Misunderstanding [ONESHOOT]

Cast: Lee Donghae, Han Jaekyung, Choi Jun Hong B.A.P

 

Warning: banyak typo, karena ngga aku edit. Soalnya aku ngelanjutin ngetik ff ini di sekolahan dan udah hampir jam dua. Jadi kalo emg banyak typo dimaklumi aja yahhh. and ini banyakan NARASI DARIPADA DIALOG. OKAY!!

 

***

 

 

Donghae menyenderkan kepalanya di bahu Jaekyung. akhir-akhir ini ia merasa jenuh dengan semua tugas kuliahnya, bayangkan saja satu hari saja sudah ada kurang lebih tiga tugas kuliah. Dasar dosen yang tak melihat bagaimana kondisi mahasiswanya.

 

Mata Donghae terpejam, menikmati sepoi angin yang ada di taman kampusnya ini. Donghae mengerjapkan mataanya pelan, waktu-waktu seperti ini memang menyenangkan baginya, semuanya bebas, tak ada yang perlu di pikirkan. Tugas yang semakin hari semakin menggunung itu biarkan sejenak dulu.

 

Donghae menegakan tubuhnya, ia merasa heran pada kekasihnya, biasanya kalau Donghae menyenderkan kepalanya di bahu Jaekyung, dengan cepat Jaekyung pasti akan menghindarinya atau menggeser tubuhnya sejauh lima meter dari dirinya dan itu pasti membuat Donghae mendengus kesal.

 

Kekasinya ini, entahlah aneh. Biasanya sepasang kekasih saling menyenderkan bahu atau bergelayut manja itu kekasih tersebut pasti akan merasakan senang atau apapun, tapi ini berbeda dengan kekasihnya ini. Jaekyung pasti akan mengemol dengan ketidak sukaanya tersebut pada dirinya.

 

Biarakan lah, jarang sekali kekasinya bersikap seperti ini. Biasanya kekasinya bersifat tak layak seperti kekasih pada umumnya. Tapi walaupun begitu Donghae tetap mencintai kekasihnya ini yang sedari tadi hanya diam saja.

 

Kembali Donghae menyenderkan kepalanya pada bahu Jaekyung. bibirnya merekah membentuk sebuah senyuman yang sangat melukiskan dirinya bahwa sekarang dirinya sedang senang walaupun tugas dari dosen sangat banyak sekali.

 

“Bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan?” tanya Donghae di dekat telinga Jaekyung.

 

Donghae menghembuskan napasnya pelan yang membuat Jaekyung bergidik pelan dan menggoyang-goyangkan bahunya bermaksud agar Donghae segera mengambil jarak yang sedikit jauh darinya. Tapi namanya juga Donghae tetap tak merespon apa yang sudah di lakukan oleh Jaekyung.

 

Tangan Donghae memilin ujung rambut panjang Jaekyung yang ikal dan berwarna coklat kehitaman. Kegiatan seperti ini pula yang membuat Donghae senang. Ah, tidak. Apapun yang ada pada di diri kekasihnya pasti akan membuatnya senang dan bahagia.

 

“Bagaimana?” tanya Donghae lagi yang tak mendapatkan respon positif dari kekasihnya.

 

“Ngh…” hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Jaekyung, Donghae memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang di lakukan oleh Jaekyung. tangan yang sedari tadi memilin-milin rambut Jaekyung kini ia lepaskan. Donghae menggeram kesal.

 

Jaekyung tak merespon.

 

“Hei, kau mendengarku atau tidak?” ucap Donghae sambil mencubit lengan Jaekyung yang ada di atas meja. Jaekyung meringis lalu menatap Donghae yang sedang merengut kesal.

 

“Kau menyakitiku. Sudah kubilang jangan pernah mencubit tubuhku atau apa! Kau mau aku jambak, hah!” hardik Jaekyung yang merasa kesal dengan apa yang di lakukan oleh Donghae tadi.

 

Donghae sendiri memalingkan wajahnya kearah lain, tidak mau mendengar ucapan kesal Jaekyung tadi. Matanya melirik-lirik kearah Jaekyung yang sekarang sibuk dengan mengelus-elus lengannya.

 

Apa itu sakit? Sepertinya itu tidak begitu sakit. Kan Donghae hanya mencubitnya tidak sekeras apa yang sering Jaekyung lakukan pada dirinya. Cukup adil bukan, ketika Jaekyung merasa kesal pasti yang menjadi sasarannya adalah dirinya. Jadi ketika dirinya merasa kesal seperti sekarang adalah yang menjadi sasarannya Jaekyung.

