I’m In Love 1

INSPIRED: I’m In Love by Narsha
Warning for TYPO.. Karena gue ngga edit sampe akhir, jadi maklumi aja yahh :* :* :*

Ku lihat sekeliling taman kampusku dengan seksama, ramai. Oh aku lupa kalau ini sudah jam-jam pelajaran selesai. Hari ini aku tidak masuk ke kelas lagi dengan alasan sama –memandang wajahnya yang tampan– siapa sih yang tidak akan terpesona oleh wajahnya yang tampan itu?

Perlahan aku mengambil ponselku yang ada didalam tasku, langsung ku tekan tombol kamera dan aku langsung membidikan kearah wajahnya yang sedang tersenyum. Ya ampun kegiatan ini sudah terlalu sering aku lakukan satu tahun terakhir ini.

Sial, kalau saja aku mempunyai keberanian untuk mendekatinya sudah dari awal aku mendekatinya, mengakrabkan diriku padanya bukan seperti ini mengendap-endap mengikutinya yang pergi kemanapun. Aku sangat yakin bahwa Donghae Sunbae pasti tahu kalau aku sering mengikutinya kemanapun ia pergi.

Sepertinya kegiatanku mengikutinya sudah selesai, aku tak ingin membolos pelajaran ku nanti. Ini sudah terlalu sering dan aku yakin kalau aku melanjutkannya bisa-bisa aku ditegur oleh dosenku. Jadi aku lebih baik beranjak dan pergi meninggalkannya yang memang dia sudah pergi bersama teman-temannya.

***

Ruang kelas, enatah aku memang aneh sekali pada diriku sendiri, yang lain keluar untuk makan siang dan aku sendiri masuk kedalam kelas sendirian menunggu pelajaran dimulai. Yah aku memang aneh dan salahkan pada Donghae Sunbae yang membuatku aneh seperti ini, salahkan dia yang membuatku menjadi jatuh cinta padanya.

Kalau saja saat masa-masa awal aku masuk kuliah dan aku tak tersandung oleh batu dan dibantu berdiri oleh Donghae Sunbae mungkin aku tak akan benar-benar jatuh cinta padanya. Ah, takdir begitu kejam pada diriku.

Ku topang daguku dengan tanganku, mengingat kegiatan-kegiatanku yang selalu membuntutinya. Ini benar-benar sangat bodoh. Bahkan sahabatku–Park Ha Na–memanggilku si-bodoh-yang-tak-tahu-malu ugh! Itu benar-benar panggilan yang benar-benar membuatku tak menyukainya, tapi kalau dipikir-pikir lagi itu memang sangat benar sekali, aku si bodoh yang tak tahu malu.

Sekali lagi kalian salahkan pada Donghae Sunbae yang membuatku seperti ini. Ku hembuskan napasku pelan, apa aku mendekatinya dan mengatakanya bahwa aku mencintainya? Sepertinya itu benar-benar merendahkan harga diri seorang wanita, tapi aku tak mau kalau aku akan tersakiti oleh persaanku ini. Benar-benar sangat menyiksaku sekali.

“Hai,” aku mendongkan kepalaku, mendapatkan Ha Na yang sudah duduk didepanku. Ha Na tersenyum manis dan aku mersakan bahwa Ha Na pasti akan membrondongiku dengan pertanyaan bahwa kenapa aku tidak masuk dipelajaran tadi.

“Hn.. yah aku tahu alasan kau kenapa tak masuk tadi. Lebih baik kau mengungkapkan saja perasaanmu padanya. Itu lebih baik bukan?” ucap Ha Na sambil memaikan ponselnya. Aku memikirkan ucapan Ha Na, sepertinya itu memang lebih baik, aku mengungkapkan persaanku. Di terima atau di tidak itu maslah belakangan yang penting aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya.

“Sepertinya itu lebih baik, Ha Na-ya. Jadi kau mau membantuku untuk mengungkapkan persaanku padanya?” ucapku yang membuat Ha Na yang sedang memainkan ponselnya langsung mendongak dan menatapku tak percaya.

