If This Was a Movie [Part 9]

 

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

If This Was a Movie by Taylor Swift

 

Warning: TYPO EVERYWHERE!!! Jadi kalo ada Typo bilang yahhh :*

 

***

 

THE WEDDING.

 

 

 

Jaekyung menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini hari bahwa ia harus melepaskan masa lajangnya. Hari ini ia akan menikah, akan terikat dengan seseorang yang tak di harapkan olehnya. Perlahan ia menghembuskan napasnya pelan, tinggal menunggu satu jam lagi bahwa ia sudah terikat oleh Donghae.

Kalau ia sudah gila atau apa, ia ingin sekali pergi entah kemana. Menghilangkan dirinya dari peradaban ini. Jaekyung sudah cukup lelah, tsk! Padahal janji suci belum terucap dari bibirnya pun ia sudah merasa lelah seperti ini.

Tangannya dengan perlahan mengusap wajahnya yang masam, padahal dirinya sudah memakai make up dan gaun yang di pilih oleh Donghae satu minggu yang lalu. Jaekyung beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan cermin yang memantulkan dirinya. Jaekyung tersenyum kecut melihat pantulan dirinya didepan cermin.

Jujur, Jaekyung masih tak percaya bahwa didepannya adalah dirinya sendiri. Jaekyung yang biasanya dengan penampilan sehari-hari hanya memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans, dengan powder bayi yang ia gunakan di wajahnya. Dan kini sekarang ia melihat dirinya memakai gaun, memakai make up yang entah apa saja yang sudah di tempelkan di wajahnya, pokoknya Jaekyung masih tak percaya bahwa di depannya adalah dirinya.

Jaekyung berpikir bahwa semua orang hari ini sangat sibuk sekali di bawah sana. Ia ingin sekali keluar tapi mau bagaimana lagi? Ia tak di perbolehkan keluar oleh ibunya dan Ibu Donghae, jadi selama beberapa jam terakhir dan satu jam kedepan ia hanya bisa duduk termenung, menatap wajahnya yang telihat di cermin. Wajahnya memang cantik, tapi tak menyiratkan bahwa ia bahagia dengan pernikahann ini.

Bagaimana tidak bahagia, Jaekyung menikah karena dirinya di hamili oleh Lee Donghae. Kalaupun tidak, ia juga masih bisa menikmati hari-hari seperti yang ia ia lakukan di kampusnya, atau ia pulang lalu tidur didalam kamarnya.

Jaekyung mendongak saat ia mendengar pintu terbuka. Bibirnya mengembang saat melihat siapa yang datang ke kamarnya. Ternyata sahabat setianya. Jaekyung membalikan tubuhnya yang semuala menghadap kearah kaca kini ia menghadap kearah kedua sahabarnya yang hadir pada acara pernikahannya.

“Err—maaf apa kau Han Jaekyung?” tanya Hye Ji sambil mengembangkan senyumnya. Jaekyung tertawa renyah saat mendengar candaan dari sahabatnya.

“Tentu saja ini aku, Han Jaekyung yang cantik.” Balas Jaekyung sambil memeluk Hye Ji.

“Kau terlalu mendadak, kau tahu. Aku sampai tak percaya saat Gikwang berkunjung kerumahku dan memberikan undangan pernikahanmu dengan Donghae Sunbae.” Ucap Hye Ji sambil menundukan tubuhnya di kursi yang ada di samping meja rias.

“Iya, aku saja sampai berulang kali melihat undanganmu itu, Jaekyung-ah. Ini apa kau benar atau tidak tapi ternyata kau memang benar, sekarang kau menikah dengan Donghae Sunbae. Kau terlalu terburu-buru.”

“Tapi yang aku ingat, kau dulu sama sekali tak pernah tertarik dengan Donghae Sunbae. Tapi, apakah aku pernah bilang bahwa kau dan Donghae Sunbae itu sangat cocok sekali?” ucap Hye Ji menggebu-nggebu, membuat Jaekyung meringis pelan melihat kedua sahabatnya yang terlihat kesenangan.

“Bukankah semua orang bisa berubah?” tanya Jaekyung. Kedua sahabatnya mengangguk pelan dan melempar senyum pada Jaekyung.

“Yah, benar. Semua orang bisa berubah. Tapi itu juga tergantung pada orangnya sih.” Jawab Gikwang.

“Han Jaekyung aku masih tak percaya bahwa kau akan menikah terlebih dahulu dari pada kami berdua. Bukahkah waktu kita di masa-masa dalam sekolah menengah pertama kau bilang, bahwa kau tak ingin mendahului kami untuk menikah, tapi lihat sekarang, kau menikah dan membuatku bahgia. Aku bahkan sempat beranggapan bahwa kau tak pernah terpesona oleh seorang dengan berjenis kelamin laki-laki. Tapi, sekarang kau menikah.” Ucap Hye Ji panjang lebar, membuat mata Jaekyung menyipit tak suka dengan ucapan sahabat perempuannya ini yang mempunyai mulut tak bisa di rem. Dia pikir, bahwa dia beranggapan bahwa aku tak normal, umpat Jaekyung dalam hati.

“Hei, aku ini normal, enak saja. Kau tak ingat bahwa aku menyukai beberapa seorang dengan berjenis kelamin laki-laki?” ucap Jaekyung tak terima.

“Tapi bukankah semua yang kau kagumi itu bersifat tak nyata?” ucap Hye Ji polos membuat Jaekyung menngeram kesal. Gikwang hanya bisa tersenyum tak jelas melihat percakapan antara sahabatnya dengan kekasihnya.

“Ternyata pikiranmu masih saja polos, Hye Ji-ya.” Ucap Jaekyung sambil menghembuskan napasnya.

“Aku lupa. Ini, aku memberikan hadiah pernikahan untukmu. Kau tahu, itu memang tak terlalu bagus, aku tidak bisa mencarinya yang lebih bagus dan lebih besar, itu juga di karenakan kau terlalu mendadak sekali.” Jaekyung membuka bungkusan kado dari Hye Ji dan Gikwang. Sepasang gelang dengan bertuliskan Safe yang ada di tengahnya.

Jaekyung mendongak, “Safe? melindungi?” tanyanya tak paham.

“Gelang pasangan ini aku tak sengaja melihatnya di toko perhiasan . Ini memang harganya tak seberapa untukmu dan suamimu yang memang orang kaya, tapi aku membelinya karena aku tertarik dengan kata Safe itu. Aku berharap pernikahan kalian selalu di lindungi.” Dengan cepat Jaekyung memeluk Hye Ji. Berbisik dan mengucapkan kata terima kasih padanya.

“Shhhss..kenapa kau malah menangis? Tenang semuanya akan baik-baik saja. Ini hanya sindrom pra-nikah.” Ucapnya sambil mengelus punggung Jaekyung dengan pelan.

Dalam hati Jaekyung ia mengerutuk karena telah membohongi kedua sahabatnya yang sangat ia sayangi. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah terlanjur terjadi, jadi jalani saja. Tidak ada waktu untuk membatalkannya.

“Hei, sudah, sudah kenapa jadi seperti ini. Lihat make upmu jadi berantakan seperti ini.” Hye Ji menghapus air mata Jaekyung yang masih saja keluar. Dengan perlahan bibir Jaekyung melengkungkan senyuman untuk Hye Ji.

