If This Was a Movie [Part 4]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

                   If This Was a Movie by Taylor Swift

 

P.S: ini membosankan…

 

−Story by VyeJungmin−

 

***

 

Jaekyung mengerjapkan matanya dengan sangat pelan, menetralkan cahaya matahari yang menyorot langsung kearah wajahnya. Ia mengusap-usap kedua matanya, setelah dirasa matanya sudah nyaman dengan penglihatannya, ia segera bangun, beranjak dari kasurnya. Berjalan kearah kamar mandi yang ada didalam kamarnya.

 

Tunggu sebentar, kamarnya? Seingatnya ia masih berada didalam mobil Donghae dan sekarang ia ada didalam kamarnya sendiri. Ia mengingat kejadian tadi malam, dan seketika pipinya merona. Ia ketiduran dan ternyata Donghae lah yang mengantarnya sampai dikamarnya.

 

Sampai kamar? Seketika Jaekyung keluar dari dalam kamarnya, berlari menuju kearah dapur yang pasti akan ada Ibunya didapur sana. Setelah sampai didapur, Jaekyung langsung menuju kearah Ibunya.

 

“Eomma, apa Donghae yang mengantarkanku sampai kekamarku?” Tanya Jaekyung langsung pada Ibunya yang mengangsurkan segelas air meniral pada Jaekyung dan langsung diterimanya, lalu langsung menghabiskan segelas air meniral tersebut.

 

“Iya, tadi malam Donghae yang mengantarmu sampai didalam kamarmu. Kau tertidur sangat pulas didalam gendongannya.” Jawab Ibunya, Jaekyung menghela napasnya pelan dan langsung tubuhnya menegang kembali.

 

“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Jaekyung kembali. Mendengar pertanyaan Jaekyung, Ibunya mengerutkan keningnya heran. Apa maksud dari pertanyaan itu? Seketika mengerti dengan pertanyaan anaknya, dengan segera ia menjawab pertanyaan anaknya.

 

“Dia tak apa-apa, Ayahmu tidur, walaupun ia bangun saat Donghae mengetuk pintu dan Ibu yang membukakan pintu untuknya agar segera masuk. Setelah ia memindahkanmu dari gendongannya kekasurmu, ia keluar dan Ibu langsung mencegahnya untuk pulang, sebentar untuk berbincang-bincang dengannya. Kau tahu? Ibu menyukainya, ia begitu sopan, tak seperti apa yang kau dan Ayahmu yang berpikiran buruk tentangnya.” Ucap Ibunya dengan wajah yang berseri-seri. Jaekyung yang melihat Ibunya yang berseri-seri seperti itu hanya bisa melongo melihatnya.

 

Jaekyung berpikir, Donghae telah menaklukan Ibunya sampai-sampai Ibunya seperti seorang gadis muda yang sedang dimabuk oleh cinta. Jaekyung juga penasaran apa yang mereka bicarakan malam tadi? Sepertinya sangat seru sekali.

 

“Memang, apa yang kalian bicarakan tadi malam, saat aku tertidur?”

 

“Pembicaraan tentang dia yang melamarmu dihadapanku,”

 

Jaekyung langsung tersedak oleh minuman yang baru saja melewati kerongkongannya, apa ia tak salah dengar dengan ucapan Ibunya? Melamar didepan Ibunya? Astaga! Otak pria itu ada dimana saat ia berbicara akan menikahinya. Mungkin saja pria itu sudah gila saat malam tadi.

 

Ibu Jaekyung masih menepuk-nepuk punggung milik anaknya dengan pelan, agar batuk-batuk kecil itu segera hilang. Setelah kejadian tersedak itu, Jaekyung langsung menatap kearah wajah sang Ibu, menuntut untuk menjelsakan apa yang terjadi. Melihat raut wajah anaknya, segera untuk menjelskannya.

 

“Sebenarnya Ibu yang memaksanya untuk meminum teh sebentar disini, bercakap-cakap tentang apa saja. Tapi, beberapa saat tak membuka suara, ia kembali membuka suaranya, dan setelah itu ia mengatakan bahwa ia akan menikahimu, ia tak tahu kapannya ia akan menikahimu, yang ia bilang mungkin kurang dari sebulan atau satu setengah bulan. Ia akan membicarakannya pada kedua orang tuanya, kalau kedua orang tuanya setuju, ia juga akan kembali kesini, meminta restu pada Ayahmu, karna Ibu sudah member restu malam tadi.” Ucap Ibu Jaekyung panjang lebar menjelaskan apa yang dibicarakan malam tadi dengan Donghae.

 

Jaekyung hanya bisa ternganga dengan apa yang diceritakan oleh Ibunya. Dia masih tak percaya, bagaimana mau percaya jika malam tadi saja Donghae menolak mentah-mentah untuk menikahinya, malah dia yang memberikan solusi untuk menggugurkan kandungannya. Tapi apa yang didengarnya tadi? Demi Kim Jaejoong seniornya yang sangat tampan berharap menjadi kekasihnya suatu saat nanti, ia tak akan percaya dengan ucapan Ibunya.

