Married With My Enemy [ONESHOOT]

Author : VYEJUNGMIN~

¬-Jaekyung’s POV-

Aku memasuki club malam, sebelumnya aku tidak pernah masuk ketempat seperti ini, tapi hari ini aku benar-benar nekat memasuki tempat seperti ini.

Ini semua gara-gara appa, kalau appa tidak memaksaku untuk segera menikah aku mungkin tidak akan pernah masuk ke tempat seperti ini.

Aku gila memikirkan pernikahan ini, aku tidak tahu siapa laki-laki yang akan menikah denganku nanti. Apa dia baik, sopan? Tau yang lainnya.

Aku menentang keras keinginan appa, apa dia pikir aku tidak bisa memilih pendampingku sendiri? Dan hei, ini sudah jaman modern, bukan jaman dulu yang masih dengan adanya perjodohan.

Tapi sepertinya ini beda lagi, appaku seorang pengusaha sukses. Dan perjodohan itu pasti ada di setiap orang yang seperti appa, seorang pengusaha sukses.

Aku menyesal, kenapa kau lahir di keluarga seperti ini. Aku benar-benar tertekan sekarang.

Aku butuh hiburan malam ini, aku tidak akan pulang lagi kerumahku, aku benar-benar sudah gila.

***
-AUTHOR’S POV-

“Boleh aku pesan satu gelas lagi?” Tanya gadis itu ke salah satu bartender di club malam itu. Gadis itu sedikit menegakan badanya, dan itu membuat bartender cukup kaget.

“Anda sudah meminum tujuh gelas Noona, dan sekarang anda menanbah lagi?” Bartender itu memastikan apakah itu gadis yang ia kenal atau bukan dan benar dia mengenal gadis itu. Setelah memastikan itu benar tiba-tiba saja jantung Bartender itu berdegup sangat kencang. Apa bartender itu menyukai gadis itu? Bukan karena dia menyukainya, dia kaget bahwa Gadis ini tidak pernah datang ke tempat-tempat seperti ini, dia hafal betul kalau gadis ini anti sekali dengan tempat seperti ini, dia hafal bukan berarti dia Namjachingunya melainkan dia musuh bebuyutan.

‘Sedang apa dia di sini’ bartender itu bergumam sendiri melihat Gadis yang sudah mabuk berat ini? ‘bukankah Jaekyung tidak suka minum Alkohol? Dan kenapa dia bisa terdampar di klub malam?’

“Kau itu cerewet sekali, tenanglah aku mempunyai banyak uang.” Gadis itu tiba-tiba saja bangun dan memperlihatkan dompetnya. “Kau tidak tahu aku ini siapa?” Tanya gadis itu.

“Tentu, kau Han Jaekyung musuh bebuyutanku. Sebaiknya aku mengantarkanmu pulang dari pada kau di sini saja dan nanti kau pingsan.” Jawab Bertender itu. “Tapi sebaiknya aku izin terlebih dahulu kebosku.”

Selama bartender itu pergi, Jaekyung terus saja memutar-mutar gelas yang ia pegang.

“Hah! Aku benci perjodohan.” Jaekyung tertawa mengingat kejadian sore tadi.

Bartender itu datang, dan langsung membawa Jaekyung keluar dari Club malam itu.

“Aku benar-benar kasian terhadapmu Noona Han.”

“Eo? Kau kasihan terhadapku? Hei kau siapa? Dan kau berani sekali memegang pinggangku itu tidak sopan bodoh.” Jaekyung terus saja mengoceh, tapi bartender itu tidak menghiraukan ocehan Jaekyung, karena Jaekyung sudah mabuk jadi dia tidak menghiraukanya.

Bartender tadi mencari taxi untuk menuju apartemenya. Tidak cukup lama, taxi yang ia tunggu datang dengan cepat.

Selama perjalanan menuju kontrakan rumahnya. Bartender itu terus saja memandangi wajah Jaekyung. Wajah jaekyung begitu cantik, mulus, bibirnya merah merkah, bulu mata yang lentik, matanya bulat besarnya. ‘Hah! Apa yang kau pikirkan Lee Donghae? Ingat dia musuh bebuyutanmu sejak melakukan ospek tahun kemarin’ gumam bertender tersebut. Yah bartender itu bernama Lee Donghae, Donghae mengenal Jaekyung karena Jaekyung salah satu Hoobae dikampus dan dia musuh bebuyutan Hoobaenya itu.

“Ah… Appa aku tidak mau menikah.” Racau Jaekyung dalam pelukan Donghae dan itu sontak membuat Donghae kaget.

‘Apa? Jaekyung menikah? Apa aku salah dengar.’ Pikir Donghae.

Dan setelah racauan tadi Donghae mendengar Suara isakan dalam pelukanya, dan isakan itu membuat Donghae Tersentak kaget untuk kedua kalinya. Donghae semakin memper erat pelukanya di Jaekyung, berharap isakan tersebut bisa berhenti. Dan benar isakan tersebut berhenti, donghae melonggarkan pelukanya untuk melihat Jaekyung, yang ternyata Jaekyung sendiri telah tertidur dalam pelukanya. Akhirnya Donghae bernafas dengan lega. ‘hah? Lega? Kenapa aku jadi seperti ini?’ fikirnya dalam hatinya sendiri

Selama setengah jam perjalanan akhirnya Donghae sampai di Apartemenya. Apartemen yang tidak mewah tapi cukup nyaman untuk menjadi tempat tinggal. Dengan telaten Donghae menggendong tubuh Jaekyung, dan dia pelan-palan saat dia berjalan agar Jaekyung tidak terbangun olehnya.

