If This Was a Movie [Part 7]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer
If This Was a Movie by Taylor Swift

***

Donghae membuka pintu rumahnya, mendapatkan kakak laki-lakinya yang sedang duduk dikursi yang ada diruang tamu. Bibirnya menciptakan sebuah senyuman yang sangat menawan, dengan langkah yang tergesa Donghae langsung menghambur kearah kakaknya dan duduk disampingnya.

“Hyung, kapan kau sampai?” tanya Donghae saat sudah disamping kakaknya.

“Beberapa jam yang lalu. Hei, Dongsaeng-a, kau ini berani-beraninya mendahuluiku menikah, aku ini Hyungmu, tapi kenapa kau malah yang menikah terlebih dahulu. Seharusnya itu aku!” ucap Donghwa–Hyung Donghae–pura-pura marah, Donghae yang mendengarnya hanya meringis.

“Mau bagaimana lagi, aku ingin sekali menikah,” bohong Donghae. Tapi dalam hati ia memang ingin menikah, tapi menikah juga bukan dengan Jaekyung melainkan dengan Hyera.

“Yah, aku tahu itu. Mungkin aku harus fokus pada profesiku yang menyembuhkan orang-orang. Dan ngomong-ngomong, apa perempuan yang akan kau nikaihi itu Park Hyera, kekasihmu yang agak manja dan ambisius terhadap perusahaan ayahnya?” tanya Donghwa sedikit malas. Donghae yang mendengarnya kembali meringis, memang sejak dulu Hyungnya ini agak tak suka, atau memang benar-benar tak menyukainya.

Pasalnya, Donghwa agak tak menyukai Hyera karena Hyera yah seperti yang dikatakan Donghwa tadi. Selain itu juga Hyera itu suka sekali marah sifat itu membuat Donghwa yang melihatnya sedikit geram. Kenapa harus ada makhluk yang seperti Hyera dimuka bumi ini. Kalau memang tak ada, Donghwa akan benar-benar amat sangat senang sekali.

“Hyung masih tak menyukainya?” tanya hati-hati Donghae pada Hyungnya dan langsung menganggukan kepalanya.

“Yah, kau tahu bukan? Aku tak suka dengan wanita manja seperti dia, dan sekarang dia mempunyai ambisi seperti itu. Dan Donghae-a apakah kamarnya masih seperti dulu, berantakan?”

“Aku tidak tahu, karena aku sejak lulus sekolah dulu tak pernah masuk ke kamarnya lagi. Sampai saat ini.”

“Begitukah? Aku berharap perempuan yang akan kau nikahi itu bisa membuatmu nyaman dan keluarga kita juga nyaman, serta membahagiakanmu.”

“Yah, aku berharap begitu.”

***

Jaekyung keluar dari dalam kamarnya. Perlahan mulutnya menguap akibat dirinya yang masih merasakan kantuk dalam dirinya. Kalau saja malam ini tak ada makan malam bersama kedua orang tua Donghae ditambah dengan Kakak laki-laki Donghae, dirinya sudah bergelung dengan bantal-bantalnya yang nyaman untuk ia peluk malam ini. Tapi harus bagaimana lagi ini sepertinya benar-benar sangat istimewa. Huh! Istimewa apanya? Pikir Jaekyung dalam hati.

Rambutnya ia biarkan tergerai. Dengan Dress berwarna merah marun yang hanya panjang selutut dirinya benar-benar sangat pantas dan ditambah Hihgheel berwarna hitam. Kalau dia kembali berkaca, dirinya mungkin akan memecahkan kaca tersebut dengan obeng milik Ayahnya yang ada didalam gudangnya, dan langsung berkata ini semuanya mungkin hanya sebuah halusinasi dan beberapa setelah kaca tersebut pecah dirinya akan kembali seperti semula. Han Jaekyung yang tak secantik seperti didepan cermin.

Dengan perlahan dirinya berjalan keluar dari kamarnya. Rumahnya masih saja sepi, ia berpikir apa sebelum pergi kerumah Donghae dirinya harus kerestoran terlebih dahulu. Tapi kalau melihat jam di nakasnya tadi, waktunya tidak akan keburu. Dia tak mau ambil pusing, dirinya kembali berjalan yang sempat berhenti tadi dan sekarang pun dirinya berhenti mendadak melihat Lee Donghae yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.

Jaekyung berpikir, kapan orang tuanya sampai dirumahnya? Dan sejak kapan Donghae sudah ada dirumahnya. Bahkan ia tak mendengar suara mobil atau suara langkah kaki. Tapi kalau mengingat-ingat rumahnya tidak akan terdengar oleh suara-suara langkah kaki. Biasanya juga Ibunya akan berteriak bahwa dirinya sudah pulang atau masuk kekamar dirinya. Tapi hari ini benar-benar sangat berbeda.

Menoleh kesamping, mengamati ekspresi wajah ayahnya yang benar-benar sangat datar memandang lurus kearah wajah Donghae yang masih saja menundukan wajahnya dalam hati Jaekyung, dirinya ingin sekali tertawa melihat wajah Donghae. Kalau saja situasi tidak seperti ini, dirinya mungkin sudah mengabadikan raut wajah Donghae yang benar-benar tampak konyol sekali.

Ibu Jaekyung menoleh kesamping, mendapatkan Anaknya yang berdiri dengan wajah yang sedang menahan tawa. Jaekyung yang melihat Ibunya melirik seklias kearahnya dengan segera merubah raut wajahnya yang tadi menahan tawa kini menjadi datar, tanpa ekspresi.

Perlahan dirinya berjalan kearah Donghae, dan setelah itu dirinya duduk disamping Donghae. Jaekyung menatap Donghae dari samping, tampan. Malam ini Donghae benar-benar sangat tampan dengan penampilannya formal seperti ini. Jas hitam, kemeja putih dengan dua kancing tak terkancing, celana bahan yang benar-benar sangat rapi, sepatu berkilat, rambut yang dibiarkan tak beraturan. Dan yang terpenting dari wajahnya hari ini, dia benar-benar sangat tampan.

Jaekyung berfikir, kalau dibandingkan dengan Seniornya yang bernama Kim Jaejoong, Donghae masih kalah tampan dengan Seniornya. Pikirannya langsung menglanglang buana, jika yang ada disampignnya bukan seorang yang bernama Lee Donghae, melainkan Kim Jaejoong, dirinya pasti akan rela untuk menikah muda seperti ini.

Oh, tidak! Han Jaekyung seharusnya kau harus bersyukur, bahwa wanita yang beruntung dinikahi Lee Donghae selain Park Hyera adalah dirimu. Diluar sana pasti banyak sekali wanita yang saling bunuh untuk menjadi dalam posisinya. Dan sekali lagi Han Jaekyung seharusnya kau bersyukur.

“Aku ingin meminta ijin, membawa Jaekyung untuk makan bersama dengan keluargaku malam ini? Keluargaku ingin sekali bertemu lagi dengan Han Jaekyung,” ucap Donghae hati-hati. Tidak ada respon dari orang tua Jaekyung. Situasi ini benar-benar sangat membuat dirinya begitu kalut.

“Kalau aku boleh saja kau membawa Jaekyung. Asal kau membawa pulang Jaekyung dalam keadaan sangat utuh.” Jaekyung hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Ibunya. Perlahan Jaekyung menatap Ibunya dengan tatapan sedikit tak terima. Lain dengan Donghae, dirinya hanya bisa tersenyum mendengarnya.

“Tentu saja, aku akan menjaganya baik-baik,” ucap jujur Donghae.

Setelah ucapan seperti itu, keadaan sekitar hening. Tak ada yang membuka suara. benar-benar sangat janggung sekali.

“Baiklah, lebih dari jam sepuluh Jaekyung belum sampai dirumah, aku akan mencekikmu sampai mati,” ucap dingin Ayah Jaekyung yang membuat senyuman dibibir Donghae tercipta.

Dalam hati Donghae ia berterima kasih karena sudah diberikan ijin dari kedua orang tua Jaekyung. Donghae bernjak dari duduknya, mengajak Jaekyung untuk mengikuti apa yang dirinya lakukan dan setelah itu ia berpamitan untuk pergi dari rumah Jaekyung.

