Wrong Married 8

AUTHOR: VYEJUNGMIN~

MUSIC: SUPER JUNIOR  HEARTQUAKE
PARK JUNG MIN  ONLY ME

AUTHOR’S POV

“Kau kenapa ada dihalte?” Tanya Changmin saat mobilnya ia jalankan. Jaekyung yang ada disamping Changmin tak henti-hentinya untuk tersenyum bagaimana jika kalian sedang ada diposisi dirinya? Pasti tak akan pernah berhenti tersenyum bukan?

“Memangnya tak boleh?” Tanya balik Jaekyung pada Changmin, Changmin hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Jaekyung. “Oppa, apa hari ini kau tak ada jadwal?” Tanya Jaekyung dan langsung dijawab anggukan oleh Changmin.

“Sebentar, seharusnya aku yang memanggilmu dengan sebutan Noona buka?” Jaekyung menggeleng, ia merengut kesal mendengar Changmin yang mengajukan pertanyaan yang membuatnya kesal, “Memang kau lahir tahun berapa?” Tanya Changmin kembali.

“Aku tahun 89line, dan kau sendiri 88line bukan?” Tebak Jaekyung, dan langsung dijawab anggukan oleh Changmin.

“Ah, jadi kau mau kemana? Mau jalan-jalan? Tapi aku takut nanti kalau Donghae Hyung akan marah padaku jika kita ketahuan!” Ajak Changmin pada Jaekyung, tapi ia juga sedikit takut jika Donghae akan marah padanya

“Boleh, aku sedang suntuk dengan pekerjaanku. Dan apa Donghae? Jangan urusi dia, dia masih punya pekerjaan yang lebih penting!” Ketus Jaekyung, hari ini ia sedikit sensitive jika orang menyebutkan Donghae. Ia sedikit muak. “Oppa, bagaimana kalau kita ketaman bermain?” Tawar Jaekyung, dan langsung dijawab anggukan oleh Changmin.

Disisi lain seorang Namja yang masih berusaha mencari keberadaan Istrinya yang entah menghilang kemana, ia sedikit takut jika ada fans yang bertemu dengan Jaekyung dan fansnya itu menjambak rambut Jaekyung.

Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa menuju ruangan sang istri. Ia tak perduli kalau dia tak memakai penyamaran, yang ia perdulikan Istrinya itu pergi kemana? Dia sadar kalau selama ia berjalan banyak pasang mata yang melihatnya dengan pandangan kagu, tapi ia benar-benar tak perdulu sekarang.

Setelah keluar dari Lift dan berada di lantai ruangan istrinya. Sebelum ia masuk kedalam rauangn sang Istri Donghae dicegat oelh sekertaris Jaekyung, “Anda mencari Sajangnim?” Tanya sekertaris tersebut.

“Ne, dimana dia?” Tanya Donghae yang sedikit kesal.

“Bukankah Sajangnim sedang sakit? Tadi pagi aku menelponnya dan dia bilang kalau ia sedang tak enak badan.” Ucap sekertaris itu jujur. Donghae berfikir, jadi kalau ia tak datang kekantornya ia pergi kemana? Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.

Ia membungkukan badannya, “Kalau begit aku pamit untuk keluar, maar akalu aku menganggu pekerjaan anda.” Ucap Donghae sesopan mngkin. Ia kembali pergi, dan mencari Jaekyung dimanapun ia berada.

Sudah hampir dua jam Donghae mencari Jaekyung tapi tetap saja ia tak menemukannya, ia kembali keapartmennya, apartmennya begitu sepi. Tak ada penghuninya, ia memasuki kekamarnya dan mendapatkan Hyejin yang sedang memainkan Laptopnya. Ia duduk di sofa yang terdapat didalam kamarnya. Ia memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya. Perlahan ia juga menghembuskan nafasnya dengan pelan.

“Kau benar-benar melihat Jaekyung pergi dengan seorang Namja?” Tanya Donghae sambil membenarkan letak duduknya.

Hyejin yang merasa diajak bicara menghentikan memainkan Laptopnya dan melirik kearah Donghae yang sedang duduk disofa. Hati Hyejin sedikit nyeri mendengarkan perkataan Donghae tadi. Selama mereka berpacaran Hyejin tak pernah dicari oleh Donghae dengan suara yang hampir putus asa seperti itu. Ternyata dampak Yeoja itu masuk kedalam hubungannya dengan Donghae membuat posisinya tersingkirkan.

Ia mempunyai ide yang sangat licik, ia ingin segera menendang jauh banalu yang masuk kedalam hubungannya dengan Donghae, ia sekilas melihat kearah Donghae, Donghae hanya memejamkan matanya erat ia berjalan kearah Donghae sambil memamerkan Smirk yang ia punya.

