If This Was a Movie [Part 5]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

If This Was a Movie by Taylor Swift

 

 

***

 

 

Jaekyung melepaskan tas slempangannya dikasur miliknya, melirik kearah jam yang tergantung diatas pintunya. Sudah pukul delapan malam. Hari ini begitu melelahkan, mengerjakan tugas kelompok yang benar-benar sangat susah dan membuat dirinya dan Gikwang jengkel

.

Kalau saja bukan untuk nilai yang sangat penting, mungkin dirinya tak akan mengumpulkan tugas yang benar-benar membuat dirinya kesal setengah mati. Menghembuskan napasnya pelan, Jaekyung melepas kunciran rambutnya yang sedikit melorot dan kembali membenarkannya. Ingin rasanya memanjakan tubuhnya yang begitu lelah, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah sangat malas untuk beranjak pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

 

Dari pada memikirkan untuk memanjkan tubuhnya, Jaekyung dengan segera merebahkan tubuhnya yang begitu lelah. Membenarkan letak bantal agar nyaman, Jaekyung memejamkan matanya dengan perlahan. Tiba-tiba saja rasa lapar datang dengan sangat mendadak, dan itu sukses membuat Jaekyung berdecak sebal. Tidakkah mengerti dengan keadaan tubuhnya yang tak mau digerakan sesentipun?

 

Tapi ini juga tak boleh egois, nyawa yang ada didalam perutnya memerlukan asupan gizi. Jaekyung baru menyadari terakhir ia makan adalah saat pagi tadi, makan dikantin kampus yang hanya memakan sepotong roti dan jus wortel, dan jus wortelnya pun tak dihabiskannya. Setelah itu ia tak makan siang karna ia sibuk dikelasnya mengerjakan tugas individu yang ia lupa dikerjakan, dan sialnya harus dikumpulkan saat jam dua tadi.

 

Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Jaekyung langsung melangkah keperpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya satu minggu yang lalu, dan kembali meminjam beberapa buku untuk mengerjakan tugas kelompok dan untuk membacanya dirumah.

 

Mengusap pelan wajahnya, Jaekyung beranjak dari tidurnya, berjalan kearah pintu keluar kamarnya. Berjalan kearah ruang makan, ia berharap dimeja makan akan ada beberapa makanan. Dan kalaupun tidak ada, Jaekyung harus berusaha menahan laparnya untuk memasak makanannya.

 

Setelah sampai diruang makan, ia segera kearah meja dapur. Melihat tak ada apa-apa Jaekyung hanya bisa menghembus napasnya pelan. Pasti Ibunya lupa untuk pulang kerumah, untuk memasakan makanan, mungkin direstoran begitu ramai jadi Ibunya tak sempat pulang.

 

Jadi, daripada ia kelaparan, lebih baik ia segera kearah dapur memasak sesuatu yang bisa mengenyangkan perutnya. Menghentikan kelaparan yang sudah terlihat tak sabar untik diisi oleh makanan. Jaekyung mengelus-elus perut ratanya agar tenang, dan elusan diperutnya berhasil. Raungannya berhenti.

 

Berjalan kearah dapur, dan kearah kulksa, ia membukanya, mencari beberapa bahan makanan yang bisa ia masak dan tak terlalu lama untuk dimasak. Ia melihat beberapa buah kentang didalam kulkasnya, ia ambil tiga dari beberapa kentang tersebut serta mengambil telur.

 

Baru saja Jaekyung mengambil panci untuk merebus kentang, namanya tiba-tiba diserukan, “Jaekyungi~a,” Jaekyung menoleh kebelakang, mendapatkan Ibunya yang menenteng dua kantung plastik dan berjalan kearahnya.

 

“Kau lapar?” Tanya Ibunya yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Jaekyung. “Aigoo, Ibu lupa untuk membawakanmu makanan siang tadi, kau pulang jam berapa?”

 

“Baru saja pulang, kalaupun siang tadi Eomma membawa makanan, pasti makanannya sudah dingin. Ah, apa restorannya sudah tutup?” Tanya Jaekyung sambil berjalan kearah Ibunya, menerima dua bungkus kantung plastik tersebut. “Eomma membawa makanan apa?” lanjut Jaekyung.

 

“Seperti biasa, makanan kesukaanmu,” jawab Ibunya sambil mengambil dua piring serta gelas.

 

“Appa masih banyak pekerjaannya? Kenapa Eomma pulang tak bersama dengan Appa?”

 

“Ya, Appamu masih banyak pekerjaan direstoran, dan masih harus membimbing beberapa koki baru disana,” jawab Ibu Jaekyung sambil membuka bungkusan yang sudah ada diatas meja. “nah, sudah jangan terlalu banyak bicara, cepat makan agar kau dan bayimu sehat, Arrachi?” Jaekyung menganggukan kepalanya.

 

Dengan sigap Jaekyung langsung memakan makanan yang ada dihadapannya. Tapi baru saja beberapa suap, piring yang ada didepannya langsung didorong agak jauh dari dirinya. Melihat tingkah laku anaknya, Gi Eun–ibu Jaekyung–langsung mengerutkan keningnya.

 

“Wae?” Tanya Ibunya heran.

 

“Perutku sudah kenyang, dan aku sudah tak sanggup lagi untuk memakannya, kalau aku menghabiskannya, yang akan aku pastikan, makanan yang baru saja masuk kedalam perutku akan kembali keluar, Eomma,” ucap Jaekyung lemas. Ternyata hamil banyak sekali halangannya.