 

Konyol. Mana ada sepasang kekasih seperti mereka berdua. Tapi itu memang kenyatannya, bertengkar, saling memukul, saling berteriak. Tapi hubungan mereka tetap bertahan walaupun mereka sering bertengkar layaknya tikus dan kucing.

 

Tentu saja, setiap mereka bertengkar atau apa, salah satu dari mereka pasti akan mengajak untuk makan atau melakukan sesuatu yang membuat mereka tak merasa kesal satu sama lain, dan setelah itu mereka berdua berbagi ciuman yang manis. Dan di akhir itu yang membuat Donghae bahagia.

 

“Jam berapa sekarang?” tanya Jaekyung yang tak mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di hadapannya.

 

“Kau tinggal melihat kearah pergelangan tangamu yang kiri. Kau memakai jam tangan sekarang!” Donghae menoyor kepala Jaekyung, mata Jaekyung berkilat tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Donghae tadi. “Apa? Mau protes?”

 

“Kau ini, kekasihku atau bukan? Seenaknya saja main menoyor! Tadi mencubit sekarang menoyor! Kau mau aku jambak?” berang Jaekyung sambil mendenguskan napasnya.

 

“Lihat, kau juga kekasihku atau bukan? Dua kali kau mengancamku akan menjambak rambutku!” balas Donghae tak mau kalah dengan Jaekyung. Donghae tersenyum melihat bibir atas Jaekyung naik keatas yang menandakan bahwa Jaekyung mulai kesal.

 

“Lupakan Han Jaekyung. anggap saja dia yang ada di sampingmu ini angin lalu!”

 

Dan ucapan itu membuat harga diri seorang Lee Donghae jatuh pada titik terendah. Yah, hanya kekasihnya lah yang bisa mengatakan seperti itu. Benar-benar seorang kekasih yang sangat romatis sekali bukan?

 

Dulu, entah kenapa Donghae bisa terpikat dengan pesona seorang Han Jaekyung yang memang Jaekyung adalah salah satu Hoobae di kampusnya. Saat itu Donghae melihat Jaekyung yang sedang duduk menyender di salah satu pohom di kampusnya. Donghae yang saat itu sedang duduk di kursi taman kampus hanya bisa terpana melihat Jaekyung yang sedang membaca.

 

Sejak saat itu Donghae selalu mengikuti gerak-gerik yang di lalukan oleh Jaekyung. setelah beberapa bulan ia mengikuti Jaekyung,Donghae memberanikan diri untuk mendekati Jaekyung. awalnya Jaekyung memang bukan tipe orang yang sangat bersahabat, terbukti bahwa saat ia mendekati saja Jaekyung hanya menganggukan kepalanya lalu melanjutkan membaca bukunya.

 

Donghae hanya bisa menggeram kesal melihat respon Jaekyung saat itu. Biasanya gadis yang di dekati dirinya pasti akan merasa gugup atau apalah, lah ini Jaekyung sendiri yang berbeda dari yang lain. Donghae pernah berpikir kalau dirinya akan berhenti untuk mendekati Jaekyung. tapi karena sahabatnya—Hyuk Jae—memberinya semangat untuk terus mendekati Jaekyung, akhirnya berbuah manis seperti sekarang.

 

Dalam hati Donghae, ia selalu menggumamkan kata terima kasih pada Hyuk Jae yang selalu menyemangatinya. Kalau Hyuk Jae tak memberinya semangat atau apa sangat di pastikan bahwa dirinya tak bisa menyenderkan kepala seperti sekarang ini.

 

Tapi semua itu berubah. Saat pertama Donghae melihat Jaekyung itu adalah Jaekyung seorang dengan kepribadian yang pendiam, tak banyak bicara—tidak, Jaekyung memang seorang yang tak suka banyak bicara, tidak, pokoknya semua hal baik yang ada di dalam pikiran Donghae semuanya hilang entah kemana setelah mereka menjalin hubungan beberapa bulan.

 

Jaekyung pemarah, suka berteriak dan masih banyak hal negative lainnya. Dan saat Donghae mengetahui kepribadian Jaekyung yang sebenarnya, Donghae langsung memutuskan hubungan mereka. Tapi itu pun tak berlangsung lama, hanya satu minggu Donghae mengajak Jaekyung kembali menjadi kekasinya tapi sayang sekali langsung di tolak mentah-mentah oleh Jaekyung.