Hyejin duduk disamping Donghae, ia mengelus pipi Donghae dengan lembut. “Ne, saat aku pulang kesini tadi pagi aku melihat Jaekyung yang keluar dengan seorang laki-laki. Aku tak tau laki-laki itu siapa!” Ucap Hyejin dengan nada suara yang ia buat-buat agar Donghae percaya dengan ucapannya itu.

Mendengar perkataan Hyejin membuat Donghae semakin geram saja. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi. Mungkin merendam diri di Bathtubh akan lebih menyegarkan. Pikirnya dalam hati.

Ia mendengar pintu diketuk dengan sangat keras. Ia membuka matanya, kepalanya sedikit pusing mungkin ia terlalu lama untuk merendam dirinya, sampai-sampai kulit tangannya mengkerut. Ia keluar untuk mengambil bajunya saja yang ada dilemari, ia mengacuhkan Hyejin yang sedari tadi ada didepan pintu kemar mandi. Ia hanya malas kalau sudah berurusan dengan sikap manja Hyejin.

Setelah ia mengambil baju di lemarinya, ia kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk memakai baju, dan ia kembali mengacuhkan kehehadirannya Hyejin. Hyejin yang merasa diacuhkan oleh Donghae hatinya benar-benar sakit. Baru sekali ini Donghae seperti itu, dan yang membuat seperti itu hanya Yeoja benalu itu. Ia sekarang benar-benar sangat membencinya. Benar-benar membencinya.

Dengan rasa kesal, Hyejin keluar dari kamar Donghae dan pergi keruang TV, ia menonton TV untuk menghilangkan kekesalannya akibat sikap Donghae yang begitu Acuh padanya. Hatinya serasa sesak melihat Donghae yang seperti itu, Acuh dan tak mau memandang Hyejin sedikit pun.

Dilain tempat sepasang Namja dan Yeoja sedang asik tertawa di sebuah taman yang sedikit ramai, sesekali Namja itu mengacak-ngacak rambut sanga Yeoja, dan Yeoja itu langsung merengut kesal karena rambutnya menjadi berantakan.

“Oppa, berhentilah mengacak-ngacak rambutku ini!” Dumalnya kesal, kemudian ia memukul lengan sang Namja tersebut. Namja itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah yeoja yang ada disampingnya itu.

Namja itu langsung menarik tangan Yeoja yang ada disampingnya, dan segera membawanya duduk disalah satu tempat duduk yang ada ditaman yang mereka datangi. Hari sudah cukup senja, tapi mereka tampak tak lelah dengan kegiatan mereka dari pagi sampai senja sekarang.

“Apa kau tak dimarahi Oleh Donghae Hyung?” Mendengar nama Namja brengsek itu disebutkan membuat kekecewaan, kemarahan itu tiba-tiba saja kembali muncul. Kenapa Namja disampingnya ini menyebutkan Nama Namja yang ia benci sekarang? Benar-benar merusak kesenangannya saja.

“Punya hak apa dia memarahiku? Aish! Kalau mengingat Namja itu benar-benar membuatku keasal!” Jaekyung beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Changmin yang masih duduk di bangku taman tersebut.

“Ya! Tunggu aku!” Teriak Changmin sambil berlari kecil menuju Jaekyung yang sudah hampir dari jaraknya itu. Setelah mensejajarkan langkahnya tanpa sadar ia menggenggam tangan Jaekyung, dan itu membuat kedua insan tersebut merasakan sengatan listrik kecil dikulitnya masing-masing. Dengan cepat Changmin melepaskan tautan tangannya dan langsung menggaruk tengkuknya. Ia merasa sangat gugup setelah melakukan apa yang ia lakukan tadi.

Sedangkan Jaekyung, ia hampir saja berteriak histeris saat Changmin menggenggam tangannya tadi. Ia benar-benar senang kalau boleh, ia ingin sekali di genggam tangannya kembali oleh Changmin. Dan yah, permintaanya dikabulkan oleh yang diatas. Tangannya kembali digenggam oleh Changmin. Ia melihat tautan tangan mereka, dan pipinya langsung bersemu merah bak kepiting rebus.

“Kau mau makan? Kalau aku ingat siang tadi kita belum sempat makan siang bukan?” Tawar Changmin, dan itu membuat pipi Jaekyung bertambah merah. “Ah, aku lapar! Kajja~” Ucap Changmin dengan semangat. Ia menarik Jaekyung sampai diparkiran mobil. Setelah membuka pintu mobil dan dirinya masuk ia segera menstarter mobilnya.

Setelah mencari restoran yang cukup nyaman untuk dirinya dan Jaekyung, kedua insan ini segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju restoran tersebut. Lonceng berbunyi pertanda ada pelanggan masuk, Changmin sibuk mencari tempat duduk yang paling nyaman dan setelah menemukannya ia segeran menarik Jaekyung dan menundukannya.

