum, sepertinya Eomma menyukai Jaekyung, terlihat dari rait wajah Eommaku.

 

“Bagaimana kalau besok? Eomma mau?” Eomma mengangguk, “Eomma nanti tidur dikamarku ne? aku akan tidur bersama Leeteuk hyung. Aku istirahat dulu Eomma karena nanti malam aku aka nada Show.” Pamitku pada Eomma, Eomma hanya mengangguk.

 

“Istirahat yang Cukup Donghae~yah, dan kenapa kau bertambah kurus, menjaga kesehatan itu lebih penting dari jadwal-jadwalmu yang padat itu, makan yang teratur. Eomma tak suka kau bisa kurus seperti ini!” Titah Eomma, aku mengangguk dan mencium kedua pipinya.

 

“Eomma juga harus istirahat yang cukup, wajah Eomma juga sedikit pucat. Minum susu teratur Eomma!”

 

“Ne, ne cepat masuklah kekamarmu, Eomma mau ke super market dulu, tadi saat Eomma kesini Eomma langsung keadapur untuk melihat isi kulkas kalian dan saat Eomma membukanya ternyata kulkas kalian isinnya kosong.”

 

“Perlu ku antar Eomma?” Tawarku dan Eomma menggeleng.

 

“Annie! Kau istirahat saja, bukankah kau bilang nanti malam kau ada show?”

 

***

 

 

Aku terbangun dari tidurku saat aku merasakan guncangan kecil pada bahuku, aku menggeliat malas. Aku masih lelah dan ingin tidur sampai pagi nanti, aku menarik selimutku lagi sampai menutupi seluruh tubuhku. Guncangan pada bahuku semakin cepat dan tak sabar.

 

“Mau sampai kapan kau akan tertidur? Hah? Cepat bangun dan bergegas mandi satu jam lagi kita akan ada show! Lee Donghae Irreona!!!” Suara cempreng milih Monyet bernama Hyukjae ini mengganggu pendengaranku saja.

 

Aku bangun dengan malas dan beranjak dari kasurku untuk menuju kekamar mandi.

 

Setelah mandi dan berpakaian rapi aku langsung keluar dari kamarku, beberapa member sudah berkumpul di ruang tengah, dan aku baru menyadari kalau aku sendiri yang telat berkumpul.

 

“Mianhae, aku telat Hyung…” Ucapku pada Hyungku, ia mengangguk.

 

“Ayo pergi.”

 

***

 

Setelah melakukan show, kami semua langsung pulang kedorm dan istirahat. Show kali ini benar-benar menyita stamina kami. Semua member beberapa sudah masuk kamar mereka masing-masing, di ruang tengah Cuma ada aku, Leeteuk Hyung dan Kangin Hyung. Aku mengeledah tasku untuk mencari ponselku yang ada didalamnya, setelah ketemu aku langsung mencari nomor dikontak ponselku. Dan setelah ketemu aku langsung menekan tombol yang berwarna hijau di ponselku.

 

Aku menunggu nada tunggu yang berasal dari ponselku, dan beberapa detik kemudian telpon terhubung, “Yeoboseo?” Ucapnya parau, ternyata perempuan ini sudah tidur.

 

“Jaekyung~a kau sedang tidur?” Tanyaku memastikan, aku mendengar dengusan kecil diseberang sana, ternyata ia sudah tidur.

 

“Tentu saja bodoh, kau yang membangunkaku dari tidurku yang nyenyak ini..” Ucapnya kesal, aku hanya terkikik pelan mendengar Ocehannya.

 

“Mianhae, ah aku menelponmu aku hanya ingin memberitaukanmu, besok pagi apartmenmu harus sudah rapid an tersedia makanan, karena ekh… calon suami dan ibu mertuamu akan mengunjungimu, jangan menolak, karena ibuku akan tetap pergi keapatrmenmu walaupun kau menolaknya mentah-mentah!” Aku melirik kearah Leeteuk Hyung yang sedari tadi memandangiku dengan tatapan aneh.

 

Aku mendengar dengusannya kembali, “Tapi kau kan bisa menghubungiku besok pagi, tak seperti ini mengganggu istirahar orang saja!” Aku kembali terkikik, dan menoleh kearah Kangin Hyung yang sama memandangiku dengan tatapan aneh. Aku berbicara pelan pada mereka berdua.

 

“Wae?” Ucapku sepelan mungkin agar Jaekyung tak mendengarnya, kedua Hyungku hanya menggelengkan kepalanya saja, dan aku kembali keaktivas menghubung Jaekyung.