 

“Lebih baik kau masuk kedalam kamarmu, mandi dan turunlah lagi untuk sarapan disini, Donghae mengatakan pada Ibu untukmu agar kau makan dengan teratur dan banyak gizi agar bayi kalian sehat,” ucap Ibunya kembali, membuat Jaekyung ternganga sangat lebar.

 

Melihat anaknya yang tak bernajak dari duduknya, Ibu Jaekyung langsung menyentuh pergelangan anaknya mengajaknya untuk memasuki kamar Jaekyung dan menyuruhnya untuk segera mandi, dan ketika melihat anaknya yang sudah berpakaian sangat rapih, wajahnya begitu segar dibandingkan tadi, kini mengajak anaknya untuk segera makan.

 

***

 

Donghae menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kembali lamaran malam tadi ia utarkan pada Ibu Jaekyung. Ia berpikir bahwa otaknya tiba-tiba saja hilang, dan dengan santai–sangat santai–mengatakan bahwa ia akan menikahi Jaekyung kurang lebih sebulan atau satu setengah bulan ia akan menikahinya.

 

Sekarang ia benar-benar bingung apa yang akan dikatakan pada kedua orang tuanya. Tak mau berlama-lama dengan pikirannya yang sedang kacau, Donghae beranjak dari tidurnya, berjalan menuju kearah kamar mandinya. Berendam mungkin pilihan yang sangat menyenangkan untuk menjernihkan pikirannya.

 

Setelah beberapa menit berendam, ia dengan cepat membilas tubuhnya lalu keluar untuk berpakaian. Setelah melihat penampilannya didepa kaca besar yang ada dikamarnya, menilai penampilannya, serasa penampilannya rapih dan enak dipandang, Donghae segera keluar dari dalam kamarnya.

 

Menuruni tangga sambil mencari sosok kedua orang tuanya. Donghae berjalan menuju kearah ruang makan, karna ini masih pagi dan ia pastinya kedua orang tuanya masih ada diruang makan untuk menjalani ritual setiap paginya–sarapan–.

 

“Selamat pagi,” sapa Donghae sambil berjalan kearah kedua orang tuanya yang sedang duduk dihadapan meja makan.

 

Keduanya mendongak melihat Donghae yang berjalan lalu menarik kursi dan langsung diduduki oleh Donghae, Ibunya menjawab, “pagi sayang,” sapanya sambil mengelus punggung tangan Donghae yang ada diatas meja.

 

Donghae menatap kearah Ibunya lalu tersenyum. Setelah member senyuman pada Ibunya, Donghae mengalihkan pandangannya pada Ayahnya yang masih sibuk dengan makanan yang ada dihadapnnya. Donghae merasa gugup melihat Ayahnya yang hanya diam saja. Lebih baik ia mengisi perutnya terlebih dahulu lalu ia akan membicarakan apa yang membuat pikirannya tak tenang seperti ini.

 

Sarapan pagi yang begitu tenang. Setiap paginya memang seperti ini, tapi pagi kali ini benar-benar sangat mencekam untuknya. Aura Ayahnya begitu mencekam, membuat bulu roma Donghae berdiri, dan membuat dirinya tak begtiu nyaman.

 

Sepuluh suap nasi goreng yang kini masuk kedalam perutnya, ia menghentikan makannya, meneguk segelas air putih untuk melancarkan pencernaanya. Sebelum membuka suara, Donghae menghela napasnya pelan, menetralkan perasaannya yang gugup menjadi sedikit tenang.

 

“Eomma, Appa,” ucap Donghae yang menghentikan pergerakan kedua orang tuanya yang sedang meminum. Ayah Donghae menatap kearah kedua manik mata anaknya, menunggu apa yang akan dibicarakannya.

 

Kembali Donghae menghela napasnya, tiba-tiba saja perasaan gugup kembali menyerangnya, ia berpikir bahwa Ayahnya akan begitu murka dengan ucpannya nanti. Tapi jika tak melakukannya, mungkin Ayahnya akan lebih marah lagi.

 

“Gadis itu, memang hamil karna diriku,” ucap Donghae hati-hati. Sekilas Donghae menatap kearah Ayahnya. Donghae melihat Ayahnya yang tak menunjukan reaksi apapun. Donghae menghela napasnya.

 

Suasana masih hening beberapa saat, Donghae kembali menyibukan dirinya dengan menatap gelas yang berisikan air putih. Bagaimana pun juga Ayahnya sekarang terlihat sangat menyeramkan, dua kali ini Donghae melihat wajah Ayahnya yang seperti ini. Pertama kali saat ia pernah bolos sekolah dan memcahkan guci kesayangan Ayahnya yang baru saja sampai dari cina. Saat itu Ayahnya benar-benar seperti seorang pembunuh berdarah dingin, tak berbicara dengannya selama satu minggu dan itu Donghae tak akan mengulai kejadian yang seperti saat itu.

 

Tapi nasib berkata lain, sekarang ia mengembalikan kemurkaan Ayahnya saat ia dimasa menjadi seorang murid. Donghae menatap kearah Ibunya yang sedang menyibukan diri dengan menyuapkan nasinya kedalam mulutnya. Ibunya juga tak kalah takut dengan Donghae. Kembali, Donghae menghembuskan napasnya.

 

“Jadi bagaimana akhirnya?” Donghae terhenyak, mengalihkan pemandangannya yang semuala memandangi gelas, kini beralih menatap kearah Ayahnya.