“Kau yakin?” tanya Ha Na masih tak yakin dengan ucapanku tadi. Aku tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Kau ini semakin bodoh saja, aku tahu kau memang mencintainya, kau tahu kan kalau dia selalu menolak ungkapan cinta dari semua gadis di kampus ini dank au tahu sendiri kalau Donghae Sunbae hanya menyukai Young Rim Sunbae yang cantik itu. Kau pasti akan di tolaknya Jaekyung-ah! Atau kau bisa menerima ungkapan cinta Changmin Sunbae, aku yakin kau pasti akan bisa mencntai Changmin Sunbae,” Ha Na berbicara panjang lebar dan aku hanya mendengarkan ucapannya saja.

“Kau pasti tahukan aku tak menyukai Changmin Sunbae, dan aku sudah mengatakan padanya bahwa aku menganggapnya hanya sebagai Oppaku saja, dan saat aku mengucapkan itu ia tersenyum. Berarti walaupun aku menolak ungkapan cintanya ia tak membenciku.”

“Oh, terserah kau saja Jaekyung-ah. Aku tak ingin kau tersakiti saja dengan apa yang akan kau lakukan nantinya. Aku temanmu, dan aku pasti akan mersakan apa yang akan kau rasakan setelah kau mengungkapkan persaanmu pada Donghae Sunbae. Kalau kau di terima aku senang, dan… kalau kau ditolak, aku akan hadir padamu untuk menenangkanmu, tentu saja.”

Aku tersenyum dan ia membalasa senyumanku, “dia pasti akan menerima perasaanku. Bukankah aku ini cantik?”

Dan setelah ucapanku tadi Ha Na tertawa terbahak-bahak. Dan aku juga ikut tertawa.

***

Ku rebahkan tubuhku diatas kasurku yang sangat empuk, uhm! Aku mencintai kasurku ini. Hari ini benar-benar menguras tenagaku. Seharian aku mengikuti apa yang dilakukan oleh Donghae Sunbae di kampus dan aku kembali memberanikan diriku membolos lagi. Aku berharap Eomma tak tahu dengan apa yang aku lakukan, kalau Eomma tahu pasti aku akan di suruh pindah ke jepang dan tinggal bersama dengan keluargaku yang memang semuanya tinggal di jepang. Dan aku lupa bahwa aku sendirian di Negara ini, Eomma ada semua keluargaku di jepang, aku sendirian disini. Mungkin kalau aku membuat ulah aku pasti dipaksa pindah kejepang.

Sebenarnya aku memohon pada Eomma untuk tak pindah ke jepang untuk meneruskan jenjang pendidikanku. Aku masih ingin tinggal di korea dan keinginan itu bertambah ketika aku sudah masuk kuliah aku bertemu dengan Donghae Sunbae dan aku benar-benar tak ingin sekali pindah dari korea. Aki terlalu mencintai Negara ini.

Aku sering berpikir, bahwa kegiatanku seperti ini membuatku seperti orang bodoh, atau memang aku benar-benar sangat bodoh. Menelantarkan tugas-tugasku, menelantarkan kuliaku hanya demi mengikuti Donghae Sunbae yang bukan siapa-siapaku. Tapi ini demi perasaanku, jadi aku akan berbuat apa saja untuk dirinya.

Dan aku baru sadar aku belum makan seharian ini. Kalau saja perutku tak berbunyi mungkin saja aku tak akan makan sampai besok pagi. Ternyata Donghae Sunbae benar-benar menghilangkan akal sehatku. Dengan malas aku bangun dari tidurku, dan beranjak berjalan menuju keluar kamarku untuk memasak makanan yang mungkin saja mengenyangkan perutku yang berbunyi.

Saat aku melintas aku melihat bayanganku yang terpantul oleh cermin besar yang ada diruangan tengah apartementku. Aku kembali ke cermin tadi, memandang tubuhku yang baru aku sadari ternyata sudah menyusut menjadi kurus. Astaga! Aku kurus aku tak terlalu sadar dengan perubahan tubuhku ini. Sepertinya aku memang jarang makan sekali akhir-akhir ini. Aku bergidik dengan bayanganku kalau aku berubah menjadi tengkorak hidup. Jadi lebih baik aku makan dengan banyak dan mengembalikan berat badanku yang semula.

