Surprised [ONESHOOT]

VYEJUNGMIN.

Special Birthday Lee Donghae.
Dan ini hanya sebuah Oneshoot yang sangat pendek. NO EDIT, GARING KRIUK KRIUK.

***

Donghae menghembuskan napasnya pelan, kepalanya menunduk. Lelah dengan sehari ini. Bagaimana tidak lelah seharian ini ia mencari Jaekyung yang entah pergi kemana. Ia sudah mencarinya ketempat-tempat kesukaan Jaekyung, tapi tempat-tempat itu nihil, tidak ada Jaekyung.

Tangannya meremas pelan rambutnya. Ia sudah benar-benar frustasi kemana lagi ia mencari Jaekyung. ia sendiri sudah menanyakan kemana perginya Jaekyung pada Ibu Jaekyung, tapi hanya dibalas dengan gelengan kepalanya yang membuat Donghae semakin frustasi.

Kalian boleh menganggapnya gila atau apa masih mencari seorang gadis yang sudah berusia duapuluh satu tahun dan warga korea asli. Jaekyung mendapatkan kecelakaan satu bulan yang lalu membuatnya, koma selama dua minggu, kemudian saat Jaekyung sadar Jaekyung mendapatkan amnesia ringan, hanya beberapa yang di lupakan Jaekyung dan masih ada beberapa luka di tubuhnya, dan baru pulih dua minggu yang lalu.

Donghae benar-benar cemas, takut kalau Jaekyung tertabrak oleh mobil lagi yang banyak di jalan raya. Donghae menggeram mengingat bahwa Jaekyung jenis orang yang sangat ceroboh saat di jalan raya, dan Donghae yakin pasti Jaekyung sendirian dijalan-jalan sana.

Hari sudah mulai gelap, sekarang ia sedang duduk di taman kota yang masih saja banyak orang yang sedang duduk di kursi taman. Dengan segera ia beranjak dari duduknya, lebih baik ia kembali kerumah sakit siapa tahu saja Jaekyung ada di kamarnya dan ia bisa memarahi Jaekyung habis-habisan.

***

Dengan perlahan Donghae menyentuh knop pintu kamar inap Jaekyung, setelah terbuka lebar Donghae mendesah kecewa bahwa Jaekyung tidak ada didalam kamarnya. Biasanya kalau dirinya masuk kedalam kamar Jaekyung, selalu saja Jaekyung menyambutnya dengan senyuman.

Kasur yang biasa di tiduri oleh Jaekyung kini terlihat sangat rapih dan terasa dingin saat tangannya menyentuh kasur tersebut. Jadi, Jaekyung seharian ini tak ada didalam kamarnya.

Tidak mungkinkan Jaekyung pulang kerumahnya? Baju-bajunya dan beberapa barang milik Jaekyung saja masih ada disini, jadi itu tidak mungkin sekali. Dan kalaupun Jaekyung pulang kenapa ibunya tak menelponnya untuk menjemput Jaekyung. malah ibunya sendiri kemana perginya Jaekyung.

Donghae duduk di tempatnya saat ia menunggu Jaekyung bangun dari komanya. Dirinya benar-benar tak bisa di tinggal mendadak oleh Jaekyung. saat Jaekyung koma saja membuatnya frustasi, apalagi Jaekyung yang pergi dengan tiba-tiba, pasti akan membuat hatinya sakit sekali. Oh, tidak, bukan hanya hatinya, batinnya juga.

Wajahnya ia benamkan kedalam telapak tangannya, kalau saja kemarin ia menolak ucapan Jaekyung, pasti tidak akan mengalami hal seperti ini. Tentu saja, Jaekyung kemarin malam menyuruhnya untuk pulang dan tidur didalam kamarnya. Karena Donghae tak bisa menolak ucapan Jaekyung, jadi Donghae menurut saja. Dan hasil dari semua ini, Donghae kehilangan Jaekyung.

Mata Donghae tak sengaja melihar ponsel Jaekyung yang ada di atas meja, dan pantas saja saat di hubungi tak ada yang mengangkatnya ternyata ponselnya tak dibawa oleh Jaekyung. sekali lagi Donghae berkata dalam hati bahwa Han Jaekyung benar-benar sangat ceroboh.

