If This Was a Movie [Part 2]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

                   If This Was a Movie by Taylor Swift

 

***

 

 

Untuk sesaat keadaan yang tadinya tegang kini mendadak semakin tegang, Jihyo memastikan apakah pendengarannya sudah tak berfungsi lagi, atau memang Jaekyung yang salah bicara. Ia melepaskan kedua tangannya yang beberapa detik lalu menutupi mulutnya karna kaget apa yang ia dengar dari ucapan bibir Jaekyung.

“Maaf?” Tanya Jihyo lagi pada Jaekyung.

“Aku hamil!” jawab Jaekyung napas yang memburu.

“Apa pendengaranku yang salah, atau ini memang masih pagi, dank au melantur?”

“Tidak, ini memang kenyataan,”

Pagi ini mungkin pagi yang sangat terabsurd yang pernah dialami oleh Jihyo di sepanjang hidupnya. Ia tak pernah mendapatkan kabar seperti yang ia alami sekarang. Sepupunya hamil diluar pernikahan, yang ia tahu sepupunya itu tak pernah tertarik oleh laki-laki tampan yang ada dikampus. Dan mungkin hanya sekali dua kali mendengar ucapan sepupunya yang tertarik pada kekasihnya–Cho Kyuhyun–dan beberapa hari kemudian, sepupunya sudah tak tertarik lagi oleh seorang Cho Kyuhyun. Dan Kim Jaejoong salah satu laki-laki yang sampai sekarang yang ia tahu, bahwa Jaekyung mengagumi salah satu seniornya.

Dan sekarang, ucapan Jaekyung teriang-iang didalam kepalanya. Ia sudah tak bisa berpikiran jernih lagi karna ucapannya.

“Aku mandi terlebih dahulu untuk menjernihkan pikiranku yang tiba-tiba menjadi keruh seperti ini. Kau bisa masuk kedalam kamarku. Itu pun kalau kau mau,” Jihyo beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kearah kamarnya untuk mandi.

Jaekyung yang melihat Jihyo berjalan hanya bisa menghela napasnya pelan. Ia mengikuti langkah Jihyo yang masuk kedalam kamar milik Jihyo. Setelah masuk ia langsung merebahkan tubuhnya kekasur empuk milik Jihyo. Jaekyung mengamati dekorasi kamar Jihyo yang menurutnya bagus dan begitu luas dengan warna soft pink, dua lemari besar, meja belajar, satu kamar mandi pribadi dan satu poster jumbo artis kesukaanya diatas kepala ranjang. Berbeda dengan kamar miliknya sendiri yang ada dirumahnya, dengan berwarna biru laut, meja belajar dan satu lemari yang ada didalam kamarnya, serta kamar mandi pribadi dan beberapa poster artis yang ia suka.

Ponsel yang ada digenggaman tangannya bergetar, menandakan bahwa seseorang menghubunginya, melihat kelayar ponsel miliknya dan terdapat nomor telpon rumahnya. Jaekyung membiarkan ponselnya berdering, tak ingin menjawabnya. Dalam hatinya ia begitu bersalah pada kedua orang tuanya.

Pintu kamar mandi menjeblak terbuka, mendapatkan Jihyo yang sudah rapi dengan penampilannya dibandingkan yang tadi. Jihyo berjalan mendekati kearah Jaekyung yang masih saja merebahkan tubuhnya, Jihyo melihat ponsel Jaekyung yang tergeletak tak jauh dari sang empunya, mengambil dan melihat siapa yang menelpon Jaekyung.

Jihyo mencubit pinggang Jaekyung tak keras saat ia melihat kearah ponsel Jaekyung, “angkat telpon itu!!!” ucap Jihyo sambil mendengus.

“Tidak, aku tidak akan menjawabnya!”

“Keras kepala sekali dirimu! Baik, jika kau tak ingin menjawab panggilan itu, kau harus menceritakan semuanya padaku sekarang juga!”

“Tidak sekarang karna aku sekarang lapar sekali dan butuh asupan gizi untuk calon bayiku,” mendengar ucapan Jaekyung Jihyo hanya bisa mendengus kesal.

