If This Was a Movie [Part 6]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

 

If This Was a Movie by Taylor Swift

 WARNING: TYPO

***

Merasakan aroma terapi yang masuk kedalam hidunganya, Jaekyung dengan pelan mengerjapkan matanya. Setelah dirasa matanya bisa beradaptasi dengan cahaya yang masuk kedalam matanya, ia membuka matanya lebar-lebar dan langsung mendapatkan wanita paruh baya dihadapannya dengan senyum yang terpancar di wajah.

Jaekyung mengingat-ingat wanita yang ada dihadapannya, sepertinya ia pernah  mengenal siapa wanita yang ada dihadapannya dan seketika ia ingat, wanita yang ada dihadapannya adalah Ibu dari calon suaminya–Lee Donghae–.

Dengan cepat ia menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dari hadapan Ibu Donghae. Tiba-tiba rasa malu menghinggap didalam dirinya. Dan kini ia heran, kenapa ia biasa ada dihapan Ibu Donghae? Seingatnya ia masih ada dikantin, makan dengan Gikwang dan datanglah Donghae dengan wajah yang menurutnya membosankan, setelah itu kalau ia ingat-ingat lagi diajak oleh Donghae untuk pulang dan ia pusing, perut mual dan pingsan?

Ya, dia baru ingat kalau dia pingsan karena perutnya yang selalu mual setelah ia makan. Maka dari itu ia jarang sekali makan. Menghindari dari rasa mual yang mendera dalam dirinya, ia cukup bosan saat dirumahnya setelah makan pasti ia bolak-balik  kamar  mandi saja.

“Jaekyung~a, boleh aku memanggilnya seperti itu?” tanya Ibu Donghae pada Jaekyung yang masih saja menundukan kepalanya.

Mendengar pertanyaan dari Ibu Donghae, Jaekyung langsung mendongakan kepalanya menatap wajah Ibu Jaekyung. Dia agak kaget dengan pertanyaan seperti itu, dia berfikir bahwa Ibu Donghae begitu sombong dan selalu memandang rendah orang seperti dirinya. Tapi lihat, bahkan nada suaranya begitu lembut dan tulus, membuat dirinya langsung menyukai.

Melihat wajah Ibu Donghae yang menatap penuh kearah Jaekyung agar segera menjawabnya, dengan cepat Jaekyung menganggukan  kepalanya, menandakan persetujuan. Jaekyung melihat senyum  tulus yang terlihat dari wajah Ibu Donghae dan itu membuat Jaekyung ikut tersenyum.

“Lihat, senyummu benar-benar membuat laki-laki manapun jatuh cinta padamu,” wajah Jaekyung langsung memerah mendengar ucapan Ibu Donghae yang begitu terang-terang.

“Dan lihat, wajahmu memerah menambakan kecantikan dirimu. Pantas saja tadi Donghae menatap wajahmu saat kau tidur,” ucap Ibu Donghae kali ini benar-benar membuat wajahnya semakin memerah. Ia benar-benar malu sekarang. “Ayo makan, aku Ibu suapi,” lanjut Eomma Donghae yang membuat Jaekyung tersedak oleh ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Ibu Donghae. “Kau panggil aku Eomma,” lanjutnya lagi.

Jaekyung mengunggukan kepalanya, mengartikan bahwa ia akan memanggil Ibu Donghae dengan sebutan Eomma. Jaekyung menerima mangkuk yang diulurkan oleh Ibu Donghae, dengan perlahan ia menyendokan bubur yang ada ditangannya masuk kedalam mulutnya.

Tiga menit akhirnya bubur yang ada didalam mangkuk itu habis dimakan oleh Jaekyung. Dengan perlahan ia mendongakan kepalanya, ia menatap wajah Ibu Donghae yang masih saja tersenyum menatapnya.

“Perutmu sudah  tak apa lagi?” tanya Ibu Donghae pada Jaekyung yang masih saja diam.

“Ehmm.. iya, sudah tidak mual seperti tadi,” jawabnya dengan suara pelan.

“Ya sudah, nanti Eomma akan  panggilkan Donghae kesini utntuk mengurusimu. Tugas Eomma sudah selesai. Cepatlah sembuh, Sayang.” Jaekyung menata Ibu Donghae dengan tatapan takjub, ia benar-benar tak menyangka dengan sikap Ibu Donghae yang benar-benar tak terduga.

Yah, Jaekyung masih tak percaya dengan sikap Ibu Donghae memang saat ia belum pernah bertatapan muka dengan Ibu Donghae, ia juga sempat berfikir bahwa Ibu Donghae itu sombong, yah bisa dilihat dari raut muka yang congkak, sombong dan masih banyak lagi. Tapi lihat benar-benar sangat beda sekali.

Jaekyung memandang pintu yang baru saja ditutup oleh Ibu Donghae tadi. Dengan perlahan ia menghembuskan napasnya, menyenderkan punggungnya dipunggung kasur. Ia tak menyangka bisa ada didalam kamar milik Donghae. Rapi, bersih dan yang lebih utama aroma tubuh Donghae yang benar-benar melekat didalam kamar ini.

Tanpa sadar Jaekyung memblalakan matanya, sejak kapan  ia hapal dengan aroma tubuh Donghae? Berpelukan saja tak pernah. Ah, jangan lupkan saat dikampus ketika Jaekyung dihimpit oleh Donghae saat itu. Dan yah, aroma tubuh Donghae terhirup olehnya.

Jaekyung  menoleh kesamping saat ia mendengar suara pintu terbuka, dan didapatlah Donghae yang masuk kedalam  kamarnya–kamar Donghae– dan Jaekyung tiba-tiba saja merasa gugup saat Donghae berjalan kearahnya. Ia merasakan bahwa sekarang ia seperti seorang istri yang sedang sakit dan sedang diurusi oleh suaminya.

“Kau sudah baikan?” tanya Donghae sambil menundukan tubuhnya dipinggiran kasurnya. Dengan perlahan tangan Donghae terangkat untuk mengukur suhu tubuh Jaekyung.

Melihat tangan Donghae terangkat, Jaekyung langsung menolehkan kepalanya kearah lain sehingga Donghae tak bisa menyentuh  kening Jaekyung. Melihat reaksi Jaekyung seperti itu membuat Donghae merasa malu sendiri dengan tindakannya yang seperti itu.

“Aku tidur berapa jam?” tanya Jaekyung pada Donghae.

“Ehm—setengah  jam yang  lalu. Wae?” jawab Donghae sambil menatap mata Jaekyung yang masih sedikit agak memerah, “matamu merah, lebih baik kau istirahat saja. Nanti, jam tujuh  malam  akan aku antar  kau pulang.”

Jaekyung  mengiyakan perkataan Donghae. Ia dengan perlahan merebahkan tubuhnya dikasur milik Donghae dan dengan perlahan juga ia mengantupkan kedua manik matanya. Donghae yang melihat Jaekyung  yang  sudah terlena  didalam mimpinya, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi kanan Jaekyung yang sedikit memerah. Sebelum ia beranjak dari duduknya, ia membenarkan letak selimut yang digunakan  oleh Jaekyung.

Sebelum ia meninggalkan Jaekyung yang terlelap dikamarnya, perlahan Donghae membungkukkan badanya kearah Jaekyung,  membisikan  kata-kata yang membuat Jaekyung semakin terbuai oleh alam mimpinya.

“Tidurlah yang  nyenyak Jaekyung~a,” ucap Donghae sambil mengecup kening Jaekyung.

***

Perlahan Jaekyung keluar dari dalam kamar Donghae. Ia merasa bahwa rumah yang sedang ia tinggali benar-benar sangat sepi, tak berpenghuni. Jam sudah menunjukan jam delapan malam, ia mengerang kesal, ia ingat dengan perkataan Donghae sebelum ia tidur tadi, bahwa ia akan puleng kerumahnya jam tujuh malam, tapi sekarang sudah jam delapan malam. Oh, sial.