“Kalau begitu kami keluar Jaekyung-ah. Upacara pernikahanmu tinggal setengah jam lagi. Aku menunggumu di sana. Jangan kabur, ok!” Jaekyung menganggukan kepalanya, melambaikan tangannya pada kedua sahabatnya yang keluar dari ruangan yang di huni olehnya.

Dengan perlahan Jaekyung menghadapakan kembali dirinya pada cermin di depannya. Menghapus bekas iar mata yang ada di pipinya. Make upnya hanya berantakan sedikit. Ia hanya menambahkan bedak pada kulit wajahnya dan yah, wajahnya kembali seperti semula.

Jaekyung memandang jam yang ada di atas nakas. Benar apa yang di katakana oleh Gikwang tadi upacara pernikahannya akan di mulai setengah jam lagi. Hatinya semakin gugup, hatinya semakin gelisah. Apa yang harus ia lakukan? Kabur dan pasti akan memalukan kelurganya dan keluarga Donghae dan apakah ia akan tetap menunggu seperti ini. Lebih baik ia menunggu dan menikah dengan Donghae, walaupun nanti di akhir ia akan menyakiti semuanya.

Perlahan kedua tangannya menangkup wajahnya. Jaekyung pusing memikirkan apa yang akan terjadi setelah dirinya menikah dengan Donghae nanti. Apa akan baik-baik saja? Apa sebaliknya? Dan yah, lebih baik ia tak usah memikirkannya.

Jaekyung kembali membalikan tubuhnya saat ia mendengar pintu kamar yang ia tempati terbuka kembali. Tapi sekarang yang mengunjunginya bukan sahabatnya, melainkan sepupunya dengan cengiran lebar tapi kemudian cengiran itu hilang dan diganti dengan wajah khawatir.

“Kau habis menangis?” tanya JiHyo sambil memegang bahu Jaekyung, kemudian mengelus punggung Jaekyung dengan lembut bermaksud untuk menenangkan saudaranya ini

JiHyo memandang Jaekyung yang sedang mengusap kedua matanya dengan pelan, Jaekyung hari ini terlihat cantik sekali. Tapi aslinya juga memang cantik, tidak di ragukan juga bahwa sepupunyanya menjadi bahan perbincangan oleh para kaum adam di kampusnya. Apalagi akhir-akhir ini Jaekyung yang sering pergi bersama atau jalan berduaan dengan Donghae yang notaben laki-laki popular juga yang sering menjadi perbincangan kaum adam yang cemburu oleh keduanya.

JiHyo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, bagaimana kalau pernikahan Jaekyung dan Donghae di ketahui oleh seluruh mahasiswa di kampusnya? Bisa-bisa kabar seperti ini akan menjadi bahan-bahan perbincangan yang akan menjadi berita terpanas selama kurang lebih satu minggu.

Perlahan JiHyo menuntun Jaekyung untuk kembali menatap kearah cermin yang ada di depannya, kemudian JiHyo mulai membenarkan make up Jaekyung. Sebenarnya hanya sedikit yang berantakan akibat air mata Jaekyung, tapi JiHyo ingin melihat sepupunya terlihat sempurna di hari pernikahannya ini.

“Tsk! Aku tahu kau terkena sindrom pra-nikah, tapi tak usah menangis tersendu-sendu seperti ini,” tegur JiHyo yang mulai kurang suka dengan acara-tangis-menangis-Jaekyung.

Jaekyung masih diam, tak menanggapi omelan JiHyo yang terdengar ketus di telinganya. Perkataan JiHyo benar-benar bertolak belakang dengan apa yang di alaminya sekarang. Jaekyung tidak mengalami sindrom pra-nikah seperti apa yang di katakana oleh JiHyo tadi, hanya saja ia bingung dengan pernikahan ini. Jaekyung tak menginginkannya dan Donghae juga tak menginginkannya. Mereka berdua melakukan ini demi janin yang ada di dalam perut Jaekyung dan demi nama baik keluarga masing-masing. Jadi lebih singkatnya pernikan mereka tak di dasari oleh cinta.

Cinta? Hah! Apa itu cinta? Jaekyung tertawa dalam hati. Selama Sembilan belas tahun ia hidup di dunia ini ia tak pernah merasakan apa yang namanya cinta. Mari bilang munafik pada pemeran utama kita ini −Jaekyung−, dia memang pernah merasakan apa yang namanya cinta, tapi cinta itu mengkhianatinya yang membuatnya tak ingin merasakan apa yang namanya cinta lagi.

Yang Jaekyung rasakan tentang cinta itu yang pasti sangat menyakitkan. Waktu itu memang dirinya masih berumur empat belas tahun, yang pasti umurnya yang sudah menginjak remaja ia pasti tahu mana yang tulus dan mana yang tidak tulus. Saat itu Jaekyung mengagumi seniornya waktu ia masih di sekolah menengah pertama, seniornya mengetahui bahwa Jaekyung menyukainya. Kemudian seniornya mendekati Jaekyung memberi perhatian lebih yang membuat Jaekyung menjadi bertambah menyukainya dan kemudian tumbuh benih-benih cinta.

Jaekyung dan senior tersebut kemudiam menjalin hubungan mereka yang pada saat itu banyak sekali senior-senior wanita yang tak menyukainya. Memang sejak awal ia masuk sekolah saja Jaekyung sudah banyak yang membencinya. Jaekyung sendiri tak tahu mengapa banyak yang membencinya, yang Jaekyung tahu ia tak pernah berurusan dengan mereka semua.

Beberapa bulan mereka menjalin hubungan, Jaekyung merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan hubungannya. Terlihat dari gelagat kekasihnya yang tak pernah member perhatian lagi padanya, pokoknya semuanya yang membuat Jaekyung senang tak pernah di lakukan lagi, tak pernah bertemu lagi. Jika Jaekyung mengajak untuk pergi mengantarnya ke toko buku, kekasihnya selalu saja mempunyai alasan bahwa ia sibuk atau alasan yang lainnya.

Merasa tak percaya dengan ucapannya, Jaekyung hari itu membuntuti kekasihnya yang menolak kembali ajakannya untuk pergi ke toko buku. Selama beberapa menit mengikuti kekasihnya yang entah kemana, akhirnya Jaekyung menemukan kekasihnya yang masuk kedalam Coffee Shop yang tak jauh dari bangunan sekolahnya. Jaekyung yang saat itu langsung memakai topi dan syalnya langsung duduk bersebrangan dengan kekasihnya yang hanya berjakar satu meja yang pasti Jaekyung mendengar pembicaraan kekasihnya yang entah dengan siapa.

Saat itu Jaekyung hanya bisa melongo siapa yang di temui oleh kekasihnya saat itu, teman satu kelasnya yang selalu menanyakan tentang kekasihnya. Tsk! Pantas saja dia menanyakan tentangnya ternyata mereka bermain di belakangku. Runtuk Jaekyung dalam hati. Mata Jaekyung memblalak tak percaya apa yang di lihatnya, kekasihnya mencium pipi teman sekelasnya. Ini tidak bisa di percaya.

Dengan hati yang dongkol akibat pembicaraan mereka, Jaekyung langsung mendorong kursinya dengan kasar membuat beberapa pengunjung hari itu agak banyak memandanganya dengan pandangan tak suka. Jaekyung langsung melepaskan topinya dan memandang kekasinya dan teman sekelasnya dengan pandangan datarnya yang membuat mereka berdua bertambah kaget dengan kehadirannya. Jaekyung langsung mengambil gelas kopinya yang belum ia minum, tangannya hampir menuangkan kopi tersebut di atas kepala kekasihnya, tapi ia urungkan kembali karena ia tak mau menyia-nyiakan minuman yang tak ia sukai terbuang sia-sia.

