TWOSHOT : “THE BADMAN” 1/2

Author             : Zhang Putri

Title                 : THE BADMAN

Genre              : Romance, sad, angst

Rated              : Teen

Main Cast        : Lee Donghae, Han Jaekyung (OC), Moon Jong Up

Disclaimer       : FF ini saya buat untuk mbak Silvi. Yah… berhubung si nemo belang a.k.a Donghae baru saja ultah, bisalah ini sebagai kado ultahnya juga. Jika ada kesalahan dalam FF ini, maafin ya?

Music              : B.A.P_BADMAN

LINK: http://zhangkyukyumemories.wordpress.com/2013/10/21/twoshot-the-badman-12/

 

^_^Happy Reading^_^

Jika matahari adalah sebuah kebahagiaan

Dan hujan adalah sebuah cobaan

Maka kita membutuhkan keduanya untuk menciptakan pelangi yang berwarna

Gadis bermata coklat ini mendongak ke atas langit. Menatap setiap tetesan hujan yang serentak turun ke atas permukaan bumi. Memberikan kesan basah pada tanah yang ditapakinya. Air mata gadis ini luruh seiring hujan yang turun semakin deras. Seolah hujan itu turut bersimpati pada kisah hati gadis ini.

Menggelikan!

Han Jaekyung, gadis berusia tujuh belas tahun itu kini duduk di bangkunya. Menatap ke arah luar jendela yang tepat berada di sebelahnya. Benar, gadis ini belum ingin meninggalkan bangkunya sekalipun bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Gadis ini tampak kacau. Tatanan rambutnya yang dikepang renggang tampak telah berubah. Jika dilihat sekilas mirip dengan rambut anak singa yang baru terbangun dari tidurnya. Tampak mengerikan dengan perpaduan wajah kusam milik Jaekyung yang berlumuran dengan air mata.

Lagi. Hari ini hati Jaekyung terluka lagi. Pria yang dicintainya masih sedingin biasanya. Terkesah acuh atas segala perhatian yang dicurahkan Jaekyung untuknya. Siapa sangka jika seorang Han Jaekyung, gadis populer dengan akreditas sarkasme tertinggi bisa sakit hati hanya karena jatuh cinta pada seorang pria. Pria yang dengan kepribadian yang mampu membuat Jaekyung terpesona. Siapa dia? Hanya seorang Lee Donghae. Salah satu kakak kelasnya yang sangat terkenal di kalangan para wanita.

Jaekyung kembali mengusap kasar air matanya. Merapikan kembali tatanan rambutnya yang tak berbentuk rupa. Dia menghembuskan nafas berat beberapa kali. Tangannya yang bergerak cepat memasukkan buku-bukanya yang masih berserakan di atas meja. Tampak sebuah buku bersampul warna biru di sudut dinding kelas. Dia baru ingat jika buku itu dilemparkannya tanpa sadar. Dengan langkah terseok Jaekyung berjalan menuju dimana letak buku itu berada. Kemudian berjongkok untuk mengambilnya.

“Sial! Apa yang harus kulakukan dengan buku ini? Terlalu banyak deskripsi tentang dia, terlalu banyak imajinasi yang kutorehkan di buku ini.” Jaekyung kembali mengacak-acak rambutnya. Kali ini tak lagi mirip dengan rambut anak singa, tapi seperti rambut induk singa yang sudah tersembur api dari mulut naga.

“Kalau kau mencintainya, kejar dia Jaekyung-ah… jangan menyerah!”  Jaekyung ingat kalimat ini. Eomma-nya selalu memberi semangat padanya. Sering kali Jaekyung merasa putus asa, ingin mengundurkan diri untuk tidak mencintainya lagi. Tapi sekali lagi kalimat Eommanya memberinya semangat yang tak terhingga untuk Jaekyung. “Dia adalah cinta pertamamu. Jangan biarkan cinta pertamamu hanya berkesan pada cinta tak tersampaikan dan hati yang terlukai.”

“Semangat Han Jaekyung. Tetap jadi dirimu sendiri!” Jaekyung tersenyum antusias. Dewi batinnya melonjak optimis. Diapun beranjak meninggalkan kelasnya. Merapatkan kembali jas hujannya dan mulai mengayuh sepeda kesayangannya.

