Donghae Side: PERVERTING -8-

a.n: hai, bertemu lagi dengan ff yang ini. Firstly big thanks for my unnie, Riri Chan yang masih setia nunggu ff ini dan buat big reader aku yang juga setia nunggu ff ini. Sedikit aku baca ulang dan sedikit stucknya juga ilang, dan akhirnya aku bisa lanjut publish fict ini. Padahal ini ff udah aku buat beberapa bulan yang lalu, tapi karena ide ilang kemana jadi aku vakum dulu bentar. Sampai sekarang akhirnya bisa publish wkwkwkw ah, iya, tinggal dua chapter yang artinya nyampe chap 10, ff ini selesai. Dan aku tinggal lanjut ff yang kayak Bartender, If This Was a Movie buat lanjut.
Ya sudah kalau begitu, selamat membaca :*
Eh, iya kalo ada typo atau apa maaf ya. sekali lagi maaf :*

***

By Vyejungmin

Music: Love Dust by Cho Kyuhyun of Super Junior

***

DONGHAE’S POV

Ku usap mataku yang terkena cahaya matahari yang masuk kedalam retina mataku. Sudah siang? Sepertinya memang sudah siang, kupaksakan mataku agar terbuka sempurna dan akhirnya bisa terbuka. Ku lihat disekelilingku, ruangan ini tak asing bagiku dan aku langsung menepuk keningku keras, kenapa aku bodoh sekali? Ini kan kamarku sendiri kenapa aku bisa melupkannya. Sepertinya aku sudah mulai bodoh.

Dengan segera aku beranjak dari tidurku, duduk menyender punggung kasurku. Kepalaku sedikit pening, tubuhku juga sedikit sakit, ku tolehkan kesamping kasurku, memandang kearah nakas yang ada disam[ing kasurku berharap ada gelas yang berisikan air putih dan, yeah ternyata ada, dengan sigap aku langsung meminumnya sampai habis. Aku seperti orang yang tak minum beberapa hari saja sampai-sampai gelas besar dengan berisikan air penuh sampai habis aku minum.

Aku menoleh kearah samping saat mendengar pintu terbuka dan munculah Ibuku yang sedang membawa nampan yang berisikan baskom, aku mengerutkan keningku, kenapa Ibu membawa baskon yang kurasa berisikan air hangat atau air dingin.

“Eomma! Selamat pagi,” ucapku pelan sambil tersenyum kearahnya.

Ia masih terbengong menatap kearahku, ada apa dengannya sampai-sampai ia memandangku dengan tatapan seperti itu? Aku memiringkan kepalaku untuk melihat lebih jelas lagi ekspresi Ibuku yang masih setia berdiam diri disana.

“Wae?”

“Donghae-ah! kau sudah sadar? Huh?”

“Hmm… aku baru saja bangun tidur, tapi kepalaku tiba-tiba saja pusing.” Ucapku sedikit manja pada Ibuku, oh, kalau sudah seperti ini aku pasti akan selalu dimanja oleh ibuku.

Ibuku berjalan kearahku, senyuman yang manis masih terpampang diwajahnya. Tapi aku sedikit aneh dengan ucapan ibuku tadi. Apa yang ia bilang padaku? Sadar, eh? Seperti aku habis koma beberapa minggu saja. Memangnya ada apa denganku? Aku baik-baik saja, tak mengalami apa-apa kan?

Kugenggam tangan ibuku setelah ia meletakan nampan yang ada ditanganya kearah nakas yang ada disamping kasuruku. Tiba-tiba ia memeluk tubuhku dengan sangat erat sampai-sampai aku merasakan sesak. Ia melepasakan pelukannya padaku kemudian ia mencium kedua pipiku.

Aku hanya bisa mengerutkan keningku saja melihat tingkah Ibuku saat ini. terlihat dari raut mukanya ia begitu khawatir dengan keadaanku. “Eomma, ada apa?”

“Kau lupa? kau tak sadarkan diri selama beberapa hari ini. kau mabuk di club malam dan kau dipukuli oleh beberapa orang yang ada di club malam. Untung saja ada orang yang begitu baik menolongmu yang ada di club waktu itu.”