Jihyo berdiri dari duduknya, berjalan keluar dari kamarnya lalu menuju kearah dapur yang terdapat pada rumahnya. Setelah tak lama ia berkutat didalam dapur, ia membawa dua piring yang berisikan dua sandwich dengan isi ikan tuna. Ia meletakan piring yang ia bawa didepan Jaekyung dan langsung dimakan oleh Jaekyung. Kalau boleh jujur Jaekyung sudah sangat leper sekali, dan ia begitu menyesal menolak ajakan makan malam bersama kedua orang tuanya malam tadi.

“Pelan-pelan, Jaekyung~a! Kau bisa tersedak..” ucap Jihyo mempringati cara makan Jaekyung yang seperti orang tak makan selama dua minggu.

“Kau tahu? aku lapar sekali,”

“Yah, aku tahu.. tapi tak seperti ini juga kan?” ucap Jihyo malas, “jadi kau ingin cerita atau tidak?” mendengar perkataan Jihyo, Jaekyung menghentikan kunyahannya. Ia menatap wajah Jihyo yang sedang memasang raut wajah mengancam.

“Baik, aku akan cerita. Tapi tak semuanya,”

“Terserah kau saja, hanya saja aku penasaran siapa pria itu?” pertanyaan Jihyo yang ini benar-benar menohok ulu hatinya. Apa ia akan memberitahukan Jihyo, bahwa Donghae lah yang menghamilinya. Dan Jaekyung tahu sendiri bahwa Jihyo kurang menyukai Donghae, karna kelakuan Donghae yang semena-mena.

Mungkin jika Jaekyung memberitahukan bahwa Donghae yang telah menghamilinya, Jaekyung memastikan Jihyo akan mendapatkan serangan jantung mendadak. Ia bimbang menjawab atau tidak, sebenarnya mengucapkan kata Lee Donghae tak begitu susah, hanya saja keberanian yang ia miliku tiba-tibsa saja menciut.

“Kau mau memberitahuku atau tidak?” Tanya Jihyo tak sabaran dengan kesunyian yang terceipta beberapa saat yang lalu. Jihyo memandang wajah Jaekyung yang mengisyaratkan serat bimbang, jadi untuk menghilangkan kebimbangannya Jihyo mengelus punggung tangan Jaekyung, menenagkan dari segala kebimbangannya.

“Aku akan mendengarkannya dengan baik-baik.”

“Baiklah, jangan kaget ketika aku memberitahukan siapa pria itu…” Jaekyung menghela napas pelan, lalu, “Lee Donghae,” dan saat Jaekyung mengucapkan nama Lee Donghae rasanya rahang Jihyo terjatuh.

***

Angin berhembus tak begitu kencang, menyejukan dilingkungan sekitar serta menenangkan hati seorang gadis yang sedang dilanda begitu banyak masalah. Percakapan tadi pagi selesai karna Jihyo tak membuka suara kembali saat Jaekyung mengucapkan Lee Donghae.

Jihyo hanya bisa mengumpat, menyumpahi Donghae yang telah menghamili Jaekyung diluar pernikahan. Kebencian yang tak terlalu mendalam didalam hati Jihyo untuk Donghae mungkin sudah dikatakan sudah sangat membencinya. Jihyo benar-benar murka hari ini, dan untung saja, kekasihnya menelponnya untuk mengajak bertemu dikampus dan akhirnya Jihyo tak jadi marah-marah.

Dan sekarang Jaekyung hanya bisa duduk termenung dikursi yang ada di taman kampusnya, memandangi beberapa mahasiswa yang sedang bercanda, mengobrol dan sedang berpacaran ditaman kampus ini. Ia mendesah pelan, bagaimana nasibnya besok? Sepertinya ia sudah tak tahan untuk hidup didunia ini, ia ingin rasanya mengubur dirinya dalam-dalam didalam tanah.

Jaekyung mengluarkan sweaternya dari dalam tasnya, memakainya karna tak tahan dengan angin yang berhembus. Menyelipkan rambut kebelakang telinga agar rambutnya tak berterbangan karna angin. Sepertinya hawa ditaman membuatnya kedinginan. Mungkin didalam kantin akan menghangatkan tubuhnya yang sedikit mengigil.

Ia berjalan melewati koridor yang banyak sekali mahasiswa yang sedang berdiri didepan kelas mereka masing-masing. Sesekali ia menyapa orang yang ia kenal, atau ia yang membalas sapaan mereka. Dan sampai matanya tak sengaja melihat tubuh pria itu ada diujung koridor, bersama teman-temannya, mengobrol, bercanda dan tertawa bersama. Tak lupa juga dengan lendotan manja dari sang kekasih. Jaekyung hanya bisa mencibir melihat Donghae yang ada disana.