Jaekyung melangkahkan kakinya menuruni tangga satu persatu. Matanya menatap kembali rumah Donghae yang benar-benar sangat mewah. Ini tidak sebanding dengan rumahnya yang terbilang sangat beda sekali dengan rumah milik Donghae. Tapi, ini terlalu sangat luas, ia tak begitu menyukai rumah yang terlalu sangat luas seperti ini.

Dan lagi pula siapa yang akan mengajaknya untuk tinggal dirumah mewah seperti ini? Jaekyung menghembuskan napasnya pelan. Ia ingin pulang. Sebenarnya pulang sendirian juga tak apa-apa, tapi itu sama sekali tak sopan. Jadi lebih baik ia duduk di sofa yang ada dihadapannya dan menunggu Donghae yang mungkin saja datang kearahnya.

“Hei, kau sudah bangun?” ucap seseorang dengan suara yang begitu ceria dibelakangnya. Jaekyung membalikan tubuhnya, dan langsung mendapatkan Donghae yang keluar dari arah rungan yang di belakangnya. Ternyata Do’anya dikabulkan oleh yang ada di atas.

“Yah, kau lihat sendiri bukan? Kalau aku belum bangun, aku masih terbaring nyaman didalam kamarmu sampai besok pagi,” Jaekyung memutar bola matanya saat ia mendengar ucapan Donghae tadi.

“Hn.. kenapa kau tak tidur saja di kamarku? Nantinya juga aku akan bergabung denganmu kalau sudah terlalu larut,” Donghae bejalan kearah Jaekyung, setelah sampai disisi Jaekyung Donghae langsung menundukan tubuhnya.

“Aku ingin pulang, aku takut Eomma akan khawatir padaku,”

“Baiklan, tunggu aku sebentar. Aku mau mandi dulu,” Donghae beranjak dari duduknya berjalan dengan siulan yang terdengar senang itu.

Dan untuk Jaekyung sendiri masih mencerna ucapan Donghae. Dia bilang apa? Mandi? Tapi lihatlah, belum mandi saja dia benar-benar amat sangat menawan sekali dan bau tubuhnya begitu sangat kuat saat indera penciumannya menghirupnya dari dekat. Apa lagi setelah dia mandi, dan Jaekyung tak kuat untuk membayangkannya.

***

“Han Jaekyung?” ucap Gikwang kaget saat melihat sahabatnya yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Sudah lima hari Jaekyung tak masuk kuliah, Dan sekarang Gikwang melihat Jaekyung masuk kuliah dengan penampilan yang sangat berbeda dengan  saat terakhir ia lihat saat makan siang setelah mengerjakan tugas saat itu.

Gikwang hanya bisa menatap Jaekyung dari atas sampai bawah, tak menyangka melihat sahabatnya yang telah mengganti warna rambutnya yang semula berwarna coklat kehitaman sekarang  dengan warna merah yang sedikit keunguan. Entah Gikwang sendiri tak bisa mendeskripsikan penamplan Jaekyung.

Rambut lurus panjang yang tak berponi dengan warna rambut yang seperti itu. Dan Gikwang berpikir bahwa sahabatnya ini benar-benar cantik. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan kekasihnya masih tetap cantikan kekasihnya.

“Kau Jaekyung?” tanya Gikwang bodoh pada Jaekyung yang ada dihadapannya. Mendengar pertanyaan Gikwang, Jaekyung hanya bisa mendengus kesal.

“Tentu saja Lee Gikwang! Ini aku, Han Jaekyung sahabatmu yang cantik!” jawab Jaekyung sambil mengangkat dagunya tinggi. Gikwang hanya bisa tersenyum melihat tingkah Jaekyung yang seperti itu.

“Aigoo! Kau berubah, Jaekyung~a!!!”

“Yah, aku berubah menjadi Power Rangers berwarna merah,” ketus Jaekyung yang lagi-lagi mendengar ucapan bodoh Gikwang.

“Tapi aku benar, kau berubah dan sekarang kau cantik!”

“Memang dulu aku tak cantik?” tanya Jaekyung pada Gikwang yang sedang memainkan ponselnya. “Bisa geser sedikit? Aku ingin duduk,” lanjut Jaekyung. Dengan cepat Gikwang menggeser duduknya.

“Kau cantik sih, tapi lebih cantik sekarang,” ucap jujur Gikwang, “tapi tentu saja kau masih kalah dengan Hye Ji-ku.” Lanjut Gikwang sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Ya, ya aku tahu! Hye Ji memang cantik. Ah, lupakan, apa saja yang aku tak tahu beberapa hari yang lalu? Tugas? Gossip?” Gikwang menyipitkan matanya,  baru kali ini ia mendengar temannya bertanya tentang gosip. Biasanya temannya yang satu ini tidak perdulian sekali dengan namanya gosip, tapi lihat sekarang benar-benar sangat berbeda sekali.

Tanpa sadar Gikwang menggelengkan kepalanya pelan, masih memandang kearah temannya yang ada disampingnya. Matanya tanpa sengaja melihat kearah  jari-jari tangan Jaekyung, kuku yang dilapisi oleh cat-cat yang ia ketahui adalah kuteks, dan pertanyaannya adalah sejak kapan Jaekyung menyukai hal-hal wanita seperti itu? Membuat Gikwang merasa aneh dengan penampilan Jaekyung sekarang.

Gikwang menyentuh tangan Jaekyung yang sedang memegang ponselnya, membuat Jaekyung menolehkan kepalanya kearah Gikwang, “Wae?” tanya Jaekyung yang merasa aneh dengan tingkah Gikwang.

“Sejak kapan kau memakai Kuteks,” tanya Gikwang bodoh, dengan raut wajah yang membuat Jaekyung ingin tertawa.

Jaekyung melepaskan tangan Gikwang yang masih memegang tangannya, dengan cepat ia menjelaskan kenapa ia bisa merubah dirinya seperti ini, karena ia benar-benar bosan dengan gayanya yang dulu itu maka dari itu ia merubah semuanya. Dari atas hingga bawah, merubah ganti gaya rambut, warna rambut dan kini ia tiba-tiba menyukai dengan kuteks. Jaekyung merasa bahwa jari-jarinya yang panjang ini akan semakin cantik jika di kuteks seperti ini.

Gikwang yang mendengar penjelasan Jaekyung tidak bisa mengantupkan mulutnya, ia benar-benar sangat terkejut dengan penjelasan Jaekyung. Tapi yah, ia akan mengatakannya lagi bahwa Jaekyung benar-benar sangat cantik sekarang.

***

Donghae keluar dari dalam  perpustakaan, ia benar-benar bosan  karena hampir tiga jam lebih ia duduk ditemani dengan puluhan buku tebal, pulpen, serta buku. Tugas-tugas yang membuatnya ingin sekali cepat-cepat keluar dari kampus ini, dan langsung terjun keperusahaan Ayahnya.

Ia memandang pemandangan kampusnya yang sangat luas, dengan taman yang di penuhi oleh mahasiswa yang sedang duduk santai dan ada beberapa yang sedang bergosip atau sedang berduaan dengan sang kekasihnya.

Ah, mengingat-ingat tentang kekasihnya, Donghae mengingat tiga hari yang lalu tentang bagaimana ekspresi Hyera saat ia memutuskan hubungannya. Ekspresinya benar-benar tak ada, marah, sedih, atau apapun ekspresi tak ada. Dan saat itu Hyera hanya mengatakan, “ya, aku juga ingin sekali mengakhiri hubungan kita, karena  aku ingin  fokus terlebih dahulu.. maafkan aku,

Mendengar jawaban seperti itu, Donghae hanya mampu menatap Hyera dengan pandangan datarnya. Sepertinya Hyera tak benar-benar mencintainya. Hyera terlalu terobsesi dengan profesi ayahnya yang dikantornya. Sebenarnya itu memang bagus, tapi Donghae benar-benar muak dengan keobsesian Hyera yang seperti itu, egois.

