His Back! [One Shot]

VYEJUNGMIN.

 

PS: MEMBOSANKAN. Banyak TYPO, di karenakan aku males ngedit. Jangan kesal yaaa~

Sinar matahari menyinari kamarku, dengan gusar aku bangkit dari tidurku. Jam berapa ini? Ah, aku lupa kalau ini hari minggu dan kenapa aku harus bangun sepagi ini dan siapa pula yang membuka tirai jendela kamarku? Sepertinya Ibuku yang usil itu.

Kembali aku membaringkan tubuhku di kasurku yang paling empuk. Aku malas untuk bangun sepagi ini di hari minggu. Lagi pula apa yang harus aku lakukan di hari minggu? Mencuci baju? Apa gunanya menggaji pembantu kalau bajuku belum bersih? Ah, kedengarannya aku terlalu sombong, ya?

Ku raba-raba kasurku dengan tanganku, mencari ponselku yang pastinya tak akan jauh dari tubuhku saat aku tidur setiap malam. Setelah ketemu aku langsung menekan tombol kunci yang tertera di layar ponselku.

Dengan cepat aku langsung membuka jaringan social yang sekarang sedang beken-bekennya di kalang anak muda jaman sekarang. Err—aku juga termasuk tergila-gila oleh jejaraing social yang bernama Facebook ini. Setiap jam, menit, detik, hari, pagi, siang, malam. Saat aku makan pun aku selalu membawa ponselku, dan pastinya aku selalu di pelototi oleh kedua mata Ibuku dan yang aku balas dengan senyuman polos milikku.

Akunku mempunyai sepuluh pemberitahuan yang menurutku tak penting-penting sekali pastinya. Tapi yang membuaku penasaran adalah permintaan pertemanan di akunku. Bukan, bukan karena aku jarang sekali mendapatkan permintaan pertemanan, melainkan siapa yang meminta pertemanan padaku.

Dengan cepat aku mengubah posisi tidurku yang awalnya terlentang kini menjadi duduk bersedekap di kedua lututuku. Aku mengeklik nama yang tertera di layar ponselku. Aku tak merasa asing dengan namanya.

Setelah menunggu untuk melihat Profilnya, aku langsung mengeklik foto profilnya. Karena foto itu terlalu kecil aku kembali mengeklik tulisan Tampilkan Layar Penuh. Setelah setengah-setengah terlihatkan dan membuatku merasa bosan aku langsung menganga kaget melihat siapa yang meminta pertemanan terhadapku.

Ah, dia. Pantas saja aku tak merasa asing dengan Nick Namenya. Ternyata dia. Bukankah dia sudah tak ada hubungan lagi denganku? Kenapa dengan tiba-tiba dia memnita pertemanan dan kenapa pula dia memakai akun baru bukan akun lama? Ah, iya aku lupa kalau akun lamanya itu di gunakan oleh kekasihnya yang temperamental. Aku heran kenapa dia begitu menyukai kekasih tempramentalnya.

Aku menekan tombol kembali, melihat-lihat akun barunya. Dan akun barunya ini sukses membuat keningku berkerut heran. Lho, bukan kah dia berpacaran dengan Song Hyo Jin? Kenapa di akunnya bertuliskan dia menikah dengan Park Jung Ah? Tidak heran, aku yakin pasti sekali kalau laki-laki ini menduakan Hyo Jin—si tempramentalnya—.

Perlahan-lahan bibirku tertarik, membentuk senyuman. Akibat status yang di tuliskan di profilnya untuk sang kekasih gelapnya itu membuatku tersenyum. Ah, dia masih saja tetap tak berubah. Masih tetap tak ada perbandingan antara kekasih asli dan kekasih gelap.

Setelah puas melihat profil miliknya aku mengeklik nama Park Jung Ah. Sepertinya ini kekasih keduanya. Dan setelah lamanya aku menunggu aku langsung mambuka koleksi-koleksi fotonya yang aku akuin ternyata wanita simpanannya ini jauh lebih cantik dengan kekasih aslinya yang temperamental itu.