Merasakan ponselnya bergetar didalam saku celananya dengan cepat Donghae mengambilnya, lalu melihat siapa yang menghubungi sebelum ia angakat dan telpon tersebut Hyuk Jae. Dengan cepat ia menyentuh ponselnya untuk menjawab panggilan tersebut.

“Bagaimana?” tanya Donghae singat.

“Aku tak menemukannya dimanapu. Aku sudah berkeliling seoul selama seharian, dan hasilnya nihil.”

“Kau harus tetap mencarinya, Lee Hyuk Jae. Sampai dapat.”

“Hei, jangan seenaknya saj—” Donghae langsung memutuskan sambungan telpon tersebut. Dan kembali menyimpan ponselnya kembali kedalam sakunya.

Kini ia beralih keponsel Jaekyung yang tak boleh di sentuhnya. Tsk! Ini kesempatan untuk melihat semua isi ponsel Jaekyung yang mencurigakan ini. Siapa tahu saja Jaekyung menyimpan foto laki-laki selain dirinya, kan?

***

Hyuk Jae terkekeh pelan saat sambungan telpon itu terputus. Pandangannya ia alihkan kearah Jaekyung yang masih setia meminum teh yang baru saja datang. “jadi bagaimana apa kita pulang saja?” tanya Hyuk Jae sambil meminum kopi yang ada di hadapannya.

“Ini kan masih jam enam sore, dan belum jam dua belas malam.” Jawab Jaekyung sambil memandang pandangan yang ada di luar kaca jendela kafe tersebut.

Jaekyung sudah satu bulan ini tidak melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini. Yah, walaupun sudah jam enam sore tetap saja indah karena cahaya lampu yang ada di mana-mana.

Wajahnya merengut masam mengingat ia menjadi seperti ini. Kalau saja ia melihat lampu lalu lintas, sangat di pastikan bahwa dirinya tak akan mendapatkan hal seperti ini. Kecelakan itu membuatnya koma dan oh, tidak usah di ceritakan, pikirnya dalam hati.

“Sepertinya Donghae mencemaskanmu.” Ucap tiba-tiba Hyuk Jae yang membuyarkan lamunan Jaekyung.

“Ngh—biarkan saja.” Jawab Jaekyung acuh.

“Tapi aku kasihan padanya. Dia mencemaskanmu saat ia menerima kabar dari kedua orang tuamu saat kau kecelakaan waktu itu, dan saat itu Donghae yang sedang ada di jepang benar-benar sangat terguncang. Kau tahu, saat itu perusahaannya yang ada di jepang hampir di ambang jalan, dengan memikirkanmu yang entah bagaimana, akhirnya Donghae tetap bisa mempertahankannya. Dan saat itu Donghae langsung mengajak langsung pulang kekorea.”

Jaekyung hanya memandang Hyuk Jae dengan tatapn kosongnya. Selama ia terkena koma banyak sekali di repotkannya, seperti kekasihnya dan masih banyak lagi, “jangan berpikiran kalau kau merepotkan. Semua orang menyayangimu dan itu memang kewajiban Donghae sebagai kekasihmu. Jangan sedih lagi.”

Jaekyung menganggukan kepalanya pelan, “gomawo.”

***

Donghae menggeram kesal setelah melihat koleksi foto yang ada didalam ponselnya. Tentu saja bagaimana tidak menggeram kesal, Jaekyung sama sekali tak menyimpan fotonya satu pun. Dan Jaekyung malah mengoleksi foto-foto yang entah tak Donghae ketahui.

Donghae menyeritkan keningnya saat ia melihat layar ponsel Jaekyung yang menampilan gambar seorang pria tinggi dengan kepala botak, tidak mempunyai hidung, kepala botak, lidahnya di keluarkan, wajahnya menyeramkan mata melotot dan tangan memegang sebuah tongkat yang memancarkan cahaya hijau. Jadi, dalam hati Donghae berkata ada yang istimewa dari foto yang baru saja di sebutkan olehnya?