Setelah sampai di depan pintu apartemenya dia segera memencet tombol sandi, dan Ting pintu tersebut terbuka, donghae melepas sepatunya dengan sandal rumah dan segera merebahkan tubuh Jaekyung di kamarnya. Setelah dia membaringkan tubuh Jaekyung dia segera menyelimuti tubuh Jaekyung dan segera keluar dari kamarnya.

Donghae yang sudah keluar dari kamarnya segera menuju dapur untuk mengambil minum, karena kelelahan menggendong tubuh Jaekyung, dia kaget ternyata badan Jaekyung yang tinggi semampai dan terlihat kurus ternyata masih ada bebanya. Dia kira tubuh Jaekyung ringan.

Setelah meneguk seperempat air botol yang ia ambil dari kulkas ia taruh kembali, dan dia berjalan menuju ruang tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dia hari ini bekerja seharian karena ini hari minggu dan hari minggu jadwal kerja donghae yang sangat padat dari mulai pagi dia bekerja di Café yang pasti hari minggu café tersebut sangat ramai dan membuat donghae susah untuk mengistirahatkan tubuhnya, dan sampai jam Sembilan dia pun harus bekerja sebagai Bartender di sebuah Klub malam, menjadi bartender itupun hanya dia lakukan setiap hari sabtu dan minggu karena hari-hari biasa di bekerja di kedai salah satu Eomma dari temanya. karena ia biasanya bekerja hanya setengah hari dan setengah harinyapun untuk pergi ke kampus.

Dia memjamkan matanya dan meluruskan kakinya di meja, mengistirahatkan tubuhnya, kalau dia mau dia tidak akan bekerja seperti itu, sebenarnya Donghae sendiri dari kalangan atas yang terpandang tapi dia memilih mandiri daripada menjalankan perusahaanya yang berada jauh di jepang, semenjak ayahnya meninggal ibu donghae mengajak donghae ke jepang tapi donghae tidak ingin ikut jadi yang ikut hanya sang kakaknya saja Lee Donghwa.

Dia merasa hari ini yang paling melelahkan selama ini, karena faktor kelelahan akhirnya Dia terjatuh kedalam mimpinya.

***

-Jaekyung’s POV-

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku karena silaunya matahari yang masuk kedalam mataku, dan setelah berhasil menstabilakan penglihatanku, aku merasa asing ini diamana? Karena aku penasaran aku segera beranjak dari kasur yang aku gunakan untuk tidur, aku sedikit terhuyung karena kepalaku pusing aku kembali terduduk di kasur dan tanganku mulai memijat tengkukku dan dahiku sendiri.

Setelah semuanya kembali normal aku berdiri dari dudukku dan bergegas keluar untuk menuju kamar mandi dan segera mencuci mukaku. Aku benar-benar tidak tahu ini dimana. Sebenarnya aku merasa takut.

Aku tergesa-gesa keluar kamar dan segera menuju kamar mandi yang tidak jauh dari jarak pandangku. Dan setelah selesai mencuci muka aku segera keluar. Aku berjalan kembali kekamar itu, dan tidak segaja aku melihat namja yang sedang tertidur di atas sofa aku mendekatinya dan aku mulai menggoyang-goyangkan lenganya bermaksud untuk membangunkan Namja ini.

“Hei! Ireona… Ppalli, kau siapa? Dan kenapa aku bisa ada disini. Yak! Cepatlah bangun.” Aku tidak sabar, dia tidak cepat bangun.

Aku kembali menggoyang-goyangkan lenganya dengan kasar, dan yah dia bangun, mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.

Seperti terkena sihir, aku sedikit terpana oleh wajahnya yang Polos. Dia tampan. Sepertinya aku mengenalnya. Dan aku membelalakan mataku. Dia musuh bebuyutanku.

“Kau sudah bangun? Apa kepalamu sakit?” Dia bertanya cemas terhadapku, memang ada apa denganku.

“Ah? Ye, aku sudah bangun dari tadi. Lee Donghae ini dimana? Dan kenapa kau menanyakan seperti itu?” Aku bertanya, dia sedikit mengucek matanya mungkin nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Dan sedikit berfikir untuk mengingat memori yang ia ingat

“ah! Kau sedang ada di Apartemenku, tadi malam kau mabuk berat di tempatku bekerja.” Yah aku sedikit kaget, apa benar aku mabuk berat?

“Kau yakin aku mabuk berat?” Aku bertanya sedikit was-was.

“Tentu saja, kalau kau tidak mabuk mana mungkin kau ada di apartemenku?” jawabnya sedikit ketus, dan Benar apa yang di katakana Oleh Namja ini, kalau aku tidak mabuk benar aku mungkin saja sedang ada di kamarku.