 

Jika saja dirinya tak hamil, piring yang ada didepannya pasti sudah kosong, dan makanan yang ada diatasnya sudah berpindah kedalam perutnya. Tapi hari ini, ia mungkin tak akan pernah menghabiskan makanannya. Menuangkan air kegelasnya, dengan segera Jaekyung menegaknya habis.

 

Kepalanya ia rebahkan diatas meja makan, melihat anaknya seperti itu, dengan segera tangannya menuju kearah punggung milik anakknya. Mengelus-elus puncak kepalannya agar kembali tenang.

 

“Eomma juga dulu seperti itu. Nah, ayo kita masuk kedalam kamarmu, membersihkan tubuhmu yang pasti sangat lengket, dan setelah itu kau langsung tidur, hmmm,”

 

Mendengar penuturan dari Ibunya, Jaekyung dengan segera beranjak dari duduknya. Berdiri tak begitu tegak, kepalanya ia tundukan dan Ibunya mengelus kembali punggung Jaekyung dengan sangat pelan dan sangat lembut.

 

Setelah sampai didalam kamarnya, Ibunya dengan segera mendorong pelan Jaekyung kearah kamar mandi. Yah, lebih baik ia membersihkan dirinya yang begitu lengket. Ucap Jaekyung dalam hatinya.

 

 

 

***

 

 

Donghae menghela napas pelan. Sudah hampir sepuluh kali ia menghembuskan napasnnya. Ia sudah terbaring dikasur nyamannya, dengan otak yang memikirkan bagaimana ia akan mengatakannya pada kekasihnya, apa ia akan mengatakannya dengan jujur atau ia akan membohongi kekasihnya seperti kedua orang tuanya dan kedua orang tua Jaekyung.

 

Ia tak ingin menyakiti hati Ayahnya dengan rencana pernikahannnya dengan Jaekyung yang penuh dengan kebohongan. Tapi misalkan jujur, ia juga pastikan Ayahnya akan marah besar pada dirinya. Jadi jalan pilihannya yang sangat tepat adalah, ia harus memutuskan hubungannya dengan Hyera, mengungkapkan bahwa ia akan dinikahkan oleh cucu teman kakeknya.

 

Hah! Padahal, Ayahnya sangat berharap ia bisa menikah dengan Hyera, tapi apa mau dikata bahwa takdir berkata lain. Ia harus menikah dengan Jaekyung akibat kesalahannya, dan meninggalkan Hyera. Tapi ia juga masih punya kesempatan untuk kembali pada Hyera bukan jika ia bercerai dengan Jaekyung nanti.

 

Kembali Donghae menghela napasnya, ia mulai bosan dengan pemikiran otaknya yang tak jauh-jauh dari kata pernikahan, Jaekyung, bayi, tanggung jawab, perceraian. Ingin sekali mengenyahkan semua pemikiran yang terlintas dikepalanya.

 

Dengan segera Donghae menegakan tubuhnya, dan kemudian ia bingung sendiri kenapa ia menegakan tubuhnya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan ia kembali merebahkan tubuhnya dikasurnya yang nyaman. Dengan perlahan ia mengantupkan matanya dan beberapa saat kemudian Donghae telelap dengan mulut terbuka sedikit.

 

 

***

 

 

Ya! Han Jaekyung, kubilang bukan seperti itu memindahkannya. Jangan terlalu kasar saat kau meletakannya!” geram Gikwang yang melihat kerja rekannya itu.

 

Jaekyung yang mendapatkan teriakan dari Gikwang langsung saja menghadap langsung kearah Gikwang dan menatapnya dengan tatapan tajam miliknya. Hampir satu jam ia diteriakan oleh Gikwang sialan itu. Kalau saja Gikwang bukan teman dari masa sekolah menengah atasnya mungkin saja Jaekyung akan meninggalkannya.

 

Mengacuhkan Gikwang yang masih saja meracau tak jelas, Jaekyung kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda akibat teriakan Lee Gikwang tadi. Hari ini seperti kemarin, mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh Dosen mata kuliahnya, dan harus dikumpulkan saat pukul empat sore nanti. Dan Jaekyung bersyukur hari ini ia hanya mempunyai dua jadwal dan selesai jam dua belas tadi.

 

Ia meletakan kardus yang ada dipegangannya, setelah meletakannya dengan sangat hati-hati ia melirik kearah pergelangan tangannya yang telah dilingkari oleh jam tangan yang sangat cocok dipergelangan tangannya. Masih jam dua siang, tugasnya baru saja selesai setengah, dan ia harus mengerjakannya dengan sangat cepat agar ia bisa keluar dari zona teriakan seorang Lee Gikwang.

 

Ya! Lee Gikwang, kau sendiri tak becus mengerjakan tugas ini!” sembur Jaekyung saat melihat kardus yang ada ditangan Gikwang hampir terjatuh akibat langkah Gikwang tersandung oleh batu yang ada ditanah.

 

“Kau tak lihat bahwa aku tersandung oleh batu, hah!” balas Gikwang ketus dengan ucapan Jaekyung tadi.

 

“Tak usah berdebad, cepat selesaikan tugas kalian,” ucap seseorang mengintrupsi perdebatan Jaekyung dengan Gikwang. Dengan cepat mereka berdua menolehkan kearah samping mendapatkan Kwon Hye Ji selaku kekasih Gikwang ada dihadapan mereka dengan tangan yang bersedekap didepan dadanya.

