Wrong Married 5

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

 

 

JAEKYUNG’S POV

 

 

Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah absen selama empat hari aku harus mengerjakan berkasa yang benar-benar sangat banyak. Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku Jam 10 malam. Tak terasa waktu begitu cepat, sepertinya berkas yang aku kerjakan hanya tinggal tiga lagi, jadi hari ini aku putuskan untuk pulang agak malam. Baru saja aku akan membaca berkas yang aku kerjakan aku mendengar getaran kecil dilaci meja kerjaku, aku membuka laci kerjaku dan mendapatkan benda hitam bersegi panjang, dan dilayar menampakan nama orang yang menurutku sangat menyebalkan. Aku menerima panggilannya.

 

“Yeoboseo?”

 

“Ya! Kau dimana?” Aku sedikit menjauhkan ponselku dari telingaku, teriakannya itu berpotensi menulikan telingaku. Ada apa dia menelponku?

 

“Tentu saja dikantor bodoh!” Ucapku sedikit gusar, kenapa dia malah marah-marah seperti ini. ckck! Benar-benar manusia yang paling menyebalkan bukan?

 

“Cepat pulang! Kau tak tau kalau aku mengkhawatirkanmu? Hah! Kalau kau tak tak segera pulang aku akan memaksamu untuk pulang”

 

Pippp~

 

Sambungan telpon mati, ck! Dia benar-benar menyebalkan sekali. Aku segera membereskan kertas-kertas yang ada di meja kerjaku. Aku mematikan Laptopku dan memasukannya didalam tasku. Segera saja aku keluar dari ruang kerjaku. Gedung ini sudah cukup sepi, Cuma ada beberapa yang masih lembur, aku sedikit menyapa orang yang lembur disini.

 

Aku keluar dan bertemu dengan satpam yang bertugas menjaga gedung ini dan berpamitan untuk pulang, sebelumnya aku membungkukan tubuhku. Aku mengambil ponselku yang aku simpan di kantong baju kerjaku dan mencari nomor Donghae yang ada kontak ponselku. Aku menghubunginya karena sudah sangat malam jadi tak ada angkutan umum yang datang. Aku sedikit gusar saat Donghae tak mengangkat telponku, hampir saja aku akan memutuskan sambungan telponku di angkat.

 

“Donghae~a bisa kau menjemputku?” Tanyaku, dia masih diam saja, “Donghae~a kau ada disana?” Aku masih menunggu jawaban dari donghae, baru saja aku akan membuka mulutku aku mendengar suara decakan dan desahan tertahan diseberang sana.

 

“Ngehhh!!!” Aku segera saja menutup telponku, sial laki-laki brengsek itu. Dia menyuruhku untuk segera pilang tapi apa yang ku dengar tadi ternyata dia sedang bermesraan dengan kekasihnya itu. Dengan kesal aku membalikan arahku lagi, menuju kekantorku. Lebih baik hari ini aku tak pulang keapartmen. Biarakan saja Donghae mencariku. Atau sekalian ia tak usah mencariku saja.

 

Aku berjalan tergesa kearah kantorku, satpam yang tadi sempat aku sapa terlihat kaget saat aku kembali kekantor. Aku acuhkan saja, dan saat aku melewati ruang kerja karyawanku ada beberapa mereka yang kaget melihatku kembali kekantor. aku kesal mendengar apa yang mereka perbuat. Cih! Sepertinya aku benar-benar membenci laki-laki brengsek itu.

 

Aku tak merasa cemburu atau apa, tapi aku benar-benar kesal. Sebelumnya ia menghubungiku agar aku cepat pulang dan setelah aku akan pulang dan saat menghubunginya agar ia menjemputku kenapa telponnya ia angkat dan memperdengarkan suara menjijikan itu padaku?