Setelah sampai didalam mobilnya, Donghae kembali bernapas dengan sangat lega. Ternyata dihadapan ayah Jaekyung itu benar-benar sangat menakutkan sekali. Walaupun tampan tak seram, tapi berbeda lagi jika ayah Jaekyung marah, dan wajahnya benar-benar sangat menyeramkan sekali dan ditambah suara dingin seperti tadi.

“Kau tegang sekali,” ucap Jaekyung beberapa saat yang lalu sangat hening. Donghae menolehkan wajahnya kesamping Jaekyung menatapnya dengan tatapan malasnya.

“Ayahmu itu, benar-benar membuatku sangat takut sekali. Dia benar-benar sangat menyeramkan sekali. Dan sifatmu ternyata turun darinya. Aku tidak heran jadinya.” Ucap Donghae yang langsung mengaduh kesakitan akibat pinggang Donghae dicubit kerasa oleh Jaekyung, “Oh, Han Jaekyung kau menyubitku!” Donghae hanya bisa mengelus-ngelus pinggangnya yang sedikit sakit. Ia berasumsi bahwa pinggangnya pasti akan menampakan warna merah.

“Walaupun ayahku seperti itu, aku tetap menyanginya dan menghormatinya,” ungkap Jaekyung dengan senyum yang mengembang dibibirnya. Donghae yang mendengarnya dengan segera menolhkan kepalanya kearah Jaekyung, dan ikut tersenyum.

Keadaan kembali hening, Donghae fokus dengan mengemudinya dan Jaekyung sibuk dengan menatap pemandangan kota seoul yang gemerlap lewat jendela mobil milik Donghae. Dalam hati Jaekyung, ia sedikit senang bisa pergi malam seperti ini, Jaekyung memang tak pernah pergi malam-malam seperti ini. Karena ia selalu saja dimarahi oleh Ayahnya jika dirinya keluar malam. Tapi apa manfaatnya sih pergi malam-malam seperti ini? Lebih baik ia mendekam didalam kamarnya, membuka Laptopnya, menonton Video atau apalah, itu kegiatan yang sangat menyenangkan dibandingkan keluar malam.

Hembusan napas Jaekyung keluar, benaknya bosan karena tidak ada pembicaraan keluar dari mulut laki-laki disampingnya itu. Diam-diam Jaekyung melirik kearah Donghae yang focus terhadap mengemudinya. Kembali Jaekyung menghembuskannapasnya, ia mengingat kejadian saat ia menaiki mobil Donghae yang di kemudikan oleh Donghae diatas rata-rata. Kalau saja Donghae mengemudi mobilnya seperti saat itu Jaekyung benar-benar akan sangat menyesal nantinya menjadi seoarang istri.

Mobil berhenti, Jaekyung melirik Donghae yang mencabut kunci mobilnya, langsung keluar dari dalam mobilnya. Tersadar akan sesuatu, Jaekyung langsung membuka pintu mobil milik Donghae, agar Donghae tak membukakan pintunya. Ini sudah Jaekyung piker-pikir, bukannya apa, tapi ini benar-benar sangat menggelikan sekali, lagi pula dirinya tak terlalu suka dengan pria seperti itu.

Donghae yang melihat Jaekyung sudah keluar terlebih dahulu, hanya bisa menggerutu kesal. Di lihat-lihat Jaekyung benar-benar berbeda dengan gadis-gadis di kampusnya, jika di perlakukan seperti itu pasti gadis tersebut akan bersorak gembira atau pipinya bersemu. Kalau dipikir-pikir lagi, kegiatan seperti itu seperti seoarang supir saja. Dan Donghae kembali menggerutu kesal dengan pemikirannya.

Matanya menatap Jaekyung yang ada disampingnya, gaun merah marun pemberian dari Ibunya benar-benar sangat cocok dan pas sekali dengan tubuh Jaekyung, rambut yang hanya digerai menambah kesan Jaekyung yang begitu cantik. Bibir merah tipisnya juga begitu menggoda, dan dirinya sadar kenapa tinggi Jaekyung hampir sama dengan dirinya? Apa karena Highheel yang dipakai Jaekyung itu tinggi atau memang Jaekyungnya yang memang tinggi. Dirinya jadi begitu agak malu dengan Jaekyung. Kalau dirinya sudah menikah, Donghae akan menyuruh Jaekyung untuk memakai sepatu biasa atau memakai sandal saja.

Perlahan tangannya menyentuh tangan Jaekyung. Dan langsung tubuh Jaekyung menegang akibat sentuhan dari Donghae tadi. Tangannya digenggam begitu erat dan lembut, membuat pipi Jaekyung sedikit bersemu. Sial, biasanya ia akan bersemu merah jika ada Jaejoong itu ada didepannya, tapi sekarang Donghae hanya menyentuh, menggenggam tangan Jaekyung dengan lembut membuat Jaekyung malu, dan jantungnya berdetak dengan cepat.

Jaekyung menghembuskan napasnya pelan, memandang rumah Donghae yang megah dan begitu terang akibat banyak lampu yang meneranginya. Benar-benar semakin indah dilihat pada malam hari. Apalagi pas dirinya masuk kedalam halaman rumah Donghae, taman indah dengan rumput hijau –walaupun malam, rumputnya masih akan tetap terlihat–saat itu pula Jaekyung langsung menyukai dekorasi rumah yang dimiliki oleh Ayah Donghae.

“Semuanya mungkin sudah menunggu kita halaman belakang,” ucap Donghae membuyarkan fantasi yang berkeliaran didalam otak miliknya kembali memfokuskan dirinya dengan ucapan milik Donghae.

Dan Jaekyung langsung dilanda dengan kegugupan. Pertama kali Jaekyung bertemu dengan kedua orang tua Donghae saja sambutannya seperti waktu itu, apa lagi ini yang kedua kalinya dan ditambah dengan kakak laki-laki Donghae. Jaekyung benar-benar takut sekarang.

Tubuh tegang milik Jaekyung tiba-tiba saja luntur akibat remasan di telapak tangan Jaekyung. Perlahan matanya menuju kearah telapak tangannya, melihat tangannya yang sedari tadi berpagutan dan matanya langsung menuju kearah manik mata milik Donghae yang meneduhkan hati dan tubuhnya yang tegang.

“Tenang, mereka tak akan menerkammu hidup-hidup. Tapi sepertinya mereka akan lebih sangat puas jika kau disiksa terlebih dahulu,” gurau Donghae yang langsung mendapatkan cubitan keras dipinggangnya yang membuat Donghae merintih kesakitan.

Donghae membuka pintu besar didepannya, setelah pintu itu terbuka terpampanglah isi rumah tersebut. Jaekyung yang melihatnya hanya bisa terkagum-kagum melihatnya. Rumah yang sangat indah dan mewah. Rumah idamannya saat dirinya dan sepupunya masih kecil. Tapi kalau dilihat-lihat lagi tumah besar hanya ada dua orang yang menghuninya, sama saja akan sia-sia. Jadi saat ia mulai beranjak dewasa Jaekyung tak pernah berpikir untuk mempunyai rumah idaman seperti itu. Rumah kecil dan nyaman untuk keluarganya itu akan tetap membahagiakannya.

Donghae yang melihat Jaekyung terkagum-kagum terhadap rumahnya hanya bisa tersenyum. Donghae menghembuskan napasnya pelan lalu mengatakan, “kau mau berdiam diri seperti orang tolol ditengah-tengah pintu ini? Ayo cepat masuk!” Jaekyung hanya bisa mendengus kesal dengan Donghae yang tiba-tiba saja menghentikan khayalannya.

Gugup melanda diri Jaekyung. Entah setelah ia dan Donghae masuk kedalam rumah milik orang tua Donghae dirinya gugup. Ia takut kalau ayah Donghae akan berbuat kasar terhadapanya, atau kakaknya yang memandang rendah terhadap dirinya. Tapi siapa perduli, bukankah ini semua yang mengajaknya keluarga Donghae? Kenapa dirinya gugup seperti ini? Ok, tenang Han Jaekyung kau menerima ajakan Donghae–dirinya lupa kalau ajakan Donghae belum di iyakan oleh dirinya–bukan untuk menemui kematian. Tapi hanya untuk menghadiri acara makan malam biasa saja.

