If This Was a Movie [Part 10]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer
If This Was a Movie by Taylor Swift

Warning: TYPO EVERYWHERE!!! Jadi kalo ada Typo bilang yahhh :*

***

“Kalian akan pindah secepat ini? Kalian kan baru satu hari di sini, apa tidak satu minggu tinggal di sini dulu saja?” tanya ibu Donghae kepada Jaekyung yang masih membereskan pakaian.

“Donghae ingin mandiri, ibu.” Ucap Jaekyung sopan.

“Oh, Jaekyung-ah, berarti ibu akan jauh dengan calon menantuku dan cucuku,”

“Tenang, ibu, aku akan sering mengunjungi kesini. Tenang saja.” Ucap Jaekyung menyakinkan.

“Baru kali ini Donghae mau masuk kekantor milik ayahnya, biasanya ia akan menolak semua apa yang di katakana olehku. Maka dari itu, saat melihat Donghae keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, itu membuat Ibu semakin menyanyanginya. Dan Ibu berterima kasih padamu telah membujuk Donghae.”

Jaekyung menghentikan apa yang semula menjadi pekerjaannya, Jaekyung menolehkan kepalanya, tersenyum. Jaekyung beranjak dari duduknya menuju kearah Ibu mertuanya yang sedang duduk di atas kasurnya.

“Aku hanya ingin Donghae menjadi mandiri saja. Tapi bukankah Donghae memang ingin menjadi penerus Ayah?” tanya Jaekyung. ibunya menggeleng.

“Ia memang ingin menjadi penerusnya. Tapi dia benar-benar sangat malas jika kami berdua sudah mengatakan agar masuk kantor terlebih dahulu.” Ucap ibunya sambil menatap Jaekyung, lalu tangannya mengelus puncak kepala Jaekyung.

“Ibu berharap anak kalian tidak malas seperti ayahnya. Jangan menirunya.” Jaekyung terkekeh mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Jaekyung juga tidak ingin anaknya pemalas seperti Donghae.

“Aku juga tidak mau anakku menjadi pemalas seperti ayahnya nanti.” Jaekyung tersenyum lalu beranjak dari duduknya, berjalan kembali kearah lemari pakaian milik Donghae.

“Kau pasti sudah lelah, jangan memaksanya lagi.” Ucap Ibu Donghae dengan nada khawatir. Jaekyung menoleh lalu memberikan senyumnya.

“Tenang saja, aku orang yang sangat kuat. Tak apa-apa.” Balasnya dengan senyum yang merkah di bibirnya.

Tangan Jaekyung dengan lincah memasukan semua baju-baju milik Donghae yang ada didalam lemari langsung di masukan kedalam koper. Jaekyung mendongak, menghentikan kegiatan, lalu kembali mengerjakan apa yang sedang di kerjakannya.

Dengan pelan Jaekyung menghembuskan napasnya. Entahlah sudah seharian ini Jaekyung selalu lesu dan lemas. Dengan pelan Jaekyung menggelengkan kepalanya, Ia lupa kalau dirinya sedang mengandung tentu saja pasti cepat sekali lelah.

“Ibu keluar dulu, kalau sudah selesai nanti kau kebawah, ya.” Jaekyung menoleh lalu menganggukan kepalanya dan tersenyum.

Setelah Ibu Donghae keluar dari kamarnya Jaekyung menundukan tubuhnya, punggungnya bersender di depan lemari milik Donghae. Pikiran Jaekyung kembali berpikir bagaimana ia hidup lima belas bulan kedepan, apakah ia akan merasa bahagia atau sebaliknya. Yang Jaekyung rasakan sekarang…lebih baik ia tak usah memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Jalani saja terlebih dulu, yang lebih penting adalah kandungannya.

Jaekyung beranjak dari duduknya, ia melihat apa yang sudah ia kerjakan. Setelah mengepak semua baju Donghae kedalam koper besar, ia mulai mengepaki baju-baju yang di belikan oleh Ibu Donghae, sementara baju-bajunya masih di rumahnya. Jaekyung menoleh kearah jam dinding yang tergantung di atas pintu, ini masih jam tiga sore, Donghae pulang sekitar jam delapan malam, dan sepertinya itu tidak mungkin jika ia hari ini harus pindah kerumah milik Donghae yang baru. Hari ini Donghae pasti sangat lelah di awal pekerjaannya.

Baru beberapa baju miliknya yang di masukan kedalam koper lainnya Jaekyung sudah mengehentikan kegiatan mengepaknya, Jaekyung butuh beristirahat, mungkin tiduran adalah hal yang sangat menyenangkan. Namun dalam hatinya Jaekyung ingin sekali menggeledah kamar milik Donghae.

Bukannya lancang atau apa, yang Jaekyung rasakan sekarang adalah penasaran dengan semua isi kamar milik Donghae. Saat ia mengepak semua baju-baju milik Donghae, Jaekyung tanpa sengaja menjatuhkan album foto milik Donghae yang ada di tumpukan baju Donghae.

Jaekyung membukanya, dan foto yang terlihat di mata Jaekyung adalah foto Donghae dengan Hye Mi yang sedang berciuman di sebuah taman, foto itu seperti di ambil oleh Donghae karena kedua lengan Hye Mi melingkar erat di leher Donghae. Dan kalian bertanya bagiamana perasaan Jaekyung saat itu? Entahlah, Jaekyung sendiri bingung dengan apa yang di rasakannya saat melihatnya.

Ia baru-baru ini mengenal Donghae, tak lama hanya beberapa bulan dan apakah itu sudah menimbulkan rasa suka di hatinya? Tentu saja tidak, hatinya saja masih mengharapkan sesosok Kim Jaejoong. Lupakan soal Kim Jaejoong, dia tak ada sangkut pautnya dengan ini.

Lembar demi lembar Jaekyung melihat koleksi foto milik Donghae yang tentu saja dengan Hye Mi. jaekyung berpikir, bahwa Jaekyung adalah orang yang sangat jahat. Tentu saja, bagaimana mungkin hubungan mereka berdua putus gara-gara dirinya hamil.

Kalau saja ia tak hamil, Donghae dan Hye Mi tidak akan putus dan masih ada hubungan, tapi sekarang? Tidak ada. Yah, Han Jaekyung, orang jahat si perebut kekasih orang lain. Dengan sakit di hatinya, air mata Jaekyung mengalir pelan di pipinya. Ia benci hari itu, ia benci takdir yang mempertemukan dirinya dan Donghae, ia benci semuanya.

Jaekyung menundukan kepalanya, lalu melangkah perlahan kearah kasur milik Donghae dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jaekyung lelah, bukan hanya fisik yang lelah, batinnya juga lelah. Ia ingin semuanya segera berakhir, tapi itu masih sangat lama sekali.

Terang saja, pernikahannya saja belum genap dua puluh empat jam, bagaimana mau di percepat. Selain lelah tubuh dan pikiran kini dirinya menjadi orang bodoh. Oh, Jaekyung lupa ia memang bodoh dan orang pelupa.

Matanya memandang datar langit-langit kamar Donghae dengan pandangan kosong, dan perlahan matanya terpejam, Jaekyung menegaskan bahwa ia lelah, dan cukup dengan mengistirahatkan tubuhnya Jaekyung pasti akan segera segar kembali.


***

“Han Jaekyung,”

“…”

“Ya! Han Jaekyung,”

“Nggghhh..”

“Bangun ini sudah jam tujuh malam.” Ucap Donghae dengan mengguncang-guncang tubuh Jaekyung.

“Aku masih lelah Donghae-ah,”

“Wah, tanpa membuka matapun kau sudah tahu siapa aku ini,” ucap Donghae takjub.