Ucapan ibuku benar-benar mengejutkanku. Mabuk, di pukuli? Oh, aku benar-benar lupa. Tapi sepertinya memang benar apa yang dikatakan oleh ibuku karna memang kenyataan tubuhku begitu sakit saat aku bangun tidur tadi. Tapi yang benar saja, masa aku tak sadarkan diri beberapa hari. Benar-benar gila. Apa memang parah?

“Sayang, banyak sekali yang memukulmu waktu itu. Orang yang membawamu kesini menceritakan kejadian yang sebenarnya. Kau mabuk, menabrak orang dengan tak sengaja, orang yang kau tabrak itu marah, memukulmu dan tak lama kemudian kelompoknya datang untuk mengroyokmu.”

“Saat kau diantar pulang, Eomma benar-benar histeris saat melihatmu dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Eomma saat itu tak bisa mengatakan apa-apa. Yang Eomma lakukan hanya menyuruh orang yang mengantarkanmu pulang untuk membawa kearah kamarmu. Setelah itu, Eomma langsung menelpon kakakmu yang untung saja masih dinas di Seoul. Kau bisa ceritakan apa yang kau pikirkan, sampai-sampai kau mabuk seperti itu!!”

Aku hanya menatap kedua manik mata ibuku. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh orang yang mengandungku selama Sembilan bulan ini. aku berusaha untuk mengingat kejadian saat di club. Dan, oh aku ingat kejadian sewaktu di club. Mengingat kejadian diclub tiba-tiba saja amarahku memuncak.

Ck! Yang benar saja, hanya menabraknya dengan tak sengaja ia memukulku sampai-sampai aku tak sadarkan diri beberapa hari. Aku mengutuk orang yang memukulku agar ia dipukuli oleh orang lain dan mungkin ia lebih parah dari pada yang aku alami.

“Baiklah, kau lapar? Eomma akan memasakan makanan kesukaanmu!”

***

Setelah seminggu aku mendekam dirumahku dengan sangat bosan, akhirnya aku bisa keluar rumah juga. Yang benar saja Eomma benar-benar sangat cerewet sekali, hampir satu minggu yang lalu aku diperlakukan seperti anak kecil yang jatuh dari atas pohon. Begitu protektif sekali. Sampai-sampai aku malu dengan Donghwa Hyung yang satu minggu yang lalu dirumah, dan ditambah dengan teman-temanku yang sering kerumahku.

Tidak, tidak, teman-temanku bukan berniat untuk menjengkku melainkan mereka ada maunya saja. Seperti bermain Game, tidur, bermain computer –yah, walaupun sebenarnya mereka sudah mempunyai semua–mereka tetap bermain. Dan kadang-kadang mereka mengejekku dengan sebutan anak menja, dan saat itu pula aku ingin memukul wajah mereka semua.

Ku hirup angin semilir yang ada ditaman, sejuk dan aku menyukainya. Hari ini aku tak masuk kampus, karna kepalaku masih pusing –mungkin akibat pukulan waktu itu–yang membuatnya masih pusing. Dan, alasan yang sebenarnya aku tak ingin bertemu dengannya. Mungkin aku sudah mengikhlaskannya dengan laki-laki lain. Aku tak punya hak untuk mengekangnya, karna dia bukan miliku.

Tapi hatiku begitu tak rela jika ia bersanding dengan laki-laki lain selain diriku. Aku sering berfikir, lebih baik si pemukul waktu itu memukulku sampai aku benar-benar hilang kesadaran daripada aku menahan sakit yang aku alami. Tapi kalau aku berfikir seperti itu, rasanya aku benar-benar menjadi laki-laki yang begitu pengecut. Cih, benar-benar menggelikan sekali.

Ku senderkan punggungku kesandaran kursi taman, masih pukul sepulu, berarti aku sudah duduk di kursi taman selama setengah jam. Taman ramai dengan adanya orang-orang usia lanjut sedang berolahraga agar tubuhnya tetap bugar. Tiba-tiba saja pikiranku melambung jauh, aku berpikir apakah kalau aku sudah seperti mereka aku akan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan? Sepertinya memang iya.

Aku hanya bisa tersenyum membayangkannya. Ku alihkan pandanganku kearah keluarga kecil yang sedang berjalan dihadapanku. Bayi yang ada didalam gendongan suami, dan sang istri dengan sangat bahagianya. Aku kembali membayangkan bahwa mereka itu aku, Jaekyung, dan bayi kami. Betapa bahagianya aku jika aku benar-benar menikah dengan Jaekyung. Tapi sepertinya itu hanya hayalan semataku saja. Dia tak akan benar-benar jadi milikku.

