If This Was a Movie [Part 3]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

                   If This Was a Movie by Taylor Swift

 

***

Suasana di ruang tengah begitu sunyi, setelah Jaekyung mengatakan siapa yang telah menghamilinya. Jantungnya begitu berdegup dengan kencang menerima apa yang akan Ayahnya ucapkan nanti. Ia akan menerima semua caci dan makian yang dilontarkan dari mulut Ayahnya. Dia benar-benar sudah pasrah.

Dan akhirnya tamparan mendarat di pipinya, Pipi Jaekyung terasa panas akibat tamparan yang diberikan oleh Ayahnya. Jaekyung memegang pipinya, pasti pipinya sudah menampakan bekas telapak tangan Ayahnya, ia tak membantah apa yang Ayahnya lakukan tadi, ini memang pantas ia dapatkan, karna ia tak bisa menjaga dirinya, bisa hamil seperti ini dan yang menghamilinya adalah keluarga yang tak disukai oleh Ayahnya.

Ibunya yang sedari tadi hanya diam, tak bisa menolong anaknya yang terkena tamparan oleh suaminya, kalau sudah seperti ini suaminya benar-benar tak bisa didinginkan lagi. Sudah benar-benar sangat marah.

“Hah! Kau benar-benar wanita jalang!” ucap Ayahnya tajam, Jaekyung masih saja diam. Sebenarnya dia tak terima dengan ucapan ayah, tapi sudahlah, ini sudah terlanjur terjadi, jadi ia menerimanya dengan lapang dada. Tapi dalam hati Jaekyung, ia akan membalas dendam pada pria brengsek itu nanti.

“Aku tak seperti yang kau bayangkan, Appa..”

“Tak seperti yang Appa bayangkan? Kau tak menikmati kehidupan kita yang sederhana ini? Sampai-sampai kau memberikan tubuhmu pada anak dari keluarga itu dan kau mendapatkan uangnya? Benar-benar sangat pintar sekali, Han Jaekyung! Appa benar-benar kecewa denganmu, Appa sudah banting tulang untuk menyekolahkanmu dari tingkat bawah sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dan ini balasan darimu? Ya Tuhan.”

Jaekyung kembali terisak, mendengarkan penuturan Ayahnya yang benar-benar sangat kecewa padanya, ia ingin sekali memeluk Ayahnya yang masih menatap kearahnya, tapi ia tak mempunyai keberanian untuk mendekat. Ia melihat Ayahnya yang berjalan dan masuk kedalam kamarnya, kembali keluar dengan pakaian yang sedikit resmi.

“Ayo, kita meminta pertanggung jawaban pada keluarganya, aku tak ingin keluarga kita nanti diberikan cap yang tidak baik oleh masyarakat sekitar,”

Jaekyung mendongak, menatap kearah mata ayahnya. Yang benara saja, kerumah Donghae, meminta pertanggung jawaban yang berarti ayahnya meminta Donghae menikahinya. Dan saat itu Jaekyung langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak ajakan Ayahnya.

Seperti benda abstrak, Ayahnya tak menghiraukan gelengan anaknya ia tetap bersikeras untuk mendatagi kediaman keluarga Lee yang kaya raya itu. Ayahnya berjalan terlebih dahulu dan Jaekyung mengejar Ayahnya yang hampir memegang knop pintu, Jaekyung menggenggam pergelangan Ayahnya, terisak pelan agar Ayahnya mengurungkan niatnya, tapi itu tak berhasil karna Ayahnya sangat marah. Dan Ayahnya pun pergi meninggalkan Jaekyung yang terduduk sambil terisak.

“Eomma,” panggil Jaekyung pada Ibunya yang masih saja berdiam diri diruangan tadi. Jaekyung sudah benar-benar putus asa dengan kelakuan Ayahnya.

Ibunya menghampiri Jaekyung yang terduduk didaun pintu, membantuJaekyung untuk berdiri dan langsung memeluk tubuhnya. Mengelus punggung Jaekyung dengan sangat pelan dan kelembutan, agar isakan Jaekyung berhenti dan sepertinya berhasil. Jaekyung berhenti terisak.

“Kita susul Ayahmu yang mungkin saja sudah sampai di rumah kediaman keluarga Lee.” Ucap ibunya sambil membantu Jaekyung berjalan kearah luar rumahnya yang sederhana.

***

Rumah dengan nuansa tradisional modern, membuat mata Jaekyung tak henti-hentinya berdecak kagum. Maklum saja, karna rumah Jaekyung yang begitu sederhana, jadi dia melihat rumah seperti ini langsung berdecak kagum. Jaekyung sering berhayal, jika nanti dia sudah menikah nanti ia ingin sekali mempunyai suami yang mempunyai rumah seperti ini, dan lihat ternyata ada yang mempunyainya, tapi sayang bukan orang seperti Lee Donghae calon suaminya.

