If This Was a Movie [Part 11]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

If This Was a Movie by Taylor Swift

 

 

***

 

 

 

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Donghae langsung pada intinya. Hye Mi dengan pelan menyesap kopi yang baru saja di antarkan oleh pelayan, lalu setelah menyesapnya Hye Mi menaruh kembali cangkir kopi tersebut keatas meja. Dan kegitan seperti itu membuat Donghae sedikit kesal.

 

Donghae menatap Hye Mi yang tak kunjung membuka suara. wanita ini memang sengaja membuatku kesal atau apa, kenapa seperti ini sekali sifatnya? Batin Donghae berucap.

 

“Baru dua hari kau menjadikannya sebagai istrimu, dan itu membuat kalian menjadi akrab. Oh, atau kalian sudah menjalin hubungan saat kita belum mengakhiri hubungan kita? Donghae-ah, kau menyakiti hatiku!” ucap Hye Mi sambil memandang wajah datar Donghae. Tangan Hye Mi sendiri menggenggam tangan Donghae yang ada di atas meja.

 

Donghae tersenyum, “kalau memang seperti itu bagaimana?” tanyanya dan membuat Hye Mi kaget. Jadi itu benar?

 

Hye Mi diam, setelah Donghae mengucapkan kata seperti itu Hye Mi tidak bisa berbicara apa-apa. Hye Mi berpikir, bahwa ia mengatakan seperti itu bisa memancing Donghae agar membantah semua yang di ucapkannya, dan menjadi Donghae yang jujur apa adanya seperti dulu, bukan seperti yang ada di hadapannya sekarang.

 

“Bagaimanapun juga semuanya ini memang harus di salahkan semuanya padamu.”

 

“Apa? Semuanya harus di salahkan padaku?” Hye Mi mengulang apa yang di katakana Donghae. Tentu Hye Mi tersinggung dengan ucapan Donghae tadi.

 

“Tentu saja, kau bisa berfikir ulang apa yang menjadikanmu seperti ini, apa kesalahan yang dibuat olehmu sendiri. Semuanya ada pada dirimu sendiri. Kau pintar, bukan? Dan kau pasti bisa memikirkan dan menyimpulkan semuanya. Kalau kau sudah mengerti, kau bisa memberitahuku suatu saat nanti. dan, aku akan pergi, istriku pasti akan marah padaku.” Donghae beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Hye Mi yang menunduk.

 

Hye Mi hanya bisa menatap datar kearah bawahnya. Hatinya tak menyangka bahwa Donghae bisa berbicara padanya seperti itu. Ini seperti bukan Donghae yang ia kenal, Donghae yang ia kenal bukan seperti ini. Semuanya pasti salah Jaekyung yang membuat Donghae seperti ini. Han Jaekyung memang membawa dampak yang mensialkan bagi dirinya.

 

Dalam hatinya, Hye Mi akan membalas dendam pada Han Jaekyung. Hye Mi tidak perduli siapa Han Jaekyung itu. Yang Hye Mi tahu adalah Han Jaekyung seorang perebut kekasih orang lain.

 

Hye Mi tersenyum, ya, dirinya harus balas dendam.

 

 

***

 

 

Jaekyung menutup mulutnya saat ia menguap. Ia sudah merasa lelah menunggu Donghae yang tak kunjung kembali dari dalam. Sudah hampir satu jam Donghae tak kunjung kembali membuat Jaekyung merasa bosan dengan apa yang di lakukannya sekarang.

 

Kalau saja ponselnya tak mati, sangat di pastikan bahwa dirinya tak akan mati bosan. Tentu saja, ponselnya bisa membuat dirinya tak bosan, ia bisa mendengarkan lagu atau membaca yang ada di ponselnya. Tapi, oh, ini sangat membosankan. Geram Jaekyung sambil melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.

 

Dan sialnya lagi, perutnya berbunyi, Jaekyung lapar. Jaekyung ingin segera pulang, memasak, makan, lalu setelah itu ia bisa bermalas-malasan atau melakukan hal yang menurutnya bermanfaat saja. Tidak seperti ini yang entah Donghae kapan datangnnya.

 

Jaekyung mencoba tidur, tapi dengan perut lapar seperti ini membuat dirinya tak bisa memejamkan matanya. Sekali lagi ia berseru dalam hati bahwa ia lapar, ia ingin makan. Hei, Lee Donghae sialan kapan kau akan datang! Geramnya lagi.

 

Rasanya Jaekyung ingin menangis, baru pertama kali ia merasa lapar seperti ini seumur hidup, padahal Jaekyung sudah makan pagi tadi di rumah orang tua Donghae. Tapi sepertinya ini memang bawaan janinnya yang ada di perutnya.

 

Jaekyung meringis, bahwa dirinya menginginkan sesuatu yang mungkin tak mungkin. Selain lapar, Jaekyung juga ingin minum susu dan beberapa cup ice cream coklat yang sangat enak itu. Tapi, ya ampun, Lee Donghae kemana saja! Apa dia bermesraan dulu bersama Hye Mi didalam sana?

 

Mengingat nama Hye Mi membuat Jaekyung sedikit marah. Tentu Jaekyung marah, bagaimana tidak marah, ia dan Donghae akan berencana membenahi rumah baru mereka dan akan memasak bersama dan sang pengganggu datang begitu saja.

 

Jaekyung tahu bahwa Park Hye Mi itu kekasih resmi dari suaminya, tapi apakah Donghae lupa bahwa dia sudah mempunyai istri dan ia akan menjadi calon ayah? Kenapa dengan begitu cepat Donghae sudah berpaling darinya. Benar-benar bukan tipe orang setia. Kalau memang jadinya seperti ini, Jaekyung benar-benar sangat menyesal dengan menerima Donghae sebagai suaminya.

 

Seketika itu juga Jaekyung mengingat apa yang menjadi kontrak mereka. Pernikahan ini hanya untuk mempertahankan kehamilannya, dan setelah itu yah mereka berdua akan bercerai, Donghae pasti akan kembali bersama Hye Mi dan mereka berdua menjadi sepasang suami istri yang bahagia. Hanya Han Jaekyung yang menjadi mantan istri Lee Donghae.

 

“Lee Donghae!” gumam Jaekyung sambil menghembuskan napasnya.

 

“Hmm?”

 

Dengan cepat Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping, mendapatkan Donghae yang sedang memasang sabuk pengamannya. Telinga Jaekyung benar-benar tak mendengar suara pintu mobil terbuka ataupun tertutup. Ini aneh.

 

“Maaf aku terlalu lama, ya? Tadi saat keluar dari cafe yang ada didalam sana, aku berpikiran membeli beberapa susu untukmu.” Ucap Donghae sambil mengambil susu kotak khusus ibu hamil dan memberikannya pada Jaekyung.

 

Jaekyung sendiri masih memandang Donghae dengan pandangan tak percaya. Entahlah, dirinya juga tidak tahu apa yang dimaksud dengan tidak percaya itu. Tangannya mengambil susu kotak yang ada di tangan Donghae, setelah itu ia membukanya kemudian ia meminumnnya.

 

Seketika itu juga perutnya sedikit terisi oleh susu yang diminumnnya tadi. Tapi, tetap saja perutnya masih terasa lapar jika ia belum memakan nasi. Ia ingin makan nasi sekarang.

 

“Awalnya aku berpikiran untuk membeli makanan untukmu, tapi hatiku ragu saat itu. Yang aku rasakan itu, kau pasti menolaknya mentah-mentah dan tetap ngotot ingin masakan sendiri, jadi aku tidak membelinya.”

 

Sekarang mata Jaekyung sedikit membesar. Apa yang di dengarnya barusan adalah itu benar ucapan yang keluar dari mulut Donghae? Sepertinya itu tidak mungkin. Atau Donghae yang ada di sampingnnya ini hanya ilusi semata karena ia merasa lapar? Tapi minum susu tadi adalah pembuktikan, bahwa Lee Donghae memang nyata ada di sampingnya.

 

“Sepertinya kita ini memang satu hati, bukan?” ucap Donghae sambil menekan tombol star di mobilnya. Lalu mobilnya melaju dengan kecepatan standar. Biasanya Donghae agak sedikit kasar mengendarai mobilnya, tapi sekarang di mobilnya ada istri dan calon anaknya jadi dengan sangat berusaha ia mengendarainya dengan kecepatan standar.

 

“Kau Lee Donghae?” tanya Jaekyung bodoh. Donghae hanya terkikik geli mendengar pertanyaan Jaekyung.

 

“Tentu saja, Jaekyung-ah, kalau aku bukan Lee Donghae aku pasti tak bisa masuk kedalam mobilku. Kau ini kenapa? Ini kan masih siang kenapa malah berhalusiansi seperti itu?” Donghae menatap kearah Jaekyung lalu dengan cepat kembali menatap kearah depan.

 

Jaekyung mengambil ponsel Donghae yang di lihat oleh Jaekyung di dashboard mobil. Lagipula Donghae tak keberatan jika dirinya mengambil ponselnya seperti ini. Walaupun tak di bolehkan, Jaekyung tentu saja akan protes pada Donghae.

 

Lagipula, Jaekyung orang yang menjaga privasi seseorang. Ia bukan orang yang semberono, maksudnya ia tak akan membaca pesan atau hal-hal yang rahasia saja begitu. Apa juga manfaatnya ia membaca pesan atau apapun itu, yang hanya ada pasti akan merasa sakit hati. Dan Han Jaekyung tidak menginginkan hal-hal seperti itu.