 

Jaekyung yang melihat Hye Ji hanya bisa mendengus kesal. Bertambah lagi orang-orang menyebalkan hari ini. Tidak, sebenarnya, Gikwang, Hye Ji adalah teman baiknya saat masih disekolah dulu, Hye Ji dan Gikwang sudah menjalin hubungan mereka sebelum mereka kenal dengan Jaekyung.

 

Dimaklumi saja, Jaekyung pindahan dari daerah Incheon dan pindah ke Seoul dan Jaekyung yang sangat suka menyendiri tak mendapatkan teman satupun. Dan sampai hari disaat hujan begitu besar, saat itu Jaekyung masih duduk kedinginan dihalte bus. Awalnya Jaekyung yang melihat datangnya Hye Ji hanya bisa menatapnya datar. Tapi saat Hye Ji memberikan tawaran untuk mampir sebentar dirumah, untuk berteduh dan menghangatkan tubuhnya sebentar, akhirnya Jaekyung menerima tawarannya. Dan saat itu pula Jaekyung dan Hye Ji berteman baik.

 

“Aigoo~ kenapa kau datang-datang dan sok ngebos seperti itu? Kau bisa membantu kami? Aku lelah!” keluh Jaekyung sambil mendudukan tubuhnya direrumputan.

 

Gikwang yang melihat Jaekyung duduk begitu saja hanya bisa mendengus kesal dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Jaekyung. “Ah, aku juga begitu lelah hari ini. Mengumpulan bahan-bahan untuk diteliti, sampai jam dua ini baru setengah jadi, jadi apakah dosen kita keterlaluan?” keluh Gikwang, Jaekyung yang mendengar keluhan Gikwang hanya bisa mengangguk setuju.

 

Iya, setuju. Dosennya benar-benar sangat keterlaluan. Kalau tidak ada tugas seperti ini. Jaekyung yang mengira hari ini akan pulang cepat, ia sudah merencanakan tidur sampai besok pagi. Tapi, hari ini benar-benar diluar kiranya, pulang telat, mengerjakan tugas yang sangat menyebalkan, dan badannya begitu lelah, ditambah ia lupa untuk mengisi perutnya.

 

“Lee Gikwang, Kwon Hye Ji.. apa kalian merasa lapar??”

 

***

 

“Kau yakin akan bisa menghabiskan semuanya?” Tanya Hye Ji pada Jaekyung. Melihat porsi makan Jaekyung yang begitu besar hanya bisa membuat mulut Hye Ji dan Gikwang menganga lebar.

 

“Kau seperti kerbau,” komentar Gikwang pada Jaekyung.

 

 

Jaekyung yang mendengar komentar temannya, hanya bisa acuh tak acuh. Persetan, perutnya begitu lapar dan harus diisi dengan makanan yang sangat banyak. Mungkin ini bawaan bayinya yang ingin memakan makanan yang banyak.

 

 

“Pagi tadi aku tak sarapan, dan jam dua belas tadi kita tak kekantin, dan jam setengah tiga kita baru mampir dikantin. Aku lapar teman-teman, kalian juga laparkan?”

 

“Tapi tak sebanyak punyamu kan? Lihat, ada Ramyun, kimbab, kimchi, Ttopoki. Apa perutmu akan memuat semuanya? Astaga, benar-benar sangat kelaparan, eh?” Jaekyung memandang sinis Gikwang yang masih saja berkicau bak burung beo kelaparan. Ngomong-ngomong kelaparan, Gikwang juga kelaparan.

 

“Dan Jaekyung~a kapan kau suka dengan teh melati?” tanyak heran dari Hye Ji.

 

Tentu saja heran, karna selama ini Jaekyung begitu anti dengan nama teh apalagi dengan kopi. Jaekyung selalu bilang, setiap minum teh atau kopi mulutnya pasti akan merasakan kecut dan tak nyaman. Jadi Jaekyung selalu menghindari dari teh dan kopi.

 

“Hari ini aku ingin mencoba minum teh, menyegarkan diri dari kepenatan membuat tugas kelompok yang begitu menyebalkan. Ya! Jangan bicara terus, cepat makan!” seru Jaekyung sambil melahap Ramyunnya dengan cepat, walaupun masih mengepul, mengluarkan asap Jaekyung terus saja memakannya.

 

“Aku ke toilet sebentar. Tiba-tiba saja perutku sakit,” ungkap Hye Ji sambil meletakan tasnya dikursinya. Hye Ji beranjak dari duduknya berjalan kearah belakang, meninggalkan Jaekyung dan Gikwang berdua.

 

Gikwang mengangguk, mempersilahkan kekasihnya untuk pergi kekamar mandi. Jaekyung masih tetap konsentrasi dengan makanannya yang ada didepannya. Melihat Jaekyung seperti orang kelaparan, Gikwang hanya bisa memandangnya aneh.

 

“Cepatlah makan, Lee Gikwang! Jangan hanya melihatku saja!” sembur Jaekyung pada Gikwang yang hanya melihat dirinya seperti itu. “Kau tidak akan kenyang hanya dengan melihatku seperti orang bodoh seperti itu,”

 

Gikwang mengikuti apa yang dikatakan oleh Jaekyung. Makan dengan nikmat mengabaikan Jaekyung yang begitu semangat memakan makanannya.