“Kau mau pesan apa? Tenang aku yang akan membayar!” Tawar Changmin sambil bergurau dengan Jaekyung, dan Jaekyung tersenyum melihat gurauan Changmin. Ia berfikir ternyata mempunyai Idola seperti Changmin memang sangat menyenangkan.

“Apa saja. Apa yang kau pesan aku juga pesan!” Ucap Jaekyung ikut tersenyum kepada Changmin. Changmin melambaikan tangannya bermaksud untuk memanggil pelayan restoran yang bekerja disini.

Setelah pelayan itu datang dan mencatat pesanan mereka, mereka berdua kembali bercengkrama. Sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol, mereka layaknya seperti teman lama yang tak pernah bertemu lagi selama beberapa tahun.

“Kau benar Donghae Hyung tak mencarimu? Atau perasaan khawatir padamu?” Tanya Changmin lagi. Ia benar-benar merasakan kalau Donghae Hyungnya itu sedang mengkhawatirkan Yeoja yang ada didepannya.

“Lupakan, aku sedang tak ingin mengungkit nama itu sekarang. Dan cepatlah diam pelayan itu hampir sampai kemeja kita!” Jaekyung memperingati Changmin. Ia benar-benar kesal sekali saat Changmin menyebutkan Nama Donghae kembali. Ia benar-benar tak mood untuk makan sekarang gara-gara Changmin meyebutkan nama Laki-laki itu.

“Eish! Marah? Ayolah, aku hanya bercanda tadi. Hmm… Cepat makan!” Changmin hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah kesal Jaekyung.

Mereka berdua menghabiskan makan dengan keadaan damai, tak ada pembicaraan di antara mereka, hening. Setelah makan mereka segera bergegas pergi sebelumnya mereka membayar makanan yang mereka pesan tadi.

*

“Mau aku antarkan kau sampai didepan pintu Apartmenmu?” Tawar Changmin saat mereka sudah sampai didepan gedung apartmen Jaekyung. Jaekyung menggeleng pelan tak mau merepotkan idolanya itu.

“Annio, Oppa cepatlah pulang dan beristirahat lah. Aku yakin kalau Oppa lelah bukan?” Ucap Jaekyung dan ditanggapi senyuman Oleh Changmin.

“Hmm… baiklah Oppa pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau merasa bosan kau boleh sering-sering menelponku! Arraseo?” Changmin mengacak-ngacak rambut Jaekyung, dan kali ini Jaekyung tersenyum manis melihat Changmin bersikap manis padanya.

Changmin melambaikan tangannya saat ia sudah masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobilnya. Jaekyung membalas lambaian tangannya. Hari ini ia benar-benar sangat bahagia, bermain seharian dengan sang idolanya dan melupakan kekesalannya pada Donghae, dia sudah tak peduli lagi apa yang diperbuat Donghae malam tadi. Ia sudah melupakannya, tak ingin mengingat sedikitpun dipikirannya. Ia berjalan masuk kedalam gedung apartmennya. Ia berharap apartmennya sepi, tak ada siapapun diapartmen.

Jaekyung keluar dari dalam Lift dan berjalan ringan menuju pintu apartmennya. Ia merasakan kalau dadanya berdesir kuat, merasakan perasaan aneh yang ada didalam tubuhnya. Ia menngelengkan kepalanya, tak akan terjadi apa-apa. Pikirnya.

Ia berjalan masuk kedalam Apartmennya, saat ia masuk kedalam ruangan TV tanpa sengaja matanya menagkap kedua insan yang sedang dimabuk cinta, dan entah kenapa tiba-tiba saja hatinya terasa teriris melihat pemandangan kedua insan tersebut. Ia menahan dirinya untuk terus berjalan menuju kamarnya, ia membaliakn tubuhnya dan berjalan menuju kearah dapur yang mungkin akan membuatnya sedikit tenang.

Ia menelungkupkan wajahnya dengan penyanggah tangannya diatas meja makan, ia memejamkan matanya kekesalan pagi tadi sepertinya muncul kembali. Ia ingin sekali kekamarnya. Tapi kalau ia kekamarnya pasti akan melewati kedua insan tersebut sedang asik bercumbu. Ia tak perduli dengan kedua insan tersebut, ia beranjak dari duduknya dan berjalan dengan sangat cepat.

Donghae melepaskan tautan bibirnya setelah ia mendengar langkah yang begitu cepat. Ia mengusap bibirnya yang basah karena ciuman yang dilakukan oleh dirinya dan Hyejin. Donghae reflek melangkah kearah kamar Jaekyung dan meninggalkan Hyejin yang hanya bisa menatap punggung Donghae.