 

Donghae hanya bisa terkikik geli mengingat apa yang terjadi dulu itu. Pengalaman yang sangat menyenangkan dan pengalaman pertamanya. Hanya Han Jaekyung yang bisa melakukan hal seperti itu.

 

Dan kalian bertanya bagaimana Donghae bisa kembali membawa Jaekyung pada dirinya? Semua usaha kerasnya yang tak pernah berhenti mendekati Jaekyung, walaupun Jaekyung saat itu tak menghiraukan Donghae yang ada di sampingnya. Seperti ucapannya tadi ‘Anggap saja dia angin lalu.’ Dan Donghae sudah kebal dengan semua ucapan pedas yang di lontarkan oleh Jaekyung.

 

Mungkin saat itu Jaekyung sudah mulai kasihan dengan Donghae yang masih mengaharapkan dirinya menjadi kekasihnya kembali atau Jaekyung sudah mulai menyadari semua ketulusan dan penyesalan yang di lakukan oleh Donghae, akhirnya Jaekyung menerimanya.

 

Saat itu Jaekyung tersenyum simpul padanya, dan pertama kalinya Jaekyung memeluk tubuh Donghae yang di pastikan bahwa Donghae benar-benar sangat bahagia sekali. Di terima kembali lalu mendapatkan semuah pelukan hangat dari seorang Han Jaekyung.

 

“Dasar gila!” ucap Jaekyung mengagetkan Donghae yang sedang mengingat ingatan dulunya.

 

Mata Donghae menyipit, “biarkan saja,” ucap Donghae tak perduli.

 

“Perutku lapar,” keluh Jaekyung sambil menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Donghae. Kepalanya bersandar pada bahu Donghae.

 

“Kau belum makan siang tadi?”

 

“Dosen itu menyita waktu istirahat kami semua,” keluhnya lagi. Donghae menganggukan kepalanya.

 

“Bagaimana kalau kita makan di kedai langganan kita?”

 

 

***

 

 

Donghae menyumpit Jjolmyeon yang ada di hadapannya, Jaekyung sendiri sibuk dengan menyumpit Ramyeon lalu menyumpit Ttokpokki. Makanan yang mengenyangkan dan enak. Donghae mengusap bibirnya dengan tissue yang tersedia di atas mejanya.

 

“Setelah ini kau akan kemana?” tanya Donghae pada Jaekyung yang masih sibuk dengan Ttokpokki di hadapannya.

 

“Pulang tentu saja. Aku masih banyak tugas yang belum ku kerjakan. Apa lagi saat tadi ada beberapa tugas yang harus di selesaikan.” Ucap Jaekyung sambil meletakan sumpit di samping mangkuknya.

 

“Sibuk sekali. Aku juga sama, sepertinya dosen-dosen itu tak mengijinkan kami semua untuk beristirahat dan menyuruh kami untuk mengerjakan tugas yang entah kapan habisnya.” Keluh Donghae yang membuat Jaekyung terkikik geli.

 

“Mungkin saja. Rasanya aku juga ingin membakar semua tugas yang ada di rumah. Tapi aku berpikir dua kali, aku sudah mengerjakannya susah payah, tapi dengan gampangnya aku membakar semuanya. Seperti orang bodoh.”

 

“Tapi kau memang bodoh, kan?” ejek Donghae yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jaekyung. “Hanya bercanda,” ucapnya lagi sambil mengelus tangan Jaekyung yang hanya dibalah dengusan oleh Jaekyung.

 

“Nunna?” ucap seseorang dari belakang tubuh Donghae, Jaekyung mendongakan wajahnya dan Donghae menoleh kearah belakang.

 

Siapa laki-laki tinggi ini? Dan kenapa memanggil Jaekyung dengan sebutan Nunna? Donghae menghiraukan laki-laki di belakangnnya ini dan mengalihkan pandangannya kearah Jaekyung yang sekarang dengan tatapan tak percaya di wajahnya.

 

“Jun Hong?” tanya Jaekyung dengan nada tak percaya.

 

“Ne, ini aku Choi Jun Hong.” Ucap laki-laki yang bernama Jun Hong. Jaekyung sontak menegakan tubuhnya lalu berjalan kearah Jun Hong. Mata Donghae mengikuti pergerakan tubuh Jaekyung dan sontak mata Donghae membesar melihat Jaekyung yang langsung memeluk Jun Hong.

 

“Ya! Han Jaekyung!” Donghae sontak berdiri dari duduknya. Tangannya memegang bahu Jaekyung agar Jaekyung melepaskan pelukan pada laki-laki ini.