Daripada dirinya begitu gugup, lebih baik ia memfokuskan matanya terhadap ruang tengah milik orang tua Donghae. Kembali Jaekyung terpesona oleh ukiran-ukiran diruang tengah tersebut. Melihat sofa yang berwarna merah yang benar-benar membuat dirinya tertarik terhadap sofa tersebut. Ternyata ruang tengah yang ada di rumah milik orang tua Donghae ini benar-benar rumah idamannya.

Biarkan saja dirinya dianggap norak oleh keluarga Donghae, yang penting dirinya bisa melihat bagaimana khayalannya dulu bisa terkabulkan saat ini. Tapi senyumnya hilang saat ia ingat bahwa ini bukan rumahnya, melainkan milik orang tua Donghae. Biarlah, mungkin dilain waktu ia bisa membangun rumah idamannya.

Donghae yang sedari tadi melihat Jaekyung menghentikan langkahnya, langsung mengikuti apa yang dilakukan oleh Jaekyung. Ia menatap Jaekyung yang sedang memandangi rungan rumahnya. Melihat Jaekyung yang berbinar-binar melihat ruangan tengah rumahnya hanya bisa tersenyum tipis saja. Gadis ini begitu terang-terang jika sedang mengagumi sesuatu.

Otaknya langsung berpikir, mungkin ia bisa saja membahagiakan Jaekyung dengan dekorasi yang mirip dirumahnya ini. Yah, ia akan memikirkannya nanti jika dirinya dan Jaekyung sudah terikat, atau besok setelah pulang kuliah Donghae akan kembali kerumah yang baru dipilih oleh dirinya dan Jaekyung siang tadi. Yah, lebih cepat lebih baik bukan?

“Kau menyukainya?” tanya Donghae, dan langsung dijawab tanpa sadar oleh Jaekyung. Donghae yang melihat kespontanan Jaekyung hanya bisa menahan senyumannya saja.

“Rumah ini, rumah idamanku saat aku kecil dulu,” ungkap Jaekyung jujur menjawab pertanyaan Donghae.

“Baiklah, mungkin besok aku bisa menyuruh orang untuk mendekorasi ruangan rumah kita nanti seperti ini. Dan kau tinggal mengucapkan apa saja yang ingin kau isi diruangan tersebut nanti.” Ucap Donghae kalem. Membuat Jaekyung yang mendengarnya hanya berjengit kaget. Apakah laki-laki yang disampingnya ini waras? Atau memang sudah gila?

“Kau terlalu berlebihan, sudahlan cukup seperti itu saja. Bukankah ruangan dirumah kita–ucap Jaekyung reflek–cukup bagus? Aku tidak ingin direpotkan,” Donghae yang mendengarnya hanya bisa tersenyum samar. Ternyata gadis yang ada disampingnya ini benar-benar sangat berbeda sekali dengan gadis-gadis yang telah ia kencani dulu.

“Baiklah, ayo kita ketaman belakang. Sebenarnya acarnya sudah dimulai lima belas menit yang lalu,” Jaekyung menjerit tertahan. Kenapa Donghae hanya menganggapnya sepele seperti itu. Apa dia tidak tahu kalimat ‘Waktu adalah Uang?’ pikir Jaekyung dalam hati.

“Astaga! Sudah mulai? Kenapa kau malah santai seperti ini?” gerutu Jaekyung, Donghae yang mendengar gerutuan Jaekyung hanya bisa tersenyum tipis.

Mereka berdua berjalan kearah taman belakang, dengan berpegangan tangan. Entah Jaekyung tak begitu sadar dengan tangannya digenggam seperti itu. Donghae yang sadar menggenggam tangan Jaekyung senyumannya semakin lebar. Entah kenapa dia begitu senang saat ia menggenggam tangan Jaekyung seperti ini. Rasanya saat menggenggam tangan Jaekyung seperti ada kupu-kupu yang berkepakan didalam perutnya–ugh! Ini terlalu hiperbola sekali, pikir Donghae dalam hatinya.

Tapi ini memang benar sekali, pergelangan tangannya tak terlalu kecil, tak terlalu besar juga, kulit tangannya juga halus, putih mulus. Sangat berbeda sekali dengan mantan kekasihnya dulu. Tapi sepertinya kulit Hyera masih lebih putih lagi. Dan kenapa sekarang dirinya membanding-bandingkan Jaekyung dengan Hyera, otaknya benar-benar sangat menyebalkan.

Jaekyung mendengar suara tertawa yang berasal dari halaman belakang, membuat Jaekyung kembali tegang. Ia benar-benar gugup dengan apa yang akan terjadi nanti. Yang ia khwatirkan ia mungkin saja tak akan diterima oleh ayah dan kakak laki-laki Donghae, seketika ia sadar, bukankah pernikahan ini tak ia harapkan? Tapi walaupun tak ia harapkan juga, ia harus bisa menjaga etikanya bukan? Untuk apa dirinya diurus sampai sebesar ini tapi etika dan sopan santunya buruk?

Sampai dihalaman belakang, Jaekyung melihat beberapa orang yang sudah berkumpul dihalaman tersebut. Kira-kira kalau dihitung ada lima orang dan ditambah dirinya dan Donghae menjadi tujuh orang. Ugh! Bukankah Donghae mengatakan hanya ada kedua orang tuanya dan kakaknya saja? Kenapa sekarang malah bertambah tiga? Jadi dirinya kembali gugup.

“Kau bilang hanya orang tuamu dan kakakmu saja? Kenapa ini malah bertambah tiga?” bisik Jaekyung ditelinga Donghae, masih berjalan menuju kearah orang-orang yang sudah berkumpul.

“Aku tidak tahu, mungkin Eomma dan Appa mengajak paman dan bibi datang kerumah. Atau paman dan bibi yang dating kesini. Aku tidak tahu.”

“Ya sudahlah, itu lebih baik bukan? Ada keluargamu yang tahu tentang hubungan kita yang akan menikah,” ucap Jaekyung malas. Merapihkan rambutnya yang berterbangan karena angin malam.

***

“Eomma, lihat mereka sudah datang. Dan, oh, itu wanita yang akan dinikahkan oleh adikku? Dia benar-benar cantik, apalagi dengan balutan dress berwarna merah marun, dan rambut panjang itu. Dia benar-benar sangat mempesona sekali, pantas saja Donghae ingin cepat-cepat menikah,” Donghwa tersenyum melihat Donghae dan Jaekyung yang berjalan kearahnya. Ibunya yang mendengar coletahan Donghawa hanya bisa tersenyum.

“Yah, waktu itu Donghae membawa Jaekyung–”

“–namanya Jaekyung? Benar-benar indah,”

“–kekamarnya, kau tahu sendirikan adikmu itu tak pernah membawa teman-temannya masuk kedalam kamarnya. Yah, paling tidak hanya Eomma, Appa-mu dank au sendiri. Tapi ini benar-benar membuat Eomma tersenyum, ia membawanya kekamarnya.” Ucapnya sambil tersenyum lebar mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Mengingat kejadian saat itu membuatnya tersenyum senang.

“…dan apa yang mereka lakukan didalam kamar Donghae?” tanya Donghwa yang tiba-tiba semakin tertarik dengan percakapan antar ibunya.

“Jangan berfikiran yang tidak tidak Donghwa-ya, kau ini mesum sekali, makanya cepatlah mencari pasangan! Masa kau kalah dengan adikmu itu.” Tegur Ibunya, Donghwa yang mendengarnya hanya bisa meringis, ibunya melanjutkan, “saat itu Jaekyung sakit, dan yah dia membawanya kerumah dan merawatnya hingga dia kembali pulih, setelah itu Donghae membawa pulang Jaekyung kerumahnya.”

“Jadi Eomma bagaimana?” tanya Donghwa kembali membuka percakapan. Tangannya dengan cekatan membalikan daging yang sedang ia panggang.

Mengerutkan keningnya tak mengerti dengan pertanyaan anaknya, ia menatap mata anaknya untuk memperjelas pertanyaan yang dilontarkan oleh Donghaw, “maksudku, apa Eomma setuju?”