 

“Han Jaekyung!” ucap suara yang begitu dingin. Merasa mendengar ucapan itu Jaekyung menolehkan kepalanya kebelakang, mendapatkan Lee Donghae dengan tangan yang dimasukannya kedalam saku celananya. Setelah itu ia kembali fokus pada makanannya

 

Donghae memandang Jaekyung dengan tatapan tak suka. Dan entah, apakah Donghae menyadari apa yang dilakukannya. Ia merasa tak suka melihat Jaekyung yang sedang makan berduaan dengan laki-laki yang tak ia kenal.

 

Gikwang yang merasakan ditatap oleh orang yang memanggil entah siapa, ikut mendongak juga. Gikwang mendapatkan Donghae yang dibelakangi oleh tubuh Jaekyung, dialihkannya tatapan dari Donghae kearah Jaekyung yang masih menikmati makanannya. Melihat Jaekyung yang mengacuhkan Donghae, Gikwang juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Jaekyung.

 

Mendapati dirinya diacuhkan begitu saja oleh kedua orang yang sedang asik makan, Donghae geram langsung saja Donghae menyentuh bahu Jaekyung agar Jaekyung kembali menolehkan wajahnya dan menatap kearah dirinya.

 

“Wae?” ucap Jaekyung dengan mulut penuh makanan. Merasa kegiatan makannya terganggu Jaekyung langsung kembali melengoskan wajahnya menatap makanannya.

 

Ya! Han Jaekyung, ada Lee Donghae dibelakangmu kenapa kau malah mengacuhkannya?” ujar Gikwang yang merasakan hawa kecemburuan dari arah Donghae.

 

Jaekyung meletakan sumpitnya disamping mangkuknya, meneguk air dengan cepat agar makanan yang dengan lancar masuk kedalam sistem pencernaannya. Ia membalikan tubuhnya memandang Donghae dengan tatapan tak sukanya. Untuk apa dia hadir saat ia sedang menikmati makanannya, penganggu saja. Pikir Jaekyung dalam hati.

 

“Kau sedang apa disini?” Tanya Donghae bodoh. Mendengar pertanyaan Donghae yang benar-benar tak berbobot, membuat Jaekyung memutarkan bola matanya dengan bosan. Apakah Lee Donghae selain bodoh ia juga buta? Jelas-jelas ada didalam kantin, pasti sedang makan dan matanya juga pasti melihatkan kalau diatas meja terdapat berbagai makanan.

 

Melainkan Gikwang yang sedang mengunyah makanannya hampir saja tersedak karena menahan tawanya mendengar pertanyaan Lee Donghae. Dengan cepat Gikwang mengambil gelas yang ada didepannya, meneguknya dengan cepat agar ia bisa menelan makanan dengan paksa.

 

Donghae dengan santai duduk disamping Jaekyung, mengamati Gikwang yang kembali asik memakan Ramyun yang ada dihadapannya. Donghae ia tak habis pikir kenapa Jaekyung begitu acuh pada dirinya yang ada disampingnya saat ini. Temannya pun sama dengan Jaekyung, sibuk makan tak menghiraukan kehadirannya.

 

Melihat Jaekyung yang sedang mengelap bibirnya, tanpa diperintahkan tangannya mengambil air untuk Jaekyung dan langsung diterima oleh Jaekyung untuk segera diminum. “Oh, Lee Donghae!” ucap Jaekyung datar menghadap kearah Donghae.

 

Mendengus kesal Donghae melihat Jaekyung yang begitu dingin saat bertemu dengannya, entah apa yang membuat Jaekyung pada dirinya. Padahal selama ini ia tak pernah melakukan kesalahan pada gadis yang ada disampingnya. Dan hanya satu kali ia berbuat salah pada Jaekyung, yah saat ini, Jaekyung hamil karena dirinya. Dan itu pun tak disengaja oleh dirinya.

 

Lagi pula saat dirinya mabuk dipesta tiga bulan yang lalu, pasti Jaekyung yang sadar tak meminum alkohol pasti bisa melawannya bukan? Atau memang gadis itu juga meminum minuman yang beralkohol sampai ikut mabuk juga seperti dirinya. Tapi yang membuatnya aneh, yang diingat oleh Donghae, paginya ia memang disebuah kamar, hanya ada dirinya yang tebalut erat oleh selimut yang sangat tebal dan dirinya yang tak memakai sehelai benang pun.

 

Donghae mengalihkan pandangannya kearah teman laki-laki Jaekyung yang masih saja sibuk dengan makanan yang ada didepannya. Wajahnya yang begitu familiar, dan seketika ia ingat dengan laki-laki yang ada didepannya. Lee Gikwang, pria yang sering digosipkan oleh gadis-gadis yang ada difakultasnya, yang mengatakan bahwa Lee Gikwang begitu sangat tampan. Dilihat-lihat, yah memang sedikit–memang tampan–.

 

Je~!” ucap Donghae lagi pada Jaekyung yang kini sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya.

 

“Wae, Lee Donghae? Kau kesini untuk apa?” balas Jaekyung kembali acuh pada Donghae yang menatapnya geram.

 

“Kau ingin mengkhianati calon suamimu ini?” desis Donghae sambil menatap kearah Gikwang yang tiba-tiba saja tersedak kembali oleh makanan yang baru saja setengan tertelan. Gikwang langsung saja meminum air yang ada didepannya. Ucapan Donghae benar-benar membuatnya hampir mati seketika.

 

Jaekyung yang mendengarnya dengan jelas hanya bisa menatap Donghae dengan tatapan tajam miliknya. Apa pria yang ada disampingnnya memang gila? Apa memang sudah sangat gila? Sudah tahu ada temannya, kenapa malah mengungkapkan kata-kata seperti itu?