Jaekyung hanya bisa mengatakan brengsek pada kekasihnya lalu meminum kopinya sebelumnya mengrutuki diri karena meminum cairan pahit dan kemudian ia melenggang pergi. Dan saat itulah Jaekyung tak pernah percaya dengan apa yang namanya cinta. Jaekyung hanya sebatas mengagumi dan menyukai, tak pernah melebihi dari perasaan menyukai dan mengagumi.

“Kau melamun,” Jaekyung tersentak kaget saat JiHyo menepuk pundaknya pelan.

“Err—aku tidak melamun,” ucapnya bohong. JiHyo hanya bisa tersenyum simpul melihat gelagat sepupunya itu.

“Baiklah. Aku kesini hanya ingin mengatakan ucapan selamat padamu atas pernikahanmu dengan Donghae yang bertanggung jawab atas kehamilanmu,” Jaekyung menghembuskan napasnya pelan mendengar ucapan selamat JiHyo.

“Dia bertanggung jawab bukan?” tanya Jaekyung, JiHyo menganggukan kepalanya.

“Aku berharap kalian bahagia nantinya.”

“Ya, bahagia nantinya.” Ucap ulang Jaekyung dengan pelan. JiHyo menaikan alisnya mendengar suara sepupunya yang melemah dan pelan. JiHyo merasakan ada yang tidak beres dengan sepupunya ini.

“Kau bisa ceritakan apa yang kau rasakan sekarang, apa yang kau alami yang tak ku ketahui, hmm?” ucap JiHyo dengan sungguh-sungguh yang membuat Jaekyung mendongakan kepalanya.

Dengan ragu apakah dirinya harus memberitahukan pada JiHyo atau tidak usah? Tapi kalau ia tak memberitahukan pada JiHyo hatinya tak pernah tenang. Mungkin kalau sudah member tahukan pada JiHyo hatinya akan tenang.

“Bagaimana?” tanya JiHyo sekali lagi.

“Aku bingung apa yang harus aku katakan, banyak sekali yang ingin aku utarkan padamu.”

“Yang menurutmu penting saja, kau bisa memberitahuku. Aku berjanji bahwa aku tak akan memberitahukan pada siapapun. Aku berjanji bahwa apa saja yang di ucapkan olehmu, akan menjadi rahasia kita berdua.” Ucap JiHyo bersungguh-sungguh. Jaekyung menatap JiHyo dengan tatapan bingungnya yang di balas dengan remasan pelan di bahu Jaekyung oleh tangan JiHyo.

“Apa yang kau lakukan jika kekasihmu atau laki-laki lain bertemu denganmu lalu kalian akan menikah karena kesalahan yang tak sengaja lalu sebelumnya kalian membuat keputusan bahwa untuk beberapa bulan kemudian kalian bercerai?” Jaekyung memberikan pertanyaan yang membuat JiHyo mengerutkan keningnya tak paham.

“Apa maksud—oh, sebentar, maksudmu Lee Donghae itu memberikan keputusan seperti itu? Astaga brengsek sekali dia?” ucap JiHyo tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Jaekyung tadi.

“Ini keputusan kami berdua. Ini kesalahan, dia mempunyai kekasih dan yang membuat Donghae terpaksa harus mengakhiri hubungan mereka.”

“Kau salah. Maksudku kalian. Hubungan mereka memang sebelumnya sudah berakhir. Kau bisa mengandung janinnya memang karena saat itu Donghae sudah mengakhiri hubungan dengan Hye Mi, karena saat itu ia frustasi dengan hubungannya berakhir, dan yang aku ketahui karena Kyuhyun yang memberitahukanku bahwa saat itu pula Donghae memang menginginkan sekali dirimu saat itu karena kau sendiri tak pernah tertarik olehnya, jadi ia mendekatimu yang aku ketahui bahwa itu sialnya bagimu bahwa kau mendekati Donghae yang sedang mabuk (Jaekyung melotot tak terima) maaf, ini semua memang salahku.” Ucap sesal JiHyo.

“Hei, ini bukan kesalahanmu. Ini salahku sendiri yang tak aku ketahui bahwa aku mendekati Donghae yang saat itu sedang mabuk.”

“Maaf, seharusnya aku mendahulukan sepupuku terlebih dahulu dari pada Cho Kyuhyun yang saat sedang mabuk saat itu. Seharusnya saat itu aku membawamu pulang kerumah, bukannya meninggalkanmu sendirian di pesta yang tak jelas itu.”

“Sudahlah, ini semua sudah terjadi. Jadi tak usah kau sesali.”

“Kenapa kau tak mengatakan padaku sebelum pernikanmu ini terjadi? Kau kan bisa mengatakannya, lalu aku akan mengatakan pada kedua orang tuamu dan kedua orang tua Donghae, ini semua sudah terlanjur basah dan ini semua sudah terlanjur membohongi semuanya.”

“Walaupun kau mengatakan pada orang tuaku atau orang tua Donghae, pernikahan ini akan tetap berjalan.”

“Tapi tetap saja, setelah itu kalian bercerai dan itu akan menyakiti hati kedua orang tuamu, Jaekyung-ah. Bukan, bukan kedua orang tuamu, orang tua Donghae juga pasti akan terasa sakit. Lalu kedua sahabatmu itu.”

Jaekyung menundukan kepalanya, meresapi apa yang di ucapkan oleh sepupunya. Ada benarnya juga, tapi bagaimana pun lagi nasi sudah menjadi bubur, jadi rencana seperti ini harus di teruskan tak boleh di putuskan.

“Sudahlah, jalani semuanya saja dulu. Tak usah berputus asa seperti ini. Yang lebih penting kau harus mengunggulkan janin kalian ini. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

***

Donghae menatap pantulan dirinya di depan cermin, dengan menggunakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya dirinya terlihat sangat tampan, oh, tidak dirinya memang sudah sangat tampan walaupun tubuhnya tak di baluti oleh jas yang sedang ia pakai sekarang.

“Hai, Hyung.” Mendengar sapaan dari belakang tubuhnya Donghae menoleh kebelang mendapatkan Kyuhyun yang ada di ambang pintu dengan cengiran yang terdapat pada bibirnya.

Donghae membalas senyumannya yang di berikan oleh Kyuhyun, “hei, sudah lama aku tak melihatmu. Ngomong-ngomong apa kabar?” tanya Donghae, Kyuhyun hanya terkekeh melihat temannya.

Sudah lama tak melihatmu? Seharusnya aku yang menanyakan pertanyaan itu padamu, bukan kau yang bertanya padaku. Kau yang sudah lama menghilang entah kemana, aku hanya mendengar berita yang beredar beberapa minggu ini, berita kedekatanmu dengan calon istrimu itu,”

“Benarkah? Ah, aku tidak tahu kalau begitu.” Donghae menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Entah, dia merasa gugup sekarang.

“Kalau boleh jujur, aku masih tak percaya bahwa Hyung akan menikah dengan Jaekyung, sepupu kekasihku sendiri. Aku bahkan tak percaya bahwa kalian selama ini menjalin hubungan, bukankah selama ini kau menjalin hubungan dengan Hye Mi? bukan Jaekyung.” Ucap Kyuhyun panjang lebar, membuat Donghae hanya diam mendengar penuturan Kyuhyun.