***

 

@Gwanghee High School, Korea Selatan

“Apa ini?!?” Tanyanya sarkatis.

“Hanya bekal,” Ujar Jaekyung gugup. Menatap jari-jarinya yang saling bertautan. Tak pernah Jaekyung menyadari jika harga dirinya selalu jatuh jika di depan pria ini.

“Shirreo!”

“Ne?”

“Nona Han, aku sedang tak ingin membuang tenagaku untuk memarahimu. Jadi bisakah kau tidak menggangguku?” Donghae berujar dengan nada lembut yang dibuat-buat. Jaekyung menyadari itu, tapi bukan Jaekyung namanya jika dia berhenti sampai di situ saja.

“Makan sesuap bukan hal yang buruk kan?” Kembali Jaekyung menyodorkan kotak bekalnya. Berharap Donghae mau menerimanya.

“Donghae-ya, kasihan gadis itu. Terima saja, lalu buang jika kau tak menyukai makanannya.” Mata Jaekyung melirik sadis ke arah namja berambut kuning yang berdiri tak jauh darinya. Ingin sekali Jaekyung berlari menghampiri monyet berambut kuning itu dan menjitak kepanya hingga benjol, tapi ia urungkan niatnya ketika Donghae meraih kotak bekal miliknya. Mata Jaekyung berbinar riang. Donghae menerima bekal pemberiannya.

“Melihatnya saya aku sudah mual. Lain kali kau tak perlu menyediakan makanan aneh ini lagi untukku.” Donghae melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat itu. Lagi. Jaekyung kembali tersakiti. Baru saja hatinya berbunga ketika Donghae meraih bekal pemberiannya. Tapi dengan cepat pula hatinya layu ketika Donghae pergi meninggalkannya, bahkan tak mencicipi makanan yang iabuat dengan tangannya sendiri.

“Han Jaekyung, kenapa kau harus mencintai pria itu?”  gumam Jaekyung pada dirinya sendiri.

Jaekyung meraih kotak bekal yang masih lengkap dengan isinya itu. Kini matanya telah berembun. Pasti sebentar lagi akan turun hujan dari kelopak matanya.

Jaekyung beranjak menuju tempat sampah, berniat membuang bekalnya itu. Tapi belum sempat bekal itu terjatuh di tempat sampah, dengan sigap seorang namja meraih bekal itu. Jaekyung hanya mengerjap-erjapkan matanya bingung.

“Ehmm… mashita…,” ujar pria itu tak jelas. Mulutnya tampak penuh dengan makanan.

“Heyy, itu bekalku!” bentak Jaekyung tak terima.

“Kau sudah membuangnya ke tempat sampah. Kenapa kau marah jika aku memakannya?” pria itu berujar santai sambil terus melahap makanan yang kini berada di tangannya.

“Tetap saja itu… itu… aishh, terserah padamu.” Jaekyung hendak berbalik pergi. Tapi lagkahnya terhenti saat seseorang menahan pergelangan tangannya. Secara tak langsung mengharuskannya untuk kembali membalikkan badannya.

“Mwoya?” pekik Jaekyung.

“Bisakah kau membuatkanku makanan seperti ini lagi?” mulut Jaekyung mengaga lebar. Apa telinganya tak salah dengar? Apa namja ini gila? Bahkan Jaekyung sama sekali tidak mengenal siapa namja yag kini berada di hadapannya itu.

“Dari pada kau membuatkan bekal untuk orang yang sama sekali tak menganggapmu, lebih baik kau membuatkannya untukku, Han Jaekyung-shi.” Sekali lagi Jaekyung tecengang. Dia tak habis pikir dengan pria ini? Dan pria ini menyebut namanya. Dia mengenal siapa Han Jaekyung.

Jaekyung tersadar jika sedari tadi tanggannya masih dalam genggaman pria itu. Dengan sigap Jaekyung menghempaskan tangannya, melepaskannya dari cengekaraman pria itu.

“Kenapa aku harus membuatkannya untukmu? Aku tidak mengenalmu,” Tantang Jaekyung dengan nada lumayan tinggi.

Pria itu menyeringai. “Jong Up, Moon Jong Up. Seorang pria yang menyukai Han Jaekyung.” Ujarnya dengan bangga tanpa keraguan di dalamnya.