Jaekyung mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menjelajahi ruangan yang ia tempati sekarang, dan kini  matanya mengarah kearah pintu yang ada didepannya, kedua orang tuanya sudah ada didalam ruangan, berdebad, saling berteriak, Jaekyung yang ada diluar ruangan hanya bisa menatap pintu tersebut.

Orang tua mana yang akan menerima dengan lapang dada jika anak satu-satunya dihamili oleh seorang dan orang itu tak mau bertanggung jawab. Kalau mungkin saja ada orang tua yang akan menerima dengan lapang dada, mungkin orang tua itu sudah gila, atau apalah.

Awalnya mereka tak dibolehkan masuk, tapi karna kekuatan ayahnya yang begitu besar akibat marah, jadi mereka bisa masuk walaupun masih dengan beberapa paksaan untuk keluar dari rumah tersebut. Untung saja Tuan dan Nyonya Lee ada dirumah, jika tidak ada mungkin mereka akan menunggu sampai Tuan tumah tersebut datang.

Mendengar senandung senang yang berasal dari belakang membuat Jaekyung sontak menolehkan kepalanya kebelakang, mendapatkan Donghae yang sudah menghentikan jalannya, mulutnya menganga akibat ia melihat seorang yang baru menolaknya siang tadi, kini ada didalm rumahnya. Headset yang ada dipegangannya kini terlepas, “Je~?” ucap Donghae keheranan melihat Jaekyung ada didalam rumahnya, ia menatap Jaekyung tepat dimanik matanya.

Melihat Donghae yang menatap matanya, Jaekyung segera mengalihkan tatapannya kearah lain. Entah, jika ia ditatap oleh Donghae seperti ini membuat hatinya berdegup kencang, dan apalagi saat bibir tipis nan merah milik Donghae saat menyebut nama Jaekyung dengan panggilan yang menggelikan seperti tadi benar-benar membuat perasaanya sedikit senang. Dan perasaan yang ia rasakan tadi segara ia tepis langsung.

Jaekyung tak menanggapi pandangan heran yang Donghae lakukan, ia segera memalingkan kepalanya pada keadaan semua. Melihat Jaekyung yang mengacuhkan kehadirannya, Donghae sedikit geram dan segera ia langsung melangkah kearah Jaekyung yang sedang duduk manis disofa yang ada diruangan keluarga dirumahnya.

Dengan gerakan cepat Donghae sudah menarik tangan Jaekyung yang membuat Jaekyung berdiri menghadap Donghae, wajah mereka berjarak beberapa senti sampai-sampai mereka merasakan hembusan nafas mereka yang menghangat dan memburu akibat kekesalan yang mereka perbuat. Mereka bertatapan, mata mereka mengisyaratkan kebencian, tak ada yang mengalah untuk melepaskan, sampai tangan Donghae yang menggenggam tangan Jaekyung begitu erat sampai-sampai bisa menimbulkan kemerahan yang ada dipergelangan tangan Jaekyung.

Meringis pelan akibat eratnya penggangan tangan, Jaekyung bergerak gelisah untuk bisa lepas dari cengkraman Donghae, tapi Donghae malah menambah eratan genggamannya, “lepas, kau menyakitiku.” Ucap Jaekyung memberitahu Donghae agar ia bisa lepas.

Seperti tersumpal oleh kapas yang sangat tebal, Donghae tak mendengar rintihan dan ucapan Jaekyung tadi. Melihat Donghae yang masih saja seperti itu, Jaekyung yang tiba-tiba mendapatkan ide, dan langsung ia lakukan; menginjak kaki Donghae dan berhasil, Donghae melepaskan genggaman tangannya dan ia mangduh kesakitan. Dalam hati, Jaekyung tertawa keras melihat tampang Donghae yang kesakitan seperti itu.

“Brengsek,” umpat Jaekyung dengan suara pelan, tapi tetap saja membuat Donghae menatap Jaekyung dengan tatapan mata yang tajam. Walaupun kau menatapku seperti itu, aku akan takut? Mimpi saja jika aku takut padamu. Umpatan Jaekyung dalam hati yang menatap mata Donghae seperti itu.

Mereka tak membuka suara sampai pintu ruangan yang Jaekyung pandangasi sedari tadi kini menjeblak terbuka, mendapatkan wajah Ayahnya yang sangat memerah akibat terlalu marah, dan disusul Ayah Donghae yang tak kalah seperti Ayahnya. Donghae yang sedari tadi menatap kearah Jaekyung kini mengalihkan tatapannya kearah yang dibuka paksa seperti tadi.