Dengan perlahan Donghae menghirup udara yang ada disekitarnya dengan pelan. Masalah pertama sudah selesai, ia hanya tinggal mencari Jaekyung yang tiba-tiba saja hilang dari area kampus. Kalau sudah dihitung dengan jari, Jaekyung tidak ada dilingkungan kampus lima hari ini.

Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Mengingat saat itu keadaan Jaekyung benar-benar memprihatinkan, dengan wajah  yang pucat, mual-mual. Saat itu benar-benar membuat dirinya was-was dengan Jaekyung. Tapi ia berdoa semoga saja Jaekyung dan kandungannya baik-baik saja.

Entah kenapa akhir-akhir ini ia sering sekali memikirkan keadaan Jaekyung. Mungkin karena kandunganya yang berisikan anaknya, atau benih-benih cinta yang tiba-tiba saja datang kehatinya? Dengan cepat Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan pemikiran yang aneh seperti tadi.

Donghae memasuki kearah kantin kampusnya, mengambil meja yang paling ujung. Ia ingin sekali mendapatkan ketenangan, karena dua hari yang lalu banyak sekali mahasiswa-mahasiswa yang membicarakannya pasca ia memutuskan Hyera, dan entah siapa yang menyebarkan berita itu.

Hnn, tidak di perpustakaan, tidak dikantin benar-benar sangat membosankan sekali. Dan ditambah dengan para wanita yang secara terang-terangan menatapnya dengan tatapan dambaan yang akan ditepis jauh-jauh olehnya, karena ia memang tak tertarik dengan wanita yang ada dikampusnya.

Tapi sepertinya berbeda dengan dua wanita yang selalu ada diotaknya, berbeda dan dirinya menyukainya. Tapi Jaekyung sepertinya mendominasi yang ada diotaknya. Donghae menolehkan kepalanya kesamping, memandang taman belakang kampusnya, dan seperti taman yang ia lewati, banyak sekali mahasaiswa yang sedang duduk dikursi taman.

Tanpa sengaja matanya mendapatkan seorang wanita yang baru saja memenuhi otaknya, dan sekarang sedang tertawa lepas dengan teman laki-lakinya yang bernama Lee Gikwang. Donghae mendengus, melihat wajah Jaekyung yang seperti tak ada beban dibahunya.

Donghae sering berpikir, kalau Jaekyung orangnya seperti wanita-wanita lainnya, akan menangis merengek-rengek meminta pertanggung jawaban, tapi lihat Han Jaekyung yang biasa-biasa saja.  Tapi  ia bersyukur bahwa wanita yang ia hamili bukan wanita cengeng ataupun lainnya.

Matanya masih memperhatikan tingkah laku Jaekyung yang benar-benar seperti anak kecil. Tanpa sadar bibirnya tersenyum melihat Jaekyung. Lirikan matanya beralih kearah perut Jaekyung yang sudah agak besar. Saat itu kepalanya langsung seperti dipukul oleh palu yang beratnya sepulu kilogram, memikirkan bagaimana pernikahannya nanti.

Dengan cepat dirinya beranjak dari duduknya, meletakan uang yang ia ambil dari dompet kemeja tersebut. Ia melangkah dengan langkah yang santai. Padahal hatinya begitu gugup mendekati kearah Jaekyung. Dalam kejauhan ia merasa aneh dengan penampilan Jaekyung yang ia lihat. Tidak, jangan berpikiran bagaimana dengan  kata ‘Aneh’ yang ada dipikirannya, Jaekyung cantik sekali dengan penampilannya sekarang, terlihat sangat dewasa, dan ia menyukainya.

Sejakan  kapan warna rambutnya berubah? Dan sejak kapan tatanan rambutnya seperti itu? Membuat dirinya dibuat terpesona oleh penampilan Jaekyung yang seperti itu. Donghae menghembuskan napasnya pelan, entah tiba-tiba saja ia gugup dekat dengan Jaekyung sekarang.

Melihat Jaekyung menolehkan kepalanya kearah dirinya membuat dirinya bertambah gugup. Tidak, selama ini ia tak pernah gugup jika ditatap oleh seorang wanita, melainkan dulu biasanya wanita yang ia pandangi akan gugup. Kenapa malah berbalik seperti ini?

Donghae berhenti beberapa meter dari mereka. Melihat Gikwang yang berpamitan pergi, Jaekyung hanya cemberut melihat Gikwang yang pergi, dan menatap tak suka kearah Donghae yang masih saja menatapnya seperti itu.

Mengerjapkan matanya pelan, Donghae kembali melanjutkan langkahnya. Setelah sampai ia langsung mengambil duduk disamping Jaekyung yang sedang merengut kesal pada dirinya. Kembali Donghae tersenyum melihat tingkah Jaekyung yang seperti anak kecil ini.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” ucap Donghae sebagai pembukaan pembicaraan mereka yang pertama sejak beberapa hari yang lalu mereka tak bertemu.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab Jaekyung dengan suara pelan. Ia memandang kearah bunga-bunga yang bermekaran di area taman kampusnya. Melihat bunga yang segar-segar seperti itu, membuat Jaekyung ingin sekali mempunyai rumah yang mempunyai taman bunga yang akan ia urusi sendiri, tapi sepertinya itu hanya sebuah mimpi belaka.

“Bunganya indah bukan?” ucap Donghae membuyarkan lamunan Jaekyung tentang rumah masa depannya.

“Yah, sangat indah..” jawab Jaekyung malas karena lamunannya pudar begitu saja.

“Kau ingin merawat bunga-bunga seperti itu?” Jaekyung menoleh kearah samping, memandang wajah Donghae yang menatap kearah hamparan bunga yang ada diarea taman kampusnya. Jaekyung sedikit tertarik dengan pertanyaan Donghae ini, apa yang akan diucapkan nantinya jika dirinya menjawab ‘Iya’ apakah akan dikabulkan atau  tidak?

Dengan sangat ragu ia menganggukan kepalanya pelan, dan saat itu ia hampir memekik kaget dengan ucapan Donghae saat ini. Ucapan yang benar-benar gila.

“Hmm, ayo kita melihat rumah yang luas dan dengan adanya taman bunga seperti itu.”

***

Jaekyung sudah puluhan kali menghela nafas bosan, bukankah apa yang dikatakan oleh Donghae saat dikampus tadi mengajaknya mencari rumah untuk mereka tinggali nanti? Tapi kenapa malah sekarang mengajaknya kerumahnya dan sekarang ia sedang menemani Donghae yang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Sedangkan dirinya hanya duduk, menopang dagunya dengan tangannya, menatap lurus kearah tumpukan buku yang ada disimpan rapih di rak buku.

Tidak, jangan kalian pikir bahwa dirinya wanita yang haus akan kekayaan milik Donghae, hanya saja dirinya ingin segera pulang kerumahnya atau bertemu dengan teman-temannya dikampus. Tapi situasi ini benar-benar membosankan.

Dengan perlahan Jaekyung beranjak dari duduknya, melangkah kearah rak buku tersebut dan langsung tertarik dengan buku-buku yang tersimpan rapih. Jaekyung membaca judul buku tersebut satu-persatu sampai akhirnya ia menemukan sebuah buku yang menurutnya sangat menarik. Dengan cepat ia mengambilnya, kembali ketempat Donghae yang sedang mengerjakan tugas.

Donghae mendongakan kepalanya menatap kearah Jaekyung yang sedang membaca serius novel miliknya hanya bisa tersenyum tipis. Kalau boleh jujur wanita yang pernah memasuki kamarnya hanya Jaekyung saja, Hyera walaupun ia sering kerumahnya, ia tak pernah mengijinkan Hyera masuk kedalam kamarnya. Tapi lihat sekarang, Jaekyung yang bukan siapa-siapanya malah ia ajak kekamarnya. Dan ini yang kedua kalinya.