 

Mulut Donghae memang harus disumpal oleh sesuatu benda yang bisa menghentikan ucapan yang bisa saja keluar dari mulut Lee Donghae. Kalau dipikir-pikir mulut Lee Donghae itu mirip sekali dengan gadis-gadis penggosip yang ada difakultasnya. Batin Jaekyung dalam hati.

 

“Habiskan makanmu, Lee Gikwnag. Jangan hiraukan ucapan Donghae Sunbaenim ini, hum?” ucap Jaekyung pada Gikwang yang masih saja terbatuk-batuk tak jelas itu.

 

“Errr–sepertinya aku akan menyusul kekasihku dulu, Jaekyung-a,” balas Gikwang sambil berdiri. Sebelum dirinya beranjak selangkahpun, kekasihnya sudah muncul dari pintu kantin dan melangkah kearah kekasihnya.

 

Donghae tertegun mendengar ucapan Gikwang tadi. Ia bilang apa tadi? Kekasih? Apa benar memang sudah punya kekasih? Tapi saat dirinya mendongak lebih atas, ia melihat gadis yang tingginya tak jauh beda dengan Jaekyung ada berjalan kearah dirinya yang sedang duduk bersama dengan Jaekyung dan Gikwang.

 

“Hai,” ucap salam Hye Ji saat dirinya sudah sampai didepan Jaekyung, Gikwang dan Sunbaenya? Lee Donghae? Jadi gossip yang meredarkan bahwa Jaekyung menjalin hubungan dengan Donghae itu benar? Dalam hati Hye Ji tersenyum senang melihat temannya yang sudah memiliki kekasih.

 

Diingat kalau Jaekyung itu jarang sekali tertarik pada manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Yah, paling hanya beberapa pria yang bisa menarik perhatian Jaekyung selama Hye Ji berteman dengan Jaekyung. Sebenarnya banyak sekali yang menyukai Jaekyung, tapi mau bagaimana lagi Jaekyung begitu tak tertarik. Dan sekarang Hye Ji melihat kehadiran Donghae dengan raut wajah yang tersirat akan cemburu pada Jaekyung yang berduaan dengan Gikwang yang ada dihadapannya.

 

Hye Ji menatapa kearah sang kekasih yang masih saja sibuk menyantap makanannya. Ia ingin sekali memukul kepalanya, kekasihnya begitu tak sopan sekali dengan kehadiran seniornya. Dan Hye Ji juga ingin sekali memukul Jaekyung yang masih saja sibuk menyantap makanannya kembali.

 

“Ekhmm!” Hye Ji berdeham agak keras, agar Jaekyung dan Gikwang sadar dengan kehadirannya dan kehadiran Donghae yang sudah ada disamping Jaekyung dengan wajah yang begitu kesal.

 

Mendengar dehaman Hye Ji, Jaekyung menghentikan makannya. Menatap kearah Hye Ji yang sudah duduk disamping Gikwang. Jaekyung tersenyum, menampakan wajah yang begitu senang akibat perutnya yang sudah sangat kenyang. Bagaimana tidak kenyang makanan yang dipesannya begitu banyak.

 

“Kau tak makan Hye Ji~ya?” Tanya Jaekyung pada Hye Ji yang sedang meminum minumannya.

 

“Tidak, aku sudah kenyang. Annyeong Donghae Sunbae.” Sapa Hye Jin yang merasa sangat kasihan pada Donghae yang seperti tak dianggap kehadirannya oleh teman dan kekasihnya.

 

Donghae membalas sapaan Hye Ji dengan anggukan kepala dan senyum tipisnya. Walaupun senyuman tipis yang dikeluarkan oleh Donghae, membuat Hye Ji yang ada didepanny terpesona. Kalau saja dirinya tak ingat dengan kekasih yang ada disampingnya, mungkin ia sudah akan meminta Donghae sebagai kekasihnya. Dengan cepat Hye Ji menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Hye Ji  yang aneh Gikwang hanya bisa menatapnya dengan bingung.

 

“Kau kenapa?” Tanya Gikwang pada Hye Ji. Dengan cepat Hye Ji mengalihkan tatapannya yang saat itu masih memandang wajah seniornya, ia menolehkan wajahnya kesaping untuk menatap kearah kekasihnya.

 

“Aku? Tak apa-apa. Kau sudah selesai makan? Ayo cepat pergi,” Hye Ji dengan cepat menghambil tas yang ada dibelakang punggungnya. MengenakJannya dengan cepat lalu menarik tangan Gikwang yang alan mengambil gelas yang ada didepannya.

 

“Apa yang kau lakukan?” ucap Gikwang dengan gusar. Kesal dengan perlakuan kekasihnya yang aneh.

 

“Apa tugas kalian sudah selesai? Kalau belum selesai, aku dan Gikwang yang akan mengerjaknnya. Aku lihat tugas kalian sebentar lagi akan selesai. Mungkin satu jam terselesaikan. Jadi Jaekyung~a, selamat bersenang-senang,” ucap Hye Ji sambil melenggang pergi kearah luar kantin.

 

Jaekyung hanya bisa mengumpat kesal melihat Gikwang yang menoleh kearahnya dengan tatapan meminta tolong padanya. Tapi mau bagaimana lagi, Hye Ji begitu kuat menarik Gikwang, jadi ia tak bisa membantu. Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping, menatap kearah Donghae yang tersenyum melihat tingkah Gikwang yang ditarik paksa oleh kekasihnya, dan saat itu pula Jaekyung tersipu melihat senyuman Donghae manis –ia mulai sadar senyumnya memang manis–.