Tergelak pelan, tangannya mengambil daging tersebut dan meletakaanya diatas piring, “Tentu saja aku setuju. Kelihatannya saja Jaekyung itu tidak sopan, tapi dia sopan kok. Dia juga tidak seperti wanita wanita lainnya,”

Donghwa tersenyum samar, “Yah, aku bersyukur kalau Donghae tak menikah dengan Hyera,” ucap Donghwa yang membuat Ibunya kembali mengerutkan keningnya.

“Kau tak menyukai Hyera itu kenapa?” tanyanya pada Donghwa. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Ibunya, Donghwa hanya bisa memasang senyum kecutnya. “Yah, Eomma ingat, Eomma ingat, kau sering bertengkar dengan Hyera saat dulu. Sudahlah lupakan saja, Donghwa-ya itu masa lalu.”

Donghwa tersenyum, “sudahlah, mereka sudah duduk dikursi. Apa dagingnya sudah selesai?”

***

Jaekyung duduk dikursi yang ada dihadapannya. Jaekyung gugup, apalagi saat gadis yang ada dihadapannya menatapnya sedari tadi saat ia berjalan dengan Donghae kesini. Jaekyung memberanikan dirinya untuk membalas tatapan gadis yang ada dihadapannya, kemudian tanpa disengaja pinggir bibirnya tertarik keatas membtuk sebuah senyuman tipis yang membuat gadis yang dihadapannya menatapnya dengan tatapan tak suka.

tsk! Siapa kau?berani sekali menataku seperti itu. Iner Jaekyung berbicara. Ternyata sifat kedatarannya kembali datang. Dan itu lebih baik untuk dirinya dari pada dia yang tadi seperti bukan dirinya sendiri. Tsk! Tsk!

Jaekyung masih menatap gadis yang ada dihadapaanya dengan tatapan datarnya. Dalam tatapan datarnya dia menilai, kelihatan sekali kalau gadis yang ada dihadapaanya tidak suka pada dirinya. Blah, memang dirinya mau disukai, disenangi oleh gadis dihadapanya? Yang benar saja. Pikirannya berbicara lagi. Senyuman smirknya masih terpajang diwajah cantik Jaekyung.

Donghae yang melihat adanya aura tak enak, ia menoleh kearah sampingnya, menatap Jaekyung yang menyunggingkan senyuman yang membuatnya menghela napas. Dia berpikir bukankah tadi Jaekyung mengatakan bahwa dirinya gugup? Terus kenapa dia bisa menyunggingkan senyuman seperti itu? Ugh! Bisa ditebak setan yang ada didiri Jaekyung pasti sudah datang kembali. Lihat saja smirknya itu, benar-benar yang melihatnya akan merasakan kesal seperti sepupunya yang sedari menatap kearah Jaekyung.

“Hilangkan smirkmu itu, bodoh!” Donghae berbisik. Jaekyung menghiraukan bisikan Donghae dan masih memasang smirknya. “Ugh! Kau menyebalkan,”

“Yah, aku memang menyebalkan,” ucap Jaekyung datar. Entah moodnya tiba-tiba saja memburuk. Mungkin karena gadis yang ada didepannya. “Hei, tidakah aku pulang saja?” bisik Jaekyung pada Donghae.

Donghae kembali menoleh kesamping, menatap Jaekyung dengan tatapan sebalnya. Apa yang dikatakannya tadi? Pulang? Yang benar saja, sudah tau ini acara untuk memperkenalkannya pada keluarganya dan wanita disampingnya mengajaknya untuk pulang. Pukul dirinya sekarang karena tingkah Jaekyung yang begitu menyebalkan.

Jaekyung membenarkan posisi duduknya, kakinya tiba-tiba saja sakit, entah karena sepatunya atau ini memang efek seorang hamil muda yang mudah kelelahan. Yang ia rasakan yah, hanya lelah saja. Padahal sedari tadi dirinya hanya duduk di samping Donghae saat ia kesini, dan berjalan kearah taman belakang dan sekarang ia hanya duduk-duduk saja.

Jaekyung beranjak, berniat untuk membantu Ibu dan kakaknya Donghae yang masih saja sibuk memanggang daging yang entah banyaknya seberapa. Tapi belum sampai dirinya berjalan, tangannya sudah dicekal oleh laki-laki disampingnya. Jaekyung menggerutu kesal, niatnya dihentikan oleh Donghae.

“Aku ingin membantu Ibumu dan kakamu, apakah itu tak boleh?” tanya Jaekyung pelan dan sarkatis. Tak terima dengan apa yang dilakukan Donghae tadi dan sekarang.

Donghae memutar kedua bola matanya, “kau hanya perlu berdiam diri duduk yang tenang. Tunggu Appaku datang terlebih dahulu, dan tunggu sampai Eomma dan Hyungku selesai.” Ucap Donghae pelan dengan nada sarkatisnya, mengikuti intonasi Jaekyung.

“Tapi ini benar-benar bodoh sekali, aku, kau dan ketiga orang yang ada dihadapan kita hanya duduk duduk seperti ini saja. Lihat, Eomma dan Hyungmu benar-benar bahagia sekali, dan aku menginginkannya sekali,”

“Oh, Jaekyung¬-a!!! menurutlah dengan ucapanku!” ucap Donghae gusar. Meremas rambutnya pelan untuk menghilangkan pusing yang tiba-tiba melanda kepalanya akibat tingkah Jaekyung yang benar-benar menyebalkan.

Han Jaekyung diam setelah mendengar ucapan Donghae yang begitu gusar ditambah ia melihat Donghae yang meremas rambutnya itu. Dirinya kasihan juga dengan Donghae. Mengalihkan tatapannya dari Donghae, kearah depannya, menadapakan ketiga orang yang ada dihadapannya memandangnya dengan tatapan tanya. Jaekyung yang melihat tatapan seperti itu hanya bisa tersenyum tipis.

Keheningan melanda kelima orang yang ada dimeja tersebut. Gadis yang ada dihadapan Jaekyung masih setia menatapnya, kedua orang tuanya masing-masing sibuk berceloteh ini itu, dan Ibu dan Kakak Donghae masih saja bersenang-senang memanggang daging yang masih saja belum selesai.

“Appa,” ucap Donghae sambil berdiri.

Jaekyung yang sedari tadi melamun, terkaget dengan ucapan Donghae yang mendadak. Melihat Donghae yang berdiri, dirinya mengikuti apa yang dilakukan oleh Donghae, mendongakan wajahnya Jaekyung menatap kearah Ayah Donghae yang berjalan kearahnya. Ayah Donghae tersenyum padanya, Jaekyung langsung membalas senyuman yang dilemparkan oleh ayah Donghae dan membungkuk hormat.

“Tak perlu seformal begitu, kau sudah ku anggap sebagian dari keluargaku. Ayo duduklah kembali, acarnya sudah akan dimulai,” ucap ayah Donghae sambil mengelus puncak kepala Jaekyung dengan lembut yang membuat Jaekyung melongo.

Donghae yang melihat ayahnya berjalan kearah kursinya hanya bisa mendengus kesal. Dirinya seakan tak dianggap oleh ayahnya, padahal tadi yang menyapa dulu itu siapa bukan Jaekyung melainkan dirinya, tapi kenapa malah Jaekyung yang mendapatkan respon dari ayahnya. Tsk! Ini menyebalkan sekali.

“Sudah berkumpul semuanya yah?” ucap suara yang dari belakang. Ibunya dan kakaknya membawa dua piring masing-masing dikedua tangannya yang penuh dengan daging yang baru mereka panggang.

Donghwa menaruh piring yang ada ditanganya keatas meja, menatap sebentar kearah Jaekyung dan tersenyum pada Jaekyung, membuat Jaekyung sedikit salah tingkah. Apa ini Hyung Donghae? Kenapa mereka agak berbeda? Piker Jaekyung dalam hatinya.

Donghae yang melihat Hyungnya masih tersenyum pada Jaekyung langsung saja tangannya menymbar untuk memukul kepala Hyungnya dengan pelan. Donghwa yang mendapatkan pukulan dikepalanya hanya bisa mendengus dengan kesal, adiknya benar-benar keterlaluan sekali.

Jaekyung yang melihat Donghae memukul kepala kakaknya, langsung saja Jaekyung menginjak kaki Donghae dan dapat dipastikan Donghae menjerit pelan akibat injakan yang memang keras. Donghae hanya bisa mendengus kesal dengan kelakuan Jaekyung.