Donghae menatap kearah dua laki-laki yang keluar dari ruangan tersebut, salah satu laki-laki tersebut adalah Ayahnya dan ia menatap kearah laki-laki lain yang ada didepan Ayahnya yang mungkin saja Ayah dari Jaekyung.

Ayah Jaekyung yang melihat kehadiran Donghae ada disini, langsung melesat kearah Donghae dan tanpa belas kasihan Ayah Jaekyung langsung menampar pipi Donghae dengan sangat keras dan sampai Donghae tersungkur kebawah. Donghae memegang pipi kirinya yang baru saja terkena tamparan dari Ayah Jaekyung dan menatapnya dengan tatapan aneh, kenapa Ayah Jaekyung sampai bisa menamparnya seperti ini? Apa salahnya sampai ditampar seperti ini? Pikir Donghae dalam hati.

Ayah Donghae yang melihat anaknya ditampar sampai tersungkur seperti itu tak terima dan melangkah maju untuk membantu Donghae berdiri, melihat bantuan dari Ayahnya, Donghae langsung menerimanya. Keadaan didalam ruangan tersebut begitu sepi, tak ada pembicaraan yang keluar dari salah satu bibir mereka, hanya terdengar hembusan nafas yang saling memburu, terutama hembusan kedua laki-laki yang masih diliputi emosi dan amarah.

“Apa yang kau lakukan pada anakku?” hardik Tuan Lee pada Ayah Jaekyung, melihat amar Ayahnya Donghae segera menenangkan Ayahnya.

Dan pada saat itu Donghae tersadar, Ayahnya sudah kembali dari acara temannya. Padahal dirinya pergi dari rumah kurang dari satu jam, bukankah surat yang ditulis Ibunya, bahwa mungkin mereka pulang tengah malam. Tapi, perduli setan, yang ia pentingkan masalah sekarang yang sedang terjadi.

“Tentu saja menghajar Anakmu yang telah menghamili Anakku!!!” ucap Ayah Jaekyung yang membuat Donghae terbelalak, hatinya tiba-tiba saja tak tenang seperti ini. Entah apa yang membuatnya tenang seperti ini.

Jelas-jelas ia tak pernah melakukan kegiatan seperti itu dan sampai membuat hamil. Dan ini seperti percakapan siang tadi bersama dengan Jaekyung dibelakang kampus.

“Aku tak pernah menyentuh anakmu, mungkin saja itu hasil dari pria lain dan ia mengaku-ngaku kalau ia hamil itu adalah hasilku.” Ucap Donghae yang membuat Jaekyung dan Ayah Jaekyung terbakar oleh amarah. Mendengar ucapan Donghae seperti tadi membuat hatinya begitu sakit, Ayah Jaekyung yang hendak memukul Donghae seketika dihentikan oleh Jaekyung.

“Tak usah mengotori tanganmu, Ayah. Tanganmu tak pantas untuk memukul pria seperti itu,” ucap Jaekyung yang membuat Donghae yang mendengarnya hanya bisa menatap Jaekyung.

Donghae bisa melihat raut wajah Jaekyung yang begitu menahan tangis seperti itu membuat Donghae ingin menenangkannya. Dan apa itu benar kalau ia menghamili Jaekyung, bahkan ia tak ingat kalau ia pernah melakukan sesuatu, yang ia ingat hanya pesta yang diadakan oleh temannya dan pesta tersebut dihadiri oleh Jaekyung juga.

Dan saat itu pula ingatan Donghae kembali dengan sangat jelas, pesta, mabuk, kesal akibat kekasihnya yang menolak rencana mereka kedepan, bertengar besar dengan kekasihnya sampai-sampai mereka berhenti melanjutkan rajutan hubungan mereka dan mencium seorang, yang ternyata adalah Han Jaekyung, gadis yang tak pernah menatapnya sama sekali kini ada disampinganya, ini kesempatan untuk mendapatkan apa yang inginkan, merasakan Jaekyung yang menolak mentah-mentah pesona seorang Lee Donghae.

Jaekyung dengan rambut panjang bergelombang sepunggung berwarna coklat kehitaman, menolak ciumannya dengan keras, dan sampai akhirnya gadis itu menyerah mungkin akibat meminum minuman yang sama Donghae minum, melepaskan pagutan, berciuman lagi, dan mereka tak sadar bahwa mereka meninggalkan pesta yang begitu ramai, kini sudah sampai ditempat yang sepi, diatas ranjang yang entah milik siapa dan tubuhnya menindih tubuh seseorang, bertatapan mata, sampai keesokan paginya Donghae terbangun hanya dengan selembar kain, tak ada siapapun, hanya dirinya sendiri yang menahan pusing dikepalanya dan saat itu pula ingatan malam itu ia lupakan sampai sekarang ia mengingat lagi.