Setelah kembali puas dengan akun milik kekasih gelapnya aku langsung mengscroll kebawah, kearah pencarian aku mengeklik dan menyentuh layarku mengetikkan akun lama si laki-laki brengsek ini. Setelah selesai dan menampilkan banyak nama aku langsung mengeklik nama yang pertama, aku menunggu dan tak sabat aku langsung menekan kearah yang bertuliskan kronologi.

Kulihat-lihat profilnya, ada foto dirinya yang di unggah tiga jam yang lalu. Aku yakin pasti kalau akun barunya itu meminta pertemanan padaku beberapa jam yang lalu. Aku hanya bisa tersenyum melihat status-status yang aku yakin buka di tuliskan oleh si laki-laki brengsek ini, tapi oleh si Hyo Jin itu.

Ternyata Hyo Jin tak pernah berubah masih saja berperilaku berlebihan yang membuatku tak menyukai dengan sifatnya. Selain berlebihan Hyo Jin ini suka sekali meledak-ledak layakanya bom atom yang di lempar oleh sekutu keatas kepalanya.

Heran kenapa aku bisa menyimpulkan Hyo Jin seperti itu? Karena aku pernah berkirim pesan dengannya yang pasti membuatku ikut meledak-ledak akibat jengkel dengan sikapnya. Aku juga kembali heran kenapa si brengsek itu masih saja bertahan dengan Hyo Jin.

Kalau aku jadi si brengsek itu, aku yakin dengan sangat pasti akan mencampakan Hyo Jin itu di tengah jalan, memutuskan hubungan yang aku tahu mereka sudah memasuki empat tahun lebih. Kalau tak lupa mereka menjadi sepasang kekasih saat mereka kelas tiga menengah pertama dan aku menjadi adik kelasnya. Err—jangan membawa-bawaku.

Lupa, iya bukankah si brengsek ini mempunyai kekasih gelap? Berarti si brengsek ini pasti sudah agak bosan mungkin dengan kekasih aslinya. Pfftt! Aku terlihat seperti setan yang sedang menertawakan sepasang kekasih yang tak ketahuan selingkuh itu.

Aku memutuskan untuk keluar kamarku, tak lupa aku menekan tombol kembali. Sepertinya hariku akan berubah. Ah, aku jadi tak sabar.

***

“Pagi,” sapaku sambil mencium pipi kanan Ibuku yang sedang merajut bajunya. Rumah sudah sepi. Sepertinya Ayaj sudah berangkat ke kantornya.

Ah, aku menyesal tak segera bangun dan sarapan bersama Ayahku yang baru saja kembali dari luar kota selama tiga hari ini. Ayahku benar-benar sibuk dengan pekerjaannya di kantor, ia pasti akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam membuatku tak pernha melihatnya atau sarapan pagi bersama.

“Makanlah sarapanmu dulu sana, baru kau boleh duduk disnin,” ucap Ibuku yang tak lepas dari pandangan merajutnya. Aku hanya bisa merengut kesal dan tetap melaksanakan perintah Ibuku.

Dengan langkah yang ringan dan senyuman terpasang di wajah, aku masih saja membayangkan kegiatan pagiku tadi. Itu benar-benar membuatku senang seperti ini.

Ash! Lupakan lah, lebih baik aku segera makan dan setelah itu aku boleh pergi kemanapun aku mau.

***

“Hari ini mau kemana?” tanya Ibuku sambil masuk kedalam kamarku. Dengan perlahan aku membalikan tubuhku menghadap kearah Ibuku.

“Sepertinya berkunjung kerumah teman,” balasku kembali membalikan tubuhku menghadap kea rah cermin yang memantulkan wajah ovalku dan melanjutkan menyisir rambut dan memberikan polesan tipis bedak tabur di wajahku.

“Rumah Jong In?” ucap Ibuku yang membuat pipiku panas.

“Oh, Ibu! Sudah aku bilangkah? Aku tak akan bertamu kerumahnya, Ibu tahu kalau aku malu,” ucapku sambil menyisir rambutku yang sudah tak perlu aku sisir karena rambutku sudah rapih.

“Ibu menyukai Jong In, dia itu selain tampan, dia juga baik dan sopan. Itu yang membuat Ibu suka.” Ibuku berucap sambil menundukan tubuhnya di kasur empuk kesayanganku.