 

“Sebagai pria yang baik dan santun, aku akan bertanggung jawab apa yang telah aku lakukan pada Jaekyung. Aku tak mungkin menghancurkan keluarga kita, tak akan mengancurkan perusahaan kita yang dari tingkat nol sampai ketingkat yang lebih besar. Seperti sekarang ini, aku tak ingin mengecewakan kerja keras kakek yang dengan susah payah membangun perusahaan ini,” Donghae menjeda ucapannya, “aku ingin membahagiakan Appa dan Eomma, tapi aku tak bisa membahagiakan seluruhnya, karna aku tak menikah dengan Park Hyera, anak teman bisnis Ayah,” ucap Donghae menyelesaikan. Hatinya sudah cukup lega dengan apa yang ia katakana.

 

Donghae menatap kearah manik mata Ayahnya, ia tak setakut tadi, kini ia mulai berani. Dan Donghae melihat seulas senyum dari Ayahnya. Kini hatinya bertambah sangat begitu senang. Ia tak percaya melihat perubahan raut wajah Ayahnya yang semula seperti seorang pembunuh, kini wajahnya sudah memancarkan senyum yang sangat menawa.

 

“Semua ada ditanganmu, kau sudah dewasa dan sudah bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Ayah hanya ingin melihat dirimu bagaimana menanggapi masalah yang kau buat sendiri dan menyelesaikan dengan caramu sendiri.” Ucap Ayah Donghae sambil tersenyum.

 

Donghae menghirup udara yang tadinya hilang kini berebut masuk kedalam lubang hidungnnya.  Donghae menatap kearah Ibunya yang tengah tersenyum kearah Donghae dan suaminya.

 

“Jadi kapan kau akan menjalankan resepsi pernikahannya?” ucap Ibunya dengan pandangan yang berseri-seri sambil menatap Donghae yang tak percaya dengan ucapan Ibunya.

 

 

***

 

Donghae berjalan menelusuri koridor dengan langkah yang pelan, membalas siapa saja yang menyapanya jika sedang berjalan melewatinya atau sedang mengerumpi didepan kelas mereka masing-masing. Donghae melihat kekasihnya–Park Hyera–sedang bersenda gurau dengan teman-teman satu kelasnya.

 

Melihat kekasihnya yang sedang tertawa dengan teman-temannya, tiba-tiba saja Donghae menghentikan langkahnya, menatap kearah kekasihnya beberapa saat untuk memikirkan bagaimana selanjutnya jika ia mengatakan bahwa ia kan menikah.

 

Sepertinya memberitahukan pada kekasihnya, tentang ia akan menikah ia urungkan kembali. Donghae kembali berjalan kearah kekasihnya. Wajahnya yang tadi sedikit suram, kini ia menghisainya dengan senyuman yang akan mengikat gadis mana yang melihat senyumannya.

 

Melihat kekasihnya yang menoleh kearahnya, Donghae langsung melambaikan tangannya untuk menyapa kekasihnya. Hyera yang melihat Donghae langsung membalas lambaian tangan Donghae. Beberapa teman Hyera berpamitan untuk pergi, meninggalkan privasi sepang kekasih.

 

Donghae melihat Hyera yang sedang merapihkan penampilannya, Donghae berpikir bahwa Hyera akan selalu cantik dalam penampilan apapun, seperti sekarang ini, padahal tidak ada dari penampilannya yang berantakan. Well¸ hanya rambutnya yang berantakan terkena angin. Tapi itu tak mengurangi kecantikannya.

 

“Hai,” sapa Donghae saat ia sudah sampai dihadapan Hyera.

 

Mendengar sapaan dari Donghae, Hyera langsung membalasnya, “hai juga,”

 

“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tanya Donghae yang langsung mendapatkan kekehan dari mulut Hyera. Donghae hnya bisa menatapnya dengan kerutan dikeningnya. “Apa ada yang lucu?” Tanya Donghae melanjutkan pertanyaannya.

 

“Kau ini, kita baru saja tak bertemu selama beberapa Jam, kau ini manja sekali,” kekeh Hyera sambil mendekap Donghae.

 

Sebenarnya Donghae tak menyukai adegan seperti ini. Benar-benar memalukan untuknya sendiri, ia berfikir ini terlalu berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi, kekasihnya selalu seperti ini jika ia ada dihadapannya.

 

Donghae melepaskan dekapan Hyera, menatap kearah manik matanya. Donghae ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tak begitu berani. Ia tak ingin mengkhianatinya, tak ingin menyakitinya. Donghae membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya menikah dengan Jaekyung.

 

Mengingat Jaekyung, Donghae ingin tahu bagaimana kabarnya pagi ini, ia sudah berpesan pada Ibunya agar Jaekyung makan dengan teratur dan menjaga kandungannya. Saat itu pula Donghae ingin sekali menampar dirinya sendiri, kenapa disaat-saat seperti ini ia memikirkan gadis lain yang bukan siapa-siapanya, bahkan sekarang dia bersama dengan kekasihnya.