Donghae dengan seketika menundukan kepalanya, ia sedikit merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya pada waktu itu, tapi Jaekyung juga ikut salah, karna dirinya yang membuatnya marah sampai melampiaskan amarahnya dengan melakukan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Bisa bicara dengan Jaekyung, aku ingin membicarakan sesuatu padanya, hanya aku dan dia. Dan aku ingin membicarakannya ditempat yang sepi, hanya ada aku dan dia.” Ucap Donghae akhirnya, Ayah Jaekyung masih menatap kearah Donghae dengan tatapan tak terima.

“Kau ingin kabur dari kami, eh?”

“Tidak, aku tidak akan kabur. Jika benar benih yang dikandung oleh Jaekyung benar-benar anakku, aku akan bertanggung jawab apa yang aku perbuat,”

“Tentu saja, anakku tak seperti yang kau bayangkan tadi. Seperti wanita murahan? Cih, pemikiran orang kaya seperti kalian itu benar-benar busuk!”

“Jaga ucapanmu!” ucap Tuan Lee yang mendengar ucapan Ayah Jaekyung.

Karna kesal, Donghae langsung melangkah kearah Jaekyung dan menarik tangan Jaekyung dengan pakasa untuk mengikuti jalannya. Ayah Jaekyung yang kaget melihat anaknya ditarik paksa segera mengejarnya tapi ia langsung berhenti karna dicegat oleh Ayah Donghae.

“Biarkan mereka yang akan menyelesaikannya, jika memang benih yang ada pada anakmu, kami akan melakukan pernikahan.”

***

Jaekyung yang ada didalam mobil hanya bisa memegang sabuk pengamannya saja, ia takut jika berhenti mendadak dan kepalanya terbentur dan terkena dashboard. Ia tak mau kepalanya berdarah akibat mobil yang dikendarai oleh Donghae begitu ugal-ugalan dijalan, dan ia bersyukur karna jalanan begitu sepi jadi ia tak terlalu khawatir tertabrak oleh kendaraan yang lebih besar dari mobil Donghae yang kecil tapi mewah.

Arah mobil Donghae tak begitu jelas arahnya, mobil begitu sepi hanya ada dengusan dari Jaekyung yang melihat Donghae seperti orang gila dan nafas memburu dari arah Donghae yang begitu sangat kesal padanya.

“Kita mau kemana?” Tanya Jaekyung akhirnya. Donghae masih tetap konsentrasi pada menyetirnya, tak menjawab pertanyaan Jaekyung.

Dan akhirnya mobil pun berhenti. Berhenti dikawasan yang tak asing bagi Jaekyung karna ia baru saja dari tempat ini beberapa jam yang lalu. Pintu mobil disamping Donghae terbuka, dan Donghae keluar dari dalam mobil, berjalan kearah depan mobilnya.

Jaekyung yang melihat Donghae keluar, ia pun ikut keluar. Lampu mobil disengajakan menyala, angin berhembus sedikit kencang dan menerpa wajah Donghae yang masih dihisai oleh tampang kekesalannya. Sedangkan Jaekyung, ia berjalan pelan menuju kearah Donghae yang sedang memejamkan matanya. Tubuhnya sedikit mengigil akibat angin yang bertiup.

Setelah disamping, hanya ada keheningan diantara mereka. Tidak tahu haru mengatakan apa, mereka hanya menikmati kehadiran masing-masing.

“Aku ingat,” ucap Donghae tiba-tiba yang membuat Jaekyung mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi pemandangan didepan dengan tatapan kosong.

“Yah, itu sangat bagus jika kau mengingatnya,” balas Jaekyung dengan nada datar.

“Aku akan memberikanmu uang,”

“Untuk apa? Kau menginginkan aku menggugurkan kandungan ini? Maaf, aku menolak!” ucap Jaekyung yang bisa langsung mengerti dengan arah pembicaraan Donghae kearah mana.

“Kau pintar sekali menjadi wanita,” Donghae terkekeh pelan. Ia tak menyangka Jaekyung akan mengerti secepatnya dengan ucapannya tadi.

“Kau ingin mempertahankannya?” Tanya Donghae, dan Jaekyung menganggukan kepalanya. “Kau bahkan masih kuliah, sedangkan aku? Beberapa bulan lagi juga aku akan lulus kuliah!” lanjut Donghae.

“Lalu masalah dengan kuliah dan kehamilan ini apa?” Tanya Jaekyung sambil mengendus kesal dengan pemicaraan ini.

“Kau mengaku kalau kau pintar, tapi kau tak mengerti dengan ucapanku tadi?” dengus Donghae yang menyesali ucapnnya tadi yang menganggap Jaekyung pintar.