 

“Lee Donghae apa yang kau lakukan? Hei!!!!!” teriak Jaekyung saat Donghae berhasil melepaskan pelukan yang di lakukan oleh Jaekyung pada Jun Hong.

 

Donghae Membawa Jaekyung pergi meninggalkan Jun Hong yang hanya menatapnya dengan polos. Kenapa dengan Nunnanya itu yang di tarik paksa oleh laki-laki aneh itu. Dan siapa laki-laki yang membawa Nunnanya?

 

 

***

 

Walaupun dalam ruangan yang sama dan duduk bersebelahan, Donghae dan Jaekyung enggan sekali untuk berbicara. Ini sudah hari ketiga dengan segala kekerasan kepala mereka masing-masing. Ibu Jaekyung yang ada di dapur hanya bisa menggeleng kepalanya pelan melihat Donghae dan anaknya saling diam satu sama lain.

 

Biarkan saja. Ini memang sudah menjadi kebiasaan mereka. Tidak akan lama sebenarnya, hanya perlu salah satu dari mereka saja untuk berbicara lebih awal dan semuanya akan menjadi seperti semula. Tapi yang menjadi pertanyaan siapa yang akan memulai berbicara. Ibu Jaekyung hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi.

 

Donghae mendengus pelan. Tidak suka dengan keadaan yang membuatnya diam seperti ini. Salahkan semuanya pada Jaekyung yang hanya mendiamkannya seperti ini. Kesal karena tiga hari yang lalu itu? Blah, bicara saja kalau ia tak suka melihat Jaekyung yang memeluk sembarang laki-laki kalau bukan dirinya.

 

Tapi itu memang benar, bahwa dirinya tak menyukai jika melihat Jaekyung berdekat-dekatan dengan laki-laki lain. Kalau Jaekyung berdekatan dengan laki-laki lain, membuat dirinya panas dan—ehkm—cemburu. Siapa sih yang tak cemburu melihat kekasih kalian yang memeluk tubuh laki-laki lain selain dirinya, tak ada bukan?

 

“Bosan!” ucap Jaekyung sambil mengambil tas yang ada di sampingnya, lalu beranjak pergi meninggalkan Donghae yang duduk di sampingnya.

 

“Kau mau kemana?” tanya Donghae yang ikut beranjak. Tangannya mencekal pergelangan tangan Jaekyung untuk menghentikan pergerakan tubuh Jaekyung.

 

“Kemana saja, itu bukan urusanmu!” balasnya sengit. Entahlah, Jaekyung merasa sebal saja karena kejadian tiga hari yang lalu. Sifat Donghae saat itu benar-benar kekanak-kanakan dan sangat menyebalkan sekali.

 

Kalau saja Donghae tak bertingkah seperti itu, Jaekyung pastikan bahwa hari itu ia pasti akan bersenang-senang dengan Jun Hong. Sampai sekarang Jun Hong belum menemuinya lagi, padahal ini pertemuan lama mereka yang sudah lebih dari tujuh tahun yang lalu. Jaekyung berpikir kalau Jun Hong sudah kembali lagi ke amerika. Dan semuanya harus di salahkan pada Donghae itu.

 

“Kau masih marah denganku?” tanya Donghae yang di respon oleh Jaekyung.

 

Jaekyung hanya mendengus kesal, masih tak sadar juga dengan kesalahannya itu. Seharusnya, dia harus berpikir apa yang menjadi kesalahannya, lalu meminta maaf padanya. Tapi sebenarnya ini juga memang salahnya juga, tapi Jaekyung sendiri sudah berusaha untuk menjelaskannya pada saat itu, tapi sayang Donghae sendiri diam dengan rahang yang mengeras menahan amarah dan itu membuat Jaekyung malas untuk menjelaskan siapa Jun Hong itu.

 

Biarkan saja, lagi pula itu tidak penting-penting juga menjelaskan siapa Jun Hong itu. Biarkan Donghae yang memikirkan semuanya. Yang Jaekyung inginkan hanya Jun Hong yang akan menemuinya. Egois? Biarkan saja, salahkan Donghae yang bersifat kekanakan itu. Dasar tidak ingat umur. Jerit Jaekyung dalam hati.

 

“Aku tahu kau masih marah padaku!”

 

“Kalau sudah tahu, ya sudah. Jadi apa yang di permasalahkan lagi? Tidak adakan?”