 

Dengan sedikit kasar aku membuka ruanganku dan aku langsung merebahkan tubuhku kesofa yang tersedia di ruang kerjaku. Saat aku memejamkan mataku tiba-tiba saja pertuku mendadak berbunyi. Aish! Aku baru sadar kalau siang tadi aku tak sempat makan siang, sepertinya makanan siap saji bisa membuat perutku kenyang. Aku segera menekan tombol makanan siap saji yang aku hafal, setelah memesan aku kembali membuka laptopku dan mengerjakan berkas yang belum sempat aku kerjakan.

 

Beberapa menit aku terlena dengan pekerjaanku, aku dikagetkan oleh ketukan pintu ruangan kerjaku. Aku menghentikan pekerjaanku dan berjalan menuju pintu. Aku membuka pintu ruanganku yang kuduga pasti makanan siap saji itu datang, tapi salah ternyata Lee Donghae yang datang. Cih! Untuk apa dia datang kekantorku? Dan darimana dia tau kantorku ini?

 

“Sudah kubilang bukan cepat pulang kenapa kau tak mendengarkanku?” Ucapnya geram, aku sedikit memundurkan langkahku. Hei, hei sepertinya yang seharusnya marah itu aku, kenapa dia datang-datang dan langsung memarahiku seperti ini?

 

“Kenapa kau marah-marah seperti ini?” Aku membuka suara, dia hanya bisa menghela nafasnya saja. Dia tampak terlihat gusar seperti ini.

 

“Aku mengkhawatirkamu Bodoh! Bukankah saat aku menelponmu kau harus cepat pulang?” Aku memandanganya dengan pandangan rendahku yang biasa aku lakukan dengan teman-temanku yang ada diamerika, “Ya! Jangan memandangku dengan pandangan seperti itu! Kau fikir aku apa sampai kau memandangku dengan pandangan rendah seperti itu??” Aku tak mengubris pembicarannya. Berdebat dengannya itu benar-benar membuatku naik darah saja.

 

Aku kembali kemeja kerjaku untuk kembali mengerjakan beberapa berkas yang masih ada diatas meja kerjaku. Aku tak menghiraukan keberadaanya, aku cukup kesal saat aku menghubunginya untuk menjemputku dihalte yang dekat dengan kantorku, tapi apa yang aku dapatkan setelah sambungan telponku diangkat? Dia malah mengumbarkan suara desahan tertahan yang ia lakukan dengan kekasihnya.

 

Ia duduk disofa yang ada diruanganku ini, ia mengutak-atik ponselnya, dan aku melihat tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menghadapku, aku hanya bisa menampilkan Simrkku padanya. Dia mengusap tengkuknya, gugup untuk melihat kearahku.

 

“Kau tadi menelponku?” Tanyanya dengan suara yang sedikit was-was, aku mengangguk. Dan dia tercengang, ia menundukan wajahnya lagi tak berani menatap mataku yang sedari tadi memandanginya terus menerus. Sepertinya ia merasa dipandangi terus olejku akhirnya ia mendongakan wajahnya, “Maaf, tadi itu dia yang memaksa! Dan kami tak melakukan apa-apa, kami hanya sebatas berciuman saja!” Ucapnya cepat dan menyesal, aku masih tetap diam. Aku bukan cemburu kalau dia sedang bermesraan dengan kekasihnya. Tapi aku marah karena ia benar-benar tak peka. Ia memaksaku untuk segera pulang, tapi apa yang aku peroleh? Dia sedang bermesraan dengan kekasihnya? Oh, itu benar-benar membuatku sedikit ingin muntah. Sebelum ia membuka suaranya, tiba-tiba saja ketukan dipintu ruanganku. Ini pasti makanan siap saji yang aku pesan tadi, aku langsung melenggang pergi menuju kearah pintu ruanganku ini.

 

“Apa ini yang anda pesan Sajangnim?” Ucap satpam tadi, yang aku acuhkan saat aku kembali kedalam kantorku, aku mengangguk. “Banyak sekali?” Ujarnya tak percaya. Aku tersenyum manis kearahnya.

