Wrong Married 10

AUTHOR’S POV

Jaekyung menghembuskan nafasnya pelan, saat ia memasuki apartmennya. Ia sudah terbiasa selama hampir dua minggu ini ia melihat pemandangan yang membuat hatinya sedikit nyeri. Siapa yang hatinya tak akan nyeri jika melihat suami kalian –sekalipun suami pura-pura kalian–melakukan adegan skinship dengan kekasih resminya? Pasti akan merasakan sakit bukan? Itulah yang dirasakan oleh Jaekyung selama kurang dua minggu ini.

Setelah kejadian pertengkaran dua minggu yang lalu itu, Jaekyung dan Donghae tak pernah saling sapa. Walaupun mereka dalam satu apartmen tapi mereka enggan untuk menyapa. Mungkin mereka malas untuk saling menyapa satu sama lain.

Jaekyung dengan langkah lesu berejan menuju kearah dapur dan setelah sampai didapur ia langsung membuka pintu kulkas dan mengambil botol yang ada didalam kulkas dan langsung menuangkan isi botol itu kedalam gelas yang ia mabil diatas kulkas. Ia meneguk isi gelas itu sampai habis, setelah itu ia kembali berjalan menuju kearah kamarnya.

Ia berejalan dengan langkah acuh, ia tak menghiraukan kedua sejoli itu yang sedang melakukan skinship mereka, ia memang sudah tak menghiraukan mereka berdua dari ia tinggal disini bukan? Jadi kenapa ia harus menghiraukan mereka berdua? Konyol. Setelah ia masuk dan menutup pintu kamarnya dengan rapat ia meletakan beberapa berkas yang ia bawa dari kantornya keapartemenya untuk ia kerjakan diapartmennya agar ia tak pernah lembur dikantornya itu.

Tapi sekali lagi setiap ia pulang keapartmennya ia selalu disuguhkan dengan pemandangan yang begitu tak menyenangkan. Tapi walaupun ia setiap hari melihat adegan seperti itu ia benar-benar tak perduli. Dan selama kurang dua minggu ini staminannya tiba-tiba saja menurun, ia sering lelah dan malas untuk bekerja. Ia selalu merasa ingin segera pulang dari kantornya dan pulang keaprtmennya dan bertemu dengan kasur dan bantal kesukaanya yang ada didalam kamarnya itu.

Seperti sekarang saja, ia begitu lelah padahal hari ini ia tak melakukan meeting atau kegiatan yang begitu melalahkan dikantornya, hanya menandatangani berkas yang setiap saat datang keruangannya dan ia langsung menandatanganinya. Bukankah itu hanya pekerjaan mudah dan tak menguras tenaga? Tapi ia tetap merasakan tenaganya terkuras habis.

Selain itu setiap paginya ia selalu merasa tak nyaman dengan perutnya itu dan itu membuat ia tersiksa, ia sempat berfikir untuk berhenti dikantornya tapi ia kembali berfikir kalau ia berhenti ia pasti akan mengecewakan paman dan kedua orang tuanya. Jadi ia membuang jauh-jauh fikiran itu.

Ia merebahkan tubuhnya dikasur empuknya itu dan memejamkan matanya untuk menetrallisirkan keadaan tubuhnya yang begitu lelah itu, ia menghembuskan nafasanya dengan perlahan dan menghirupnya kembali ia melakukan kegiatan tersebut selama beberapa menit. Dirasa ia sudah nyaman ia menundukan tubuhnya dan menyenderkan tubuhnya kepunggung kasur tersebut.

Ia melepaskan blazer yang ia kenakan dan menyisakan kemeja putih yang sedikit ketat ditubuhnya, ia beranjak dari duduknya dan melangkah kearah meja rias yang ada dikamarnya dan membuka laci yang ada meja rias tersbut dan mengambil kuncir rambut yang ia butuhkan sekarang. Setalah ia menguncir rambutnya ia berjalan menuju kearah kamar mandi berniat untuk mencuci mukanya yang kusam akibat pekerjaanya seharinya ini.

Ia merasa aneh dengan dirinya karena ia mengingat seharian ini ia tak menyentuh makanan sedikitpun, tapi perutnya itu tak merasakan kelaparan atau apa, tapi ia selalu mengeluh setiap pagi dan ujung-ujungnya ia masuk kekamar mandi dan mengluarkan isi perunya yang tak mengluarkan isi apa-apa. Ia benar-benar merasa aneh dengan dirinya. Ia ingin sekali kedokter tapi ia selalu mengurungkan niatnya itu dan ia tetap bertahan dengan perutnya itu.