 

“Kau hanya memberi kabar seperti ini saja kan? Apa aku boleh tidur sekarang aku lelah, dan aku baru saja mengerjakan berkas perusahaanku. Walaupun aku meliburkan diri, aku tak penah lari dari Tanggu jawabku sebagai Direktur.” Ucapnya panjang lebar, aku hanya tersenyum mendengar ocehannya itu. Ternyata calon istriku ini pekerja keras sekali.

 

“Baik, cepatlah tidur ‘Calon Istriku’ dan jangan lupa bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan!” Ucapku memngingatkannya, dan kembali aku mendengar dengusannya kembali. “Selamat Malam Cal–” Telpon terputus, sepertnyia ia kesal dengan kelakuanku yang seperti ini. haha maafkan aku, aku memang jahil seperti ini.

 

***

 

Aku terbangun dari tidurku saat ada sebuah tangan mengusap rambutku dengan lembut aku mengerjapakan mataku untuk melihat siapa yang mengelus rambutku seperti ini. dan saat mataku terbuka, ternyata ibuku yang sedang mengelus lembut kepalaku.

 

“Wae Eomma?” Tanyaku padanya, dan ia tersenyum padaku. Dan aku membalas senyumannya itu.

 

“Kau tak lupakan dengan janjimu kemarin? Bahwa kau akan membawa Eomma keapartmen ‘Calon Menantu’ Eomma?” Ucapnya menyakinkanku, dan aku mengangguk mengingat janjiku padanya kalau hari ini aku akan mengajaknya keapartmen Jaekyung. “Ya sudah, cepat mandi. Kau menghubunginya semalam dan mengatakan padanya kalau kau akan datang pagi-pagi sekali untuk keapartemnnya, tapi jam 8 ini kau baru saja bangun!” Aku mengerutkan keningku, darimana Eomma tau kalau aku menghubungi Jaekyung tadi malam?

 

Seolah mengerti dengan raut wajahku beliau membuka mulutnya, “Jungso yang memberitau Eomma saat Eomma datang kedorm pagi ini” Aku mengangguk mengerti, “Ya sudah cepat kau mandi!!” Eomma keluar dari kamarku dan aku sendiri melenggang kekamar mandi.

 

Setalah mandi dan berpakaian rapi aku langsung keluar dari kamarku, dan mendapatkan beberapa orang sudah berkumpul dimeja makan. Aku ikut bergabung dengan mereka yang sedang menyantap sarapan pagi mereka.

 

“Kaau mau kemana?” Tanya Hyukjae yang ada didepanku.

 

“Aku akan kerumah Jaekyung, Eomma penasaran dengannya, jadi aku mengajaknya untuk berkunjung.” Dia hanya ber’Oh’ ria, aku hanya mendengus menlihat responnya yang seperti itu.

 

Aku sudah selesai makan, dan masih menunggu Eomma yang masih sibuk didapur. Membantu Ryeowook mencuci piring di dapur, sesekali aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukan jam Sembilan. Aku yakin kalau dia pasti akan marah padaku kalau aku terlambat datang keapartmennya.

 

“Ayo berangkat!” Aku tersentak kaget saat Eomma membuyarkan lamunanku ini, aku beranjak dari duduku dan berjalan bersejajar dengan Eommaku.

 

Aku menjalankan mobilku dengan sangat hati-hati karena aku masih belum ahli dalam mengendarai mobil sendirian. Aku melihat kearah sampingku, Eomma sedar tadi ia tersenyum senang. Apa gara-gara ia ingin bertemu Jaekyung berdampak seperti ini? aigo~

 

Aku memasuki area parkiran diapartemen Jaekyung, Eomma terlihat antusia sekali saat sudah sampai di apartmen Jaekyung. Kami keluar dari mobil dan berjalan menuju keapartemen Jaekyung.

 

Selama dalam perjalanan Eomma tak henti-hentinya menannyakan bagaimana paras Jaekyung, aku jawab saja kalau dia tak kalah cantik dari Eomma dan Eomma langsung tersenyum manis padaku.

 

“Eomma sangat penasaran dengan calon menantu Eomma, dia seperti apa?” Tanya Eommaku lagi, pertanyaan ini mungkin sudah limapuluh kali ditanyakan oleh Eommaku.

 

“Sebentar lagi kita sampai Eomma, tenang saja.” Kami keluar dari Lift dan berjalan menunuju kamarnya.