“Kau pasti akan malukan jika kau hamil diluar pernikahan?” lanjut Donghae.

“Tentu saja, dan sebenarnya aku tak perlu meminta pertanggung jawaban darimu, kau memang pantas dijuluki pria brengsek!” ucap Jaekyung marah, ia benar-benar sudah diluar batasnya. Ia tak habis pikir kenapa dirinya begitu lemah pada saat pesta empat bulan yang lalu, dan ah, yang membuatnya kalah karna efek minuman yang ia minum.

“Aku tak sebrengsek yang kau pikirkan!” teriak Donghae yang sudah habis kesabarannya, ia begitu muak mendengar ucapan brengsek yang keluar dari dalam mulut Jaekyung.

“Kau tak terima dengan kata brengsek yang keluar dari dalam mulutku dan kenyatannya kau memang brengsek! Kau memberikanku uang untuk menggugurkan kandunganku, dan kau pastinya tak akan menikahiku, tak bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan,” ucap Jaekyung sambil mendorong tubuh Donghae hingga Donghae jatuh dan tersungkur. Jaekyung segera berlari dari hadapan Donghae, dan Donghae tak bisa mengejar Jaekyung karna dorongan kasar yang dilakukan Jaekyung tadi.

Sial, hanya Jaekyung yang berani mendorongnya seperti itu. Benar-benar kasar sekali menjadi wanita, tapi kalau dipikir-pikir lagi, wanita lain juga akan melakukan hal seperti itu. Dan ia berfikir bahwa dirinya memang brengsek, jelas-jelas ia mengingat kejadian empat bulan yang lalu tapi ia tak ingin mengakuinya.

Donghae kembali kedalam mobilnya, ia harus mencari Jaekyung kemana yang ia bisa dan menemukannya. Ia tak ingin penamparan yang dilakukan oleh Ayah Jaekyung terulang kembali. Tamparannya benar-benar sangat menyakitkan.

Mobil yang Donghae kendarai dengan sangat pelan menelusuri jalanan yang begitu sepi, tak ada mobil ataupun kendaraan lainnya, dan tak ada seseorang yang berjalan sendirian disekitarnya. Donghae berfikir, seseorang mana yang berani berjalan sendirian dimalam sepi seperti ini. Mungkin hanya Han Jaekyung saja yang gila berjalan kearah tempat sepi seperti ini.

Hampir satu jam Donghae mencari Jaekyung dan akhirnya ia menemukan Jaekyung yang duduk dihalte yang sudah tak ada siapa-siapa, hanya ada Jaekyung yang duduk dengan kepala yang menyender ditiang tersebut. Donghae sengaja memarkirkan mobilnya dikejauhan agar kehadirannya tak diketahui oleh Jaekyung.

Sweter yang dipakai oleh Donghae kini ia lepaskan dan setelah dekat dengan Jaekyung Sweter yang telah lepas dari tubuhnya langsung ia pakaikan kearah Jaekyung yang sedikit menggigil karna udara yang begitu dingin. Jaekyung yang merasakan tubuhnya sedikit hangat langsung duduk dengan tegak, dan mendapatkan Donghae yang duduk disampingnya.

“Kau bodoh atau apa?” Tanya Donghae pada Jaekyung yang baru saja menyadari kehadiran disampingnya. Jaekyung yang mendengar pertanyaan Donghae tak membalas atau membantahnya. Ia sedang malas untuk membuka suara.

“Ayo pulang,” ucap Donghae sambil beranjak dan menarik tangan Jaekyung yang saling bertautan.

Saat Donghae memegang tangan Jaekyung yang dingin, ada perasaan yang datang dan mengatakan bahwa dirinya harus menjaga Jaekyung dengan sangat baik. Dan perasaannya tak ingin membuat Jaekyung tersakiti atau lainnya.

Jaekyung yang sudah malas dengan perdebadannya, akhirnya ia berdiri dan mengikuti arah Donghae yang berjalan. Saat pintu mobil dibukakan oleh Donghae, Jaekyung langsung masuk kedalam dan pintu ditutup oleh Donghae. Jaekyung masih bungkam setelah Donghae masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya, Donghae sendiripun tak mengluarkan kata-kata dalam perjalanan pulang.

Sebenarnya keadaan seperti ini membuat Donghae jengah, Donghae yang notabennya seoarang yang aktif tak tahan dengan keadaan sunyi seperti ini. Tapi apa yang akan dia ucapkan? Karna tak punya topik pembicaraan yang ada diotaknya, jadi Donghae tak mengungkapkan sepatah katapun.

“Berhenti,” ucap Jaekyung tiba-tiba, mengakibatkan Donghae yang selama perjalanan pulang dengan pikiran yang menglanglang buana kini mengerem mobilnya dengan secara mendadak mengakibatkan kepalanya yang hamir terkantuk dashboard.