Miris sekali hidupmu ini Lee Donghae, ini semua karna aku yang benar-benar menjadi pervert padanya, kalau saja aku tak seperti itu, mungkin saja aku masih bersama dengan Jaekyung, bergandengan tangan tertawa bersama dan bahagia. Tapi semuanya sudah berjalan seperti ini. jadi Lee Donghae kau tak boleh menyesal seperti ini, karna ini memang kesalahanmu semua.

Aku beranjak dari dudukku, sebelum berjalan aku menghirup udara pagi yang masih segar dan aku langsung pergi dari taman. Berjalan tanpa arah, yang aku inginkan hanya menjernihkan pikiranku yang sedang banyak sekali dengan masalah.

Jalanan Seoul pagi ini masih sedikit padat, mungkin mahasiswa yang baru saja berangkat kekampus atau pegawai kantor. Tapi untuk pegawai kantor tak mungkin sekali berangkat pada jam sepuluh pagi, jika memang ada pegawai tersebut, berarti si pegawai tersebut ingin sekali ditendang dari kantornya.

Aku berhenti ketika mataku tak sengaja melihat sebuah toko yang bernama Bread and Coffe yang benar-benar sangat menarik dimataku. Tanpa berpikir aku langsung masuk kedalam toko tersbut. Saat aku membuka pintu aku langsung menghirup aroma toko itu dan dengan segera aku menghirupnya. Oh, benar-benar sangat harum sekali.

Duduk tempat yang paling pojok, dekat dengan kaca dan menghadap kearah pemandangan kota yang ramai. Aku mengalihkan pandanganku saat seorang pelayan datang untuk menannyakan menu apa yang ingin aku pesan. Setelah ia menulis semua pesananku, kembali aku menatap kearah pandangan yang ada didepanku.

Mataku tiba-tiba saja tak sengaja melihat seulet tubuh Jaekyung, tapi dia sedang bergandengan tangan dengan laki-laki yang ia sukai. Ia terlihat sangat bahagia saat ia berada disamping laki-laki itu. Aku mengalihkan pandanganku kearah lain, tak ingin menatap kearah mereka. Lee Donghae, cepatlah kau lupakan dia agar kau bisa menjalani hidupmu seperti dulu lagi.

***

Kampus. Akhirnya selama dua minggu aku tak hadir, akhirnya aku bisa masuk juga dan bisa menjalankan hari-hariku seperti biasa lagi. Aku berjalan kearah kantin dengan senyum yang menghias diwajahku, saat orang-orang menyapaku, aku kembali balik menyapa mereka.

Ku edarkan pandanganku keseluruh kantin, mataku menemukan temanku yang sedang asik memakan makanannya. Dengan langkah yang ringan aku menghampiri mereka, duduk disamping Hyuk Jae yang memang seperti biasanya seperti ini.

“Hyuk,” ucapku pelan padanya. Ia menoleh sebentar dan langaung terkesiap kaget.

“Whoo, Lee Donghae, sejak kapan kau ada disini?”

“Baru saja, kau makan rakus sekali.” Komentarku pada Hyuk Jae. Lihat saja piring, mangkuk, gelas yang ada dihadapannya. Apa dia belum makan selama satu minggu? Ck! Dia benar-benar rakus.

“Aku lapar, sejak malam tadi aku belum makan nasi. Dan aku hanya makan tiga bungkus mie ramen yang ada didalam kulkas. Heu, kau tahu sendiri kalau aku belum makan nasi perutku masih akan tetap lapar,” ucapnya dan ia kembali memakan makanannya dengan sangat lahap.

Setelah percakapan tadi, kini kami berdua hening. Hyuk Jae yang sibuk dengan makanannya dan aku sibuk dengan memandangi kantin di kampus kami yang baru aku sadari ada yang berubah. Dan oh, ternyata warna cat kantin kami yang dulu berwarna Cream kini berganti menjadi Green soft yang benar-benar sangat memanjakan mata, menghidupkan suasan alam dan membuat pengunjung yang kekantin pasti akan merasa nyaman.