“Tentu saja, kau Lee Donghae. Kalau ayahmu yang membangunkaku tentu saja itu tak mungkin.” Ucap Jaekyung sambil bangun dari tidurnya.

Jujur saja, Jaekyung masih merasa lelah, dan Jaekyung benar-benar sangat perlu sekali akan istirahat. Matanya melihat kearah Jam dinding. Jam tujuh malam. Dengan cepat matanya beralih kearah Donghae yang ada di hadapannya.

“Bukankah kau pulang jam delapan malam?” tanya Jaekyung sambil mengucek matanya, “wah, aku lelah dan mengantuk,” ucap Jaekyung langsung merebahkan kembali tubuhnya, tapi belum sampai kepalanya menyentuh bantal, Donghae menahan tubuh Jaekyung.

“Pemalas, bangun dan cepat turun kebawah. Semuanya sudah menunggumu.” Dengan cepat Donghae mengguncang-guncang tubuh Jaekyung kembali agar segera bangun.

“Makan malam, ya? Aku malas, lebih baik kau saja yang turun. Aku perlu tidur dan itu yang akan membuatku kenyang.”

“Tidak bisa, ibu bilang kau hanya makan saat sarapan saja. Dan siang tadi kau tak makan, kau malah mengepak semuanya. Kau kan bisa menungguku pulang.”

“Ya sudah, iya aku akan turun. Sebentar aku akan mencuci mukaku agar segar.”

“Aku akan menunggumu di sini.”

“Terserah kau saja.” Balasnya datar.

Jaekyung beranjak dari duduknya, lalu ia pergi kearah kamar mandinya. Donghae hanya menatap punggung Jaekyung yang berjalan kearah kamar mandi. Jaekyung terlihat lelah, tentu saja dia sedang hamil, jadi wajar saja kalau Jaekyung terlihat lesu seperti itu.

Donghae sekarang masih tidak percaya bahwa ia menikah dengan Han Jaekyung bukan kekasihnya sendiri. Banyak sekali teman-temannya yang mengatakan bahwa kelak ia akan menikah dengan Hye Mi. tapi, lihat sekarang, ucapan semua temannya hanya ucapan belaka saja, ia tak menikah dengan Hye Mi, tapi Jaekyung. semuanya itu karena takdir ini.

Yah, takdir. Sial, seharusnya yang harus di salahkan semuanya ini adalah takdir. Kenapa dirinya harus di takdirkan penasaran dengan sifat Jaekyung bagimana, takdir kenapa harus dirinya tertarik dengan Han Jaekyung. semuanya ini membuat dirinya merasa frustasi.

Lebih baik tak usah menyesalinya, semuanya sudah takdir. Jadi Lee Donghae segera mungkin kau mengatakan bahwa kau menyesal telah menyalahkan semuanya pada takdir, yang jelas-jelas itu semuanya salah dirimu sendiri, bukan takdir. Ucap iner Donghae berteriak untuk menyadarkan bahwa semuanya memang harus yang di salahkan adalah Lee Donghae.

Donghae menolehkan kepalanya saat mendengar langkah kaki yang menuju kearahnya dan mendapatkan Jaekyung dengan wajah yang segar. Rambutnya ia kuncir dengan sembarang. Beberapa rambutnya terjuntai dan itu membuat kesan cantik di wajahnya.

Cantik. Itu yang ada di dalam pikiran Donghae sekarang. Ia tak tahu, selama berdekatan dengan Jaekyung, Donghae entah sudah berapa kali mengatakan bahwa Jaekyung itu cantik. Itu memang kenyataan, Jaekyung semakin hari semakin cantik. Apalagi saat hari pernikahaannya dengan Jaekyung kemarin. Jaekyung benar-benar sangat cantik saat itu.

“Kenapa malah melamun?” kejut Jaekyung dengan menepukan tangannya pada bahu Donghae agar segera sadar dari lamunannya.

Donghae terkejut, lalu tersenyum untuk menghilangkan rasa keterkejutannya. Donghae beranjak dari duduknya lalu meraih tangan Jaekyung untuk segera mengikutinya keluar dari kamar mereka.

“Tanpa hak tinggi pun, kau ini tetap tinggi ya,” ucap Donghae saat menuruni anak tangga. Donghae menatap tubuh Jaekyung dari atas sampai bawah. “Tinggimu memang berapa?” tanya Donghae.

“Tinggiku tak jauh dari seratus enampuluh delapan, ah, aku mungkin saja seratus enampuluh Sembilan. Aku tak tahu itu. Memangnya kenapa?” balas Jaekyung sambil bertanya. Heran sekali, baru kali ini laki-laki yang menanyakan tinggi badannya.

Apa dirinya memang tinggi begitu? Atau apa ini membuatnya heran. Padahal masih banyak perempuan yang tingginya jauh di atasnya. Seperti seniornya yang ada di kampus, tinggi badannya itu mencapai seratus tujuhpuluh tiga. Wauw! Pantas kalau seniornya itu menjadi seorang model.

“Wow! Ternyata hanya beda beberapa centi denganku,” uca Donghae sambil memegang lengan Jaekyung.

“Tentu saja, rata-rata tinggi badan laki-laki kan seratus delapanpuluh lima.”

“Oh, jadi tanpa sadar kau ini mengejekku ya?” ucap Donghae sengit tak terima dengan ucapan Jaekyung.

“Tentu saja, lihat kau tak beda jauh dengan Gikwang.”

“Oh, Gikwang,” ucap Donghae malas. Tentu saja malas, Donghae masih tak suka dengan laki-laki yang bernama Lee Gikwang itu. Donghae masih curiga dengan semua tatapan Gikwang pada Jaekyung. walapun Gikwang sudah mempunyai pacar, tetap saja ia curiga.

Siapa tahu saja bukan, kalau Gikwang itu putus dengan kekasihnya terus langsung si Gikwang itu merebut Jaekyung dari dirinya. Oh, maaf-maaf saja, jika itu semuanya terjadi Donghae tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya.

“Gikwang itukan hanya temanku. Tidak lebih, lagi pula ia juga akan menikahi Hye Ji. Tenang saja, jangan takut seperti itu, Lee Donghae. Ah, ternyata kau sudah terpesona oleh kecantikanku sampai-sampai kau cemburu jika aku mengucapkan kata Gikwang? Kekanakan sekali.”

“Terserah apa yang kau ucapakan. Aku hanya tidak suka dengan Lee Gikwang itu.”

“Terserah kau juga, kau membenci Gikwang itu bukan urusanku, ya.” Donghae menoleh kearah Jaekyung menatap kearah manik mata milik Jaekyung dan Jaekyung sendiri membalas tatapan mata Donghae dengan datar dan bibir atasnya tertarik keatas membentuk seringaian lalu pergi meninggalkan Donghae yang masih terdiam di anak tangga yang paling akhir.

Donghae menatap punggung Jaekyung dengan tatapan tajamnya. Sialan, baru kali ini seorang wanita yang memberikan sebuah seringaian dan wanita itu adalah istri sahnya. Ini benar-benar mempermalukan harga dirinya. Hanya istrinya yang bisa membalas semuanya, hanya Han Jaekyung. dan Donghae semakin tertarik dengan apa yang ada di diri Han Jaekyung.

Sabar, Lee Donghae, semuanya pasti akan berjalan dengan cepat. Tidak, dirinya hanya harus bisa beradaptasi dengan Jaekyung yang brutal layakanya preman itu. Dasar wanita jadi-jadian. Salah apa dia menikahi gadis yang penuh dengan sarkatis dan tatapan meremehkannya? Dunia ini memang kejam bukan.