“Heis, mengagetkan saja!!!”

“Aku turun disini saja,”

“Kenapa dihalte lagi? Apa aku tak boleh tahu rumahmu?” Tanya Donghae yang sedikit kesal pada sikap Jaekyung.

“Ayolah, turuti saja!”

“Tidak, aku tidak ingin ditampar oleh Ayahmu lagi jika aku tak mengantarkanmu pulang kerumahmu dengan selamat, kau tak kasihan padaku? Heum?” Jaekyung menatap Donghae yang mengluarkan nada seperti itu, nada yang membuat perutnya bergejolak ingin muntah.

Kesal dengan Donghae yang seperti itu, Jaekyung keluar dari dalam mobil Donghae, berjalan dengan tergesa-gesa menuju kehalte yang jaraknya tak jauh lagi. Matanya menangkap bus yang lewat dihadapnnya, Jaekyung langsung berlari kearah mengejar Bis yang datang. Melihat Jaekyung yang berlari kearah Bis yang datang, sontak Donghae membuka pintu mobilnya, berlari mengejar Jaekyung yang mengejar Bis. Dengan sekuat tenaga, Donghae mengejar Jaekyung dan berhasil menangkap pergelangan Jaekyung, menghentikan Jaekyung yang berlari.

“YAK!!!!” teriak Jaekyung pada Donghae yang berani-beraninya menghentikan pengejaran Bis yang berhenti tadi, dan sekarang sudah melaju cukup jauh.

“Kau ini merepotkan sekali, lebih baik kau duduk manis disampingku, aku akan mengantarkanmu sampai didalam rumahmu dengan selamat. Aku berjanji aku tak akan melakukan sesuatu padamu nanti. Aku bukan orang brengsek, seperti apa yang kau pikirkan.”

“Kaukan memang brengsek! Kalau kau memang tak brengsek, kau pasti tak akan berpikiran untuk mengugurkan bayi ini kan?”

“Tadi aku diliputi oleh emosi, maaf  kalau aku sebrengsek ini. Aku akan bertanggung jawab, menikahimu. Asal setelah bayi yang sedang kau kandung lahir, dan berumur lima atau delapan bulan kita bercerai. Kau setuju? Aku hanya tak ingin keluargaku malu saja.” Ucap Donghae dengan entengnya. Mendengar ucapan Donghae seperti itu, benar-benar membuatnya geram. Dia bilang tak brengsek? Lalu apa yang diucapakannya bukankah masih brengsek?

Tapi bagaimanapun juga, ucapan Donghae benar. Tapi menikah itukan sakral, tak untuk bermain-main seperti ini. Kalau seperti ini ia benar-benar dosa besar. Bagaimana lagi, ia juga tak mau keluarganya dicap rendah oleh sekitarnya. Membayangkan dirinya yang dicemooh habis-habisan oleh tetangnnya itu membuat dirinya bergidik ngeri. Tidak ada keputusan lain selain menikah dengan laki-laki didepannya.

Jaekyung menatap kearah Donghae, tinggi yang hanya berbeda sekitar lima sampai tujuh senti dan tubuh keduanya sangat dekat, membuat aroma tubuh pria didepannya ini begitu tajam saat ia menghirup udara. Benar-benar sangat memabukan untuk dihirupnya, dan sangat wangi sekali. Ditambah lagi kenyataan bahwa sweter milik Lee Donghae ada pada tubuhnya, membuat aroma tubuh pria didepannya semakin tajam.

Donghae yang ditatap intens oleh gadis didepannya, sedikit terpesona oleh wajah gadis didepannya. Pipinya merona merah akibat suhu yang dibilang sangat dingin dan gadis ini hanya memakai selembar sweter miliknya, dan Donghae baru saja menyadari bahwa pakaian yang dipakai oleh gadis ini sama persis yang dipakai saat kuliah tadi siang.

Pipinya tiba-tiba saja memanas, perlakuan Donghae benar-benar membuatnya malu. Jaekyung masih menatap mata Donghae yang begitu cerah dan sangat bersih. Dan Jaekyung menyadari, bahwa mata yang dimiliki oleh Lee Donghae benar-benar mata yang begitu sangat indah. Dia sampai tak rela jika ia sedetik saja mengalihkan pandangannya kearah lain.

Donghae juga merasakan apa yang dirasakan sekarang, menatap Jaekyung yang membuat jantungnya berdegup kencang. Donghae baru sekali merasakan jantungnya berdegup kencang ketika dengan seorang gadis, hanya gadis ini yang membuat jantungnya bertalu-talu. Berbeda dengan sang kekasih Donghae tak pernah merasakan perasaan seperti yang ia rasakan sekarang.