***

“Hai,”

Aku menoleh mendengar sapaan untukku. Changmin Sunbae sudah ada disampingku dengan beberapa buku yang ada ditangannya. Aku tersenyum menjawab sapaannya.

“Banyak tugas sunbae?” tanyaku dan dia menganggukan kepalanya. Ia menaruh beberapa buku yang ada ditangannya diatas meja setelah itu ia duduk disampingku.

“Benar-benar sangat menyebalkan minggu-minggu ini. Banyak sekali tugas aku terlalu malas untuk mengerjakannnya.” Sungutnya kesal. Aku yang mendengarkannya hanya bisa tersenyum tipis.

“Nikmati saja Sunbae, bukankah satu tahun lagi kau akan wisuda?” tanyaku dan dia mengangguk pelan.

“Tapi tentu saja, ini benar-benar sangat menyebalkan! Kau bayangkan saja hari kemarin aku mempunyai empat jadwa kuliah, dan dari empat jadwal itu semua dosen memberikaku semua tugas. Sontak saja semua teman-temanku yang ada dikelas mengeluh dan mengutuk dosen-dosen yang memberikan kami tugas.” Ucapnya pelan. Aku tahu ia pasti takut kalau ada yang mendengarnya, kalau ada yang mendengarnya pasti Changmin Sunbae akan di hokum.

“Ya sudah, selesaikan saja tugasnya. Jangan hanya mengeluh tak jelas. Aku juga mempunyai banyak sekali tugas akhir-akhir ini membuat tubuhku lelah,”

“Yah, kalau kau tak membuntuti si pendek itu mungkin kau sudah selesai mengerjakan tugas yang di berikan dosen dan aku pastikan kau bisa istirahan dengan baik bukan menjadi seperti ini. Lihatlah tubuhmu menjadi kurus!” aku menghentikan kegiatan membaca bukuku. Aku tahu bahwa Changmin Sunbae memang tak menyukai Donghae saat aku menolak perasaannya, eh, tidak tidak. Changmin Sunbae memang tak menyukai Donghae Sunbae dari dulu.

“Aku memang masih mencintaimu, dan kau memang tak mencintaiku. Kau menganggapku hanya sebagai saudaramu, jangan kau pikir aku tak tahu dengan semua kegiatanmu disini. Aku tahu kemarin kau bolos satu hari demi untuk bertemu dengan Donghae. Diamlah dulu, aku belum selesai berbicar. Disini banyak sekali teman-temanku, dan aku pastinya tahu dari semua teman-temanku bahwa kau bolos satu hari penuh. Ha Na memberitahuku bahwa kau memang tak masuk sehari kemarin. Terus Junsu Hyung, dia melihatmu yang duduk seperti orang bodoh di taman sambil memandanga kelas si pendek itu. Dan Jaejoong Hyung melihatmu di kantin yang sedang memandang si pendek itu. Jaekyung-ah, itu benar-benar kegiatan yang benar-benar sangat bodoh. Kau boleh mencintainya, tapi cinta itu tak harus memiliki. Aku khawatir denganmu, jadi berhentilah untuk mengikutinya kemanapun ia pergi.”

***

Aku kembali ingat dengan ucapan Changmin Sunbae di perpustakaan beberapa jam yang lalu. Ucapannya benar-benar langsung menohok ke ulu hatiku. Tapi ada benarnya juga ia mengatakan itu padaku, seperti orang bodoh yang selalu mengikuti Donghae Sunbae kemanapun ia pergi.

“Kau boleh mencintainya, tapi cinta itu tak harus memiliki.” Oh, kenapa aku kembali memikirkan ucapan itu? Ucapan itu benar-benar membuatku ingin menangis. Jadi apakah aku harus berhnti mengharapkan Donghae Sunbae?