Merasa seperti diperhatikan oleh seseorang, Donghae mangalihkan pandangannya yang tadi pada teman-temannya kini menoleh kearah koridor dan mendapatkan mata hitam pekat milik Jaekyung yang sedang memperhatikannya, tapi beberapa detik kemudia mata hitam pekat milik Jaekyung membuang tatapan itu. Dan membuat Donghae menggeram kesal.

Matanya memerhatikan langkah pelan Jaekyung yang melangkah kearah kantin. Donghae meminta izin untuk pergi terlebih dahulu dan dihalangi oleh sang kekasih, sebenarnya ia agak risih dengan kelakuakan kekasihnya yang karna akhir-akhir ini kekasihnya mengikutinya kemana saja bak seekor anak ayam. Setelah merayu kekasihnya agar tak mengikuti dirinya, akhirnya ia bisa terbebas juga.

Donghae berjalan kearah mana Jaekyung melangkah, sebelumnya ia melambaikan tangannya pada teman-temannya. Setelah melambaikan tangannya, Donghae dengan langkah cepat memasuki kantin, mengedarkan pandangannya kesegala penjuru kantin. Setelah matanya menangkap objek yang ingin ia temui akhirnya ketemu juga. Dengan segera Donghae melangkah kearahnya. Jaekyung tak melihat Donghae yang berjalan kearahnya, merasa Jaekyung tak memperhatikan seklitarnya Donghae segera duduk didepan Jaekyung.

Jaekyung terlonjak kaget saat mendapatkan Donghae yang ada dihadapannya, Jaekyung mendengus melihat senyuman sok manis –memang manis− milik Donghae. Jaekyung mengalihkan pandanganya kearah luar, pemandangan diluar memang lebih menarik dari pada objek yang ada diepannya.

“Kau tak biasanya seperti ini,” ucap Donghae pertama. Saat kemarin bertemu entah Donghae sepertinya sedikit tertarik dengan gadis yang ada didepannya. Hei, bukan berarti dia menyukai gadis didepannya, dia hanya sekedar tertarik –ingat sedikit tertarik–.

Jaekyung masih diam, tak menanggapi ucapan Donghae yang sepertinya sudah tak memikirkan kejadian kemarin. Dan Jaekyung pribadi malas sekali menaggapi ucapan Donghae yang dikatakan oleh teman-teman satu kelasnya itu jika mendengarkan akan meleleh.

Blah! Meleleh? Yang benar saja? Kalian pasti yang sudah mendengar suara Donghae atau apalah pasti kalian sudah meninggal dan pasti tubuh akan bercampur dengan tanah keesokan harinya setelah kalian mendengarkan suara Lee Donghae. Dan saat itulah Jaekyung menamakan suara Lee Donghae bagaikan setan.

Keadaan sunyi senyap, setelah mengatakan ucapan tadi dan tak dibalas oleh Jaekyung, Donghae hanya diam, menatap wajah Jaekyung yang–ehm–cantik, sedikit terpana oleh kedua pipinya yang merona. Donghae berfikir apakan Jaekyung memakai perona pada kedua pipinya yang putih itu? Atau itu memang alami sejak ia lahir? Atau karna cuaca saat hari ini yang dingin?

Mungkin karna cuacanya, kedua pipi Jaekyung menjadi merona seperti itu. Jaekyung yang merasakan wajahnya ditatap oleh seseorang langsung saja Jaekyung menolehkan wajahnya kedepan dan mendapatkan Donghae yang terlonjak kaget karna ketahuan memandangi Jaekyung sampai ia kaget seperti itu.

Dalam hati Jaekyung, ia sedikit bersorak senang, entah apa yang membuatnya senang seperti itu. Mungkin akibat ia diperhatikan sangat intens oleh Donghae. Jaekyung menggelengkan kepalanya, menyingkirkan imajinasi yang datang ke otaknya. Jaekyung menghembuskan napasnya pelan, dalam hatinya ia ingin sekali memberitahukan kehamilannya pada Donghae, tapi entah perasaan takut ada pada dirinya.