Donghae kembali tersenyum, saat melihat raut wajah Jaekyung yang awalnya  tak suka saat diajak untuk memilih sebuah rumah, kini wajahnya menampakan raut wajah yang benar-benar tak suka saat ia mengatakan untuk menemani mengerjakan tugas kuliahnya.

“Novel ini membosankan!!” ucap Jaekyung ketus saat membaca beberapa lembar novel tersebut. Dengan asal Jaekyung melempar novel tersebut keatas kasur milik Donghae.

“Hei, itu Novelku! Kenapa kau malah melemparnya?” tanya Donghae yang tak terima dengan perlakuan Jaekyung terhadap benda-benda miliknya. Jaekyung yang mendengar protesan Donghae hanya bisa mendengus kesal. Sebenarnya Novelnya tidak membosankan, tapi karena keadaan Jaekyung yang suka sekali marah-marah tetap saja menganggap semua yang ia lakukan sangat membosankan.

“Boleh aku tidur?” tanya Jaekyung pada Donghae, mendengar pertanyaan Jaekyung, Donghae hanya menganggukan kepalanya saja. Biarkan saja lagipula ini bukan pertama kalinya Jaekyung tidur diatas kasurnya, dan aneh sekali padahal belum satu bulan mereka kenal, tapi dirinya sudah begitu nyaman dengan Jaekyung.

Donghae kembali mengerjakan  tugasnya yang sempat tertunda. Ia mengerjakan tugasnya dengan cepat dan setelah itu ia akan membawa Jaekyung untuk memilih rumah yang akan mereka tempati nanti. Ugh! Kalau dipikir-pikir lagi, kegiatan seperti ini benar-benar seperti dirinya akan selamanya bersama Jaekyung.

Pernikahan selama kurang dari dua tahun, nanti mereka akan bercerai, ketika anak mereka sudah berumur enam bulan, yah mereka akan berpisah. Padahal belum melaksanakan pernikahan mereka, tapi rencana untuk bercerai sudah ada terlebih dahulu. Kalau dipikir lebih lagi dirinya benar-benar sangat brengsek. Pernikahan ini bukan untuk permainan, ini hal sakral. Tapi dia tak menyukai Jaekyung. Jangan munafik, Lee Donghae akui saja kalau kau memang menyukai wanita yang sedang terbaring diatas kasurmu itu. Batin Donghae berbicara.

Alasan yang benar-benar klasik, tidak menyukai Jaekyung.  Bukan kah Jaekyung menarik? Jadi kenapa dirinya masih saja tak menyukainya, atau dirinya tak mau mengakui perasaannya yang dia rasakan disaat dirinya berdekatan dengan Jaekyung.

Donghae menggelengk-gelengkan kepalanya pelan, menghilangkan pemikiran yang ada diotaknya. Lebih baik ia berpusing ria mengerjakan tugasnya dari pada ia pusing dengan perasaannya.

***

Jaekyung memandang kagum interior ruangan yang sedang ia lihat. Benar-benar sangat bagus dan indah. Ia sudah menjelajahi ruangan dirumah tersebut. Rumah yang benar-benar membuatnya sangat nyaman. Rumah yang bercat coklat dengan halaman depan yang luas. Jaekyung menolehkan kepalanya kesamping menatap kearah Donghae yang menatap ruangan tersebut dengan datar. Dan Jaekyung tahu sekali bahwa Donghae tak menyukai rumah yang sedang dikagumi oleh dirinya.

“Kita kembali kerumah sebelumnya, sepertinya ini terlalu besar,” dusta Jaekyung. Perlahan ia menghembuskan napasnya. Ia tak boleh egois, rumah yang akan mereka tinggali bukan dirinya yang akan membayarnya, melainkan laki-laki disampingnya, jadi ia akan menurut apa yang akan menjadi keputusan laki-laki disampingnya.

“Wae?” tanya Donghae keheranan. Mendengar pertanyaan Donghae, Jaekyung hanya menggelngkan kepalanya pelan.

“Ugh! Rumah tadi sepertinya menarik, kenapa kau tak ambil rumah tadi saja? Bukankah interornya bagus, penuh dengan seni tak terlalu mewah seperti rumah  ini.” Ucap Jaekyung pelan sambil berjalan keluar rumah.

“Yah, rumah tadi menarik perhatianku,”

“Nah, sudah kita kembali saja kerumah tadi. Jarak dari rumah tadi kekampus juga tak terlalu jauh bukan?” Jaekyung kembali menghembuskan napasnya pelan .

Donghae membukakan pintu mobilnya tersebut untuk Jaekyung yang sebelumnya ia membungkukan badannya untuk meminta maaf dan berterima kasih telah dipersilahkan untuk melihat-lihat rumah tersbut.  Setelah Jaekyung masuk kedalam mobilnya, Donghae berjalan kearah pintu mengemudinya dan ia langsung masuk dan menjalankan mobilnya. Kembali kerumah sebelumnya.

“Bagaimana dengan kuliahmu nanti?” ucap Donghae tiba-tiba, mengagetkan Jaekyung yang sedang melamun.

“Eh? Apa?” Jaekyung menolehkan kepalanya kesamping, menatap Donghae dengan tatapan tak mengertinya.

“Perutmu sudah agak membesar, kau sudah mengambil cuti kuliah?” tanya Donghae kembali, mendengar pertanyaan Donghae Jaekyung langsung menunduk, menatap kearah perutnya yang memang sudah agak buncit. Ia belum sempat untuk meminta ijin cuti kuliahnya, dan apa alasannya nanti. Ugh! Ini benar-benar sangat membingungkan, pikir Jaekyung dalam  hati.

“Akan aku pikirkan nanti dirumah, ini benar-benar membuat kepalaku pusing!” mendengar ucapan Jaekyung, Donghae langaung menghentikan laju mobilnya mengakibatkan Jaekyung yang hampir terkantuk dashboard.

“Lee Donghae!” protes Jaekyung pada Donghae yang tak berhati-hati dalam menyetirnya.

“Aku  tak sengaja, maaf!” sesal Donghae. “Kau baik-baik saja?” lanjut Donghae, Jaekyung hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

“Kalau begitu aku akan meminta izinnya besok. Lebih cepat lebih baik bukan?” tanya Jaekyung sambil menatap kearah Donghae. Donghae sendiri tersenyum melihat Jaekyung yang sedikit agak ramah hari ini.

Dan akhirnya hari ini mereka berdua melewati dengan sangat baik. Walaupun perdebatan mendominasi mereka. Tapi itu lebih baik bukan dari pada dengan awal mereka bertemu. Mereka memilih rumah yang pertama kali mereka lihat, walaupun dalam hati Jaekyung tak begitu suka dengan rumah tersebut, tapi jalani saja dulu mungkin dirinya akan nyaman tinggal dirumah tersebut, pilihan dari Donghae.

Sebenarnya dirinya ingin sekali protes, tapi mau bagaimana lagi ini sudah terlanjur. Dan yah pilihan Donghae memang tidak buruk. Kalau diperhatikan dengan baik rumah yang menjadi pilihan Donghae memang bagus dan nyaman. Mungkin dirumah mereka datangi tadi sebelum kerumah ini lagi, Jaekyung hanya tertarik dengan halaman depannya saja. Tidak seperti rumah ini yang hampir membuat semuanya nyaman.

Setelah keputusan memilih rumah sudah, Donghae dengan segera mengantarkan Jaekyung kerumahnya karna hari sudah hampir sore. Kalau boleh jujur Donghae masih mau bersama Jaekyung sampai malam nanti, tapi sifat keras kepala Jaekyung membuat Donghae menurut saja dengan kemauan Jaekyung.