Jaekyung Shock. Terlihat jelas di raut wajahnya jika saat ini dia tengah terkejut. Bagaimana bisa pria di depannya ini menyukainya?  Seluruh sekolah ini tahu, jika Jaekyung hanya menyukai Lee Donghae, tidak, mencintai lebih tepatnya. Karena itulah, tak banyak orang yang berani mendekatinya. Karena pasti dengan sadis Jaekyung akan menolaknya.

Jaekyung masih ingat betul pria terakhir yang berani bermain-main dengan kalimat cinta yang ditujukan padanya. Dia tahu jika pria itu hanya main-main dengannya, mencoba mengalihkan perhatian Jaekyung pada Donghae yang notabennya adalah saingan terberat pria itu. Tapi pria itu kalah telak setelah Jaekyung menendang kakinya keras. Alhasil dia berakhir di rumah sakit karena mengalami patah tulang. Suruh siapa mendekati Han Jaekyung. Gadis ini tak akan main-main jika dia tengah jatuh cinta. Apalagi ini adalah pertama kalinya.

“Bagaimana Nona Han, kau mau membuatkan bekal untukku. Calon priamu,” goda pria itu sembari berjalan mendekat ke arah Jaekyung.

Jaekyung menyeringai. “Micheo!” Dengan anggun Jaekyung melenggang pergi. Menghembuskan napas frustasi. Kenapa pria yang berkeliaran dalam hidupnya tak ada satupun yang benar? Mungkin dia harus sering memeriksakan dirinya ke rumah sakit jiwa. Dia tak ingin tertular penyakit gila.

Tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Jaekyung menolehkan kepalanya ke belakang. Dia mendapati Jong Up masih bediri di samping tempat sampah sembari melambaikan tangan dengan senyumnya yang manis. Ya, dia tampak manis. Jaekyung terdiam, pasalnya dia baru sadar, jika Jong Up telah mengalihkan perasaannya. Meskipun hanya sesaat. Seharusnya saat ini dia tengah menangisi Lee Donghae seperti hari-hari biasanya. Tapi dia…

“Bekalmu enak. Berikan padaku jika pria itu tak mau menerimanya.” Jong Up berteriak kencang. Berharap suaranya mampu menjangkau pendengaran Jaekyung. Sedangkan Jaekyung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesuatu telah terjadi sepertinya.

***

            Han Jaekyung kembali mengeratkan mantel tebalnya. Dinginnya hujan masih sangat terasa sekalipun hujan telah berhenti beberapa waktu lalu. Sesekali Jaekyung meniup tangannya lembut. Berharap kehangatan mengahampirinya. Dengan jengah Jaekyung menatap beberapa pasangan muda-mudi yang bertebaran di pinggir kota. Iri, mungkin saja itu yang ia rasakan. Tapi sesungguhnya dewi batinnya bergidik geli melihat beberapa pasangan itu berbuat hal-hal yang tampak menjijikkan di mata Jaekyung.

“Mereka benar-benar tak tahu malu.” Decak Jaekyung sembari memutar kembali matanya dengan jengah sekali lagi. Tapi tiba-tiba matanya terarah pada suatu titik pusat. Lee Donghae, dia melihatnya.

Sebenarnya tidak aneh jika Jaekyung berpapasan dengan Lee Donghae. Tapi yang jadi permasalahan adalah Donghae berjalan menuju suatu tempat. Tempat yang mengadung hal-hal yang bersifat sara di dalamnya. Sebuah bar yang terkenal dengan wanita-wanita tak terhormat di dalamnya.

“Apa yang dia lakukan di sini?” Dengan langkah cepat Jaekyung menguntit di belakang Donghae. Berjalan layaknya seorang agen yang tengah memata-matai targetnya.

Jaekyung berhenti tepat di depan pintu masuk bar. Sedikit sangsi untuk melangkah masuk ke dalam bar itu. Tapi dia melangkah masuk dengan cepat ketika ekor matanya menemukan Donghae tengah digerayangi wanita-wanita dengan pakaian yang amat minim. Mungkin baju yang para wanita itu kenakan adalah pakaian anak-anak balita. Jaekyung sedikit bergidik jika harus membayangkan dirinya memakai pakaian seperti itu.