 

Merasakan dirinya diperhatikan oleh seseorang, Donghae menolehkan wajahnya, ternyata Jaekyung yang tengah memperhatikannya begitu intens. Saat itu pula Jaekyung terlonjak kaget akibat Donghae yang menolehkan wajahnya begitu mendadak. Jaekyung dengan cepat menatap kearah lain mencoba untuk menghilangkan rasa malunya karena ia ketahuan menatap Donghae secara diam-diam.

 

Donghae hanya bisa tersenyum simpul mendapati tindakan Jaekyung yang begitu malu-malu seperti tadi. Ia baru tahu kalau Jaekyung seperti itu. Selama beberapa saat mereka hanya diam, tak mengluarkan sepatah katapun. Tidak ada yang ingin mengalah untuk membuka suara.

 

Karena tak tahan dengan atmosfer kecanggungan, Donghae membuka suara untuk pertama kalinya, dengan ucapan bodoh yang pernah ia lakukan didepan gadis. Mungkin hanya gadis ini yang membuatnya begitu canggug. Biasanya ia akan biasa-biasa saja menghadapi gadis manapun. Mungkin gadis-gadis lain yang akan merasa canggung disekitarnya. Tapi sekarang berbeda, ia yang merasa canggung dihadapan seorang gadis.

 

“Hai,” itulah ucapan Donghae yang begitu bodoh. Dalam hati ia mengrutuki ucapan yang begitu keluar dari bibirnya. Ditambah Jaekyung yang sekarang mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Donghae yang mendadak seperti orang bodoh. Dalam hati, Jaekyung ingin sekali tertawa melihat wajah dan kelakuan konyol Donghae sekarang ini.

 

Hai? Astaga, kau sudah seperti orang bodoh, Lee Donghae, tapi kau memang bodoh bukan?” ucap Jaekyung datar sambil menatap Donghae yang masih saja menampakan wajah konyolnya.

 

“Iya, hai. Err–sudahlah tak usah pikirkan sapaanku tadi. Dan jangan katakan aku bodoh!” dengus Donghae sambil melengoskan wajahnya kearah lain.

 

“Jadi kau kesini ada apa?”

 

Ada apa? Tentu saja menimba ilmu, menurutmu apa lagi?” ucap Donghae semakin kesal dengan pertanyaan Jaekyung yang seperti orang bodoh.

 

Jadi kalau kalian berpikir bahwa keduanya memang sama-sama seperti orang bodoh.

 

Mendengus kesal Jaekyung langsung mencubit lengan Donghae, dan langsung saja Donghae mengeluh kesakitan. “Maksudku, ada apa kau datang kekantin dan langsung merusak acara makanku dengan Gikwang tadi?”

 

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Donghae hanya bisa diam. Dan ia merasa tersadar untuk apa ia datang kesini? Ah, tidak, tidak, ia memang berniat sekali untuk datang kekantin untuk membeli minuman karena ia sedang haus sampai saat ia masuk ia melihat Jaekyung yang sedang makan berduaan dengan laki-laki yang bernama Gikwang.

 

Donghae berdeham pelan, agar kegugupannya hilang. Geez! Bodoh sekali Lee Donghae, ini pertama kalinya dirinya begitu gugup. Ternyata gadis yang akan menjadi istrinya bisa membuatnya begitu canggung dan gugup seperti ini.

 

“Aku akan menyusul Gikwang sekarang, kau keberatan?” Tanya Jaekyung pada Donghae yang masih saja diam.

Donghae menoleh kearah Jaekyung yang sudah beranjak berdiri, menyampirkan tasnya dibahunya, bersiap-siap untuk pergi menyusul Gikwang yang sudah pergi. Saat Jaekyung mengambil langkah, dengan sigap Donghae menangkap pergelangan Jaekyung, menghentikan langkah gadis itu yang akan meninggalkannya.

 

“Bisa ikut denganku? Kita akan kerumah orang tuaku. Sekarang.”

 

 

***

 

Jaekyung mendeus kesal. Entah itu sudah berapa kali yang ia lakukan. Jaekyung masih setia menatap keluar jendela saat mobil sudah dijalankan olah pria yang ada disampingnya. Ia begitu kesal dengan tindakan paksaan yang dilakukan oleh Donghae. Ia sudah menolaknya mentah-mentah untuk tak ikut kerumah Donghae, tapi karena Donghae sama keras kepalanya seperti dirinya, akhirnya ia bisa duduk disamping pria disampingnya ini.

 

“Sunbae, aku masih banyak sekali tugas yang harus aku kerjakan,” ucap Jaekyung sambil menolehkan kepalanya, menghadap kearah Donghae yang sedang berkonsentrasi mengemudi.

 

“Bukankah tadi Gikwang dan kekasihnya akan mengerjakannya? Jadi kau bebas dari tugas tadi,”

 

“Tugasku bukan itu saja, Sunbae!” ucap Jaekyung kesal mendengar ucapan Donghae tadi.

 

“Aku akan membantumu mengerjakan tugas-tugasmu itu, jadi turuti apa yang aku minta sekarang!” ucap Donghae dengan tegas. Jaekyung hanya bisa mengemhembuskan napasnya pelan. Ia tak ingin berdebat dengan Donghae sekarang, karna tubuhnya tiba-tiba saja sangat lemas dan perutnya yang tiba-tiba merasakan sangat mual.