 

“Kau bawa headphone?” tanya Jaekyung matanya menatap fokus kelayar ponsel milik Donghae. Jika seorang Han Jaekyung sudah di pertemukan dengan ponsel, ia akan terfokus oleh ponsel itu walapun di sampinganya ada temannya sendiri. Kadang teman-teman Jaekyung yang dekat dengan Jaekyung, akan merasa di acuhkan oleh Jaekyung.

 

“Tidak. Headphoneku semuanya ada di kamarku semua. Kenapa tidak mendengarkan lagu di DVD mobil saja?” Tangan Donghae menekan tombol play yang ada di DVD tersebut dan terputarlah lagu tersebut.

 

Jaekyung dengan tampang cemberut meletakan kembali ponsel milik Donghae di dashboard. Kepalanya menyandar di kepala kursi mobil, matanya terpejam menikmati alur lagu yang menenagkan. Ternyata Lee Donghae tidak buruk dalam hal memelih lagu.

 

“San Francisco lagu milik Scott McKenzie. Aku tidak menyangka kalau kau menyukai lagu ini dan mengetahuinya.” Ucap Jaekyung dengan mata terpejam menikmati lagi yang sedang berputar.

 

“Yah, aku menyukainya dan tentu aku mengetahuinya. Lagunya enak untuk di dengar.” Balas Donghae, tangannya menyentuh tombol volume untuk memperbesar suara lagu tersebut..

 

Tangannya Jaekyung dengan reflek menyentuh perut ratanya. Tidak, tidak, sekarang sudah ada tonjolan sedikit. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia bahagian, beberapa bulan lagi ia akan menjadi seorang ibu. Betapa bahagianya Jaekyung saat hari dimana ia melahirkan dan melihat wajah anaknya sendiri. Pasti itu sangat manis sekali.

 

Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke empat, jadi kalau di hitung-hitung lagi tinggal lima bulan lagi ia menunggu darah dagingnya untuk melihat dunia luar yang indah ini. Jaekyung benar-benar tak sabar untuk menggendong, memakaikan baju dan—oh, ini benar-benar sangat menyenangkan.

 

Kalau boleh jujur, Jaekyung sendiri bukan jenis orang yang menyukai anak kecil. Atau Jaekyung bisa di kategorikan yang sangat anti dengan anak kecil. Siapapun yang menyodorkannya seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskannya, Jaekyung tetap tak tertarik sedikitpun. Tapi sekarang beda lagi, Jaekyung akan mulai belajar untuk menyukai anak kecil, terutama pada anaknnya nanti yang akan lahir.

 

“Oh, Tuhan!” ucap Jaekyung pelan dengan senyum yang merkah di bibirnya. Pikirannya sekarang membuatnya senang.

 

Jaekyung akan berjanji akan selalu menjaga kandungannya dengan sangat baik, merawatnya agar janin yang ada didalam perutnya sehat. Jaekyung tentu sangat serius akan hal ini, jika ia tak serisu sudah dari awal ia akan menggugurkan kandungannya ini. Setan itu memang benar-benar ada, ya.

 

“Kau ingin laki-laki atau perempuan?” tanya Jaekyung masih dengan matanya yang tertutup.

 

“Eh—aku, kalau bisa aku ingin mereka kembar laki-laki dan perempuan.” Jaekyung membuka matanya, tangannya reflek memukul kepala Donghae agak keras yang membuat Donghae sedikit meringis.

 

“Hei, kau gila?”

 

“Tentu tidak. Kau kan bertanya seperti itu, jadi ya aku jawab seperti itu saja.” Ucap Donghae sambil mengerem mobilnya di lampu merah. Donghae menoleh kearah Jaekyung, tangannya lepas dari kemudi mobil dan kemudian tangannya dengan pelan mendarat di perut Jaekyung yang sedikit ada tonjolannya.

 

Tangannya meraba-raba perut Jaekyung dengan pelan yang membuat Jaekyung bersemu merah. Dua hari di hari mereka bersama dan beberapa menit lalu Donghae bertemu dengan mantan kekasihnya, bisa membuat mereka akrab seperti ini. Mereka tak menyadari apa yang sudah terjadi, hanya saja mereka merasa nyaman dengan segala apa yang dilakukannya ini.

 

Biarkan seperti ini. Lupakan kejadian beberapa menit yang lalu, seperti Jaekyung yang merasa kesal akan Donghae yang meninggalkannya, kesal karena merasa lapar, kesal karena ponselnya mati, apapun yang membuatnya kesal. Dan lupakan tentang Donghae yang beberapa menit yang lalu itu berbincang dengan mantan kekasihnya.

 

Seolah tersadar apa yang sedang Donghae lakukan, dengan cepat tangannya ia tarik dan kembali mengambil kembali kemudi. Lirikan matanya ia alihkan kearah depan, dan dengan cepat ia jalankan kembali mobilnya saat melihat lampu kembali mejadi warna hijau.

 

Jaekyung sendiri wajahnya sudah menjadi agak merah karena perlakuan yang di lakukan oleh Donghae. Walapun Jaekyung tak tahu bagaimana rasanya telapak tangan Donghae hangat tidaknya karena terhalang oleh bajunya dan mantelnya yang di pakai Jaekyung, hati Jaekyung merasakan senang dan bahagia. Selain membuatnya senang dan bahagia, sentuhannya itu benar-benar membuatnya nyaman.

 

Kapan-kapan jika dirinya dan Donghae akrab, Jaekyung akan meminta Donghae untuk mengelus-elus perutnya. Persetan dengan segala image dan apalah, yang terpenting janin yang ada didalam perutnya merasa nyaman dan membuatnya bahagia.

 

 

***

 

 

“Bagiamana? Kau ingin makan terlebih dahulu atau membereskan semuanya terlebih dahulu. Kalau aku, terserah padamu saja, karena kau kepala keluarga ini sekarang.” Jaekyung meletakan beberapa kantung pelastik yang terisi bahan makanan di atas meja dapur. Donghae sendiri sedang meletakan semua perlaratan rumah tangga di bawah meja dapur tersebut.

 

Donghae memiringkan kepalanya, menimbang-menimbang apa yang ia inginkan. Perutnya berbunyi pelan, dan ia putuskan untuk makan terlebih dahulu lalu membereskan semuanya. Kalau sudah terisi pasti mengerjakan semuanya mudah, kan?

 

“Kalau begitu aku ingin makan terlebih dahulu.” Ucap Donghae sambil menatap kearah Jaekyung yang sedang membongkar semua yang ada didalam kantung plastis tersebut. Kepala Jaekyung mengangguk paham.

 

“Tapi tidak ada nasi disini. Aku lupa untuk membeli beberapa beras. Jadi bagaimana?” Jaekyung memperlihatkan bahan belanjaan yang baru ia bongkar tadi. Donghae sendiri hanya bisa menghembuskan napasnya pelan.

 

“Baiklah, jadi kita pustuskan kalau kita memesan Fast Food?” Tanya Donghae yang langsung mendapatkan lirikan tak suka dari Jaekyung, “kalau tidak ada nasi sama saja tidak kenyang, Jaekyung-ah!”

 

Jaekyung mengangguk pelan, tangannya membawa sayuran tersebut lalu ia masukan kedalam kulkas, “baiklah, seperti apa yang aku ucapkan tadi, semuanya terserah pada kepala keluarga saja. Aku hanya menuruti apa yang di katakannya saja.” Ucap Jaekyung yang membuat Donghae terkikik geli.

 

Donghae dengan cepat meninggalkan Jaekyung yang sedang memasukan beberapa bahan makan kedalam kulkas, sebelum keluar dari dapur, Donghae menatap sebentar Jaekyung dan Donghae kembali tersenyum melihat Jaekyung yang jinak seperti itu. Kalau saja sifat Jaekyung penurut seperti itu, sangat di pastikan bahwa Donghae akan belajar untuk menyukainya dan menyayanginya.

 

Setelah sampai di ruang tengah, tangan Donghae meraih gagang telpon  lalu menekan beberapa digit nomor telpon untuk memesan makanan. Setelah beberapa menit berbicara tentang apa yang ingin dipesannya, Donghae kembali kearah dapur yang langsung mendapatkan Jaekyung sedang mencuci semua alat masak yang baru saja mereka beli.

 

“Wah, rajin sekali,” Donghae berucap di belakang tubuh Jaekyung, lalu ia menggeser tubuhnya kesamping Jaekyung, menyenderkan tubuhnya pada tembok tempat mencuci piring tersebut.

 

Jaekyung menolehkan wajahnya, menatap Donghae yang masih dengan senyumannya yang sedikit—ehm—manis itu. Tapi sebenarnya memang manis, hanya saja Jaekyung tak ingin mengakuinya terang-terangan pada Donghae, yang Jaekyung yakini kalau dirinya berani mengatakan seperti itu pasti Donghae akan besar kepala sekali. Jadi ia malas untuk mengatakannya.

 

“Aku ingin memasak sesuatu,”

 

“Apa itu?”

 

“Aku juga tidak tahu, hanya saja rasanya aku ingin sekali memasak. Kalau sudah jadi nanti aku akan memberimu. Tapi hanya sedikit.” Donghae memandang Jaekyung malas setelah mendengar ucapan terakhir Jaekyung tadi. Pelit sekali, pikirnya dalam hati.