 

“Bukankah ini ada duapuluh? Kau bagikan saja makanan ini pada karyawan-karyawan yang masih lembur, aku yakin kalau mereka belum sempat makan saat sore tadi.” Ujarku panjang lebar, dan satpam itu tersenyum kearahku, “Ah, anda juga, aku memesan beberapa untuk mereka agar mereka tak mengantuk dan dengan cepat untuk mengerjakan tugas mereka. Tapi kalau ada beberapa karyawan yang mengantuk berat suruh mereka segera pulang dan mengistirahkan tubuh mereka saja aku takut mereka sakit atau apa, saat aku berjalan kembali keruanganku, aku meoihat beberapa dari mereka yang kelelahan. Yasudah itu saja yang ingin aku sampaikan! Ajhussi aku masuk dulu” Aku berpamitan dan sedikit menundukan kepalaku dan ia juga menundukan kepalanya.

 

Aku kembali masuk kedalam dan mendapatkan Donghae yang dengan lancangnya mengutak-atik laptoku, “Apa yang kau lakukan pada Laptopku?” Aku sedikit berteriak, dan ia mengacuhkanku. Benar-benar laki-laki menyebalkan.

 

“Ya! Kenapa isi laptopmu ini banyak seakli foto Changmin?” Ucapnya kesal, aku tak mengubrisnya yang sedang marah gara-gara laptopku banyak sekali foto Changmin.

 

“Jangan sampai kau menghapusnya, Tadi siang aku baru saja mengambilnya dari internet. kalau kau berani sampai menghapusnya aku akan memukul kepalmu itu.” Kataku tajam, ia hanya mendengus kesal. Aku duduk disofa didalam ruanganku ini, dan segera untuk menyantapkan makanan yang aku pesan ini.

 

“Kau baru makan?” Tanya Donghae yang entah sejak kapan ia sudah duduk disampingku, dia benar-benar mirip setan. Aku hanya mengangguk, menjawab pertanyaanya. Aku mengulurkan sendok yang aku pegang dan mengarahkan kemulutnya, ia sedikit bingung dan ia membuka mulutnya setelah mengerti dengan maksudku.

 

Ia mengunyah makanan yang aku suapi tadi dengan sangat cepat, dan dia membuka mulutnya lagi untuk segera aku menyuapinya. Sebenarnya disini siapa yang sedang kelaparan? Aku atau laki-laki tak normal ini? benar-benar merepotkan sekali laki-laki ini.

 

Setelah makan selesai, aku membersihkan tempat makanan tadi dan memasukannya dikantong kresek agar gampang untuk membuangnya. Ia sedang meminum air mineral dari gelas yang baru saja aku ambil dari kulkas kecil yang ada diruanganku.

 

“Kau lapar?” Tanyaku sambil menghempaskan tubuhku disandaran sofa, bersampingan duduknya dengan dirinya. Ia mengangguk, dan aku baru menyadari kenapa dia memaksaku untuk pulang dengan cepat ini agar aku memaskannya masakan. Cih! Bukankah tadi itu kekasihnya ada diapartmen kami? Kenapa malah dia yang mengimgimkanku?

 

“Bukankah tadi sempat ada kekasihmu diapartmen? Kenapa kau tak membujuknya untuk memasakan makanan untukmu?” Tanyaku, dan ia hanya tersenyum tipis padaku.

 

“Dia itu tak bisa memasakh Je~” Aku melotot saat mendengar ucapanya diakhir kata, dia memanggilku dengan sebutan Je? Bukankah aku sudah memberitaunya kalau nama Je~ itu hanya khusus untuk panggilan terdekatku saja? Aku menatapnya dengan pandangan protesku, “Wae? Kau tak suka aku memanggilmu dengan sebutan Je~?” Aku menggeram ketika ia berbicara tadi dengan santai, aku mendengus tak mau berdebat dengannya.

 

Keadaan hening seketika, diantara aku dan dia tak membuka mulut lagi, aku begitu melas untuk membuka suaraku atau menjawab pertanyaanya yang menurutku tak penting-penting sekali.