Donghae dengan kesal mengetuk pintu kamar Jaekyung dengan keras, ia kesal karena terlamabat untuk menghentikan langkah Jaekyung, hampir beberapa senti lagi ia bisa menggapai pergelangan tangan Jaekyung, tapi ia lamban beberapa detik dan akhirnya Jaekyung masuk kedalam kamarnya.

“Ya! Lee Jaekyung buka pintunya!!!” Teriak Donghae keras. Hyejin tertegun mendengar teriakan Donghae, hatinya benar-benar teriris sebuah pisau yang benar-benar tajam. Ia baru kali ini mendengar Donghae menyebutkan marganya dinama yang bukan benar-benar istrinya.

Hyejin menghampiri Donghae yang ada didepan pintu kamar Jaekyung, perlahan tapi pasti Hyejin memeluk tubuh Donghae dari belakang dan menyenderkan kepalanya dipunggung Donghae. Ia menghirup aroma tubuh kekasihnya itu.

Donghae yang sedang dilanda dengan emosi dengan kasar ia menghempaskan tangan Hyejin yang melingkar dipinggangnya. Hyejin yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa menatapnya dengan kaget. Ini baru pertama kalinya Donghae seperti ini. Dan yang membuat Donghae seperti ini ialah Perempuan yang ada didalam kamar ini.

Donghae melangkah, berjalan menjauhi kamar Jaekyung, Hyejin terkesiap kaget saat mendengar hempasan pintu yang ditutup dengan kasar. Ia mengepalakan tangannya dengan kuat dan memejamkan matanya untuk menghilangkan kekesalan yang ditimbulakan perempuan itu.

Sebelum ia beranjak dari kamar Jaekyung, ia menyempatkan dirinya untuk memukul pintu kamar Jaekyung.

“BRAKKK”

Sontak, Jaekyung yang ada didalam kamarnya terkesiap kaget saat ia mendengar gebrakan kasar dipintu kamarnya. Ia menghela nafasnya sedalam mungkin. Ia benar-benar segera keluar dari permasalahan ini. ini membuatnya frustasi. Ia membenamkan wajahnya didalam bantal, dan sial aroma tubuh laki-laki itu masih berbekas ditempat tidurnya. Ia menggeram kesal dan dengan kasar ia melempar bantal itu kearah pintu kamarnya.

*

Jaekyung mengerjap-ngerjapkan matanya merasakan perutnya yang tiba-tiba saja berulah. Ia beranjak dari tidurnya dengan malas, berjalan menuju kearah kamar mandi yang ada diluar kamarnya, ia kesal karena kamar yang ia gunakan tak ada kamar mandi pribadinya.

Dengan langkah yang terseok-seok ia menuju kearah kamar mandinya. “Aw!” Ringisnya saat ia tak sengaja menabrak seseuatu yang ada didepanny itu. Ia membuka matanya perlahan dan mendapatkan Donghae yang ada didepannya, ia mendongakan wajahnya dan mendapatkan Donghae yang menatapnya dengan tatap dingin. Jaekyung sedikit ngeri melihat raut wajah Donghae.

“Minggir!” Ucap Donghae pelan tapi mengisyaratkan kalau Donghae benar-benar membencinya, “Kubilang Minggir!” Jaekyung semakin mengadahkan wajahnya saat ia mendengar ucapan Donghae yang sedikit membentaknya. Ia tersadar dan ia kemudian menggeser tubuhnya dengan cepat. Tubuhnya terdorong pelan kebelakang saat Donghae melangkah untuk maju kedepan. Ia membalikan tubuhnya dan mendapatkan Donghae yang sedang memeluk tubuh Kekasihnya.

Hyejin yang melihat kejadian tadi hanya bisa tersenyum meremehkan pada Jaekyung yang ada di ambang pintu, yang menghubungkan antara dapur dan kamar mandi. Jaekyung yang melihat senyum yang dilakukan oleh Hyejin hanya bisa mendengus kesal. Dengan langkah cepat ia memasuki kamar mandi, kegiatan tadi ia sempat tertunda oleh laki-laki yang membuatnya ia kesal.

*

“Yeoboseo?” Ucap Jaekyung saat ia menerima panggilan telpon dari ponselnya, ia tak sempat untuk melihat siapa yang menelpon Jaekyung.

“Jaekyungie~” Ucap seseorang disebrang, ia mengerutkan keningnya, siapa yang berani-beraninya memanggilnya dengan panggilan seperti itu? Belum sempat ia membuka suara seseorang yang menghubunginya itu memotong ucapannya, “Ayo keluar Kyungie, aku lapar! Jangan bilang kalau kau belum sempat menympan nomor ponselku!”

Jaekyung mengerutkan keningnya, ia seperti pernah mendengar suara ini sebelumnya. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya dan mendapatkan nomor tak ada nama di layar ponselnya. Ia kembali mendekatkan ponselnya ketelingannya.