 

“Pelit sekali.” Ucapnya sambil menyentuh rambut Jaekyung yang tergerai di punggung Jaekyung. rambut dengan warna merah kehitaman, bergelombang dan panjang.

 

Ini halus, sangat halus. Dari pertama melihat Jaekyung, Donghae memang berkeinginan menyentuh rambut Jaekyung. Donghae juga tak yakin apakah saat ia melakukan hal yang membuat Jaekyung hamil seperti ini, tangan miliknya ini pernah menyentuh rambutnya? Sepertinya pernah, tapi itu ia lakukan dalam keadaan yang tidak sadar bukan? Jadi ia hitung dari sekarang adalah pertama. Dan Donghae ingin melakukan hal seperti ini terus dan terus.

 

“Wae?” tanya Jaekyung sambil mengeringkan tangannya di clemek merah marun yang di pakainya. Tangan Donghae dengan cepat melepas dari rambut Jaekyung. “Daripada kau hanya diam-diam saja seperti ini, lebih baik kau membantuku untuk membereskan semuanya, hitung-hitung juga menunggu pesanan yang kau pesan datang, hmm?”

 

“Kalau begitu apa yang bisa aku bantu disini?” Donghae membalikan tubuhnya kearah barang belanjaan yang ia taruh di bawah tadi, ia mengambilnya satu persatu lalu menaruhnya di atas meja dapur.

 

“Pengharum ruangan saja terlebih dahulu. Terserah kau saja ingin kau taruh dimana, setelah itu perlaratan mandi semuanya kau taruh di kamar mandi, dan alat pembersih taruh di gudang. Kau mengerti?” ucap Jaekyung sambil membuka kulkas, kemudian mengambil beberapa sayuran dan buah-buahan iya masukan kedalam kulkas. Sebelum ia mengirisnya, Jaekyung memcucinya terlebih dahulu lalu setelah selesai ia letakan di atas meja lalu mengirisnya.

 

Donghae mendengarkan ucapan Jaekyung dengan baik, pertama ia mengambil kantung plastic yang terisi alat-alat mandi, sisanya ia taruh di tempat untuk menyimpan barang-barang yang untuk ia pakai beberapa bulan kedepan. Setelah itu Donghae kembali kedapur untuk mengambil alat-alat pembersih kearah gudang.

 

Jaekyung sendiri masih sibuk dengan apa yang di lakukannya. Mendengar suara bel berbunyi, Jaekyung menghentikan semua yang dilakukannya, tangannya ia usap-usap pada clemek tersebut, dan setelah itu ia berjalan kearah pintu depan untuk melihat siapa tamu tersebut.

 

Setelah membukan pintu tersebut, Jaekyung tersenyum melihat siapa yang membawa makanan tersebut. Ini pesanan Donghae, Jaekyung mengangguk sebentar menandakan bahwa ia meminta orang yang mengantar makan tersebut untuk menunggunya.

 

Jaekyung mencari keberadaan Donghae, untuk memberitahukan bahwa pesanan yang dipesannya telah datang. Kotak-kotak yang ada di dalam kantung pelastik tersebut Jaekyung taruh di atas meja. Kalaupun sekarang ia sedang membawa uang, Jaekyung yang akan membayarnya.

 

Melihat Donghae yang baru keluar dari dalam kamarnya, dengan cepat Jaekyung berjalan kearah Donghae, “makanan sudah sampai dan tinggal membayarnya saja. Aku sudah menyuruhnya untuk menunggu di luar. Aku akan menyiapkannya.” Jaekyung kembali ke dapur, menata semua makanan yang ada di dalam kotak.

 

Donghae sendiri berjalan kearah keluar untuk membayar semua yang di pesanannya. Setelah membayar dan mengucapkan kata terima kasih ia kembali masuk kedalam rumah, berjalan kearah Jaekyung yang masih menata makan yang akan di makan. Donghae duduk di kursi di samping Jaekyung yang kini sudah duduk.

 

“Banyak sekali yang kau pesan.” Ucap Jaekyung sambil memberikan piring yang sudah berisikan makanan pada Donghae.

 

“Lagipula kalau ini tidak habis, bisa di habiskan olehmu kan? Kau kan rakus.” Jaekyung mendelik pada Donghae yang asal bicara itu. Tangannya dengan cepat ia menjitak kepala Donghae yang langsung mendapatkan ringisan pelan dari Donghae.

 

“Jaga ucapanmu!” ucapnya tajam. Tangan Jaekyung langsung menyumpit kimchi yang ada di hadapannya lalu menyumpit beberapa makanan lagi.

 

Donghae yang sedari tadi memakan makanannya, kini ia berhenti mengunyah, kepalanya ia palingkan kesamping mendapatkan Jaekyung yang menyantap makanannnya dengan sangat khusu. Melihat Jaekyung seperti ini membuat hati Donghae terasa seperti apa, bahagia. Oh, ini konyol sekali. Pikirnya.

 

Donghae terkikik pelan, kembali pada aktivitas semulanya lagi. Jaekyung yang mendengar suara kikikan Donghae menghentikan makanannya, “kau kenapa?” tanya Jaekyung, tangannya meraih gelas yang sudah terisikan air putih lalu meneguknya dengan pelan.

 

“Tidak apa-apa, cepat habiskan makananmu, setelah itu kita akan membenahi semuanya.”

 

 

***

 

 

Sudah dua bulan Jaekyung tinggal dirumah ini, setiap hari bangun pagi dengan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Lee Donghae. Dua bulan ia menjalani dengan sangat baik, walapun di selingi pertengkaran kecil yang selalu di awali oleh Jaekyung sendiri dan diakhiri oleh permintaan maaf oleh Donghae.

 

Dua bulan terasa sedikit menyenangkan baginya. Tentu saja, dua bulan ini Donghae benar-benar berbeda dari awal mereka bertemu. Menyenangkan karena Jaekyung merasakan rasanya berdebat dengan seseorang yang berbeda, yang biasanya Jaekyung berdebat keras dengan kedua sahabatnya yang selalu mendebatkan tugas-tugas kuliahnya, dan langsung diakhiri keluhan dari Jaekyung sendiri karena merasa lelah.

 

Ngomong-ngomong tentang sahabatnya, Jaekyung merasa merindukan kedua sahabatnya itu. Ia ingin sekali bertemu dengan Gikwang dan Hye Jin yang entah bagaimana kabar mereka berdua. Donghae selalu melarangnya jika ia ingin bertemu dengan kedua sahabatnya, entah Jaekyung sendiri tidak tahu apa yang membuat Donghae tak menyukai Gikwang itu. Padahal Gikwang itu sahabatnya kan.

 

Jaekyung memandang jendela kamarnya yang masih tertutup tirai tersebut, ini masih pagi dan Jaekyung malas untuk beranjak dari kasurnya. Usia kehamilannya semakin bertambah, sekrang sudah memasuki usia tujuh bulan, perutnya sudah semakin agak membesar.

 

Pandangan yang awalnya memandang penuh pada jendela kamarnya kini beralih pada Donghae yang masih terlelap. Tangan Donghae melingkar di sekitar perut Jaekyung, setiap hari Donghae selalu seperti ini, entahlah Jaekyung juga tidak tahu. Tapi Jaekyung tidak pernah protes dengan apa yang di lakukan oleh Donghae setiap pagi seperti ini.

 

Hanya satu kali ia memprotes apa yang di lakukan oleh Donghae, tapi karena protesannya tidak di gubris oleh Donghae, Jaekyung menyerah dan membiarkan Donghae melakukan hal apapun yang dimaunya. Lagipula ini hal yang sah-sah bagi suami istri bukan? Jadi biarkan saja.

 

Donghae masih dengan kegiatannya saat ia belum menikah, kuliah dan mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh dosen-dosen itu. Dan kadang juga Donghae pergi kekantor untuk membantu apa yang bisa ia lalukan di kantor, mencari pengalaman seperti itu.

 

Dan Jaekyung sendiri, ya seperti itu ia tidak dibolehkan keluar oleh Donghae karena Donghae agak was-was dengan semua hal yang dilakukan oleh Jaekyung. tentu saja Donghae takut karena Jaekyung sendiri jenis-jenis orang yang sangat ceroboh, pernah satu kali Jaekyung hampir terjatuh beberapa minggu yang lalu saat keluar dari kamar mandi, jika saja Donghae yang tidak pergi kekamar mandi, bisa-bisa Donghae dan Jaekyung sekarang masih merasakan kesedihan  yang mendalam akibat terjatuhnya Jaekyung dan kalian tahu apa yang terjadi.

 

Jaekyung melepaskan tangan Donghae yang melingkar di perutnya, lalu ia beranjak dari dalam kamarnya untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Hari ini hari minggu, hari yang dulu sangat disukai oleh Jaekyung karena hari yang begitu terbebas dari semua segala tugas kuliahnya yang menumpuk.

 

Dua bulan Jaekyung hidup bersama dengan Donghae, Jaekyung sudah sedikit hafal semua kebiasaan-kebiasaan Donghae, makanan yang di sukai Donghae dan minuman kesukaannya. Setiap pagi Jaekyung selalu menyiapkan roti bakar dan segelas susu hangat untuk Donghae dan dirinya sendiri. Jika tidak roti bakar, nasi goreng yang menjadi sarapan pagi mereka.