 

“Je~…” Bulu kudukku tiba-tiba saja meremang setelah mendengar ucapanya yang tiba-tiba saja lembut, aku menolehkan wajahku menghadapnya.

 

“Wae?” Tanyaku, “Kau ingin pulang?” Tanyaku lagi, dan dia mengangguk cepat. Aku melihat kearah wajahnya yang sedikit mengantuk itu. “Kalau kau mengantuk dan tak bisa menahan rasa kantukmu kau bisa saja tidur disofa ini, dan aku mengerjakan berkas-berkasku lagi yang masih belum aku selesaikan.” Ia menggelang cepat. Ia berdiri dan menuju kearah mejaku untuk membereskan mejaku yang sedikit penuh oleh Berkas-berkas yang aku kerjakan tadi.

 

“Kita pulang sekarang. Tak ada protes.” Ia berucap seperti itu dan langsung menarik tanganku. Ia berjalan tergesa-gesa menuju parkiran. Setelah kami sampai kearah parkiran kami langsung memasuki mobil Donghae yang terpakir diarea parkiran kantorku. Ia menambah sedikit kecepatan laju mobilnya, mungkin agar kami cepat sampai diapertmen kami.

 

Setelah dua puluh menit yang kami temput akhirnya kami sampai di gedung apartmen kami, die membuka pintu mobilnya dan aku juga mengikutinya, membuka pintu mobil. Ia menunggu di tengah-tengan parkiran dan stelah sampai di sampingnya kami berjalan menuju kamar Apartmen kami.

 

Gedung apartmen sedikit sepi kerena ini memang sudah cukup larut untuk orang yang baru saja pulang dari kerjanya. “Kekasihmu masih ada diapartmen kita?” Aku membuka suara, suasana tadi membuatku sedikit canggung.

 

“Dia sudah pulang, saat kau menelponku tadi aku sedang ada didalam mobil.” Ucapnya yang membuat keningku berkerut.

 

“Di dalam mobil? Kau habis kemana?” Tanyaku, dia sedikit gelagapan saat aku bertanya seperti ini, aku mendengar ia mengumpat karena ia tak bisa menjaga ucapannya itu, “Ya sudah tak usah kau jawab juga tak apa-apa, itu bukan urusanku!” Aku keluar dari lift yang membawa kami ke lantai kamar kami. Aku berjalan santai disamping Donghae, ia masih enggan membuka suara saat ia dengan mudahnya mnceritakan apa yang ia lakukan dengan kekasihnya.

 

“Bagaimana dengan pagimu tadi?” Tanyanya saat ia membuka pintu ruangan kami, aku membuka sepatuku ini dan menaruhnya, ia masih tetap berdiri disampingku mungkin untuk mendengar jawaban atas pertanyaannya mungkin.

 

“Biasa saja, walaupun saat pagi banyak sekali pasang mata yang menatapku dengan pandangn mereka ingin memakanku, aku cuek saja. Dan pada saat masuk kantor juga banyak pegawai yang awalnya sopan terhadapku tapi dibelakang kesopanannya mereka membicarakanku yang tidak-tidak.” Aku menundukan tubuhku, dan menguncir rambut panjangku ini. akhir-akhir ini entah kenapa selalu panas sekali.

 

“Ya sudah, kau berangkat kerja bersamaku saja bagaimana?” Tawarnya, aku menggeleng. Bisa-bisa akan banyak sekali yang membenciku. Cukup dengan pernikahan ini banyak yang membenciku, dan jangan memperbanyak orang yang membenciku atas apa yang ia lakukan padaku. “Kenapa?” Tanyanya, aku kembali menggelang.

 

“Tak usah, bisa-bisa aku kembali diterkam oleh fansmu itu Donghae~a. ahk! Sudah aku ingin tidur, kalau kau mau bertanya, besok saja. Staminaku sudah menurun.” Ucapku melenggang kearah kamar kami. Setelah aku masuk kedalam kamar, aku langsung merbahkan tubuhku keatas ranjang yang sangat empuk ini. aku memejamkan mataku, dan hampir terlelap sebelum sebuah tangan menarik tubuhku untuk bangun.