Jaekyung tersenyum penuh kemenangan. Dengan angkuh Donghae melepaskan diri dari para wanita penggoda itu. Hingga Donghae memutuskan untuk menuju tempat yang lebih dalam di bar ini. Jaekyung berjalan pelan, masih berperan layaknya seorang mata-mata. Jaekyung mengabaikan tatapan mata yang sesungguhnya ditujukan padanya. Matanya tetap terarah pada Donghae yang belum menyadari keberadaannya. Jaekyung terperanjat kaget saat seseorang dengan lancangnya merangkul bahunya.

“Jauhkan tanganmu dariku!” Jaekyung berjalan mundur. Ketakutan mulai menghapirinya. Tapi sepertinya orang itu tak kunjung jera. Dia kembali berjalan ke arah Jaekyung. Menyentuh dagu Jaekyung dan sedetik itu pula Jaekung menampik tangan pria baruh baya dengan dandanan ala preman yang menjijikkan.

“Ayolah gadis manis. Kau bisa bersenang-senang denganku. Itu kan alasanmu datang kemari?”

“Brengsek! Aku bukan gadis menjijikkan seperti yang kau bayangkan pak tua. Enyah dariku sekarang juga!” Gertakan Jaekyung sepertinya tak diindahkannya.

“Kau sombong sekali!” Pak tua itu berjalan mendekati Jaekyung. Jaekyung mulai panik, bagaimana dia bisa kabur dari sini?

“Dengan senang hati aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuh sehelai rambutya.” Suara bash itu mengalihkan perhatian Jaekyung. Sial! Donghae mengetahui jika dia berada di sini! Dan Jaekyung sadar jika rahang Donghae mengeras, tatapan matanya tampak indah dengan bara api emosinya. Jaekyung tak pernah melihat kilatan marah itu dari seorang Lee Donghae.

“Oh, dia kekasihmu. Kau memilih barang yang tepat anak muda. Gadis ini sangat cantik!” Dengan gerakan kecil pak tua itu bergerak menjauh dari Jaekyung, digantikan dengan Donghae berjalan mendekati Jaekyung.

“Hilangkan fantasi senonohmu itu pak tua! Dia bukan barang seperti khayalanmu yang sudah beruban itu! Pergi sekarang atau aku akan mengantarkanmu pergi ke neraka!” Ancaman Donghae tampak nyata. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Pria tua itu pergi menjauh. Jaekyung mungkin sudah keluar dari terkaman mulut buaya, tapi sesungguhnya kini di berada di kandang singa.

“A… aku__” belum sempat Jaekyung menyelesaikan ucapannya, Donghae sudah menarik tangannya keluar dari bar. Menyeretnya ke sebuah gang sepi yang tak jauh dari bar itu. Jaekyung merintih, Donghae terlalu erat mencengkeram tangannya.

BRAKK

 

“Auuu…” Jaekyung mengaduh pelan saat tulang punggungnya mengantam dinding di belakangnya.

“Kau pikir ini lelucon Nona Han?” Geram Donghae marah. Jaekyung diam, dia terlampau takut untuk menyadari perubahan ekspresi Donghae yang tak seperti biasanya. Wajahnya yang manis dan terlalu manis kini berubah sangar dan menakutkan. “APA YANG KAU LAKUKAN DI TEMPAT INI HAH?!? Gertak Donghae seraya mencengkeram bahu Jaekyung keras.

“Aku tak sengaja berpapasan denganmu tadi.”

“Dan kau memutuskan untuk mengikutiku?” Mata Donghae kembali menghujam tajam ke arah Jaekyung. Bibir Jaekyung tampak bergetar hebat. Dia ketakutan. Bukan ini! Bukan Donghae yang seperti ini yang ia kenal. Lalu siapa orang ini jika dia bukan Donghae? Pikiran Jaekyung tampak kacau sekarang.

“Kupikir aku ingin tahu apa yang kau lakukan di bar itu.” Dengan segenap keberanian yang tersisa Jaekyung berusaha membela dirinya.

“Dan apa kau sudah menemukan jawaban atas keinginanmu itu?”

“Belum, aku__” Jaekyung tersentak kaget. Dunianya seolah berhenti di titik itu. Lee Donghae, dia mencium Han Jaekyung.

Mata Jaekyung masih terbelalak lebar. Otaknya membeku seperti batu, tak mampu memikirkan sesuatu. Dia tak mampu lagi bernapas dengan normal. Seolah oksigen di sekelilingnya tak cukup untuk proses respirasinya. Jaekyung mulai tersadar saat dirasa perih di bibirnya. Benar, mulut Donghae masih bergerak liar di bibirnya. Menggigit kecil bibirnya.