“Apa kau lapar?” Tanyanya yang sedikit membuatku terlonjak kaget dari lamunanku. Dia ini kenapa? Perhatian sekali, aku yang memang sedang lapar jadi Aku sedikit menganggukan kepalaku, untuk membenarkan kalau aku lapar.

“Baiklah ayo ikut aku kedapur, dan kau duduk di meja makan untuk melihatku memasak. Oke?” Aku menganggukan kepalaku sebagai tanda aku menuruti ucapanya. Hah! Apa-apan kau Han Jaekyung ingat dia musuh bebuyutamu

Setelah duapuluh menit dia berkutat memasak, akhirnya masakan dia selesai. Sedikit wangi harum dari masakanya sepertinya cukup enak,

“Yeahei… Nasi Goreng Kimchi ala Chef Lee Donghae.” Di berjalan ke meja makan sambil membawa dua piring nasi goreng dan langsung ia letakan di depanku.

“Ayo cepat makan. Selamat makan Je~ya.” Ucapnya dan itu membuatku kaget, hei dia menyebut namaku dengan panggilan aneh?

“Kau menyebut namaku seperti itu sangat aneh, kau bisa tidak memanggilku tidak seperti itu?”

“Kau harusnya memanggilku dengan sebutan Sunbae atau oppa, kenapa kau hanya memanggilku dengan sebutan ‘kau’ itu sangat tidak sopan” Dia berbicara dengan mulut penuh dengan makanan. Dan hei itu jorok.

“Kau Sunbaeku di kampus? Ah pantas saja aku seperti mengenalmu, ternyata kau Sunbaeku di kampus.” Tanyaku pura-pura.

“Cih! Kau itu memang gadis yang sangat menyebalkan.”

“Dan kau pun sama menyebalkanya Lee Donghae.” Jawabku Skepstis, dia mendengus kesal dan langsung menyantap sarapan paginya lagi.

“Kau tidak mau makan? Aku memang musuhmu Je~ya, aku juga masih mempunyai hati nurani aku tidak mungkin menambahkan racun atau apapun, kalaupun aku memasukan racun aku mungkin sudah tidak sadarkan diri.”

Bingo! Dia menebak semua isi kepalaku, aku memang ragu dengan masakanya. Aku takut kalau donghae dengan sengaja menambahkan racun atau apapun kedalam makanan ini.

“Kenapa malah melamun, hari ini aku sedang berbaik hati. Ayo nasi gorengnya cepat dimakan dan di habiskan, kalau tidak aku akan membunuhmu.”

“Iya. Iya aku pasti akan menghabiskanya, kau itu cerewer sekali lee Donghae.”

“Bagus. Aku sudah selesai aku mandi terlebih dahulu, badanku lengket. Kalau kau sudah selesai makan cucilah piring itu.” Katanya sambil menunjuk kebelakangku dan mataku membesar sempurna.

“Yak! Kau menganggapku sebagai pembantu?” Aku hampir saja melemparnya dengan gelas yang ada di samping piringku, kalau saja dia tidak segera pergi dari ruangan ini.

Kurang dari lima belas menit dia sudah keluar dari kamarnya dan aku sudah selesai mencuci piringnya yang menumpuk di tempat pencucian piring.

Aku melihat dia keluar kamar dan berjalan ke arahku yang sedang berdiri di pinggir meja makan. dia memakai cardigan berwarna putih dan T-shirt V Neck berwarna hitam sebagai dalamanya, Dan bawahanya di memakai celana Jeans hitam, rambutnya yang sedikit acak-acakan mebuat dia bertambah tampan sebelum ia mandi. Dia sangat bersinar.

“Aku tahu, aku ini tampan. Jangan kau pandangi aku terus menerus Jaekyung-Sshi. Apa lau tidak takut kalau kau nanti terpesona oleh ketampananku?” Aku tersentak kaget. Astaga Namja ini benar-benar.

Dan Astaga? Apa yang Kau fikirkan tadi Han Jaekyung? Kau bilang laki-laki yang sedang berdiri di depanmu ini tamapan? Tapi memang benar dia tampan, mungkin gadis Gila yang tidak mengakuinya kalau dia benar-benar tampan dan memukau.

“Kau mau mandi atau tidak? Tapi sepertinya tidak perlu, kau tetap cantik walaupun kau belum mandi.” Astaga Pria ini blak-blakan sekali.

“Kau ini Blak-blakan sekali Tn. Lee.”

“Tentu saja. Kajja aku akan mengantarkanmu kembali kerumahmu.”

“Pulang? Aku tidak mau pulang kerumahku. Dengan segenap hati hari ini aku menjatuhkan harga diriku sampai tingkat akhir, Lee Donghae-Sshi bolehkah aku tinggal beberapa saat di apartemenku.” Dia membelalakan matanya setelah mendengar ucapanku tadi.

“Apa kau bilang? Bisa kau ulangi lagi?” Tanyanya dengan nada yang terdengar sangat menjijikan.

“Tidak ada siaran ulang Lee Donghae.” Setelah mengucapkan kata seperti itu aku langsung pergi ke kamarnya.

“YAK!” Dan itu teriakan yang aku dengar, aku tidak menanggapi teriakanya. Dan aku resmikan hari ini adalah aku akan mulai tinggal bersama musuh bebuyutanku dan melupakan masalah perjodohan yang terdengar gila olehku.