“Kau saja yang tidak tahu, bahwa aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Hye Mi. kau ingat tidak pesta tiga bulan yang lalu, diawal bulan april itu aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Hye Mi dan saat itu pula aku mendekati Jaekyung yang memang sedang sendirian bukan saat itu?” Kyuhyun mengangguk, memang ada benarnya juga. Tapi masa iya? Kyuhyun masih tak percaya dengan ucapan Donghae.

“Tidakah itu terlalu cepat? April dan sekarang akhir juli.” Ucap Kyuhyun pelan.

“Tidak boleh kah? Bisa saja, kan kalau aku memang tertarik dengan Jaekyung dan langsung menikahinya sekarang. Lagipula tak ada hak atau undang-undang tak boleh menikahinya cepat-cepat,” Donghae berucap dengan memamerkan senyumnya, menyembunyikan perasaan gugupnya. Sepupunya ini benar-benar menyebalkan, tidak bisakah hanya diam dan melihat? Cerewet sekali.

“Hn.. sudahlah, lebih baik aku keluar. Calon Istrimu itu sangat cantik, aku yakin itu. Kau tak akan  menyesal Hyung bisa menikahinya. Jangan sia-siakan dia, walaupun aku tahu bagaimana sikap dia yang menyebalkan, ceroboh dan kasar, tapi dia memang baik.” Donghae mengerutkan keningnya mendengarkan semua ucapan Kyuhyun, darimana dia tahu semuanya.

“Kau tahu semuanya?” tanya Donghae.

“Tak usah cemburu, kalau Jaekyung sedang sendirian dan sahabatnya sedang pergi entah kemana atau sibuk, Jaekyung pasti akan pergi kerumah JiHyo dan aku selalu bersama JiHyo. Intinya kami bertiga sering bersama. Tsk! Aku tidak menyangka bahwa kau memang tukang cemburu.” Donghae melotot kearah Kyuhyun yang langsung terkekeh keras. Kyuhyun melanjutkan, “dan juga Jaekyung tak suka dengan laki-laki manja sepertimu Hyung,” dengan cepat Donghae mengambil sesuatu yang ada di sekitarnya lalu melemparkannya pada Kyuhyun yang berlari.

Sialan! Rutuk Donghae dalam hati. Dasar setan kecil, sudah dewasa masih saja bersikap seperti itu dan dia berani-beraninya menceramahinya seperti Ibunya waktu itu. Atau mereka memang sudah berencana mengucapkan kata-kata seperti itu.

Donghae menggelengkan kepalanya pelan, merasakan pusing yang menderanya. Belum apa-apa saja dirinya sudah seperti ini. Donghae bertanya-tanya apakah kedua orang tuanya mengalami hal yang di rasakannya? Saat dulu, saat mereka akan melaksanakan pernikahannya. Sepertinya tidak, jawab pikiran lain. Karena kedua orang tuanya menikah dengan saling mencintai, bukan seperti dirinya yang menikah karena alasan bertanggung jawab apa yang telah di lakukannya.

Dengan kasar Donghae mengusap wajahnya, ia lelah, ia bingung. Donghae berfikir untuk mengentikannya, tapi Donghae, sungguh tak ingin melihat raut kekecewaan di wajah kedua orang tuannya dan tak ingin menyakiti kedua orang tuanya.

Jangan egois, bentak suara lain. Bukan hanya kedua orang tuamu saja yang merasa kecewa tapi masih banyak orang lain yang akan merasa kecewa dengan apa yang kau lakukan nanti, ucapnya lagi. Donghae hanya bisa mendengarkan penuturan suara-entah-milik siapa yang menjerit di pikirannya.

Pikiran itu benar juga, jangan egois. Ini sudah kepalang basah, lagi pula ini memang seharusnya bertanggung jawab karena memang dirinya yang membuat Jaekyung hamil seperti itu. Jadi jangan jadi seorang pengecut.

“Hai,”

Donghae kembali menoleh mendengar sapaan dari belakang tubuhnya. Lainnya, sapaan tersebut terdengar sangat lembut. Donghae melihat Hye Mi dengan balutan gaun terusan dengan warna coklat natural dengan rambut yang di gerai dengan gaya rambut keriting gantung, warna rambutnya hitam, mata bulat dan agak kemerahan, Donghae yakin bahwa Hye Mi habis menangisi dirinya. Jangan percaya diri dulu, Hye Mi menangis mungkin saja karena ia kehilangan uang atau apa. Jadi Donghae menghilangkan pikirannya yang mulai tak fokus itu.

“Hai juga,” balas Donghae sambil beranjak dari duduknya. Donghae melangkah kearah Hye Mi yang sedang menutup pintu ruangan tersebut.

“Kau terlihat tampan sekali hari ini,” ucap Hye Mi jujur yang membuat Donghae terkekeh.

“Bukankah aku memang sudah sangat tampan dari dulu?”

“Kau masih saja seperti Lee Donghae,”

“Aku memang Lee Donghae. Memangnya kau mengaharapkan aku ini siapa?” ucap Donghae pelan.

“Ternyata hari ini memang terjadi. Saat aku terbangun dari tidurku, dengan berdiam diri di atas kasurku yang epuk dan menerawang langit-langit kamarku, aku ingin hari ini tak terjadi atau aku ingin menghilangkan hari ini.” Ucap Hye Mi melantur tak jelas yang membuat Donghae menundukan kepalanya.

“Kau harus menerima semuanya, Hye Mi-ah. Ini memang kenyataan dan bangunlah dari dunia luarmu itu hadapi kenyataan ini dengan lapang dada.” Donghae menyentuh pundak Hye Mi yang polos dan mengelusnya dengan pelan.

Donghae masih mengelus pundak Hye Mi dengan lembut, bermaksud untuk menenangkan Hye Mi yang sedang kalut seperti ini. “Kau pasti mendapatkan seseorang yang melebihku, aku yakin itu. Kau bisa melepaskanku, jangan mengharapkanku yang tak tentu ini. Kau tahu aku akan menjadi seorang suami.”

“Tapi aku benar-benar tak menerima semua ini. Donghae-ah, berhenti sebelum segalanya telambat, tolong. Aku masih mencintaimu.” Ucap Hye Mi tercekat sambil mencengkram kemeja Donghae dengan kuat.

Donghae langsung menarik Hye Mi kedalam pelukannya, mengelus punggung Hye Mi yang tak terbalut oleh kain gaunnya. Donghae semakin bingung, di sisi lain ia masih mencintai Hye Mi dan di sisi lain juga ia merasa ketertarikan pada Jaekyung yang akhir-akhir ini hadir dalam hidupnya.

Masih mendekap Hye Mi di dalam pelukannya Donghae bergumam menenangkan Hye Mi. “Aku tahu kau masih mencintaiku,” ucap Hye Mi pelan. Donghae menggelengkan kepalanya.

“Semua rasa yang aku rasakan padamu sudah hilan—”

“Itu bohong! Aku yakin kau hanya BOHONG LEE DONGHAE! KATAKAN BAHWA KAU MASIH MENCINTAIKU!!!!” Hye Mi berteriak histeris sambil terus memuku-mukul dada Donghae.

Dengan cepat Donghae menangkap pergelangan tangan Hye Mi yang semakin lama semaik brutal memukuli dadanya. Bukannya sakit karena pukulan keras yang di lakukan oleh Hye Mi, dadanya sesak karena orang yang ia sayangi menangis seperti ini di hadapannya.

“Semuanya baik-baik saja, sudah berhentilah menangis.”