 

“Ketus sekali.” Ucap Donghae datar.

 

Jaekyung mendengus, “kau sudah tahu bahwa aku ini orang yang berwatak ketus. Kau juga dulu memutuskanku hanya karena tahu bagaimana semua sifat dan watak asliku kan?” Donghae mengerut kesal kenapa mengungkit kejadian lama mereka?

 

“Oh, jangan ungkit-ungkit masalah itu,”

 

“Apa kau malu?” ejek Jaekyung dengan seringaiannya.

 

“Sudahlah, lupakan semuanya. Aku minta maaf atas apa yang terjadi saat itu.” Ucap Donghae sambil mendekat kearah Jaekyung, lalu memeluk tubuh Jaekyung.

 

Walaupun masih sebal dengan segala kejadian hari itu, Jaekyung tetap memaafkan Donghae. Jaekyung membalas pelukan Donghae, tangannya mengelus-elus punggung Donghae.

 

“Baiklah, tapi aku masih kesal padamu, gara-gara dengan watakmu itu, aku jadi tidak bisa bertemu dengannya.” Ucap Jaekyung yang membuat Donghae melepaskan pelukannya. Jaekyung terkejut dan matanya melotot tak terima.

 

“Baiklah, siapa dia?” tanya Donghae langsung.

 

“Bukankah saat itu kau mengatakan padaku, bahwa kau tak perlu menjelaskan siapa dia. Ah, itupun kalau kau ingat.” Balas Jaekyung mengejek Donghae.

 

“Aku berubah pikiran sekarang.”

 

“Tidak bisa. Aku tidak akan menjelaskannya.”

 

 

 

***

 

 

Donghae meletakan tasnya di atas kursi yang ada di kamarnya, lalu ia merebahkan tubuhnya keatas kasur empuknya sendiri. Hari ini berdebad dengan Jaekyung sama saja mengerjakan tugas uraian kimia dan fisika yang lebih dari seratus soal.

 

Dasar kepala batu dan menyebalka, kapan coba dia akan berubah? Seperti mengalah, meminta maaf terlebih dahulu, atau apalah. Sejak dulu ia terus yang meminta maaf dan mengalah.

 

Donghae ingat dengan ucapan Jaekyung yang saat itu Jaekyung menerima kembali Donghae, bahwa Jaekyung tidak akan meminta maaf terlebih dulu, atau mengalah. Lalu dengan bangganya, bahwa itu bukan gaya Han Jaekyung sekali. Terus selain itu Jaekyung mengoloknya kalau Donghae tertipu dengan segala wataknya yang sering berubah-ubah.

 

Tentu saja, bagaimana Donghae tidak tahu dengan segala watak Jaekyung, Donghae hanya mengikuti kemana saja Jaekyung pergi saat Jaekyung masuk kampusnya lalu mendekatinya beberapa bulan, setelah itu karena dengan tugas kuliahnya yang sangat banyak, Donghae hanya bisa bertemu saat di perpustakaan. Dan itupun sangat jarang sekali.

 

Tapi dengar-dengar gossip saat itu, Jaekyung sering membaca di bagian paling pojok yang sangat tenang untuk membaca. Dan pada saat itu Donghae duduk depannya, awal hanya saling diam, kemudian dengan percaya diri yang sangat besar akhirnya ia bisa mengungkapkan perasaanya pada Jaekyung, yang saat itu tak di dengar oleh Jaekyung karena Jaekyung sedang mendengarkan musik dengan headphonennya, dan pada saat itu harga diri seorang Lee Donghae turun peringkat yang paling akhir.

 

Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melupakan kejadian saat itu. Memalukan sekali. Tapi dengan usaha yang sangat keras, akhirnya berbuah dengan sangat manis saat Jaekyung menerimannya walaupun awalnya Jaekyung hanya menatapnya dengan datar.

 

Kadang Donghae sering berfikir kenapa dirinya bisa menyukai Han Jaekyung itu. Dia lupa kalau dirinya tertipu oleh semua sikap Jaekyung, dan kenapa sekarang saat dirinya tahu semua tentang sikap Jaekyung sekarang malah dia tak memutuskannya saja? Dunia memang gila, atau memang Han Jaekyung yang menghipnotisnya agar ia selalu menyukai Han Jaekyung itu.

 

Tapi kalau di pikir-pikir lagi Han Jaekyung bukan orang seperti itu. Wajahnya selalu datar jika dengan dirinya atau apalah mungkin Han Jaekyung dari awal tak menyukainya, sepertinya.