 

Sebelum Jaekyung menyiapkan sarapan pagi, Jaekyung pergi kekamar mandi untuk membersihkan mukanya yang pasti terlihat kusam karena ia baru saja bagun tidur. Setelah itu ia menuju kedapur, menyiapkan semuanya.

 

Jaekyung kembali kekamarnya yang mendapatkan Donghae baru saja masuk kekamar mandi. Donghae sudah bangun, jadi Jaekyung memutuskan kembali kearah dapur dan duduk di kursi yang sudah biasa ia tempati untuk makan.

 

Donghae muncul dari arah kamarnya, lalu Donghae mengambil tempat duduk di hadapan Jaekyung yang sedang mengolesi roti dengan selai coklat, lalu meletakannya diatas piring milik Donghae.

 

“Hari ini bagaimana kalau kita berkunjung kerumah Ibu?” tanya Donghae sambil mengigit roti bakarnya, matanya memandang wajah Jaekyung yang masih sedikit lesu. Kemudian pandangan matanya beralih pada rambut Jaekyung yang di ikat asal-asalan.

 

“Boleh juga, aku merasa bosan dirumah. Akhirnya aku bisa keluar juga.” Donghae memandang Jaekyung dengan malas saat mendengar penuturan Jaekyung tadi.

 

“Kau bosan dengaku, ya?” Donghae mengambil gelas yang berisikan susu itu lalu meneguknya dengan pelan.

 

Jaekyung terkiki geli, “bukannya bosan denganmu. Aku terlalu bosan dirumah saja. Aku ingin sekali-sekali keluar.”

 

“Bukannya setiap hari minggu kita selalu keluar, ya. Atau setiap jadwal kuliahku tidak adapun aku selalu mengajakmu keluar. Dua hari yang lalu juga bukannya kita baru saja pergi ke kebun binatang?” Jaekyung tersenyum, meletakan roti bakarnya di atas piringnya lalu mengambil gelas kemudian ia meminumnya.

 

Jaekyung mengerjapkan matanya, mencoba menggoda Donghae dengan ia mengingat apa yang terjadi dua hari yang lalu itu, “aku tidak ingat kapan itu.” Ucapnya polos yang membuat Donghae mendengus kesal.

 

“Karena hamil atau apa kau bisa lupa seperti itu.”

 

Jaekyung ikut mendengus, “Kau jenis-jenis orang yang tidak bisa di ajak bercanda, ya. Aku kan hanya bercanda.” Jaekyung beranjak dari duduknya. Mengambil piring yang ada di hadapan Donghae lalu menumpuknya dengan piring miliknya.

 

Jaekyung membuka kran air untuk mencuci piring kotor tersebut. Donghae mengikuti Jaekyung dan berjalan untuk mengampiri Jaekyung. Donghae bertugas untuk mengelap piring yang basah tersebut lalu meletakannya di rak piring.

 

Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan dua bulan ini. Awalnya hanya iseng, tapi lama kelamaan Donghae merasa senang sendiri bisa membantu Jaekyung membersihkan piring-piring kotor yang terpakai oleh mereka. Awalnya juga Jaekyung menolak Donghae untuk membantunya, Jaekyung saat itu menyuruh Donghae untuk menunggunya diruang tengah, tapi karena tabiat Donghae keras kepala, Donghae tetap kekeuh untuk membantu Jaekyung, dan sampai sekarang ia membantu Jaekyung pada bagian mengelap piring yang basah setelah di cuci.

 

“Bagaimana kalau hari ini kita habiskan untuk bermalas-malasan saja?” tanya Donghae sambil mengusap telapak tangannya pada kain yang ada di depannya.

 

“Aku tidak mau. Bagaimana kalau kita ketaman saja. Jalan-jalan pagi sepertinya menyenangkan, atau merawat halaman belakang rumah ini saja. Sepertinya itu hal yang sangat bermanfaat sekali.” Jaekyung berbalik, berjalan kearah ruangan santai yang terletak di tengah-tengah ruangan.

 

“Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Kalau begitu aku akan mengganti bajuku sebentar. Kau mau mengganti bajumu, tidak?” tanya Donghae yang ada di ambang pintu kamarnya.

 

“Tidak. Aku memakai piamaku saja. Aku akan menunggumu di halaman belakang.”

 

 

***

 

 

“Aku harus memotong rumput ini atau mencabutnya saja?” tanya Donghae dengan gunting yang ada ditangannya, lalu ia mulai berjongkok untuk membersihkan rumput liar yang ada di halaman belakang rumahnya.

 

Jaekyung memberikan sarung tangan pada Donghae, “di cabut saja. Itu yang lebih gampang.” Ucapnya dengan menggunakan sarung tangannya sendiri.

 

Donghae mengerutkan keningnya, “tapi itukan susah,” jawabnya, mengikuti Jaekyung yang memakai sarung tangannya. “Dan di pastikan itu akan sangat lama jika dicabut. Membuat tanganku sakit pastinya.”

 

Jaekyung mendengus, “kau kan laki-laki, jadi untuk apa tenagamu itu? Dan manfaat aku memberikan sarung tangan untukmu kan memang untuk mencegah tangamu sakit.”

 

“Walaupun memakai sarung tangan juga, tanganku akan tetap sakit.” Balas Donghae, memulai mencabuti rumput liar tersebut.

 

“Kalau begitu, kau tak usah membantu saja. Pergi dari sini.” Usir Jaekyung pada Donghae. Jaekyung membungkuk, mendorong punggung Donghae bermaksud agar Donghae cepat pergi dari tempatnya.

 

Donghae terkiki geli melihat tingkah Jaekyung. hal seperti ini sangat jarang terjadi. Ini seru sekali, pikir Donghae dalam hati. Jaekyung sudah tidak mendorong-dorong punggung Donghae lagi, kini ia memulai mengikuti apa yang di lakukan oleh Donghae.

 

“Kau sangat suka merawat halaman seperti ini, ya?” ucap Donghae setelah beberapa detik yang lalu hening.

 

Kepala Jaekyung mengangguk, “saat aku berusia lima belas tahun, setiap sorenya Ibu selalu mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman belakang. Aku hanya melihatnya dari teras belakang dengan menikmati angin sore. Karena melihat Ibu yang sepertinya sangat asik mencabuti rumput tersebut, aku mengikutinya membantu. Dan kebiasaan itu sampai beberapa tahun yang lalu.”

 

“Kau tidak mencabutinya lagi beberapa tahun ini?”

 

“Iya, soalnya aku selalu pulang sore dan kadang malam. Untuk  mengerjakan tugas yang tak pernah habisnya. Ibu yang selalu mencabutinya ketika ia pulang dari restoran. Kalau ia pulang malam, ya beberapa hari kemudian baru ia mencabutnya.” Ucap Jaekyung, ia beranjak dari duduknya, mengambil tumpukan rumput yang sudah ia kumpulkan lalu memasukannya kedalam kantuk plastic.

 

“Kau juga sepertinya menyukai beberapa bunga?”

 

“Hmm.. termasuk Raflesia Arnoldi.” Jawab Jaekyung konyol yang langsung mendapatkan dengusan dari Donghae.

 

“Bunga itukan sudah langka. Dan baunya sangat menyengat”

 

“Lalu kalau sudah langka dan baunya menyengat, bagaimana? Seharusnya kita bisa melestarikannya kan?”

 

“Hmm…terserah kau saja. Ngomong-ngomong saat kita kerumah nenek juga kau membantu nenek merawat bunga-bunganya, kan? Kenapa kita tidak kesana saja siang nanti?” Donghae mengambil kantung plastic yang ada disampingnya lalu memasukan semua tumput tersebut kedalam kantung plastic tersebut.

 

“Ide yang sangat brilian. Tapi hari ini aku ingin mengurusi rumah ini dulu.”

 

“Baiklah, semuanya terserah padamu.” Ucap Donghae, tangannya mengusap keningnya, “aku baru ingat kalau dua minggu ini kita belum pergi ke dokter untuk memeriksa kandungamu.” Donghae berdiri dari duduknya, berjalan kearah kumpulan rumput yang sudah agak meninggi.

 

“Akhirnya kau ingat juga.” Jawab Jaekyung, tangannya menepuk-nepuk pelan pantatnya. Tangannya membawa dua kantung plastic tersebut lalu membawanya pergi untuk membuangnya di tong sampah yang ada di depan rumahnya.

 

Donghae mengikuti Jaekyung dari belakang. Lalu dengan sedikit cepat ia menyamai langkahnya dengan langkah Jaekyung. tangan kirinya mengambil kantung plastic di tangan kanan Jaekyung.

 

“Kau saja yang begitu sibuk.” Ucap Jaekyung lagi, menunggu Donghae yang sedang membuka gerbang rumahnya. Setelah terbuka Jaekyung kembali berjalan.

 

“Kaukan bisa pergi sendirian.” Balas Donghae. Jaekyung memutar bola matanya bosan.

 

“Baiklah, kalau kau sibuk atau apa aku akan pergi sendiri.” Donghae terkiki mendengar Jaekyung yang begitu pasrah.

 

“Aku bercanda. Kalau begitu setelah ini kita pergi kedokter saja bagaimana?” Donghae meletakan kantung plastic yang ada di tangannya kedalam tempat sampah, lalu Jaekyung mengikuti apa yang di lakukan oleh Donghae.