***

-Donghae’s POV-

Sudah hampir dua minggu musuh bebuyutanku tinggal bersamaku, dan selam dua minggu ini dia sudah bolos masuk kuliah, dan selama hampir dua minggu aku selalu di ejek oleh teman-temanku gara-gara musuh bebuyutanku.

Hari ini aku cukup bersyukur karena hari ini aku pulang kuliah lebih cepat dari perkiraanku. Entah kenapa hari ini aku benar-benar lelah. Aku hari ini absen dari kerjaku di café mianhae Ajhumma.

Dengan langkah yang tak pasti aku terus saja berjalan ke apartemenku. Setelah sampai di depan pintu aku segera menekan tombol sandi pintu apartemenku. Dan Ting, akhirnya Terbuka juga aku mulai berjalan lagi untuk sampai ke kamarku, sampai di ruang tengah entah kenapa Jaekyung menyambutku dengan senyuman yang tulus dan entah kenapa membuat jantungku berdekup denga kencang.

“Sudah pulang? Pasti kau lelah sebentar aku ambilkan minum untukmu. Sebaiknya kau duduklah dulu untuk mengistirahatkan tubuhmu.” Katany dan itu membuatku mematuhi kata-katanya.

Selang beberapa detik dia sudah kembali dengan membawakan air dingin untuku.

“Gomaweo” Kataku dengan tulus.

“Hmm… Donghae-ah bagaimana keadaan di kampus? Dan apa kau mendengar ayahku yang mencariku.” Tanya-nya bertubi-tubi.

“Di kampus aku selalu menjadi bahab ejekan oleh teman-temanku, karena kau tidak masuk-masuk dan itu membuat suasana kampus menjadi sepi. Kan kita biasanya berteriak satu sama lain.” Aku menghela nafas dan aku ingin menanyakan masalah dia yang tidak ingin pulang kerumahnya, padahal aku sudah tahu. Tapi aku ingin menyakinkanya.

“Kenapa kau tidak ingin pulang kerumahmu? Bukankah rumahmu fasilitasnya terpenuhi?” Kulihat dia menegang karena mendengar pertanyaanku. “Bisa kau ceritakan apa masalahnya? Lanjutnya.

Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.

“Aku akan di jodohkan! Dan tentu aku menolak mentah-mentah perjodohan ini! Kalau kau jadi aku bagai mana? Kau menerimanya atau menolaknya.”

Aku sedikit tercekat mendengar pertanyaanya. Kalau aku jadi dia mungkin aku juga akan menolak mentah-mentah perjodohan itu.

“Di zaman Modren seperti ini kenapa masih ada perjodohan. Aku bahkan bisa mencari pendamping hidupku nanti.” Lanjutnya dengan sura lirih.

“Apa kau bisa mencari pendampingmu sendiri? Kau itu gadis yang menyeramkan, suka meledak-meledak. Mana ada laki-laki yang tertarik kepadamu?” Aku meledeknya bermaksud untuk menghiburnya. Dan yeah membuahkan hasil aku melihat matanya membesar. Aku tahu sebentar lagi dia akan meledak sekarang.

“YAK! Kau juga sama mana ada gadis yang tertarik kepadamu? Kau itu laki-laki yang menyebalkan.”

Dia mengoceh terus-terusan, tapi aku tidak memperdulikanya. Aku merasakan kantong celanaku bergetar. Sebelum aku mengangakat telpon aku menutup mulut Jaekyung yang seperti Beo itu.

Drrrtt… Drrttt

“Bisa kau diam? Ada telpon masuk.” Aku segera merogo kantong celanaku, sekilas melihat siapa yang menelponku dan berhasil membuat mataku membulat. Eomma? EOMMA?

“Yeoboseo Eomma? Waegurae? Tidak biasanya menelpon.”

“Aigoo! Kau ini tidak sopan sekali Lee Donghae kepada Eommamu sendiri” Aku mendengar ibuku mendecak kesal karena aku mengangkat telponnya seperti itu.

“Tidak biasanya? Apa Eomma mau membawaku kejepang untuk mengurus perusahaan?” Aku sedikit melirik ke Jaekyung dia hanya diam setelah mendengar aku mengangkat telpon dan menyebutkan nama Eomma.

“Aniyo! Eomma akan pulang ke korea aka nada kejutan untukmu sayan. Besok mungkin Eomma sudah sampai dirumah. Kau tinggal diamana? Kau tidak tinggal di rumahkan?” kejutan? Aku menyeritkan alisku. Kejutan apa?

“Ne. nanti aku jemput Eomma di bandara. Dan kejutan apa itu Eomma? Apa Eomma mau membelikanku Mobil?.”

“Kau itu matre sekali. Tentu bukan!”

“Aishh jadi apa?” Aku kecewa mendengar jawaban dari ibuku tadi.

“Kalau di kasih tahu itu bukan kejutan namanya Lee Donghae! Sudah besok saja di rumah. Kau harus datang kerumah jam dua siang yah. Eomma merindukanmu sayang!” Aku sedikit mendengar nada kesediahan dari ibuku.

“Aku juga merindukanmu Eomma!”