Itu tak boleh, aku akan berusaha mengungkapkan perasaanku padanya nanti. Kalau bisa hari ini juga. Tapi ini sudah sore, semua yang ada dikampus hampir semuanya sudah pulang. Dan aku yakin sekali kalau Donghae Sunbae sudah pulang atau dia akan pergi bersenang-senang dengan semua teman-temannya. Jadi lebih baik besok saja.

Aku berjalan melewati koridor kampusku. Ada beberapa mahasiswa yang masih berkeliaran di lingkungan kampus. Mungkin sedang mengerjakan tugas atau yang lainnya aku tak tahu dan aku tak ingin memikirkannya.

Dan mataku tak sengaja melihat Donghae Sunbae yang keluar dari dalam perpustakaan dengan beberapa buku yang ada ditangannya. Whoa, apa kau tak salah lihat? Donghae Sunbae membawa beberapa buku? Jarang sekali ia membawa buku seperti itu.

Aku berjalan menujunya, dan berhenti untuk melihat penampilanku saat ini seperti sekarang. Aku bersyukur bahwa hari ini aku memakai dress berwarna coklat dengan rambut yang aku gerai dan hihgheels yang aku pakai sekarang. Jadi aku bersyukur karena aku tak memakia kemeja seperti bisanyanya.

“Donghae Sunbae,” aku memanggilnya dan ia membalikan tubuhnya. Ia mengerutkan keningnya melihat aku yang hanya diam bak anak ayam yang kehilangan induknya.

“Wae?” tanyannya dan aku tak tahu harus menjawab apa.

“Mau aku bantu?” sial kenapa aku malah mengatakan seperti itu? Lihat saja dia sampai mengerutkan keninganya lagi.

“Kalau kau mau, yah ini, aku lelah. Hei, kenapa malah diam? Bukankah kau mengatakan ingin membantu?” ucapnya lebih keras karena aku tak dengan cepat mendekat atau mengulurkan tanganku untuk mengambil buku-buku tebal yang ada ditangannya.

Setelah buku-buku yang semula ada ditangannya kini beralih ketanganku dia pergi berjalan meninggalkanku dengan buku yang begitu tebalnya kepadaku. Bahkan dia tak memandangku dia meninggalkanku, meninggalkanku. Ku hembuskan napasku pelan. Sabar Jaekyung-ah ini belum seberapa jadi semangat.

Aku berjalan dibelakangnya. Ia asik dengan ponselnya, dia tak menoleh kebelakang tak memandangku. Apa ia selalu seperti ini pada seorang wanita? Tapi sepertinya tidak, dia memperlakukan wanita lain tak seperti ia memperlakukanku seperti ini. Tapi mungkin ia sedang kesal atau apa jadi ia bersikap seperti ini. Jadi lebih baik jangan mengeluh, dan lalukan apa yang kau lakukan Jaekyung-ah.

Dengan berjalan lebih cepat untuk menyemai langkahnya akhirnya aku bisa menyamai langkah-langkahnya yang panjang tadi. Kalau aku memakai sepatu kets mungkin kakiku tak akan sakit seperti ini. Kenapa Donghae Sunbae tak memelankan langkahnya? Benar-benar membuat kakiku sakit.

Akhirnya sudah sampai diparkiran, mobil Donghae Sunbae sudah terlihat didepan mataku. Setelah sudah di samping mobilnya Donghae Sunbae kembali meminta bukunya kembali. Dan tanpa mengucapkan terima kasih padaku, ia masuk kedalam mobilnya aku membeku ia tak menawariku untuk masuk kedalam mobilnya dan ia pergi meninggalkanku seperti orang bodoh diparkiran, sendiri.

Dan tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Dengan pelan tanganku mengapus airmataku yang keluar begitu saja. Kenapa aku malah cengeng seperti ini? Ini bukan diriku? Kemana diriku yang sebenarnya? Kenapa aku menjadi seperti ini?