 

Aku membuka mataku dan melihat Donghae yang sedang berkacak pinggang, “Wae?” Tanyaku malas, dia ini penganggu sekali. Aku ingin secepatnya tidur, tapi kenapa dia selalu saja mengangguku?

 

“Kau ini malas sekali, gantilah bajumu terlebih dahulu. Bukankah kau kepanasan? Kalau kau kepanasan seharusnya kau mengganti bajumu dengan baju yang nyaman untuk kau pakai untuk tidur. Ck! Kenapa kau tak peka sekali Je~?” Ia menghembuskan nafasnya pelan, aku masih setia menutup mataku saja. Hari ini aku benar-benar lelah jadi aku malas sekali untuk mengganti pakainku, apalagi untuk mandi.

 

Tiba-tiba saja ranjang yang aku gunakan untuk tidur ini bergoyang aku masih tak membuka mataku, dan tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang hinggap didepan dadaku, aku ingin membuka mataku tapi aku benar-benar sangat malas untuk aku buka, telingaku sedikit mendengar umpatan. Dengan melawan rasa kantuk aku membuka mataku dan melihat Donghae yang sedang membuka kancing kemejaku, sontak mataku melebar dan segera menepis tangan Donghae yang hampir saja membuka kancing kemejaku.

 

“Apa yang kalu lakukan?” Tanyaku sedikit berteriak, dia gelagapan. “Berani sekali kau membukan kancing bajuku tanpa meminta persetujuan dariku! Huh!” Ucapku sedikit Emosi.

 

“Kau saja yang malas untuk mengganti bajumu, jadi aku yang menggantikanmu dengan piyama ini!” Tunjuknya kepiyama yang ada di pangkuannya. Aku mengambil piyama yang ada dipangkuannya dengan kasar dan beranjak dari tempat tidurku untuk mengganti pakaianku.

 

Setelah mencuci muka, menggosok gigi dan menggnti pakaian. Aku kembali kekamarku dan segera aku merbahkan tubuhku kekasur yang empuk ini. seseorang menyelimutiku dan aku membuka mata ternyata Donghae yang menyelimutiku, aku tersenyum bermaksud untuk berterima kasih. Ia pergi menuju kearah kamar mandi. Mungkin untuk mencuci mukanya.

 

***

 

Pagi. Pagi ini aku merasakan apa yang aku rasakan seperti pagi kemarin. Hangat, aku jadi tak ingin membuka mataku yang masih terpejam ini. aku semakin mempererat pelukan ini agar aku semakin merasakan kehangatan yang sangat nyaman ini. tunggu, tunggu dulu pelukan? Dengan cepat aku membuka mataku, dan aku segera melebarkan mataku saat melihat wajah Donghae yang tepat berada di depan wajahku ini.

 

“AAAAA~~~” Aku berteriak histeris, dan Donghae langsung terbangun setelah mendengarkan teriakanku. “Apa yang kau lakukan bodoh?” Tanyaku padanya yang masih melingkarkan tangannya yang ada di pinggangku. Aku mengarahkan pandanganku kearah tangannya yang masih setia melingkar dipinggangku, dan dia mengikuti arah pandangku, dia hany tersenyum polos saja. “Lepaskan!” Ia segera melepaskan lingkaran tangannya di pinggangku.

 

“Aku kira kau bantal guling!” Ucapnya polos, dan sukses aku medaratkan tanganku dikepalanya dengan keras, “Ya! Appo! Kenapa kau memukulku?” Ia mengusap-ngusap kepalanya yang aku pukul tadi.

 

“Kau kira di kamar ini ada bantal guling? Coba lihat memang disini tak ada guling Donghae~a!!!” Ucapku, “Aish! Lupakan aku ingin segera berangkat kekantor.” Ucapku padanya dan segera pergi menuju kekamar mandi.