“Benar bukan? Diam berarti iya, kau belum menyimpan nomor ponselku! Bukankah kemarin aku sudah bilang untuk menyimpan nomor ponselku?” Jaekyung kembali mengingatnya, dan dengan cepat ia menyebutkan nama yang menelponnya ini.

“Changmin~a!!!! astaga! Benar aku lupa menyimpan nomor ponselku. Kemarin aku tak sempat untuk menyimpan nomor ponselku karena aku langsung tidur saja. Hehehehe!” Jaekyung hany bisa tertawa tertahan mengingat otak pelupanya ini.

“Gwenchana, kau ada dimana? Apa mau makan siang? Aku benar-benar lapar~” Ucap Changmin yang sedikit dimanja-manjakan, Jaekyung yang mendengar ucapan menggelikan yang berasal dari Changmin hanya bisa terkiki pelan.

“Sebentar lagi, pekerjaanku belum selesai. Kira-kira sepuluh menit lagi selesai!” Jaekyung kembali membalikan kertas yang da didepannya dan menandatanganinya.

“Apa aku mengganggumu bekerja? Dan Ngomong-ngomong Jaekyung~a kau bekerja dimana??” Tanya Changmin.

“Annie, ah aku? Kau tau Han Corp? aku bekerja disitu!” Jawab Jaekyung sambil membereskan mejanya yang sedikit berantakan karena kertas yang ada didepannya.

“Jadi kau bekerja di perusahaan itu? Aku dengar-dengar direkturnya itu masih sangat muda ya?” Tanya lagi Changmin pada Jaekyung, Jaekyung yang mendengar pertanyaan Changmin hanya bisa terkikik geli.

“Aish! Nanti aku ceritakan semuanya padamu, kau mau makan dimana? Dekat perusahaanku atau temapat yang sudah kau pilih sendiri?” Ucap Jaekyung sambil menghadapkan tubuhnya kejendela dan melihat pemandangan yang ada didepannya.

“Menjemputmu saja, aku akan mengajakmu makan disebuah tempat yang indah! Aku tutup telponnya, sebentar lagi aku samapi!” Ucap Changmin dan langsung sambungan telpon terputus.

*

“Kau mau membawaku kemana?” Tanya Jaekyung saat mobil yang membawanya ini sudah melaju sangat jauh dari letak perusahaanya. Ia melihat pemandangan yang ada didepannya, ia selalu berdecak kagum saat melihat beberapa pemdangan yang telah ia lewati itu.

“Tenang saja, kau pasti akan tau! Dan ngomong-ngomong Jaekyung~a, kau bekerja sebagai apa di perusahaan itu?” Jaekyung sontak memalingkah wajahnya, yang awalnya menatap pemandangan didepan kini ia memalingkan wajahnya kearah Changmin yang ada disampingnya itu.

“Aku sebagai sebagai direkturnya!” Ucap Jaekyung kembali memalingkan wajahnya menatap hamparan bunga yang mereka lewat. Dan Changmin sendiri kini menatap wajah Jaekyung yang sedang berkonsentrasi memandangi pemandangan diluar.

“Kau tak percaya?” Tanya Jaekyung, dan Changmin mengangguk. Jaekyung mengluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya dan memamerkan pesan yang baru saja masuk diponselnya.

“Sajangnim, hari ini ada rapat! Tapi saat aku keruanganmu kau tak ada disana? Kau kemana?”

“Aigo! Jadi aku menganggu waktumu? Kalau begitu kita kembali kekantormu!” Ucap Changmin yang sedikit was-was, dan Jaekyung hanya bisa tertawa pelan.

“Annie, tenang aku sudah menyuruh asistenku untuk menggantiku rapar, hanya rapat kecil jadi tak usah khawatir!” Ucap Jaekyung menenangkan Changmin yang tak enak itu.

Mobil berhenti disebuah kedai yang dikelilingi oleh hamparan berbagai bunga, walaupun Jaekyung tak menyukai bunga tapi ia masih mengangumi keindahan bunga yang ia lihat sekarang. Ia keluar dari mobil dan menuju kearah Changmin yang ada sudah ada didepan pintu masuk kedai tersebut.

“Astaga! Pemandanganya indah sekali, ya! Aku tak menyesal pergi denganmu hari ini dan meninggalkan rapat yang membuat kepalaku pusing!” Ujar Jaekyung senang dan tanpa sadar Jaekyung mengapit lengan Changmin dengan tangannya. Changmin yang mendapatkan perlakuan tersebut hanya bisa menahan detak jantungnya yang selalu berdetak cepat saat ia berdekatan dengan gadis yang ada disampingnya ini.

“Kajja masuk!” Jaekyung menarik tangan Changmin, mengikuti langkahnya untuk masuk kedalam kedai tersebut. Mereka berdua menundukan kepalanya pelan saat pelayan kedai tersebut memberi salam padanya.