Aku hanya mengluh dalam hati. Aku memang sudah menebak bahwa Ibuku menyukai Jong In dari pada laki-laki lain. Padahal Ibuku baru bertemu dengan Jong In satu bulan yang lalu dan aku baru menjadi kekasihnya kurang lebih satu tahun yang lalu.

Ibu mengatakan padaku bahwa Jong In tak akan membuatku sakit hati untuk yang kedua kalinya, Jong In pasti bisa menjagaku dan pastinya menerimaku apa adanya bukan ada apanya. Saat Ibu menututkan kata seperti itu aku hanya mendengus pelan. Ibu saja belum tahu watak aslinya yang membuatku ingin sekali menjitak kepalanya itu. Tapi walaupun Jong In menyebalkan, ia laki-laki yang bertanggung jawab dan sopan.

Lamunanku terbuyar saat aku mendengar deringan ponselku, dengan cepat aku mengambilnya yang ada di meja riasku dan wajahku tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselku. Kim Jong In Calling. Dengan cepat aku menyentuh layat ponselku untuk menjawab panggilannya.

“Hallo,” sapaku lembut dan senyumku tak hilang dari wajahku.

Apa hari ini kau ada acara?” tanyanya langsung. Jong In selain tampan, menyebalkan, dan sopan ia juga orangnya blak-blakan. Itu yang membuatku menyukainya, karena aku tak menyukai laki-laki yang terlalu bertele-tele.

“Umm, sepertinya tidak ada. Tapi sebenarnya aku ingin berkunjung ke toko buku, untuk membeli sebuah novel.” Ucapku. Ya, rencanaku hari ini ingin memburu novel terjemah sebanyak mungkin.

Nah, ayo kita pergi. Hari ini hari minggu dan pastinya untuk sepasang kekasih untuk keluar dan jalan-jalan berdua. Iya bukan?” ucap Jong In dengan suara rianganya. Aku hanya bisa tertawa pelan, aku tahu sangat pasti kalau Jong In melebarkan senyumanya itu.

Kau tunggu aku, lima belas menit lagi aku pasti akan sampai. Dan jangan merias wajahmu menjadi cantik, karena aku tak suka dengan laki-laki di luar sana memandang wajahmu dengan penuh terkaguman. Kau mengerti? Walaupun kau hanya memakai kaos biasa kau akan tetap cantik. Sampai jumpa. Tutuplah panggilan ini.” Aku menutup telponnya seperti apa yang di katakannya. Ia memang seperti itu setiap kali ia menelponku, atau aku menelponnya. Aku pernah bertanya padanya kenapa harus aku dulu yang menutupnya, terus ia menjawab bahwa ia merasa tidak enak kalau bukan perempuan yang menutup telponnya. Saat itu aku hanya bisa tersenyum.

“Dari siapa?” aku menoleh dan mendapatkan Ibuku yang masih saja duduk di kasur empukku.

“Jong In. Dia mengajakku jalan hari ini.”

“Ah, Jong In. Ibu sudah lama tak melihatnya.”

“Bukankah Ibu baru pertama kali melihatnya itu satu bulan yang lalu dan setelah itu Ibu tak pernah melihatnya lagi bukan?” aku hanya bisa merengutkan keningku. Ibu tersenyum pelan dan tertawa pelan.

“Baiklah, cepat kebawah mungkin saja Jong In sudah sampai.” Aku memutar bola mataku saat Ibuku sudah pergi meninggalkan kamarku. Sudah sampai yang benar saja, Jong In masih dalam perjalanan dan sepeluh menit lagi ia pasti akan sampai.

***

“Hai, aku merindukanmu.” Ucap Jong In saat aku membukakan pintu rumahku untuknya. Ia memelukku begitu erat bak seperti orang yang tak pernah bertemu dengan kekasihnya selama sepuluh tahun.

Aku memukul punggungnya dengan keras yang membuatnya mengeluh kesakitan dan langsung mengelus-elus punggunya. Aku hanya bisa tersenyum melihat wajahnya yang merengut itu.

“Bukankah kemarin kita sekolah, dan aku satu kelas denganmu dan duduk di kursi yang sama. Kau ini berlebihan sekali.”