 

Aku berhenti disalah satu pintu Apartmen ini, dan mulai mengetuk pintunya. Hampir satu menit aku menunggu pintu ini terbuka, lama sekali apa dia marah karena aku tak menepati janji untuk datang lebih pagi apa yang aku janjikan kemarin. Ah aku tak perduli, telat atau pun tidak aku yakin dia akan selalu marah padaku.

 

Satu menit kemudian, pintu terbuka dan muncullah sosok paruh baya yang kira-kira seumuran dengan Eommaku, dia tersenyum manis dan aku juga membalasnya tersenyum.

 

“Mencari Jaekyung?” Tanyanya, dan aku mengangguk. “Ah? kau calon suaminnya? Ayo masuk, masuk Jaekyung sudah menunggu dari tadi.” Ucapnya mempersilahkanku masuk, beliau ini sangat ramah dan beliau berbeda sekali dengan Jaekyung yang tak ramah-ramahnya.

 

Aku menggenggam tangan Eomma saat masuk kedalam apartmen milik Jaekyung, aku melihat Jaekyung yang sedang duduk dan cemberut diruang TV, aku meminta izin pada Eommaku kalau aku ingin menghampiri Jaekyung dan Eomma mengizinkannya.

 

Pelan-pelan aku menghampirinya, dan dengan pelan-pelan juga aku duduk di sampingnya. Dia tak menyadari kehadiranku karena ia sibuk dengan kekesalannya padaku karena aku datang tak tepat waktu. Perlahan aku memajukan wajahku, mendekatkan bibitku ditelingannya dengan sangat pelan aku menghembuskan nafasku dan berbicara padanya.

 

“Apa aku telat?” Tepat saat aku selesai mengatakan kalimat tadi ia memukul kepalaku dengan bantal yang ada dipangkuannya. “Ya! Appo!!!” Teriakku sedikit kesal, kenapa dia memukul kepalaku? Dia benar-benar bukan wanita sepenuhnya. Kasar sekali dia.

 

“Kau mengagetkaku bodoh! Dan kau juga tak menepati janjimu, kalau kau akan datang pagi-pagi sekali tapi apa yangku liat kau bahkan datang jam Sembilan, ckckc! Dasar tak peka!” Ucapnya ketus, lihat bukan perbedannya antara ibunya dan dirinya sangat berbeda sekali.

 

“Ah, ngomong-ngomong yang membuka pintu itu Ibumu?” Tanyaku memastikan, dan dia mengangguk. “Ah, kenapa berbeda sekali dengan dirimu, kalau dia ramah dan kau tak ramah seperti ini.” Aku refleks memundurkan wajahku saat ia tiba-tiba saja maju kearahku, lihatlah wajahnya sudah sangat menyeramkan sekali.

 

“Aigo~ belum menikah saja kalian sudah bermesraan seperti ini.” Aku menoleh kebelakang dan menemukan Eommaku dan Eomma Jaekyung, mereka sedang mengamati kami yang ada diruangan TV ini, wajah Jaekyung yang tadi didepanku kini dengan perlahan memundurkan wajahnya, menjauh dari wajahku, “Jae Mi, bukankah mereka sangat serasi. Aku ingin melihat keduanya yang berdiri di altar besok!” Ucap Eommaku menggebu-gebu.

 

“Apa semua sudah dipersiapkan? Apa tak mendadak seperti ini? bahkan mereka belum membeli Cincin pernikahan mereka, gaun dan lain-lainnya.” Aku dan Jaekyung hanya bisa melongo melihat mereka yang bisa langsung akrab seperti itu. Aku jadi tak tega membohongi kedua wanita itu. Bagaimana kalau mereka tau pernikahan ini hanya sebagai benteng untuk mempertahankan hubunganku dengan Hyejin. Akh! Kepalaku mendadak pusing memikirkan hal ini.

 

“Aku jadi tak tega untuk membohongi Eommaku dan Eommamu,” Ucap Jaekyung tiba-tiba. Kenapa pikirannya sama denganku. Aku menoleh padanya.

 

“Kita jalani saja, perlahan-lahan mereka juga akan tau sendiri nantinya.” Ucapku sok dewasa.

 

“CK! Egois sekali. Lebih baik aku akan memberitaunya sekarang saja.” Aku melotot, apa yang dilakukan gadis gila ini, dia beranjak dari duduknya dan akan melegang pergi menuju Eommaku dan Eommanya yang sedang asik mengobrong didapur. Sontak aku langsung memegang pergelangan tangannya itu, ada rasa aneh yang menjalar ditubuhku saat aku menyentuh kulitnya. Ada apa ini? aku buru-buru melepaskan genggamanku.