Jaekyung berpikir, ini sama sekali bukan gaya dirinya sendiri, kenapa dia tiba-tiba saja takut pada pria didepannya, memang dia makan batu sampai-sampai dirinya takut seperti itu? Bukan kah mereka makan dengan objek yang bernama nasi? Jadi, Jaekyung kau harus memberitahukannya sekarang. Tapi kalau dilihat sekelilingnya, tempat ramai seperti ini tak cocok untuk dirinya yang akan memberitahukan tenang kehamilannya.

Dengan hati yang mantap Jaekyung beranjak dari kursinya, memakai tasnya kembali dan tak lupa ia mengambil minuman kalenganya yang baru ia teguk satu kali. Jaekyung merasa bahwa Donghae pasti akan mengikutinya. Dan benar saja Donghae ikut bernjak dari duduknya, mengikuti langkah Jaekyung yang entah akan kemana perginya. Dan, kenapa dia bisa mengikuti gadis itu pergi. Dalam hatinya ia terus berperang, mengumpat-umpat dirinya yang bisa terhipnotis oleh wajah Jaekyung.

Well, Jaekyung bukan tipe idealnya. Walaupun perawakan Jaekyung bisa dibilang bagus tapi tetap saja ia tak pernah tertarik, rambut panjang bergelombang, rambut yang berwana coklat kehitaman, mata besar, bulu mata lentik. Dan wajah Jaekyung terpahat sangat indah. Dia cantik, tapi kecantikannya ditutupi oleh sifatnya yang sangat menyebalkan, sarkatis, dan cuek. Gadis yang berbeda dengan gadis-gadis yang lain, gadis ini tak pernah terlihat sedikitpun terpana oleh ketampananya.

Donghae sedikit menggeram karna gadis yang sedang berjalan didepannya tak pernah memperhatikannya seperti kebanyakan gadis-gadis lain. Dan saat dulu, saat telinganya menangkap pembicaraan salah satu teman Jaekyung yang sedang menggosipkan Jaekyung bahwa berpacaran dengan salah satu angakatanya itu, Donghae merasa hatinya sedikit kesal. Dan entah apa yang membuatnya kesal seperti itu.

Melihat Jaekyung yang membelokan arah, Donghae mengamati sekitarnya, tak ada orang yang memerhatikan mereka berdua. Yah, bagaimana mau memerhatikan merekan? Mereka saja berjalan dengan jarak dua meter. Dan itu tak mengundang kecurigaan orang-orang yang ada disekitarnya kan?

Donghae berjalan sedikit tergesa, mengikuti Jaekyung yang membelokan arahnya. Melihat Jaekyung yang berjalan entah kemana yang akan Jaekyung tuju, Donghae dengan gerakan cepat menarik tangan Jaekyung, membalikan tubuhnya dan menyudutkan Jaekyung diantara dirinya dan dinding.

Jaekyung terperenjat kaget saat dirasa tubuhnya dihempit oleh Donghae dan Jaekyung meringis kecil saat tangannya di genggam erat oleh telapak tangan Donghae. Ia membayangkan pasti pergelanganya saat ini sudah memerah karna saking eratnya. Jaekyung masih meringis, Donghae mengacuhkan ringisan Jaekyung, ia biarkan saja Jaekyung meringis seperti itu, ia kesal karna ia dipermainkan oleh Jaekyung. Blah! Dipermainkan? Yang benar saja? Bahkan Jaekyung tak pernah berniat untuk bermain-main dengan dirinya. Hanya saja dirinya yang gampang dipermainkan oleh seseorang.

“Apa maksudmu?” geram Donghae pada Jaekyung. Mendengar pertanyaan Donghae Jaekyung menyeritkan keningnya.

Apa maksudmu?” Jaekyung mengucapkan ulang perkataan Donghae, “yang seharusnya mengatakan itu adalah aku, bukan kau!” tuding Jaekyung pada Donghae. Ia geram melihat Donghae yang tiba-tiba saja mendorongnya seperti tadi.

“Kau mempermainkanku!” ucap Donghae yang tak dimengerti oleh Jaekyung.

Mempermainkanmu? Oh, yang benar saja? Aku tak pernah ada niatan untuk mempermainkanmu! Dan aku juga pasti memilih korban yang ingin aku permainkan. Maaf, kau bukan tipe idealku!” tungkas Jaekyung tajam. Ia muak melihat Donghae yang seperti ini. Ah, memangnya sifat Donghae yang mana yang menurutnya tidak memuakan? Semua yang dilihat oleh kedua mata Jaekyung, seluruh tubuh Donghae itu memuakan semua, sampai kedalam sel darahnya. Omong-omong tentang darah, Jaekyung menundukan kepalanya, menatap kearah perutnya ratanya yang berisikan darah daging milik Donghae yang tumbuh didalam perutnya.