 

“Bagaimana ya, sebenarnya hari ini aku terlalu malas untuk bepergian jauh.” Jaekyung membalikan badannya, “Donghae-ah, bisa kau benarkan kunciran rambutku?” tunjuk Jaekyung pada rambutnya yang sudah agak berantakan.

 

Donghae membuka sarung tangannya, lalu menyerahkan pada Jaekyung untuk memegangnya sebentar. Setelah di pegang oleh  Jaekyung, Donghae mulai menarik kunciran rambut Jaekyung yang langsung tergeria di punggung Jaekyung.

 

Tangan Donghae mengumpulkan rambut Jaekyung agar terkumpul menjadi satu. Merapihkannya lalu menariknya keatas kemudian setelah terlihat rapih Donghae mulai menguncirnya. Setelah selesai, Donghae mengelus puncak kepala Jaekyung yang menandakan bahwa Donghae sudah selesai.

 

“Ayo.” Ajak Donghae sambil menggengam pergelangan tangan Jaekyung. membawanya masuk kedalam rumah mereka lagi.

 

 

***

 

 

Donghae mengambil gelas lalu ia letakan diatas meja makan, menuangkan air putih yang ada di dalam teko kedalam gelasnya. Gelas yang sudah terisi penuh air itu ia berikan pada Jaekyung yang duduk di sampingnya. Jaekyung menerimanya lalu ia meneguknya sampai tertinggal setengah.

 

Tangan Donghae mengambil beberapa tisu yang ada di hadapannya, lalu ia mengusap keringat yang ada di kening Jaekyung dengan tisu tersebut. Donghae menarik kursi kebelakang, kemudian duduk menghadap kearah Jaekyung yang sedang mengipas dirinya dengan tangannya sendiri.

 

“Padahal pagi ini sejuk.” Ucap Donghae masih dengan menguspa kening Jaekyung.

 

“Aku kan sedang hamil, jadi wajar saja jika aku mudah lelah seperti ini.” Ucapnya sengit. Tangannya mengambil kembali gelas yang sudah ia letakan itu, kemudian ia mulai meneguknya sampai air yang ada didalam gelas itu habis tak tersisakan.

 

“Wah, pasti haus sekali, ya.” goda Donghae yang semakin membuat Jaekyung kesal.

 

“Kau mau? Kenapa tidak menuang sendiri saja?” Jaekyung memberikan gelas yang sudah kosong itu pada Donghae yang langsung di terima oleh Donghae.

 

“Hari ini kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa keadaan kandungamu.” Kepala Jaekyung tertunduk lesu. Punggungnya menyandar nyaman di kursi yang ia dudukki.

 

“Baiklah, tapi biarkan aku istirahat sebentar.” Ucapnya pelan. Tangan Donghae beralih untuk menepuk-nepuk pelan bahu Jaekyung agar terasa santai.

 

“Kenapa tidak sekalian mandi saja untuk menyegarkan tubuhmu?” tanya Donghae yang tak mendapatkan balasan dari Jaekyung, “atau kau ingin aku memandikanmu?” ucap Donghae di dekat telinga Jaekyung membuat Jaekyung tersentak kaget.

 

“Tidak.” Tegasnya. Jaekyung berdiri tegak lalu membalikan tubuhnya, berjalan kearah kamarnya untuk menyegarkan tubuhnya. Sepertinya merendam tubuhnya dengan air hangat dan di tambahi aroma lavender akan membuat tubuhnya segar. Ide yang sangat brilian. Pikirnya dalam hati.

 

Donghae yang melihat Jaekyung pergi kearah kamarnya hanya bisa terkiki geli. Donghae menuangkan air yang ada didalam teko tersebut kedalam gelasnya. Setelah gelasnya terisi penuh Donghae langsung meneguknya.

 

Setelah itu ia berjalan kearah ruang tengah untuk menunggu Jaekyung selesai mandi dan gilirannya untuk ia sendiri mandi. Walapun rumanya memiliki tiga kamar mandi, Donghae sangat malas untuk memakainnya. Lebih nyaman yang ada dikamarnya.

 

***

 

 

Mata Donghae kembali menatap kearah Jaekyung yang duduk disampingnnya. Rasanya Donghae tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jaekyung sekarang ini. Terang saja, Jaekyung hari ini memakai dress hanya sampai lututnya. Dress tersebut dengan warna putih gading, dengan syal yang melingkar di lehernya, rambut merah panjang bergelombangnya di urai. Benar-benar sangat cantik.

 

Donghae benar-benar harus menjaga konsentrasi menyetirnya jika ia tidak mau meninggal dengan konyol. Dengan pelan Donghae menghembuskan napasnya, kemudian ia kembali berkonsentrasi. Mengabaikan Jaekyung yang asik dengan ponselnya.

 

 

***

 

 

“Nomor berapa?” tanya Jaekyung yang baru saja kembali dari kamar mandi. Donghae memberikan karu yang ia dapatkan tadi, “ah, nomor sepuluh. Baiklah kita menuggu.” Ucap Jaekyung sambil menyentuh tangan Donghae.

 

“Kau menginginkan sesuatu?” tanya Donghae pada Jaekyung yang kini sudah duduk di ruang tunggu.

 

“Sepertinya tidak ada. Kalau aku menginginkan sesuatu juga aku akan mengatakannya padamu. Tenang saja.” Jawabnya. Punggungnya ia senderkan pada kursi yang sedang ia dudukki.

 

“Aku juga memasukan susu untuk ibu hamil didalam tasmu. Kalau kau ingin minum kau tinggal ambil saja.” Jaekyung membuka tasnya, mendapatkan dua kotak susu. Kepala Jaekyung menoleh dan tersenyum kearah Donghae.

 

“Gomawo.” Ucapnya dengan senyuman yang semakin tulus Jaekyung berikan pada Donghae yang membuat Donghae sedikit merona.

 

“Ehm, aku ingin kekamar mandi terlebih dahulu. Tidak apa-apa?” Donghae sedikit gugup. Kepalanya ia tundukan untuk menyembunyikan wajanya yang sedikit memerah.

 

“Baiklah, aku akan menunggumu disini.”

 

 

***

 

 

Hye Mi seperti melihat Donghae yang keluar dari dalam ruangan Dokter spesialis Kandungan. Dalam benak Hye Mi apa yang dilakukan oleh Donghae disana. Dan siapa yang sedang mengandung. Seperti tertampar oleh petir di pagi seperti ini, Hye Mi tahu Donghae mengantar siapa.

 

Tangan Hye Mi mencengkram dadanya pelan. Hye Mi benar-benar tak menyangka bahwa hubungan Donghae dengan Jaekyung begitu serius dan sampai membuat Jaekyung mengandung benih Donghae. Hye Mi terhuyung kebelakang, untung saja ada tembok di belakangnya, jika saja tidak ada sangat di pastikan kalau dirinya akan terjatuh.

 

Hye Mi berharap apa yang di lihatnya sekarang adalah hanya khayalan semata yang ia lihat karena begitu merindukan Donghae yang dua bulan kini menjauh darinya. Kepala Hye Mi menggeleng pelan, matanya terpejam agar ini benar-benar tidak nyata. Tapi ternyata nihil, saat ia membuka matanya kembali ternyata ini memang nyata.

 

Dengan cepat Hye Mi mengikuti kearah mana Donghae pergi dan sangat ia ketahui bahwa Donghae keluar menuju kearah kafe yang ada di samping rumah sakit ini. Langkah Hye Mi semakin cepat agar ia sudah sampai di kafe tersebut. Setelah didepan pintu kafe, Hye Mi membuka pintunya, mendapatkan Donghae sedang melihat daftar menu untuk Donghae pesan.

 

Hye Mi berjalan menuju kearah Donghae. berdiri disampingnya lalu ia Hye Mi menyapa Donghae yang membuat Donghae terlonjak kaget, “Hai.”

 

Dengan tatapan terarah kedepan, Hye Mi mengabaikan keterkejutan Donghae pada dirinya. Bibirnya tersenyum. Akhirnya ia bisa berbicara dan berdekatan dengan Donghae kembali. Ini membuatnya begitu senang.

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae yang sudah menyembunyikan keterkejutannya pada kehadiran Hye Mi yang tiba-tiba.

 

Apa yang kau lakukan? Tentu saja untuk memesan minuman. Dan kalimat itu seharusnya yang aku ucapkan untuku,” Hye Mi menoleh kearah Donghae. “Apa yang kau lakukan di rumah sakit dan diruangan dokter spesialis kandungan itu?” tanya Hye Mi langsung.

 

“Ah, kau mengikutiku dari dalam rumah sakit, ya?” tanya Donghae tenang. Hye Mi menganggukan kepalanya pelan. “Tentu saja untuk mengantar Jaekyung memeriksakan kandunganya.”

 

“Oh, benarkah?”

 

“Tentu saja. Sudah waktunya kandungannya untuk di periksa.”

 

“Memang sudah berapa bulan?” tanya Hye Mi. walaupun dihatinya terasa sakit saat ia menannyakan usia kandungan Jaekyung, tetap saja Hye Mi penasaran.

 

“Kurang lebihnya tujuh bulan,” ceplos Donghae dengan bangganya. Hye Mi yang mendengar ucapan Donghae hanya bisa memblalakan matanya tidak percaya.