 

Dan hatinya was-was mengingat laki-laki yang memeluk Jaekyung tempo hari iru. Ia takut Jaekyung berselingkuh di belakangnya. Di lihat sih, memang laki-laki itu lebih tinggi darinya tampan, wajah yang masih muda mengingat laki-laki itu memanggil Jaekyung dengan sebutan nunna.

 

Tangannya mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Sialan, hanya Han Jaekyung yang membuatnya seperti ini. Donghae sangsi sekali kalau Jaekyung sedang memikirkannya atau tidak. Apalagi disaat jam-jam seperti sekarang, Han Jaekyung itu pasti sudah tidur nyaman dengan kekasihnya yang empuk itu atau bertatap muka dengan belahan jiwanya yang kotak itu. Dasar gila. Kekasihnya benar-benar sangat abnormal sekali.

 

Donghae tersenyum, ia ingat kalau Jaekyung dengan Golongan Darah AB dan itu berarti bahwa Han Jaekyung Abnormalbukan?

 

 

***

 

Donghae menumpu dagunya, pandangannya lurus kedepan memandang Jaekyung dengan laki-laki yang entah Donghae tak tahu siapa itu. Malam ini Donghae berada di dalam rumah Jaekyung, di undang oleh ibu Jaekyung untuk makan malam bersama.

 

Ia berfikir bahwa makan mala mini seperti biasanya, hanya ada dirinya, Jaekyung dan ayah ibu Jaekyung. tapi sekarang berbeda, ayah Jaekyung yang berada di luar kota, dan yang paling membuat Donghae merasa kesal adalah kenapa harus ada laki-laki yang membuat dirinya dan Jaekyung bertengkar.

 

Yah, mereka masih bertengkar. Walaupun berangkat dan pulang bersama mereka berdua tetap pada ego masing-masing. Kekanakan sekali bukan. Begitulah mereka.

 

Donghae menghembuskan napasnya pelan, laki-laki itu menyita semua perhatian dari Jaekyung. tentu saja, lihat saja sekarang laki-laki itu sedang di suapi oleh Jaekyung. hei, dirinya saja belum pernah di suapi seperti itu oleh Jaekyung tapi kenapa laki-laki itu di suapi seperti itu.

 

Beberapa minggu yang lalu saat makan siang di kampusnya, Donghae dan Jaekyung saat itu ada di belakang gedung kampus mereka di bawah pohon yang rindang dan mereka berdua akan melakukan makan siang bersama. Saat itu ide muncul di kepala Donghae, ia membuka kotak makan yang di bawa oleh Jaekyung. Donghae mengatakan bahwa ia ingin di suapi oleh Jaekyung seperti pasangan-pasangan lainnya, tapi di jawab oleh kediaman Jaekyung yang dengan cueknya memasukan beberapa kimbab kemulutnya.

 

Donghae harap-harap cemas, sialan Han Jaekyung membuatnya seperti orang bodoh sekali. Donghae agak tersentak saat Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping memandang datar kearah Donghae membuat Donghae agak menciut. Setelah menatapnya seperti itu Donghae benar-benar tak akan pernah meminta Han Jaekyung untuk menyuapinya.

 

“Dasar, tidak ingat umur, ya? Kau sudah besar dan untuk apa kau memintaku untuk menyuapinya. Aku sudah membuatkanmu bekal dan malah ingin aku menyuapimu? Astaga! Jadi kedua tanganmu itu apa fungsinya?”

 

Dan saat itu Donghae benar-benar sangat kesal dengan Han Jaekyung. benar-benar wanita sadis, setelah mengucapkan kata seperti itu Jaekyung tak pernah meminta maaf padanya.

 

 

***

 

 

“Jun Hong-ah, kapan kau sampai di korea dan kenapa tidak mengabari kami disini?” tanya Ibu Jaekyung yang sudah duduk kembali setelah mengambil beberapa makanan yang belum terhidang di atas meja.

 

Donghae menganggukan kepalanya pelan, jadi nama laki-laki sialan itu Jun Hong? Tks, dan enak sekali laki-laki itu mendapatkan perhatian dari Ibu mertuanya. Ukh—Donghae tersedak oleh ludahnya sendiri, benar-benar memalukan sudah menyebut ibu Jaekyung sebagai ibu mertuanya.

 

Tapi, hei, itu memang benar sekali bukan, tidak akan lama Han Jaekyung akan ia lamar untuk menjadi istrinya. Keluarganya atau keluarga Jaekyung sudah tahu semuanya. Tapi itupun terserah Jaekyung yang menerima lamarannya atau tidak.