Donghae keluar dari dalam mobilnya, ia berlari pelan kerah pintu mobil yang telah terlebih dahulu dibuka oleh Jaekyung sendiri. Jaekyung yang sudah menutup pintu mobilnya dan menghadap kearah Donghae dan menatapnya. Jaekyung sendiri agak geli melihat tingakah Donghae yang membukakan pintu mobilnya, mungkin ini sudah diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk memperlakukan seorang wanita dengan sopan. Tapi kalau seperti ini benar-benar membuatnya agak geli.

Jaekyung berpamitan pada Donghae yang sebelumnya menawarkan Donghae untuk mampir terlabih dahulu dirumahnya. Tapi langsung ditolak halus oleh Donghae, Jaekyung hanya mengiyakan keputusan Donghae saja. Sebelum dirinya masuk kedalam rumah, Jaekyung memastikan mobil Donghae melaju dan menjauh dari jarak pandanganya. Setelah itu dirinya masuk kedalam rumahnya yang sepi dan langsung masuk kedalam kamarnya untuk tidur, merilekskan tubuhnya yang pegal-pegal.

Jaekyung kembali membuka matanya, ia berpikir kenapa dirinya begitu aneh saat pertama kali ia mendapatkan dirinya hamil diluar nikah dan sekarang dirinya berbeda sekali dengan dulu. Sekarang ia biasa-biasa saja, terpebih ia malah sedikit lupa dengan kandungannya, sampai-sampai ia lupa untuk memikirkan cara alasan untuk meminta cuti kuliahnya.

Dahinya mengerut membayangkan saat mahasiswa-mahasiswa yang mengetahuinya akan menikah dengan Donghae, apakah dirinya akan dipukuli, dibully seperti Hoobaenya tahun lalu yang pernah menyatakan perasaannya pada Donghae yang sampai-sampau Hoobaenya itu pindah kuliah akibat para fans Donghae yang terlalu fanatik. Padahal Donghae bukan seorang artis atau apa, tapi banyak sekali fans-fansnya.

Tapi telinganya mendengar bahwa Donghae menjalin hubungan dengan Hyera ada beberapa bibir yang menggosipkan mereka berdua sampai-sampai dirinya yang mendengarnya itu menggerutu kesal. Membuat telinga Jaekyung bising mendengarnya. Sangat berlebihan sekali, masih banyak sebenarnya laki-laki tampan dikampusnya, seperti Kim Jaejong yang satu angkatan dengan Donghae, dan masih banyak lagi laki-laki tampan selain Donghae. Tapi masalahnya kenapa banyak sekali wanita yang mengaguminya? Apa dia memakai mantra? Tapi sepertinya itu tak mungkin sekali. Jaekyung menggeleng-gelengkan kepalanya.

Lebih baik ia kembali tidur saja, dari pada ia memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan.

***

Donghae menatap sekelilinganya yang sepi, setelah menatap kearah sekelilingnya untuk melihat apakah Hyera datang atau tidak. Ia mempunyai janji untuk bertemu dengan Hyera disalah satu tempat Favoritnya dan Hyera Dan matanya seketika berbinar-binar melihat Hyera yanag sedang berjalan dengan agak tergesa kearahnya. Setelah sampai didepannya Donghae langasung menggenggam tangannya.

Dengan cepat Donghae memesankan minuman untuk Hyera, setelah minuman datang Hyera langsung meminumnya. Keadaan masih hening, tidak ada yang membuka suara. Mungkin mereka–atau lebih tepatnya hanya Donghae saja–yang menikmati akan hadirnya Hyera disampingnya.

“Aku akan menikah,” ucap Donghae tiba-tiba. Membuat gerakan tangan Hyera yang sedang memutar-mutarkan gelasanya berhenti. Mata Hyera sibuk memandangi es batu yang ada digelasnya.

“Dengan siapa?” beberapa saat tadi hening kini Hyera yang membuka suaranya. Hyera masih tak menyangka bahwa laki-laki yang ada disampingnya akan menikah. Dan bukankah beberapa minggu yang lalu laki-laki yang ada disampingnya ini melamarnya? Dan, oh, ia lupa, bahwa hubungannya dengan laki-laki disampingnya ini sudah selesai, tak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi kenapa sekarang laki-laki yang ada disampingnya mendadak mengatakan akan menikah? Tidakkah ini benar-benar sangat keterlaluan?

“Han Jaekyung,” ucap Donghae palan.

Han Jaekyung? Nama yang sedikit begitu familiar ditelinganya. Dan yah, dirinya cukup ingat dengan nama itu, karena nama itu selalu dikumandangkan oleh kaum laki-laki yang ada difakultasnya. Dia juga kadang sering melihat Han Jaekyung itu mendekam diperpustakaan atau ditaman belakang kampusnya bersama teman laki-lakinya yang entah dirinya tak tahu siapa namanya.

“Kau kenal dia?” tanya Donghae pada Hyera yang masih saja diam. Hyera hanya menganggukan kepalanya pelan, mengiyakan pertanyaan Donghae. Dalam hatinya ia benar-benar sakit hati dengan berita yang diucapkan langsung oleh Donghae.

“Yah, dia cukup terkenal dikalangkan laki-laki difakultasku. Dan dia cukup cantik apa lagi sekarang dia merubah segala penampilannya, tapi hei, masih cantik diriku bukan?” Hyea menghibur dirinya sendiri yang merasa sedih. Tapi untuk apa dirinya bersedih? Salahnya sendiri kenapa dia menolak lamaran Donghae waktu itu dan sekarang dia tak boleh menyesal mengingat hubungannya sudah kandas.

Mereka berdua kini berdiam kembali. Menikmati akan keheningan yang melanda mereka berdua. Hanya ada deru nafas dan musik klasik yang memenuhi ruangan tersebut. Pikiran Donghae melayang pada masa kesil dirinya dan Hyera, Donghae berpikir saat dulu kalau dia dan Hyera akan bersama, menjadi satu. Tapi lihat sekarang, takdir berkata lain, bahwa dirinya dan Hyera tak akan bersatu.

“Donghae~a, maaf aku harus pergi. Aku lupa kalau aku harus mengerjakan tugas bersama teman-temanku, ini nilai untuk menentukan aku lulus. Aku pergi.” Ucap Hyera, Donghae hanya bisa menatap punggung Hyera yang semakin jauh dan menghilang dibelokan tembok.

Donghae mencengkram gelas tersebut, merutuki kejadian yang mengakibatkan Jaekyung hamil. Kalau saja saat itu ia tak meminum minuman keras dan pikirannya tak kalut, ia pasti tak akan menghamili Jaekyung. Walaupun saat itu dirinya memang penasaran dengan Jaekyung seperti apa, dia tak pernah berpikir akan melakukan hal seperti itu. Hanya saja untuk menyentuh bibirnya saja sudah cukup untuknya, tapi nyatanya sampai hamil seperti itu.

Hnn… semuanya sudah terjadi, jadi jangan disesali lagi. Lagipula untuk apa disesali kejadian seperti itu. Semua ini karena ketledoran dirinya dan Hyera. Yah, dirinya dah Hyera. Kalau bisa semuanya patut untuk disalahkan semuanya.

Tapi, dalam hatinya ia benar-benar menyesal dengan kejadian saat itu. Yah, dia menyesal, sangat menyesal.

***

Donghae memasuki kamarnya dengan malas, meletakan tasnya kearah meja yang masih dipenuhi oleh buku-buku untuk mengerjakannya siang tadi bersama Jaekyung. Mengingat Jaekyung tiba-tiba saja membuat otak Donghae mengingat bagaimana paras wanita itu. Cantik, yah sekarang Jaekyung terlihat cantik sekarang. Tapi dulu juga memang sudah cantik.