“Katakanlah bahwa kau masih mencintaiku, Lee Donghae!”

“Aku tidak bisa mengatakannya,”

“Berarti kau masih mencintaiku, dan hentikan semua ini sebelum segalanya terlambat. Kita pergi dari kekacauan ini, ayo Lee Donghae dan kita pergi dari Negara ini hidup berdua, melupakan semua kegilaan ini.” Hye Mi memegang pergelangan tangan Donghae menarik-nariknya bermaksud untuk mengajaknya pergi dari ruangan ini.

“Aku tidak bisa, ini sudah terjadi. Lupakanlah aku, dan serahkan aku pada Jaekyung yang akan menjadi istriku nanti dan dia yang akan menjadikanku sebagai miliknya.” Hye Mi menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, air matanya keluar lagi.

“KAU BOHONG! AKU YAKIN KAU TERPAKSA MELAKUKAN PERNIKAHAN INI!” teriak Hye Mi masih dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.

Donghae mengerang dalam hati, selain keras kepala, Donghae baru menyadari bahwa Hye Mi benar-benar sangat menyebalkan. Dengan pelan Donghae menghela napas lelahnya. Hatinya terus saja membatikan semuanya adalah kesalahan Hye Mi. Tentu saja, ini memang kesalahan Hye Mi, jika saja waktu itu Hye Mi tak menolak permintaannya pasti tak akan terjadi seperti ini, bukan?

“Pernikahanku akan di mulai beberapa menit lagi, aku mohon kau segera pergi dari ruanganku. Tolong.” Ucap Donghae yang membuat tangisan Hye Mi tak juga berhenti, air matanya masih saja mengalir.

“Baiklah kalau itu maumu. Tapi aku yakin, yakin sekali bahwa kau memang masih mencintaiku sampai kapanpun, dan kau akan kembali padaku,”

“Aku tidak tahu. Hanya takdir yang mengaturnya. Lihat saja nanti.”

Hye Mi menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Dalam hatinya menggerutu akibat tangisannya yang membuat make upnya menjadi berantakan. Dengan perlahan tubuh Hye Mi mendekat kearah Donghae yang tak jauh dari tempatnya berdiri, setelah sampai di dekatnya dengan cepat Hye Mi memeluk tubuh Donghae dengan erat.

Perlahan menghirup aroma mantan kekasihnya yang beberapa menit lagi akan menjadi seorang suami dari perempuan lain. Hatinya kembali nyeri mengakui kenyataan ini, benar-benar menyakitkan hatinya. Ia menyesal menolak permintaan Donghae waktu itu. Ia sangat menyesal.

Dengan perlahan juga Hye Mi melepaskan pelukannya pada tubuh Donghae yang tak merespon pelukannya. Ternyata dalam beberapa waktu terakhir ini, Donghae bisa berubah sangat darstis. Hye Mi berpikir, apa perempun itu mempengaruhi Donghae sampai seperti ini? Hati Hye Mi kembali geram, ia berjanji akan membalaskan semuanya pada perempuan yang telah merebut miliknya.

“Kau pasti bisa mendapatkan yang melebihku. Aku yakin itu.” Ucap Donghae setelah pelukan sepihak dari Hye Mi terlepas. Hye Mi menatap Donghae dengan tatapan sayunya, mendenger ucapan Donghae benar-benar menyakiti hatinya kembali.

“Aku tidak tahu, aku hanya mencintaimu.” Ucap Hye Mi pelan yang membuat Donghae menggeleng tak setuju.

“Jangan menjadi seorang pesimis dahulu, berusahalah. Seperti halnya kau ingin menjadi seorang seperti ayahmu.” Balas Donghae sambil mengelus-ngelus puncak kepala Hye Mi.

“Aku akan keluar, yah mungkin saja aku akan mendapatkan yang melebihmu, aku akan kembali padamu seperti dulu lagi. Atau kau yang akan kembali padaku.” Ucap Hye Mi sambil membalikan tubuhnya, lalu pergi meniggalkan Donghae yang menatap punggung milik Hye Mi.

***

Jaekyung kembali menatap pantulannya yang terpantul oleh cermin yang ada di hadapannya. Ia kembali gugup. Walaupun bukan pernikahan yang ia idam-idamkan seperti apa yang ia bayangkan dulu, tapi tetap saja hatinya gelisah menerima kenyataan bahwa ia akan mengucapkan janji suci bersama laki-laki yang ia kenal beberapa bulan terakhir ini.

Sudah waktunya, dan sudah juga ia menatap pantulannya di depan cermin. Make upnya sduah kembali seperti semula. Jaekyung kembali cantik, dan penampilannya sudah cukup siap untuk apa yang akan ia hadapi.

Pintu ruangan yang di pakai Jaekyung terketuk, menandakan seseorang meminta izin untuk membukakan pintunya. Jaekyung sedikit berterika untuk membuka pintunya sendiri karena pintu tak terkunci, saat pintu terbuka Jaekyung melihat pantulan ayahnya yang ada di ambang pintu. Ayahnya, dengan setelan jas warna hitam, kemeja putih dan dasi yang terpakai rapih di lehernya. Sangat tampan. Pikir Jaekyung.

Jaekyung tersenyum melihat Ayahnya, lalu ia bangun dari duduknya menghampiri ayahnya yang masih di ambang pintu ruangan tersebut. Tangan ayahnya terulur, lalu Jaekyung mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan ayahnya.

“Kau sudah siap?” tanya ayahnya yang membuat jantung Jaekyung kembali berpacu tak karuan.

“Aku gugup sekali,” jawab jujur Jaekyung yang membuat ayahnya terkekeh pelan. “Berhentilah tertawa ayah,” protesnya kembali.

“Ayah percaya bahwa Donghae akan menjagamu sampai kapanpun. Ayah bersikap seperti waktu itu hanya untuk mengujinya, apakah dia akan menyerah menghadapi ayah atau dia terus berusaha. Dan ternyata dia cukup berani dengan segala sikap ayah. Dan jika dia menyakitimu atau membuatmu menangis ayah akan memukulnya sampai babak belur. Ayah tidak ingin anak ayah menangis karena laki-laki, bukan kah menangis itu bukan tipe Han Jaekyung? Ayah akan mendoakan kalian selama agar tetap bersama.”

Jaekyung menatap ayahnya tak percaya, bagaimana mungkin hari ini ia mendengar ucapan ayahnya yang sangat panjang dengan isi bahwa beliau mempercayai Lee Donghae yang notabennya akan menceraikannya ketika ia melairkan nanti. Seharusnya Lee Donghae bersyukur atas apa yang di katakana oleh Ayahnya, kalaupun Donghae mendengarkannya atau apa.

Hatinya meringis sakit bahwa bukan hanya dia yang akan tersakiti nanti, pasti akan banyak sekali yang akan merasakan sakit akibat apa yang di lakukannya nanti dengan Lee Donghae. Jadi, Jaekyung berfikir dua kali untuk; apakah ia akan kabur atau tetap melaksanakan pernikannya dengan Lee Donghae beberapa menit lagi. Tapi opsi pertama sepertinya buruk jadi lebih baik ia melaksanakan pernikahannya dengan Lee Donghae.

“Tarik napas, lalu hembuskan dengan perlahan.” Ucap ayahnya mengagetkan Jaekyung dari lamunannya.

“Aku baik-baik saja.” Jaekyung berucap bohong.