Mendapatkan kenyataan seperti ini mata Jaekyung sedikit berkabut, air matanya hampir bergerumul dipelupuk matanya. Mati-matian dia menahan tangis yang akan pecah. Jaekyung memasang wajah tak perdulinya, menatap Donghae yang masih saja menatapnya, bibirnya terkantup tak mengatakan satu katapun. Dan itu patut disyukuri oleh Jaekyung.

“Minggir, aku ingin pulang!” Jaekyung merubah keputusanya yang awalnya ingin memberitahukan tentang kehamilannya, kini ia urungkan. Mungkin dilain waktu ia bisa mengatakannya pada Donghae, atau ia tak akan pernah mengatakannya.

“Tidak, enak saja. Aku sudah mengikutimu dari kantin dan sampai disini, dan kau bilang ‘Aku ingin pulang’? Yang benar saja?” ucap Donghae sarkatis, Jaekyung mendengus kesal. Jaekyung berpikir bahwa Donghae itu sangat bodoh. Tidak, tidak, Lee Donghae memang sangat bodoh. Seru Jaekyung dalam hati mengumpat kebodohan Donghae.

“Kalau kau pintar, mungkin kau tak akan mengikutiku beranjak. Ah, kau memang bodoh Lee Donghae,” ucap Jaekyung malas. “Dan cepat lepaskan aku,” lanjut Jaekyung.

“Tidak, aku yakin kau ingin mengatakan sesuatu padaku, apa yang ingin kau ucapakan.”

Jaekyung tertawa pelan, “ah, kau sudah seperti seorang peramal, Lee Donghae. Aku tak ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Jangan bohong, aku sudah tahu dari wajahmu saat kau menundukan kepalamu dan menatap kearah perutmu itu!” ucap Donghae yang membuat Jaekyung reflek menatap kearah kedua mata milik Donghae.

Saat Jaekyung menatap kearah matanya, Donghae seperti terhisap oleh lubang kecil yang pernah ia baca dalam sebuah buku, dan ia lupa buku apa yang ia baca. Lupakan soal buku, Donghae sepertinya akan menfavoritkan kedua mata besar indah milik Jaekyung. Benar-benar indah dipandang. Dan matanya beralih pada bibir merah yang ada didepannya, dan rasanya jantung Donghae berdegup sedikit kencang. Ia bertanya pada dirinya sendiri kenapa ia bisa menjadi gugup dihadapan Jaekyung? Yang benar saja.

Mereka berdua masih dalam keadaan berhempitan, Jaekyung yang merasa Donghae sedikit lengah, Jaekyung mendorong tubuh Donghae dan berhasil ia keluar dari perangkap yang dibuat oleh Donghae. Jaekyung sedikit berlari dan pastinya ia berlari hati-hati karna ia tak mau ada kejadian lucu yang membuat kandunganya keguguran atau apa.

Seperti tersengat listrik, tangan Jaekyung ditarik paksa oleh Donghae yang berhasil menyusulnya. Tangan Jaekyung dicengkram kuat oleh Donghae membawanya kearah pohon yang ada dibelakang bangunan yang entah Donghae tak tahu. Donghae kembali menghempit Jaekyung, memaksan Jaekyung untuk menatap kearahnya. Dan berhasil, Jaekyung akhirnya menatap kearah matanya.

“Aku hamil.” Ucap Jaekyung tanpa basa-basi, ucapnnya begitu datar dan tanpa ekspresi apapun. Donghae menatap Jaekyung dalam dan detik berikutnya ia tertawa. Tertawa terbahak-bahak, seolah ucapan Jaekyung itu adalah ucapan yang konyol dan yang paling lucu yang pernah Donghae dengar.

“Yang benar saja? Aku bahkan tak pernah membawamu keranjang!” ucap Donghae setelah menyelesaikan tawanya yang membahana tadi. Hati Jaekyung seperti teriris oleh silet yang sangat tajam. Walaupun wajah Jaekyung tak menampakan ekspresi apapun, dalam hati Jaekyung begitu kecewa. Dan Jaekyung benar-benar menganggap Donghae adalah pria brengsek yang pernah ia temui selama dua puluh tahun ia hidup didunia ini.