 

“Jangan berbuat bodoh, kau tak liat raut wajah mereka yang bahagia seperti itu?” Ucapku, dan dia hanya bisa mendenguskan nafasnya kasar.

 

***

 

Aku merapihkan dandananku yang sudah cukup rapi. Hari ini hari pernikahanku dan Jaekyung. Pernikahannya Cuma sederhana, beberapa media yang datang untuk meliput acara pernikahan kami. Aku mendengar suara pintu terbuka, aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang keruangan ini, dan aku mendapatkan Hyejin yang datang dengan wajah sedih, dia pasti tak rela aku menikah dengan perempuan lain. Maafkan aku Hyejin~a.

 

Dia melangkah kearahku dan dia langsung memelukku. Aku merasakan bahuku basah, apa dia menangis? Maafkan aku, aku benar-benar tak ingin menyakiti hatinya. Tapi harus bagaimana lagi? Mulutku waktu itu sudah sangat lancang sekali, mengatakan pada media kalau aku dan Jaekyung akan menikah dan aku harus membuktikan perkataanku waktu itu.

 

“Maafkan aku.” Aku membalas pelukannya, dan dia semakin mempererat pelukannya. “Jangan menangis lagi, aku janji setelah skandal ini mereda aku akan menceraikannya, tenang saja! Uljima Hyejin~a!!” Dia mengangguk dan melepaskan pelukannya.

 

“Kau berjanji akan menceraikannya bukan saat skandal ini mereda?” Aku mengagguk ragu. Ragu? Kenapa aku ragu? Sepertinya sebagian dari diriku tak rela untuk mengatakan cerai.

 

“Tenang saja, aku akan melakukannya.” Ucapku sedikit tak yakin. “Hmm, acara akan dimulai dua menit lagi kau akan tetap disini?” Tanyaku, dia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Aku yakin dia tak sanggup menyaksikan upacar pernikahanku dengan Jaekyung.

 

“Aku pulang saja, aku akan menyaksikannya besok saja di televise.” Dia menundukan kepalanya, aku jadi tak tega. Perlahan aku mengangkat dagunya dan dia mendongakan wajahnya. Aku memajukan wajahku berniat untuk menciumnya dia menutup matanya, tapi aku masih tak berani untuk mencium tepat dibibirnya, jadi aku hanya mengecup keningnya saja.

 

Dia membuka matanyanya, dan dia menunjukan wajah kecewannya saat ia tau kalau aku hanya mengecup pelan keningnya, “Saat kau pulang hati-hati, aku tak mau kau kenapa-kenapa? Kau mengerti?” Ia menganggukan kepalanya aku mengelus rambutnya lembut dan dia perlahan membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkanku. Hari ini kehidupanku pasti akan berubah.

 

Setelah dia keluar dari ruangan ini, aku juga ikut keluar karena acara pengucapan janji sudah dimulai. Aku menarik nafasku sedalam mungkin dan mengluarkannya denga perlahan, hari ini aku sedikit gugup. Aku penasaran dengan Jaekyung yang hari ini, memakai gaun apa dia semakin cantik? Aish! Apa yang aku fikirkan? Lee Donghae, kau baru saja membuat gadis lain menangis gara-gara dirimu, ah Annie bukan dia saja, melainkan beberapa ribu ELF ynag menangis melihatku yang hari ini akan menikah. Sekali lagi aku hanya bisa mengucapkan maaf.

 

Aku keluar dari ruanganku dan berjalan menuju kegereja yang akan menjadi saksi bisu ucapan janjiku pada Jaekyung, setelah sampai aku menghadap pastur yang ada didepanku, aku masih menunggu Jaekyung yang kemungkinan masih ada di dalam ruangannya.

 

“Mempelai wanita memasuki ruangan!” Aku membalikan tubuhku dan untuk beberapa saat aku terpesona saat melihat Jaekyung yang terlihat cantik. Ah, lebih tepatnya ia sangat sangat cantik. Aku mengulurkan tangankku untuk menggenggam tangannya. Ia menerima uluran tanganku, dan aku merasakannya lagi saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku, aneh. Aku tak biasanya seperti ini. Tapi kenapa saat dengan Hyejin aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini?

 

Aku tersenyum manis padanya, dan dia membalas senyumanku hanya dengan senyuman tipis, ck! Dia tak bisakah menampakan senyum manisnya itu? Aku benar-benar ingin melihatnya yang tersenyum manis padaku. Tapi sepertinya itu tak akan mungkin.