 

“Apa?” tanya Hye Mi yang masih tidak percaya dengan ucapan Donghae tadi. Mungkin saja telingnya yang salah dengar.

 

“Kurang lebih tujuh bulan. Kau mendengarnya dengan jel—” Donghae mengentikan ucapannya. Sepertinya ucapannya kali ini benar-benar tak bisa ia hentikan. Dasar bodoh. Umpatnya dalam hati.

 

Sudah terlanjur member tahukan usia kandungan Jaekyung pada Hye Mi, pasti membuat Hye Mi bingung seperti sekarang. Tentu saja, pasti Hye Mi berpikir ini aneh sekali. Bukankah pernikahan mereka baru memasuki usia dua bulan dan kenapa Jaekyung bisa hamil secepat itu. Kalaupun cepat juga masti usia kandungan itu tak jauh beda dengan usia pernikahan mereka pastinya.

 

Donghae yang menyadari gelagat Hye Mi hanya bisa mengerutuki dirinya sendiri karena dengan bodohnya memberitahukan usia kandungan Jaekyung. Donghae dengan cepat mengambil pesanan yang sudah jadi itu. Donghae berjalan kearah kasir untuk membayar pesanan yang di belinya. Hye Mi sendiri mengikuti langkah Donghae dari belakang.

 

“Kau harus menjelaskannya.” Ucap Hye Mi di belakang tubuh Donghae. “Aku memang sudah menduga bahwa pernikahanmu dengan Jaekyung memang sedikit aneh.” Ucap Hye Mi lagi dengan bersi keras.

 

Setelah membayar, dengan cepat Donghae berjalan meninggalkan Hye Mi. mengacuhkan semua pertanyaan yang keluar dari dalam mulut Hye Mi. tapi Donghae tahu tabiat Hye Mi itu seperti apa, jika sudah penasaran Hye Mi akan selalu menannyakannya. Hye Mi itu jenis-jenis orang yang ingin tahu urusan orang lain.

 

Langkah Donghae berhenti saat pergelangan tangannya di tangakap oleh tangan kecil yang dulu sering ia pegang. Donghae sedikit merindukan telapak tangan Hye Mi dan ia mengingikan telapak tangan Hye Mi yang selalu mengelus telapak tangannya. Tapi, Donghae sadar bahwa itu sudah tidak akan mungkin terjadi.

 

“Aku tahu semua gerak-gerik tubuhmu. Kau merindkukanku, dan aku juga sama merindukanmu juga. Kita bisa berbicara sebentar disini. Lupakan Jaekyung sementara waktu dan sekarang hanya ada kau dan aku disini.”

 

Seperti terhipnotis, Donghae menganggukan kepalanya. Mengikuti langkah Hye Mi yang membingbingnya kearah meja ksong didalam kafe tersebut.

 

 

***

 

 

Jaekyung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir lima belas menit Donghae keluar dan tak kembali lagi kesini. Antrian sudah pada urutan ketujuh, dan tinggal dua lagi untuk gilirannya.

 

Kepala Jaekyung menunduk, sedikit kecewa dengan Donghae yang tak kunjung datang juga. Jaekyung mendongakan kepalanya, raut wajahnya menjadi datar. Dingin. Hari ini ia tidak akan memaafkan apa yang sudah di lakukan oleh Donghae.

 

Jaekyung membenarkan letak syalnya yang sedikit berantakan. Tangannya terkepal karena kesal terhadap Donghae. jaekyung berpikir jika Donghae kembali lagi kesini, Jaekyung benar-benar akan memukul kepalanya berkali-kali, kemudian menjambaknya dengan kekuatan yang sangat penuh agar rambut di kepala Donghae terlepas.

 

 

***

 

 

Jaekyung menghapus air matanya yang keluar. Sekarang Jaekyung sedang ada di taman kota. Entah ini sudah pukul berapa yang Jaekyung tahu bahwa ia keluar dari ruangan Dokter itu jam setengah sebelas siang. Dan sekarang ia tidak tahu jam berapa sekarang. Jaekyung malas untuk melihat jam ada di pergelangan tangannya.

 

Melihat kursi yang tak terisi oleh orang, Jaekyung dengan cepat duduk. Tas yang ia sampirkan kini ia pangku di pahannya. Untung saja Jaekyung membawa tisu di tasnya, jadi sangat bermafaat juga untuk menghapus air matanya itu.

 

Lagi pula, Jaekyung berfikir untuk apa dirinya menangis? karena Donghae yang seperti itu? Lupakan Donghae yang tak kunjung datang saat sampai selesai pemeriksaan, lupakan semuanya. Jaekyung memandang beberapa orang yang berjalan di depannya. Banyak sekali pasangan yang sedang bergandengan tangan atau tertawa-tawa lepas seperti itu.

 

Rasanya Jaekyung ingin sekali merasakan hal seperti itu. Di cintai dengan tulus oleh laki-laki yang ia cintai. Bukan seperti sekarang, menikah hanya karena dirinya hamil seperti ini. Mata Jaekyung memandang kosong kedepan, lalu kepalanya menunduk.

 

Hasil pemeriksaan tadi, kandungannya sangat sehat. Ia senang dan dokter juga menyarakan agar selalu menjaganya dengan baik, tentu saja Jaekyung akan menjaga kandungannya ini. Tangan Jaekyung membuka tasnya, mengambil susu yang masih utuh tinggal dua di tasnya. Jaekyung mengambil satu dan di minumnya.

 

Tangan Jaekyung mengelus-elus perutnya yang sudah agak membesar. Jaekyung memikirkan apa yang akan di lakukannya sekarang setelah dari taman, apa di taman saja sampai sore? Tentu saja itu tidak mau, duduk sendiri ditaman seperti orang bodoh. Lebih baik ia pergi keperpustakaan kota. Membaca akan membuatnya melupakan kejadian yang baru Jaekyung alami sekarang.

 

 

***

 

 

Donghae membuka pintu rumahnya dengan lemas. Hari ini ia lelah sekali, seharian dengan Hye Mi membuat bebannya sedikit terangkat. Sekarang sudah pukul empat sore, tidak terasa ia menghabiskan setengah hari dengan Hye Mi. dan perutnya tak terasa berbunyi nyaring. Donghae lapar dan ia ingin langsung menuju kearah meja makan. Jaekyung pasti sudah menyiapkan makanan, atapun kalau belum, Jaekyung pasti memasakan makanan untuknya.

 

Dengan cepat Donghae mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Mantel yang ia pakan, ia lepas menyampirkann di lengannya. Donghae merasa aneh, kenapa rumahnya begitu sepi, seperti tak berpenghuni. Biasanya jam sekarang Jaekyung sedang asiknya menonton acara musik di televisi. Tapi kenapa malah sepi seperti ini.

 

Langkah Donghae semakin cepat, ia berjalan kearah ruanga tengah mendapatkan ruangan tersebut kosong dan televisi dalam keadaan mati. Donghae berbalik arah, berjalan kearah dapur siapa tahu Jaekyung sedang membuat minuman, tapi saat Donghae sampai di dapur, dapurpun sama kosongnya seperti di ruang tengah tadi ia lihat.

 

Donghae semakin panik, dimana Jaekyung sekarang. Donghae tidak suka dengan situsai seperti ini, tolong jangan bercanda yang keterlaluan seperti ini. Pikirnya dalam hati. Mantel yang sedari tadi tersampir di lengannya kini terjatuh di lantai dan Donghae menghiraukannya. Yang lebih penting adalah Jaekyung sedang ada dimana sekarang.

 

Donghae membuka pintu kamarnya, ia berharap Jaekyung sedang tertidur didalam kamarnya tapi saat ia membuka ternyata tempat tidurnya sama seperti pagi tadi setelah di bereskan oleh Jaekyung. Donghae menggeram pelan. Dimana Jaekyung sekarang.

 

Dan seperti di tampar oleh ingatannya, bahwa dirinya meninggalkan Jaekyung di rumah sakit dan suami macam apa dirinya ini melupakan istrinya begitu saja dan ia malah pergi bersenang-senang dengan Hye Mi setengah hari ini.

 

Dengan cepat Donghae keluar dari dalam kamarnya dan berlari keluar dari rumahnya kearah bagasi tempat dimana mobilnya. Donghae masuk, dengan sangat terburu-buru sekali Donghae meghidupkan mobilnya. Ia berdoa agar ia dengan cepat bertemu dengan Jaekyung sebelum malam tiba.

 

 

***

 

 

Dua minggu berlalu begitu saja saat Donghae melupakan Jaekyung di rumah sakit itu. Sekarang Donghae dan Jaekyung seperti biasa makan malam bersama, keduanya diam. Tidak, Jaekyung yang mendiaminya dua minggu terakhir ini.

 

Lagipula ini memang salahnya sih, kenapa bisa begitu lupa dengan istrinya saat itu. Dan saat Donghae mencari keberadaan Jaekyung, Donghae tidak menemukannya dimana-mana, Donghae menyerah dan akhirnya Donghae kembali kerumah. Donghae sudah mencari kerumah ibu dan ayahnya, tapi mereka berdua mengatakan bahwa Jaekyung tidak berkunjung kerumahnya. Lalu Donghae, mencari ke restoran dimana tempat kerja ayah dan ibu Jaekyung, dan Ibu Jaekyung tidak melihat Jaekyung datang kesini. Karena Donghae sudah merasa lelah mencari Jaekyung diama-mana, akhirnya Donghae kembali lagi kerumahnya. Ia sudah tidak tahu dimana lagi yang harus ia datangi.