“Ayo, semuanya sudah menunggu dan Donghae sudah menunggumu di altar.” Ajak ayahnya pada Jaekyung. dengan perlahan Jaekyung menghembuskan napasnya lalu menganggukkan kepalanya, melangkah mengikuti ayahnya yang berjalan dan menyamai langkah ayahnya.

Jaekyung tak henti-hentinya menghembuskan napasnya pelan. Jaekyung benar-benar gugup dengan apa yang akan terjadi nanti. Walaupun pernikahannya dengan Donghae hanya tak sampai satu tahun, ia benar-benar gugup. Sekali lagi Jaekyung berucap dalam hati bahwa ia benar-benar sangat gugup sekali.

Acara pernikahannya diadakan di rumah keluarga Donghae, dan sekarang ia dan ayahnya sedang menuju ke halaman luas di samping rumah milik orang tua Donghae. Acara pernikahannya hanya di hadiri oleh beberapa keluarga Donghae, beberapa teman dekat Donghae, dan kolegan-kolegan kaya yang pastinya kerabat ayah Donghae.

Dari Jaekyung sendiri hanya keluarganya, keluarga sepupunya dan kedua sahabatnya, siapa lagi yang akan di undang olehnya karena Jaekyung kurang akrab dengan teman-teman satu kampusnya. Jaekyung hanya merasa nyaman dengan kedua sahabatnya dan Jaekyung juga tak ingin pernikahannya dengan Donghae di ketahui oleh teman-teman sekampusnya.

Sampai, akhirnya sampai di halaman samping yang sudah di isi dengan orang-orang yang menghadiri pernikahannya. Jaekyung memejamkan matanya perlahan, menghembuskan napasnya kembali dengan perlahan. Setelah merasa tenang, Jaekyung membuka matanya kembali dan mendapatkan Donghae dengan setelan jas hitam, kemeja putih, dasi kupu-kupu, celana bahan dengan warna hitam, wajahnya berseri-seri, jadi Lee Donghae hari ini benar-benar sangat tampan membuat jantung Jaekyung berdegup sangat kencang.

Dalam hatinya, Jaekyung mengrutuk kesal jantungnya yang berdegup sangat kencang saat melihat Donghae yang tampan seperti apa yang di lihatnya sekarang. Dan jantungnya berdegup sangat kencang saat Donghae tersenyum manis kearahnya.

Kim Jaejoong lebih tampan daripada Lee Donghae yang sedang berdiri disana. Ingat Jaekyung pada jantungnya yang masih saja berdegup tak karuan. Sisi lain dari dirinya menampar kenyataan bahwa ia akan menikan tapi dirinya masih saja sempat-sempatnya membayangkan laki-laki lain dan membanding-bandingkan ketampanan laki-laki lain dengan calon suaminya.

Terima kenyataan bahwa, memang lebih tampan Donghae dari koleksi laki-laki tertampan versinya. Ya, Donghae memang tampan walaupun tubuhnya tak setinggi dengan koleksi-koleksiku yang ada didalam laptopnya. Pikirnya dalam hati.

Setelah sampai di hadapan Donghae, ayahnya memberikan tangan Jaekyung kearah uluran tangan Donghae yang akan menggegamnya nanti. Setelah dalam genggaman tangan Donghae, Jaekyung merasa aman dan hatinya tak gugup seperti apa yang ia rasakan.

“Ayah merestui kalian, semoga kalian bahagia.” Ucap Ayahnya pada Jaekyung dan Donghae lalu berbalik meninggalkan mereka bedua untuk melakukan ucapan janji suci mereka pada Tuhan.

“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.” Bisik Donghae di telinga Jaekyung.

Jaekyung menuruti perkataan Donghae untuk bersikap tenang. Ini tak akan memakan waktu yang lama, ini hanya sebentar. Hanya mengucapkan janji suci bersama-sama, berukar cincin dan setelah itu selesai. Ucap menyakinkan Jaekyung.

“ Seperti yang Kita lihat, di sini tidak ada yang memimpin upacara pernikahan, jadi bersumpah pada diri sendiri. Jadi mulai.” Ucap pembawa acara yang bernama Hyuk Jae salah satu sahabat Donghae, berucap menyuruh Donghae untuk segera melakukan pengucapan janji suci.

“Aku, Lee Donghae. Bersumpah kepada pengantin perempuan, dalam keadaan sehat ataupun sakit kami saling menghormati satu sama lain, dan saking mencintai. Bersikap jujur dan menghormati istri sampai tua nanti. Bersikap jujur dan dapat di andalkan.”

 

“Aku, Han Jaekyung. Bersumpah kepada pengantin pria, dalam keadaan sehat ataupun sakit kami saling menghormati satu sama lain, dan saking mencintai.. Bersikap jujur dan menghormati suami sampai tua nanti. Bersikap jujur dan dapat di andalkan.”

 

Setelah mengucapkan janji suci bergantian, semua yang hadir di pernikahan Donghae dan Jaekyung sontak berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah. Donghae sendiri tersenyum penuh kebahagiaan.

Donghae menoleh kearah Jaekyung yang diam dan hanya mengulas senym kecil di wajahnya. Donghae jadi berpikir, apakah Jaekyung tak menyukai pernikahan ini? Seperti di tampar petir dengan tegangan yang sangat tinggi Donghae menyadari bahwa pernikahan ini hanya sebuah rekayasa yang hanya mementingkan diri masing-masing.

Tangan Donghae perlahan terulur untuk menyentuh lengan Jaekyung agar Jaekyung segera menoleh kearahnya untuk menyamatkan cincin di jari manis Jaekyung.

Merasakan lengannya di sentuh, Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping dan mendapatkan Donghae yang menyentuh lengannya. Tentu saja bodoh, siapa lagi orang yang dekat dengannya saat ini sekarang?

Hyuk Jae teman Donghae yang sekarang menjadi pembawa acara di pernikahannya kini maju kearah Donghae dan Jaekyung, membukakan kotak kecil yang ada di tangannya di hadapan Donghae yang langsung di ambil salah satu cincinnya dan setelah itu, Donghae menarik telapak tangan Jaekyung dengan sangat lembut dan menyematkan cincin tersebut pada pada jari manis sebelah kiri Jaekyung.

Dan Jaekyung melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Donghae, setelah itu semua yang hadir dalam pernikahan mereka berdua langsung memberikan tepuk tangan. Donghae kembali tersenyum, menarik Jaekyung untuk mendekat kearahnya dan setelah itu Jaekyung menutup matanya saat bibirnya merasakan lembut dan basah yang berasal dari bibir Donghae.

***

Jaekyung menghela napas dengan sangat perlahan. Hari ini benar-benar sangat melelahkan sekali, matanya melirik kearah jam yang tergantung di dinding atas pintu masuk ke kamar Donghae. Pukul sepuluh malam dan acara baru selesai beberapa menit yang lalu.

Jaekyung masih tidak menyangka akan berjabat tangan dan menganggukan kepalanya sampai selarut malam ini, Jaekyung juga tidak menyangka bahwa ayah Donghae mengundang kolegan-kolegan sebanyak itu yang tak berhenti berdatangan dan jam sepuluh tadi semuanya perlahan-lahan pergi, karena sudah larut malam.

Kembali, Jaekyung menghela napasnya lelah. Baju pengantinnya belum sempat ia buka karena saat ia masuk kamar tadi langusung merebahkan tubuhnya di atas kasur karena tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat. Donghae sendiri sedang berada di kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sama kelelahannya.