Yang ada didalam otak Donghae sekarang ini adalah; aneh. Tidak diragukan lagi sih sebenarnya. Jaekyung memang benar-benar aneh.

Donghae kembali mengutak-akit ponsel Jaekyung. selalu mencibir ketika pria Westren yang muncul. Seleranya benar-benar membuat Donghae menggeram kesal. Ah, Donghae lupa kalau kekasihnya sangat menyukai film-film fantasi.

“Aku benci ponselnya.” Ucap Donghae sambil mengahapus semua gambar yang ada didalam ponsel Jaekyung. biar saja ia terkena semprot Jaekyung. yang terpenting dirinya merasa puas karena berhasil mengetahu isi ponsel tersebut dan menghapusnya.

***

“Kita pulang saja, ini sudah hampir jam sebelas malam. Dan malam ini sudah terlalu sangat dingin.” Hyuk Jae merapatkan syal yang melingkar di lehernya.

“Sebenarnya aku belum puas,” jawab Jaekyung sambil menegadahkan kepalanya keatas.

“Tapi ini tidak baik untuk kesehatamu yang belum pulih benar.”

“Aku sudah pulih benar, kok. Kau saja yang berlebihan.” Jaekyung melengoskan wajahnya, ia berjalan dengan sangat tergesa yang membuat Hyuk Jae berlari-lari keci.

“Aku hanya saja tak ingin menjadi pelampiasan Donghaemu itu.”

“Kalau begitu kita beli kue ulang tahun dulu.”

“Baiklah kalau begitu.”

***

Jaekyung membuka pintu kamar inapnya, lampunya menyala dan Jaekyung yakini kalau Donghae ada didalam sana. Dan benar saja, Donghae sedang tertidur di atas kasurnya. Wajahnya terlihat ketakutan, dan Jaekyung merasa bersalah atas semuanya.

“Maafkan aku.” Bisiknya pada diri sendiri.

“Kau tahu, Donghae akan terlihat menyeramkan ketika ia sedang marah.” Ucap Hyuk Jae menakut-nakuti Jaekyung yang memang sedang berpikir kalau Donghae akan terlihat murka.

“Bantu aku mencari alasannya nanti.”

“Aku tidak bisa menjamin semuany, kau tahu itu.” Jaekyung menggeram kesal. Hyuk Jae sekarang benar-benar menyebalkan.

“Kalau tak salah ingat, Eomma akan sampai kesini sebelum kita sampai. Apa kau melihat Eomma?” tanya Jaekyung pelan pada Hyuk Jae yang menggelangkan kepalanya.

“Aku tidak melihatnya, hanya ada Donghae yang tertisur disini.” Kepala Hyuk Jae mengendikan kearah Donghae yang tertidur.

“Mungkin mereka semua tertidur.”

Jaekyung mendekat kearah Donghae. kuenya ia taruh di atas meja keci di samping kasurnya. Jaekyung membungkan tubuhnya untuk membisikan Donghae agar tebangun dari tidurnya.

Setelah tiga kali Jaekyung membisikan nama Donghae di dekat telinganya, akhitnya Donghae sekarang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Bibir Jaekyung mengulas sebuah senyuman saat Donghae memandang wajahnya dengan wajah polos Donghae.

Jaekyung mendongak melihat jam yang tergantung di dinding, dan tepat sudah jam dua belas malam, Jaekyung dengan cepat menundukan kepalanya, lalu mengecup pelan bibir Donghae.

“Saengil Chukkahamnida, Sayang!” Ucapnya, dan lagi mengecup bibir Donghae.

“Dari mana saja?” bukannya mengucapkan terima kasih, Donghae malah memberikan pertanyaan pada Jaekyung yang sekarang menatapnya dengan gugup.

“Maaf,” hanya itu yang keluar dari mulut Jaekyung. ia benar-benar tak tahu apa yang harus di katannya.

“Maaf? Hanya itu? Kau tahu, aku mencarimu ketempat kesukaanmu seharian ini. Menelponmu setiap detik dan kenyatannya bahwa kau meninggalkan ponselmu diatas meja itu.” Jaekyung semakin menundukan kepalanya mendengar penuturan dingin Donghae. dengan sangat sadar dirinya memang sangat salah.