 

Pengucapan janji sudah kami lakukan, dan ini yang sebenarnya aku tunggu-tunggu. Mempelai pria berwajibkan mencium mempelai wanita. Apa kau sudah bilang kalau bibirnya itu… hmm… Sangat menggoda, aku jadi ingin segera mengecup bibir merahnya itu.

 

Aku memajukan wajahku, dan dia sedikit memundurkan wajahnya. Mungkin dia masih kaget dengan perilakuku saat tempo hari yang lalu, menciumnya tanpa izin. Aku menyeringai melihatnya yang ketakutan, tanganku menuju tengkuknya agar kepalanya tak lagi mundur. Saat aku sudah dekat dengan wajahnya dia hanya menutup matanya dan aku juga ikut menutup mataku. Hembusan nafasnya wangi semerbak, harum mint yang berasal dari hembusan nafasnya. Tak perlu lama lagi aku sudah menempelakan bibirku dengannya. Aku mendengar suara riuh tepuk tangan dari beberapa orang yang datang keacara pernikahanku.

 

Aku melumat bibirnya dengan penuh kelembutan, setelah melumat aku hanya mengecup bibirnya yang merah itu. Aku sedikit tak rela saat aku melepaskan tautan bibirku dengannya. Ia menatapku dengan tajam, hei kau kira aku takut dengan tatapan tajam itu? Malah kalau kau memperlihatkan tatapan tajammu itu aku malah ingin segera menyerangmu! Astaga Lee Donghae, kenapa kau menjadi mesum seperti ini? aku tak boleh tergoda olehnya! Dan aku tak akan pernah menyentuhnya, bagaimana kalau dia hamil dan aku tak bisa kembali pada Hyejin? Ah kepalaku menjadi pusing memikirkan dua wanita ini.

 

***

 

Aku memarkirkan mobilku diarea parkiran Dormku. Aku melihat kearah sampingku dan mendapatkan Jaekyung yang sedari tadi hanya menatap kearah jalan raya saja, raut mukanya sedikit jengkel karena aku bersikap seenak jidatku saja. Dia marah karena aku memaksanya untuk tinggal didormku. Bukan berarti kami akan tinggal bersama Hyung-Dongsaengku. Aku membeli kamar diatas Dormku, agar aku selalu berangkat bersama dengan Hyung-Dongsaengku saat kami ada jadwal.

 

“Kau akan tetap disini?” Tanyaku memecah keheningan yang sedari tadi membuatku tak nyaman. Ia tak bergerak atau menyahuti pertanyaanku. Aku mendekatinya untuk melihatnya dan aku mencelos ternyata ia tertidur. Aku hanya menghembuska nafasku. Dibangunkan tidak? Kalau dibangunkan ia pasti marah, dan kalau tak dibangunkan dan aku menggendongnya aku sedikit malu untuk melakukan adegan seperti itu.

 

Aku memberanikan diriku untuk membangunkannya, dia sedikit menggeliat dan langsung membuka matanya. “Sudah samapi? Kenapa tak memberitauku dari tadi? Badanku pegal-pegal dan ingin sekali merasakan kasur empuk itu!” Ucapnya sedikit parau, aku menghembuskan nafasku pelan. Aku kira ia akan memarahiku karena aku membangunkannya. “Jam berapa?” Tanyanya, aku menunjukan jam tanganku, “Aku tak bisa melihatnya bodoh, bisa kau ucapkan?”

 

“Jam setengah satu pagi” Ucapku, dan dia mengangguk. “Ayo keluar, bukankah kau ingin merasakan kasur empuk?” Dia mengangguk ia membuka pintu mobil dan aku juga mengikutinya, kami berjalan beriringan. Saat kami memasuki lift dan menapkan aku dan dirinnya, aku perhatikan bayanganku yang ada didepan, aku dan Jaekyung tampak serasi berdiri sejajar seperti ini.

 

“Ayo keluar!” Ucapnya mengagetkanku, ia sudah keluar dari lift. Hah! Kenapa aku berfikiran yang tidak-tidak kalau aku sedang berdekatan dengannya. “Dimana?” Tanyanya. Aku menunjukan kearah belakangnya dan ia mengangguk, menungguku yang masih berjalan dibelakangnya.

 

“Kau tak marah kan kalau kita tak tinggal diapartmenmu?” Tanyaku dan dia mengangguk acuh, sepertinya ia masih marah, “Kalau kau tak marah kenapa malah mengacuhkanku?” Ujarku sambil berjalan menuju kedalam Apartmenku. Dia membalikan badannya, sontak saja aku reflek mundur kebelakang. Ck! Kenapa dia hobi sekali membalikan badannya dengan tiba-tiba.