Tanganku terkepal, mencengkram bagian dadaku, untuk meredakan sakitnya hatiku yang di perlakukan oleh Donghae Sunbae. Aku benar-benar sebuah benda yang berwarna abu-abu. Tak terlihat dan tak dianggap.

Perlahan kakiku melangkah, menjauh area parkiran kampusku. Lebih baik aku pulang keapartmentku, menenagkan diriku yang kacau seperti ini. Sepertinya ini hokum karma karena aku menolah perasaan Changmin Sunbae padaku. Yah, ini hokum karma.

Aku berjalan dengan gontai menuju kearah halte yang dekat dengan kampusku. Menenagkan diri dengan merendam kan tubuh itu sepertinya sangat baik sekali bukan? Dan mari lupakan kejadian tadi.

***

“Jaekyung-ah!” aku menoleh, mendapatkan Ha Na yang berjalan dengan sangat cepat kearahku. Aku yang melihatnya hanya memandangnya dengan tatapan aneh. Kenapa dia ini?

“Yah, wae?” tanyaku saat ia sudah duduk disampingku. Ia masih menormalkan deruan napasnya.

“Kemana saja kau dua hari ini? Kau tak masuk kuliah, tak menjawab telponku, tak membalas pesanku. Dan aku mendatangi apartmentmu tapi kau tak membuka pintu apartmentmu. Kau ada masalah? Kenapa kau tak bercerita saja padaku? Aku ini temanmu!” ucapnya dengan keras. Aku hanya bisa meringis. Yah, benar apa yang dikatakan oleh Ha Na itu, aku tak memjawab telponnya.

Dua hari itu aku benar-benar tak menjawab panggilan dari siapapu. Tak membukakan pintu apartmentku, tak membalas pesan dari siapapu. Dua hari yang lalu aku benar-benar berdiam diri didalam apartmentku. Menyendiri, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dan terakhir aku menangisi apa yang ia lakukan padaku.

Tapi hari ini aku harus bangkit, melupakan kejadian saat itu dan kembali mengharapkannya. Aku hanya ingin ia menjadi milikku. Itu hanya itu keinginanku. Walaupun aku yakin aku tak pernah bisa menggapainya, ia terlalu tinggai dan aku terlalu– rendah untuk menjadi miliknya. Tapi aku ingin sekali ia menyukaiku. Mencintaiku.

“YA! Maka dari itu ceritakan beberapa hari yang lalu yang tak aku ketahui. Aku yakin kau ada masalah, kenapa kau malah tertutup seperti ini?” tanya Ha Na gusar karena aku tak langsung bercerita apa yang sudah terjadi padaku.

Aku menghela napas pelan, “aku tak bisa, nanti saja kalau aku sudah siap untuk menceritakannya. Hei, apa yang sudah terjadi di kampus ini saat aku tak hadir?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.

“Yah, yah, aku tahu kau mengalihkan pembicaraan! Tapu ya sudahlah, kau tak ingin menceritakannya maka aku tak akan memaksamu untuk bercerita. Aku akan menunggumu yang mengucapkannya.” Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan.

“Dan jawab pertanyaanku tadi, apa yang terdari beberapa hari yang lalu dikampus ini saat aku tak hadir atau kejadian yang lainnya?” tanyaku lagi.

Ku lihat Ha Na memandang pohon yang beberapa meter dari kami. Ia menghembuskan napasnya pelan, sangat pelan. Sepertinya kejadian beberapa hari yang lalu benar-benar sangat berat sepertinya dan aku penasaran sekali dengan berita itu.

“Donghae Sunbae mengungkapkan perasaannya pada Young Rim Sunbae,” ucapnya dan saat itu aku menahan napasku untuk mendengar kelanjutan ucapan Ha Na. aku benar-benar sangat takut dengan ucapan selanjutnya. Aku berharap ucapan Ha Na tak seperti yang aku bayangkan.

“Dan apa jawaban Young Rim Sunbae?” tanyaku pelan.

“Dia di tolak.” Jawab Ha Na datar dan itu sukses membuat napasku menjadi normal kembali. Astaga. Aku benar-benar sangat senang sekali kalau Donghae Sunbae benar-benar di tolak oleh Young Rim Sunbae.