Setelah makan siang mereka segera keluar dari kedai tersebut, Jaekyung dengan antusia keluar dari kedai tersebut dan menarik-narik tangan Changmin. Changmin yang melihat tingkah Jaekyung hanya bisa tersenyum geli melihatnya.

Jaekyung berlari kearah tengah-tengah alang-alang yang ada ditempat mereka kujungi, Jaekyung melambaikan tangannya mengajak Changmin untuk bergabung dengan dirinya. Changmin sempat terpana oleh kecantikan Jaekyung yang ada diwajahnya dan Jaekyung akan sangat cantik jika ia tersenyum seperti yang dilakukannya tadi.

Changmin menghampiri Jaekyung yang sedang berputar-putar ditengah-tengah alang-alang tersebut dan Changmin dengan cepat memeluk tubuh Jaekyung dari belakang. Changmin mersakan tubuh Jaekyung menegang, merasakan kalau dirinya tengah memeluk tubuhnya itu.

“Changmin~a” Ucap lembut Jaekyung, dan itu mengalun sangat indah ditelinga Changmin. Ia sendiri tak tau apa yang ia lakukan sekarang, entah kenapa tubuhnya ingin sekali memeluk tubuh Jaekyung.

Awal pertemuan mereka memang mendadak, bertemu di ruang latihan Super Junior, dan itupun ia hanya sekilas melihatanya, karena Donghae Hyungnya itu dengan cepat membawa Jaekyung keluar. Jadi kalau di simpulkan jika dirinya ini mengidap sindrom ‘Love at first sight’

Dengan perlahan ia mengendorkan pelukannya itu, dan membalikan tubuh Jaekyung mengnghadap kearahnya, Changmin tersenyum dan Jaekyung membalas senyuman Changmin.

Tanpa sadar dan tak tau siapa yang memulainya, bibir mereka berdua sudah saling menempel. Mata mereka masing-masing dipejamkan, dan Changmin dengan perlahan mengecup bibir Jaekyung setelah itu ia lepaskan.

“Mianhae~” Ucap Changmin, Jaekyung hanya bisa tertunduk malu. Ia menyembunyikan semburat merahnya yang telah muncul dikedua pipinya.

“Mau foto?” Tawar Jaekyung pada Changmin, dan Changmin menerima tawaran yang ditawarkan oleh Jaekyung.

*

Jaekyung membuka pintu apartmen dan langsung mendapatkan Donghae yang sudah menunggunya di ruang TV, dengan tangan yang bersedekap dan menatap Jaekyung dengan tajam dan dingin. Jaekyung tetap berjalan santai menuju kamarnya tak menghiraukan Donghae yang masih tetap memandangnnya.

Langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya ditarik oleh Donghae, dengan cepat Donghae membalikan tubuhnya kearahnya, “Darimana saja kau? Hah??” Tanya Donghae tajam.

“Tentu saja bekerja bodoh!” Jawab Jaekyung sambil menyentakan tangannya agar telepas dari cengkraman tangan Donghae. Ia mendengus kesal saat pergelangannya sakit akibat cengkraman Donghae yang semakin menguat.

“Kau bilang bekerja? Lalu kau bekerja apa tengah malam baru pulang hah? Kau tak lihat waktu sudah pukul berapa?” Ucap Donghae dengan berteriak, yah memang setelah seharian dengan Changmin, Jaekyung kembali kekantornya lagi untuk mengerjakan berkas-berkas yang belum sempat ia kerjakan.

Ia sadar, ia sudah pastikan kalau ia sudah sampai diapartmen nanti ia pasti akan dimarahi oleh Donghae, dan See? Kenyataan bukan saat ia pulang tadi kini ia sudah dimarahi oleh Donghae.

“Aku sadar Lee Donghae! Cepat lepaskan tanganku ini, aku ingin masuk kedalam kamarku!” Ucap Jarkyung tajam, Donghae maasih tetap mencengkram tangan Jaekyung dan masih menatap Jaekyung dengan kasar.

“Kau tidur denganku malam ini!” Tandas Donghae, Jaekyung hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Donghae.

“Ya! Apa kekasihmu itu tak akan marah?” Jaekyung tertawa sinis, “Cepat lepaskan tanganku bodoh!” Kembali Jaekyung berteriak. Tanpa aba-aba Donghae menarik tangan Jaekyung, dan dipaksa mengikuti langkah Donghae yang menuju kearah kamar mereka yang sebenarnya.

Dengan kasar Donghae melepaskan cengkramannya dan mendorong Jaekyung diatas kasurnya, dan Donghae sendiri dengan cepat duduk dipinggiran kasur. Donghae menahan tubuh Jaekyung yang akan beranjak bangun dari kasurnya.