“Eomma Tutup telponya yah?” Dan aku menjawad dengan sebuah gumaman dan telponnya mati.

“Aku keluar sebentar, aku mau merilekskan fikiranku dulu.” Aku beranjak dari dudukku, aku berpamitan kepada Jaekyung yang sejak tadi hanya duduk dan diam mendengarkan aku yang tadi berbicara dengan Eomma.

***

Ini sudah pukul sepuluh malam, dan aku baru saja sampai di rumah sepertinya aku sudah cukup lama pergi dari apartemen tadi. Aku memasukan digit-digit sandi agar pintu apartemenku terbuka. Aku berjalan sambil memijat tengkukku, padahal hari ini aku tidak bekerja di café maupun di bar aku hanya pergi jalan dan entah tadi aku tidak punya arah dan tujuan. Aku sedikit tersentak setelah masuk keruang tengah, aku melihat Jaekyung yang sedang tertidur di sofa, apa dia menungguku?

Aku berjalan mendekatinya dan aku segera membangunkanya agar dia tidur di dalam kamarku saja. Aku tidak mau repot-repot menggendongnya ke kamar, memang aku siapanya? Pacarnya? Tentu saja bukan maka dari itu aku menepuk-nepuk lenganya agar dia bangun. Gadis ini memang agak susah di bangunkan.

“Hei… Ireona Ppali! Kau itu sembarangan sekali bukankah aku sudah memberikan kamarku untkmu tidur. Yak! Han Jaekyung.” Dia menggeliat kecil, dan mengerjapkan matanya.

“Jam berapa sekarang?” Tanya dengan suara serak.

“Jam sepuluh malam, kau itu kalau tidur jangan di sofa. Arra?”

“Kau baru pulang? Aku menunggumu Donghae~ah, dan aku ingin bicara padamu.” Dia mengacuhkan perkataanku tadi, aku merasakan aura aneh setelah mendengar perkataan terakhirnya.

“Kalau mau bicara ya bicara saja, apa susahnya. Aku sudah ada disini.” Jawabku ketus.

“Donghae~ah kau mau jadi Kekasihku?” Aku melotot, dia to the poin saja. Dan entah kenapa Jantungku berdekup kencang mendengar perkatanyaan, hei! Aku kenapa? tidak biasanya.

“MWO? Aku jadi kekasihmu? Aku tidak mau!” Tolakku mentah-mentah. Ada perasaan aneh saat aku menjawab pertanyaanya, aku merasa aneh sekali dengan diriku?

“Tadi setelah kau pergi ayahku menelponku dan membahas masalah perjodohan. Kau maukan agar perjodohan ini tidak terjadi. Aku mengharapkamu donghae~ah. Ini hanya sandiwara kau maukan?” Hatiku mencelos mendengar pernyataanya, aku kenapa kenapa aku merasa kecewa setelah mendengar pernyataanya? Aku bingung terhadap diriku sendiri.

Aku hanya diam, tidak tahu apa yang harus aku lakukan di satu sisi aku kasian padanya dan di satu sisi aku tidak ingin membantunya. Aku meninggalkanya yang masih menatapku dengan pandangan memohon. Maafkan aku, aku tidak bisa.

Apa aku menyukainya?

***

-Jaekyung’s POV-

Aku di tolak! Yah harga diriku jatuh, aku sudah memohon-mohon kepadanya tapi apa? Dia menolakku, aku hanya diam mematung. Aku hanya ingin meminta tolong kepadanya. Hanya menjadi kekasih palsuku agar perjodohan ini di batalkan. Aku benar-benar tidak adanya perjodohan, sepertinya aku memang harus menerima perjodohan ini. Laki-laki yang hanya bisa aku meminta bantuan hanya kepada Donghae, tapi donghae menolakku. Hatiku sakit.

Sudah hampir dua minggu dan selama itu pula entah hatiku terpikat kepadanya, aku baru sadar kalau dia sangat tampan. Dia juga baik kepadaku tapi entah aku selalu meledak-ledak kalau aku sedang berbicara padanya. Aku menyadari kalau aku mempunyai rasa sukaku padanya beberapa hari yang lalu, sepertinya cintaku hanya cinta bertepuk sebelah tangan. Cintaku benar-benar miris sekali.

Aku memasuki kamar Donghae, yang membuat aku bisa suka kepada Donghae karena kamar ini yang penuh dengan aroma maskulinnya dan itu membuatku tergila-gila. Aku benar-benar jatuh cinta pada Donghae.

Keputusanku saat ini aku mungkin akan menerima perjodohaku, besok aku akan pulang kerumah. Hari ini benar-benar melelahkan.

***

Sinar pagi ini sangat cerah tapi tidak dengan hatiku yang mendung. Hari ini aku bertekad akan pulang kerumah karena itu aku bangun pagi-pagi sekali karena aku biasa bangun setelah Donghae berangkat kuliah. Aku mengok ke arah meja di samping ranjang ini dan melihat jam, ini masih jam enam pagi. Dan mungkin Donghae jam segini belum bangun, karena biasanya Donghae membangunkanku jam setengah tujuh pagi.