Ku buka tutp botol air mineral yang aku bawa sebelum masuk kedalam kantin dan aku langsung meminumnya. Ku lihat Hyuk Jae masih saja memakan makanannya, ternyata masih banyak juga. Apa dia baru masuk kekantin atau ia sudah makan makanannya lima kali, diakan rakus sekali, jadi tidak heran kalau dia makan lima sepuluh kali.

Duduk diam, melihat Hyuk Jae makan membuatku seperti orang bodoh. Kenapa aku malah duduk disini? Lebih baik aku ke perpustakaan untuk membaca buku yang bisa membuatku menarik, atau membuat pengetahuanku menjadi luas. Atau bisa saja aku bertemu dengan Jaekyung didalam sana, karan terlihat saat awal kuliah, dia memang sangat suka sekali kalau sudah bertemu dengan yang namanya perpustakaan.

Ku sampirkan tas gendonganku kebahu sebelah kanan, mengambil botol air meniralku dan mulai beranjak dari dudukku. Belum sempat aku berjakan satu langkah, Hyuk Jae bertanya padaku tentang aku akan pergi kemana, dan aku langsung menjawabnya bahwa aku akan ke perpustakaan, akan membaca buku yang membuatku tertatik. Setelah mendengarkan jawabanku, Hyuk Jae kembali pada kegiatannya semula–makan.

Dan itu membuatku mendengus.

***

Perpustakaan. Akhirnya setelah menaiki beberapa anak tangga akhirnya aku sudah ada didalam perpustakaan kampusku yang sangat luas ini. Ku buka pintu perpustakaan dengan sangat pelan, saat aku masuk suasana didalam perpustakaan begitu sepi dan senyap. Ini benar-benar ciri khas sekali perpustakaan.

Kalau saja aku membuat keributan didalam perpustakaan, bisa-bisa aku akan mendapatkan hukuman tidak boleh mengunjungi perpustakaan selama satu semester. Hukuman itu benar-benar sangat efektif sekali, tak ada satu pun yang menjadi korban ataupun tersangka diperpustakaan ini.

Aku mengambil buku yang ada di depanku, lalu membawanya kearah meja yang paling pojok. Tempat paling ternyaman menurutku. Selama sepuluh menit aku membaca, dan mataku tak sengaja melihat sebuah tangan yang mendarat di punggung tanganku, putih dan sangat mulus. Dan aku yakin ini pasti perempuan. Setelah melihat kulit tangannya aku merambah untuk memandangi wajah perempuan itu. Dan perempuan itu, Han Jaekyung.

Astaga, mimpi apa aku semalam bisa mendapatkan Jaekyung yang menghampiriku disini? Jangan, jangan seperti kemarin aku yang berhalusinasi tentang Jaekyung yang datang kekamarku saat aku terbaring dan berdiam diri seperti orang bodoh.

Tapi, kulitnya yang memang nyata akhirnya aku memanggil namanya, “Han Jaekyung!” dia tersenyum.

“Hai,” balasnya. Aku meneguk ludahku susah. Ini nyata. Dia memang nyata.

Dengan sangat cepat aku berdiri dari dudukku lalu langsung saja aku memeluk tubuhnya itu. Dia hanya diam saja aku peluk, sepertinya dia memang sudah memaafkanku. Sebelum kesempatan ini hilang, aku dengan cepat menghirup aroma tubuhnya yang sudah aku rindukan selama akhir-akhir ini. Aku merindukan semuanya.

“Donghae-ah, bogoshipoyo!” dan ketika Jaekyung mengatakan kata seperti itu, aku seperti terbang kearah langit tujuh. Dan aku semakin mempererat pelukanku terhadap Jaekyung.

Aku merasakan dia membalas pelukanku dengan sedikit erat, kepalanya ia tundukan, bahuku merasakan hidungnya yang aku yakin sedang menghirup aromaku. Sementara aku hanya menenggelamkan kepalaku di lekukan lehernya.

Han Jaekyung Bogoshipoyo.

***

Jaekyung menerima minuman kaleng yang baru saja ku beli tadi di kantin. Dia meminumnya, dan aku hanya memandangnya saja. Tidak melihatnya sedekat ini selama beberapa minggu ini, dia semakin cantik saja. Dan aku rasa seperti ada yang berubah dengan dandanannya sekarang.