“Tsk! Tidak sopan sekali,” ucap Donghwa sambil menahan senyumnya melihat Donghae yang mendengus. “Hei, adik ipar, kenapa kau malah tertarik pada pria bodoh ini dan kau mau saja menerima lamarannya?” tanya Donghwa bercanda dan sekali lagi Donghae memukul kepala kakaknya.

“Sopanlah sedikit Donghae-ya,” ucap Jaekyung yang melihat kelakuan calon suaminya itu. Donghwa hanya bisa tersenyum melihat tingkah pasangan itu.

“Baiklah semuanya sudah berkumpul mari makan.” Ucap Ibu Donghae.

***

“Nah Jaekyung-ah, bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Ibu Donghae pada Jaekyung. Acara makan sudah selesai beberapa menit yang lalu.

“Kuliahku? Masih berjalan dengan lancar dan sibuk dengan tugas yang akhir-akhir ini semakin banyak dan itu membuat kepalaku berpusing ria,” ucap Jaekyung yang membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa.

“Iya, secepatnya kau cuti kuliah. Kalau tidak bagaimana dengan…” Ibu Donghae menunjuku perut Jaekyung yang membuat Jaekyung langsung menundukan kepalanya.

“Memang ada apa dengan perutnya?” tanya Sepupu Donghae yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan antara Jaekyung dan Ibu Donghae dan memperhatikan isyarat mata Ibu Donghae.

“Perutnya? Tentu saja perutnya baik-baik saja. Memangnya kenapa?” balas Donghae. Sesepunya langsung diam dan hanya mengrucutkan bibirnya.

“Galak sekali kau ini, Donghae Oppa!” Donghae hanya bisa mendengus mendengar ucapan sepupunya.

Sejujurnya, Donghae agak tidak suka dengan kehadiran sepupunya yang mengikuti makan mala mini. Dan kenapa Ibunya mengundang Sepupunya yang menyebalkan dan manja ini. Apalagi saat dirinya dan Jaekyung memsuki halam an ini yang langsung di hadiai pandangan tak bersahabat dari Sepupunya pada Jaekyung.

Tapi mau bagaimana lagi, Ibunya sudah mengajak keluarga sepupunya untuk makan malam, jadi ya sudahlah, itu terserah ibunya juga. Jadi untuk waktu ini hiraukan pertanyaan atau sikap menyebalkan dari sepupunya. Cukup dengan sikap Jaekyung yang menyebalkan itu membuat dirinya kesal dan jangan sampai sepupunya bertambah membuatnya lebih kesal.

“Kau melamun,” ucap Jaekyung sambil mencubit tak terlalu keras di punggung tangan Donghae, membuat Donghae tersadar.

“Aku tak melamun,” kilah Donghae sambil mengambil minuman yang ada di hadapannya. Seluruh mata memandangannya, membuat Donghae yang sedang meminum minumannya tersedak. Jaekyung yang melihat Donghae tersedak langsung mengambil sapu tangan yang hidapannya langsung ia usapkan pada bibir Donghae.

Mereka yang melihat adegan reflek Jaekyung hanya bisa memandangnya dan tersenyum dengan lembut. Orang tua Donghae tak menyangka akan secepat ini mereka akrab. Ibu Donghae sendiri berfikir hubungan Donghae dan Jaekyung tak akan pernah akur tapi apa yang dilihatnya ternyata salah besar, mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Melihat itu, bibirnya tertatik keatas, menapilkan senyuman yang indah.

“Romantisnya,” celetuk Donghwa yang disamping Donghae.

Mendengar ucapan Donghwa, Jaekyung langsung tersadar dan langsung melepaskan usapannya. Wajahnya bersemu merah, ia malu. Benar-benar sangat malu. Lihat saja mata mereka tertuju pada dirinya dan Donghae. Tadi itu benar-benar sangat reflek sekali.

Jaekyung menundukan kepalanya, menggaruk punggung tangannya untuk menghilangkan rasa malu tersebut. Tapi tetap saja ia masih malu akibat tadi. Dengan perlahan ia menoleh kearah samping, memandang Donghae yang sedang menggaruk-garuk kepalanya yang ia yakini tak gatal, dan dirinya hampir menyemburkan tawanya saat melihat wajah Donghae yang sedikit memerah karena malu. Ternyata wajah Lee Donghae manis juga saat sedang bersemu merah seperti itu.

“Sudahlah, jangan menggoda mereka berdua. Maka dari itu ceptlah Donghwa-ya kau menikah agar kau bisa merasakan bara cinta seperti mereka,” ejek Ibu Donghae yang membuat Donghwa yang semula senyum kini merengut kesal karena ucapan Ibunya.

“Tenang saja, Shin Min Ah masih setia menungguku,” balas Donghwa yang membuat Ibunya tertawa.

“Shin Min Ah, kau ini. Eomma sering melihat berita tentang Shin Min Ah yang sudah mempunyai kekasih. Kasihan sekali nasibmu ini,” Donghwa semakin merengut kesal.

“Tenanglah, masih banyak sekali wanita korea yang menunggu pangeran—”

“—pangeran—”

“—yang tampan ini. Jangan mentertawakanku Lee Donghae,”

“Ucapanmu itu Hyung yang membuatku tertawa,”

“Sudah jangan ribut. Jadi kapan kau akan menggelarkan upacara menikahnya Donghae-ya?” tanya Ibunya, mengalihkan topik pembicaraan, Donghae yang masih tertawa-tawa langsung terdiam.

“Entahlah, mungkin satu minggu lagi?” tanya Donghae ragu.

“Dua minggu lagi saja, aku masih banyak sekali tugas. Dan aku merasa kasihan dengan Gikwang yang mengerjakannya sendirian sementara aku enak cuti tanpa mengerjakan bersamannya. Tapi bisa saja dia menghapus namaku, tapi dia yang tidak mau, karena kalau namaku di hapus di daftar kelompok, aku tidak akan mendapatkan nilai. Jadi aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu.” Ucap Jaekyung panjang lebar. Donghae yang mendengar nama Gikwang disebut-sebut oleh calon istrinya hanya bisa mendengus sekali.

“Gikwang?” tanya Ibu Donghae dengan pandangan menyelidik.

“Gikwang. Sahabat kecilku sampai sekarang.” Jelas Jaekyung pada Ibu Donghae yang memandangannya dengan pandangan menuntut Jaekyung untuk menjelaskan.

“Hanya sahabat. Baiklah, dua minggu lagi. Oh, Donghae-ya, bersabarlah. Hanya dua minggu bukan dua tahun. Eomma tahu kau tak sabar untuk meminang Jaekyung.” Ucap Ibunya yang melihat Donghae sedari tadi merengut sebal.

“Aku tak menyangka kau akan cepat menikah Donghae-ya,” ucap Bibinya yang sedari tadi diam dan hanya mendengarkan percakapan mereka. Donghae tersenyum mendengar ucapan bibinya.

“Sepertinya kami harus pulang. Ini sudah malam, dan In Jung harus segera tidur. Kalau dia tidur terlalu malam, dia pasti akan kesiangan,” kini Pamannya yang angkat bicara.

“Oh, kenapa buru-buru sekali? Ini masih jam Sembilan malam.”

“Agar In Jung tak kesiangan, dan Han Jaekyung kau benar-benar cantik, kau memang cocok berdampingan dengan Donghae. Selamat atas pernikahanmu nanti. Ah, sepertinya terlalu cepat sekali bukan? Dua minggu lagi. Dan dua minggu itu kau harus memakai gaun yang super indah dan indah, jangan mengecewakan kami.” Ucapnya Bibi Donghae sambil tersenyum pada dirinya. Jaekyung membalas senyumnya dan menganggukan kepalanya, “kalau begitu kami pulang.” Ucapnya lalu beranjak dari dudukknya

“Baiklah aku tidak memaksa.” Ucap Ibu Donghae yang ikut beranjak, mengikuti saudaranya berjalan.