Aku bergegas bangun dan berjalan keluar kamar untuk segera mandi dan menyiapkan sarapan pagi untukku dan Donghae, biasanya Donghaelah yang memasak sarapan pagi untukku. Dan ini adalah pengalaman pertamaku memasak. Bukan pertama yang berarti aku tidak bisa memasak, melainkan semenjak Eomma meninggal enam tahun yang lalu aku jadi berhenti untuk memasak.

Kurang lebih tigapuluh menit aku memasak akhirnya masakanku selesai yah walaupun aku hanya memasak nasi goreng, aku menghirup aroma masakanku yah cukup harum, semoga saja dia suka. Aku mengambil piring dan mulai menaruh nasinya di piring dan aku membawa kemeja makan. Aku memekik kaget karena Donghae tiba-tiba saja sudah duduk di depan meja makan.

“Kau mengagetkanku Donghae~ah” Sungutku kesal padanya. “Sejak kapan kau sudah duduk di sini?” Aku menaruh nasi goreng itu di depanya.

“Duapuluh menit yang lalu, kau terlalu sibuk memask jadi kau tidak menyadarinya Bodoh! Apa ini enak?” Tanyanya dengan nada merendahkan.

“Cih! Kau itu tidak bisakah kau tidak mengejekku hari ini?”

“Arra… selamat makan. Aku benar-benar lapar.” Dia mulai menyendok nasi goreng itu, dan itu sukses membuatku terpesona. Hanya melihatnya makan saja sudah membuatku terpesona.

“aku tahu aku ini tampan, tapi Jangan melihatku seperti itu, bisa-bisa kau terpesona oleh ketampananku Han Jaekyung-Sshi.” Aku terkejut. Dan aku membuang arah, mukaku panas karena ketahuan oleh Donghae kalau aku sedang memandanginya. Aish memalukan.

“Aku tidak sedang memandangmu, kau saja yang kePDan Lee Donghae-Sshi..” Ketusku, aigo aku malu sekali.

Ruang makan begitu sepi dan canggung mungkin karena kejadian tadi malam, sepertinya ini waktu yang pas. Lee Donghae aku segera pergi dari apartemenmu ini.

“Hmm. Lee Donghae aku akan pulang kerumahku. Kau pasti senangkan kalau aku akan pulang dan berarti aku tidak akan merepotkanmu lagi.”

***

-Donghae’s POV-

“Hmm. Lee Donghae aku akan pulang kerumahku. Kau pasti senangkan kalau aku akan pulang dan berarti aku tidak akan merepotkanmu lagi.” Aku terkejut. Untung nasi yang sudah aku kunyah sudah masuk kedalam perutku, kalau tidak pasti aku sudah tersedak.

Hah! Baiklah itu maumu. Kau bisa pergi dari apartemenku ini.

“Kalau kau diam berarti itu artinya kau menginginkanku pergi. Setelah ini aku akan pergi tenang saja.” Dia bergegas pergi dari Dapur.

Setengah jam aku duduk termenung, selama hampir dua minggu ini kami selalu berdekatan dan itu membuat jantungku berdegup kencang apa iya aku menyukainya? Aku rasa itu tidak mungkin. Dia musuhku dan sebaliknya aku musuhnya. Aku mengerang frustasi, aku bangkit kekamarku, dan hatiku menclos ternyata dia benar-benar pergi. Aku menglilingi kamarku aku berharap ada yang tertinggal dan bingo aku mendapatkan sepercik surat dan itu hanya sebuah nomor telpon. Dia Cuma meninggalkan nomor telpon.

Aku frustasi, lebih baik aku pergi menemui Eomma mungkin eomma sudah sampai di korea dan mungkin sudah sampai di rumah.

***

Aku menatap bangunan di hadapanku, aku sudah hampir dua tahun tidak pernah kerumahku ini. Aku merindukanya. Aku masuk dan aku melihat halaman depan rumahku ternyata sama seperti rumahku dua tahun yang lalu. Di halaman depan ada sebuah mobil dan kupastikan itu adalah mobil Eomma.

“Aku pulang!” Itu kebiasaanku dua tahun yang lalu berteriak menandakan aku pulang rumah.

“Donghae-ah Bogoshipo!” Ibuku muncul dari dapur, mungkin dia habis memasak atau apa aku tidak menghiraukannya.

“Apa kabar Eomma, eomma bertambah cantik saja.” Aku merayu ibuku sendiri, dan aku langsung terkikik. “Donghwa Hyung?” Lanjutku.

“Baik. Eomma baik-baik saja dan Donghwa juga baik-baik saja. Kau duduklah ada yang ingin ibu berikan padamu.” Aku mengangguk kecil dan berjalan menuju ruang keluarga.

***

Hampir satu jam aku menunggu aku baru saja akan meninggalakan ruang keluarga ternyata ibuku masuk membawa sebuah nampan.

“Maaf Eomma Lama. Donghae-ah ada yang ingin eomma bicarakan.” Katanya dengan nada misterius. Alhasil membuat alisku berkerut.

“Ayo bicara saja, aku akan mendengarkan perkataan eomma.” Kataku sambil mencomot kue yang ada di nampan yang di bawakan eomma tadi.