“Wae?” tanya Jaekyung dengan suara yang kini menjadi lembut. Astaga! Banyak sekali perubahannya ini. Suaranya memang asli lembut, kalau dulu lembut tapi dengan intonasi kasar dan sekarang. Oh, aku tidak bisa mengatakannya dengan kata-kata.

Sekali lagi aku memeluk tubuhnya dengan erat. Aku masih ingin berlama-lama dengannya. Aku hanya takut kalau ini adalah sebuah mimpi belaka dan ketika aku membuka kedua mataku, aku di kejutkan dengan kenyataan yang harus kutelan bulat-bulat, dan aku pastikan itu tidak lucu sama sekali.

“Aku masih tidak menyangkan!” ucapku di dekat telinganya. Tubuhnya sedikit bergidik ngeri dan itu hanya sebentar. Kepalaku merasakan elusan tangannya yang lembut, aku hanya memejamkan mataku untuk menikmatinya.

“Aku dengar dari Kyuhyun kau di pukuli?” ucap Jaekyung masih dengan mengelus-elus lembut rambutku.

Kepalaku mengangguk pelan. Dalam hati aku terkikik karena tingkahku seperti anak kecil yang meranjuk minta di belikan mainan. Tapi kapan lagi coba aku seperti dengan Jaekyung.

“Kalau tidak salah sudah hampir tiga minggu. Aku hanya ingat bagian ketika aku menabrak seseorang dan di pukuli. Itu saja, sudah.” Jawabku sambil memainkan telapak tangannya. Ku pandangi jari-jari tangannya yang putih dan ramping, di tambah lagi dengan kuku-kukunya yang panjang polos tanpa kuteks yang melapisinya.

Dia cantik. Tidak hanya wajahnya, seluruhnya juga cantik. Hatinya juga. Aku sedikit menyesal kenapa aku hanya memanfaatkanya saja sebagai alat pemuasku. Kenapa aku tidak tulus saja menjadikannya sebagai wanita pendampingku. Semua penyesalan selalu datang di akhir, dan jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Sekarang jalani saja yang sedang terjadi.

“Tidak melihatmu selama tiga minggu terakhir ini, kau berubah sangat derastis. Dari caramu berpakaian, memakai make up, rambutmu juga kau geraikan seperti ini. Kau tahu, kau semakin bertambah cantik.” Ucapku jujur masih dengan memegang tangannya.

“Semua orang pasti ada yang berubah, Donghae-ah.” Ucapnya sambil mencubit pelan pipiku.

“Selain penampilanmu, kau agak centil sekarang.” Ucapku terkekeh saat aku mendengar Jaekyung mendengus.

Kami berdua diam, menikmati semilir angin yang berhembus pelan. Tanganku dan tangannya saling bertautan. Aku merindukan telapak tangannya yang selalu mengelus kepalaku setiap aku tidur didalam apartmentnya.

“Aku merasakan firasat yang tidak enak.” Ucapku pelan sambil mempererat genggamanku padanya.

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak.” Balasnya.

“Tapi kau tiba-tiba berubah seperti ini dan membuatku agak sedikit takut ketika kau nanti tiba-tiba berubah lagi.” Aku menegakan tubuhku, menoleh kearahnya yang tersenyum. Rambutnya mengembang karena tertiup oleh angin.

“Tenang saja. Tidak akan ada yang berubah lagi padaku nanti.” aku terus memandangnya. Matanya sedikit menyipit karena sedari tadi ia terus tersenyum.

Kembali aku memeluk tubuhnya. Aku masih merindukannya. “untuk semua kelakuanku selama ini, tolong maafkan aku.”

“Aku sudah melupakannya, jadi jangan khawatir. Tenang saja. Hanya saja aku tidak ingin mengingatnya lagi. Kau tahulah, itu terlalu menyakitkan untukku.”

“Hmm…aku tidak akan mengungkitnya.”

***

Hubunganku dengan Jaekyung membaik beberapa hari ini. Hanya saja dia sekarang sedikit pendiam, tidak seperti biasanya yang biasanya bicara. Eh, tidak juga sih, dia memang pendiam selalu mengacuhkanku dengan beberapa novel yang selalu ia bawa atau kalau dia sudah menyentuh ponselnya ia pasti akan mengabaikanku.

Tapi sekarang, dia duduk di hadapanku yang sedang makan dan dia hanya memandang pemandangannya dengan pandangan kosong. Aku meletakan sendok di atas piringku. Sedikit tidak terlalu nafsu makan kalau aku melihat Jaekyung melamun seperti ini.