Masih saling bertatapan, keduanya benar-benar terhipnotis satu sama lain. Enggan sekali untuk mengalihkan pandangannya. Donghae berpikir, memandang wajah Jaekyung seperti ini benar-benar membuat hatinya begitu tenang.

Bunyi ponsel berdering dengan sangat keras, membangunkan dunia mereka. Jaekyung langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Donghae sendiri mengambil ponsel yang disimpan didalam saku celanannya, segera ia ambil. Melihat siapa yang menelpon dirinya, mengganggu kegiatan yang begitu menyenangkan seperti tadi, sebelum bunyi ponselnya menggema.

Nama penelpon terpampang dilayar ponselnya. Ternyata kekasihnya yang menelpon. Donghae merasa kesal, kenapa harus menelpon segala, tidak biasanya kekasihnya menelpon sekarang. Biasanya dirinya lah yang menelpon terlebih dulu selain kekasihnya. Jika ada keperluan yang sangat penting mungkin ia kekasihnya akan menghubunginya terlebih dahulu.

Karna masih kesal dengan bunyi ponselnya, Donghae langsung melepas batre ponselnya, memasukanya kembali dan memasukan kedalam saku celananya. Melihat Jaekyung yang menatap kearah lain, Donghae dengan sigap langsung menarik tangan Jaekyung, menuntunnya kembali kemobilnya, melanjutkan tugas Donghae yang belum terselesaikan; mengantar pulang.

Sayup-sayup Donghae mendengar dengusan yang berasal dari bibir Jaekyung. Dengusan tersebut, membuat Donghae terkekeh geli. Jaekyung yang mendengar kekehan Donghae, langsung saja Jaekyung mencubit pinggang Donghae dengan sangat keras dan membuat Donghae mengerang sakit dan mengelus-ngelusnya cepat.

“Heis! Kau ini kasar sekali, tak bisakah kau bersikap lembut padaku?” protes Donghae pada Jaekyung. Mendengus kesal Jaekyung yang melihat Donghae seperti itu.

“Aku tak perlu bersikap lembut pada orang sepertimu,”

“Lupakan, aku akan mengantarmu pulang,”

Donghae membuka pintu mobil untuk Jaekyung, setelah Jaekyung masuk kedalam mobilnya, Donghae berlari kecil menuju kearah menegmudi. Setelah dirinya masuk dan memasang sabuk pengaman, Donghae langsung melesatkan mobilnya.

Dalam perjalanan menuju kearah rumah Jaekyung–yang sudah diberitahukan oleh Jaekyung dengan sedikit pemaksaan–akhirnya mereka sampai juga didepan rumah Jaekyung. Rumah yang begitu sederhana, hanya mempunyai dua lantai, kecil tapi membuat siapa yang melihatnya akan terasa nyaman. Hati Donghae sedikit bergejolak ingin sekali mampir sebentar, tapi sepertinya tidak bisa, mengingat kemarahan Ayah Jaekyung beberapa jam lalu membuat Donghae sedikit takut.

Karna tak mendengar suara pintu mobil dibuka, Donghae mengalihkan kesamping mendapatkan Jaekyung yang sudah tertidur sangat pulas. Deonghae berpikir, Jaekyung pasti sangat kelelahan sekali. Dan Donghae merasa bersalah. Dengan gerakan cepat ia keluar dari mobilnya, setelah keluar ia membuka pintu yang ada disamping Jaekyung, melepaskan sabuk pengaman yang dipakai Jaekyung lalu ia mengangkat Jaekyung yang tertidur dalam gendongannya.

Setelah berhasil mengangkat Jaekyung dalam gendongannya, Donghae berjalan kearah pintu pagar rumahnya, setelah dibuka ia langsung bergegas menuju kedepan pintu rumah Jaekyung. Sedikit susah karna gadis yang ada dipelukannya begitu berat. Donghae awalnya berpikir, melihat tubuh Jaekyung yang kurus itu pasti ringan. Tapi nyatanya begitu berat.

Menekan tombol yang ada disamping pintu tiga kali, akhirnya pintu terbuka, mendapatkan Ibu Jaekyung yang sudah memakai pima, wajah Ibu Jaekyung begitu sayu. Donghae berpikir, bahwa Ibu Jaekyung baru saja terbangun akibat tombol yang ditekan oleh Donghae.

“Donghae?” ucap Ibu Jaekyung lumayan kaget dengan kehadiran Lee Donghae didepannya dengan keadaan menggendong putri tunggalnya.

“Apa yang terjadi?” Tanya Ibu Jaekyung kembali dengan nada yang begitu kuatir dengan keadaan anaknya.