Setelah mencuci mukanya ia kembali kekamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya itu. Ia tak ingin merasakan lelah lagi untuk menganti pakaian kantornya dengan piayama yang ada didalam lemarinya itu. Berjalan dari kamar mandi kekasur saja ia sudah begitu lelah apa lagi ia menganti pakaian yang simple itu, ia merasa lelah dan malas. Dan jadilah ia tidur dengan pakaian kantornya itu.

***

“Oppa, lihatlah tadi istri jadi-jadiamu itu benar-benar tak sopan bukan? Ia berjalan dengan acuh dan tak menghiraukan kita yang sedang duduk di TV ini, bukankah tadi ia jelas-jelas menatap kita yah walaupun itu hanya sebentar tapi lebih baik jika ia menyapa kita yang ada disini…” Ucap Hyejin pada Donghae, Donghae yang mendengar ucapan Hyejin hanya menanggapinya dengan anggukan kepalanya. Ia merasa aneh dengan keadaan Jaekyung yang setiap harinya dan setiap paginya.

Setiap kali ia bangun pagi-pagi, ia selalu mendengar suara aneh dari dalam kamar Jaekyung, ia ingin sekali masuk kedalam kamar Jaekyung tapi mengingat kejadian Jaekyung yang diantarkan pulang oleh Changmin ia mengurungkan niatnya itu. Ia selalu saja emosi jika ia mengingat kejadian itu.

Dan setiapa kali ia melihat Jaekyung keluar dari kamarnya hatinya mencelos melihat wajah Jaekyung yang pucat itu. Ia ingin menahan Jaekyung untuk istirahat didalam Apartemenya tapi ia mengurungkan niatanya dan berpura-pura mengacuhkan keadaan Jaekyung yang benar-benar membuatnya sangat khawatir itu.

“Oppa, kenapa kau diam saja? Eoh?” Hyejin membuyarkan lamunan Donghae, Donghae mencubit kedua pipi Hyejin dan Hyejin menampakan wajah kesalanya itu pada Donghae.

“Aigoo~ kau ini lucu sekali setiap kau sedang kesal ini. maaf Oppa tadi sedikit melamaun..”

“Memang Oppa melamunkan apa?” Tanya Hyejin ingin tahu, Donghae menggelengkan kepalanya dan tersenyum dan Hyejin mengecurutkan bibirnya kesal karena tingkah Donghae yang tak memberitahukan apa yang ia lamuni itu.

“Sudahlah, cepatlah tidur. Bukankah pagi-pagi sekali kau akan pergi keJeju untuk menghadiri acara pernikahan temanmu? Ayo cepat tidur!” Ajak Donghae pada Hyejin, Donghae beranjak dari duduknya dan menarik tangan Hyejin untuk mengikutinya berjalan menuju kearah kamarnya. Ia merasa aneh dengan dirinya, bukankah dulu ia pernah merasakan getaran dihatinya setiap kali ia memegang atau menyentuh tangan Hyejin, tapi sekarang ia tak pernah merasakan getaran dihatinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya itu pelan tak ingin mengingat perkataan Hyukjae dua minggu yang lalu.

Donghae merebahkan tubuhnya dikasur dan Hyejin pun melakuan hal yang sama dengan Donghae. Kurang dari sepuluh menit ia berenjak dari tidurnya, sebelum ia keluar dari kamarnya ia melihat Hyejin apa sudah tertidur atau masih dalam keadaan sadar. Setelah memastikan Hyejin sudah tertidur, Donghae beranjak dari kasurnya.

Ia berjalan menuju kearah dapurnya dan tersentak kaget saat ia melihat Jaekyung yang sedang duduk dikursi yang ada dapur mereka. Donghae mendekati Jaekyung yang sepertinya tak menyadari kehadiran Donghae, dengan langkah pelan tapi pasti Donghae mendekati Jaekyung dan langsung duduk dihadapan Jaekyung.

Jaekyung yang sedang melamun itu langsung tersentak kaget saat melihat kehadiran tiba-tibanya Donghae dan reflek memukul kepala Donghae dengan tanganya yang bebas, “Aish! Kenapa kau memukul kepalaku?” Kesal Donghae pada Jaekyung, Jaekyung memalingkan wajahnya tak ingin menatap Donghae yang ada didepannya itu.

“Bukankah tadi kau sudah masuk kedalam kamarmu?” Jaekyung menatap Donghae dengan malas, lalu kalau ia sudah masuk kekamar tak boleh keluar lagi begitu? Pikir Jaekyung, “Ya! Bukankah aku sudah bilang padamu jangan memandangku dengan tatapanmu seperti itu!” Rajuk Donghae pada Jaekyung. Jaekyung hanya menghela nafasnya pelan.

“Terserah padamu…” Hening, setelah mengatakan seperti itu keadaan Hening seketika. Tak ada yang mengluarkan sepatah katapun dari mereka. Mereka berdua sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Sesekali mereka berdua menghembusakan nafasnya pelan.