Jaekyung melihat Ibu Donghae berjalan serta Paman dan Bibi Donghae yang telah menghilang di pintu masuk halaman ini. Dengan perlahan ia menghembuskan napasnya, ia merasa sangat bersalah sekali dengan keluarga Donghae dan keluarganya yang berbohong akan penikahannya ini. Kalau boleh ingin sekali menenggelamkan diri kedalam lautan agar ia tak tersiksa batin seperti ini.

Semua ini gara-gara laki-laki disampingnya, kalau dia tak mabuk dan dirinya tak cium paksa oleh dia, dan kalau dirinya tak hadir dalam pesta tersebut ia pastikan tak akan pernah mengalami kejadian seperti ini. Satu kata yang mewakili perasaannya. Yaitu, menyesal.

“Kau kenapa?” tanya Donghae yang melihat tampang Jaekyung yang terlihat murung.

“Aku tak apa-apa,” ucapnya tak jujur.

“Kelihatan bohong sekali,” dengus Donghae sambil memutar bola matanya bosan.

“Terserah kau saja deh,” ucap Jaekyung bosan.

“Hei, kalian kenapa malah bertengakar?” lerai Donghwa yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran kecil antara Jaekyung dan Donghae. “Ck! Hormon-hormon orang jatuh cinta memang seperti itu,” ucapnya lebih pelan.

***

“Jaekyung-ah!” teriak Gikwang dari arah koridor yang melihat Jaekyung yang sedang membaca buku di taman kampus. Gikwang hanya bisa menghembuskan napasnya pelan, lelah sedari tadi ia mencari-cari Jaekyung dimana-mana dan ternyata Jaekyung sedang duduk tenang di bangku taman kampusnya dengan buku tebal yang sedang ia baca.

Dengan langkah yang tak bisa di bilang pelan Gikwang menghampiri Jaekyung yang masih diam saja. Dan sial, tadi-tadi dia tak usah berteriak, karena objek yang ia teriyaki sedang memakai headset di telinganya, membuat Gikwang malu saja. Ah, lupakan, lagi pula dirinya sering memalu-malukan dirinya sendiri jadi kenapa harus malu?

Gikwang duduk disamping Jaekyung yang tak menyadari akan kehadirannya. Gikwang merendahkan kepalanya membaca judul buku yang sedang di baca oleh Jaekyung dan langsung mengerutkan keningnya merasa aneh dengan buku yang dibaca Jaekyung. “Panduan Merawat kehamilan? Kau membaca itu?” tanya Gikwang sambil melepaskan headset yang sedari tadi terpasang di telinga Jaekyung.

“Oh, kau Gikwang-ah! Sejak kapan kau disini?” tanya Jaekyung.

“Kau membaca buku itu Jaekyung-ah?”

“Buku apa—”

“—kau pindah jurusan?”

“—aku hanya ingin belajar saja,” ucap Jaekyung pelan. Ia langsung memasukan bukunya kedalam tasnya. Memandang Gikwang dengan pandangan bertanya, “ada apa?”

“Ada apa? Tentu saja aku ada perlu dengamu. Ini tentang tugas kita yang makin lama semakin tak manusiawi,” Gikwang serius, Jaekyung hanya bisa memutar bola matanya bosan. Gikwang benar, tugas yang di berikan oleh dosennya bagaikan tsunami yang melanda mereka—maksudnya semua mahasiswa yang ada di fakultasny—tugasnya benar-benar sangat menyiksa sekali.

“Ayo kita kerjakan, sudah lima hari bukan kita tak bertemu dan tak mengerjakan tugas kelompok kita bersama. Aku jadi rindu. Dan setelah tugas-tugas-tak-manusiawai itu selesai aku akan cuti kuliah,” Jaekyung beranjak dari duduknya. Gikwang yang sedari tadi mendengarkan ucapan Jaekyung hanya bisa melongo. Ini berlebihan, ini sudah kedua kalinya Jaekyung berkata bahwa dirinya akan cuti, jadi ucpan itu benar-benar serius. Gikwang selalu berasumsi bahwa ucapan Jaekyung tak seris seperti ini.

“Kau yakin akan cuti kuliah?” tanya Gikwang berjalan beriringan dengan Jaekyung.

“Tentu saja aku serius. Mungkin nanti akan menjadi kejutan untukmu,” jawab Jaekyung misterius yang membuat Gikwang mengerutkan keningnya.

“Apa ada kejutan nantinya?” tanya Gikwang penasara. Jaekyung hanya bisa menghela napasnya pelan.

“Nanti saja aku akan memberikanmu sesuatu, mungkin setelah tugas kita selesai. Satu minggu lagi aku cuti. Aku—maksudku—kami akan mengerjakannya dengan cepat. Jangan jadi pemalas Gikwang-ah, kau tak mau kan di jambak oleh kekasihmu yang galak itu?” ucap Jaekyung sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin.

Matanya tak sengaja melihat wajah laki-laki yang mengisi otaknya beberapa hari ini. Laki-laki itu tersenyum. Manis, senyumannya itu sangat manis dan itu membuatnya sangat tampan apalagi di tambah cahaya matahari yang menyinari wajahnya dari celah-celah dedaunan. Kapan laki-laki itu tak setampan yang ia lihat? Benar-benar membuat dirinya gila.

“Aku tahu, kau menyukai Donghae Sunbae. Tapi ayo cepat apa yang kau bilang tadi; mengerjakan tugas kelompok dengan cepat agar selesai,” ucap Gikwang di telinga Jaekyung yang membuat Jaekyung terlonjak kaget.

Sial, ini sial karena laki-laki tampan itu.

***

“Aku lelah,” Jaekyung mendesah pelan, menundukan pantatnya di rerumputan taman kampusnya. Ia menghirup udara sebanyak-banyakknya, menghirup udara yang segar yang membuat keletihannya hilang. Ia menatap Gikwang yang masih saja meneguk air meniralnya.

“Kita pulang?” tanya Gikwang sambil menutup botol air mineralnya.

“Satu jam lagi mungkin sudah selesai. Kalian mau mengerjakan lagi? Ini sedikit lagi,” Jaekyung menunjukan beberapa bahan-bahan serta kertas yang berserakan disampingnya.

“Err—mungkin nanti saja, aku sudah lelah,” Hyo Bin-teman se-fakultas Jaekyung dan Gikwang. Jaekyung menghembuskan napasnya pelan. Ia melihat kearah pergelangan tangannya, ternyata sudah jam empat sore.

“Ya Sudah kalau begitu mungkin bisa kita lanjut besok saja. Hari ini sudah lebih dari cukup.” Ucap Jaekyung sambil tersenyum.

“Mau pulang bersama?” tanya Gikwang. Sambil membereskan berkas-berkasnya yang berantakan di hadapannya.

“Sepertinya tidak. Aku naik Bus saja dan jalan kaki. Itu menyenangkan. Kau juga harus mengantarkan Hye Ji bukan?”

“Iya, aku sudah berjanji dengan Hye Ji. Tapi kita juga sahabatmu juga kan?”

“Kami pulang dulu,” ucap teman-teman sekelompok Jaekyung sambil melambaikan tangannya. Jaekyung dan Gikwang membalas lambaian tangannya.

“Aku tahu sudah satu minggu ini kau dan Hye Ji tak pernah bertemu atau kencan. Jadi aku tak mau membuat kegiatan kebahagian kalian berdua rusak karena aku. Jadi, cepatlah jemput Hye Ji di fakultasnya.” Usir Jaekyung pada Gikwnag yang masih saja membereskan barang-barangnya.

“Ya sudahlah. Mungkin kau juga akan pulang dengan Donghae Sunbae. Dan ngomong-ngomong Donghae Sunbae ada di belakangmu.” Gikwang tersenyum sambil mengedipkan matanya kearah Jaekyung

Jaekyung langsung menoleh kebelakang. Mendapatkan Donghae yang sedang memandang dirinya dan Gikwang. Setelah itu Jaekyung langsung menolehkan kembali kearah Gikwang. Menghembuskan napasanya pelan, setelah itu ia kembali membereskan barang-barangnya lagi.

“Kalau begitu, aku pergi dulu Jaekyung-ah. Mungkin Hye Ji sudah menungguku di depan gerbang. Kau tahu sendiri bagaimana sikapnya itu kalau aku atau kau terlambat. Dia pasti akan marah-marah tak jelas. Sampai jumpa besok Jaekyung-ah, Donghae Sunbae.” Gikwang pamit. Melambaikan tangannya pada Jaekyung yang masih saja sibuk dengan barang-barangnya.