Tanpa membalikan tubuhnya Jaekyung meraih bantal yang ada di belakangnya dan langsung ia peluk. Jaekyung butuh tidur sekarang, butuh ketenangan. Jaekyung tidak ingin ada yang mengganggunya. Jaekyung baru mengantupkan matanya saat sebuah tangan mendarat di pundaknya lalu mengguncangnya dengan pelan, Jaekyung kembali membuka matanya lagi dan memandang dengan mata sayunya untuk melihat siapa orang itu

“Engghh…aku hanya ingin mengatakan, mandilah terlebih dahulu lalu kau boleh tidur. Aku tahu kau lelah, kau butuh menyegarkan tubuhmu agar tak lelah seperti ini,” Jaekyung masih menatap Donghae. Lalu menghela napasnya jengkel dan setelah itu ia menegakan tubuhnya setengah di bantu oleh Donghae.

Tangan Jaekyung menggaruk tengkuknya, Jaekyung benar-benar sangat malas sekali untuk berjalan selangkahpun. Jaekyung hanya ingin tidur dan besok paginya ia akan kembali seperti semula.

“Kau menggangguku. Sangat menggangguku.” Ucap Jaekyung malas. Ia berdiri dari duduknya, melangkah kerah kamar mandi yang letaknya tak jauh dari tempat ia berada.

Baru langkah pertama, Jaekyung sudah berhenti kembali dan menolehkan kepalanya saja kearah Donghae, “bisa membantuku untuk menurunkan resleting gaun ini?”

Donghae yang sedari tadi diam hanya bisa berjengit kaget. Donghae benar-benar tak menyangka, tadi Jaekyung yang marah-marah padanya kini meminta bantuan padanya. Hormon perempuan ternyata suka berubah-ubah.

Donghae beranjak dari duduknya, mendekatkan dirinya kearah Jaekyung. ini pertama kali Donghae membantu seorang perempuan membukakan resleting gaunnya. Dia istrimu, jangan berlagak kau dan dia bagaikan orang asing, ini memang sudah kewajiban suami-istri.

Napasnya yang awalnya begitu tegang kini napasnya kembali normal. Untungnya Jaekyung masih memakai pakaian tipis yang melekat pada tubuhnya. Donghae mengira, Jaekyung hanya mengenakan pakaian dalam wanita saja, ternyata dugaannya benar-benar salah.

Jaekyung yang merasakan ketegangan Donghae, menoleh untuk melihat apa yang membuat Donghae begitu tegang. “Kau kenapa?” tanya Jaekyung pada Donghae langsung di jawab gelengan kepalan Donghae, “aneh.” Gumamnya lalu pergi meninggalkan Donghae yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.

“Donghae-ah, bisa kau ambilkan baju tidurku yang ada di dalam koperku? Aku benar-benar lupa untuk membawanya dan eungg…sekalian juga ambilkan benda pribadiku. Kau pasti mengertikan? Untuk apa menjadi cerdas, tapi dengan ucapanku tidak mengerti. Cepat, Lee Donghae.”

Donghae menghela napasnya dengan kasar. Belum sehari pun, Jaekyung sudah berani menyuruhnya ini itu. Dan lebih memalukan lagi, kenapa juga ia harus membawakan benda pribadi milik Jaekyung. istrinya benar-benar sangat menyebalkan.

***

Donghae membuka matanya dengan perlahan karena cahaya matahari yang masuk kecelah-celah matanya. Siapa lagi yang membuka tirai kamarnya pagi-pagi seperti ini. Yang Donghae tahu, ibunya tak pernah sekali pun membangunkannya dengan membuka tirai kamarnya seperti itu. Jadi, yang menjadi pertanyaan adalah; siapa orang tersebut?

“Pemalas, cepat bangun dan segeralah masuk kekamar mandi. Ini sudah siang. Jangan tidur terus. Pemalas!”

Donghae tahu siapa yang mencari masalah di pagi hari ini, ia lupa kalau dirinya sudah terikat oleh gadis pemarah dan sadis. Donghae mengeluh karena ini masih pagi ia sudah bangun, ini kan hari libur jadi untuk apa ia bangun pagi-pagi sekali? Biasanya kalau di hari libur seperti ini ia akan bangun dari tidurnya atau keluar dari kamarnya siang nanti, bukan pagi seperti sekarang.

“Ini masih pagi,” gumam Donghae sambil menutup wajahnya dengan bantal. Jaekyung memutar bola matanya bosan.

“Maka dari itu ayo cepat bangun, ayah dan ibu sudah menunggu di bawah untuk sarapan.”

“Biasanya juga mereka sarapan hanya berduaan saja,”

“Tidak untuk sekarang dan seterusnya, Donghae-ah. Ayo, rubah kebiasaanmu ini. Tidak baik untuk seorang laki-laki dengan umur duapuluh tiga tahun bangun siang seperti ini.” Cerocos Jaekyung tak mau mengalah.

Dengan kuat Jaekyung menarik bantal yang menutup wajah Donghae, setelah terlepas dengan bantal tersebut ia pindahkan kesamping Donghae dan kembali mengguncang-guncang tubuh Donghae.

“Pemalas!” ucap Jaekyung yang membuat Donghae bangkit dari tidurnya.

“Dasar cerewet!” ucapnya lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan kearah kamar mandi.

“Kami menunggumu di bawah. Jangan berlama-lama di kamar mandi.” Teriak Jaekyung dari luar, membuat Donghae meracau tak jelas pada istrinya itu. Belum genap satu hari saja sudah cerewet seperti itu, tapi tidak apa-apalah.

***

“Bagaimana? Donghae sudah bangun?” tanya ibu Donghae pada Jaekyung yang baru saja turun kebawah untuk bergabung bersama keluarga barunya.

“Sudah, Donghae sedang mendi sekarang.” Ucapnya sambil membantu ibu Donghae menyiapkan sarapan pagi ini.

“Biasanya Donghae akan keluar dari kamarnya siang nanti kalau di saat hari libur seperti ini. Anak itu benar-benar susah sekali di bangunkan, tapi sepertinya mulai Donghae benar-benar berubah.” Ucap ibunya sambil tersenyum.

“Donghae memang sudah seharusnya untuk merubah segala sifatnya yang terlalu manja itu.” Ucap ayahnya yang membuat Jaekyung menolehkan kepalanya lalu tersenyum.

“Aku akan merubah segala sifatnya. Ah, ngomong-ngomong Donghwa Oppa kemana? Sepertinya aku belum melihatnya pagi ini.” Tanya Jaekyung dan mengalihkan topik pembicaraan.

“Donghwa, pagi-pagi sekali ia sudah di telpon oleh pihak rumah sakit, jadi hari ini ia sudah harus bekerja,” ucap Ibunya.

“Selamat pagi,” sapa seseorang dari belakang tubuh Jaekyung.

“Pagi sayang.” Sapa balik ibunya sambil tersenyum. Melihat Donghae yang ada di belakang tubuh Jaekyung.

Donghae melangkah tak bersemangat kearah meja makan, ia melihat ayahnya yang sibuk dengan membaca Koran pagi, ibunya baru selesai menuangkan susu di masing-masing gelas. Donghae menghela napasnya, ia masih lelah dan masih ingin bergerumul di kasurnya yang nyaman itu, tapi mau bagaimana lagi, Jaekyung benar-benar menyebalkan.

***

Setelah acara sarapan pagi selesai, Donghae dan Jaekyung kembali kedalam kamar mereka lagi. Ayah Donghae sudah harus pergi ke kantornya dan Ibu Donghae menjenguk salah satu temannya yang sedang sakit. Jadi di rumah yang besar ini hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan yang sibuk membersihkan rumah.