“Aish! Lepaskan aku! Cepat!” Jaekyung berusaha untuk bangun dari tidurnya, tapi ia susah karena Donghae tetap menahan tubuhnya. Ia sudah tak meronta-ronta lagi, is sudah pasrah apa yang dilakukan Donghae. Hening. Keadaan saat ini hening tak ada yang berbicara.

Jaekyung baru ingat, apartmen ini sepi dan Donghae memaksanya untuk tidur diruangan yang sama. Ia tersentak kaget saat tiba-tiba saja tangan Donghae melepaskan kancing kemejenya satu persatu. Dengan cepat Jaekyung menahan tangan Donghae yang akan melepaskan kancing kemeja urutan empat, Jaekyung menatap mata Donghae dengan tajam dan langsung menepis tangan Donghae dengan kasar.

Kejadian saat ini mengingatkan kejadian kemarin malam yang pernah mereka lakukan. Jaekyung beranjak duduk untuk merapihkan kemejanya itu, “Apa yang kau lakukan bodoh!” Jaekyung mendengus kesal melihat kelakuan Donghae yang semena-mena itu.

“Tentu saja aku akan menggantikan pakaian Istriku. Memangnya apa lagi?” Ucap Donghae santai, Jaekyung hanya bisa memblalakan matanya saja. Belum sempat Jaekyung membuka suara deringan telpon membuyarkan pereseturuan mereka.

Dengan cepat Donghae menyambar tas Jaekyung yang ada disamping paha Jaekyung, ia merogoh tas untuk mencari ponsel Jaekyung. Setelah ketemu ia langsung mengambilnya, belum sempat ia menekan tombol hijau, ia sudah merasa kesal saat layar ponsel tersebut menampilkan wallpaper Jaekyung dan Changmin dan apa ini kenapa nama ‘Changmin’s calling’ ada dilayar ponsel Jaekyung? Donghae menatap tajam Jaekyung yang hanya menatap Donghae dengan pandangan malasnya.

Jaekyung yang ditatap tajam oleh Donghae hanya bisa menatap waja Donghae dengan tatapan malasnya. Jaekyung masih menunggu Donghae mengangkat panggilan tersebut, dan hati Jaekyung mencelos saat Donghae mengucapkan satu kata, “Changmin~ssi!”

Suara rendah namun menyiratkan kemarahan itu membuat nyali Jaekyung menjadi ciut. Ia berfikir kenapa Changmin menghubunginya tengah malam seperti ini? ini benar-benar membuat Jaekyung bingung. Ia menundukan kepalanya saat Donghae memutuskan panggilan telpon itu dan dengan cepat Donghae melemparkan Ponsel Jaekyung kearah tembok yang ada disampingnya dan menghasilkan ponsel Jaekyung menjadi berkeping-keping, akibat lemparan Donghae yang tengah emosi seperti itu

Jaekyung memblalakan matanya saat ponselnya itu hancur, ia menatap Donghae dengan pandangan bencinya ia benar-benar membenci Donghae yang seenaknya itu, ia hampir memukul Donghae, tapi kalah cepat dengan gerakan Donghae yang mencium bibir Jaekyung dengan paksa.

Jaekyung memukul dada Donghae dengan kasar, Donghae mendesak Jaekyung kebelakang punggung kasur ia beranjak naik keatas kasur dan dudk diantara paha Jaekyung. Donghae terus saja mencium Jaekyung dengan intens dan dalam. Pukulan-pukulan yang dilakukan Jaekyung kini sudah berhenti dan ia menyerah apa yang akan dilakukan oleh Donghae.

*

Jaekyung mengerjapkan matanya berkali-kali saat cahaya matahari masuk melewati ventilasi jendela kamarnya, ia menguap sebentar dan beranjak dari tidurnya. Tapi badannya tertahan oleh tangan seseorang yang melingkar erat dipinggangnya. Ia menoleh kearah samping dan tersentak kaget saat tau kalau Donghae lah yang tengan memeluknya.

Jaekyung dengan sangat hati-hati mengangkat tangan Donghae, tapi usahanya sia-sia karena pelukan Donghae semakin erat. Jaekyung geram, ternyata laki-laki yang tengah memelukknya ini sudah bangun terlebih dahulu.

“Lepas!” Geram Jaekyung saat Donghae tak melepaskan pelukannya dipinggang Jaekyung. Donghae merapatkan tubuhnya dengan Jaekyung dan menghirup aroma tubuh Jaekyung melalui leher jenjang milik Jaekyung ini.

Donghae membuka matanya dan tersenyum manis saat ia melihat hasil yang ia lakukan semalam dengan Jaekyung. Ia mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam, dan itu membuatnya semakin melebarkan senyumnya itu.

“Hari ini kau tak usah berangkat kerja!” Ucap Donghae ditelinga Jaekyung, dan itu membuat Jaekyung bergidik ngeri.