“Sibuk sekali,” Jaekyung memutar bola matanya pelan. Sudah tahu kalau dirinya sibuk memeberskan barang-barangnya kenapa malah berdiam diri layaknya patung yang harus di hancurkan?

“Yah, aku memang sibuk,” Jaekyung mengenakan tasnya kepunggungnya. Menegakan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Donghae yang sedang tersenyum melihat tingkah laku Jaekyung.

Donghae berjalan, mengikuti Jaekyung dari belakang. Kalau di ingat ini terhitung bahwa dirinya dan Jaekyung tak bertemu selama tiga hari. Dan ia ingat bahwa pernikannya dengan Jaekyung tak lama lagi. Satu minggu setengah lagi.

Donghae mempercepat jalannya. Mensejajarkan langkahnya dengan Jaekyung yang sudah kelihatan lelah. Dengan sigap Donghae menggapit lengan Jaekyung membawanya kearah mobilnya.

Jaekyung yang mendapatkan perilaku tersebut langsung terkesiap kaget, dan dirinya reflek mengumpat dengan segala tindakan Donghae yang tak senonoh seperti ini.

“Oh. Tak sopan sekali,” Jaekyung mendengus. Tetap mengikuti langkah Donghae yang seperti di kejar-kejar oleh setan.

“Masuk,” suruh Donghae pada Jaekyung yang masih terbengong-bengong menatap pintu mobil Donghae yang sudah terbuka.

“Hari ini aku berniat ingin naik Bus dan setelah itu berjalan kaki.” Donghae mendengus mendengar ucapan Jaekyung.

“Jalan kaki? Aku tahu kau sudah lelah Jaekyung-ah,” Donghae masuk kedalam mobilnya, mencari botol air mineral. Setelah ketemu ia membuka penutup botol tersebut dan langsung memberikan pada Jaekyung.

“Apa ini?” tanya Jaekyung yang membuat Donghae langsung memutar bola matanya.

“Mengarjakan tugas seperti itu membuatmu menjadi bodoh? Ini air mineral tentu untuk kau minum, bukan untuk kau siramkan pada wajahmu itu,”

“Kau ini kenapa malah cerewet. Seperti nenek-nenek saja. Nenek-nenek pun tak secerewet seperti dirimu, Donghae-ah,” Jaekyung langsung mengambil botol yang ada ditangan Donghae dan langsung ia minum. “Baiklah, aku lelah. Dan Donghae Sunbae kau berniat untuk mengantarkanku?”

****

“Aku tak mau memakai gaun yang seperti ini. Lihatlah, ini terlalu mewah untuk badanku. Dan ini terlalu panjang dan terbuka.”

Jaekyung merengut kesal. Mendenguskan napasnya setiap ia berbicara. Ia kesal sudah lebih dari tiga jam yang lalu ia ada di toko gaun seperti ini. Sebenarnya ia di paksa oleh Donghae untuk ketempat seperti ini.

Saat itu ia sedang mengerjakan tugasnya kembali dengan teman-temannya, dan tiba-tiba saja Donghae datang meminta ijin pada teman-temannya untuk membawanya pergi. Teman-temannya yang terlalu takut dengan seorang Sunbae, mengiyakan saja ucapan Donghae. Jaekyung hanya bisa mendengus kesal mengingat empat jam yang lalu itu.

“Tidakkah kau lelah?” tanya Donghae yang sedang duduk dengan tuksedo yang sudah ia pakai.

“Kau bisa lihat dari raut wajahku kan? Aku juga sudah lelah. Tapi tak ada yang cocok denganku.” Jaekyung melangkah mendekat kearah Donghae yang menyenderkan tubuhnya pada punggung sofa.

“Kau bisa mencarinya lagi.” Donghae berucap pelan.

“Aku sudah menemukannya. Tapi kau tak menyukainya,” Jaekyung merengut kesal.

“Oh ya? Gaun itu? Ya ya itu terlalu rendah di bagian dada. Aku tak menyukainya.”

“Kau ini egois sekali untu ukuran seorang laki-laki,”

“Jadi bagaimana?” tanya Donghae mengacuhkan ucapan Jaekyung.

“Aku bingung. Kau tahu itu Donghae-ah.”

“Baiklah, mungkin tak ada pilihan lain. Ambil saja gaun itu.” Ujar Donghae malas. Ia langsung beranjak dari duduknya, melangkah kearah ruangan untuk mengganti pakaian semula saat ia masuk ke toko gaun ini.

Jaekyung yang melihat Donghae berjalan meninggalkannya dengan wajah kecewa ia langsung ikut menegakan tubuhnya, melangkah kearah Donghae. “Baiklah, aku mengambil gaun ini. Aku tahu kau menyukainya. Aku akan mengalah untuk hal seperti ini,” Donghae menghentikan langkahnya. Wajanya melukiskan sebuah senyuman. Akhirnya, Jaekyung menyerah juga.

“Ck! Sayang, kau yang keras kepala sekali hari ini. Cepat sana masuk keruang ganti. Kita ambil ini, setelah itu ayo kita cari cincin.” Jaekyung hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Laki-laki ini jadi tadi ia hanya membohonginya saja.

***

“Untuk ukuran cincin, aku tak ingin terlalu berlebihan, mewah atau apalah. Aku ini tak suka dengan barang-barang yang mewah.” Ucap Jaekyung sambil meminum iar mineral yang di berikan oleh Donghae.

“Tenang saja,” Donghae berucap sambil tersenyum, setelah itu ia menstater mobilnya.

“Dan lagi, aku tak ingin cincin itu nanti harganya mencapai langit tujuh yang mungkin akan membuatku jantungan. Aku tahu kau orang kaya, dan aku tak menyukai orang yang menghambur-hamburkan uang itu.”

“Geez, kau ini cerewet sekali,”

“Kau merasa lapar?” tanya Jaekyung pada Donghae. Ia memegang perutnya.

“Tidak. Aku sudah makan. Kau lapar?” tanya balik Donghae pada Jaekyung.

“Tidak juga,” kilah Jaekyung.

“Lalu, kenapa kau malah memegang perutmu?” tanya Donghae curiga.

“Aku hanya ingin ke kamar mandi saja.”

“Oh, Jaekyung-ah, tahanlah. Sebentar lagi kita sampai di Tiffany.”

***

“Aku kan sudah bilang, bahwa aku tak menyukai cincin yang mewah! Kenapa kau malah memilih yang mewah seperti ini? Aku tak menyukainya Lee Donghae!” Jaekyung kesal. Melemparkan kotak yang berisi cincin tersebut kearah Donghae.

Donghae sendiri hanya bisa menatapnya dengan pandangan malasnya. Cincinnya itu, apanya yang di bilang mewah? Kalau kalian lihat mungkin kalian juga akan menatap calon istrinya itu dengan tatapan malas.

Ok. Mari gambarkan bagaimana bentuk cincin tersebut. Cincin perak, dengan ukiran nama pasangan masing-masing yang membuat Jaekyung terus saja menggrutu tak sabar untuk segera pulang, mempunyai mata satu. Sudah itu saja. Jadi apakah cincin seperti itu terbilang mewah?

“Memang kau menginginkan bentuk cincin yang seperi apa? Polos? Sudah seperti itu saja?” Donghae memasukan kotak cincin tersebut kedalam kantung celananya, setelah itu ia langsung masuk kedalam mobilnya. Mengacuhkan Jaekyung yang masih saja menggrutu tak karuan.

“Aku menginginkan yang biasa-biasa saja. Dan yang membuatku menggerutu seperti ini ya ampun, harganya itu Donghae-ah. Itu terlalu mahal. Bukan kah aku sudah bilang aku tak mau kau membeli benda apapun dengan harga selangit.” Donghae menolehkan wajahnya kearah Jaekyung. Jadi yang jadi permasalahnnya itu hanya sebuah harga?

“Jadi hanya sebuah harga?” tanya Donghae. Jaekyung mengangguk pelan.

“Yah, hanya karena harga.” Jawab Jaekyung pelan.