 

Sepertinya Jaekyung benar-benar memikat dirinya dengan pesona Jaekyung. Padahal kalau dilihat, Jaekyung memang biasa-biasa saja. Bukan kah sudah diberitahukan kalau Jaekyung bukan gadis idamannya. Tapi malam tadi, ia berpikiran ulang, Jaekyung sangat cantik jika diperhatikan lebih intens lagi. Wajah yang polos, Donghae berpikir bahwa Jaekyung tak pernah memakai Make up untuk mempercantik dirinya, karna memang Jaekyung sudah cantik.

 

Sekali lagi, Donghae ingin membuang sisi dirinya yang kembali memikirkan Han Jaekyung yang bukan siapa-siapanya–walaupun sebentar lagi menjadi istrinya–. Donghae kembali memfokuskan dirinya pada Hyera yang sedari tadi diam, memainkan ponsel yang ada ditangannya.

 

Donghae baru menyadari, kalau sedari tadi mereka saling diam, tak membuka suara sedikitpun. Memikirkan urusan mereka masing-masing. Tangan Donghae tanpa bisa mencegah bergerak mengelus puncak kepala Hyera dengan sangat lembut, membuat Hyera yang merasakan usapan lembut dipuncak kepalanya menoleh kearah samping Donghae.

 

“Wae?” Tanya Donghae yang ditatap seperti itu oleh Hyera.

 

Hyera yang mendengar pertanyaan Donghae dengan segera menggelengkan kepalanya dengan pelan. Keduanya kembali terdiam, Hyera membalikan tubuhnya, menghadap kearah taman kampus mereka, menatap pemandangan yang ada dihadapannya. Sedangkan Donghae masih bimbang dengan pilihan hatinya. Disatu sisi ia tak ingin meninggalkan Hyera, disatu sisi lainnya ia tak ingin menjadi pria brengsek yang tak bertanggung jawab apa yang setelah ia perbuat.

 

Mata Donghae menelusuri semua yang ada dikampusnya, dengan segera ia membalikan tubuhnya, menghadap kearah pemandangan yang ada didepannya, mengikuti apa yang dilakukan oleh Hyera seakarng ini.

 

“Kau sibuk?” Tanya Hyera yang beberapa saat tadi seperti bertahun-tahun lamanya mengindap didalam sel penjara. Sepi sekali, dan sedikit mencekam, yah, sedikit berlebihan juga mengatakan sedikit mencekam tadi.

 

“Sepertinya tidak akan ada yang aku lakukan beberapa hari berikutnya.” Jawab Donghae pelan. Hyera membalikan tubuhnya, menghadap kearah Donghae dan langsung memluk Donghae dengan erat.

 

Donghae mngusap-usap punggung Hyera dengan sangat pelan dan lembut. Mata Donghae tak sengaja bertemu dengan wajah yang begitu familiar disini, karena hanya gadis itu tak menunjukan ketertarikannya sedikitpun pada Lee Donghae yang paling sangat tampan.

 

Jaekyung yang baru saja keluar dari dalam perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam dari perpustakaan, kini ia duduk ditaman yang ada dikampusnya. Setelah duduk dengan sangat nyaman, Jaekyung mengambil benda persegi panjang serta mengambil Headset yang ada didalam tasnya, setelah mengambil ia pasangkan keponselnya, memutar lagu dari Music Player dari ponselnya.

 

Donghae masih mengamati Jaekyung yang sedang duduk dikursi taman dengan sangat nyaman. Sepertinya gadis itu tak mempunyai masalah apapun dengan keluarganya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang begitu tenang dan damai. Tak seperti dirinya yang dilanda dengan kebimbangan.

 

Merasakan Hyera lepas dari pelukannya, ia segera mengalihkan pandangannya yang sedari tadi memandangi Jaekyung. Kini ia mengalih pandangannya pada kekasihnya, Hyera.

 

“Aku harus mengerjakan tugasku dulu Donghae~a, aku pulang dulu. Kau tahukan bahwa aku harus fokus dengan kuliahku agar aku mendapatkan nilai yang sangat tinggi agar aku bisa menjadi seorang seperti Ayahku,” ucap Hyera pada Donghae.

 

Mendengar ucapan Hyera, membuat Donghae sedikit geram. Dan inilah permasalah yang mengakibatkan Jaekyung sampai hamil seperti ini. Hyera terlalu berlebihan untuk menjadi seorang seperti Ayahnya. Donghae bertengkar dengan Hyera karena Hyera menolak ajakan Donghae untuk segera menikah, karena Hyera terlalu berambisi untuk menjadi seperti Ayahnya, jadi ia menolak ajakan Donghae.

 

Karena ditolak seperti itu, Donghae kesal dan pergi begitu saja meninggalkan Hyera yang ada dihadapannya. Ia tak perduli dengan Hyera saat itu. Dan akhirnya ia datang keacara pesta yang diadakan oleh rekan satu kampusnya, mabuk, Jaekyung. Dan kalian tahu apa yang dilakukan oleh mereka sampai Jaekyung hamil.

 

Melihat kekasihnya yang sudah pergi menghilang dibelokan koridor, Donghae berjalan kearah Jaekyung yang sedang membaca sebuah buku ditangannya. Diam-diam Donghae duduk disampingnya. Jaekyung tak menyadari kehadiran Donghae karena begitu asik dengan kegiatan membacanya.