“Umurmu sudah hampir menginjak duapuluh tiga tahun, dan itu sudah usia matang. Eomma sudah sepakat dengan ayah gadis itu. Dua Minggu ke depan kalian menikah.” Kue yang sedang aku kunyah nyaris keluar mendengar kata Menikah. MWO? MENIKAH?

“SHIROOO!!! Aku sudah dewasa dan aku sudah bisa memilih pendampingku sendiri. Dan aku sudah mempunyai Yeojachingu”

“Jangan membantah Lee Donghae, tiga hari lagi kau akan bertemu dengan calon istrimu. Dan Eomma tidak perduli kau sudah mempunyai kekasih atau belum”

“Terserah Eomma.” Aku beranjak pergi meninggalkan Eomma.

Hari ini benar-benar sial.

***

¬-Author’s POV-

Terhitung tiga hari Jaekyung tidak melihatnya. Jaekyung merindukan musuhnya itu. ‘Apa dia juga merindukanku?’ Pikirnya dalam hati, ‘Apa yang kau pikirkan Han Jaekyung bahkan dia masih menganggapmu musuh.’

Jaekyung berjalan lunglai di sekitar Sungai Han sore ini benar-benar sejuk untuk berjalan-jalan sore, Jaekyung selalu penat kalau di rumah appanya selalu mengungkit permasalahan perjodohan dan itu membuat Jaekyung semakin penat.

Brukkk!!!

“Mianhae” Katanya setelah menabrak tubuh seseorang di depannya “Mianhae aku tidak sengaja.” Katanya lagi sambil membungkukan badannya. Jaekyung kembali berjalan dan melewati orang yang ia tabrak tadi. Tapi baru dua langkah, langkahnya terhenti karena tangannya tercekal olah tangan seseorang.

“Ayo Kita pacaran.”

***

Jaekyung sedang duduk di salah satu café terdekat di daerah sekitar sungai han, Jaekyung menatap mata seseorang yang tadi mengucapkan kata-kata yang membuatnya kaget setengah mati.

“Aku hanya menerima tawaranmu tiga hari yang lalu, apa masih berlaku?” Katanya sambil menggaruk tengkuknya. Jaekyung tahu dia sedang gugup.

“Hah! Aku di jodohkan Jaekyung-ah kau mau membantukukan? Nanti aku juga akan membantumu. Tenang saja.”

“Baik! Kapan kau bertemu dengan calon istrimu? Lee Donghae”

Yah! Laki-laki itu Donghae. Yang berkata tadi itu Donghae. Jaekyung hampir saja pingsan mendengar suaranya dan pernyataanya tadi.

“Nanti malam, jam delapan dan aku akan datang menjemputmu jam setengah delapan. Berikan alamat rumamu”

“Nanti malam? Nanti malampun aku ada acara pertemuanku dengan calon suamiku Donghae-ah aku tidak bisa.”

“Yasudah sekalian aku akan bilang ke appamu kalau kita ini sepsang kekasih!”

‘Baiklah hatiku senang, perjodohan ini akan segera berakhir.’ Teriaknya dalam hati

***

Setelah pulang dari café Donghae bergegas masuk kerumah, selama eomma Donghae di korea, eomma Donghae menyita apartemennya. Menyebalakan. Dengus Donghae

“Donghae-ah jangan lupa nanti malam kita akan pergi kerumah calon istrimu.” Donghae yang sedang berjalan menuju kamarnya tak menghiraukan perkataanya ibuny, dia sudah hampir lelah mendengar perjodohan dari mulut sang ibu.

Donghae terus saja menggrutu, dia masuk kamar dan segera mandi. Setelah mandi dia langsung keluar kamar, dia ruang tamu itu sendiri sudah ada Eommanya yang sudah rapi. Donghae berniat keluar tapi Bodyguard ibunya menahan agar donghae agar tidak pergi. Bodyguar-bodyguard itu memaksa Donghae masuk kedalam mobil.

Di satu sisi seorang gadis sedang menunggu seseorang berharap yang ia tunggu datang dengan tepat waktu. Gadis itu sudah beberpakali keluar masuk kamarnya dan entah sudah keberapa kali dia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya.

“Selamat datang dan selamat malam Ny. Lee ? apa kabar?” Gadis yang ada di kamarnya tersentak kaget mendengar suara ayahnya. Apa calon suaminya sudah tiba? Tapi donghae bahkan belum datang. Gerutunya Jaekyung dalam hati.

“Kemana putrimu Tn. Han? Ah pasti putrimu sangat cantik dan kupastikan dia mirip sekali dengan ibunya?”

“Dia di atas mungkin.. ah itu dia datang.”

Sontak ibu Donghae menegok kebelakang dan langsung tersenyum hangat kepada jaekyung, tapi tidak dengan anak laki-lakinya yang hanya diam.

Jaekyung turun dari kamarnya dan dia berjalan perlahan menuruni tangga, jaekyung merasa mengenal punggung laki-laki itu, jaekyung sedikit ragu apa benar dia atau bukan. Karena penasaran Jaekyung memanggil nama laki-laki itu.

“Lee Donghae.” Katanya setengah berteriak, dan itu sontak membuat laki-laki itu menolehkan kepalanya.