 

Jaekyung memegang lengan Donghae yang sedang mengendalikan mobil. Donghae yang merasakan tangannya disentuh oleh Jakyung dengan sigap menolehkan wajahnya kearah Jaekyung. Melihat wajah Jaekyung yang begitu pucat, Donghae langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan.

 

Donghae mengarahkan punggung tangannya kekening Jaekyung, untuk merasakan suhu tubuh Jaekyung. Suhu tubuhnya biasa saja, tapi kenapa wajahnya begitu pucat? Ada apa dengan Jaekyung sekarang ini? Pikir Donghae yang begitu takut dengan keadaan Jaekyung sekarang.

 

Jaekyung yang merasakan mual diperutnya, langsung saja membuka sabuk pengaman dan langsung membuka pintu mobil, ia keluar dari dalam mobil dan akhirnya makanan yang ia makan saat tadi keluar. Melihat Jaekyung mual seperti itu, Donghae dengan cepat keluar dari dalam mobil, membantu Jaekyung agar bisa rasa mualnya hilang.

 

Donghae kembali kemobilnya, ia bersyukur bahwa dibelakang jok mengemudinya tersedia beberapa obat. Donghae mangambil botol yang berisikan cairan aroma terapi agar rasa mual Jaekyung berhenti. Donghae kembali lagi untuk mengambil botol air mineral. Ia kembali bersyukur, bahwa ia sebelum pergi dari kantin ia membeli dua botol air mineral.

 

Dengan cepat Donghae membuka tutup botol air mineral tersebut, membantu Jaekyung berdiri dan langsung memberikan botol air mineral yang ada ditangannya. Setelah diterima oleh Jaekyung, Donghae memijat bahu dan tengkuk Jaekyung agar reileks kembali.

 

“Kau tak apa-apa?” Tanya Donghae yang begitu khwatir dengan keadaan Jaekyung sekarang.

 

Jaekyung hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Donghae. dengan kepala yang tiba-tiba diserang rasa pusing, Jaekyung melangkahkan kakinya kearah mobil Donghae. melihat Jaekyung yang kembali kearah mobilnya, Donghae dengan sigap membantun Jaekyung kearah mobilnya.

 

Setelah Jaekyung masuk kedalam mobil, dengan cepat Donghae masuk kedalam mobilnya. Ia duduk dan langsung menghadap kearah Jaekyung yang begitu lemas. Ia berpikir mungkin ini karena kandungannya. Ia jadi merasa kasihan dengan Jaekyung sekarang. Donghae membuka botol aroma terapinya yang ada ditangannya, lalu diusapkan pada tengkuk Jaekyung agar rasa mualnya hilang.

 

Setelah mengusapkan pada tengkuk Jaekyung, ia mengsupakan-usapkan kearah pelipis Jaekyung. Memijat pelipisnya agar rasa pusing yang ada dikepala Jaekyung segera hilang. Memijat kearah bahu Jaekyung, dan entah kenapa rasa saat menyentuh Jaekyung seperti ini perasaannya begitu senang.

 

“Kau istirarhat dirumahku saja, bagaimana?” tawar Donghae pada Jaekyung yang langsung dijawab anggukan oleh Jaekyung.

 

Jaekyung tidak bisa menolak atau membantah, karena tubuhnya begitu sangat lemas dan lelah, ia ingin segera cepat membaringkan tubuhnya dikasur yang nyaman. Ugh! Kenapa disaat seperti ini rasa mualnya datang? Padahal ia baru saja makan dengan sangat lehap hari ini, karena beberapa hari kebelakang nafsu makannya berkurang. Dan lihat sekarang, nafsu makannya meningkat, tapi akhirnya dikeluarkan lagi. Memejamkan matanya dengan sangat perlahan, lebih baik ia tidur terlebih dahulu, merilekskan tubuhnya.

 

***

 

“Bagaimana dengan keadaan Jaekyung?” Tanya Jin Mi–Ibu Donghae–  yang membawa nampan dengan segelas susu hangat.

 

“Dia tertidur, tubuhnya sangat lemah. Di saat perjalanan tadi ia memuntahkan semua makanan yang baru ia santap saat dikantin tadi,” ucap Donghae yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

 

“Baiklah, Eomma akan membuatkan dia bubur. Kau mandilah dulu, segarkan tubuhmu. Ibu sudah menyiapkan makanan  untukmu  dimeja  makan.”

 

 

Dengan cepat Donghae masuk kedalam kamarnya lagi, mengambil bajunya setelah itu ia bergegas untuk menyegarkan tubuhnya.

 

Setelah beberapa menit didalam kamar mandi, ia keluar dengan rambut basah dan segar. Ia menggosok-gosok ‘kan rambutnya dengan handuk putih yang ada ditangannya. Ia berjalan kearah Jaekyung yang masih saja terlelap dikasur miliknya.

 

Ia meletakan handuk kecil yang semula untuk menggosok rambutnya dinakas pinggir kasurnya. Donghae duduk dipinggiran kasur, meneliti wajah Jaekyung yang sedikit pucat. Tangannya ia ulurkan untuk mengelus pipi putih milik Jaekyung dan sensasi seperti tersengat ailiran listrik merambat ketubuhnya saat ia menyentuh pipi milik Jaekyung.