 

Ketika Donghae memasuki rumah saat itu, Donghae kaget. Ini memang sudah petang dan siapa yang menghidupkan semua lampu dirumahnya. Apa orang lain? Sepertinya itu tidak mungkin sekali. Lalu perkiraan bahwa Jaekyung sudah datang akhirnya memang benar, mata Donghae melihat Jaekyung sedang mengiris beberapa sayuran untuk ia tumis.

 

Saat itu hati Donghae begitu bahagia, karena istrinya pulang kerumah. Donghae langsung memeluk tubuh Jaekyung yang tidak di respon sedikitpun oleh Jaekyung. dan Donghae tahu bahwa Jaekyung marah terhadapnya.

 

Sampai sekarang apa Jaekyung tidak mau memaafkannya? Padahal Donghae sudah meminta maaf padanya berulang kali. Saat akan tidur, setiap saat Donghae selalu mengatakan kata maaf dan kata penyesalan padanya.

 

Donghae meletakan sumpitnya dengan keras, membuat Jaekyung yang sedang mengunyah makanannya berhenti. Matanya menatap kearah Donghae lalu kembali melanjutkan makannya. Menghiraukan Donghae yang seperti itu.

 

“Jadi apa ini masalah dua minggu yang lalu?” ucap Donghae ambigu. Jaekyung kembali menatap kearah Donghae. tangannya mengambil gelas yang ada di hadapannya lalu meneguknya dengan perlahan.

 

“Aku tidak mengerti.” Ucap Jaekyung sambil meletakan kembali gelas yang terisi air itu. Tangannya kembali menyumpit makanannya.

 

“Aku menyesal, Jaekyung-ah. Aku lupa kalau aku sedang mengantarmu memeriksa kandunganmu saat itu.”

 

“Oh.” Balas Jaekyung yang membuat Donghae semakin geram. Balasan macam apa itu.

 

“Hanya itu?” tanya Donghae. Jaekyung meletakan sendok yang akan ia gunakan untuk mengambil makan di atas meja.

 

“Lalu apa yang kau harapkan dariku?” tanya balik Jaekyung yang membuat Donghae mendelik.

 

“Kita bisa membicarakan masalah itu dengan baik-baik.” Jaekyung menghiraukan kembali Donghae yang masih menatapnya. Pembicaraan ini sungguh membuatnya tak nafsu makan lagi.

 

Jaekyung beranjak dari duduknya. Mengambil mangkuk-mangkuk yang sudah kosong lalu membawanya ketampat cucian piring. Jaekyung mengabaikan Donghae yang masih saja mengharapkan jawaban dirinya. Kejadian dua minggu yang lalu membuatnya sakit hati. Jaekyung memang tidak tahu kenapa Donghae meninggalkannya begitu saja, seperti saat waktu itu Donghae menemukan barang baru dan melupakan barang lama.

 

Setelah mencuci piring dan membersihkannya, Jaekyung berniat akan pergi kekamarnya. Tapi niat tersebut di hentikan oleh Donghae yang sudah menarik pergelangan tangannya. Jaekyung memutar bola matanya bosan. Apa yang ingin dilakukan oleh laki-laki ini.

 

“Kita selesaikan hari ini juga! Aku sudah tidak tahan lagi dengan situasi seperti ini!” ucap Donghae matanya menatap tajam mata Jaekyung yang memandang kearah lain, “tatap mataku, sialan!”

 

Jaekyung mendongakan kepalanya, matanya memandang mata Donghae dengan tak suka. Tadi dia mengatakan apa? Sialan? Oh, itu sangat bagus sekali. Pikir Jaekyung.

 

“Wah, kita menikah hampir tiga bulan kau sudah berani mengatakan sialan padaku, ya!” jawab Jaekyung dan Donghae tersentak. Ucapan itu benar-benar tak sengaja keluar dari mulutnya.

 

Salahkan semuanya pada wanita yang ada di hadapannya. Jika wanita didepannya tidak memancing kesabarannya, Donghae yakin bahwa ia tidak akan mengatakan kata-kata tak sopan itu.

 

“Maafkan aku.”

 

“Kau hanya bisa mengatakan kata maaf, aku sudah muak mendengar kata maaf selama dua minggu terakhir ini. Tidak bisakah kau mengentikan ucapanmu itu?” Jaekyung mencengkram pelan lengan tangan Donghae dengan tangan kirinya.

 

“Kalau kau ingin aku berhenti mengatakan kata maaf, kau harus memaafkanku saat ini juga.” Balas Donghae, tangannya mengelus puncak kepala Jaekyung dengan pelan.

 

Jaekyung mendenguskan napasnya, “kau meminta maaf dan tidak mengatakan alasannya itu. Tapi, oh—aku tidak perduli dengan semuanya. Aku sudah melupakan kejadian waktu itu. Bisa kau menyingkir dari hadapanku sekarang? Aku lelah sekarang!”

 

“Aku tidak bisa memberikan alasannya.”

 

“Kalau kau tak bisa memberikan alasannya, lebih baik kau menyingkir dari hadapanku sekarang juga! Aku sudah mengatakannya dua kali, kau pasti mengerti.”

 

“Tidak aku tidak akan pergi meninggalkanmu lagi. Aku berjanji.” Tangan Donghae menangkup rahang Jaekyung. tangannya mengelus kedua pipi Jaekyung dengan lembut.

 

Jaekyung menundukan kepalanya, ia muak dengan segala ucapan yang keluar dari bibir Donghae. telinganya sudah cukup panas mendengarkan kata-kata maaf Donghae. Jaekyung memang sudah memaafkan Donghae, ia juga sudah melupakan kejadian itu. Tapi karena setiap hari Donghae mengungkit-ungkit masalah itu, sampai sekarang masalah dua minggu yang lalu membekas di hatinya.

 

“Aku sudah memaafkanmu saat kau mengatakan permintaan maaf padaku waktu itu. Hanya saja aku tidak bisa melupakan kejadian saat itu. Kau bisa bayangkan jika kau menjadi diriku, kau juga pasti akan marah, kesal terhadap orang yang meninggalkanmu sendirian disana, dan melupan kau begitu saja. Sakit sekali. Disini sakit.” Tunjuknya pada dadanya. Tangannya menepuk pelan dadanya. Matanya masih menatap kearah Donghae yang hanya diam mendengar semua ucapannya.

 

“Karena itu aku meminta maaf padamu.”

 

“Kata maaf itu sebenarnya tidak terlalu kuat untuk menghapus semua yang sudah membekas di hatik—”

 

“Jadi aku harus bagaimana?” ucap Donghae memotong ucapan Jaekyung.

 

Dengan pelan Jaekyung mengehembuskan napasnya, “kau hanya perlu melupakan kejadian itu. Aku sudah sedikti-sedikit melupakannya, tapi karena kau mengatakannya setiap saat aku menjadi tak bisa melupakannya.” Setelah mengucapkan kata seperti itu Donghae langsung memeluk tubuh Jaekyung dengan erat.

 

Entah sudah berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Tidak ada yang ingin berniat melepaskan, rasanya begitu sayang jika salah satu dari mereka melepaskan diri mereka dari pelukan ini.

 

Dengan berat hati Donghae melepaskan pelukannya, lalu dengan perlahan Donghae menundukan kepalanya. Matanya menatap bola mata Jaekyung yang berwarna hitam pekat, dan Donghae merasa bersyukur bisa melihat bola mata Jaekyung yang menurutnya indah.

 

Kepala Donghae ia miringkan lalu setelah itu Donghae bisa merasakan lembut bibir Jaekyung di bibirnya. Ini ciuman ketiga atau keempat, Donghae tidak tahu karena selama hampir tiga bulan ini Donghae tidak pernah mencium Jaekyung.

 

Donghae tak merasakan penolakan dari Jaekyung, matanya yang awal terpejam kini terbuka untuk melihat keadaan Jaekyung, dan bibirnya langsung sedikit melebar saat melihat mata Jaekyung terpejam, seperti menikmati apa yang sudah ia lakukan. Bibir Donghae melumat habis bibir Jaekyung, menghisap bibir bawah Jaekyung dan Jaekyung dengan sangat ragu-ragu membalas apa yang di lakukan oleh Donghae—menghisap bibir atas milik Donghae.

 

Tubuh Donghae semakin mendekat dengan tubuh Jaekyung. Donghae bisa merasakan perut buncit Jaekyung dan ia bisa sedikit merasakan pergerakan di sekitar perut Jaekyung. Donghae melepas ciumannya, “aku bisa merasakannya. Dia bergerak. Apa aku bisa merasakannya lagi?” tanya Donghae dengan tangannya yang ada di permukaan perut Jaekyung.

 

“Aku tidak tahu.” Jawab Jaekyung dengan wajah yang merona akibat ciuman Donghae.

 

Donghae memandang wajah Jaekyung dan ia kembali mencium bibir Jaekyung lagi.

 

“Maafkan aku, dan terima kasih.” Ucap Donghae di sela-sela ciuamannya dengan Jaekyung.