 

Beberapa menit aku habiskan untuk mandi dan memakai baju. Saat aku keluar dari kamar mandi yang ada dikamrku aku tak melihat Donghae didalam kamar. Kemana dia? Aku segera keluar dari kamarku, sebelumnya aku sudah merapikan kamarku dan mengumpulakan barang-barang yang akan aku bawa bekerja. Saat aku keluar dari kamarku aku mendengar suara kikikan dari arah dapur, aku berjalan dengan lambat, dan setelah sampai didapur aku melihat Donghae dan kekasihnya yang sedang duduk di meja makan.

 

“Je~ kau mau ikutan sarapan bersama?” Donghae menyadariku yang ada didapur, aku menggeleng pelan.

 

“Aku tak suka makanan cepat saji disaat pagi hari!” Aku sedkit menyindir kekasihnya, dan lihat aku melihat reaksi tubuh wanita itu, “Karena itu tak baik untuk kesehatan!”

 

“Tapi tadi malam kan kau memakan makanan cepat saji..” Ucap Donghae, aku hanya menampakan Smirku saja.

 

Aku melangkah maju menuju kearah kulkas dan membukannya, bermaksud untuk mengambil air dingini. Saat aku ingin menuangkan air dingan yang ada didalam botolnya tiba-tiba saja sebuah tangan mengambil botol beserta gelasnya. Aku melihat siapa yang berani mengambil milikku ini.

 

“Apa yang kau lakukan, kembalikan aku ingin minum!” Ucapku sambil berusaha mengambil botol dan gelas yang ada di tangannya. “Aish! Kau memang menyebalkan!” Aku melangkah menuju dispenser yang ada di samping kulkas ini aku mengambil gelas yang ada diatas dispenser ini dan mulai memencet tombol dispenser ini agar airnya keluar. Aku melirik kearah kedua insan itu, benar-benar sangat menjijikan sekali. Dari arah disini aku bisa melihat wajah wanita itu, dan Oh! Oh! Jadi dia kekasih Lee Donghae ini? Lee Donghae benar-benar tak punya selera selain wanita yang ada didepannya itu? Tubuh pendek, tak berisi dan errr… aku benar-benar tak bisa mendeskripsikan wanita yang ada didepan Lee Donghae ini.

 

Saat Donghae menuju kekulkas, dan saat itu kekasihnya menghadap kearahku dan menataku dengan tajam kearahku, hei! Aku tak akan takut denga tatapan tajammu itu. Bahkan tatapan tajammu itu membuatku ingin tertawa, ingin menakut-nakutiku tapi tak berpengaruh padaku. Aku membalas tatapan tajamku dengan psenyum rendahanku, dan dia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Benar-benar pengecut wanita itu. Ckck!

 

Setelah selesai meminum aku melangkah keluar dari dalam dapur, kalau berlama-lama didalam dapur membuatku ingin sekali memuntahkan isi perutku gara-gara aku melihat pemandangan yang benar-benar menjijikan. Dan hampir saja aku tersendak ludahku saat aku membalikan badanku dan melihat Donghae dan kekasihnya sedang berciuman itu, ck! Kenapa yang agresif itu wanitanya? Benar-benar menjijikan sekali melihat pemandangan seperti itu.

 

Aku segera keluar dari dalam apartmen ini, aku benar-benar tak sanggup untuk menahan perutku kalau aku masih saja didalam apartmen Donghae. Aku memasuki Lift sendirian, saat pintu Lift akan tertutup ada sebuah tangan menghalangi agar pintu Lift tertutup. Aku melihat pintu Lift dan menampakan Lee Donghae yang sedang terengah-engah, nafasnya tak beraturan. Aku melihatnya aneh saat ia masuk kedalam Lift.

 

“Apa yang kau lakukan?” Tanyaku, dia menatapku dengan pandangan yang tak bisa aku artikan, tiba-tiba saja ia mendorong tubuhku dan dengan cepat ia mencium bibirku. Melumatnya, dan mengecupnya dengan lembut. Tak hanya melumat dan mengecupnya ia mengulum bibirku. Setelah beberapa menit waktu untuk berciuman ia melepas ciumannya. Ia mengerling nakal padaku. Aku masih linglung dengan apa yang perbuat tadi, dia benar-benar gila.