 

Donghae tersenyum, entah rasa senang merambat keseluruh tubuhnya. Ia mengamati wajah Jaekyung yang memang cantik, bibir yang tadinya merah kini menjadi pucat, walaupun pucat bibir merah Jaekyung masih terlihat menggoda. Rasanya Donghae ingin sekali menyentuh bibir milik Jaekyung, mengembalikan agar bibir Jaekyung terlihat merah lagi.

 

Sebenarnya Donghae masih sedikit mengingat rasa bibir Jaekyung, manis dan membuatnya ketagihan akan bibirnya. Dengan cepat Donghae menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran aneh yang tiba-tiba hinggap didalam otaknya.

 

Rambut milik Jaekyung juga tak lepas dari keterkaguman Donghae, panjang bergelombang, coklat kehitaman. Dan Donghae ingin sekali melihat rambut Jaekyung yang panjang ini diluruskan. Mungkin itu akan membuat Jaekyung sangat cantik dan mempesona.

 

Donghae menghentikan kegiatan menatap wajah Jaekyung. Kalau ia terus-terusan menatap wajah Jaekyung bisa-bisa Donghae tak tahan untuk mencium bibir Jaekyung. Lebih baik ia keluar kamar, menuju kemeja makan dan segera menyantap makanan yang dimasak oleh Ibunya. Dan pasti Ibunya juga sudah menyiapkan bubur untuk Jaekyung.

 

Dengan gerakan perlahan Donghae bernajak dari duduknya, berjalan kepintu kamarnya dan mendapatkan Ibunya yang ada diambang pintu kamarnya dengan tangan yang membawa baki dengan diatasnya mangkuk yang berisikan bubur. Donghae tersentak, pipinya bersemu. Ibunya pasti sudah sedari tadi diposisi seperti itu.

 

“Kau benar-benar terpesona olehnya? Dia memang cantik, dan laki-laki manapun pasti akan terpesona oleh wajahnya yang oval. Walaupun wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi, ia masih tetap mempesona. Dan kalau Ibu lihat-lihat, laki-laki akan terpesona oleh wajahnya yang datar. Itu yang membuat laki-laki manapun bisa tertarik padanya karena rasa penasaran akan sifat Jaekyung nantinya.” Ucap Ibunya yang membuat Donghae terkaget-kaget. Ia tak menyangka jika Ibunya mengatakan seperti ini.

 

Kalau Ibunya sudah berkata seperti itu, sudah pasti Ibunya sudah menyukai  Jaekyung. Dan kalau tidak salah Ibunya tak pernah sama sekali berberkata seperti itu jika ia menanyakan pendapat Ibunya tentang Hyera, dan Ibunya mengatakan biasa-bisa saja, ucapan Ibunya itu membuat Donghae sedikit kesal.

 

“Jadi cepatlah keluar dari kamar ini, Ibu akan membangunkan Jaekyung untuk makan.”

 

Donghae mendengus kesal mendengar ucapan Ibunya yang berani-beraninya mengusir dirinya dari kamarnya sendiri.

 

 

 

 

TBC

 

APA INI??????????????????????????????????????????

Aku nggak tau sama ending dichapter ini, bener-benar absurd dan tidak mengenakan. Aku bingung sendiri membuat endinganya. Jangan banatai aku yahhhh!!!  Dan sori for TYPO sori buat lama publish chap ini, dan sori ngga panjang. And sori beribu sori!!!!!!!!

THANK’S FOR READING!!!!!!!!!!!!!!

25 thoughts on “If This Was a Movie [Part 5]

    • emang sih lumayan pendek, tp di akhir memberi kabar bahagia, kl masalah donge sih sudah pasti dah jatuh cinta ma jaekyung. skarang dah plus mama nya. wow di mn2 yg namax calon mantu pasti dah loncat2 jika di sukai calon mama mertua. angin baik. di tunggu next part nya

  1. wlwpun gak panjang…tetep berterima kasih,krena ne epep dpublish juga…hehehhe

    Eh..itu ibu@ donghae suka sma jaekyung…
    Huaaa..seneng deh… Udah lah , apalgi dtunggu..kapan mereka married@ saeng ??????

  2. suka bgt ma ne ff… pi kependekan neh.. next part banyakin moment jaekyung ma donghae ya.. fighting bwt author… jgn lama2 part 6nya…🙂

  3. Err~ kebanyakan pemikiran masing”. Dialog nya jd sedikit😦
    gpp deh.. Itu aja udh bikin aku senyum” sendiri bacanya🙂

    .sblumnya.. Hai thor. Aku reader di fun with fanfiction yg nyasar(?) ke blog ini, saking ga sbar sma klanjutan ff nya :p

    .mohon di maklum thor :p

    anyyeong..

  4. Pengen liat tampang bdohnya LDH. kkkkkk

    Serasa pendek banget ni part and dialognya dikit, chingu

  5. HUAAA!!! akhir ya ne epep publish juga.udah lumutan aku nunggunya thor..
    thor ff nya kok pendek dari yang biasa?typo jga masih beredar
    next part ditunggu ne jangan kelamaan thor ^^

  6. kurang panjang thor,tpi uda bagus kok.^^
    aq paling suka part donghae jdi gugup di depan jaekyung xD
    next part d banyakin adegan donghae cemburu sama jaekyung ya.:D
    rasanya gimana gitu klo seorang LDH cemburu,kekekkek~

    okeh thor,d tggu next partnya:)

  7. part ini mnmpilkan kkaguman donghae pd jaekyung.. sweet bgt dah donghae perhtian ama jaekyung..
    udah resmiin cpt…ntar diambil gikwang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s