 

Dari samping Jaekyung terlihat cantik, tapi aslinya juga memang cantik, mempesona. Apalagi dengan rambut coklat hitaman miliknya yang benar-benar pas membingkai wajahnya. Donghae terkesiap, mendengar sebuah buku yang diadukan, menjadi suara yang keras dan memekikan, dan lamunannya terbuyar sudah.

 

“Kau! Apa yang kau lakukan disini? Menatapku, eh?” Tanya Jaekyung sarkatis pada Donghae yang masih saja melongo bak seorang idiot.

 

“Kau mengagetkanku, tahu!” jawab Donghae sambil mengelus tengkuknya yang menunjukan bahwa ia sedang gugup.

 

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Jaekyung pada Donghae yang terlihat gugup, “jangan gugup seperti itu,” lanjut Jaekyung yang langsung mendapatkan acakan rambut dari Donghae.

 

Sadar tak sadar saat Donghae mengacak rambut miliknya, tiba-tiba saja tubuhnya seperti tersengat oleh aliran listrik. Ia tak mengerti dengan daya kerja tubuhnya. Padahal ia sering mendapatkan acakan rambut dari semua teman-teman pria yang satu jurusan dengannya. Tapi, berbeda dengan Donghae.

 

Melihat raut wajah Jaekyung dan sadar dengan tangannya yang entah sejak kapan sudah bertengger manis mengacak-acak rambut Jaekyung, Donghae langsung menarik kembali tangannya yang begitu sangat lancang. Sungguh, ia tak menyadari apa yang ia lakukan tadi.

 

Dengan canggung, Donghae menghentikan kegiatannya tadi. Sungguh ia malu sekali. Donghae berdeham pelan untuk mencairkan suasana yang dilanda oleh keduanya. Jaekyung sendiri kini mulai membaca buku yang ia acuhkan beberapa saat tadi.

 

Suasana begitu sepi kembali, membuat Donghae sedikit tak nyaman dengan keadaannya. Ia ingin mencairkan situasi seperti ini. Tapi, ia tak bisa mencari topik yang pas untuk dibicarakan. Tapi sepertinya otaknya tak mau diajak kerja sama saat ini.

 

“Kau masih ingin disini?” Tanya Jaekyung pada Donghae yang kembali kaget dengan suara Jaekyung yang tiba-tiba. “Tsk! Kenapa malah melamun? Aku harus pergi, mengerjakan tugas kelompok deng–ah, kenapa aku memberitahumu, padahal kau bukan siapa-siapaku? Benar?” mendengar ucapan Jaekyung Donghae hanya bisa memutar bola matanya bosan. Ternyata gadis ini menyebalkan. Pikir Donghae.

 

“Kerja kelompok dengan siapa?” Tanya Donghae yang langsung mengrutuki bibirnya yang mengluarkan ucapan seperti itu. Ia berpikir, bahwa ia seperti seoarang kekasih yang terlihat akan pencemburuan. Dan saat itu ia langsung tersenyum. “Aku harus tahu, karena kau calon Istriku. Nanti.” Ucap Donghae dengan perasaan santai serta menaikan sudut bibir sebelah kirinya.

 

Jaekyung yang melihat senyuman Donghae, membuatnya ingin sekali memukul kepala pria disampingnya. Benar-benar sangat menyebalkan sekali. Jaekyung memasukan kembali Headsetnya kedalam tas, setelah itu ia langsung melenggang pergi. Tapi belum sampai tiga langkah, pergelangan tangannya dicekal oleh Lee Donghae. Siapa lagi pria yang ada dibelakangnnya kalau bukan Lee Donghae?

 

“Apa lagi?” Tanya Jaekyung bosan dengan tingkah Donghae.

 

“Bisa bicara tentang malam tadi?” Tanya Donghae yang mengabaikan protesan Jaekyung. Mendengar pertanyaan Donghae, Jaekyung langsung terdiam. Pertanyaan ini benar-benar membuat moodnya buruk seketika.

 

“Nah, terserah kau saja. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang ada didalam perutku, walaupun kau tak ingin bertanggung jawab,” jawab Jaekyung dengan begitu tenang. Melihat ketengan Jaekyung Donghae hanya bisa bergerak-gerak gelisah ditempat duduknya.

 

“Kau tak diberitahukan oleh Ibumu?” Jaekyung tersenyum samar mendengar ucapan yang keluar dari bibir Donghae.

 

Sebelum menjawab pertanyaan Donghae, Jaekyung kembali melangkah kearah kursi taman yang ia duduki tadi, “tentang lamaramu? Pesanmu agar aku makan dengan banyak agar kandunganku dan diriku baik-baik saja? Tentu aku sudah tahu dari Ibuku. Hanya saja, aku bingung untuk menjawab lamaramu,”

 

“Kalau kau menerima lamaranku, kita– ”

 

“Oh, kau menggunakan ‘kita’ membuatku sedikit takut,” ucap Jaekyung yang mendengar ucapan Donghae.

 

“–akan pergi, melihat-lihat rumah untuk kita tinggali,” ucap Donghae melanjutkan ucapannya yang tepotong tadi akibat ucapan Jaekyung yang tak terima dengan ucapan Donghae dengan menggunakan ‘kita’.