“Kau sedang dalam pemulihan, masih tidak di perbolehkan keluar rumah sakit, dan kau melanggarnya begitu saj—Hyuk Jae, apa yang kau lakukan di sana?” Donghae baru menyadari kehadiran penghuni lainnya selain dirinya dan Jaekyung didalam kamar rumah sakit ini.

“Oh, Hai, Lee Donghae-san.” Ucap kikuk Hyuk Jae. Matanya ia alihkan kearah jendela kamar saat mendapatkan pandanga menusuk dari Donghae.

“Jadi, kau berbohong Hyuk Jae?”

“Err—yah, sepenuhnya.” Ucapnya jujur.

“Apa? Sepenuhnya? Jadi, kau yang membawa Jaekyung pergi?” berang Donghae, matanya melotot, membuat Hyuk Jae semakin gugup.

“Jangan salahkan sepenuhnya pada Hyuk Jae Oppa! Ini semuanya salahku!”

“Tapi—”

“Dengarkan aku! Ini semua rencana yang aku buat. Aku sengaja menghilang dari rumah sakit ini selama seharian ini hanya untuk mencari hadiah untukmu dan memberikan kejutan untukmu, sudah itu saja. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang? Kau malah marah-marah seperti ini.” Jaekyung merengut kesal pada Donghae, tangannya melepaskan tangan Donghae yang ada di pinggangnya.

“Kenapa tak menghubungiku atau memberitahuku?”

Jaekyung menggeram dan dengan reflek menoyor kepala Donghae, “bodoh, kalaupun aku memberitahumu ini bukan kejutan namanya. Sudahlah lupakan!”

“Jadi apa hadiahku? Dan aku baru ingat ternyata hari ini aku memang ulang tahun.” Jaekyung hanya bisa memutar bola matanya bosan melihat Donghae yang tersenyum polos itu.

“Aku tidak mendapatkannya. Kau tahu aku terlalu buruk untuk mencari benda-benda yang sangat berharga atau apapun itu.” Donghae mendesah kecewa mendengar penuturan Jaekyung yang begitu luga itu. Mata Donghae beralih kearah Hyuk Jae yang sibuk memainkan ponselnya, yang Donghae yakini kalau Hyuk Jae itu hanya pura-pura semata.

“Hyuk, sana pulang. Kami ingin berduaan saja.” Ucap Donghae yang membuat Jaekyung kembali menoyor kepala Donghae.

“Apa yang kau katakan?”

“Baiklan, aku juga tidak enak mengganggu orang yang sedang berpacaran. Lee Donghae selamat ulang tahun. Aku menunggu traktiran makannya.” Hyuk Jae keluar dari kamar Jaekyung dengan senyuman yang adi di wajahnya. Donghae yang melihat itu hanya merengut.

“Sudahlah, Hyuk Jae Oppa sudah baik mau menemaniku seharian ini.” Ucapnya sambil duduk di ata kasurnya. “Ayo, tiup lilinnya.” Jaekyung mengambil kue yang ada di atas mejanya, lalu menyalakan lilin tersebut.

Donghae memejamkan matanya, meminta Do’a di hari spesialnya dengan orang yang sangat spesial di hatinya, setelah itu Donghae meniup kedua lilinnya.

“Saengil Chukkahamnida, Lee Donghae.”

“Yah, Saengil Chukkahamnida untukku sendiri dan terima kasih atas kejutannya.”

***END***

KKK~ ini beneran aneh. Yakin yakin. Aku juga bingung yakin. Aaaaaaaaaa~~~~ pusing.

SAENGIL CHUKKAHAMNIDA, LEE DONGHAE.
BY,
YOUR WIFE.

SILVI DIAH SEPTIYANI, INDRAMAYU, 15 OCTOBER 2013, 10:18 pm at MY LOVELY BEDROOM.

2 thoughts on “Surprised [ONESHOOT]

  1. kkkk konyol abis si Jaekyung wkekwk…
    iya sih rada aneh.. but gapapa deh yg penting berhasil ngerjain Donghae hahaha😄
    Hei, hyuk! cepat pergi kau diusir whahahahaha😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s