Berhenti menyalahkan takdir ini Lee Donghae. Jalani saja terlebih dahulu, pasti semuanya akan berjalan dengan cepat dan siapa tahu saja sifat Jaekyung yang buruk itu segera hilang dari tubuhnya. Tapi jika semua sifat itu bawaan dari lahir, Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

“Lihat, apa yang dikatakan oelhku memang benar bukan, bahwa Jaekyung kelelahan.” Ucap Ibunya sambil menyerahkan segelas air putih kearah Jaekyung yang baru saja menundukan tubuhnya.

Jaekyung menerimanya, lalu dengan cepat ia meneguk air putih tersebut sampai habis setengahnya. Setelah itu ia meletakan gelas itu di atas meja. Jaekyung tersenyum, “aku tidak kelelahan, hanya yah hanya ketiduran saja.” Ucap Jaekyung.

Donghae yang ada di belakang Jaekyung hanya bisa menatap mereka dengan datar. Kelakuan Jaekyung tadi benar-benar membuatnya geram. Dengan segera Donghae mengambil tempat duduk di samping Jaekyung yang sudah menyantap makanannya.

Ternyata Jaekyung orang yang sangat menyebalkan, oh, tidak sebelum mengikat Jaekyung dalam janji suci pun Jaekyung memang sangat menyebalkan, hanya saja dirinya yang membandel terus-terusan saja penasaran dengan seorang yang bernama Han Jaekyung.

Kalian bertanya, apakah dirinya menyesal menikah dengan Jaekyung atau tidak? Jawabannya adalah ia lima puluh-lima puluh. Kalau Jaekyung tidak menyebalkan, Donghae juga pasti akan menyukainya. Tapi, demi apapun Jaekyung sekarang bertambah sangat menyebalkan, mungkin saja ini hanya bawaan seorang yang sedang hamil muda. Mungkin saja ia bisa bertanya pada ibunya nanti. Tapi itu ide menanyakan pada ibunya sepertinya itu bukan hal yang sangat baik, lebih baik ia tak usah bertanya saja.

Donghae mengambil nasi yang ada di depannya. Donghae menggerutu kesal, seharusnya sang istri bukan yang mengambilkan semuanya, kenapa Jaekyung malah mengabaikannya? Benar-benar bukan seorang istri yang baik. Ayah dan ibunya juga tak menegur Jaekyung yang sedang asik makan itu, seharusnya mereka harus menegurnya bukan? Bukannya mereka diam saja. Kenapa pula mereka menjadi sangat menyebalkan seperti ini. Kalau seperti ini, Donghae tak napsu makan.

“Lebih baik, kalian besok lagi saja pindahnya, bagaimana?” tanya Ibu Donghae tiba-tiba.

Donghae mendongakan wajahnya kearah ibunya, lalu ia mengendikan bahunya, “dan aku lelah hari ini, aku butuh istirahat,” ucapnya sambil meletakan ayam goreng di atas piringnya.

“Semuanya terserah pada Donghae saja,” jawab Jaekyung sambil mengelap mulutnya. Tangannya meletakan sendoknya di atas piringnya lalu tangannya meraih gelas yang ada dihadapannya.

“Ini juga sudah malam. Tapi, bagaimana kalau kalian tak usah pindah saja?”

“Ibu, bukannya aku tidak mau tinggal di sini. Hanya saja aku ingin membangun keluarga baruku dan melepaskan semua tanggung jawabmu padaku. Tenang saja Jaekyung akan sering berkunjung kesini, benar bukan?” ucap Donghae, lalu ia menolehkan wajahnya kesamping untuk melihat Jaekyung.

Jaekyung yang sedari tadi diam, kini ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Ia bingung harus mengatakan apa.

“Kalau sudah selesai makan, bergegaslah istirahat. Hmm…”

***

Donghae membuka pintu kamarnya, seperti biasa ia di sambut oleh beberapa benda-benda kesayangannya yang ada dikamarnya. Donghae jadi merasa berat untuk meninggalkan kamarnya yang sudah di huni selama dua belas tahun ini.

Jendela kamarnya terbuka, Donghae yakin kalau Jaekyung sedang berada di teras kamarnya. Ini kan sudah malam, untuk apa beridam diri di teras kamarnya? Lagi pula udara malam ini cukup dingin, dan itu sebenarnya tidak baik untuk seorang yang sedang hamil.

Sebelum menuju kearah teras kamarnya, Donghae mengambil selimut yang terlipat di atas kasurnya. Donghae melihat Jaekyung yang sedang duduk menyender di tembok, matanya menerawang pemandangan di depan dengan pandangan kosong. Donghae bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang di pikirkan oleh Jaekyung?

Donghae membuka lipatan selimutnya, lalu Donghae dengan segera menyelimuti tubuh Jaekyung yang di pastikan oleh Donghae bahwa Jaekyung kedinginan sekarang. Donghae tersenyum pada Jaekyung saat Jaekyung menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang memberikan selimut padanya.

“Malam yang dingin bukan?” ucap Donghae sambil menundukan tubuhnya di samping Jaekyung yang kembali menatap pandangan di depannya.

Donghae mengikuti apa yang di lakukan oleh Jaekyung sekarang, tapi ia tak memandang pandangan yang ada didepan, melainkan Donghae manatapi wajah Jaekyung yang benar-benar tanpa ekspresi seperti sekarang ini.

Dalam hati, Donghae benar-benar bertanya-tanya kenapa ia bisa sangat penasaran dengan wanita yang ada di sampingnya ini, padahal wanita di sampinganya selain galak, ia juga benar-benar sangat dingin sekali. Donghae juga sudah menemukan fakta bahwa Jaekyung orang yang tak suka berbicara jika moodnya sedang dalam keadaan buruk seperti sekarang ini.

Padahal dirinya baru sehari ini menjadi sepasang suami isrti, tapi dirinya sudah tahu segala sifat yang ada di dalam tubuh Jaekyung. donghae kembali menatap wajah Jaekyung, walaupun tanpa ekspresi Jaekyung tetap cantik seperti biasanya, apa lagi kalau Jaekyung sedang tertawa. Tapi, mustahil sekali jika nanti Jaekyung bisa tersenyum karenanya. Dan Donghae dengan tekat baru ada sekarang ini, ia ingin sekali melihat Jaekyung tersenyum karenannya.

Tangan Donghae menyentuh puncak kepala Jaekyung, kemudian dengan sangat teramat pelan Donghae membelai puncak kepala Jaekyung. Donghae tersenyum saat Jaekyung kembali menolehkan wajahnya kearahnya, masih dengan tatapan tanpa ekspresinya, walaupun dengan tatapan seperti itu, Donghae tetap senang.

“Rasanya senang sekali jika kau tersenyum untukku,” ucap Donghae yang masih tetap membelai puncak kepala Jaekyung. Donghae melihat mata Jaekyung menyipit tak mengerti dengan ucapannya. Donghae tersenyum.

“Seperti mendapatkan jackpot yang sangat besar jika kau tersenyum atau tertawa lepas untukku atau karenaku. Yah, yang aku maksud, aku hanya ingin kau tersenyum dan tertawa. Tidak seperti sekarang, kau merenung, tak tahu dengan semua yang sedang apa yang kau pikirkan sekarang. Yang aku inginkan, kau tak usah memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku janji akan menjagamu dan anak kita nanti.”

Donghae memajukan kepalanya, lalu dengan pelan Donghae mengecup bibir Jaekyung, lalu Donghae melepaskannya. Yah, Donghae hanya mengecupnya. Untuk sekarang Donghae hanya cukup mengcupnya saja. Jangan berfikiran yang tidak-tidak, Donghae hanya takut saja, kalian tahu sendiri bahwa Jaekyung dengan segala mood yang cepat berubah, Donghae takut kalau ia akan di tending atau di pukul oleh Jaekyung.

Tapi, melihat Jaekyung yang sekarang hanya diam saja itu membuat Donghae kembali mengecup bibir Jaekyung, dan di tambah kedua pipi Jaekyung tak lepas dari incarannya.