Dia aneh, aku merasa kalau Jaekyung sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui dan enggan untuk memberi tahuku. Tangaku menyentuh pipinya untuk menyadarkan dia dari lamunannya, dan berhasil dia tersentak dengan mata sedikit melebar, dan dengan cepat kepalanya ia tundukan karena katahuan melamun olehku.

“Kau tak menghabiskan makanmu?” tanyannya sambil mengambil cola yang ada di hadapannya lalu meneguknya dengan pelan. Aku tidak menjawab, dia memalingkan meneguk colanya semakin cepat.

Dan aku pastinya semakin mengerutkan keningku aneh dengan segala tingkah lakunya ini. Ada yang tidak beres.

“Kalau kau enggan memberitahuku, kau bisa memberitahuku kapan saja. Karena aku terbuka untukmu.” Ucapku dan kembali menyantap makananku lagi yang tadi sempat tertunda.

Saat aku berpura-pura menikmati makanku, dengan sangat jelas kalau Jaekyung menghela napasnya sedikit gelisah. Dan acara makanku sedikit tidak nyaman karenanya.

Kembali lagi aku meletakan sendokku dan mengambil cola milikku yang ada di hadapanku. Setelah meminum colaku sampai habis, aku mengelap bibirku yang mungkin saja agak belepotan. Setelah itu aku menegakan tubuhku yang membuat kepala Jaekyung mendongak menatapku.

“Donghae-ah, kau belum selesai menyantap makanamu.” Ucapnya sambil menahan tanganku yang akan menyampirkan tas punggungku di bahuku.

“Sepertinya selera makanku hilang entah kemana.” Jaekyung ikut beranjak duduknya, tangannya menyentuh kedua bahku, lalu memaksaku untuk kembali duduk di kursi.

“Kita tidak akan pergi sebelum kau menghabiskan makanmu. Kau tak tahu kalau kau kurusan?” ucap Jaekyung kasar yang membuatku kembali duduk dan segera menyantap makanaku. Benar bukan kalau dia memang agak aneh.

Setelah makan selesai beberapa menit yang lalu, kami berdua sepakat untuk berjalan-jalan di trotoar yang entah tujuan kami akan kemana. Cukup mengikuti langkah kaki kami, kalau ada tempat yang menarik atau apa kami berdua sepakat untuk berhenti sebentar dan melihat-lihat apakah ada barang yang sesuai untuk kami atau tidak, kalau ada pasti kami membelinya.

Mataku tak lepas memandang punggungnya dari belakang. Rambutnya bertebrangan karena angin yang menghembusnya. Serta gaun putih gading selututnya sedikit menyingkap.

Kalau di lihat dari belakang Jaekyung terlihat tinggi walapun dia tak menggunakan higheel atau sepatu tinggi lainnya. Dia hanya memakai flatshoes sekarang, tidak seperti biasanya yang memakai sepatu seperti anak sekolahan.

“Donghae-ah.” Panggilnya sambil menolehkan badannya kebelakang untuk menatapku. Tangannya melambai kearahku, jarak di antara kami sekitar sepuluh meter, dia masih melambai-lambai terus kearahku. Bibirnya tersenyum dan kadang memanggilku untuk cepat kearahnya.

Aku menurut apa yang ia katakana tadi. Berjalan dengan sedikit tergesa, setelah sampai di sampingnya, aku langsung mengamit lengannya mengajaknya untuk berjalan bersama.

Sekali lagi aku merasakan firasat yang tidak enak jika aku disampingnya. Ini tidak seperti biasanya. Dulu, biasanya kalau aku sudah ada di sampingnya aku selalu merasa bahagia dan baik-baik saja.

Kami berdua layak seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Tapi nyatanya kami hanya teman, dan aku tidak tahu apakah Jaekyung masih menganggapku teman atau tidak. Aku masih bersyukur karena Jaekyung masih menganggapku ada dan kembali kepadaku. Aku sangat bersyukur.

“Kau mau tahu kebiasaanku akhir-akhir ini?” dia membuka suaranya setelah beberapa saat kami berdua hanya diam saja. Kepalaku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

Kepala Jaekyung mengglayuti di lenganku. Ini juga membuatku sedikit menyeritkan alisku. Aneh, padahal yang aku tahu Jaekyung tidak suka sekali mengglayuti orang atau di gelendoti. Dan aku tidak perduli, aku hanya ingin ini menjadi damai.