“Astaga! Yang benar?” tanyaku untuk memastikan ucapan Ha Na benar.

“Yah, ucapanku benar Jaekyung-ah! Apa kau pernah mendengar ucapanku berbohong?” tanyanya tak terima bahwa ucapannya ku anggap bohong.

“Ya yah, aku percaya dengan ucapanmu. Dan setelah penolakan itu bagaimana? Hei, Donghae Sunbae mengungkapkan perasaannya dimana? Dikantin? Di taman?” tanyaku dengan semangat menggebu-gebu.

“Secara pribadi. Restoran yang sangat mewah. Dia mengungkapkan perasaannya disana malam hari. Aku yang saat itu di ajak makan malam bersama SeungRi. Saat itu mereka masuk kedalam restoran, karena meja mereka dekat dengan meja kami, dan dia tak kenal denganku dan SeungRi, kami berdua diam-diam tak mengenal dirinya, memfokuskan kedua telinga kami. Bukankah ini benar-benar kejadian yang sangat bagus? Lama mereka makan, dan akhirnya mereka berdua menghentikan makannya, berbincang sebentar dan saat itu Donghae Sunbae mengluarkan sebuah kotak dari dalam saku jasnya, membuka kotak tersebut dan kau bisa bayangkan bagaimana ekspersi Young Rim Sunbae itu. Tapi saat Donghae Sunbae mengucapkan kata-katanya telah selesai dan menunggu apa jawaban Young Rim Sunbae, dan saat itu wajah Donghae Sunbae benar-benar sangat keruh sekali. Ia di tolak. Aku kasihan sekali padanya.”

Aku melongo mendengar ucapan Ha Na, apa itu benar? Aku sedikit tak percaya. Young Rim Sunbae dan Donghae Sunbae itu memang pantas untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi kenapa saat Donghae Sunbae mengungkapkan perasaannya malah di tolak seperti itu?

“Kau bisa senang sekarang, kau bisa mengungkapkan perasaanmu saat ini atau kau tak usah mengungkapkan perasaanmu pada Donghae Sunbae. Aku tak menyukainya.”

“Tapi aku tak bisa menghilankan perasaanku ini padanya. Jadi sepertinya aku harus mengungkapkan perasaanku padanya.”

“Jangan bodoh Han Jaekyung. Jadi kau tak perlu mengungkapkan perasaanmu padanya. Lebih baik kau menerima ucapan cinta dari Changmin Sunbae atau dari Jonghyun, teman satu fakultas kita itu. Kalau kau lihat betepa khawatirnya Jonghyun saat kau tak masuk dua hari ini, kau pasti akan bisa menerimanya.”

“Tapi aku menyukianya. Sudah berapa kali aku bilang aku hanya menyukai Donghae Sunbae,”

“Terserah kau saja. Itu perasaanmu, dan aku tak ingin mencampurinya. Kalau kau patah hati karenanya kau tak usah menangis tersendu-sendu. Dia tak mungkin menyukai gadis di kampus kita ini, dia hanya menyukai Young Rim Sunbae Jaekyung-ah,”

Ku hembuskan napasku pelan sebelum aku menjawab ucapannya tadi, “aku harus berusaha Ha Na-ya. Bukan kah semua harapan itu harus ada yang namanya berusaha. Aku tak akan pernah berhenti untuk menyukainya, tak akan berhenti untuk mencintainya. Kalaupun aku di tolak, it’s fine. No problem. Aku belum berusaha, aku tak tahu dengan apa yang setelah aku ungkapkan padanya.”

Ha Na menggenggam tanganku, “aku akan mendukungmu. Kalaupun kau di tolak, kau tak boleh menangis atau apa. Kau berjanji?” aku menganggukan kepalaku, mengerti dengan ucapannya.

“Baiklah, sebaiknya kita masuk kelas. Jadwal kita sudah akan dimulai, kau tak mau kan di hukum oleh Dosen gila itu?” aku mengangguk kembali, dan tersenyum. Ha Na memang sahabat terbaikku.