“Kedua pipimu memerah, cuacana disini sudah terlalu dingin. Ayo masuk, kau mau aku buatkan susu untukmu?”

Kepala Jaekyung menggeleng, Donghae menganggukan kepalanya mengerti lalu tangannya menyentuh pergelangan tangan Jaekyung agar Jaekyung dengan cepat beranjak dari duduknya. Donghae sedikit khawatir dengan Jaekyung sekarang, pergelangannya sudah terasa dingin, walaupun sudah di selimuti dengan selimut tebal ternyata masih tetap bisa membuat Jaekyung kedinginan.

Donghae masih tetap memegang pergelangan tangan Jaekyung untuk menuntunnya masuk kedalam kamar. Setelah sampai di dalam kamarnya, Donghae menundukan tubuh Jaekyung lalu merebahkannya, setelah Jaekyung merebahkan tubuhnya, Donghae duduk di samping Jaekyung, tangannya mengelus kening Jaekyung dengan sayang.

“Sekali lagi aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, aku hanya tidak nyaman dengan segala kediamanmmu saat ini. Hanya saja aneh. Setelah bangun tidur tadi kau begitu—uhmm—menyebalkan, tapi lihat sekarang, kau menjadi pendiam seperti ini, aku hanya ingin kau cerewet sepeti biasanya. Aku seperti bicara dengan sebuah manekin saja.” Ucap Donghae frustasi. Tangannya yang sedari tadi mengusap lembut kening Jaekyung kini beralih untuk mengacak-acak rambutnya.

“Baiklah, aku tidak akan mengusik ketenanganmu saat ini. Tidurlah, aku tahu kau pasti lelah mengepak semua barang-barangku saat siang tadi. Dan terima kasih.” Donghae mengecup kening Jaekyung, lalu kembali mengusapnya.

Donghae beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamarnya. Tapi baru saja Donghae membalikan tubuhnya, sebuah tangan yang menarik bajunya dari belakang. Jaekyung, jadi apa yang di inginkan Jaekyung?

“Aku tahu kau akan keluar dari kamar ini. Atau kau akan tidur di sofa, sudah aku katakan, bahwa ini bukanlah sebuah drama pria atau wanita harus tidur di sofa atapun di kasur. Sudah aku katakan bahwa kau tetap harus tidur di kasur milikmu ini, dan aku juga percaya bahwa kau pasti tidak akan melakukan apa-apa terhadapku, dan aku pastikan kalau kau sangat lelah seharian ini.”

Donghae tersenyum mendengar Jaekyung berbicara lagi seperti sedia kala. Donghae menganggukan kepalanya, “Baiklah sayang.” Ucap Donghae lalu melangkah kesamping, kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.

Malam yang indah, tanpa perdebatan seperti kemarin malam.

***

Jaekyung membalikan tubuhnya kesamping, menghadap kearah Donghae. Sedari tadi ia susah sekali untuk memejamkan matanya, padahal tubuhnya sudah sangat lemas sekali. Bagaimana mungkin ia bisa memejamkan matanya kembali kalau Jaekyung masih memikirkan ucapan Donghae saat di teras tadi.

Ucapannya itu apakah harus di percaya atau tidak. Jaekyung bingung. Ucapan Donghae tadi seperti sangat sungguh-sungguh sekali, apa memang itu ucapan sungguh-sungguh? Tapi, Han Jaekyung jangan di percaya dulu. Mulut laki-laki seperti Lee Donghae itu manis di depan, tapi di belakang seperti laki-laki lain yang hanya janji-janji belakang.

Tapi kecupannya tadi seperti bertanda bahwa itu adalah tanda terkuncinya janji pada dirinya. Jaekyung menghembuskan napasnya, sepertinya malam ini ia tidak bisa tidur karena ia kembali memikirkan bagimana dengan kehidupan setelah anak yang sedang ada dikandungannya ini lahir, apakah Donghae melepas dirinya untuk membesarkan seorang diri? Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, belum tentu semua yang ada di pikirannya itu benar.

Tapi, perjanjian Donghae sebelum menikahinya, bahwa Donghae akan melepaskan dirinya dan anaknya. Jaekyung menatap wajah Donghae dengan sinis, ini tidak adil. Yah tidak adil. Sekali lagi Jaekyung benar-benar sangat bingung apa yang akan selanjutnya terjadi jika semuanya sudah berakhir? Jaekyung tidak mau memikirkan hal-hal seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, keadaan seperti ini memang harus di pikirkan.

Jaekyung memejamkan matanya, lalu menghembuskan napasnya dengan pelan. Jangan pikirkan lagi, semua ini akan baik-baik saja selama masih ada yang mengkhatirkanmu, Han Jaekyung. yah, tenang, pejamkan matamu, lalu kau tidur dan melupakan semuanya.

***

Jaekyung membuka matanya dengan pelan saat merasakan hangat di pipi sebelah kanannya.matanya menangkap Donghae yang sedang memandang wajahnya, lalu matanya mengalihkan pandangan kesamping untuk melihat benda apa yang hangat itu? Dan itu adalah susu.

Dengan perlahan Jaekyung mengubah posisi tubuhnya yang awalnya terbaring kini menjadi duduk bersender di kepala kasur milik Donghae. Bibirnya dengan lemah memberikan senyuman pada Donghae yang masih saja menatapnya.

“Selamat pagi,” sapa Donghae terlebih dulu.

Jaekyung menutup mulutnya yang menguap lalu membalas sapaan Donghae, “Pagi juga. Engg—ini masih terlalu pagi dan aku masih mengantuk sekali.” Ucap Jaekyung pelan. Matanya terpejam lagi agar Jaekyung bisa melanjutkan tidurnya lagi.

“Ini pukul enam pagi. Ayo buka matamu, hari ini kita pindah kerumah kita yang baru. Cepat. Dan, oh—jangan tidur lagi, ini minum susu ini, aku ingat saat aku bangun tidur tadi bahwa tadi malam kau tidak meminum susu untuk ibu hamil.”

“Tapi aku tidak suka dengan susu. Kau harus tahu itu!” Jaekyung memalingkan wajahnya, tidak menerima gelas yang berisi susu itu.

“Aku tidak perduli kau suka atau tidak, tapi setidaknya ini untuk kebaikanmu dan janin yang ada di kandunganmu!” Jaekyung diam saat mendengar ucapan Donghae tadi. Sedikit menohok hatinya, yah, dia khawatir dengan janin yang ada di kandungannya, ini memang untuk bayinya.

Dengan kasar Jaekyung mengambil gelas susu yang ada di tangan Donghae, lalu dengan cepat pula Jaekyung menghabiskannya. Setelah susu yang ada di dalam gelas habis, Jaekyung mengembalikan gelas tersebut pada Donghae kembali.

“Oh, tidak. Mulutku menjadi tak nyaman.” Ucap Jaekyung sambil mengelap bibirnya

“Itu sudah menjadi kewajiban seorang yang sedang hamil!”

“Yah, terserah kau saja.” Ucap Jaekyung tak perduli. Matanya menatap kearah tirai jendela kamar Donghae yang sudah terbuka lebar. Pagi yang cerah, ucap Jaekyung dalam hati.

Walaupun pagi ini cerah, hatinya sudah mendung saat mendengar ucapan Donghae tadi dan itu membuatnya malas menanggapi ucapan yang di lontarkan oleh Donghae. Mata Jaekyung beralih memandangi Donghae yang sedang mengambil sesuatu di bawah selimut yang menutupi sebagian tubuh Jaekyung.