“Tidak jadi, deh. Aku tahu kau akan marah nanti.” ucapnya yang membuatku penasaran. Memang apa yang di lakukannya akhir-akhir ini?

“Tapi itu aku yakin hanya masalah sepele yang ingin kau bicarakan, jadi tidak harus di ributkan, sih.” Dia menegakan tubuhnya, melepaskan glayutannya lalu sedikit berlari-lari kecil entak kemana. Satu kalimat untuknya, dia benear-benar aneh. Tapi biarkan saja.

Aku mengambil langkah cepat untuk menyusulnya yang sudah agak jauh dan memasuki sebuah kafe yang menarik perhatian. Setelah masuk dan mengedarkan pandanganku kearah penjuru kafe, aku mendapatkan Jaekyung sudah duduk tenang dengan daftar menu yang sedang di bacanya.

Aku duduk di depannya menunggu Jaekyung selesai memilih makanan mana yang akan di pesannya. Pelayan berdiri di samping kami, siap untuk mencatat semua pesanan Jaekyung nanti.

“Aku pesan kue kering dan kopi.” Ucap Jaekyung menutup buku menunya. Apa telingaku tidak salah dengar apa yang di ucapkan Jaekyung tadi? Kopi? Yang benar saja, selama dua tahun mengenalnya, Jaekyung paling anti minum kopi. Dan kenapa sekarang malah dia memesan kopi?

Aku mendongak, “ganti kopi dengan teh,” ucapku pada pelayan yang masih mencatat pesanan Jaekyung, kepalnya mendongak, matanya mengerjap beberapa kali merasa bingung dengan tindakanku.

Jaekyung sendiri merengut kesal apa yang aku katakana tadi. Maaf-maaf saja, aku memang agak tidak suka kalau Jaekyung sudah meminum kopi, dia pasti meringik karena mulutnya terasa kecut akibat meminum kopi.

“Teh pun sama saja membuat mulutku kecut!” ucap Jaekyung yang membuatku menyeritkan keningku. Dia kembali seperti Han Jaekyung sebelum-sebelumnya. Dingin dan datar.

“Kalau begitu pilih yang lain saja.” Ucapku tak mau kalah. Aku menatap kearah pelayan untuk memberitahukan pesananku, dan aku memedan satu jus jeruk dengan krim yang ada di dalamnya. Jaekyung sendiri aku pesankan dengan minuman yang lebih enak.

“Seperti biasanya.” Jaekyung menyindirku dengan suara pelan. Tsk! Sayang, suaramu terdengar. Ucapku dalam hati. Aku menikmati ekspresinya yang mengerut masam seperti ini

Pesanan datanga. Setelah menganggukan kepala untuk berterima kasih pada pelayan itu, aku meminum minumanku. Jaekyung hanya diam memandangi pandangan didepannya dengan raut wajah yang kosong. Aku sangat tahu kalau Jaekyung sedang menyimpan sesuatu dan aku tidak ingin bertanya kalau bukan dia sendiri yang memberithukan semuanya padaku.

Tanganku menyentuh pergelangan tangannya, kepalanya menoleh pelan, matanya sedikit memerah dan aku tahu pasti kalau Jaekyung sedang menahan tangisnya. Dan yang menjadi pertanyaannya adalah; kenapa Jaekyung sampai-sampai harus menahan tangisnya? Ini aneh.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi selama aku tidak bersamamu lagi. Semuanya, aku tidak tahu. Apakah kau baik-baik saja atau tidak aku benar-benar tidak tahu.” Ucapku pelan masih dengan mengusap pelan punggung tangannya.

“Kalau begitu kita pergi saja.” Ucapnya sambil beranjak dari duduknya kemudian dia pergi meninggalkanku yang masih dengan duduk. Setelah beberapa saat aku berdiri dan berjalan menuju kearah kasir untuk membaya semua pesanan kami.

***

Aku tahu pasti dimana Jaekyung akan menghilangkan semua kepenatannya. Dia pasti datang kearah suangai han, menikmati matahari senja dengan hembusan angin yang tenang. Kedua tangannya ia regangkan, dan Jaekyung tidak perduli dengan rambutnya yang bertebrangan.