“Wajahmu pucat…” Ucap Donghae sambil menangkup wajah Jaekyung. “Hari ini kau sudah makan?” Tanya Donghae pada Jaekyung. Jaekyung hanya diam tak menanggapi apa yang dilakukan oleh Donghae.

“Ya! Aku bertanya padamu, kenapa kau tak menjawabnya?” Donghae kesal karena Jaekyung tak menjawab pertanyaannya. Donghae melepaskan tangannya dan memeriksa kening Jaekyung yang sedikit panas itu.

“Besok kau tak usah keknator, besok kau harus dirumah seharian kau tak boleh keluar dari Apartmen ini tanpa seizinku, jika kau melanggarnya aku tak akan mengizinkanmu pergi kekantor seperti biasanya dan mengrungmu didalam apartemen ini…” Mendengar ucapan Donghae, Jaekyung dengan kasar menepis tangan Donghae yang ada di keningnya dan menatap Donghae dengan tajam.

“Kau… selalu saja melalukan sesukamu itu. Aku tak akan mendengar ucapanmu itu dan tak akan menurut padamu…” Ucap Jaekyung dengan tajam dan langsung beranjak dari duduknya dan membalikan tubuhnya, bermaksud untuk meninggalkan Donghae yang sedang duduk terpaku melihatnya yang dengan kasar menepis tangannya. Baru saja ia berjalan beberapa langkah, tanganya di cekal dan memaksakan dirinya untuk berbealik. Belum sempat Jaekyung mengluarkan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya tiba-tiba saja bibirnya dibekap oleh Donghae dengan bibirnya. Jaekyung membesarkan matanya saat tiba-tiba saja Donghae melumat bibir Jaekyung dengan kasar.

Jaekyung sekuat tenaga memaksa melepas pagutan bibir mereka, tapi sialnya ia sedang lemas jadi ia tak bisa meronta-ronta dengan kekuatannya yang sudah lemas ini. ia merasakan tubuhnya terdorong kebelakang dan merasakan punggungnya yang bergesekan dengan dinding apartmennya. Ia memejamkan matanya saat Donghae terus saja bermain dengan bibirnya, kadang Donghae menghisap bibirnya dan kadang menggigit-gigit kecil bibir Jaekyung.

Tangan Donghae sendiri sudah melesat kearah tenguk Jaekyung yang jenjang itu dan menariknya untuk memperdalam ciuman yang ia ciptakan sendiri. Karena tak kunjung dibalas oleh Jaekyung dengan paksaan Donghae mendongakan wajah Jaekyung dan menghisap dengan kuat dan langsung menghasilkan desahan tertahan dari bibir Jaekyung.

Tanpa sadar tangan Jaekyung dengan lancangnya memegang pinggang Donghae dan memeluknya dengan erat. Donghae tersenyum diantara sela-sela ciumannnya dengan Jaekyung. Ia merasa senang karena dengan sendirinya Jaekyung membalas ciumannya yah walaupun sedikit memaksa dengan hisapan kuat dibibir Jaekyung.

Donghae memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk memantapkan ciuman yang ia ciptakan tadi. Saat bibir Jaekyung terbuka dengan cepat Donghae memasukan lidahnya kedalam bibir Jaekyung dan langsung membelit lidah Jaekyung. Jaekyung membuka matanya dan menatap mata Donghae dengan cepat setelah itu ia mengerjapkan matanya kembali untuk ikut menikmati apa yang dilakukan oleh Donghae sekarang.

Tanpa mereka sadari dari arah kamar Donghae terlihat seseorang yang sedang melihat Donghae yang sedang mencium Jaekyung dengan semangat itu. Tanpa ia sadari tanganya menuju kearah dadanya kirinya dan memegang dengan sangat erat. Jadi semua perubahan Donghae akhir-akhir ini sudah membuktikan bahwa Donghae sudah mencintainya lagi.

Ia menahan air matanya yang hampir keluar itu, ia hanya bisa tersenyum miris melihat Donghae yang seperti itu. Mendadak otaknya itu berfikir untuk melenyapkan Jaekyung dari Donghae dan ia sendiri bisa memeiliki Donghae seutuhnya seperti beberapa bulan yang lalu tak seperti saat Jaekyung itu hadir diantara hubungannya dengan Donghae.

Senyum yang mengerikan itu bertengger dengan manis diwajahnya yang sudah memerah akibat geraman yang ia taha itu. Ia masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya dengan sangat pelan saat melihat Donghae melepaskan tautan bibirnya itu. Lebih baik ia tidur dan pasti ingatan Donghae tadi mencium bibir Jaekyung pasti akan manghilaing dengan sendirinya. Ia berjanji pada dirinya, ia pasti akan bisa menghancurkan Jaekyung.