 

Jaekyung diam, tak tahu harus melakukan apa, ini terlalu sangat cepat untuk menjalankan semuanya. Tapi kalau Donghae tak menikahinya, keluarganya pasti akan sangat malu. Jika Donghae tak akan bertanggung jawab, dipastikan perutnya akan semakin membesar, dan ia pasti akan mendapatkan cemoohan dari tetangga-tetangganya.

 

“Kalau tak lupa, setelah melahirkan dan mengurusnya sampai umur enam bulan kita bisa berpisah. Tak kah kau berpikir, bahwa pernikahan itu sebuah ikatan yang sangat sakral, tak untuk bermain-main seperti ini, Lee Donghae! Mungkin ini cukup untuk pembicaraan kita hari ini, karena yang kupasti teman-temanku sudah sampai ditempat tersebut.” Ucap Jaekyung panjang lebar, yang membuat Donghae memandangnnya tak percaya.

 

“Tak bisakah kau tinggal sebentar, melupakan tugasmu terlebih dulu?” ucap Donghae, saat Jaekyung melangkahkan kakinya. Berjalan untuk meninggalkannya.

 

 

Jaekyung berhenti berjalan, “apa yang ingin kau katakan lagi?” Tanya Jaekyung yang tak membalikan tubuhnya. Melihat Jaekyung yang seperti itu, Donghae manrik tangan Jaekyung agar Jaekyung duduk kembali ketempat yang seperti semula.

 

Jaekyung mendengus kesal mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia seperti seorang kekasih yang mencampakan pasangannya. Membayangkan dirinya sebagai kekasih laki-laki yang sedang menggenggam pergelangan tangannya membuat Jaekyung sedikit bergidik.

 

Bukan, bukan bergidik ketakutan, melainkan.. entah apa yang Jaekyung rasakan saat kulit mereka bersentuhan. Seperti kupu-kupu yang berterbangan didalam perutnya, kulit seperti tersengat listrik. Dan Jaekyung tak mengerti dengan semuanya itu.

 

“Kalau memang ingin membicarakannya, bisa kita bicara ditempat yang aman untuk kita berdua? Bukan ditempat seperti ini!” desis Jaekyung sambil menatap kesekelilingnya, mendapati beberapa mahasiswa yang sedang menatap kearah mereka dengan tatapan penasaran dan tajam.

 

Jaekyung membalas tatapan mereka dengan tak kalah tajam. Jaekyung berfikir mereka siapa mau melototi dirinya. Bukankah selama ini tak terkenal, dan kenapa kini mendadak seperti ini. Dan saat itu pula Jaekyung menepuk keningnya tak keras. Ia menolehkan kesampignnya, mendapatkan Donghae yang tersenyum manis padanya.

 

Melihat Donghae yang masih saja tersenyum, Jaekyung langsung mengalihkan tatapannya kearah lain. Beberapa saat mereka hanya dalam keadaan kebisuan, Jaekyung kembali beranjak, meninggalkan Donghae yang masih saja diam.

 

Melihat Jaekyung yang beranjak dari duduknya, Donghae segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Jaekyung. Sebelum meninggalkan tempat duduknya, Donghae menatap kearah orang-orang yang ada disekitarnya. Menatap kearah mata mereka langsung, Donghae member tatapan -kalian-mau-aku-pukul dan mereka semua yang menatap kearah Donghae langsung mengalihkan pandangannya.

 

Beberapa saat Donghae segera tersadar, Jaekyung sudah jauh dari jarak pandangnya. Melangkah ‘kan kakinya besar-besar agar menyamai langkah kaki Jaekyung. Donghae mnemelankan lengkah kakinya saat ia hampir dekat dengan Jaekyung. Menjaga jarak agar tak ada satu pun yang mencurigakan dari gerak-gerik dirinya.

 

Melihat sekelilingnya sepi, Donghae langsung menyamai langkah Jaekyung, “jadi kita akan membicarakannya dimana? Kau membuang-buang waktuku sekarang,” keluh Donghae saat Jaekyung yang masih melangkahkan kakinya entah akan pergi kemana.

 

Mendengar keluhan dari mulut Donghae, Jaekyung hanya bisa menggeram kesal. Jaekyung baru tahu, selain menyebalkan, Donghae juga suka sekali mengeluh seperti ini. Berhenti disebuah ruangan kosong, Jaekyung segera memasuki ruangan tersebut, setelah masuk Jaekyung membalikan tubuhnya, menghadap kearah Donghae yang ternyata sudah masuk dan menutup pintu.

 

“Han Jaekyung!” ucap Donghae yang sudah duduk disebuah kursi.

 

Donghae yang melihat Jaekyung hanya diam saja, ia hanya bisa menggeram kecil. Ia memerhatikan gadis yang ada didepannya, kembali ia menilai penampilan Jaekyung yang terbilang sangat sederhana. Tidak seperti gadis-gadis lain yang ada dikampus mereka. Jaekyung berbeda, wajahnya yang polos tanpa Make up. Mungkin kalau kalau dipikir-pikir lagi oleh Donghae, Jaekyung pasti hanya memakai bedak baby. Dan kembali ia mengomentari Wajah Jaekyung yang terbilang polos, tapi kalau diperhatikan lagi sedikit sangar juga.