 

“Eomma bilang kepulangan kami adalah untuk kejutan disini, tapi waktu itu aku bertemu dengan nunna di kedai, dan aku langsung memeluk nunna seperti ini,” mata Donghae memblalak lebar melihat tingkah laki-laki itu yang begitu frontal. Dan begitu kekanak-kanakan?

 

Jaekyung hanya terkikik geli yang membuat Donghae benar-benar malas untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya. Donghae berfikir kalau Han Jaekyung sepertinya memang lupa dengan Donghae yang ada di hadapannya.

 

Jadi Donghae kembali menyimpulkan semuanya, bahwa Han Jaekyung memang tak pernah mencintainya.

 

 

***

 

 

Donghae membalikan tubuhnya entah sudah yang keberapa kali. Ia tak bisa tidur, memikirkan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Makan malam tadi benar-benar membuatnya menjadi seperti ini. Selama kurang satu setengah jam makan malam, Donghae benar-benar seperi patung yang di abaikan.

 

Yah, dirinya di abaikan selama satu setengah jam itu, dirinya hanya bisa diam mendengarkan apa yang menjadi perbincangan mereka, tertawa-tawa yang membuat Donghae bosan setengah mati. Biasanya jika mereka tertawa-tawa, Donghae juga akan ikut tertawa dan ikut perbincangan mereka yang seru itu. Tapi mala mini berbeda.

 

Merasa dirinya di acuhkan seperti itu, Donghae dengan sopan pamit bahwa dirinya akan mengantarkan ibunya kepusat perbelanjaan malam ini. Ibu Jaekyung sendiri hanya pasrah melihat Donghae yang akan meninggalkan makan malam tidak menahannya walaupun ingin sekali menahan Donghae tetap disini, dan Han Jaekyung jangan ditanya dia masih sibuk dengan laki-laki itu, dan tak menahan dirinya. Sudahlah ini sudah berakhir.

 

Dan akhirnya ia berda didalam kamarnya tidak jelas dengan apa yang sedang ia lakukan. Hanya tidur, berguling kana kiri. Bosan. Bosan. Ia butuh hiburan. Jika bosa seperti ini, ia pasti akan menelpon Jaekyung dan meladeni Jaekyung yang berbicara panjang lebar tentang anime favoritnya.

 

Tapi sekarang? Oh, dia malas menelpon Jaekyung. Donghae yakin sekali kalau Jaekyung sekarang masih tertawa-tawa dengan laki-laki itu.

 

Pintu kamarnya terketuk, kepala Donghae mendongak dan mempersilahkan untuk masuk bahwa pintunya tak terkunci. Ibunya muncul di ambang pintu. “Dia ada ditaman, ibu menyuruhnya masuk tapi kau tahu sendiri bahwa dia keras kepala bukan? Jadi dia tetap ingin di taman rumah kita. Cepatlah, malam ini dingin sekali, dan dia hanya memakai jins dan kaos yang ibu yakin tak membuat tubuhnya hangat.” Donghae langsung beranjak dari duduknya, mengerti dengan ucapan ibunya dan tahu siapa yang dimaksud oleh ibunya.

 

 

***

 

 

Donghae melangkahkan kakinya sedikit tergesa. Tangannya membawa hoodie miliknya yang tebal. Ini sudah hampir larut apa yang di lakukan oleh si keras kepala itu? Ingin memberitahu bahwa hubungan ini tak bisa di lanjut lagi? Oh, dirinya sudah akan siapa dengan apa yang akan di ucapkan oleh Jaekyung.

 

“Hei, Jae-sama!” Donghae menyapa Jaekyung dengan panggilan yang di inginkan oleh Jaekyung sendiri beberapa hari sebelum ia bertengar seperti ini dengan Jaekyung.

 

Kepala Jaekyung menoleh, “Oh, hai!” balasnya dengan senyuman yang selalu membuat Donghae semakin mencintainya.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Donghae sambil duduk di samping Jaekyung dan memberikan Hoodie pada Jaekyung.

 

“Menemui dan aku ingin berbicara semuanya padamu. Tapi kau berjanji tidak akan menyela ucapanku?” ucap Jaekyung sambil memakai hoodie yang di berikan oleh Donghae dan Donghae membantukan Jaekyung memakainya.