Dengan perlahan Donghae merebahkan tubuhnya dikasur miliknya. Dan tiba-tiba saja aroma asing yang menguar dalam bantalnya. Mengambil bantal tersebut dan langsung ia hirup. Aroma anggur yang bercampur dengan vanila, benar-benar sangat wangi. Pikirannya langsung ingat, siang tadi yang tidur dikasurnya adalah Jaekyung jadi ini aroma shampo yang dipakai oleh Jaekyung. Benar-benar sangat wangi dan membuat dirinya tenang.

Masih dengan menghirup aroma dibantalnya, bibirnya langsung menciptakan senyum. Senyum yang indah, sepertinya aroma yang tertinggal dibantalnya membuat dirinya tersenyum seperti ini. Ia benar-benar menyukai aroma ini.

Kalau dipikir-pikir, dirinya seperti anak remaja yang sedang dimabuk oleh cinta, kenapa malah tersenyum-senyum seperti ini. Donghae langsung melepaskan bantal tersebut dan meletakan disampingnya, memandangi bantal tersebut dan kembali ia memeluk bantal tersebut hingga dirinya tertidur dengan lelap.

***

“Kau yakin akan cuti beberapa bulan? Beberapa tugas kita akan selesai beberapa hari ini,” ucap Gikwang sambil berjalan disamping Jaekyung yang hanya diam saja sambil membaca buku yang ada ditangannya. Gikwang hanya mendengus kesal jika Jaekyung sudah membaca, pasti tak akan memperdulikan sekitarnya.

Pernah satu kali saat dirinya dan Jaekyung akan pergi kekantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan akibat saat pagi tak sempat untuk sarapan, Gikwang yang sibuk dengan berceloteh tentang Dosen botak yang mengajar dikelasnya tak henti-hentinya berceloteh tak tau arah, yang membuat mahasiswa yang diajarnya tertidur. Gikwang masih saja berbicara, sedangkan Jaekyung sibuk dengan kegiatan membaca buku yang tak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah mereka. Jaekyung sendiri tak menghiarukan protesan yang Gikwang berikan padanya. Dan hingga saat itu Jaekyung mengaduh kesakitan akibat kepalanya terbentur keras saka bangunan kampusnya, yang hingga dirinya terjatuh dan terduduk. Jaekyung hanya mengutuk saka tersebut dan Gikwang yang tertawa terbahak-bahak oleh kejadian itu.

Mengingat kejadian seperti itu membuat Gikwang tersnyum tipis. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia baru menyadari bahwa temannya yang ada disampingnya benar-benar sangat aneh, tapi dia menyukain dengan segala sikapnya.

Dan dirinya kembali mengingat bahwa ia juga pernah menyukai Jaekyung saat awal mereka berteman. Tapi melihat Jaekyung yang menganggap dirinya hanya dalam jalinan sahabat. Dan ia menyerah untuk menyukai Jaekyung, melainkan dirinya memulai membuka hatinya untuk sahabat perempuan satunya, Hyeji yang diam-diam menyukai dirinya.

Mengingat kenangan masa lalu itu sungguh menyenangkan. Dan Gikwang masih ingat dengan penolakan keras Jaekyung pada senior mereka saat mereka masih duduk dibangku sekolah menengah atas, Jaekyung yang menolak permintaan Choi Siwon–senior tampan–yang menginginkan Jaekyung sebagai kekasihnya. Entah Gikwang tak habis pikir dengan kelakuan abnormal sahabatnya.

“Jaekyung~a!!” ucap Gikwang gusar pada Jaekyung yang masih saja diam dan sibuk dengan menganti lembar demi lembar bukunya.

Gikwang hanya menghela napasnya pelan, kalau sudah seperti ini akan benar-benar sangat susah, “baiklah aku tidak akan memaksa,” lanjut Gikwang. Jaekyung yang melihat sahabtnya menyerah, langsung ia turunkan buku yang menutupi wajahnya.

“Hanya ingin cuti saja, kau bisa mengerjakannya sendiri dan mencabut namaku dari kelompokmu. Atau kau bisa mencari partner lainnya untuk manggantiku,” ucap Jaekyung sambil memasukan bukunya kedalam tasnya.

“Tidak, aku tidak mau. Kau boleh cuti asal setelah tugas kuliah kita selesai. Bagaimana?” tawar Gikwang pada Jaekyung.

Jaekyung menatap Gikwang yang ada disampingnya, memikirkan usulan Gikwang padanya. Yah lebih baik ia mengerjakan tugasnya sampai selesai dan setelah itu ia ambil cuti kuliah. Lagi pula hanya beberapa hari ia mengejakan tugasnya yang hampir rampung itu.

Kembali membaca bukunya Jaekyung mengacuhkan Gikwang lagi. Merasa diacuhkan lagi Gikwang hanya bisa mendengus kesal kalau sudah ada objek yang lebih seru pasti dirinya akan diacuhkan seperti itu. Biarlah, lebih baik dirinya diacuhkan seperti ini oleh sahabatnya ini.

“Hei,” ucap Jaekyung sambil menutup bukunya dan langsung memasukan kedalam tasnya. Gikwang yang mendengar ucapan Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping, menatap Jaekyung dengan satu alisnya terangkat.

“Ne, wae?” jawab Gikwang. Menaikan satu alisnya keatas, Gikwang keheranan dengan Jaekyung yang tiba-tiba seperti itu.

“Kemana sahabat kita, Hye Ji-mu,” Gikwang hanya mendengus kesal mendengar pertanyaan Jaekyung yang seperti itu. Sepertinya sahabatnya ini baru menyadari dari salah satu mereka tak ada kemarin dan hari ini. Penyakit pelupanya kumat lagi. Jadi Gikwang hanya bisa mendengus kesal.

“Bahkan kau baru menyadari kekasihku tak ada. Astaga, Han Jaekyung!” kesal Gikwang sambil menatap Jaekyung yang tersenyum, memamerkan gigi rapih putihnya itu.

“Karena Lee Donghae, aku jadi pelupa. Maaf.” Jaekyung memandang Gikwang dengan tatapan maafnya. Gikwang kembali tersenyum ketika mendengar kata Lee Donghae yang terlontar oleh Jaekyung.

“Yah, aku maklumi, kau jadi semakin akrab saja dengan Sunbae itu. Aku juga jika bersama dengan Hye Ji selalu melupakanmu.” Gikwang tersenyum melihat raut muka Jaekyung yang masam itu. “Baiklah, maaf. Hye Ji sedang mengunjungi neneknya yang ada di Incheon. Mungkin lusa ia akan pulang. Ia sempat akan menghubungimu, tapi ponselmu tak aktif jadi yah, kau tak tahu.”

Jaekyung mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan ucapan Gikwang. Yang beberapa hari yang lalu, ponselnya memang sedang tak diaktifkan bukan bukan, lebih tepatnya rusak akibat kecerobohannya yang benar-benar tak bias dihilangkan. Akibat dirinya yang sedang masuk kedalam kamar mandi, dengan tangan yang kotor dan keseimbangan tubuhnya yang tak bisa dibilang seimbang, akhirnya ia hampIr jatuh tapi naas untuk ponselnya yang ada ditangan satunya yang tak kotor, ponselnya masuk kedalam bak mandinya. Dan akhirnya ponselnya tamat, tak bias dinyalakan lagi.

Mengingat kejadian beberapa hari itu, membuat Jaekyung tertawa. Dia berseyukur, kalau saja ia tak berpegangan didinding mungkin dirinya akan keguguran.

Merasakan ponselnya bergetar didalam sakunya, dengan cepat Jaekyung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Melihat siapa yang telah menelponya tapi hanya mendapatkan nomor tak dikenal. Ingin menjawabnya tapi dia ragu dengan si penelpon, tahu saja ini hanya orang yang sedang menjahilinya atau apa.