“Memangnya merindukan seorang kekasih saja taka boleh?” dia masih merengut kesal. Dengan cepat aku mengecup pipi kanannya.

“Eish! Aku juga merindukanmu. Ayo masuk, Ibu ada di ruang tamu ia ingin bertemu denganmu.” Ucapku bohong, padalah Ibu tak mengatakan bahwa ingin bertemu dengan Jong In.

“Hei, aku malu. Waktu itu aku bertemu dengannya malu sekali.” Ucapnya sambil menahan pergelangan tanganku.

“Gwenchana, Ibuku tak akan mengigit lehermu. Ibuku bukan vampire kok,” ia mendengus kesal dan aku hanya bisa tersenyum.

“Hei,”

“Ibuku menyukaimu. Kau tahu itu, jadi tak usah menjadi pemalu seperti itu bukankahkau itu sering memalu-malukan orang?” ucapku dan dia kembali mendengus kali ini dengusannya lebih keras.

“Ibu,”

Ibuku menoleh dan senyuman manis terpasang di wajahnya melihat Jong In yang ada di belakangku, “Jong In,” sapa Ibuku dengan nada senang. Ku tolehkan kebelakang menatap wajah Jong In dengan senyumanku.

“Annyeonghaseo,” sapa bali Jong In. Ibu masih memasang senyumannya dan menyuruh Jong In duduk di depan Ibuku dan pastinya aku di sampingnnya.

Mereka beruda terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dan itu membuatku tersenyum melihat Jong In yang awalnya sedikit canggung kini menjadi nyaman.

Kurang lebih satu jam kami mengobrol, Jong In meminta izin untuk memperbolehkannya ia membawaku untuk jalan-jalan hari ini. Dan Ibuku langsung mengiyakan izinan Jong In.

Aku duduk di samping Jong In yang menyetir mobilnya dengan konsentrasi penuh, karena kalau saja konsentrasinya terbuyar, kami pasti akan mengalami kecelakaan. Maklum, dia baru saja mendapatkan surat izin mengemudi beberapa bulan yang lalu.

Tangankku menyentuh layar ponselku, memilih-milih lagu yang ingin aku dengarkan lewat headsetku. Aku tak mau resiko lagi saat aku memutar sebuah lagu di radio mobil ini dan itu membuat Jong In tak bisa berkonsentrasi dan mengakibatkan kami hampir saja menabrak pohon yang sangat besar di jalan.

Setelah memili lagu yang cocok aku langsung menambhakan volume itu, menutup mataku perlahan untuk meresapi lagu-lagu mellow yang ada di ponselku.

Mataku terbuka dengan cepat, aku langsung menuju ke aplikasi Facebook. Kira saja ada pemberitahuan yang penting atau aku bisa membuat status kalau aku sekarang pergi dengan Jong In.

Ugh! Tidak. Opsi kedua itu aku tolak mentah-mentah. Aku bukan remaja labil yang sedang pergi dengan kekasihnya akan mengupdate statusnya.

Mataku menatap herah kearah pesan yang terpampang di layarku. Aku mendapatkan satu pesan. Dengan cepat aku langsung membukanya, setelah terbuka aku langsung kembali mengerutkan keningku lebih dalam saat tahu dialah—si brengsek—yang memberikanku pesan.

Apa lagi isi Pesan tersebut kembali menambah-nambahkan kerutan di keningku. Apa maksud dari pesan itu? Yang aku tahu pesan itu membuat perasaanku tidak baik.

Kabar bagaimana?

 

Isi pesan tersebut. Aku meninmbang-nimbang apakah aku harus membalasnya atau aku biarakan saja? Kulihat pengiriman pesan itu duapuluh empat menit yang lalu. Ehm…, lebih baik aku membalasnya saja dari pada aku tak tenang bukan?

Eh? Iya. Kabarku baik.

 

Itu balasanku padanya. Aku meras bingung harus membalas seperti apa. Bisa kalian bayangkan, aku dan dia sudah tak pernah berhubungan di saat ia masuk sekolah menengah atas. Karena kekasih tempramentalnya itu yang membuatku tak menghubunginya. Aku dengan yakin dan pasti bahwa ia juga mengganti nomor telponnya.