Entah sejak kapan air mata Jaekyung telah membasahi pipinya. Ia sadar ciuman ini bukan atas dasar cinta. Donghae terus mendesaknya. Menciumi setiap inci mulutnya tanpa ampun. Bukan ini yang Jaekyung inginkan. Sekali lagi bukan ini! Cinta untuk Donghae terlalu suci jika hanya untuk hal seperti ini. Air mata Jaekyung mengalir dengan derasnya. Isakannya tertahan di mulut Donghae.

Donghae sadar akan perbuatannya setelah dirasanya sesuatu yang asin dalam ciuman mereka. Jaekyung menangis. Dengan cepat Donghae melepas pertautan bibir mereka. Mengambil udara untuk mengisi paru-parunya yang mulai terasa sesak tanpa oksigen. Donghae tampak terdiam di tempatnya. Dia merasa bersalah atau apa, entahlah! Ekspresinya terlalu sulit untuk dibaca.

“Ini aku! Dan yang baru saja kulakukan padamu itu adalah salah hal yang akan kulakukan di bar itu. Menjauh dariku!” Donghae hendak berjalan meninggalkan Jaekyung. Tapi Donghae sadar jika Jaekyung menahannya untuk tetap tinggal. Melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang Donghae, memeluknya dari belakang.

“Aku tidak peduli! Seterluka apapun aku, aku akan tetap di sini. Aku mencintaimu.”

Kesenyapan menghampiri mereka. Dan untuk beberapa saat mereka tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Tapi aku tidak mencintaimu,” tukas Donghae dalam satu kali hembusan napas. Dengan perlahan Donghae menyadari jika pelukan Jaekyung mulai merenggang. “Jangan berharap padaku!”

Donghae melangkah cepat meninggalkan Jaekyung yang kini tak mampu lagi menopang tubuhnya. Dia tersungkur di atas tanah yang sejujurnya masih basah akibat hujan yang beberapa saat lalu mengguyur kota Seoul. Tangannya tergerak menyentuh dadanya. Sakit. Ini terlalu sakit untuknya. Sejak awal Jaekyung hanya berpikir untuk mencintainya saja, tanpa mempersiapkan hatinya yang bisa terluka kapan saja.

“Haruskan aku menyerah sekarang? Melepaskan pusat alam semestaku?”

***

 

Terkadang kita terlalu menuntut akan kasih sayang

Kasih sayang itu bukan sesuatu yang harus diucapkan

Tapi kasih sayang itu tergantung bagaimana cara kita menyampaikan.

 

@Gwanghee High School, Korea Selatan

 

Kakinya terayun kaku menyusuri koridor sekolah ini. Berjalan pelan tanpa mengoreksi kondisi di sekitarnya. Mengabaikan suara-suara yang mengalunkan namanya, berjalan lurus menuju kelasnya yang tak jauh dari ruang Tata Usaha. Etahlah pikirannya rancu untuk sekadar mendiskripsikan sesuatu, yang ada hanyalah bayangan semu yang membuatku semakin terisak  pilu. Hari ini, entah untuk berapa kalinya Han Jaekyung merasakan sakit sekali lagi. Kesakitan cinta yang membuatnya berderai air mata.

Jaekyung memandangi sebuah kotak bekal berwana biru tepat berada di depannya. Di atas bangkunya. Dia merutuki dirinya sendiri, mengapa ia masih berpikir untuk membuatkan bekal untuk Donghae. Sedangkan dia tahu benar jika selamanya Donghae tak akan menyentuh bekal buatannya. Kejadian kemarin malam sangat dalam mengiris hatinya. sakit yang menyakitkan. Tapi sepertinya hatinya telah ia bekukan. Hatinya hanya akan mencair untuk Donghae. Karena itulah dia membuatkan bekal makanan ini. ingin menunjukkan pada Donghae, bahwa ia tetap sama. Han Jaekyung yang mencintai Lee Donghae.