***

“Hari ini kau mau menemaiku ke mall, Jaekyung-ah?” tanya Ha Na sambil membersekan buku yang bertebaran di atas mejanya.

Kelas kami sudah usia beberapa menit yang lalu. Aku berpikir untuk menerima atau menolak permintaan Ha Na. ku lihat jam yang ada di pergelangan tanganku, masih jam tiga jadi lebih baik aku menerima permintaan Ha Na ke mall hari ini. Dari pada aku ada didalam apartement sendirian lebih baik aku meneminyakan?

“Sepertinya itu ide yang baik, dan aku juga ingin pergi ke toko buku.” Ucapku. Dan Ha Na langsung menggandeng tanganku meninggalkan kelas kami. Dasar Ha Na selelu tak sabaran jika sudah menyangkut kata ‘Mall’ itu.

“Kau semangat sekali. Memangnya apa yang ingin kau beli di Mall nanti?” tanyaku sambil menendang krikil yang ada di jalan.

“Aku juga bingung untuk membeli apa, tapi hari ini aku ingin sekali pergi ke mall, membeli beberapa potong baju yang terbaru di mall.” Ucapnya smabil memetik buka liar yang ada di sepanjang jalan.

“Kenapa tidak SeungRi saja yang mengantarmu?” tanyaku, dan dia berhenti berjalan memandangku dengan tatapan tak sukanya.

“Jadi kau tak mau mengantarku, begitu?” eh? Kenapa malah jadi salah paham seperti ini?

“Bukan begitu maksudku, ah sudahlah aku juga ingin membeli beberapa bahan makanan dan buku. Sudahlah jangan cemberut seperti itu,” rajuku, dan dia tersenyum.

“Sudalah, lihat mobilnya sudah berhenti di halte. Langkahmu lamban sekali ayo berlari.”

Aku dan Ha Na berlari kearah bus yang sudah berhenti di halte, setelah sampai kami langsung masuk kedalam bus tersebut, mencari tempat duduk yang paling nyaman setelah menemukannya kami berdua langsung mendudukinya.

***

“Bagaimana dengan warna merah ini? Apa ini bagus?” tanya Ha Na padaku tentang Dress yang ada ditangannya. Aku menilai dress tersebut dan langsung mengacungkan ibu jariku yang menandakan bahwa dress itu memang cocok untukknya.

“Kalau kau tak yakin, kau boleh mencobanya dan setelah itu kau keluar agar aku bisa menilaimu lagi,” ucapku dan dia masuk kedalam ruang ganti.

Aku menunggu Ha Na sambil memilih dress yang terpajang rapih. Ku melangkahkan kakiku menuju kearah dress-dress yang berjejer rapi tersebut dan tanpa sengaja mataku melihat dress yang membuatku tertarik, hampir saja ku mengambilnya, tangan lain sudah mengambilnya terlebih dulu. Aku menolehkan kesamping dan aku sontak mundur kebelakang. Astaga! Aku benar-benar sangat kaget.

Dia memandangku dengan tatapan datarnya, aku tak bernai untuk memprotes dengan perbutan tadi. Beberapa saat aku memandang wajahnya, aku menolehkan kesampingnya, ada Young Rim Sunbae yang sedang tersenyum melihat dress yang sudah menarik minatku.

Hei, bukankah Young Rim Sunbae itu menolak cinta Donghae Sunbae? Kenapa mereka malah terlihat sedang berkencan? Dan melihat kenyataan ini membuatku hatiku sakit. Aku membalikan tubuhku, kembali ketempatku semula.

Saat membalikan tubuhku, aku sempat memandang Donghae Sunbae yang sedang memandangku. Ia memandangku dengan masih tatapan datarnya. Dan itu membuatku sangat malu tadi. Ah, sial tadi-tadi aku tak usah menerima ajakan Ha Na tadi.

Aku duduk di kursi yang ada dihadapan ruang ganti ini, menunggu Ha Na yang tak keluar dari dalam ruangan itu. Apa mengganti baju biasa dengan dress itu susah? Kenapa dia lama sekali? Aku ingin segera pulang hari ini.