Aku menunggu pesan itu terbalas dengan melakukan kegiatan melihat-lihat berandaku. Sudah hampir kurang lebih sepuluh menit ia tak membalas pesanku. Aku yakin bahwa ia sudah tak membuka facebooknya. Dengan cepat aku mematikan ponselku dan memandang pemandangan yang ada di depanku, lagi pula hari ini aku sedang kencan dengan kekasihku untuk apa aku memikirkan mantan kekasihku itu.

***

Sudah pukul Sembilan malam, aku baru saja pulang dari acara kencanku dengan Jong In. Ibuku tak pernah memarahiku atau apa jika aku pulang malam seperti ini. Sepertinya Ibu benar-benar menyukai Jong In dan aku yakin pasti bahwa Ibuku juga akan merestuiku dengan Jong In. memikirkan ini membuatku tersenyum bak orang gila.

Aku bangkit dari posisi tengkurapku dan duduk bersandar di kepala ranjangku. Dengan pelan aku menghembuskan napasku pelan, hari ini benar-benar melelahkan sekaligus menyenangkan.

Sebenarnya aku dan Jong In selalu saja pergi kemana saja setelah pulang kuliah atau apa, tapi hari ini benar-benar yang paling menyenangkan. Mungkin yang membuatku bahagia ini karena hari ini aku seharian berduaan dengan Jong In. sepertinya aku terkena sindrom remaja labil.

Dengan cepat aku beranjak dari dudukku berjalan kearah kamar madiku yang terletak di sebelah pojokan ruang di kamarku. Tubuhku sepertinya perlu sekali untuk di majakan dengan air hangat dan dengan aroma lavender yang menenangkan. Sepertinya itu ide yang bagus.

***

Setelah mandi aku kembali menidurkan tubuhku. Tapi belum sampai aku merilekskan tubuhkku, aku teringat bahwa aku lupa di mana ponselku.

Aku lupa dimana aku menyimpan ponselku, dengan malas aku beranjak dari kasurku, melangkah kearah meja riasku, tasku ada di atas meja. Setelah sampai aku mengambil tasku lalu tanganku masuk untuk mengambil ponselku.

Setelah ponselku ada di tanganku, dengan segera aku membuka aplikasi facebook. Hari ini aku tak membukanya, pasti banyak sekali hal-hal yang tak aku ketahui seharian ini.

Setelah menunggu beberapa menit, munculah kabar berita yang ada di Timeline facebookku. Mataku dengan tak sengaja melihat ada satu pesan yang terdapat pada inbox facebookku. Dengan cepat aku mengeklik inbox, menunggu sebentar dan aku mengerutkan keningku heran.

Dia lagi. Dia membalas pesanku. Dengan cepat aku membaca pesannya.

‘Boleh bertanya?’

 

Aku hanya bisa mengerutkan keningkku. Dari pada penasaran lebih baik aku membalasnya.

‘Boleh.’ Balasku yang singkat dan padat. Tak berbelit-belit.

Aku menunggu balasan darinya dan beberapa menit lamanya akhirnya ada balasan juga darinya. Huh! Sepertinya aku terlalu mengharapkan ia membalas pesanku.

‘Boleh meminta nomor ponselnya?’

 

Mulutku menganga tak percaya dengan balasannya. Sialan, aku kira ia akan yang lebih penting dari ini. Ternyata ia hanya ingin meminta nomor ponselku saja.

Dengan bersungut-sungut tak jelas, aku dengan segera membalas pesannya.

‘Err—aku bingung, apakah aku harus memberikan nomor ponselku atau tidak. Tapi ya sudahlah, aku ini orang yang baik dan ini…’

 

Akhirnya aku memberikan nomor ponselku. Bukannya seperti wanita kegatelan atau apa, dia memang bekas kekasihku tapi apa aku tak boleh memberikan nomor ponselku saja? Hanya nomor ponsel, bukan hatiku yang aku berikan padanya. Hatiku sudah sepenuhnya milik Jong In. tapi aku agak ragu sekarang, sepertinya hatiku sedikit mengharapkan Donghae.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan pelan. Tak mungkin aku menginginkan Donghae. Aku yakin Donghae masih dengan kekasihnya yang kasar itu. Jadi lebih baik aku tak usah mengharapkannya lagi. Ingat, ada Jong In yang lebih baik dari Donghae.