Tapi air mata Jaekyung kembali luruh. Ingatan berputar kembali saat ia hendak memberikan bekal ini pada Donghae. Tapi, sayangnya Donghae lagi-lagi tak menyadari akan keberadaannya. Dia lebih sibuk mencumbu seorang gadis yang ia ketahui adik kelasnya di belakang sekolah. Dia menciumnya dengan ganas, sama seperti yang ia lakukan pada Jaekyung semalam.

“Kenapa jatuh cinta harus sesakit ini?” Jaekyung tampak mengadu pada angin yang berhembus.

“Karena kau tidak tahu apakah kau mencintai orang yang benar atau tidak.” Jaekyung menyeka kasar air matanya setelah ia sadar jika di kelas ini dia tak lagi sendiri. Jong Up, pria yang ia temui beberapa hari lalu berjalan mendekat ke arahnya.

“Kenapa kau ada di sini?” Tanya Jaekyung basa-basi.

“Untuk bertanya sesuatu.”

“Mwoga? Cepat katakan! Aku sedang tak ingin diganggu.”

“Mana yang akan kau pilih? Orang yang kau cintai atau orang yang mencintaimu?”

Jaekyung terpana atas pertanyaan Jong Up. Otaknya seolah tahu apa jawabannya. Dia ingin berucap tapi bibirnya tertutup rapat. Hati, pikiran dan otaknya sepertinya masih berdebat untuk mendiskusikan jawabannya. Kenapa pertanyaan sesederhana itu, Jaekyung harus merasa bingung? Dia sadar jika dia sesungguhnya tak tahu apa yang ia inginkan dari sebuah kata cinta.

“Satu berbanding sepuluh ribu orang di dunia ini yang menjadi kekasih atas dasar saling mencintai. Yang lain hanyalah mencintai atau dicintai saja. Di dunia ini, kau akan mudah menemukan cinta, tapi kau juga harus menemukan orang yang tepat untuk kau cintai. Agar kau bisa merasakan balasan atas cinta yang telah kauberi.” Jong Up berkata sembari mengusap-usap puncak kepala Jaekyung. Sedangkan Jaekyung hanya bisa terdiam. Perkataan Jong Up adalah benar. Dalam kisah cinta yang iatahu hanyalah Lee Donghae.

“Jadi kau masih berpikir untuk tetap mencintainya?” Jong Up kembali bertanya.

“Kenapa kau harus tahu semuanya? Aku, dia, dan cinta. Kau tau lebih baik daripada aku yang terlibat di dalamnya.”

“Hanya sekedar tahu,” jawabnya enteng.

Mereka bedua terdiam. Sunyi dan senyap adalah suasana yang tergambar di kelas ini. Jaekyung masih diam. Sepertinya ia tengah berpikir, memikirkan sesuatu yang mungkin akan memunculkan gagasan baru.

“Kenyang.” Jong Up mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.

“Yak, kau memakan bekalku.” Pekik Jaekyung keras. Jong Up menutup telinganya dengan kedua tangan karena dirasa suara Jaekyung mampu memecahkan gendang telinganya. Ya, sejak kesunyian tercipta di antara mereka, Jong Up dengan santainya memakan bekal yang ada dalam kotak berwana biru milik Jaekyung. Mengabaikan Jaekyung yang tengah merenung layaknya orang bertapa.

“Aku ingin meminta izin padamu untuk memakannya, tapi kau diam seperti pendeta wanita yang tengah bertapa untuk mendapatkan permata. Membatu dan tak mau diganggu. Jadi aku memakannya saja lebih dulu, baru meminta izinmu.” Jong Up mengedipkan sebelah matanya. Menggoda Jaekyung dengan seringaiannya.

Jaekyung mendengus. “Sejak kapan seorang pendeta bertapa untuk mendapatkan permata?” Jaekyung mulai tergoda untuk beradu mulut dengan Jong Up.

“Sejak aku memakan bekalmu.” Jong Up menjulurkan lidahnya. Untuk kesekian kalinya, Jong Up berhasil mengalihkan pikirannya. Jaekyung tersenyum pada akhirnya. Dan entah sampai kapan dia bisa mempertahankan senyumnya.

Jika Jaekyung tengah tertawa dan berusaha melupakan segalanya, berbeda dengan seseorang yang kini tengah mengepalkan tangannya murka. Meratapi akan setiap detik yang lalui untuk melukai dirinya dan juga orang yang dicintainya. Dengan terpaksa dia harus melepasnya bersama orang lain yang mampu membuatnya tertawa.