Donghae yang merasakan tubuhnya masih lelah, ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur, tidak memperdulikan Jaekyung yang melotot dan membuang tatapan kearah lain. Perempuan ini benar-benar aneh. Pikir Donghae dalam hati.

Yah, Jaekyung benar-benar aneh. Biasanya perempuan yang di nikahkan dengan paksa dan setelah acara pernikahan selesai mereka harus tidur di tempat yang sama, biasanya si perempuan memaksa agar si laki-laki tidur di tempat yang berbeda. Tapi Jaekyung benar-benar berbeda.

Jaekyung mengatakan bahwa itu sudah terlalu basi, lagi pula Jaekyung juga tidak perduli. Itu terlalu sia-sia, berdebat panjang lebar hanya untuk menentukan siapa yang pantas untuk tidur di atas kasur. Memperebutkan tempat tidur seperti di drama-drama yang ada di layar kaca, terlalu menggelikan, Jaekyung juga percaya bahwa dirinya tak akan menyentuhnya.

Paling juga hanya sekedar memeluk pinggang atau saling memeluk satu sama lain jika tidur dalam satu ranjang. Seperti pagi hari tadi, saat Jaekyung membuka matanya dengan perlahan, tubuhnya sudah benar-benar merapat pada tubuh Donghae yang memeluknya dari belakang.

Jaekyung hampir menghabiskan waktu selama kurang lebih tujuh menit untuk terlepas dari pelukan Donghae. Hanya itu saja yang terjadi pagi tadi, tak ada yang lebih. Dan selebihnya Donghae hanya mengigau bahwa Donghae merasa kelelahan.

“Dasar pemalas,” celetuk Jaekyung tiba-tiba.

Donghae yang mendengar celetukan Jaekyung hanya bisa mendengus kesal. Enak saja mengatakan bahwa ia pemalas. Dasar wanita. “Terserah kau saja,” balas Donghae acuh tak acuh.

“Kalau tak mau di panggil pemalas, seharusnya kau membantu ayahmu di kantor sana, bukan diam tak karuan di dalam rumah seperti ini,” Jaekyung memanas-manasi membuat Donghae menggeram kesal.

“Beberapa bulan lagi aku juga sudah akan masuk kedalam perusahaan ayahku,”

“Untuk apa menunggu beberapa bulan lagi? Lebih baik sekarang. Lebih cepat, lebih baik.” Ucap Jaekyung yang membuat Donghae semakin berang.

“Kau sengaja membuatku marah, ya?” tanya Donghae sambil bangkit dari tidurnya.

“Apa? Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin membuatmu lebih ulet lagi, tak bermalas-malasan seperti ini. Membantumu mencari pengalaman atau beradaptasi pada lingkungan yang baru untukmu disana. Hanya itu saja.” Ucap Jaekyung menagakhiri. Donghae hanya diam tak bersuara. Ternyata dirinya salah perhitungan pada istrinya ini.

“Dan di sana aku tak melakukan apa-apa,” ucap Donghae sinis.

“Kau sudah kuliah selama kurang lebih tiga empat tahun, dan kau pasti bisa melakukan apapun disana, ayah juga pasti akan bahagia ketika kau ada disana untuk membantunya. Untuk apa belajar jika kau tak bisa memanfaatkan apa yang telah kau pelajari. Aku hanya ingin membuatmu yang terbaik, bukan untuk mengaturmu karena hanya kau sudah menjadi suamiku, bukan itu maksudku. Maafkan aku jika perkataanku terlalu lancang untukmu.”

Setelah mengatakan seperti itu, Jaekyung keluar dari dalam kamarnya. Donghae hanya bisa diam mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Jaekyung tadi. Benar apa yang di katakana oleh Jaekyung, untuk apa belajar bertahun-tahun tak pernah membantu ayahnya dan hanya bisa berleha-leha saja. Jaekyung benar, Jaekyung berusaha untuk merubahnya, untuk membuatnya lebih baik lagi dari sekarang. Tapi, ah, pikiran Donghae benar-benar pusing memikirkan semuanya.

−TO BE CONTINUED—

 

 

 

 

Ehmm…

Hallo, silvi di sini xD

Ada yang bosen? Yeah, jujur aja, aku stuck bangett! Mau ngomong apa yah? Aku bingung nih, yang pasti aku Cuma mau bilang jangan pernah bosen yah buat nunggunya, maklum lah, aku kadang suka males buat ngetik fanfict ini, suka hilang ide tau apalah gitu. Kadang aku semangat buat lanjutinnya huhuhu kadang aku juga suka ngantuk kalo lagi ngetik dan setelah itu yah laptop aku matiin uda gitu

Kayaknya nyampe satu bulan lagi yah aku lanjutin ini fanfict. Maaf ya kalo buat kalian kecewa. Terus eungg…apa lagi?

Ah, iya apa lagi? Uda aja deh ya..

 

BYE~

 

Silvi Diah Septiyani.

Jum’at, 09 Agustus 2013.

Pukul 15.48-17.35

Words 6.577 without Cuap-cuap.

22 thoughts on “If This Was a Movie [Part 9]

  1. First?? Aaaahh keren kok jngan bosen2 dong aku kan selalu nunggu couple ini cerita nya jg selalu menarik di setiap part ny.. Yaahh jngan sebulan lg dong heheh *puppy eyes

  2. Akhirnya publish juga…

    Aq ga bosenn seh nunggunya,,tapi suka ga sabaar pengen cpet2 publish kelanjutanya hehehe…ceritanya tambah seruuu semangatt ya thor….

    Aq selalu nunggu sampai end…semangatt yahhh

  3. Ciee. . .Yg udh resmi jd istri nya abang Hae. Pngen dong *nyengirkuda*
    Btw thanks udh ngasih link ff DraMione, ToMione, etc. Stlh aku survei k TKP, trnyta kyakinanmu bnr ada nya. Aku jd DraMione shipper, ToMione shipper jg😀
    Kren2 itu epep, bkin ketagihan.
    Oya. .D tnggu next partnya. Rncna nya bkal pnjg bgt ya ini epep? Gak sbar nunggu ending nya.

  4. Sempat bingung karena banyak sekali kalimat yang diulang-ulang.

    Semoga saja Hae-Jaekyung cepat2 jatuh cinta

    Pada tanggal 09/08/13, Harmonia Nectere Passus

  5. yaaa sy terlambat ngecek blog mu ternyata yg di tunggu dah post. masih ada typo. tp seru ko, terutama jae yg sdh berani marahin hae. di tunggu next part nya. tp kan panjang banget nih sepertinya. soalx belum keliatan koflik pasca nikahnya d melahirkan. harapan happy ending

  6. Hahhhhh dapat bernafas lega. Akhirnya mereka nikah juga.
    wooow itu kenapa Hyemi jadi bringas(?) gitu?
    greget sama janji pernikahan mereka. itu prosesnya lama banget …
    perasaan, interaksi Jaekyung maupun Donghae dg janinnya belum pernah diceritain yah? aku pengen banget tuh..
    waktu itu kayanya udah, tapi masih kurang😀

  7. yey udah nikah,,
    tp klo mnurut.ku ya critanya terlalu berbelit thor,,
    liat dh set waktunya cuma nyeritain pas acara pernikahan ama sarapan,,
    bag. pas sblum nikah itu terlalu berbelit,, maaf bukan b’maksud menggurui,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s