“Shiroe!!!” Tolak Jaekyung keras, Jaekyung dengan paksa melepaskan tangan Donghae yang ada dipinggangnya itu. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menggunnakan selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.

Jaekyung mengrutuki kebodohannya yang mau saja terjebak didalam pesona Donghae tadi malam. Tapi kalau mengingat apa yang mereka lakukan itu membuat pipi Jaekyung bersemu merah. Ia memukul kepalanya sendiri kenapa tiba-tiba pikirannya menjadi mesum seperti ini?

*

Jaekyung kembali mendengus kesal saat Donghae mengacuhkan kehadirannya itu. Ia menyesal menemani Donghae Syuting itu. Ia sesekali menghembuskan nafasnya beberapa kali, ia bosan sangat bosan ia lebih memilih mengerjakan berkas yang bertumpuk-tumpuk dikantornya itu.

Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu, sudah dua jam ia menemani Donghae yang sedang Syuting itu. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearah tempat duduk yang dibelakangnnya terdapat pohon besar.

Ia kembali menghembuskan nafasnya saat mengingat ponselnya hancur yang dilempar oleh Donghae. Ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang sangat sejuk, ia tersentak kaget saat merasakan hangat dipipinya, perlahan ia membuka matanya dan mendapatkan Donghae yang sedang memegang dua buah cup yang berisikan kopi.

Donghae duduk disamping Jaekyung dan menyerahkan kopi yang ada ditangnnya, “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini!” Ucap Donghae dan Jaekyung hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Donghae.

“Kau saja yang mengacuhkanku bodoh!” Tutur Jaekyung mengambil cup yang ada di tangan Donghae, “Ngomong-ngomong Donghae~a aku tak suka dengan kopi! Aku lebih suka air dingin” Jaekyung meminumn kopinya sekilas.

“Eish! Sudah kubilang jangan meminum air dingin!”

“Kenapa? Itu minuman favoritku! Donghae~a lapar!” Ucap Jaekyung sembari memegang perut ratany itu. Sebenarnya Jaekyung sudah sedari tadi lapar, ingin meninggalkan tempat syuting ini ia tak berani jadi ia memutuskan menunggu Donghae selesai syuting.

Donghae beranjak dari duduknya dan menarik Jaekyung untuk berdiri dan mengikuti langkahnya. Setelah berjalan selama tiga menit akhirnya Donghae dan Jaekyung direstoran yang dekat dengan lokasi Syuting.

“Jawab jujur, kemarin kau pergi bersama Changmin?” Jaekyung mengangguk cepat, Donghae yang melihat Jaekyung menganggukan kepalanya itu membuat Donghae geram seketika. Tangannya mengepal kuat.

“Jika aku melihatmu pergi atau bertemu dengan Shim Changmin, akan aku putuskan kau tak akan pernah bertemu dengannya lagi!” Ucapan tajam Donghae membuat Jaekyung memblalakan matanya saja.

“Apa kau bilang? Aku tak boleh bertemu Dengan Changmin Oppa?” Geram Jaekyung.

“Dan apa itu? Kau memanggil Changmin dengan sebutan Oppa? Bukankah kau dan dia hanya berbeda satu tahun? Kenapa memanggilnya dengan sebutan Oppa? Dan kau sama kali tak memanggilku dengan sebutan Oppa, padahal kita ini berbeda tiga tahun. Seharusnya kau memanggilku dengan sebutan Oppa!!!!” Donghae hanya bisa menggeram melihat tingkah Jaekyung yang sangat menyebalkan itu. Dan Jaekyung sendiri hanya bisa menyeringai, melihat Donghae yang hanya bisa menahan kesal karena dirinya itu.

=====TO BE CONTINUE=====

Ini part datar banget, ntah aku bingung buat part ini. hehehe terus part ini terbengkalai akibat aku terlalu serius nonton RUNNING MAN 115 yang guestny TVXQ. Hahahahaha
Maaf kalau hasilnya mengecewakan atau apa, beneran aku ga fokus banget buat part ini. tapi semoga aja part selanjutnya itu aku fokus!!

7 thoughts on “Wrong Married 8

  1. Over all part ini bagus ko thor cuma masih kesel aja sama si donghae sebenernya dia suka apa gak sih sama jaekyung jgn d’gantungin dong kasian,trus juga si hyejin masih aja tinggal di apartemennya si hae huffftt. Next thor ditunggu kelanjutannya ASAP!!! ^^

  2. hallo aku reader baru,,
    nggak sengaja menemukan[?] blog ini,,
    dan nggak sengaja jg bca ff ini,,
    tp kq udah part 8 ea T_T

  3. Dasar donghae g jelas..plin plan..masak seenaknya sendir..qo sifatny jd kyk si evil y?? Bukannya donge manja n cengeng?? Lanjut thor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s