“Han Jaekyung?” Donghae Terkejut melihat pemandangan itu. “Jadi aku akan menikah dengan Jaekyung?” Tanya donghae dan pertanyaan itu langsung di jawab anggukan semangat oleh ibu donghae.

“Baik sepertinya kalian sudah saling kenal, lusa kami akan menikahkan kalian.”

“MWO?” Teriak Jaekyung dan Donghae bersamaan.

***

“Aku lelah Donghae-ah. Aku ingin tidur.”

“Ya! Sebelum kau tidur sebaiknya kau mengganti gaunmu itu dengan Piyama, apa kau tidak kepanasan?”

Ya. Akhirnya mereka menikah setelah mendengar keputusan kedua orang tua mereka dua hari yang lalu. Hari ini mereka mengucapkan janji sakral dan tidak boleh di langgar.

“Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun aku kelalah Hae~ah. Aku lelah! KAU DENGAR ITU?” Ucap Jaekyung berteriak.

“Kalau kau tidak mengganti gaunmu aku yang akan menggantikan gaunmu, dan aku tidak akan membuatmu tidur sampai pagi.”

Mendengar perkataan Donghae tadi sontak membuat mata Jaekyung membesar dan jantungnya berdegup kencang.

“Iya.. Iya aku akan ganti. Puas kau Lee Donghae.” Jaekyung beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju lemarinya dan mengambil piama warna biru laut, yang bermotif beruang-beruang yang sangat lucu. Dan dia pun berjalan Lunglai kearah kamar mandi.

Selang beberapa menit Jaekyung keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyamanya, dan dia berjalan ke arah kasurnya dan dia segera merebahkan tubuhnya yang lelah. Baru saja Jaekyung mengantupkan matanya dia merasakan pelukan di punggungnya dan dia merasakan hembusan nafas di daerah tengkuknya.

“Apa kau bisa menyingkirkan tanganmu Lee Donghae? Kalau kau tidak melepaskanya aku akan memukulmu.”

“Apa salahnya aku memeluk istriku? Hmm… Hangat!” akui Donghae. Dengan sekali hentakan Donghae membalikan Tubuh Jaekyung agar Jaekyung menghadap ke Arah Donghae.

“Wah! Jantungmu berdegup kencang Lee Jaekyung. Kau menyukaiku dan kau merasa gugup, eo?” Ledek Donghae

“iya memang aku menyukaimu, kau Puas? Kaupun sama Lee Donghae, jantungmu berdegup Kencang dan kau pasti menyukaiku juga.” Ledek Jaekyung juga.

“Benar aku menyukainmu semenjak kau pergi dari apartemenku, aku kehilanganmu. Selama tiga hari waktu itu aku selalu memikirkanmu, bagaimana keadaanmu apa kau baik-baik saja atau tidak, apa kau merindu…” Perkataan Donghae terpotong oleh kecupan singkat dari Jaekyung dan itu membuat donghae kaget.

“Yak! Kau berani-berani menciumku?”

“Kau berisik, aku lelah jadi aku menutup mulutmu.”

Donghae mengluarkan Smirknya dan itu membuat Jaekyung yang melihatnya Ngeri.

“Kubalas kau.”

Setelah mengluarkan perkataan tersebut Donghae langsung melumat lembut bibir Jaekyung yang berwarna merah. Dan lumatan lembut itu membuat Jaekyung hilang akal, dia mengalungkan tanganya di leher Donghae. Di rasa nafasnya sudah mulai habis Jaekyung berusaha melepaskan Ciumanya dengan cara memukul Dada Donghae. Dengan sekuat tenaga Jaekyung berhasil mendorong tubuh Donghae yang sudah berada di atas tubuhnya.

“Aku sudah kehabisan Nafas Bodoh dan kau terus saja memperdalam ciu…” Perkataan Jaekyung terputus lagi oleh ciuman donghae. Tidak habis akal, Jaekyung menendang Donghae, dan itu membuat Donghae terjatuh ke lantai.

“DASAR MESUM!!! LEE DONGHAE MESUM!!!” Teriak Jaekyung.

“YAK! HAN JAEKYUNG!!!”

=============END===========

23 thoughts on “Married With My Enemy [ONESHOOT]

  1. Astaga, nanggung banget malam pertamanya. Gak ada romantis-romantisnya ni pasangan. Wkwkwkw…

    Satu lagi, typo masih banyak n penggunaan huruf besar/kecil dan tanda baca juga harus diperhatikan.
    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

  2. Hihihihi endingnya kocak…
    Ceritanya seru dan menarik serta mudah di mengerti
    akhirnya dua musuh bebuyutan menikah kira2 kampus merrka heboh ga ya dgn berita itu..tp sayang bgt kehifupan kampusnya ga di ceritain…

  3. cieee musuh jadi cinta wkwk😀 padahal dulu nya saling benci ehh sekarang saling cinta udah gitu so sweet lagii wkwk mupeng nihhh !!! semoga langgeng deh jadi suami istri sampe tua

  4. Ternyata masih byk ff eonni yg terlewatkan olehku

    #ceeeilehbahasaku

    kmaren bca one night stan + sequel y….
    #tampangGakBersalah

    mian yaa gk ninggalin jejak…

    by.
    reingkarnasi dri Park Ra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s