“Tidak apa-apa. Jaekyung hanya tertidur saja, dia begitu kelelahan. Boleh aku mengantarnya sampai dikamarnya dan membaringkannya ditempat yang lebih nyaman?” Tanya Donghae dengan sopan, membuat Ibu Jaekyung terpana dengan kelakuan Donghae.

Ternyata apa yang dipikirannya sedikit benar, bahwa Donghae bukan pria brengsek. Donghae mengikuti Ibu Jaekyung yang menuntunnya kearah kamar Jaekyung agar Donghae membaringkan tubuh Jaekyung. Setelah sampai dikamar Jaekyung dan membaringkannya, Donghae menyelimuti tubuh Jaekyung dengan selimut tebal, sebelum meninggalkan Jaekyung Donghae menatap sebentar kearah wajah Jaekyung yang terlelap, wajahnya begitu sangat damai, dan terlihat seperti anak kecil. Donghae tak habis pikir, kalau Jaekyung ternyata kasar seperti yang dilakukan saat dihalte tadi.

Donghae tersadar dari lamunannya, ia membalikan tubuhnya daripada terlalu lama terhipnotis oleh wajah Jaekyung, lebih baik ia segera mengakhiri kekagumannya terhadap wajah Jaekyung. Donghae keluar dari dalam kamar Jaekyung, diluar ia mendapatkan Ibu Jaekyung yang membawa nampan dan diatasnya terdapat secangkir teh.

“Kau sudah mau pulang?” Tanya Ibu Jaekyung pada Donghae.

“Sudah hampir larut, dan aku harus segera pulang,” jawab Donghae dengan perasaan tak enak. Ia tak menyangkan mendapatkan perhatian yang begitu baik oleh Ibu Jaekyung.

Donghae menangkap raut muka kecewa dari wajah Ibu Jaekyung dan perasaannya semakin bersalah. Ia berpikir ulang, meminum teh sambil mengobrol dengan Ibu Jaekyung sepertinya lebih baik. Masalah pulang ia bisa kapan saja. Gerbang dan pintu rumahnya masih akan tetap terbuka untuknya.

Dan akhirnya Donghae menerima tawaran Ibu Jaekyung.

***

Beberapa menit yang lalau Donghae baru sampai dirumahnya. Ia tak sadar bahwa malam sudah begitu larut. Ia terlalu asik dengan acara berbincang dengan–sebenarnya Donghae sangat malu dengan ucapannya–Ibu mertuanya. Mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab, menikahinya dan segalanya apa yang keluar dari mulutnya.

Donghae tak bisa melupakan melihat raut wajah Ibu Jaekyung yang begitu sangat bahagia mendengar ucapan Donghae. Dan raut wajah Ibu Jaekyung yang begitu bahagia, membuat hati Donghae begitu bimbang. Pernikanan yang nanti tak akan lama lagi akan hancur.

Mungkin selama Jaekyung mengandung selama Sembilan bulan, dan mengurus anak mereka selama beberapa bulan, kemudian akhirnya mereka berdua akan sepekat mengurusi perceraian. Membayangkan seperti itu membuat dirinya begitu tak tenang.

Donghae melepaskan kemejanya, menyisakan kaos yang membalut tubuhnya. Ia butuh merendam tubuhnya dengan air yang hangat. Mungkin saja pikiran yang mengusik otaknya segera pergit. Tiga puluh menit untuk menenangkan dirinya dan merilekskan tubuhnya, Donghae berjalan dengan gontai kearah kasurnya yang tak begitu jauh. Setelah sampai dikasur dan merebahkan tubuhnya akhirnya rasa kantuk tersebut tak terbendung lagi. Ia jatuh tertidur didalam kamar yang begitu nyaman untuk dirinya, atau untuk mereka berdu–dirinya dan jaekyung–tertidur didalam kamarnya.

Tapi lebih baik ia membeli rumah sendiri agar ia tak ketahuan oleh orang-orang yang terdekat dirumahnya. Donghae menghela napasnya pelan, sebelum dirinya benar-benar terjatuh kedalam alam bawah mimpi yang begitu sangat indah untuk dirinya.

−TO BE CONTINUED−

 

Errr− kalo masalah sepasi pada ilang jangan salahkan saya, karna emg Facebooknya yang eror atau apa. And, kalau masalah Typo aku udah usahain buat ngilangin Typo, mata aku kura jeli atau apa. Atau kalian bisa koreksi mana yang typo atau kata-katanya kurang. Sekian.

 

P.S: REVIEW!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

8 thoughts on “If This Was a Movie [Part 3]

  1. hadoooh ayah jaekyung galak bget yah.. tp smua ayah psti mlakkan sprti ayah han klo anaknya dhamili orang…
    untung dnghae mau bertanggungjawab.. kayaknya tuh mereka ada rasa tp knapa mrk menyangkal y..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s