Kening Jaekyung mengerut aneh, apa yang di lakukan Donghae sekarang? Apa ia akan melakukan sesuatu padanya? Tapi ini masih terlalu pagi untuk berbuat hal mesum—oh, tidak, Jaekyung tidak mengaharpkan apa yang akan di lakukan Donghae padanya. Hanya saja yang ada di dalam pikiran Jaekyung adalah aneh. Yah, aneh pada Donghae—eww, tidak, Donghae memang sudah aneh sejak dulu.

“Apa yang kau cari?” tanya Jaekyung akhirnya. Mata Jaekyung masih menatap Donghae yang entah mencari apa yang ada di dalam selimutnya, tubuh Jaekyung bergeser sedikit dan setelah itu Donghae menegakan tubuhnya kembali.

Jaekyung melihat tangan Donghae yang sedang memegang sebuah ponsel dan headset yang mengantung tak karuan. Dan, Jaekyung baru ingat sekarang kalau tadi malam ia tak bisa tidur dan ia menyerah setelah itu ia mengambil ponsel serta headset yang ia simpan di laci meja yang ada di samping kasurnya, dan yah setelahnya ia mendengarkan music dan ia tertidur lelap.

“Jangan menjadi kebiasaan kau tertidur dengan telinga yang di sumpal oleh headset ini! Kau tahu, itu tidak baik untuk pendengaranmu nanti dan tidak baik untuk telingamu, bisa-bisa telingamu bisa lecet dan memerah!” ucap Donghae panjang lebar. Jaekyung hanya memandang Donghae dengan pandangan datarnya. Lalu ia menghela napasnya pelan.

“Itu sudah menjadi kebiasaanku, saat aku tidak bisa tidur atau apa aku akan selalu mendnegarkan music yang ada di dalam ponselku. Lagi pula itu tidak ada urusannya dengamu!” ucap Jaekyung, lalu jaekyung menyingkap selimut yang masih menyelimuti setengah tubuhnya, setelah itu ia beranjak dari duduknya.

Belum melangkah dua langkah, pergelangan tangan Jaekyung sudah di cengkram oleh Donghae. Jaekyung menolehkan kearah Donghae, alisnya terangkat menandakan Jaekyung menuntut apa yang di lakukan oleh Donghae pada dirinya.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini lagi. Berhentilah menjadi seorang yang menyebalkan seperti ini!” ucap Donghae dengan segala kejujurannya. Jaekyung dengan pelan menghembuskan napasnya.

“Aku memang seorang yang menyebalkan jika kau mau tahu. Ini sudah menjadi sifatku dari dulu, kalau kau tak suka, ya sudah itu urusanmu. Aku tidak perduli. Jadi, tolong lepaskan pergelangan tanganku dan aku ingin kekamar mandi untuk membersihkan badanku.” Jaekyung tersenyum manis—sangat manis.

Jaekyung memaksakan agar Donghae melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Donghae. Setelah terlepas dengan segera Jaekyung melangkah kearah kamar mandi, meninggalkan Donghae yang merengut kesal akibat segala tingkahnya yang sering tiba-tiba berubah. Jangan salahkan dirinya, salahkan Donghae yang selalu mengucapkan tanpa di pikir-pikir terlebih dulu, karena Jaekyung sekarang cepat sekali menjadi seorang yang tersinggung.

***

Donghae merebahkan tubuhnya saat ia melihat Jaekyung yang sudah masuk kedalam kamar mandinya. Gadis itu menyebalkan, sangat menyebalkan. Apa karena sebuah susu itu bisa membuatnya mejadi seorang yang sangat menyebalkan? Sepertinya itu tidak, tapi—oh, apakah ia harus mengatakan kembali bahwa Jaekyung menyebalkan di pagi hari yang sangat cerah ini?

Tangan Donghae mengusap kedua matanya yang terpejam, Donghae rela bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan susu khusus ibu hamil untuk Jaekyung, tapi apa yang dibalas oleh Jaekyung? dengan sikap menyebalkan Han Jaekyung. benar-benar sangat manis balasan yang di berikan Jaekyung.

Tangan sebelah kanan Donghae masih memegang ponsel milik Jaekyung, dan ini adalah situasi yang sangat menguntungkan. Tentu saja, kapan dirinya bisa memegang ponsel milik istrinya ini? Tentu saja tak akan pernah, selain menyebalkan Han Jaekyung juga seorang yang sangat pelit tentunya.

Donghae mengubah posisi tubuhnya yang awalnya terlentang kini menjadi duduk dengan kaki yang bersila. Donghae berdoa semoga saja ponsel Jaekyung tanpa pengaman, dan doa Donghae terkabul. Tidak ada password untuk membukanya.

Pertama-tama Donghae membuka koleksi foto yang ada di ponsel Jaekyung. raut wajah Donghae saat melihat koleksi foto Jaekyung benar-benar tak bisa di tebak. Bagaimana lagi, koleksi foto yang di koleksi Jaekyung hanya anime-anime jepang. Tsk! Tidak ingat umur apa, masih menyukai anime saja. Tapi, menyukai anime tidak pandang umur bukan? Jadi yang salah adalah dirinya.

Masih dengan anime-animenya, dan wajah Donghae masam ketika melihat beberapa koleksi foto laki-laki yang ada di dalam ponsel Jaekyung. apakah dirinya tak kalah tampan dengan laki-laki yang ada di dalam ponsel ini? Donghae tidak tahu siapa laki-laki yang sedang ia lihat.

Tampan sih memang, tapi tak lebih tampan dari dirinya. Donghae ingin sekali menghapus semua foto-foto yang sedang ia lihat sekarang. Apalagi foto laki-laki dengan rambut pirang platina yang banyak sekali ini. Tubuhnya kurus, terlihat tua dan rambut pirang platinya itu benar-benar mengganggu pemandangan, serta tangannya yang sedang memegang sebuah tongkat. Dan otak Donghae ingat siapa laki-laki yang sedang ia deskripsikan. Donghae lupa namanya yang Donghae ingat laki-laki ini bermain dalam film Harry Potter itu.

Donghae berpikir di ponselnya saja memang banyak sekali foto laki-laki-pirang ini pasti di laptopnya tak kalah banyak juga. Menyebalkan, lain kali Donghae akan memindahkan semua fotonya keponsel Jaekyung dan menjadikannya wallpaper.

Setelah bosan melihat foto-foto laki-laki tak jelas itu, foto itu mulai menampilkan foto Jaekyung yang sedang ada di taman kampus, sedang mengerjakan tugas, ada beberapa foto saat masa-masa sekolahnya, ada juga dengan Gikwang—yang membuat Donghae merengut kesal—ada juga foto Jaekyung yang sedirian dengan sepupunya dan bahkan ada dengan Kyuhyun juga. Oh—ini menyebalkan.

Dengan cepat Donghae meletekan ponsel Jaekyung itu di atas nakas. Secara tak sadar Jaekyung juga bisa membuatnya kesal tanpa adanya perdebatan antara dengan dirinya. Donghae kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, otaknya sedang memikirkan rencana untuk berfoto dengan Jaekyung, seperti apa yang di lakukan oleh Kyuhyun dan Gikwang itu.

Donghae tak menghiraukan suara langkah yang mendekat kearahnya. Itu Jaekyung yang baru selesai dari dalam kamar mandi. Donghae melirik kearah Jaekyung sebentar, lalu kembali mengalihkan kembali kearah lain. Masih tak terima dengan apa yang dilihatnya tadi.

Jaekyung sudah berpakaian lengkap, jadi Donghae tak harus pergi dari kamarnya. Dan walapun Jaekyung belum memakai baju pun, Donghae tak akan keluar dari dalam kamarnya ini. Itukan sudah menjadi hal yang di halalkan, bukan?

“Kau mau turun kebawah, tidak?” tanya Jaekyung, Donghae masih diam. Lalu Donghae menatap Jaekyung yang sedang menyisir rambut panjangnya.