 

“Ini sudah tengah malam dan aku malas sekali untuk berdebat denganmu.” Dia membalikan badannya, “Dimana kamarnya?” Tanyanya dengan kepalanya yang sedang mengamati Apartmenku.

 

“Di depanmu Je~ kamarnya ada satu, jadi kau mau tidur sekamar denganku?” Tanyaku dia mengangguk, aku sedikit kaget saat ia menganggukan kepalany. Aku kira ia akan membantah ucapaku itu.

 

“Kau fikir aku akan membantahnya? Maaf-maaf saja, untuk apa aku melakukan hal-hal menyia-nyiakan seperti ini, memperebutkan kasur seperti itu. Aku juga percaya kalau kau tak akan pernah menyentuhku!” Ia mengucapkannya dengan sangat yakin. Sayang setan bisa datang kapan saja yang ia mau, jadi kau tak akan takut kalau nanti bisa-bisa aku akan menyentuhmu?

 

“Jadi kau tak takut kalau nanti tiba-tiba saja aku menyentuhmu?” Tanyaku sambil melangkah kearahnya, ia memundurkan langkahnya.

 

“Hah! Kau pasti tak akan menyentuhku, kalau kau memang akan menyentuhku kau tak akan kasihan pada kekasihmu itu? Bagaimana kalau aku hamil, dia mengetahui aku hamil dan… dia meninggalkanmu?” Dia memajukan wajahnya kehadapanku, dan sekarang aku yang memundurkan kepalku. Apa dia bilang tadi? Secara tak langsung kau sedang menggodaku Nona.

 

Perlahan aku mendorong tubuhnya, tubuhnya menyender ketembok dan matanya menyiratkan kewas-wasan apa yang nanti aku lakukan. Lihat bukan? Kau berbicara seperti tadi saja setan sudah merasukiku nona!

 

Dengan lambat aku memajukan wajahku kearahnya, ia menelan ludahnya dengan sangat jelas aku dengar. Sedikit lagi bibirku akan beretemu dangan bibirnya yang merah itu, ia memejamkan matanya dengan rapat hembusan nafasnya begitu sangat terasa diwajahku. Dan akhirnya bibirku menempel dengan sempurna, tubuhnya menegang saat aku melumat kedua bibirnya, mengecupi terus menerus dan menjilat bibirnya dengan lembut. Tubuhnya tak lagi menegang, dengan cepat aku memiringkan kepalaku kekanan mengecupinya kembali, tak puas dengan hanya mengecup aku menghisap bibir bawahnya dan bibir atasku tenggelam didalam mulutnya. Aku sedikit mendengar lenguhan darinya. Aku melepaskan ciumannya dengan cepat, aku takut kalau aku nanti sudah tak bisa membendung nafsu dan menidurinya.

 

Aku masih memandangi wajahnya, bibirnya juga tak lepas dari pandanganku, bibirnya semakin memerah setelah aku menciumnya tadi. Sebelum aku beranjak dari hadapannya, aku meyerukan wajahku kedapan wajahnya dan kembali menciumnya, hanya mengecup saja tak lebih.

 

“Cepat sana mandi, bukankah kau belum mandi?” Aku membuyarkan lamunannya, ia melongo akibat ciumanku tadi. Hahaha kasian sekali. Aku mundur kebelakang untuk memberikan jaraknya agar ia bisa keluar dari tubuhku dan tembok yang mengempitnya.

 

Ia segera pergi dengan langkah tergesa-gesa, aku jadi ingin tertawa melihat wajah linglungnya itu. Baru dicium seperti itu saja ia sudah seperti itu. Ah, ngomong-ngomong ciuman, aku bahkan belum pernah berciuman dengan Hyejin, dan gadis yang pertama aku cium yah kalian tau sendiri kalau bukan Jaekyung, dia ciuman pertamaku saat dibandara waktu itu, itu ciuman pertamaku.

 

Aku duduk disofa rungan TV apartemn ini, sayup-sayup aku mendengar suara keran yang sedang dibuka, ah aku lupa kalau tadi aku menyuruh Jaekyung untuk segera mandi. Aku memejamkan mataku sebentar untuk menghilangkan lelahku karena acara pernikahnku dengan Jaekyung. Beberapa menit aku hampir tenggelam didalam mimpiku, tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang sedang mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku sedikit membuka mataku untuk melihat siapa orang yang berani membangunkanku. Saat aku membuka mata aku menemukan sosok Jaekyung yang sedang berdiri tegap dihadapanku.