“Tertawalah sepuasmu Lee Donghae,”

“Oke, aku berhenti tertawa. Bisa kau buktikan bahwa kau mengandung anakku itu apa? Mungkin saja kau tidur dengan pria lain?” ucap Donghae yang membuat Jaekyung merasa direndahkan. Tidak, tidak, dia memang sudah direndahkan saat ia mengatakan bahwa dirinya hamil pada pria didepannya. Tapi, bisakah ia tak mengucapkan seperti itu? Benar-benar tak mempunyai hati. Dia tak tahu apa, bahwa dia sudah sangat tersakiti dengan ucapannya itu?

“Kau berfikir bahwa aku adalah gadis murahan yang dengan santai memberikan tubuhku pada ranjang pria lain?” Tanya Jaekyung yang masih tersinggung dengan ucapan Donghae tadi.

“Yah, mungkin saja. Seperti perkataanmu, gadis murahan.” ucap Donghae datar dan sekenanya.

“Terima kasih atas pemikiran yang cerdas itu Lee Donghae!”

Setelah mengucapkan seperti itu Jaekyung kembali mendorong tubuh Donghae dengan kasar, sampai-sampai Donghae hampir terjengkang kebelakang kalau saja ia tak menyeimbangkan tubuhnya. Donghae menatap punggung Jaekyung dengan intens, entah setelah ucapannya tadi, Donghae sedikit menyesal. Tidak, tidak, dia memang menyesal telah mengucapkan kata seperti itu, Donghae berfikir Jaekyung pasti sedang menahan amarahnya, karna ia dengan enteng membenari ucapan gadis itu yang mengatakan gadis murahan.

Gadis mana yang mau di sebut gadis murahan dengan lapang dada? Pasti tak ada kan? Kalau ada, gadis itu benar-benar tak waras dan tak menghargai dirinya sendiri. Rasanya Donghae ingin sekali mengejar kearah Jaekyung yang semakin lama semakin menghilang diantara belokan yang Donghae tak tahu.

Donghae kembali mengucapkan pada dirinya, bahwa dia sangat menyesal.

***

Entah sudah berapa kali Donghae menghembuskan nafasnya. Ia mengerjapkan matanya, menatap langit-langit kamarnya. Hatinya tak begitu tenang, mungkin akibat percakapan siang tadi bersama Jaekyung. Donghae benar-benar merasa bersalah akibat ucapannya. Seharusnya ia harus bisa menjaga ucapannya itu, tapi mau bagaimana lagi, ia menyetujui apa yang diucapkan oleh Jaekyung.

Donghae menelungkupkan tubuhnya, membenamkan kepalanya kebantal berusaha agar percakapan siang tadi pergi dari otaknya dan tak membuat kepalanya menjadi pusing seperti ini. Donghae membayangkan apa yang dilakukan oleh Jaekyung saat ini, mungkin Jaekyung sedang menangis tersendu-sendu disudut kamarnya, menghabiskan persedian tisu, membuangnya asal. Membayangkan seperti itu, tubuh Donghae tiba-tiba saja bergidik ngeri.

Tapi kalau dilihat dari percakapan siang tadi sepertinya Jaekyung tak akan melakukan hal yang ada di dalam pikirannya. Keras kepala dan penentang. Wajah memang sedikit polos, tapi didalamnya, ugh! Benar-benar tak pantas dengan wajah polosnya itu. Pikir Donghae dalam hatinya.

“Arrggghhhhh!!!!” Donghae berteriak, mengerang kesal karna otaknya yang terus saja memikirkan Jaekyung. Dan Donghae dengan pasti Jaekyung sendiri tak memikirkan bagaimana keadaannya sekarang seperti apa.

Mendengus kesal, Donghae beranjak dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar. Mungkin mengobrol dengan kedua orang tuannya tentang perusahaan keluarganya pasti akan menghilangkan pening yang menjera kepalanya.

Saat sudah sampai ditangga yang paling akhir, mata Donghae melempar pandangannya keseluruh penjuru rumahnya. Sepi seperti tak ada penghuninya. Donghae berjalan kearah kamar kedua orang tuanya dan mendapatkan pintu kamar mereka terkunci sangat rapat, dia melangkahkan kembali kakinya kearah ruangan yang biasa untuk berbincang-bincang dan kembali tak menemukan siapa-siapa.