Donghae melepaskan ciumannya dan melihat wajah Jaekyung yang sedikit memerah itu dan mengusap bibir Jaekyung dengan ibu Jarinya. Ia tersenyum dan mendekatakan wajahnya langsung saja ia meraup bibir kemerahan Jaekyung. Ia kembali mencium bibir Jakeyung dengan sangat lembut, tersirat ketulusan hatinya bahwa ia baru menyadarai sekarang kalau ia sudah menyuka Jaekyung, sepertinya tidak lebih tepatnya ia mencintai Jaekyung.

Donghae mengelus tengkuk Jaekyung dan itu langsung membuat Jaekyung jatuh kedalam pelukan Donghae itu. Dengan sigap Donghae memeluk tubuh Jaekyung erat. Ia mengulum bibir Jaekyung dengan sangat lembut dan intens. Setelah mencium bibir Jakeyung dengan lembut dan intens ia melepaskan bibirnya dan hanya mengecupnya berulang kali dan mengakibatkan mata Jaekyung mengerjapkan beberapa kali.

“Cepatlah kau masuk kedalam kamarmu, aku tak ingin kau sakit! Dan apa tadi badanmu panas tapi kau malam meminum air dingin. Kau itu tak bisa mendengar perkataanku apa?” Ucap Donghae yang ia buat-buat dan itu membuat Jaekyung dengan bebas memukul kepala Donghae yang begitu menyebalakan.

Dengan paksa Jaekyung melepaskan tangan Donghae yang ada dipinggangnya, “Dasar Mesum!” Dumel Jaekyung saat ia meninggalkan Donghae yang tersenyum geli melihat tingkahnya yang seperti orang bodoh.

***

“Yeoboseo?” Tanya Jaekyung saat deringan ponselnya berbunyi. Sebelum ia mengangkat panggilan tersebut Jaekyung melihat layar ponselnya dan menampilkan nomor tanpa nama. Ia sedikit menautkan alisnya tak mengerti. Bukakah yang tau nomor ponselnya itu hanya orang tuanya, paman, sekertaris dan Donghae? Kenapa orang lain bisa menghubunginya?

“Jaekyung-ssi… Ini aku Hyejin, kekasih Donghae Oppa bisa kita bertemu sekarang?” Jaekyung terdiam sedetik, untuk apa Hyejin menghubunginya kalau nanti malam ia akan bertemu dirumah? Benar-benar aneh.

“Ne… kita bertemu dimana?” Tanya Jaekyung cepat. Ia tak ingin bertele-tele dengan Hyejin, jika bertele-tele ia akan merasa pusing dengan pembicaraan Hyejin.

“Di café dekat dengan lokasi Syuting Donghae Oppa saja, kau tahu bukan? Kalau kau tak tahu aku akan mengirimkan alamatnya…” Ucap Hyejin dengan suara yang dimanis-maniskan, Jaekyung yang mendengar Suara Hyejin hanya bisa menahan mual diperutnya saja. Benar-benar menggelikan sekali prempuan ini. pikir Jaekyung.

“Terserah kau saja…” Setelah mengluarkan kata-kata seperti itu panggilan itu dimatikan. Jaekyung hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.

“Sudah Jam istirahat aku keluar sebentar. Jika Onnie mencariku Onnie telpon saja aku ne…” Ucap Jaekyung pada sekertarisnya itu.

Setelah Jaekyung keluar dari kantornya ia segera menuju kearah Halte Bus yang dekat dengan kantornya, saat ia melihat taksi ia segera menyetopnya, karena jika ia menunggu bus datang itu pasti akan memekan waktu untuk sampai dilokasi syuting Donghae.

Setelah sekitar lima belas menit ia duduk didalam mobil akhirnya ia sudah sampai ditempat yang di beritahukan oleh Hyejin. Setelah keluar dari mobil ia menghela nafasnya pelan dan merapihkan penampilanya yang menurutnya sedikit berantakan itu.

Ia berjalan dengan sangat tenang, setelah sampai didepan pintu café tersebut Jaekyung langsung membukanya dan mengedarkan pandanganya untuk mencari keberadaan Hyejin, setelah ketemu Jaekyung langsung menuju kearahnya dan duduk didepan Hyejin yang sedang meminum Jusnya.

Tiba-tiba saja firasanya tak enak setelah ia duduk didepan Hyejin, entak karena apa tapi yang pasti tengkuk Jaekyung meremang. Jaekyung memegang tengkuknya dan mengelus-elusnya pelan agar remanganya segera berhenti.