 

“Sebelum tidur, sebaiknya kau mandi agar tubuhmu menjadi segar!” Dia memberikanku selembar handuk, aku masih tetap diam tak menggubrisnya. Aku kembali menutup mataku yang sudah sangat berat ini. karena mungkin ia sudah kesal karenaku, dengan kasar dia menarikku untuk bangun dari posisisku yang sudah nyaman ini. aku sedikit mendengus pelan melihatnya yang memaksaku untuk bangun.

 

Aku keluar dari kamar mandi, duapuluh menit aku habiskan untuk didalam kamar mandi. Aku merendam tubuhku agar tubuhku menjadi rileks tak seperti tadi yang sangat kaku sekali untuk aku gerakan. Aku masuk kedalam kamarku dan langsung mendapatkan Jaekyung yang sudah terlelap dengan tidurnya. Aku menghela nafas, dia benar-benar gadis yang tak takut apa bila aku menyentuhnya. Aku juga membenarkan ucapanya tadi, aku tak akan pernah menyentuhnya karena aku tak tega pada Hyejin, jika nanti kalau Jaekyung hamil aku pasti akan meninggalkan Hyejin.

 

Aku merbahkan tubuhku disampingnya, ia tidur dengan membelakangiku, tapi entah aku tak rela kalau dia tidur seperti itu membelakangiku. Aku tidur dengan menghadap kearah punggungnya, aku memperhatikan punggungnya yang sedikit bergerak karena ia bernafas dengan normal. Dengan keberanian aku membalikan badannya, dengan hati-hati agar ia tak terbangun dari tidurnya, kalau ia bangun aku takut dia akan mendepakku keluar kamar ini, atau lebih parahnya ia akan memukuliku dengan tenagannya yang kuat itu.

 

Aku sukses membalikan tubuhnya untuk menghadapku, dengan perlahan aku mendekat kearanya. Dengan sedikit ragu aku merengkuhnya kedalam dekapanku, aku ingin ia hangat kedalam dekapanku ini. aku sedikit berfikir, aku tak pernah melakukan adegan seperti ini pada Hyejin yang berstatus sah Yeojachingu. Tapi bukankah gadis yang ada didekapanku ini berstatus sangat sah Istriku, tapi ia hanya istri pura-puraku. Ya Tuhan, aku berharap aku tak akan jatuh hati padanya. Doaku segenap hati, semoga saja doaku didengarkan oleh tuhan yang ada diatas sana.

 

***

 

Aku bangun dari tidurku, aku sengaja bangun pagi-pagi agar Jaekyung tak melihatku yang sedang memeluknya. Aku melihat Jaekyung yang masih terlelap didalam dekapanku, aku sedikit mengeratkan dekapanku padanya, menghirup aroma tubuhnya sebentar, dan yah ternyata aroma tubuhnya begitu memabukan pada indera penciumanku.

 

Aku segera melepaskan dekapanku padanya, tak mau berlama-lama larut dalam aroma tubuhnya. Dengan tergesa aku menuju kearah kamar mandi, yang sebelumnya aku sudah mengambil pakainku yang ada dilemari. Aku baru sadar, ternyata bajuku dan baju Jaekyung sudah ada didalam lemari semua. Aku yakin kalau orang suruhan ibuku dan ibu Jaekyung yang memindahkannya kesini.

 

Setelah beberapa menit aku didalam kamar mandi aku keluar dengan pakaian lengkap, sebenarnya untuk tiga hari kedepan aku diliburkan oleh perusahaanku. Tapi sepertinya aku tak bisa untuk berdiam diri didalam apartmen ini. saat aku kelur dari kamar mandi aku tak melihat adanya Jaekyung, aku keluar dari kamarku dan langsung menghirup aroma yang membuat perutku memberontak ingin diberi jatah.

 

Aku melenggang kearah dapur dan mendapatkan Jaekyung yang sedang berkutat dengan masakannya, “Kau masak apa?” Tanyaku saat aku duduk dimeja makan.

 

“Roti panggang.” Jawabnya cepat. Dia membalikan badanya dan kedua tangannya membawa dua piring yang isinya Roti bakar, “Bisa kau membawakan the hijau, dan air putih disana?” Aku mengangguk dan berjalan kearah yang ditunjuknya. Aku kembali lagi kearahnya dengan membawa kedua cangkir yang berbeda isinya.

 

“Kenapa bukan kopi?” Tanyaku, dia menatapku. “Dan kenapa isinya berebeda?” Tanyaku lagi, raut wajahnya sedikit gusar saat aku terus-tersan bertanya.