***

Perjalanan panjangmu tidak akan menghantarkanmu ke ujung jalan

Justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.

Semakin aku berusaha melupakanmu, justru aku semakin mencintaimu

Seminggu lamanya setelah peristiwa dramatis antara Jaekyung dan Donghae, semua terlihat sama seperti biasa sekalipun seluruh murid Gwanghee sempat heboh ketika melihat perubahan sikap Jaekyung yang tak biasa. Tak lagi menjadikan Lee Donghae sebagai pusat alam semestanya. Sekalipun berita itu sempat menggemparkan, pasalnya peristiwa itu diperankan oleh Jaekyung, anak pemilik Yayasan sekolah dan juga Donghae, pria popular idola semua gadis di sekolah ini. Jelas saja peristiwa itu dengan cepat menyebar cepat si seluruh Gwanghee. Tapi semua tampak baik dan tenang saat ini, karena gemparnya berita itu hanya bertahan tiga hari saja. Dan kini semua rutinitas berjalan seperti biasanya.

Jaekyung mengayuh sepadanya dengan cepat. Terlihat tergesa-gesa, padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Bukan tanpa alasan Jaekyung berangkat sekolah pagi-pagi buta seperti ini. Dia hanya tak ingin melihatnya. Melihat seseorang yang berusaha ia abaikan keberadaannya. Dan jika dia masih bertemu dengannya, itu akan mempersulit semua rencananya.

Jaekyung mengunci sepedanya sesaat setelah ia memarkirkan sepedanya di tempat parkir. Jaekyung memutar matanya ke segala arah. Berharap matanya tak menemukan objek yang membahayakan. Jaekyung menghela napas lega, sepertinya sekolah masih sepi dari kerumunan para siswa.

Hari ini jadwalnya praktikum kimia. Jaekyung terlihat kerepotan dengan semua bawaannya. Tas ransel di punggungnya, perlengkapan praktikum di tangan kanannya, dan kotak bekal di tangan kirinya. Dia tampak kewalahan dengan barang bawaannya sendiri. Sebenarnya Appa Jaekyung menyarankan untuk memakai mobil pribadi miliknya, tapi sayangnya Jaekyung terlalu jatuh cinta dengan sepedanya.

Sebenarnya Jaekyung tak perlu membawa bekal makanan, toh orang yang dia harapkan untuk memakannya tak pernah sudi untuk sekedar menjilat makanan buatannya. Tapi kini membawa bekal merupakan sebuah kewajiban bagi Jaekyung. Jika bukan dia yang memakannya maka Jong Up yang akan menghabiskannya.

Akhir-akhir ini Jaekyung memang lebih sering terlihat bersama Jong Up. Mencoba mengalihkan perhatian yang selalu terpusat pada satu titik pusat. Sekalipun tak berhasil sepenuhnya, karena sesungguhnya mata Jaekyung sesekali masih mencuri pandang untuk mempehatikan Donghae dari jauh.

Selama hampir seminggu Jaekyung tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang tak memiliki obat penawar untuk penyakitnya. Patah hati yang ia alami terlalu sakit jika hanya diobati dengan obat dari apotek.

BRUKK

 

“Ooo…” Tubuh Jekyung terhuyung ketika bahunya membentur sesuatu. “Yap.” Jaekyung berteriak sembari menyelamatkan alat praktikum yang dibawanya. Pasalnya semuanya terbuat dari kaca, akan berantakan jika sampai dia menjatuhkannya.

“Fiuhh… selamat.” Jaekyung bergumam tak jelas. Mengoreksi apakah alat praktikumnya ada yang bermasalah. Dia baru ingat jika baru saja menabrak sseorang. Dengan mata terkejut, tubuh Jaekyung spontan bergerak mundur. Sia-sia dia datang pagi-pagi buta seperti ini, dan pada akhirnya dia juga masih bertemu dengannya, Lee Donghae.

“Jangan suka melamun saat kau berjalan Nona Han. Itu akan membahayakan.” Donghae berucap dingin. Tapi tatapan matanya tak lepas dari mata Jaekyung. Tatapan mata yang selalu sukses membuat Jaekyung kehabisan oksigen detik itu juga.