“Ya! Tak usah gugup seperti itu…” Ucap tiba-tiba Hyejin memecahkan keheningan yang sempat tercipta. Jaekyung yang sedang menunduka kepalanya itu sontak saja ia mendongakan wajahnya menyeritka alisnya merasa bingung dengan pembicara Hyejin. Gugup? Siapa yang gugup? Dirinya? Konyol, ia tak pernah gugup dengan siapapun apa lagi dengan Hyejin yang di pukul kepalanya saja pasti akan menangis.

Ia mendongakan wajahnya untuk melihat wajah Hyejin, ia langsung menutup bibirnya agar tawanya tak menyembur keluar. Oah ayolah siapa yang tak akan tertawa jika kalian melihat wajah seseorang dengan make up yang tebal seperti apa yang ia lihat sekarang? Pasti akan tertawa bukan?

“Kau kenapa?” Tanya Hyejin sedikit angku, dan suara Hyejin sekarang yang membuatnya sedikit tertawa, suara cempreng seperti itu dibuat-buat, benar-benar menggelikan sekali.

Jaekyung pernah berfikir kenapa Donghae memilih Hyejin sebagai kekasihnya itu. Tak bisa memasak, yah ia berfikir bahwa dirinya sendiri tak bisa memasak tapi ayolah memasak nasi goreng atau menggoreng telur saja ia tak bisa, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat melihat Hyejin yang sedang belajar memasak. Dan masakan itu simple tak susah hanya menggoreng telur saja, apa itu susah? Tidak bukan? Dan telur goreng itu pun hangus akibat sumbu kompor yang terlalu besar. Ia hampir tertawa terbahak-bahak jika saja Donghae tak langsung membekap mulutnya itu.

Ia kembali menilai Hyejin, menurutnya artis korea lainnya juga cantik-cantik bukan? Tapi kenapa Donghae memilih Hyejin sebagai kekasihnya? Jika saja ia sendiri menjadi Donghae ia pasti akan mencampakan Hyejin dan mencari gadis lain, bukankah diluar sana masih ada yang cantik dan berhati baik bukan? Buka seperti orang yang ada didepannya ini. Jahat dan manja seperti apa yang ia lihat kemarin malam. Benar-benar membuat dirinya sedikit mual.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Ucap Jaekyung saat ia sudah bisa memfokuskan dirinya. Hyejin menatap kemanik mata Jaekyung, Jaekyung menyeringai pelan ia fikir ia akan takut dengan plototan mata Hyejin yang tak menyeramkan itu. Dan lihat siapa yang kalah? Hyejin bukan yang sekarang menunduk.

“Han Jaekyung-ssi bisa kau tinggalkan Donghae Oppa?” Tanya Hyejin langsung pada Jaekyung. Jaekyung berusaha bersikap normal dengan keadaan sekarang. Dalam hatinya mendengar ucapan Hyejin langsung menusuk kehatinya. Tapi untuk apa ia mempertahankan pernikannya dengan Donghae bukankah itu hanya sebagai status saja? Tapi hatinya ini benar-benar tak rela jika ia meninggalkan Donghae.

“Kau ingin aku menyerahkan surat cerainya?” Tanya Jaekyung pada Hyejin, Hyejin menggelengkan kepalanya pelan.

“Tenang, surat perceraiannya sudah ada ditanganku kau tinggal menandatanganinnya dan kau memberikan surat cerai itu pada Donghae Oppa. Kau mengerti??” Jaekyung mengangguk, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Hyejin. Pikiranya tiba-tiba saja kosong setelah mendengarkan kata cerai yang diucapkan oleh Hyejin. Apa benar ia ingin berpisah dengan Donghae? Sepertinya ide ini tak buruk, ia ingin segera lepas dari keadaan seperti ini, ini benar-benar sedikit menyiksa dirinya.

Ia mendongak saat sebuah map terdorong kearahnya, ia menatap Hyejin, “Ini surat cerainya, lebih cepat lebih baik bukan? Aku sudah mempersiapkannya kira-kira hampir tiga bulan yang lalu, saat aku pindah keapartmen Donghae Oppa. Diam-diam aku mengurus surat perceraiaan kalian… tanda tangani, dan jangan lupa kau berikan pada Donghae Oppa… Arraseo! Aku pergi dulu, aku harus ke busan…” Hyejin beranjak dari duduknya, setelah memberikan surat perceraian itu Hyejin langsung pergi meninggalkan Jaekyung sendiri didalam café tersebut.

Jaekyung membuka map itu dan langsung membacanya dengan teliti. Apa ia harus menandatanganinya atau malah merobeknya? Sepertinya menandatanganinya itu ide yang sangat baik bukan? Setelah ia bercerai dengan Donghae ia bisa saja mencari pria lain untuk mendampinginya hidup atau ia ingin bersenang-senang dulu menghabiskan masa Single? Single? Tidak, setelah bercerai ia mungkin dicap janda? Memikirkan seperti itu membuat kepala Jaekyung semakin pusing saja.