Inboxku dibalas lagi olehnya, aku menunggu loading agar pesan ini terbuka dan setelah terbuka ia bertanya lagi. Dan pertanyaannya itu sukses membuat keningku berkerut-kerut. Aku akui kalau aku memang ehm—masih menyukainya, tapi dia ini memang gila sudah punya kekasih masih saja menannyakan yang aneh-aneh padaku.

Ia bertanya, ‘Apa kau sudah punya kekasih?’ aku hanya bisa mendengus membaca balasannya itu. Ternyata dia tak pernah berubah, masih saja brengsek seperti dulu.

Belum sempat mengetik sebuah kata untuk membalas pesannya, nomor tak di kenali ada di layar ponselku. Ok, ini berbelit-belit maksudku ada yang menelponku. Dengan kening yang kembali berkerut aku masih memandangi layar ponselku dengan benak bertanya-tanya.

Daripada lama aku memandangi layar ponselku dengan tatapan bodoh aku mengusap layar ponselku bermaksud untuk menjawab panggilan tersebut.

“Hallo…” oh…aku kenal dengan suara ini. Walaupun sudah hampir tiga tahun aku masih tetap mengenali suaranya itu. Entah tanpa sadar aku mengulaskan senyum tipisku yang pasti tak akan di lihat olehnya.

Aku berdeham pelan, “Ya, Hallo…” balasku agak pelan. Keadaan beberapa saat itu hening dan itu membuatku tak nyaman dengan keadaan tersebut.

“Apa kabar?” tanyanya akhirnya. Aku menghembuskan napasku pelan. Aku merasa canggung. Tentu saja, tiga tahun tak berhubungan pasti membuat kami canggung seperti ini.

“Kabarku? Hmm..tentu saja baik. Ada apa kau menelponku malam-malam seperti ini?” tanyaku sambil merebahkan tubuhku di kasur empukku ini.

“Wae? Tak bolehkan?” aku terkekeh pelan mendengar suaranya. Benar, dia benar-benar tak berubah sedikitpun.

“Ini kan sudah malam.”

“Kalau begitu matikan saja sambungan telpon ini. Maaf mengganggumu.” Ucapnya pelan. Aku terkekeh.

“Kau ini terlalu menganggap ucapanku serius. Aku hanya bercanda.”

“Kau tak berubah, ya selalu seperti ini. Ngomong-ngomong kau sedang apa?”

 

“Aku? Tentu saja kau pasti tahu apa yang di lakukan olehku jika sudah tengah malam seperti ini.”

“Kau selalu tidur malam. Insomnia. Apa itu tak bisa hilang darimu?”

 

“Aku juga tidak tahu. Entahlah mungkin ini sudah menjadi bagian dari tubuhku. Dan kau juga sama tak pernah berubah. Masih saja sama seperti tiga tahun yang lalu.” Ucapku di akhir kata dengan sangat pelan. Bagaimanapun kalau boleh jujur aku masih punya harapan dengannya. Tapi dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepalaku, menyadarkan bahwa aku mempunyai Jong In.

“Benarkah? Wah, kau memperhatikanku ya selama ini?” aku tergelak mendengar pernyataannya. Apa yang dia bilang tadi? Memperhatikannya? Dalam mimpi, hari ini saja aku dan dia baru saja saling berkomunikasi.

“Lihat, kau masih saja tetap bodoh seperti Lee Donghae tiga tahun yang lalu.”

“Hei, aku ini tidak bodoh. Enak saja. Ngomong-ngomong, Jaekyung-ah aku merindukanmu.” Ucapnya pelan. Aku menahan napasku saat ia mengatakan kata-kata mujarab yang mengakibatkanku diam seperti ini.

“Kau sudah punya kekasih dan kau berani-beraninya mengatakan kata seperti ini.” Kekehku agar suasana tak menjadi canggung.

“Aku tak boleh merindukanmu?” tanyanya. Aku hanya bisa mengigit bibir bawahku saja agar aku tak membalas katanya. dalam hati aku menjeritkan kata-kata bahwa aku juga merindukannya.