“I…itu urusanku. Apa pedulimu?” cibir Jaekyung dengan melempar tatapan sengit ke arah Donghae. Jaekyung hendak melangkah pergi tapi tangannya kini berada pada cengkeraman tangan Donghae.

“Jika kau menabrak seseorang, kau harus meminta maaf.”

“Sayangnya  aku tidak mau!” Jaekyung melepas paksa tangannya. Pergi meninggalkan Donghae yang masih terdiam di tempatya.

Jaekyung berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya. Dia tampak mengambil udara sebanyak yang dia bisa. Efek buruk jika dia berada di dekat Donghae adalah tak bisa bernapas dengan benar. Dan itu sedikit ekstrim.

“Kenapa efeknya padaku masih tetap sama?” ujar Jaekyung sembari menepuk-nepuk dadanya.

Layaknya seekor burung yang memaksakan diri untuk terbang mendekati matahari, semakin burung itu berusaha mendekati matahari, maka burung itu akan semakin merasa tersakiti oleh sengatan panas dari matahari itu sendiri. Entah bagaimana cara Jaekyung betahan selama ini. Hampir dua tahun Jaekyung menyukai Donghae, dan hampir dua tahun pula Jaekyung mengalami kesakitan yang sama. Berjuang dengan harapan semua akan baik-baik saja. Tapi sejauh ini, Jaekyung hanya bisa memberinya cinta sekalipun tak pernah mendapat balasannya.

Untuk kesekian kalinya Jaekyung kembali meneteskan air matanya. Bahkan dia tidak sadar jika Jaekyung yang dulunya kuat, kini berubah menjadi Jaekyung yang cengeng dan lemah. Itu semua karena Lee Donghae.

“Heyy…,” Sapa seseorang sambil menepuk pelan bahu Jaekyung. Jaekyung terkejut singkat, tapi menormal setelah melihat siapa yang menyapanya.

“Oh, kau sudah datang?” Sahut Jaekyung asal.

“Ehmm… aku kesini karena aku kelaparan. Kau bawa bekal untukku?” Tanyanya sambil menepuk-nepuk perutnya. Memberikan deskripsi atas kelaparan yang melanda perutnya. Jaekyung menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Pria dengan postur tubuh kecil ramping ini ternyata memiliki nafsu makan yang luar biasa.

“Kau datang kepadaku hanya saat kau kelaparan.”

Jong Up langsung memasang raut wajak sok polos yang tidak bisa membodohi siapapun lalu nyengir tak merasa berdosa.

“Aku membawanya. Bekal__” ucapan Jaekyung terhenti seketika setelah ia menyadari jika bekal yang dibawanya tak lagi bersamanya. Sialnya adalah dia baru ingat jika bekal itu ikut terjatuh ketika dia bertabrakan dengan Lee Donghae. Dia tak berpikir tentang kotak bekalnya, dia lebih sibuk menyelamatkan alat praktikumnya. “Sial! Kotak bekalku terjatuh,” Gerutu Jaekyung dengan menghela nafas putus asa.

“Bagaimana bisa terjatuh? Lalu bagaimana denganku?” Tanya Jong Up bodoh.

Jaekyung meniup poni yang menutupi dahinya kesal. “Itu bukan kewajibanku untuk membawakanmu bekal.”

“Tapi tetap saja kau bersalah karena membiarkan pria tak berdosa ini kelaparan. Jadi kau harus mentraktirku makan malam. Dan aku akan menjemputmu besok, memastikan kau tak akan lari.

“Jam tujuh malam. Jangan lupa gadis manis.” Jong Up mengacak-acak rambut Jaekyung pelan. Mengedipkan sebelah matanya dan pergi tanpa ingin mendengarkan Jaekyung dengan segala argumennya.

***

To Be Continued…

Eottaeyo?? Bagaimana kesan FF ini? Maaf jika ada kesalahan. Dan tak lupa mengingatkan jika koreksi masih diharapkan.
Khusus Mbak Silvi, Maaf ya mbak jika ini tak sesuai yang diharapkan. Lama tak menulis, jadi masih kaku semua. Tunggu bagian ke-2nya ya…. #BOW

Vyejungmin: Dek, mbak komen lewat SMS ja ya wkwkwkw

makasih loh deh uda mau bikinin ini ff kkk THANK YOUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

6 thoughts on “TWOSHOT : “THE BADMAN” 1/2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s