Ternyata dampak dari kedua orang itu membuat kepalanya menjadi pusing tak tertahankan. Ia segera membereskan map yang ada dimeja dan ia segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan café tersebut setelah tak ada urusan apa-apa lagi. Lebih baik ia mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk seperti gunung dibandingkan dengan memikirkan urusan ia Hyejin dan Donghae.

Jaekyung berdiri ditrotoar untuk mencari taksi yang lewat didrpannya, setelah melihat taksi yang lewat dengan cekatan Jaekyung menyetop taksi dan memberikan petunjuk kepada supir tersebut. setelah kuarang dari lima belas menit akhirnya ia sampai di depan kantornya itu.

Setelah membayar dan keluar dari taksi tersebut Jaekyung dengan langkah pelan memasuki kantornya, tiba-tiba saja tubuhnya begitu lemas dan kepalanya begitu pening, ia ingin segera sampai didalam ruangannya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang tiba-tiba saja begitu lemas.

Jaekyung tersenyum saat pegawainya berpas-pasan dengannya. Saat ia masuk kedalam lift ia memegang kepalanya yang begitu sakit dan dengan sialnya perutnya ikut-ikutan sakit. Oh, apakah ini hari tersialnya? Reflek ia menyenderkan tubuhnya didinding Lift dan tangannya memegang kepalanya yang begitu sakit.

Pandanganya begitu buram, ia terus memijat keningnya agar ia bisa melihat dengan jelas tapi sayang tiba-tiba saja tubuhnya roboh seketika saat tepat pintu lift terbuka dan ia mendengar teriakan seseorang dan setelah itu ia tak mendengarkan apa-apa lagi.

***

“Nghhhhh…” Jaekyung mendesah pelan, dan langsung memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralisirkan padanganya terhadap cahaya yang masuk kedalam retina matanya.

“Oh, Sajangnim Gwenchana?” Tanya sekertaris Jaekyung. Ya, saat Jaekyung pingsan tadi yang berteriak itu Sekertarisnya yang sedang lewat dan akan masuk kedalam ruangannya dan ia tak sengaja melihat atasanya itu jatuh pingsan didalm lift.

Jaekyung mengangguk, menjawab pertanyaan Sekertarisnya itu, “Apa Onnie yang mengantarku kesini?”

Sekertaris Jaekyung mengangguk semangat, dan itu membuat Jaekyung sedikit bingung dengan raut wajah sekertarisnya yang begitu cerah seperti itu, “Ada kabar baik untukmu, kau tengan mengandung hampir tiga bulan. Aigo! Pantas saja kau begitu pucat setiap harinya dan ingin sekali pulang kerumah ternyata kau tengah mengandung. Kau tau aku begitu senang saat Dokter mengatakan kau mengandung…” Girang Sekertaris Jaekyung, Jaekyung yang mendengar penjelsan itu hanya bisa membeku.

Ia sadar dengan cepat ia memfokuskan dirinya dan tanpa sadar tangany memegang perutnya yang masih rata, ia benar-benar tak menyangka jika didalam perutnya terisi nyawa dan itu benih yang ditamkan oleh Donghae pada dirinya.

“Apa ada orang yang mengetahuiku masuk kerumah sakit?” Tanya Jaekyung pada sekertarisnya itu.

“Ne, tadi aku sempat menelpon suamimu. Tapi ia tak bisa datang karena ia sedang ada ditaiwan. Katanya ia baru saja sampai ditaiwan. Itu juga jadwal mendadak, itu yang suamimu katakana padaku. Katanya duahari atau tiga hari ia pulang kekorean…”

“Apa kau mengatakan kalau aku hamil?” Tanya Jaekyung sedikit was-was, tiba-tiba saja ia tak ingin memberitahukan kehamilannya ini pada Donghae, karena kalau saja Donghae tahu proses perceraiannya dengan Donghae pasti akan tertunda dan itu akan menambahkan rasa cintanya itu pada Donghae.

Yah, Jaekyung sudah menyadari perasaanya itu pada Donghae malam tadi saat Donghae menciumnya dengan sangat lembut dan dengan tulus. Ciuman itu membuat dirinya masuk kedalam sosok Donghae. Ia sempat berfikir, lebih baik ia memendam jauh-jauh perasaanya itu pada Donghae dan itu pasti akan membuat sakit dihatinya dan membuat lubang kecil dihatinya itu. Dan benar saja, ia sudah tersakiti oleh keksaih Donghae yang meminta secara terang-terangan agar ia dan Donghae segera bercerai.

“Annieo, saat aku menelpon suamimu tadi pemeriksaan tubuhmu belum selesai dan saat dokter memberitahukannya aku lupa untuk memberitahukan pada Suamimu karena terlalu senang dan aku baru ingat sekarang. Hehehe!” Jaekyung menghela nafasnya lega, bersyukur karena sekertarisnya itu tak memberitahukan pada Donghae.