Matanya tak sengaja menangkap secari kertas yang tergeletak diatas meja ruang tengahnya. Dengan cepat Donghae mengambil secarik kertas tersebut dan memulai membacanya.

Untuk Donghae…

 

Sebenarnya Ibu sudah kekamarmu sebelum kami pergi ke acara teman Ayahmu, tapi entah kau sedang tidur atau apa jadi kau tak mendengar ketukan pintu dan suara Ibumu ini yang berteriak padamu. Kalau saja pintu kamarnya tak kau kunci, mungkin saja Ibu akan masuk dan membangunkanmu. Kami mungkin pulang agak larut malam. Makanlah kalau kau sudah bangun.

 

Dari Wanita yang paling kau sayang

 

Donghae menggeram kesal. Bertambah lagi kesialnnya, dan ia kembali membaca surat tadi berteriak memanggilmu, astaga! Teriakan Ibunya saja sampai-sampai tak terdengar ditelinganya. Mungkin ini efek samping dari percakapan dirinya dengan Jaekyung siang tadi. Donghae menghempaskan tubuhnya sofa dan menyenderkan punggungnya disandaran sofa empuk milik keluarganya.

Kepalanya terkulai lemas, rumah besarnya sangat sepi sekali. Sebenarnya ia ingin menelpon salah satu temannya, tapi dia begitu malas untuk berinteraksih hari ini, jadi lebih baik tak usah menghubingi salah satu temannya. Donghae mengambil remote control yang ada diatas meja, menekan tombol merah yang ada, setelah menekannya munculah gambar yang tertera dilayar TVnya. Tapi acaranya tak begitu menarik perhatiannya, jadi lebih baik ia mematikannya lagi sebelum TV itu menjadi salah satu korban pelampiasan nafsu Donghae yang begitu menggebu-gebu.

Mersakan pening dikepalanya semakin parah Donghae beranjak dari duduknya, berjalan kearah dapur. Mungkin minum air dingin bisa membekukan pening dikepalanya. Setelah meneguk air dingin, seluruh tubuhnya mendadak ringan, dan itu membuat Donghae tersenyum. Setelah minum Donghae kembali naik keatas kamarnya, membaringkan tubuhnya diatas kasur serta menenggelamkan tubuhnya dalam selimut tebalnya dan sepasang Headset melekat pada kedua telinganya. Akhirnya mata Donghae pun terpejam.

Tapi beberapa saat kemudian ia membuka matanya kembali, ia tidak bisa tidur. Donghae melihat kearah jam yang ada dinakas samping tempat tidurnya, masih pukul enam sore, mungkin kerumah Hyukjae, atau kerumah Siwon bisa membuat pikirannya tenang.

***

Jaekyung menggosok-gosokan kedua tangannya agar lebih hangat. Sejak siang dia sudah duduk dikursi yang sudah disediakan oleh pemerintah ditaman kota. Hari sudah hampir larut, tapi Jaekyung masih saja tetap bertahan duduk dikursi tersebut. Ia begitu malas untuk pulang kerumah sepupunya atau lebih kerumah orang tuanya. Ia berfikir, bahwa dirinya sudah tak pantas lagi bersanding dengan keluarganya.

Hamil diluar pernikahan. Blah! Rasanya ia ingin sekali tertawa sekeras-kerasnya seperti apa yang dilakukan oleh Lee Donghae siang tadi, tapi sepertinya itu tak rasional sekali, menertawakan dirinya sendiri. Tapi memang, sepertinya ia harus menertawakan dirinya sendiri mengingat kejadian tiga empat bulan yang lalu.

Ponselnya kembali berdering, entah untuk yang berapa kali. Ia malas untuk menjawab deringan ponselnya itu. Semuan deringan itu hampir dari sepupunya. Mungkin sepupunya sedang mengkhwatirkannya, hah! Tentu saja sepupumu itu menghubungimu karna ia Sudah pasti mengkhwatirkanm yang pergi entah kemana seruan lain didalam pikirannya, Jaekyung hanya bisa mengantupkan matanya erat-erat, menikmati angin yang berhembusa pelan tapi tetap saja membuatnya menggigil.