 

“Karena Teh hijau lebih baik dari kopi, dan aku tak suka dengan minuman yang berbau kopi, susu, dan teh. Jadi aku memilih air putih saja.” Jelasnya. Aku mengangguk mengerti. Ia memberikan piring yang berisikan roti bakar yang didalamnya ada sebuah telur dadar. Aku mengambil roti yang ada dihadapanku dan siap mengigitnya, dari aromanya sudah lumayan lezat. Dan yah, setelah mengigitnya ternyata lezat.

 

“Hari ini kau mau kemana?” Tanyaku, aku sedikit tak suka dengan keadaan hening seperti ini. dia menghentikan aktivitas mengunyahnya dan segera mengambil air putih untuk ia minum.

 

“Aku pergi kekantor, tak baik jika atasnya sudah mengambil Absen selama empat hari.” Ucapnya, dan kembali mengunyah potongan roti terakhirnya. Setelah selesai makan ia segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar kami, mungkin untuk membersihkan dirinya.

 

Setelah sarapan bersama aku membersihkan piringa yang ada dimeja makan, aku baru sadar ternyata gadis itu malas sekali untuk membersihkan piringnya. Ckckc! Setelah membersihkan piring aku beranjak dari dapur kearah ruang TV. Belum sempat aku mendaratkan pantatku kesofa, aku melihat Jaekyung yang sudah rapi dengan pakaian kantornya.

 

“Kau mau kuantarkan?” Ucapku berbasa-basi, dia hanya menggelang, dia berjalan kearah dapur dan menuangkan teko yang berisikan air putih itu kecangkirnya. Setelah meminumnya ia berjalan keluar, “Kau yakin tak mau aku anatakan?” Tawarku lagi, dan dengan sangat menyebalakan sekali dia menggelengkan kepalany lagi.

 

“Aku takut kalau kau mengantarkanku pegawaiku akan berteriak histeris melihatmu.” Ucapnya dan melenggang keluar, “Aku pergi Donghae~a! kalau kau merasa bosan didalam apartmen, kau bisa pergi latihan dengan Hyung-Dongsaengmu itu!” Ucapnya sebelum ia benar-benar pergi. Hah! Benar apa yang ia katakana.

 

Aku berteriak saat Jaekyung hendak masuk kedalam Lift “Yak! Tunggu aku, kita turun bersama!” Ia menungguku didepan lift, dengan langkah sedikit tergesa aku menuju kearahnya. Aku memperhatikan penampilannya lewat bayangan yang ada didepanku saat kami masuk kedalam lift. Dia sangat cocok dengan pakaian kantor seperti itu. Cantik, pikirku.

 

“Kau tak keluar?” Tanyanya menyadarkanku dari lamunanku, “Ini sudah dilantai Apartmen Grupmu itu!” Ucapnya lagi, aku baru sadar tenyata aku sudah sampai.

 

“Ya sudah, kau hati-hati dijalan, kalau kau mendapatkan masalah di jalan kau harus menghubungiku terlebih dahulu.” Titahku sebelum aku benar-benar dari lift, ia hanya menganggukan kepalanya saja.

 

“Aku akan Hati-hati Hae~a!!!” Aku sempat melongo saat ia memanggilku dengan sebutan Hae~a. benar-benar sangat lembut saat ia mengatakannya seperti itu.

 

Perasaanku sedikit tak rela, saat ia jauh dari jarak pandangku. Aku menggelengkan kepalaku, aku tak yakin dengan perasaanku saat ini. apa aku mencintai Jaekyung? Tidak, tidak. Kalau aku mencintai Jaekyung, bagaimana nasib Hyejin? Aku tak mau melukainya, dan aku juga tak ingin melukai hati Jaekyung. Tapi sepertinya Jaekyung benar-benar tak perduli dengan hubunganku dan Hyejin. Aku berharap saat Hyejin berperilaku manja padaku dan Jaekyung melihatnya aku ingin sekali ia terlihat cemburu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

=====TO BE CONTINUE=====

 

 

Horeee TBC lagi, tapi TBCnya gitu banget yah? Hahaha aku bingung sendiri mikirin TBCnya. Hehehehe

 

Maaf kalau tambah gaje, kecepetan, pendek atau TYPO(S) Dimana-mana hahahahaha….

Untuk yang menunggu NC aku harap maklum yah, antenna yadongku belum nyala, lagi redup. Padahal aku tiap hari baca ff yadong. Tapi pas aku bikin sendiri jadi geli entah kenapa hahahaha.

Udah dulu cuap-cuap dari saya. TERIMA KASIH UDA BACA FF KU!!!!!!!

6 thoughts on “Wrong Married 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s