“Aku sudah mempunyai kekasih.” Ungkapku pelan. Ia diam dan akupun diam.

“Jadi kau sudah punya kekasih, ya? Wah, aku lancang sekali merindukan kekasih seseorang.” Ucapnya beberapa saat setelah dia diam. Aku tak membalas ucapannya, yang aku lakukan hanya diam mendengar helaan napasnya.

“Sudahlah. Kau sendiri juga sudah mempunyai kekasih bukan?”

“Iya sih. Tapi, tak bolehkah bahwa aku merindukanmu?”

 

“Baiklah, kalau boleh jujur aku juga merindukanmu, bodoh!!” ucapku malu-malu. Sial, kenapa aku malah mengungkapkannya? Dengarkan, dia terkekeh pelan di seberang sana.

“Lihat bukan, kau saja merindukanku. Mhhh…ternyata pesonaku masih bisa menghipnotismu, yah? Bahkan dari suaraku saja bisa membuatmu merindukanku..” aku mendengus kesal mendengar penuturannya. Ternyata aku salah mengucapkan sesuatu pada orang ini.

“Terserah kau saja. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya.”

Setelah mengatakan kata seperti itu kami berdua diam. Tak tahu apa yang harus aku bicarakan padanya. Aku juga yakin bahwa dia bingung ingin mengatakan apa padaku. Aku melirik kearah jam dindingku yang membunyikan suara detikan jarum jam yang menjadi Backsound kebisuan kami.

Dengan pelan aku berdeham untuk menghapus rasa canggung seperti ini, “Ehm…” aku yakin ia terlonjak kaget di sana. “Seperti biasa, setiap menelpon ataupun di telpon kau tetap saja diam bak orang tolol.”

“Hei,” ucapnya tak terima. Aku terkekeh.

“Bicaralah.” Ucapku tak sabar. Ku dengar ia menghembuskan napasnya pelan.

“Aku bingung harus mengatakan apa padamu,” ujarnya ambingu. Aku hanya mengerutkan keningku tak tahu harus mengatakan apa.

“Sudahlah. Ok, aku sajalah yang bicara. Ehm..ngomong-ngomong, aku tak menyukai kekasihmu yang kasar itu. Walaupun, kau pasti tahu aku seperti apa, kasar ngomong apa adanya dan lain-lain tapi kekasihmu itu tak bisa di toleransi. Aku tahu dia merasa cemburu atau apa, tapi dia oh aku benar-benar tak menyukainya.”

“Maklumi saja dia masih kecil—aku mendengus mendengarnya—hei, aku tahu kau mendengus di seberang sana. Dia memang kenyataan masih kecil. Walaupun dua tahun di atasmu, aku masih mengakui bahwa kau masih lebih dewasa darinya—”

 

“Maka dari itu kau didiklah dia agar bersikap sopan dan jangan membuatku naik darah setiap kali aku membuka akun di situs jejaring sosial. Setiap kali aku membuat status tentang cinta-cintaan atau apa dia selalu menuduhku bahwa status itu untukmu,” ucapku pelan.Donghae kembali terkikik pelan mendengar ucapan tak sukaku pada kekasihnya. “Dan kau juga semakin kesini semakin bertambah playboy, apa kau tak merasa kasihan dengan kekasih kasarmu itu? Kau menyelingkuhi dia.”

“Dia sedang ada di jepang akhir-akhir ini. Jadi aku putuskan untuk mencari yang kedua yang lebih menyenangkan darinya.” Aku menatap datar kedepan setelah mendengar ucapannya tadi. ‘Mencari kedua yang lebih menyenangkan darinya’ sialan, jadi dia menelponku untuk menjadi pelampiasannya?

“Kau menganggapku bahwa aku menjadi pelampiasanmu?” tanyaku menyelidik.

“Tidak, tidak. Aku tak menganggapmu sebagai pelampiasanku, kok. Dia yang menjadi pelampiasanku. Yah, kau tahu lah..” aku mengembangkan senyumku. Entah apa yang membuatku tersenyum seperti ini. “Ngomong-ngomong kau sudah makan?” aku memutar bola mataku bosan. Pertanyaan apa itu?