 

Tanpa sadar Donghae terkekeh pemikiran yang terlintas didalam otaknya. Melihat Donghae yang terkekeh pelan seperti itu, Jaekyung mengalihkan tatapannya kearah Donghae, menaikan alis sebelahnya, ia terheran melihat Donghae.

 

“Kau seperti orang gila,”

 

“Benarkah?”

 

“Iya, kau tertawa sendiri seperti orang gila,”

 

“Ya, ya, ya terserah kau saja, je~” mendengar nama panggilan khusus yang dibuat oleh Donghae untuk dirinya, Jaekyung hanya bisa mengerut kesal.

 

Je~? Yang benar saja Lee Donghae!!! Kau memanggilku dengan sebutan seperti itu!” ucap Jaekyung tak terima. Tapi ‘Je~’ yang keluar dari mulut Donghae benar-benar begitu indah dikumandangnkan.

 

“Kenapa? Bukankah itu lebih praktis untuk namamu? Je~ aku menyukainya.” Balas Donghae sambil memandang wajah Jaekyung. “Hei, matamu bulat, besar dan aku menyukainya,” ucap Donghae tanpa sadar.

 

Mendengar pujian langsung dari bibir Donghae, wajah Jaekyung langsung panas. Dan dipastikan wajahnya sudah memerah bak udang rebus. Menyadari keadaan sunyi, Jaekyung berdeham pelan. Mendengar dehaman pelan yang dilakukan oleh Jaekyung, Donghae tersadar oleh pesona yang dipancarkan oleh mata Jaekyung. Dengan segera ia alihkan pandangannya kearah lain. Ia benar-benar malu, ketahuan memandang wajahnya secara terang-terangan.

 

“Maaf,” ucap Donghae palan. Mendengar ucapan maaf dari Donghae, Jaekyung hanya menganggukan kepalanya pelan.

 

“Oke, keadaan ini benar-benar membuat kita konyol, jadi mari kita bicarakan apa yang kau katakana ditaman tadi!” ucap Jaekyung terlihat jengkel.

 

Donghae berdeham pelan, “kita menikah sampai kau melahirkan, dan membesarkan anak kita sampai dia berumur enam bulan. Setelah itu kita bisa mencari cinta kita yang sebenarnya,” Jaekyung memutar bola matanya setelah mendengar ucapan Donghae.

 

Dalam hidup Jaekyung, pernikahan itu harus benar-benar sakral. Dan ia tak pernah berniat untuk menikah kedua didalam hidupnya. Tapi apa yang dialami sekarang benar-benar sangat konyol. Mernikahan, cerai, menikah kembali dengan laki-laki lain. Benar-benar melanggar perjanjian apa yang diucapkan pada saat upacar pernikahan nanti.

 

“Terserah kau saja, dan itu sudah kau katakan tadi malam. Jadi hanya itu yang ingin kau katakan?” balas Jaekyung malas.

 

“Satu bulan atau dua bulan kita mempersiapkan pernikahan kita nanti. Dan aku ingin bertanya, kau ingin tinggal bersama denganku dan kedua orang tuaku? Atau denganku saja?”

 

“Kau ingin sandiwara kita diketahui oleh orang tuamu? Benar-benar sangat jenius sekali Lee Donghae,” jawab Jaekyung sarkatis mendengar pertanyaan Donghae.

 

“Apa salahnya aku bertanya?” dengus Donghae kesal mendengar ucapan Jaekyung.

 

“Ya, ya, ya,” ucap malas Jaekyung, “terserah kau saja.” Lanjut Jaekyung.

 

“Ya sudah, sana pergi,” usir Donghae pada Jaekyung. Mendengar tutur kata dari Donghae membuat Jaekyung reflek memukul kepala Donghae dan alhasil Donghae yang mendapatkan pukulan dari Jaekyung langsung mengeluh kesakitan dan mengelus-elus kepalanya.

 

“Tanpa kau suruhpun aku akan pergi dari hadapanmu, Lee Donghae!” Jaekyung menghentakan kakinya, keluar dari ruangan kosong tersebut.

 

Donghae tersenyum melihat suara ketus yang diucapkan oleh Jaekyung tadi. Benar-benar gadis yang sangat menarik. Well, yah, Jaekyung bukan tipe ideal gadisnya. Tapi, entah, setiap kali bertatapan dirinya selalu merasa gugup. Dia tak tahu apa maksudnya itu.

 

 

***

 

“Han Jaekyung, lama sekali kau,” dengus salah satu temannya. Jaekyung baru saja sampai ruangan yang sudah dijanjikan oleh teman-temannya untuk mengerjakan tugas kelompoknya.

 

“Maaf, tadi aku ada keperluan sebentar, Gikwang-a,”

 

“Yah, bersama dengan Lee Donghae?” ucap teman Jaekyung yang bernama Gikwang.

 

“Kau tahu dari mana?” Tanya Jaekyung yang begitu terkejut dengan ucapan Gikwang.