Donghae diam, dan Jaekyung menolehkan kearah Donghae untuk melihat apa yang di lakukan oleh Donghae yang hanya diam saja dengan pertanyaan yang di lontarkan olehnya, sepertinya Donghae tak mendengar ucapannya. Kening Jaekyung mengerut aneh melihat wajah Donghae yang teramat serius itu, dan Jaekyung tidak perduli itu.

***

Jaekyung menuruni anak tangga tersebut dengan hati-hati, sekarang masih pukul setengah tujuh dan pasti sekali bahwa beberapa pembatu di rumah Donghae sudah bekerja menyiapkan sarapan pagi, atau Ibu Donghae juga membatu untuk memasak sarapan pagi. Jadi, Jaekyung yang menjadi seorang penghuni baru di rumah ini harus membantu juga bukan? Yah, Jaekyung harus membantu menyiapkan sarapan pagi ini.

Dengan senyuman yang tercipta di bibirnya, Jaekyung melangkah kearah dapur yang beberapa langkah dari tempat ia berdiri. Setelah sampai di dapur, Jaekyung melihat beberapa pembantu sedang memasak makanan dan tidak ada Ibu Donghae di dapur.

Jaekyung melangkah mendekat kesalah satu bibi yang sedang memasak entah apa itu, yang jelas sepertinya sedang memasak nasi goreng.

“Sarapan pagi ini nasi goreng ya?” tanya Jaekyung dari belakang tubuh bibi tersebut yang membuat bibi itu tersentak kaget, lalu menolehkan kepalanya kebelakang.

“Noona… anda mengagetkan saya.” Ucapnya sambil mengelus dadanya.

“Maaf kalau begitu. Uhmm—boleh aku membantu?” tanya Jaekyung.

“Biarkan kami saja, noona cukup duduk di atas kursi menunggu nasi goreng ini selesai.” Balasnya sopan, Jaekyung merengut kesal. Seperti ini di lakukan seperti atasan. Padahalkan drajatnya sama. Menyebalkan.

“Ya sudah kalau begitu. Bibi melihat Ibu?”

“Ah, nyonya? Nyonya sedang menyiram bunga yang ada di halaman belakang sejak pagi tadi.” Jaekyung menganggukan kepalanya, lalu membalikan tubuhnya. Yah, dari pada ia tak bisa membantu di dapur lebih baik ia menuju kearah halaman belakang untuk membantu ibu mertuanya.

Saat Jaekyung membuka pintu yang menghubungkan kehalaman belakang, Jaekyung langsung di sambut dengan pemandangan yang indah di depan matanya. Telinga Jaekyung mendengar kicauan burung, merasakan udara yang segar, dan banyak hal yang menyenangkan baginya. Jaekyung menyesal kemarin dia hanya mendekam di dalam kamar Donghae saja, dan mengabaikan halaman belakang yang sangat indah ini.

Sebelum Jaekyung mencari keberadaan sang ibu mertua, Jaekyung ingin berpuas diri menglilingi halaman belakang ini. Terasa menyenangkan sekali sepertinya memiliki halaman belakang seperti ini.

“Jaekyung-ah, sedang apa disini?” ucap seseorang dari sebelah Jaekyung. dengan cepat Jaekyung menolehkan kepalanya dan mendapatkan ibu Donghae berdiri beberapa langkah darinya dengan tangan yang sedang memegang gunting rumput di tangannya.

Jaekyung tersenyum, “aku baru pertama memasuki halaman belakang ini. Saat pernikahan waktu itu, aku belum cukup menikmatinya, lalu kemarin juga aku ada di dalam kamar saja seharian ini,” ucap Jaekyung dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Kalau begitu ayo temani ibu untuk mengurus taman kesayangan ibu di sini, lagi pula sarapan pagi di mulai jam tujuh dan sekarang masih jam setengah tujuh. Masih ada waktu setengah jam bukan? Ayo kita manfaatkan.”

***

Donghae memeriksa kembali koper miliknya, semuanya sudah lengkap. Walaupun masih ada yang tertinggal ia bisa kembali kesini kapan-kapan bukan? Lagi pula barang yang ia bawa hanya yang penting-penting saja. Seperti halnya buku mata kuliah dan sebagainya.

Setelah sarapan pagi dan berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya akhirnya ia dan Jaekyung bisa menyelesaikan apa yang harus di selesaikan oleh Jaekyung kemarin. Ibunya sedang bersama dengan Jaekyung diperpustakaan kecil di kamarnya, menemani Jaekyung mencari sebuah buku yang ingin di baca olehnya.

Merasa semuanya sudah lengkap, Donghae melangkah kearah perpustakaan untuk menemui ibunya dan Jaekyung untuk memberitahukan bahwa ia sudah selesai dan siap untuk pergi kerumah barunya.

Baru saja Donghae melangkah beberapa langkah, Jaekyung dan ibunya keluar dari perpustakaan tersebut. Dengan Jaekyung tersenyum menanggapi semua ucapan ibunya, tangan ibunya sendiri mengusap puncak kepala Jaekyung yang langsung di tanggapi oleh malu-malu oleh Jaekyung.

“Aku sudah selesai. Dan Jaekyung-ah, apakah kau sudah selesai juga?”

“Tentu aku sudah selesai dan siap.”

***

Donghae memakirkan mobilnya di dalam garasi rumahnya, kepalanya menoleh kearah Jaekyung yang sedang mendengarkan music serta matanya terpejam rapat. Gadis ini tertidur didalam mobilnya lagi.

Dengan pelan Donghae menguncang tubuh Jaekyung agar segera bangun dari tidurnya dan segera masuk kedalam rumah baru mereka. Setelah beberapa saat Jaekyung tak kunjung menandakan bahwa ia akan terbangun, akhirnya dengan usahan Donghae menghembuskan napasnya di cuping telinga Jaekyung, Jaekyung terbangun juga. Dengan mata yang agak memerah dan sayu, Jaekyung menatap Donghae.

“Oh, sudah sampai?” tanya Jaekyung sambil mengusap kedua matanya.

“Tentu saja. Dasar tukang tidur. Dari rumah kesini kan hanya setengah jam, kenapa malah tertidur?” ucap Donghae sambil membuka pintu mobilnya.

Jaekyung melepaskan headset yang tersumpal di telinganya, lalu menyimpannya didalam tasnya. Jaekyung membuka pintu mobilnya, berjalan menuju kearah bagasi mobil yang ada di belakang. Jaekyung berdiri di belakang Donghae, menunggu Donghae untuk mengambil koper-koper milik mereka.

Donghae melirik kearah Jaekyung yang sedang menguap. Apa semua wanita hamil itu cepat sekali lelah? Donghae lupa untuk menannyakan semuanya pada ibunya. Tidak, sepertinya itu bukan ide yang bagus.

Donghae meletakan koper Jaekyung di sampingnya lalu ia kembali mengambil koper miliknya sendiri. Donghae melirik kembali kearah Jaekyung yang sudah menggenggam pegangan koper miliknya tersebut. Wanita yang tidak merpotkan. Pikir Donghae dalam hati.

Donghae jalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Jaekyung di belakangnya yang sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Donghae memelankan langkah kakinya, setelah langkahnya sama dengan Jaekyung, Donghae menengok melihat apa yang di lakukan oleh Jaekyung dengan ponselnya. Mata Donghae sekilas melihat nama Lee Gikwang yang ada di layar ponsel.

Lee Gikwang lagi. Gerutu Donghae dalam hati. Entahlah, melihat Jaekyung dekat dengan Gikwang membuat hati Donghae sedikit panas, dan Donghae tidak menyukainya.