 

Jaekyung mengehbuskan napasnya. “Aku tahu aku ini sudah keterlaluan bukan? Aku hanya ingin meminta maaf atas semuanya yang aku lakukan terhadapmu. Aku menyesal apa yang aku lakukan padamu.” Ucap Jaekyung dan itu membuat Donghae waspada bahwa apa yang di pikirkan semuanya adalah benar bahwa Jaekyung akan mengakhiri hubungan mereka.

 

“Aku meminta maaf padamu. Beberapa hari ini kita bertengkar bukan karena Jun Hong?” Donghae menghembuskan napasnya, ia bersyukur bahwa apa yang di ucapakan Jaekyung bukan untuk mengakhiri hubungan mereka.

 

“Kau yang membuat kita bertengkar seperti ini. Saat Jun Hong menemui kita di kedai waktu itu dan setelah kau menarik ku dengan paksa aku ingin sekali mejelaskan semuanya padamu. Tapi sepertinya waktu itu kau di butakan oleh kecemburuan yang menurutku itu kekanakan sekali. Dan saat itu aku kesal dengan sikapmu aku jadi tak bernapsu untuk menjelaskan semuanya. Oh, ini terlalu berbelit-belit sekali. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Choi Jun Hong adalah sepupuku yang pindah dari amerika. Dia sepupuku yang aku sayangi. Dia masih bersekolah, dia menyayangiku dan akupun sebaliknya. Ini awal kami bertemu setelah kurang lamanya delapan tahun, jadi itu sangat wajar sekali bukan bahwa Jun Hong memeluku seperti itu. Kaunya saja yang cemburu seperti itu. Aku tahu, aku tahu bahwa cemburu adalah hal yang biasa di alami oleh sepasang kekasih. Tapi cemburumu itu membuatku kesal sekali. Dan kau tahu pastikan bahwa aku tidak akan pernah berpaling darimu setelah tahu bahwa kau memang sabar dengan segala sikapku yang seperti ini, dan yang sebenarnya akulah yang takut akan kehilanganmu yang mungkin saja kau sudah muak dengan segala sikapku yang seperti ini. Aku setiap hari was-was, banyak sekali wanita diluar sana yang melebihku dan kau sadar bahwa Han Jaekyung ini tak cantik, kasar dan sarkatis. aku selalu berdoa dalam hati pada Tuhan yang di atas agar Lee Donghae tetap mencintaiku selamanya dan menerimaku apa adany—”

 

Donghae langsung memeluk tubuh Jaekyung. Donghae benar-benar tak menyangka dengan semua yang di ucapkan oleh Jaekyung malam ini. Donghae sudah salah paham dengan semuanya. Donghae selalu berfikir kalau Jaekyung tak pernah mencintainya, tapi lihat sekarang bahwa Han Jaekyung benar-benar mencintainya seperti ia mencintai Jaekyung.

 

Ini salah paham. Donghae mengeratkan pelukannya pada Jaekyung. bibirnya membentuk senyuman yang sangat bahagia. Dalam hati ia berjanji bahwa ia mencintai Han Jaekyung selamanya dan menerima Jaekyung apa adanya seperti apa yang di ucapakan Jaekyung tadi.

 

“Maafkan aku. Ini adalah sebuah kesalahpahaman bukan?”

 

“Yah, benar ini adalah sebuah kesalahpahaman.”

 

 

 

—END—

 

 

Ngga cuap2 deh, soalnya ngetik di sekolahan. Limit waktu. Lope you all!!!

 

FRIDAY, 27 SEPTEMBER 2013. 1:53 pm

SILVI DIAH SEPTIYANI, KELAS TERCINTA XII IPA 2.

 

3926 word

20 thoughts on “Misunderstanding [ONESHOOT]

  1. wkwkwkw pencemburu berat nih Donghae. Tapi patut acungi kelingking(?) buat dia karena udah sabar sama sikap dan tingkah laku Jaekyung yang bener2 bikin keseeel. Gue aja kesel beneran ini.
    Ah kurang panjanh tau. Kurang nyiksa Donghae yg dicuekin Jae… aku paling suka yg part itu😄

  2. .Aahh jae kyung so sweett…
    .Malam” k’rumahh donghae hanya untk ngejelasin ksalahpahamn yg trjadi d’antara mreka..

    .d’tunggu ff slanjut nya eohh..
    #FIGHTING^^

  3. Kesalahfahaman memang slalu jdi masalah buat orang yang saling cinta mau sma temen keluarga atau pacar ,
    Hae nya sabar bangett jarang cowok ke doi , bagi” dong , kkkkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s