 

“Ciuman selamat pagi, setiap pagi kita harus melakukan ini, kalau tak melakukannya aku akan menahanmu selama sehari didalam Apartmen kita!” Dia berbisik dan itu membuatku terkejut. Apa-apaan dia itu? Ini benar-benar pemakasaan.

 

Aku menampakan Smirkku padanya, “Jadi kau meninggalkan kekasihmu hanya untuk mendapatkan ciuman selamat pagi dariku?” Ucapku dan dia terlihat kaget, jadi dia tak sadar kalau dia sudah meninggalkan kekasihnya itu. Benar-benar bodoh. “Awas. Aku akan keluar, kau menghalangiku saja!” Ucapku sambil mendorong tubuhnya yang menghalangi langkahku. Untung saja gedung apartmen ini masih sepi, dan tak ada seorang pun yang melihat adeganku dengan Donghae yang benar-benar tak layak untuk dilihat.

 

***

 

Kambali, hari ini aku kembali untuk lembur. Kenapa berkas-berkas yang ada didepan mataku ini tak pernag habis, aku benar-benar lelah sekarang. Tapi kalau aku tak mengerjakannya pasti besok akan bertambah banyak lagi. Sepertinya aku harus membawanya pulang dan mengerjakannya diApartmen saja. Aku membereskan kertas-kertas yang ada dimeja dan mematikan laptopku. Melihat sudah beres aku langsung melenggang pergi dari ruanganku. Dan aku baru menyadari ternyata diperusahaanku Cuma ada aku seorang yang masih didalamnya.

 

Aku kembali menyapa Satpam yang berjaga malam diperusahaanku ini. aku melirik kearah jam tanganku yang melingkar dengan pas di pergelangan tanganku, jam 10 malam. Sudah dua hari ini aku selalu pulang jam 10 malam benar-benar melelahkan sekali. Aku menunggu bis di halte dekat kantorku, tapi hampir lima menit aku menunggu bis tak kunjung datang. Jadi aku putuskan untuk mencari sebuah taksi yang semoga saja masih ada. Dan yah ternyata doaku terkabulkan ada sebuah taksi yang datang, aku melambaikan tanganku untuk bermaksud menghentikannya.

 

Taksi berhenti aku membuka pintu taksi tersbut, aku memberitaukan alamat gedung apartmenku pada paman yang menyupir taksi ini. dan duapuluh menit akhirnya aku sampai didepan gedung apartmenku ini, aku memberikan Ongkos yang terpampang diargo taksi tersebut. Sebelum menutup pintu mobil taksi tersebut aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada paman tadi.

 

Aku merilekskan tengkukku yang mati rasa ini, benar-benar sangat lelah. Aku butuh kasur empuk itu. Dengan cepat aku melangkahkan kakiku dengan cepat agar aku cepat sampai didalam Apartmen. Aku masuk kedalam Lift, dan mengumpat kesal karena kerja lift ini sangat lamban sekali tak tau kalau aku ini sangat lelah, dan aku sekarang sedang membutuhkan kasur dan bantal?

 

Akhirnya aku sampai di lantai apartmenku. Dengan langkah besar aku menuju keapartmenku. Aku lupa kalau aku masih tak hafal dengan password apartmen ini. dengan susah aku menggeledah tasku mencari ponselku yang ada didalamnya, aku baru ingat kalau tadi siang Donghae memberikan password apartmen ini, aku sudah menemukan pesan yang siang tadi Donghae kirimkan padaku. Aku mencocokan nomor yang tertera di layar ponselku dengan tombol yang ada didepan pintu ini. pintu terbuka, dan aku bersorak senang dalam hati karena pintu apartmen terbuka.