Jaekyung memegang tangan Sekertarisnya itu, “Onnie, mau berjanji sesuatu padaku?” Tanya Jaekyung dan langsung dijawab anggukan oleh sekertarisnya itu.. “Jangan memberitahukan berita ini pada siapapun, hanya kita berdua saja yang mengetahui ini. kau bisakan Onnie~a?”

Sekertaris Jaekyunng sedikit kebingungan dengan permintaan Jaekyung padanya, kenapa berita membahagiakan ini tak boleh diberitahukan oleh semua orang? “Onnie~” Rajuk Jaekyung saat melihat sekertarisnya yang diam tak bergeming sedikitpun. Jaekyung sedikit was-was apa sekertarisnya ini mau membantunya atau tidak?

“Baiklah kalau keinginanmu seperti itu, aku berjanji tak akan memberitahukan pada siapapun. Mungkin kau mempunya masalh pribadi dengannya dan aku tak berhak untuk mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi aku benar-benar senang saat mendengar kau hamil!” Jaekyung memeluk tubuh sekertarisnya ini erat. Ia harus berterima kasih dengannya karena ia dengan tulus menjajikan permintaanya ini.

“Sebaiknya istirahat terlebih dulu, atau kau ingin makan? Akhir-akhir ini tubuhmu sedikit kurus dibandingkan pertama kali aku melihatmu dikantor…” Jaekyung menggelang menolak permintaan Sekertarisnya.

“Annie, aku ingin istirahat saja, kalau makan tetap saja aku akan mengluarkannya lagi..” Keluh Jaekyung sambil memegang perutnya itu, dan sekertarisnya hanya tersenyum geli melihat tingak atasnya itu.

“Maklumi saja, ini pertama kehamilanmu dan semua orang hamil akan mengakibatkan seperti itu. Minum vitamin dengan terarur dan memakan makanan yang sehat.. hhm! Arraseo! Kalau begitu kau taka pa aku tinggal sendiri?” Tanya Sekertaris itu dan meminta izin untuk pergi meninggalkan Jaekyung.

“Ah, iya aku membawa map yang anda pegang saat anda pingsan dan aku tak membacanya karna itu pasti privasi bukan? Dan ini surat keterangan hamilmu. Cepatlah sembuh dan rawatlah kandunganmu dengan baik agar ia mirip denganmu dan Donghae. Aku pulang Sajanganim…” Jaekyung tertegun mendengar ucapan Sekertarisnya. Ternyata kehamilannya yang pertama ini membawa dampak kebahagiaan. Yah, ia harus merawat kehamilannya dengan baik walaupun ia tak akan memberitahukan pada Donghae ia akan merawatnya dengan baik..

“Eomma… tunggu kehadiranmu sayang…” Ucap Jaekyung sambil mengelus perutnya itu.

***

“Oh, waseo?” Ucap Jaekyung saat Donghae pulang keapartmennya. Jaekyung melepaskan tas yang ada dipunggung Donghae dan membawanya masuk kedalam. Ia menarik tangan Donghae dengan lembut dan membawanya kearah Dapur. Yah setelah keluar dari rumah sakit lima hari yang lalu sifat Jaekyung sedikit melunak memperlakukan Donghae dengan baik. Ia masih memikirkan untuk memberikan surat cerai pada Donghae. Mungkin malam ini malam yang tepat untuk memberikannya pada Donghae.

“Kau memasaknya?” Tanya Donghae pada Jaekyung, ia merasa aneh pada Istrinya ini karena tak biasanya memask makanan sebanyak ini.

Jaekyung mengangguk, “Ne aku yang memasaknya. Wae? Apa kau tak suka?” Rajuk Jaekyung dan pipinya langsung dicubit oleh Donghae, “Aigoo~ Lee Donghae jangan mencubit pipiku kau ini menyebalkan sekali…” Jaekyung menghempaskan tangan Donghae dan memalingkan wajahnya kearah lain. Donghae hanya bisa terkikik geli melihat tingkah Jaekyung yang begitu menggemaskan itu.

“Ya! Jangan marah, aku akan menghabiskan makanannya. Aku berjanji!” Jaekyung menatap wajah Donghae dan tersenyum, “Kau sendiri tak makan?” Tanya Donghae pada Jaekyung.

“Aku menunggumu pulang dan ingin makan bersamamu!” Ucap Jaekyung beserta senyuma manis yang ia keluarkan.

“Cah~ yasudah cepat makan…” Ucap Donghae sambil mengambil piring dan sendok.