Lebih baik dirinya pergi dari taman dan pulang, dari pada sepupunya it uterus-terusan menghubunginya. Melirik kearah pergelangan tangannya, dan mendapatkan jam tangan yang menunjukan pukul delapan malam, dan dia terbelalak kaget ternyata dia duduk dikursi taman tadi hampir enam jam nonstop.

Jaekyung berfikir, lebih baik ia meninggalkan kota ini dan mengasingkan diri didaerah pedesaan atau apa saja yang membuatnya lebih nyaman. Tapi bukan kah disini juga nyaman? Kedua orang tuanya sama-sama menyayangi dirinya, member penuh kasih saying penuh pada dirinya, jadi jika dirinya memberitahukan siapa yang menghamili dirinya pada kedua orang tuanya mereka pasti akan menerima walaupun sedikit kecewa, dan mungkin saja beban di pundaknya terangkat sedikit.

Ia berjalan kearah trotoar, menuju kearah halte yang dekat untuk menunggu sebuah Bus yang mungkin saja masih ada. Setelah berjalan beberapa menit dan ia sudah sampai dihalte, ia segera mendudukan tubuhnya dibangku halte tersebut. Sekitar hampir lima belas menit ia menunggu Bus yang akan datang, akhirnya datang juga.

Jaekyung segera masuk saat mobil Bi situ berhenti, mobil yang sudah sepi penumpang hanya ada beberapa orang yang ada didalamnya, mungkin baru saja pulang dari kantor mereka atau beberapa aktifitas mereka yang sampai malam seperti ini. Jaekyung berjalan kearah bangku yang paling belakang, tempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya untuk merenung.

Matanya perlahan memejam, mengharapkan semua kegilaan ini menghilang. Tapi, tetap saja saat ia membuka mata semua kegilaan ini masih saja ada dikepalanya. Ia berharap ada yang memenggal kepalanya sekarang, ia sudah tak sanggup lagi untuk menjalani hidup yang ia jalani sekarang. Sebelum Donghae yang membuatnya hamil seperti ini, kehidupan Jaekyung baik-baik saja, tak menjadi seabsurd seperti ini.

Setelah masuk dan berjalan kearah ruang tamu yang ia yakini masih ada orang tuanya, dan perkiraan dia benar, kedua orang tuanya masih duduk dan menonton acara yang disiarkan oleh salah satu stasiun TV yang sangat terkenal di negaranya. Kedua orang tuanya belum menyadari kehadiran Jaekyung yang ada dibelakangnya, sebelum berjalan lebih dekat kearah kedua orang tuanya Jaekyung menghela nafas terlebih dahulu dan ia mulai berjalan dan memeluk mereka dari belakang –walaupun hanya kepala kedua orang tuanya saja yang bisa ia peluk–

Ibunya terlonjak kaget dan langsung melepaskan sebelah tangan Jaekyung yang memeluknya, “Jaekyung~a…” seru ibunya senang, Jaekyung hanya bisa tersenyum melihat ibunya.

“Maafkan aku, Eomma, Appa…” ucap Jaekyung dengan menundukan kepalanya, ia tak berani melihat mata kedua orang tuanya.

“Gwenchana, kesini duduk dan ceritakan yang sebenarnya. Kami tak memaksa untuk membuatmu bercerita.”

Jaekyung menatap kearah Ayahnya yang masih saja bungkam, tak mengluarkan sepatah katapun dan itu membuat nyalinya turun. Tiba-tiba bahunya dipegang oleh tangan yang selama dua puluh tahun menemaninya. Ia melihat senyum tulus Ibunya, melihat senyum milik Ibunya mau tak mau Jaekyung membalas senyuman milik Ibunya. Ibu Jaekyung menuntunnya untuk duduk diantara Ayahnya dan Ibunya.

“Eomma, aku tak mau berbasa-basi untuk mengatakan siapa yang membuatku hamil−” ucap Jaekyung menghentikan ucapannya, ia menghela napasnya pelan sebelum mengatakannya kembali, “−adalah Lee Donghae.” Ucap Jaekyung lega dan mata kedua orang tuanya terbelalak kaget siapa yang telah menghamili anaknya.

–TO BE CONTINUED–

 

 

 

P.S: REVIEW

6 thoughts on “If This Was a Movie [Part 2]

  1. donghae jahat banget sih… emang kalo mabok beneran gk inget apa” ya????
    jaekyung sabar ya.. *inih gw pnjemi pundak drpd nggu pundak donghae lama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s