Ku senderkan punggungku, memejamkan mataku untuk menghilangkan rasa pusing yang ada dikepalaku. Dan aku tanpa sengaja menghirup aroma wangi yang masuk kedalam rongga hidungku, dengan sontak aku membuka mataku dan betapa kagetnya saat aku melihat Donghae Sunbae sudah ada disampingku.

Tubuhku kaku, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Pergi menghindarinya atau aku harus diam duduk menunggu Ha Na keluar dari dalam ruangan itu. Yah, lebih baik aku menunggu Ha Na saja, kalau aku pergi bisa-bisa Ha Na akan marah padaku. uh! Kenapa aku serba salah sekali.

“Hai,” aku menoleh mendengar sapaannya. Apa aku tak salah dengar tadi? Donghae Sunbae menyapaku.

“Eh? Yah, hai..” ucapku agak canggung.

“Untuk beberapa hari yang lalu saat kau membantuku, aku minta maaf tak mengucapkan kata terima kasih atau mengajakmu untuk pulang. Saat itu pikiranku sedang kalut,” ucapnya panjang lebar dan itu membuatku terbengong-bengong dia minta maaf padaku. Astaga! Sepertinya aku bertambah menyukai dirinya.

“Gwenchana. Aku memaklumi itu,” ucapku pendek.

“Dan untuk tadi, merebut dress yang hampir kau sentu tadi, aku juga minta maaf. Aku tahu kau pasti kecewa bukan?” tanyannya dan aku menganggukan kepalaku lagi.

“Gwenchana..” jujur, aku hanya bisa mengucapakan ‘Gwenchana’ padanya. Aku seperti orang bodoh.

“Permintaan maafku diterima bukan? Kalau begitu sampai jumpa, dia sudah mau keluar.” Aku mendongak dan benar saja Young Rim Sunbae sudah keluar dari ruang ganti dengan dress tersebut ditangannya. Dan setelah itu mereka berdua pergi.

Aku masih memandang kepergian mereka. Aku kembali menilai keduanya, mereka benar-benar sangat serasi sekali. Aku jadi berniat untuk mengurungkan niatku untuk mengungkapkan perasaanku. Tapi ini tidak boleh aku harus mengungkapkannya.

Mungkin mereka hanya berteman. Yah hanya berteman. Aku harus optimis. Aku akan mengungkapkannya nanti. Jaekyung-ah jangan pantang menyerah.

−TO BE CONTINUED−

Duh, gue balik sama cerita baru lagi. Bosen. Uda Cuma segitu aja. Ini Cuma selingan buat IF THIS WAS S MOVIE aja. N ini kayaknya cuma sampae dua atau tiga part kkk~ udah yahhh capcaiiiii!!!!!

Salam Manis, VyeJungmin or Dillane Wife…

5 thoughts on “I’m In Love 1

  1. Whoaaaaaaaaa~
    Datang lagi cerita baru nan membuat penasaran. Rasanya koq aku kesel ma Dong Hae karena sikapnya ma JaeKyung. Aku jadi pengen bilang ke JaeKyung buat nyerah ajj, karena kesannya, JaeKyung ga tau diri sekaligus kasihan. Kekekekekeke~

    Btw, typo dan kata yang berulang-ulang masih menjadi kritikan aku. Tapi selama ceritanya bagus, aku siCh ga ambil pusing. Wkwkwkwk…

    Good job, Hwaiting!!!

  2. Huwaa. . .Jaekyung d sni aku bnget ;(
    Next part’y jgn lama thor. . .Aku mau tau akhrnya, sma kh? Atau beda kh? -_-
    Oya. . .If this was a movie’y kpn? Pnsarn😀

  3. bagus … persis dg cerita cintaku. tapi kalau aku bilang, jaekyung jangan menyerah. terus dekati donghae! kayaknya bakal jadi ff favoritku deh…. cinta memang g bkal semudah itu dilupakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s