Langkah Donghae ia percepat. Tidak mau melihat nama Lee Gikwang di layar ponsel Jaekyung. setelah sampai di pintu samping rumahnya, Donghae dengan cepat membukanya, tak menghiraukan Jaekyung yang masih tertinggal jauh di belakangnya. Dasar lamban. Umpat Donghae.

Apa yang akan kalian ucapkan tentang segala sikap Donghae sekarang ini, Donghae benar-benar tak perduli dengan itu.

Donghae mengganti sepatunya dengan sandal rumahan yang sudah ada. Setelah mengganti, Donghae berjalan kearah ruang tamu dan Donghae segera menghempaskan tubuhnya. Jangan kalian berfikir bahwa Donghae lelah hanya karena membawa koper itu, Donghae hanya kesal dengan hatinya. Ia bingung kenapa ia bisa merasa kesal jika Jaekyung berhubungan dengan laki-laki lain selain dirinya, padahal hatinya selalu berkata bahwa ia masih mencintai Hyera.

Donghae memejamkan matanya, sangsi bahwa dirinya masih mencintai Hye Mi atau tidak. Yang ada di dalam hati Donghae sekarang kebingungan yang membuat kepalanya pening seperti ini. Donghae hanya bisa berharap Jaekyung tak akan pernah menyukainya, walapun dulu saat tak terjadi insiden seperti ini, Donghae ingin sekali Jaekyung menyukai dirinya.

“Kau meninggalkanku,” Donghae membuka matanya, menoleh kearah sumber suara tersebut. Jaekyung duduk di sampingnya dengan wajah merengut.

Tangan Donghae terangkat untuk mengelus kepala Jaekyung, “kau selalu sibuk dengan ponselmu itu. Kapan-kapan aku akan menyita semua barang elektronikmu itu.” Ucap tegas Donghae yang membuat Jaekyung semakin merengut.

“Tidak, aku hanya bercanda.” Ucapnya lagi. Donghae menegakan posisi duduknya, lengan tangannya merengkuh bahu Jaekyung yang bermaksud memeluknya.

Kepala Donghae menunduk, menyerukan keleher Jaekyung, dan Donghae menghirup aroma tubuh Jaekyung dengan pelan. Aroma yang menenagkan, aroma yang membuat pikirannya tak serunyam tadi. Donghae semakin mengeratkan rengkuhannya pada Jaekyung, kalau bisa setiap hari seperti ini, Donghae benar-benar ingin selalu seperti ini.

“Kau kenapa?” tanya Jaekyung aneh dengan sikap Donghae yang dengan tiba-tiba seperti ini.

Donghae menggeleng, “tidak, aku tidak apa-apa.”

“Apa perlu kubuatkan minuman?” tawar Jaekyung, Donghae tersenyum lalu melepaskan rengkuhannya.

“Kau lupa kalau rumah ini baru dan tidak ada bahan makanan yang ada didalam kulkas. Dan tidak ada alat masak lainnya disini. Aku lupa untuk membelinya, bagaimana?”

“Kalau begitu kenapa kita tak pergi ke super market saja?” usul Jaekyung dengan senyumannya.

Ini benar-benar aneh, Jaekyung yang tadinya menyebalkan kini malah berbalik tidak menyebalkan seperti tadi. Tapi itu keuntungan baginya, karena yah Donghae bisa berdekatan dengan Jaekyung.

“Kalau begitu ayo pergi.”

***

Jaekyung memilih daging yang ada ditangannya, bingung mana yang harus di ambilnya, apa dua-duanya saja kah yang harus ia ambil? Tapi kalau dua-duanya yang ia ambil itu sangat pemborosan sekali. Jaekyung melihat troli belanjaannya, didalamnya sudah di isi dengan beragam sayuran dan buah-buahan, telur, daging ayam dan dikedua tangannya terdapat daging sapi.

“Kau bingung?” tanya Donghae dari belakang, Jaekyung menganggukan kepalanya. “Kenapa tidak keduanya saja? Aku suka daging dan aku pasti akan makan banyak daging,” ucap Donghae lagi yang membuat Jaekyung menggerutu.

“Baiklah kita ambil keduanya! Dan kau mendapatkan apa?” tanya Jaekyung melihat isi troli milik Donghae.

“Hanya makanan ringan dan beberapa minuman bersoda serta kopi dan susu. Serta aku membeli susu khusus untukmu sebanyak mungkin.” Tunjuk Donghae pada isi trolinya, Jaekyung melihatnya sebentar lalu merengut pelan. Donghae tersenyum.

“Minuman yang tidak sehat!” ucap Jaekyung sambil mendorong trolinya kembali.

Mata Jaekyung mendongak mencari sesuatu yang kurang dalam daftar belanjaan yang ada di dalam otaknya. Sayur, buah, telur, daging, minuman sudah semua. Jadi apa yang di perlukannya lagi? Oh, ternyata alat untuk memasaknya dan beberapa alat rumah tangga serta pengharum ruangan yang belum ia dapatkan. Jaekyung memukul kepalanya pelan.

“Kau pusing?” tanya Donghae yang melihat Jaekyung memukul kepalanya sendiri. Jaekyung langsung menggeleng pelan dan kembali mendorong trolinya kembali.

“Jadi apa yang kita perlukan lagi? Rasanya masih banyak yang kurang bukan?” tanya Donghae sambil melihat isi troli masing-masing.

“Tentu saja masih banyak yang kita perlukan. Alat untuk memasak, pengharum ruangan, alat pembersih dan lain sebagainya. Ah, jangan lupa sabun mandi, shampoo, pasta gigi, sikat gigi dan lain-lainnya.” Donghae melirik sebentar kearah Jaekyung lalu menganggukan kepalanya mengerti.

“Kalau begitu aku akan pergi kebilik alat mandi. Dan kau alat memasak.”

***

Jaekyung menatap semua yang di belinya hari ini bersama dengan Donghae. Astaga banyak sekali, Jaekyung kira hanya akan membeli sedikit keperluan tahu-tahunya sebanyak ini. Tangan Jaekyung meremas rambutnya pelan.

“Banyak sekali ya?” tanya Donghae pada Jaekyung matanya mengikuti apa yang Jaekyung tatapi sekarang.

“Hmm..aku kira hanya perlu membeli bahan makanan dan alat memasak saja, tahu-tahunya sebanyak ini. Ah..pasti akan lelah membawanya dan membereskannya.” Keluh Jaekyung, Donghae merangkul Jaekyung lalu menatap kearah Jaekyung dengan senyuman di bibirnya.

“Kau punya suami untuk apa fungsi seorang suami kalau bukan hanya bertanggung jawab saja?” ucap Donghae yang langsung membuat Jaekyung tersenyum.

“Baik, kita bagi tugas saja. Aku akan membawa semua bahan makanan, semua yang berbahan lunak, dan gampang untuk di bawa. Dan kau sendiri membawa semua yang banyak itu? Adil bukan?” Donghae mengangguk, tangannya membawa semua kantung belanjaannya di ikuti oleh Jaekyung juga yang berjalan di belakang Donghae.

Setelah sampai di parkiran mobil dan berada di belakang mobilnya, Donghae dengan segera menaruh barang belanjaannya di bawah, membuka pintu bagasi mobilnya setelah itu ia langsung memasukan semuanya. Donghae menerima semua yang di berikan oleh Jaekyung. setelah semuanya rapi, Donghae dengan segera menutupnya.

“Bagaimana sudah selesai?” tanya Jaekyung, Donghae menganggukan kepalanya mantap.

“Tentu saja sudah selesai. Ayo pulan—” ucapan Donghae terhenti saat matanya melihat sosok perempuan di belakang tubuh Jaekyung. matanya sedikit melebar melihatnya.