Belum sempat Jaekyung menyentuh layarnya untuk menolak panggilan tersebut, tiba-tiba saja ponselnya sudah diambil oleh Gikwang dan langsung menjawabnya. Jaekyung mendengus kesal melihat kelakuan Gikwang yang seperti itu. Sialan. Umpatnya dalam hati.

“Jaekyung? Tentu saja ada. Dia ada disampingku.”

“…”

“Baik, aku akan mengatakan padanya. Dia sedang bersungut-sungut kesal akibatku, yah kalau begitu aku tutup telponnya,” ucap Gikwang sambil menjauhkan ponsel milik Jaekyung dari telingnya. Gikwang mengulukan tanganya, memberikan ponselnya pada Jaekyung yang langsung diambil oleh Jaekyung dengan sedikit kasar.

Gikwang hanya tersenyum semanis mungkin agar Jaekyung tak marah dengannya. Tapi tetap saja usahanya sia-sia, “Ponsel baru. Hum, aku yakin ponselmu bukan dimatikan tak sengaja tapi rusak. Yah, aku tahu tabiat Han Jaekyung si ceroboh.” Ucap Gikwang sambil menghindar dari cubitan Jaekyung yang hamper saja mengebai pinggangnya. “Ngomong-ngomong, tadi itu dari Donghae Sunbae. Dia mengatakan sedang menunggumu diparkiran. Lebih baik kau segera kesana.” Lanjut Gikwang. Jaekyung hanya memandang Gikwang dengan tatapan biasa. Dalam hati ia mendengus kesal mendengar kata Lee Donghae.

Jaekyung berpikir, tidak bisakah Lee Donghae tak mengganggunya sehari saja? Ia kesal jika bertemu dengan Lee Donghae. Tapi mau bagaimana lagi, ini pasti keperluan tentang pernikahannya dengan Donghae. Sibuk ini dan itu. Orang kaya, tidak bisakah membuat pesta pernikahannya yang sederhana saja, ini pasti akan sangat mewah sekali. Jaekyung tak bisa membayangkannya bagaimana nantinya.

Lebih baik ia segera menuju ke Donghae yang pasti sudah lama menunggunya. Jaekyung berpamitan terlebih dahulu pada Gikwang yang langsung membiarkannya pergi. Sepertinya ini benar-benar salah paham. Sudahlah, ini sudah terjadi, jadi teruskan saja.

Dan ngomong-ngomong, sejak kapan Lee Donghae tahu nomor ponselnya?

***

“Kenapa lama sekali?” ucap Donghae saat melihat Jaekyung yang berjalan mendekat kearahnya. Donghae bias melihat Jaekyung yang sedang memutar bola matanya bosan.

Donghae langsung membukakan pintu mobilnya untuk Jaekyung. perlakuan seperti ini benar-benar membuat Jaekyung yang tak pernah di perlakuan seperti ini hanya bias menyembunyikan rona merah dipipinya. Ada rasa malu, senang dan bahagia. Dia memang berkhayal mempunyai suami seperti ini.

“Cepat masuk!” ucap Donghae tak sabar melihat Jaekyung yang terbengong-bengong seperti zombie yang kurang makan otak.

Jaekyung mendengus dan langsung masuk kedalam mobil milik Donghae, ingatan khayalan dulunya langsung hilang sudah, digantikan kesal terhadap Donghae. Jaekyung manatap datar pemandangan didepannya, dan matanya melihat beberapa mahasiswa mahasiswa yang sedang menatap kearah mobil milik Donghae dengan tatapan bertanya-tanya. Hal seperti ini benar-benar membuat Jaekyung semakin jengkel.

“Kau mau membawaku kemana?” Tanya Jaekyung saat mobil Donghae melaju sedikit kencang.

“Kerumah Nenekku. Nenekku ingin sekali menemui calon istri cucunya seperti apa,” ucap Donghae santai. Jaekyung yang mendengar ucapan Donghae dengan jelas hanya bias menatap horor Donghae.

“Kau gila?”

“Tidak, aku tidak gila. Aku masih sehat. Dan benar Nenekku ingin bertemu denganmu. Tenang, Nenekku baik.”

“Kau serius ingin membawaku dalam keadaan seperti ini?” Tanya Jaekyung menyedarkan Donghae dengan penampilannya sekarang.

Donghae menoleh sebentar, menatap penampilan Jaekyung hari ini. Jeans hitam panjang, baju putih bergaris-garis sebagai dalaman, dan kardigan berwarna merah yang melekat cocok pada tubuh Jaekyung ditambah rambut lusur panjang berwarnah kemerahan seperti itu. Dia memang cantik, akui saja Lee Donghae. Ucap dalam pikirannya. Yah dia cantik, cantik sekali.

“Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Kau memang ingin berpakaian seperti apa? Dengan pakaian serba hitam? Ini bukan untuk menghadiri pemakaman,” ucap Donghae malas. Mendengar ucapan Donghae Jaekyung hanya mendengus kesal.

“Tapi ini tak sopan sekali Donghae~a,” ucap Jaekyung tanpa sadar menyebut nama Donghae seperti itu. Donghae yang mendengarnya langsung membuat pipinya bersemu merah.

“Diamlah, Nenekku tak memandang orang dari penampilan fisiknya. Tapi dari penampilan dalamnya. Yah, walaupun itu sangat meragukan sekali, karena sikapmu yang benar-benar sangat kasar… dan tak sopan.” Jaekyung langsung menarik rambut Donghae, membuat Donghae mengduh kesakitan akibat perlakuan Jaekyung.

“Itu hanya terhadapmu saja aku bersikap seperti itu.” Jaekyung menatap Donghae kesal. Donghae hanya bias terkekeh pelan. Ternyata menarik juga jika sudah diakrabi seperti ini.

***

Donghae dan Jaekyung sudah sampai didepan rumah Nenek Donghae. Dengan rumah bergaya tradisonal, tak terlalu mewah dan megah. Tak seperti rumah milik Ayah dan Ibu Donghae yang menurutnya sangat mewah dan besar itu. Rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali oleh satu keluarga.

Tiba-tiba saja Jaekyung merasa gugup dengan apa yang akan terjadi jika dirinya dan Donghae sudah masuk. Jaekyung takut jika nenek Donghae tak menyukainya atau apa, tapi semoga saja neneknya menyukai dirinya. Jaekyung menoleh kearah samping, menatap kearah Donghae yang menampilkan senyum manisnya. Dia memang laki-laki berwajah manis. Ucap Jaekyung dalam hati.

Dengan pakaian kasual yang dikenakan oleh Donghae, benar-benar membuat Donghae tampan dan manis. Dan dia menyukai penampilan Donghae yang seperti ini.

“Mulai menyadari bahwa aku ini tampan?” ucap Donghae tiba-tiba, membuat Jaekyung terlonjak kaget dan dengan segera mengalihkan tatapannya pada pohon yang ada didalam rumah tersebut, “ayo masuk, sepertinya Nenekku sedang merawat bunga-bunga ditaman belakangnya, kau bias kesini nanti jika kau bosan dirumah saat aku sedang ada dikantor,” lanjut Donghae, menarik tangan Jaekyung agar mengikuti langkahnya.

Jaekyung menatap punggung Donghae, perasaan hangat menelusup kerongga dadanya. Belum menikah saja Donghae sudah seperti ini. Tapi mengingat perjanjian mereka membuat ia kesal dan tanpa sadar dirinya mendengus. Huh! Kenapa harus di ingatkan tentang perjanjian seperti itu?

Tanpa Jaekyung sadar, dirinya dan Donghae sudah berada ditaman belakang yang menurut Jaekyung sangat pas ukuran. Jaekyung melihat wanita yang sudah di usia lanjut sedang menyiramkan air pada bunga-bunga didepannya. Ia menebak wanita itu adalah Nenek Donghae. Jaekyung merasakan tangannya perlahan dilepas oleh Donghae yang pergi meninggalkan Jaekyung tengah-tengah taman, menatap Donghae yang memeluk tubuh Neneknya dari belakang, membuat Neneknya terlonjak kaget, dan saat itu pula Neneknya langsung memukul kepala Donghae saat ia membalikan tubuhnya.