“Ini sudah malam, yang berarti bahwa aku sudah makan. Memangnya kenapa?”

“Galak sekali. Aku kan hanya bertanya. Kalau kau belum makan kan aku bisa melemparkan makanan yang ada di hadapanku padamu. Hitung-gitung kita makan malam berdua.” Aku tergelak mendengar ucapannya. Donghae, selain bodoh playboy dan masih banyak lagi julukan-julukan jelek untuknya, dia masih bisa melawak yang membuatku bahagia seperti ini.

“Aku kan memang galak, kau saja yang tak paham-paham dengan segala sifatku. Ah, lupakan. Ngomong-ngomong kau kuliah dimana?”

“Aku? Di Seoul, jurusan bisnis. Kau tahu lah, aku harus di tuntut untuk meneruskan pekerjaan ayahku.”

 

“Bahkan aku belum memberikan pertanyaan jurusan apa yang kau ambil, kau sudah menjawabnya terlebih dahulu.” Aku menguap, tanganku menutupi mutulku. Aku lelah, dan aku mengantuk. “Sudah larut malam ternyata,” ucapku pelan.

“Yah, benar. Apa aku harus menutup sambungan ini?” tanyanya. Aku mengangguk dan aku yakin bahwa ia tak akan tahu apa yang aku lakukan. Tentu saja, Han Jaekyung bodoh. Kalau dia tahu aku dan dia berbicara empat mata bukan dua bibir saling berjauhan seperti ini.

“Kalau kau mau tak usah menutup telponnya sampai pagi, dan aku pergi tidur aku lelah sekali hari ini.”

“Baiklah kalau begitu. Aku menutup telpon ini, tapi sebelum aku menutupnya, aku akan mengatakan bahwa aku masih menyangimu masih merindukanmu. Maafkan aku untuk yang dulu, yang telah menyakitimu. Maafkan segalanya. Aku merasa bersalah untuk semuanya. Han Jaekyung, Saranghaeyo… annyeong…”

 

Sambungan telpon terputus sebelum aku membalas ucapannya itu. Kalau boleh mengatakan aku juga masih menyukaimu, masih menyayangimu, merindukanmu dan semuanya. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu. Kau memang menyakitiku, memang playboy dan segala macamnya tapi aku tetap menganggapmu bahwa kau adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal.

Aku menatap foto yang sempat aku ambil dari akun pribadinya. Ternyata dia berubah drastis, dia semakin tampan di usianya yang bertambah. Pesonannya memang tak pernah hilang masih semenggoda dulu. Hilangkan ingatan tentang Donghae semenggoda itu, fokuskan pada kekasihmu juga, Han Jaekyung, Jong In tak kalah menggodan dari Donghae.

Kuletakan ponselku—sebelumnya mengirim pesan padanya— di atas nakas lalu merebahkan tubuhku dikasur empukku, memejamkan mataku yang semakin lama semakin  terpejam lelap. Akan aku ingat kejadian tadi selamanya. Kami memang tak bisa bersatu, tapi hatiku dan hatinya sama.

For Donghae:

 

AKU JUGA MENCINTAIMU.

 

 

 

END

 

 

 

Hallo… ini Cuma selingan aja. Wakaka cerita yang ngga tau apa maksudnya, Cuma yah aku Cuma mau nyalurin apa yang aku alami dua minggu yang lalu. Ekhm—oke ini emg real, tapi endingnya di sini sama yang real itu beda banget!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Cuma di sini aku buat Donghae manis-manis gitu. Ah udah ah, ini juga makin absurd. Pokoknya disini Jaekyung-Donghae ngga bersatu. Jaekyung sam Jong In. Donghae ngga tau sama siapa. Wakaka

 

PS: NGGA ADA SEQUEL!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

 

THANK YOU…

 

 

 

12 thoughts on “His Back! [One Shot]

  1. Apanya yang gak butuh sequel???? BUTUH banget. Jaekyung harus ninggalin Jong In. Secara, Lee DongHae lebih mempesona daripada Jong In.

    Pada tanggal 09/08/13, Harmonia Nectere Passus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s