Lima belas menit mereka lalui untuk menyantap makanan, dengan sigap Jaekyung mengumpulkan piring-piring kotor untuk ia bersihkan. “Sebaiknya kau mandi dan tiba-tiba aku ingin berbicara denganmu. Palli~ kau ini bau sekali!!!” Ucapnya pada Donghae, Donghae merasa aneh dengan perubahan sikap Jaekyung selama keluar dari rumah sakit lima hari yang lalu itu. Donghae menurut dan masuk kedalam kamar Jaekyung, ya karena lima hari ini Jaekyung meminta dirinya untuk tidur didalam kamar Jaekyung, dengan semangat Donghae menurut untuk melaksanakan perintah dari Jaekyung.

Setelah mandi dan berpakaian santai Donghae menatap kearah cermin yang ada di kamarnya itu, ia membuka laci dimeja rias tersebut untuk mengambil sisir dan tanpa sengaja ia melihat sebuah map dengan rasa penasaran ia mengambil map tersebut dan membuka dan matanya seketika membulat saat membaca ‘Surat Perceraian’ ia membacanya dengan sangat teliti ia takut kalau yang ia baca itu salah. Tapi hatinya sekarang benar-benar seperti diremas oleh tangan Hulk yang super besar itu.

Dengan langkah tergesah ia keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Jaekyung. Setelah ketemu ia melangkah kearah Jaekyung dan langsung menghempaskan map tersebut dimeja yang ada dihadapan Jaekyung. Jaekyung yang sedang melamun tersebut langsung tersentak kaget dengan tingkah Donghae.

“Jadi… kau ingin berbicara denganku kau ingin membicarakan perceraian kita?” Tanya Donghae pelan tapi dengan nada menuntut. Jaekyung hanya diam saja, ia pasti tahu seberapa marahnya Donghae pada dirinya itu. “JAWAB AKU LEE JAEKYUNG!!!” Bentak Donghae pada Jaekyung. Jaekyung mendongakan wajahnya dan menatap mata Donghae lebih dalam.

“Ne, aku ingin bercerai denganmu. Bukankah kau tak perduli denganku dan aku memberikanmu kesempatan ini untukmu agar kau cepat menikah dengan kekasihmu itu. Aku tak ingin terlarut dalam hubungan ini. hmm, kau bisa menandatanganinya bukan?” Tanya Jaekyung dengan lembut dan mengelus pergelangan tangan Donghae agar ia tak emosi lagi.

“Aku benar-benar Gila Lee Jaekyung… baik-baik aku akan menandatanganinya sekarang juga. Tapi kau harus ingat aku walaupun kau menceraikanku kau tetap istriku. Akh! Kenapa menjadi seperti ini? kau tahu? Aku mulai menyukai ani, lebih tepatnya aku mencintaimu sebagai istri sahku. Apa kau tak bisa berubah pikiran?” Tanya Donghae sambil memeluk tubuh Jaekyung. Jaekyung menggelengkan kepalanya pelan menolak pertanyaan Donghae. Donghae semakin mempererat pelukannya pada tubuh Jaekyung.

“Apa aku boleh bertanya?” Tanya Donghae sambil melepaskan pelukannya ditubuh Jaekyung, Jaekyung menganggukan kepalanya.

“Apa kau mencintaiku?” Tanyanya dengan pelan, Jaekyung menundukan kepalanya tak berani dengan tatapan mata sendu Donghae. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan Donghae itu.

“Hmm… Geurae! Kau memang tak pernah mencintaiku bukan? Dan hanya aku yang mencintaimu.. aku… merelakanmu jika kau menjalin hubungan dengan Changmin…” Ucap Donghae pelan sambil memeluk tubuh Jaekyung kembali. Mendengar pernyataan Donghae tadi air mata Jaekyung keluar dan membasahi baju Donghae. “Kenapa kau menangis? Bukankah sebentar lagi kau akan terlepas dariku? Ah, sepertinya salah kau pasti senang bukan?” Dengan paksa Donghae tersenyum menatap Jaekyung.

“Walaupun kau tak mencintaiku, aku yang akan mencintaimu selamanya yah walaupun kita sudah bercerai aku tetap menganggapmu sebaigai Istriku… aku mencintaimu Lee Jaekyung…” Ucap Donghae kemabli memeluk tubuh Jaekyung. Yah walaupun mereka bercerai Donghae akan tetap menganggap Jaekyung sebagai istrinya. Soal perasaan Donghae pada Jaekyung ia sudah merasakannya saat ia bertanya soal jatuh cinta itu seperti apa pada Hyukjae.

=====TO BE CONTINUED=====

4 thoughts on “Wrong Married 10

  1. waaah,,
    akhirnya publish,,
    pdhl bru kmren aku seneng soalnya uda ada lebih bnyak dialognya, eh skrg balik lgi kekurangan dialog,,
    yauda deh terserah author aja,,
    next part thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s