 

Dengan cepat aku membuka sepatuku yang hampir saja memutuskan kakiku ini, aku melangkah kearah dapur untuk mengambil air yang ada didalam kulkas, setelah menuangkannya didalam gelas aku segera meneguknya dengan cepat. Kalau saja Donghae tau aku meminum air dingin ia pasti akan mengambilnya dan tak memperbolehkanku minum. Ck! Aku tak tau kenapa ia melakukan itu padaku.

 

Aku mengambil tasku yang tadi sempat aku taruh diatas meja makanku, tapi belum sempat aku mengambil tasku aku sekilas melihat piring kotor yang menumpuk di tempat pencuci piring. Apa kekasih Donghae itu tak membersihkannya? Benar-benar pemalas sekali wanita itu. Dengan enggan aku melangkah kearah tempat pencuci piring, sebelum mencuci piring aku menggulung rambutku yang masih tergurai di bahuku.

 

Aku mulai mencuci piring dengan telaten, sebenarnya aku sudah begitu mengantuk dan lelah. Tapi aku benar-benar malas kalau pagi-pagi aku sudah harus membersihkan piring-piring kotor ini.

 

Lima belas menit aku habiskan untuk mencuci piring, dan sekarang akhirnya untuk menjelajahi dunia mimpi yang sangat menyenangkan, dan bertemu dengan kasur empuk dan bantal yang sangat nyaman dikepalaku. Dengan langkah tak sabar aku menuju kearah kamarku, dan hatiku mencelos saat aku membuka pintu kamarku. Aku ingin menangis sekarang, aku lelah setelah bekerja seharian, lembur, dan mencuci piring. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka dengan tenangnya tertidur dikasur empuk itu. Aku menahan air mata yang akan terjatuh, aku tak boleh menangis hanya karena ini.

 

Aku bukan cemburu, tapi lebih tepatnya aku sedikit kesal dengan mereka yang seenaknya tertidur didalam kamarku. Hatiku mencelos lagi saat aku akan melintas kearah sofa, dan tak sengaja aku melihat pintu lain di Apartmen ini, kalau aku lihat-lihat ternyata ini kamar lain yang ada diapartmen ini. aku mencoba membukannya tapi tak bisa Karen pintu ini terkunci, aku kembali menggeram. Hari ini aku terpaksa tidur disofa apartmen ini.

 

Aku benar-benar tak akan memaafkan mereka berdua, mereka tak tau apa kalau aku begitu lelah dan butuh istirahat? Benar-benar sepasang kekasih yang sangat menyebalkan! Dan apa-apaan, mereka belum menikah saja tapi mereka sudah berani-beraninya tidur diatas ranjang yang sama. Kalau disimpulakan aku mengira wanita itu tak mempunyai harga diri sekali. Dan selama ini aku masih belum mengetau nama wanita yang mengambil alih tempat tidurku itu. Lebih baik aku tidur saja, tak usah memikirkan kedua sejoli itu. Kalau memikirkan mereka akan berpotensi membuatku akan meledak! Akan kubalas mereka besok pagi!

 

 

 

 

 

 

======TO BE CONTINUE======

 

Oke, oke. Ini part yang ambruadul bangetttt!!!! Hahaha kecewa kecewa yah? Aku ngebut ini dari malam, dan dilanjutkan saat pulang sekolah lagi. Sedikit tak nyambung, tak ada greget atau apa. Harap maklumi saja yah hehehehehe

Kalo ada yang ga puas, boleh kasih saran aja padaku hohohohoh…

SALAM MANIS AUTHOR :*

10 thoughts on “Wrong Married 5

  1. annyeong^^
    aq reader baru thor.sbnarnya uda prnah baca ini d blog yg lain,trus pas liad blog pribadimu,aq coba jelajah deh.
    aq suka ffmu,apa lg castnya biasku.:D
    so,aq coba bongkar2 blogmu yaa.:)

  2. Knp je~ sl naik ankutn umum??? Dia kan org tajir..pa ndak py sopir pribadi/ pembantu??
    Masak CEO naik bus g elegan bgt he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s