Jaekyung membalikan tubuhnya, mendapatkan Park Hye Mi dengan penampilannya yang selalu modis. Hye Mi hanya diam menatap dirinya dan Donghae yang sedang memegang bahunya itu. Jaekyung harus tahu apa yang akan terjadi nanti.

“Donghae-ah, bisa kita bicara sebentar?” ucap pelan Hye Mi sambil menundukan kepalanya. Lihat, jadi diam saja terserah apa yang akan di lakukan oleh Donghae iya kan saja semuanya. Walaupun kau mengatakan tidak, Donghae tidak akan menuruti ucapannya.

“Aku akan menunggumu di dalam mobil. Pergi dan bicaralah padanya.” Ucap Jaekyung tak perduli, lalu Jaekyung melangkah dan kemudian masuk kedalam mobil.

Rahang Donghae sedikit mengeras mendengar suara tak perduli Jaekyung dan sikap Jaekyung yang kembali seperti itu. Baik, kau harus sabar Lee Donghae. Temui dan dengan cepat menyelesaikan apa yang akan di bicarakan oleh Hye Mi nanti.

Donghae melangkah kearah Hye Mi, lalu mengisyaratkan agar segera mengikuti langkahnya. Donghae menghembuskan napasnya kesal, kesempatan untuk berduaan dengan Jaekyung hilang sudah. Tapi masih ada hari-hari berikutnya bukan? Tapi yang Donghae inginkan adalah sekarang.

Semuanya ini adalah salah Park Hye Mi.

TO BE CONTINUED.

Cuap-cuap;

Sorry for late again. Wakaka ternyata saya nyampe satu bulan lagi ngepost fict ini wakakaka bagaimana ini? Alurnya lambat? Ah, sengaja karena aku BINGUNG! Waks. Map deh, ini gara2 banyak cowok ganteng yang berkeliaran di situs internet jadi yah ngelantarin ini ff. maaf juga buat Donghae, Jaekyung selingkuh sama berondong Himchan B.A.P sama Jong Up B.A.P salahain mereka deh yang tiba2 ngeracunin pikiran saya lewat lagu2 mereka :v wakakakak

Nah, kalau kalian ngerasa bosen sama fict ini, bisa langsung komen aja. Jujur aja, aku ini orangnya yang ngga pernah langsung masukin omongan orang kedalem hati. Tenang aja, aku orangnya ngga suka marah2 kok. Tenang aja, jangan pada takut. Cuma, ya, aku Cuma kasar aja. Wkakakakak
DAN AAAAAAAAA BANYAK KATA YANG ANEH, NGGA MASUK AKAL, BANYAK KATA YANG DI ULANG, BOSEN, BORING APA LAGI. POKONYA KALO KALIAN NEMUIN YANG ANEH KUDU BILANG. SAYA LAGI LABILSASI IMAJINASIASI, LABILASI INPIRASIASI. DUH SAYA GILASASI :v :v :v :v

SO, REVIEW YANG JUJUR OKAY. Misal, kalian protes karena kebanyakan narasai atau apa gitu deh terserah kalian.

Sudah dulu, terima kasih semua…
6488 word without cuap-cuap.

Vyejungmin Love..
Silvi Diah Septiyani, Indramayu, Kamar tercinta, 12 September 2013. 10:50pm

34 thoughts on “If This Was a Movie [Part 10]

  1. SILVIIIIIIIIIIIIIIII
    kenapa LABILSASI IMAJINASIASI, LABILASI INPIRASIASI di bawa2 lagi??
    tadio di FB Ami ama Kak Ailla juga ngomong begtu..
    lah skrang di rimu ikutan..
    ckckckck
    No komen about FF
    hanya berharap lanjutannya bisa cepet^^v
    he3x

  2. kyaaaaaaa….. Donghae rupanya lagi Galaulisasi(?) karena sikap Jaekyung yang Labilisasi akan hatinya…
    Beneran gregetsasi(?) sama mereka berdua. Kalo cinta tinggal bilang aja brooooo…
    Waksss ternyata Donghae Cemburusasi(?) sama Jaekyung yg sangkut paut dg Gikwang :v
    Jaekyung keknya udah Klopisasi(?) sama ibu Donghae…
    Suka sama adegan yang di teras kamar. Romantisasi(?) banget…
    Aiiiish… selalu saja saat akur ada pengganggusasi(?) si Hye Mi itu..
    iya nih ada typo, dan kata2 yg kurang di mengerti. But basicly over all, i think good🙂

  3. Aigooooo..
    Donghae ud mulai cemburu menguras hati nich..*loohh..
    Ahhaahaa, daebak ceritanya oen..
    Ga sbar nungguin lanjutannya..
    Ninggalin jejak dlu, reader baru, iniii Nova..:D
    Salam kenal..

  4. pengantin baru yang tidak romantis apalagi dg mood keduany,yg labil
    kkekekke

    tapi d situ unikny^^
    kq tbc d situ s saeng hhahhahha
    d tunnggu next part

  5. Wah. .Akhrnya publish jg. Jamurn saya nunggu nya.
    Ciyee. . . .Yg pngen b2 an aj breng Jaekyung. Pke cmbru2 sgla. Wiw. . .Udh cnta ya sma Jaekyung nya? Si Hye Mi mending d abai kn aj deh. Mngganggu!! Btw first night mreka kpn nih? *dasarmesum
    Soon update ne ^_^

  6. vyeeee demi Muka DRACO yang tuampannn

    sekali-kali itu coba dong bikin si ikan cemburu buta sampae ke ubun2 sama si Gikwang, truz bikin si jaekyung juga berpaling dong dr si ikan. coz pen banget deh sekali -kali liat donghae dikalahin sama seseorang

    walaupun ya mrk bakal punya baby, tp kyanya asik deh klo je nyobain ngedate sama cowok selain donghae yng kyanya ga kapok2 nyuekin si je

    btw, aniwei..aku kangen loh adegan ehem2 HaeKyung wkwkwk

  7. akhirnya setelah sekian lama menunggu lanjutan ff ini, di post juga. Donghae mulai suka sama Jaekyung dan Jaekyung pun cemburu sama Park Hyemi tuhhh. Baru aja HaeKyung deket eh udah ada penggangu.

  8. akhirnya publish,,
    d part ini dialog.nya lumayan bnyk lah, jd tenang aja ngga ngritik itu,,
    pengennya next part cpet thor,,
    tp kyknya hrus nunggu sebulan lagi deh,,T_T

  9. woo tbc nya cepet banget perasaan… hmm typo ada berapa, tp g msalah sih. lebih banyak monolognya, percakapan dikit, sdkit action. aku lebih suka yg biasanya. kalo begini terkesan datar gtu. maafin kritikanku yah. kalo g suka abaikan ajag annyeong^^

  10. It hae sm jaekyung udah pd cinta kan,tp blm pd nyadar aja..trz it hye mi mau apa saeng?jaekyung udh cemburu.hae jga..npa pda ga slg mengakui aja,wkwkwk

  11. KURANG PANJANG CHINGUUUUU >.<

    suka ama alurnya.. tapi cuma greget banget ama si hae-kyung, napa sih gak langsung jujur aja kalo pada suka.. kan biar cepet adegan mesra2an :*

    udah lama ngikutin ni ff, tp baru sempet komen disini sekarang😀

  12. .Waahh makin seru nhi..
    .jdi penasaran bgaimna klanjutan cerita nya.

    .semangaat!!! buat author nya..
    moga bisa cpatt posting part 11 nya..
    #FIGHTING!!!!

    .Oh yaa,, salam knal aqqu reader baru d.blog ini.
    hyuNi^^

  13. donghae perhtian bgt deh jd sukka.. aplgi wkti d teras kmar..
    donghae sdah berani cium n meluk”.. yeiiii
    yah tuh hyemi knpe ente muncul..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s