 

 

—TO BE CONTINUED—

 

AKHIRNYA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Uhuk! PANJANGNYAAAAAA! Narasinya itu lho ya yang panjang. Aku stress kalau kalian tahu. Tapi ngga sih, soalnya aku ngerjain ini Cuma beberapa hari kalau bisa sih dua-tiga hari. Kkk~ cepetnya, tapi publisnya itu yang lama. Maklumlah penyakit manusia yang tak pernah hilang itu ya penyakit malas. Aku ini malasnya naudubilah. Tapi ngga papa ya, akhirnya di publis juga.

Kayaknya ceritanya makin kesini makin bosen, terlalu menonton, sinetron banget deh pokoknya ini cerita. Tapi moga aja kalian suka. Kalian juga bisa protes ke aku kayak apa aja deh, contohnya; “Saeng, ini ceritanya terlalu berbelit-belit.” “lama banget, ngga langsung aja.” Atau apalah, ngga papa komen kayak gitu. Aku juga ngga tau kenapa nulis fict ini jadi agak lambat gitu alurnya. Tapi emang dari awal fict ini memang alurnya lambatkan? Heung heung aku ngga tau gima cara perpindahan waktunya. Atau aku kalau nulis fict ini di tulis –skip— atau gimana? Tapi yah aku ini orang yang males kalo fict ada skipnya gitu. AAAAAAAAAAAAAAAAAAA AKU PUSING. KALO GITU UDAH DEH AH….

 

SILVI DIAH SEPTIYANI, MY LOVELY BEDROOM.

 FRIDAY, 04 OCTOBER 2013, 02:52 pm

 

7.459 WORD *kurang panjang? Ketik sendiri :v :v

 

 

 

31 thoughts on “If This Was a Movie [Part 11]

  1. Diawal-awalnya sich terasa monoton dan hambar, tapi pas scene DongHae yg ninggalin JaeKyung di RS itu feel-nya dapet, apalagi kissing scene-nya. Hahahaha..

  2. Huaa akhirnya pyblish juga…sumpah aq ga bosen malah aq tunggu2 kelanjutannya…kalo bosan aq ga akan komen di blog ini….so ditunggu kelanjutannya….

    Overall aq suka ceritanya..semangatt ya bikin next partnya…

  3. daebak vi, aq suka ceritax.
    donghea opa yg galau gara2 dicuekin jae kyung.
    vi next chap banyakin acra romantis2x ya vi…..
    vi jangan lama2 kelanjutanx ya ……. ok

  4. Heh uciiiiilll…. kenapa kau membuatku senyum2 GAJENISASI eoh?
    awalnya benci, empet, kesel, geram, maraaaah sama Donghae yang keterlaluan ninggalin Jaekyung gitu aja gara2 si Hyemi sialan! Dan oh… sialan? ingin ditampar rupanya wajah kurang jeleknya dia hah? beraninya ngomong gitu sama Jae…
    Eeh tapiii… endingnya ciuman wkwkwk..
    kurang tuh penderitaan Donge minta maaf sama Jaenya…
    next jangan lama oke?😉

  5. waah akhirnya keluar jugaaa part 11nya😀
    aku setiap hari dateng ke blog ini buat liat udah ada lanjutannya apa belum
    aku ga ada masalah sama alurnya yang lambat, malahan itu bkin ceritanya makin jelas dan bagus daripada di skip
    dan ceritanya ga ngebosenin kok malah bikin penasaran mulu
    walaupun lama ngepostnya tapi aku puas karna part ini panjang dan ga mengecewakan
    daebak deh author ^^
    oiya nanti pas aegy nya lahir jangan bkin mereka cerai ya thor
    dibikiin ada konflik gapapa tapi jangan sampe cerai kaya di novelnya
    pokoknya ditunggu deh buat next partnya
    FIGHTING NEE~!!! ^^

  6. Hmmm, ini emang panjang ya vye. Interaksi Haekyung nya juga udh banyak n intens. Tapi rasanya itu kok ga real ya, diksi manis yg bikin kesan romantisnya emang udh mendukung, tapi feel nya itu nihil

    Donghae yg baik ke jaekyung, sekilas dr diksi emg WOW tp ga ngena di hati. Truz jaekyung yg berusaha lebih ramah sm donghae malah terkesan egois.

    Penggambaran tokoh disini yg tepat antara feel n karakternya itu malah si hyemi. N aku malah lebih bisa ngerasain chemistry si tokoh waktu dia interaksi sama donghae. Marah, benci, cemburu, sakit hati, semuanya lbh kerasa di scene mereka b2 ketimbang scene haekyung

    Selain itu, aku mungkin emang sok tau ya, tapi narasi kamu itu muter2 vye, banyak banget penggunaan kalimat or kata yang ga perlu. Kaya misalnya kamu udh pake keterangan tokoh di kalimat awal, tp di kalimat sambungannya kamu msh pake nama si tokoh lagi. Truz di kalimat sebelumnya km udh jelasin keterangan jumlah, eh kamu tetep pake kata ‘semuanya’ di akhir kalimat sambungannya. Itu pemborosan kan

    Kamu bilang kan kamu butuh kritik n saran dari reader, makanya km butuh review yg membangun dr kita sbg reader kamu. Tapi, kayanya koreksi reader ga kamu masukin list belajar kamu deh. Coz di setiap part kamu masih juga lakuin kesalahan yang sama.

    Makanya, aku saranin ke kamu utk jadi reader juga di tulisan kamu vye. Setiap selesai nulis, kamu baca dari awal. Jadi kamu bs lbh tau cerita yg kamu buat itu bagus atau nggak, udah perfect n menarik atau belum. Kalo kamu sbg author udh ngerasa nyaman bc tulisan kamu, reader juga pastinya akan lebih excited saat baca, karna feel yg kamu ciptain nyampe ke kita

    Kamu mau review kan, jadi reader juga mau feedback dari kamu dgn cara, kamu perbaiki juga kesalahan2 yg kita koreksi. Biar kita seimbang

    ^^

  7. Aku kesel sama hye mi, bisa ngak perannya dihilangkan aja? Udah macam sinetron, aku lebih seneng baca sweet momentnya..
    Then part selanjutnya jgn lamaa2 ya thor..

  8. .akhir.a publish jg klanjutan ff ini…

    .cerita.a makinn seru nhii,,
    .pngen dehh getokk kpala donghae krna udh ninggalin jaekyung hanya demi hyemi si PENGGANGGU itu

    .aqqu paling nungguuuu bangeeettt ff ini..
    so, d.lnjutin yaa ff ini klw bisa dngan SEGERA eohh*smbilkedipkedipmata(?)

    .FIGHTING..
    .skali lg FIGHTING^^

  9. mank agak berbelit belit s saeng hhehhe
    tapi,mnurut q selama t nyambung2 aj adegan per adeganny g masalah kq

    sebel deh ma hyemi
    apa mksd coba dlu dy yg nyuekin hae mlu skarang malah ngejar2
    illfeel bgt
    apalgi pas hae ninggalin je d rumah sakit kyyaaaaaa pngn ngejambak abang ikan ma hyemi x

    endingny manis deh part ini^^

  10. panjaaang yaah..
    tp bagus ceritanya, jaekyung ud malai bisa nerima, donghae, jgn jahat dong, masa istrinya dilupain..
    aahahahaa..
    lupa ngenalini diri..
    holla, nova disini, new reader..
    salam kenal..😀

  11. Aaaaaaaah,,,,makin so sweet ajah ni couple!!aduh,,,donghae’y jangan di buat plin plan dong kasian sama jaekyung dan anak’y!!!semoga oppa ikan itu cepat sadar sama perasaan’y yg sebenar’y,,,amien *apa deh! Semangat yah lanjutin ff’y *kecup author ^^

  12. Hey.. kau tuan lee.. knp kau sperti itu?? kau tidak blh melupakan istrimu yg hamil tua?? hye cerita ga np dia nikah sama mantan pacar..??
    ditunggu part selanjutnya.

  13. aduhhh,,,,deg2 an amat,,,sebel ma Ikan Mokpo nhe,,bner2,,,lpa ma istri,,,jdi ikutan sebel jga,,,kyak Jaekyung,,,ukkhhhh,,,tpi knp cpt luluh jga si Jae y,,,pgen y Hae Oppa itu bner2 mysali y,,,huhhh….

    tapi ttep kren,,,,kpan d lanjut lgi…mian bru komen dsni coz bru ktmuin nhe ff….ngebut krng lbih 5 hari,,,dri part 6,,,d sela2 sibuk krja nyempetin bca nhe ff,,,ukhhhh,,,cpet d end in biar gk pnsaran truz2 an,,,,,,

    Fighting😉

  14. uhuuuuu tamat jug abaca part 11 nya ..
    itu si hye mi bener2 gak tau malu yah
    si donghae lagi kenapa msh aja suka ama si hyemi , kasian kan istrinya , udah mah lagi hamil
    ditunggu part selanjutnya , kalo bisa nnti akhirnya happy ending yah ^^

  15. 2 bulan yg mnis untuk sbuah khdpan suami istri .. tp sblum dtangnya monster pengganggu..

    bisa”ny si dong” lupa sama istrinya.. hah..
    wow mereka ciuman.. ahhhh sweet dah

  16. hyemi bener bener pengganggu ya
    apa donghae dan jaekyung dan mulai terbuka perasaannya
    klo jadi jaekyung pasti kesel banget lah ditinggal seharian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s