Jaekyung berjalan agak kikuk kearah Donghae dan Neneknya. Ini baru pertama kali setelah Neneknya sendiri meninggal saat ia umur sepuluh tahun dan dirinya sekarang sudah berumur duapuluh satu tahun. Sebelas tahun sudah ia lewati tanpa Neneknya. Jaekyung menundukan kepalanya saat melihat wajah Nenek Donghae menatapnya dengan tatapan tanya.

“Siapa?” Jaekyung mendengar suara Nenek Donghae yang bertanya siapa dirinya pada Donghae dengan sangat pelan. Ingin sekali dirinya menjawab tapi dia masih tak juga berani.

“Dia calon istriku, Halmmonie.” Ucap Donghae yang membuat Neneknya kaget.

“Mwo? Aigoo~ Lee Donghae kau rupanya sudah tak sabar ingin mempunyai sebuah keluarga sendiri. Tapi, sepertinya dia bukan Park Hyera? Dari fisiknya dia lebih tinggi dari Park Hyera, dan lebih cantik dengan rambut panjang lurus serta warna rambutnya itu.” Ucap Nenek Donghae yang membuat Jaekyung menghembuskan napasnya pelan. Tapi saat ia mendengar nama kekasih Donghae benar-benar membuat hatinya nyeri. Apa Donghae pernah membawa Hyera kerumah Neneknya? Jaekyung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, membuat Donghae yang melihatnya hanya bisa menyerit keheranan.

“Ah, Halmmonie, Jaekyung menyukai sekali dengan bunga-bunga yang Halmmonie rawat ini. Ia juga berpikir akan membuat kebun bunga saat kami menikah dan mempunyai rumah sendiri.” Ucap Donghae yang tiba-tiba membuat Neneknya tersnyum memandang Jaekyung.

“Kau sangat berbeda sekali dengan Hyera yang tak menyukai bunga. Ayo akan ku ajari kau merawat bungan yang benar seperti apa,” ajak Nenek Donghae yang membuat Jaekyung tersenyum.

***

Donghae menatap kearah Jaekyung yang masih saja tersenyum. Setelah kurang tiga jam lebih Jaekyung berkutat merawat taman bunga milik Nenek Donghae membuat dirinya cepat akrab dengan Nenek Donghae. Ini benar-benar membuat hati keduanya bahagia.

“Sepertinya Nenekku menyukaimu,” Jaekyung menoleh kesamping menatap kearah Donghae dengan senyumannya.

“Yah, aku juga menyukai Nenekmu. Beliau benar-benar menyenangkan sekali. Kapan-kapan aku akan mengunjunginya lagi dan merawat kebun bunga bersama Nenekmu.” Donghae menganggukan kepalanya yang membuat hati Jaekyung semakin senang.

“Eomma mengajakmu untuk makan malam bersama nanti malam. Kau mau?” ucap Donghae tiba-tiba.

“Makan malam? Bersama dengan kedua orang tuamu?” tanya Jaekyung dan Donghae menganggukan kepalanya.

“Ada kakak laki-lakiku juga,” Jaekyung terkejut, “ini masih jam lima sore, nanti aku akan menjemputmu jam setengah delapan.” Lanjut Donghae sambil menghentikan laju mobilnya yang ternyata sudah sampai didepan rumah Jaekyung.

“Aku tak tahu kalau kau mempunyai Kakak laki-laki. Yah, aku akan usahakan sudah selesai jam tujuh malam nanti. Aku pulang.” Ucap Jaekyung sambil membuka pintu mobil milik Donghae. Sebelum dirinya keluar, Donghae menyentuh tangan Jaekyung, membuat Jaekyung berhenti dan membalikan tubuhnya kearah Donghae.

“Pakailah yang ada didalam kotak ini,” Donghae memberikan kotak yang tak terlalu besar pada Jaekyung. Menganggukan kepalanya pelan untuk berterima kasih. Lalu dirinya melanjutkan keluar dari dalam mobil Donghae.

Jaekyung berjalan mundur, memberikan senyuman jauh untuk Donghae. Mobil milik Donghae mulai melaju dan perlahan menghilang dibelokan arah kanan. Jaekyung membuka kotak terebut dan dirinya menganga melihat Hihgheels dan Dress berwarna merah marun. Astaga apakah makan malam nanti akan sangat penting sekali? Jaekyung kembali menutup kotak tersebut dan melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah dan bertemu dengan pujaan hatinya–kamar–.

 

–TBC–

 

 

 

 

 

Sorry for late!

Ppfffttt… *lap kringet* akhirnya part 6 selesai juga yah. Wkwkw ini chap udah panjang dan aku yakin ini sangatlah membosankan sekali. Aku rasa pengulangan kata, pemborosan kata kayaknya udah nggak ada lagi atau memang masih ada? Hehehe maap deh yah. Dan konflik disini kyaknya ngga ada, mungkin adanya greget sama si Donghae n Hyera yah? Untuk masalah Typo bisa beritahukan yah, soalnya matanya kurang jeli tiap kali ngedit nih fanfic.  sudahlah begitu saja.

RNR! READING AND REVIEW!!!!

 

SALAM MANIS DARI AUTHOR VYEJUNGMIN!!!!!

18 thoughts on “If This Was a Movie [Part 6]

  1. gak ngebosenin ko thor aku suka di part ini gak ada konfliknya malah lebih dibahas masa pendekatan hae sama jaekyung hihi,ditunggu next part nya thor oiya saran nih banyakin romance scene nya dong biar seru😀

  2. senang deh liat jaekyung diterima baik ma eomma dan halmoni hae… benih benih cinta udah mulai tumbuh ne antara hae ma jaekyung… kpn neh mrk merried.. heee
    penasaran cerita setelah mrk menikah nanti apakah byk konflik nanti… takutnya mantan hae jd pengganggu… ditunggu next part…. fighting bwt authornya…;-)

  3. part ini sweet bgt…banyak scene Hae-kyung. seneng bgt Jaekyung d terima dgn baik oleh eomma dan halmonie hae…semoga ayah dan kakak hae jg sama…
    agak bingung jg sm perasaan hae,,sebenernya dia suka jaekyung atau ga??truz gmn perasaannya pd Hyera jg??
    Bukan hanya Jaekyung yg kesel dgn perjanjian yg d buat Hae,,aku jg sebel bgt jadinya iiihhhh
    tp semoga bs berakhir happy ending dan tdk ada perpisahan nantinya
    Tetep d lanjut ya thor…aku msh penasaran sm ceritanya
    Semangat

  4. Ga membosankan koq, tapi memang untuk pengulangan dan pemborosan kata masih ada.

    Aku suka klo konfliknya ga berat, kayak gini ajj, adem. kkkkk

  5. bagus thor~^^
    cuma aq kurang suka sikap donghae,agak ga jelas ya?perasaan ke jae kyung uda mulai tumbuh.tpi knpa masi ada rasa klo di depan hyera?pdhal di awal2 dlu dia kan sempat kesel tuh hyera nolak nikah sama donghae.==’
    mana namanya sama kg dgn id-ku><
    hahah
    gpp deh thor.pokonya aq suka scene haekyung di sini.damai gitu xD
    next part di banyakin scene romance haekyung jg ya.cepetin acra pernikahan mereka dong.ga sabar nunggunya:)

  6. eh? Iya aku baru sadar… Maap yee, namanya dibuat jadi tokoh kayak gitu xD soalnya aku agak bingung cari nama korea jadi yah, park hyera xD
    nikahnya nanti, atau mereka ngga usah nikah aja xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s