“Aku bisa mendapatkan uang itu lagi, Jaekyung-ah. Tenang saja, sebentar lagi, kau tahu aku akan lulus dan aku pasti mendapatkan tempat dimana Appaku dudu—”

“—bukan, kau tak akan mengerti. Kau tahu aku dari kecil di ajarkan untuk hidup hemat. Untuk tak menghambur-hamburkan uang dengan sembarangan. Kau pasti mengerti dengan ucapanku tadi. Kalau orang terdekatku atau apa, dia mengluarkan uangnnya sebanyak mungkin aku akan selalu menggerutu tak jelas. Aku tahu itu uangmu sendiri, bukan milikku jadi kau atau kalian tentu saja berhak untuk mengluarkan uang sebanyak apapun, yang membuat kalian puas. Tapi ingatlah, kau akan menjadi calon suamiku dan aku pasti tak akan selalu menggerutu tak jelas seperti ini.”

Donghae menatap Jaekyung dari samping. Dia tersenyum. Ternyata tak ada ruginya juga telah menghamili—tak segaja—seorang Han Jaekyung. Walaupun menyebalkan, ternyata ia berbeda dengan wanita lainnya yang pasti akan memanfaatkan kekayaannya.

Yah, Han Jaekyung memang berbeda dari yang lainnya.

Tangannya terulur kearah Jaekyung. Mengelus kening Jaekyung yang berkeringat. Mata Jaekyung tertutup, hembusan napasnya pelan dan tenang. Dan Donghae baru menyadari bahwa Jaekyung tertidur.

Donghae semakin takjub dengan wanita disampingnya. Bagaimana bisa ada seorang yang tadi beragumentasi dengannya, berbicara panjang lebar mengenai harga cincin ini dan sekarang terlelap, tertidur didalam mobilnya.

Tangannya semakin senang bisa menyentuh kulit Jaekyung. Awal dari kening kini kearah rambut berwarna kemerahannya. Donghae mengesampingkan tubuhnya, mendekatkan tubuhnya lalu ia menghirup perlahan wangi rambutnya setelah itu ia mengecup puncak kepalanya, kening, hidung dan terakhir bibir merah milik Jaekyung.

Awal hanya sebuah kecupan. Ia melepaskannya. Tak puas ia mendekatkan lagi kearah Jaekyung dan mencium bibir Jaekyung yang bukan hanya sekedar mengecup bibirnya. Kini ia melakukan lebih. Bibirnya terasa manis.

Setelah puas ia mencium bibir ranum milik Jaekyung, Donghae langsung menjalankan mobilnya. Pulang kerumah orang tuanya dan menidurkan Jaekyung di tempat yang lebih nyaman.

—TO BE CONTINUED—

Keknya aku merasa bersalah karena keterlambatan untuk publish yang satu bulan ini. Ok, satu bulan ini aku sibuk dengan UKK, PRAKTEK n studytour sekolah. Dan masih banya sekali masalah yang aku lalui sampai2 yah menelantarkan cerita ini. Taulah kalau mood ngga bagus pasti buat cerita juga ngga bakalan lancer. Paling Cuma natap nih layar laptop terus abis itu close aja. Jadi semoga puas deh sama part ini. Aku jadi bingung sendiri. Narasi, dialog. Aku makin hari makin jelek untuk menulis dan mencari ide.
Keep Writing.

Salam, Silvi
Indramayu, 20 Juni 2013
21:33

30 thoughts on “If This Was a Movie [Part 7]

  1. Akhirnyaaaaaaa, muncul juga ni part. Baca dulu ah..
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  2. Makin romantis ajj nih mereka. DongHae sudah mulai curi-curi ciuman. Kekekeke….

    Oh iya, siapa tuh sepupunya Dong Hae yang kayaknya ga suka ma Jaekyung? Jangan-jangan dia suka ma Hae, lagi!

    Btw, part ini banyak banget typo-nya, chingu. Dan penggunaan tanda bacanya juga diperhatikan lagi, yaCh.

    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  3. akhirny publish juga

    g sabar ma married life mereka

    y benih2 cinta udah tmbuh d hati mereka
    ntar pst tmn2 je kaget lw dy hamil trs nikah ma hae

  4. di post jg nih ff😀
    ceritanya bagus sih.cm aq kurang puas
    thor.scene romantisnya di part ini sdkit,hehe
    tpi aq suka scene jaekyung marah2 krna beli cincin kemahalan xD
    kkk~
    well,di tggu next part dgn ide yg lbh menarik lg ya ^^

  5. huaaaa cukup lama publish nya thor but it’s ok hasilnya gak ngecewain ko,ditunggu utk next partnya thor semoga part yg selanjutnya donghae udh married ya sama jaekyung😉

  6. akhirnya rilis juga next partnya , dari kemaren2 nunggu part selanjutnya tp gk muncul2 ., pngn cepet2 lht mreka udah nikah.

  7. sumpah kereeennn bgt…
    sng bgt bsa lyt klwrgax haeppa bsa nerima jaekyung dgn sngt baik.
    jaekyung emnk bda dri yeoja” lain.
    dy istimewa dch.
    gk sbar pgn cpt dy nikh trz lhirn aegy nya.

  8. ini donghwa ma bibi, paman sama sepupu donghae gk ada yg tw ya klw si jaekyung lg hamil ceritanya neh…

    yah tu si ikan mokpo sempat2nya nyuri ciuman… wkt jaekyung tidur…. si jaekyung lelap amat tidurnya mpe gk ngerasa gtu… wkwkwkwk

    mg part berikutnya mrk udah merried…🙂
    lanjut thor…😉

  9. Ciiieee:) ciieeee;) ciiieeee <3<3
    Donghae °ϋ∂αђ° mulai curi2 ciuman nih ke jaekyung
    Thor rommantic scene Πγª krng banyak
    Ditunggu next part nya

  10. Ciiieee:) ciieeee;) ciiieeee <3<3
    Donghae °ϋ∂αђ° mulai curi2 ciuman nih ke jaekyung
    ƍäª °♧S̤̥̈̊âϐâɑ̤̥̈̊α̣̣̥α̍̍̊α̇̇̇̊Ř♧° pengen lht jaekyung sm donghae nikah †ŘŮΰΰźŽ donghae menyaksikkan jaekyung mlhrkan anaknya
    Thor rommantic scene Πγª krng banyak
    Ditunggu next part nya

  11. Akhirnya publish juga setelah sebulan menanti…
    Ceritanya tambah seruuu…ga sabarr nunggu part berikutnya…

    Ditunggu part berikutnya,,jangan lama2 yah hehehe

  12. akhirnya muncul jg ni ff,,
    seneng deh soalnya d part ini lbih bnyak dialognya,,
    klo bsa kyk gni aja ya thor, yg ada bnyak dialognya,,
    oke next part cepet ya thor^^

  13. waahhhhh… Jaekyung emg daebak bgt🙂 Donghae oppa aj bersyukur bgt m’dpatkan Jaekyung😉 . Udah gak sbar bgt pengen mrka nikah😀 .
    Smga di next part y mrka nikah🙂 . Lanjuttt thoorrr

  14. akhrnya publish juga…..
    eon….kpn mrka married???? wah hae dah berani nyium2 n pegangan tngan tuch
    next partnya jgn lama2 ya eon

  15. akhirny publish juga
    makin seru nih kayany jaekyung mulai suka sama donghae dan donghae nya juga makin lama makin suka sm jaekyung semoga hubungan mereka lancar2 aja

  16. ceritanya seru~
    eh? annyeong… new comer has come ^^. lgsg baca part 7.
    salam kenal… numpang ubek2 lagi y ff nya ^^

  17. Bagus ko thor,semakin gregetan sm HaeKyung couple…ckckck passngan ini slalu meributkan hal2 kecil,kapan mereka bisa akur ya???
    Penasaran sm lanjutannya,kira2 apa yg terjadi ya setelah mereka menikah???huhuhu kepo akut
    ttp di lanjut ya thor…Hwaiting

  18. jaekyung bener” berbeda dg cwek lain.. smkin suka karakter jae..

    donghae kecanduan bibir jaekyung nih.. ternyata hae cmburu ama gikkwang pdhal jlas” dia dah puny pacar..

    oh ya trnyta hwa gk tau y klo jae dah hamil..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s