 

Gikwang yang mendengar pertanyaan Jaekyung hanya tersenyum tipis mendengarnya. “Banyak sekali yang membicarakanmu tadi, termasuk kekasihku. Kekasihku bilang kalau ini pertama kalinya ia melihat kau yang didekati oleh laki-laki selain diriku, Cho Kyuhyun dan laki-laki yang satu kelas dengan kita,”

 

“Ah, memang kenapa kalau aku duduk berdua dengan seorang yang bernama Lee Donghae?” Tanya Jaekyung yang sedikit gugup. Dia baru menyadari kalau kedekatannya dengan laki-laki yang bernama Lee Donghae akan berdampak seperti ini.

 

“Terlebih lagi kau tak tertarik dengan Lee Donghae. Itu benar-benar sangat mengagumkan, kau tahu?” Jaekyung memutar bola matanya. Mendengar ucapan Gikwang benar-benar membuat perutnya mual.

 

“Tutup mulut, Lee Gikwang. Sebenarnya kita akan mengerjakan tugas atau ingin menggosip tentang aku dengan Lee Donghae itu?” ketus Jaekyung pada Gikwang.

 

Melihat Jaekyung yang begitu kesal membuat Gikwang mendapatkan hiburan semata. Yang awalnya begitu bosan karena menunggu Jaekyung yang lama datang, kini mendapatkan hiburan yang menyenangkan. Jika sedang marah atau kesal Jaekyung terlihat manusiawi, dibandingkan yang hanya menampakan wajah datar dan hanya bisa diam bak patung.

 

“Ya sudah, cepat mulai,” bentak Jaekyung pada Gikwang.

 

Mendapatkan benatakan dari Jaekyung, Gikwang hanya bisa mendengus kesal saja. Dan ini salah satu kelakuan Jaekyung yang tak patut untuk disukai. Jaekyung suka sekali membentak orang, seperti yang dilakukan tadi.

 

 

***

 

Hari sudah hampir malam, Donghae masih saja duduk termenung disebuah kafe yang ia datangan kemarin sore dan bertemu dengan gadis yang bernama Jaekyung. Ia memikirkan apa yang dilakukan siang tadi, benar-benar sangat terburu-buru. Tapi jika tak melakukan dengan cepat, orang tua Jaekyung akan sangat marah dan ucapan saat malam itu pada Ibu Jaekyung benar-benar diluar dugaan. Saat itu ia benar-benar sedang sangat khilaf.

 

Menyesap kembali kopi yang sudah dingin, Donghae meringis mengingat apa yang telah dilakukannya beberapa bulan terakir ini yang membuat Jaekyung hamil seperti ini. Ia mengusap wajahnya pelan, lelah memikirkan masalah yang datang secara tiba-tiba.

 

Dan dirinya harus memikirkan bagaimana berbicara dengan kekasihnya nanti. Tapi, ini salah kekasihnya yang menolak rencana yang sudah Donghae pikirkan. Tapi pemikiran kekasihnya begitu beda dengan dirinya. Kekasihnya yang sangat terobsesi dengan perusahaan yang dimiliki oleh Ayahnya.

 

Keluarganya juga menginginkan Hyera yang akan menjadi pendamping dirinya tapi mau dikata apa, takdir berkata lain. Dan ia harus menikahi Han Jaekyung bukan Park Hyera.

 

 

 

 

–TO BE CONTINUED–

 

 

 

P.S: REVIEW

 

Ehkm! gue bingung sama part ini bener2 absurd dan jelek sekali pastinya, aku ngga berani post sebenernya. Yah semoga aja suka yah. Dan yang pasti pas gue edit ini ff bener2 bosan, banyak pengulangan katanya. Dan maaf untuk keterlambatan publish karena Laptop gue waktu itu eror, nggak bisa nyala dan akhirnya laptop gue bener lagi!!!!

16 thoughts on “If This Was a Movie [Part 4]

  1. mmmmmm….. Speechless🙂
    Krna ini daaeebbaakkk bgt , lanjjuuttt deh thhoorr . Smga aj stlah m’nkah dgn jaekyung hae oppa gak m’ceraikan y😦 ! Klo itu t’jd berarti tanggung jawab y nanggung dong😦
    Kan ksian ntar aegya y , dia gak tw sma appa y😦 . Hiks..hiks.. Jd sdih neh😦 huuaaaa…..

  2. Seperti yang author bilang, terlalu banyak pengulangan katanya dan ada beberapa kalimat yang buat z bingung. Tapi selebihnya bagus koq.

  3. Seperti yang author bilang, terlalu banyak pengulangan kata dan ada beberapa kalimat yang buat z bingung. Tapi selebihnya bagus koq.

  4. Ternyata dposting dsni tho si part4’a. Aq nungguin wp fwff g muncul2.
    Jd han jaekyung suka/gak sih sm donghae?? Donghae jg, ky galau badai. Lanjut deh thor, biar jelas&g bkin q bingung+penasaran tingkat nasional..

  5. wah udah publish part 4nya… lama bgt nunggunya… tiap hari ngecek ne kelanjutan ne ff… saia suka bgt ma ceritanya… lanjut ya thor.. jangan lama2 ya part 5nya.. fighting🙂

  6. karna ak skilas sdh baca part terakhir..
    nama kkasih donghae kog beda thor.. hyera dn hyemi..

    ceritanya seru bangt.. trnyata donghae pria bertanggungjawab..
    sbenarnya mrk udah sling trtarik deh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s