Dengan langkah pelan aku memeluknya dari belakang. Hal-hal seperti ini jarang kami lakukan lagi. Aku merindukannya, aku membalikan tubuhnya, mataku menatap langsung kearah matanya yang tak fokus. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuatnya tak fokus seperti ini.

Bukannya mencari kesempatan dalam kesempitan aku hanya merindukannya untukku cium, jadi yang sekarang terjadi adalah aku mencium tepat di bibirnya. Dengan kecupan lembut yang tidak biasa aku lakukan padanya. Dulu aku selalu menciumnya dengan kasar, tangannku yang selalu bergerliya di bagian tubuhnya yang kapan saja membuatnya mendesah selalu aku sentuh.

Tapi sekarang aku berbeda, tidak mau lagi melakukan hal seperti itu. Dan, ah, iya aku ingat, tiga minggu yang lalu Eomma mengatakan kalau beliau mengatakan akan menikahkan kami berdua, tapi nyatakanya Eomma pergi kejepang untuk beberapa bulan ini, dan sebelum Eomma pergi ke jepang, ia mengatakan padaku, kalau pernikahan itu sangat berharga untuk di main-mainkan, Eomma tahu kalau Jaekyung tidak mencintaiku, dan Eomma takut usia pernikahan kami baru seumur jagung tapi kami melakukan perceraian, jadi Eomma tidak ingin memaksa kami. Biarkan kami mencari pasangan masing-masing untuk di jadikan pasangan hidup nantinya.

Aku melepaskan ciumanku. Tidak ada lumatan di ciuman kali ini, hanya saling menempel satu sama lain. Cukup seperti ini dan masih tetap membuatku bahagia. Aku yang kembali menatap mata Jaekyung hanya bisa menghembuskan napas, dan aku merasakan perasaanku yang tiba-tiba menjadi tidak enak.

“Donghae-ah, aku akan menikah. Dengan Eunkwang.”

Dan ternyata itu yang di ucapkan oleh Jaekyung. yang selama ini aku takutkan. Dia menikah dengan laki-laki lain, bukan aku. Mataku menatap kosong kearah manik matanya.

Pelukanku di pinggangnya sedikit mengendur dan akhirnya terlepas, jadi sekarang aku tidak memeluknya. Aku memaksakan senyumanku walapun tidak bisa, dan yah aku tidak bisa tersenyum untuk sesaat ini.

Tangan Jaekyung mengambil sesuatu didalam tasnya dan saat aku tahu apa itu, aku hanya bisa menahan napas. Itu kartu undangan pernikahannya. Dia mengulurkan padaku, dan aku berperang dengan batinku, menerimanya atau tidak dan akhirnya aku menerima undangannya dengan sangat berat hati. Baiklah, ini memang balasanku selama ini darinya yang aku lakukan padanya.

“Aku mengharapkanmu datang di hari itu nanti. jangan membuatku kecewa yang kedua kalinya. Dan aku harus pergi, Eunkwang sudah menunggu disana,” tunjuknya di belakang tubuhku, dan aku menoleh kebelakang, kearah seseorang yang sedang melambaikan tangannya kearah kami. “Kalau begitu aku pergi dulu Donghae-ah.”

Sebelum pergi, Jaekyung memeluk tubuhku. Hanya sebentar tapi membuat tubuhku sedikit menghangat. Tadi itu adalah ciuman terakhirku padanya dan pelukan terakhir. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami seharian ini.

Mataku hanya bisa memandang mobil yang melaju agak kencang, menerbangkan nyawaku bersama perginya mobil itu. Jadi aku kembali merasakan sakit hati untuk kedua kalinya.

Bibirku tersenyum. Yah, tersenyum sangat miris. Kepalaku mendongak keatas menatap langit senja berwarna orange yang sangat indah. Ku hela napasku sedikit dalam dan lalu menghembuskan secara perlahan. Ini memang sudah takdir jadi jangan kecewa. Jaekyung mungkin memang bukan takdirku, mungkin saja wanita-wanita yang di luar itu ada salah satu takdirku.

Ku usap pelan wajahku, lalu membalikan tubuhku, pergi meninggalkan sungai hand an kembali kerumah untuk menenangkan semua kegilaan ini. Dan tangan kiriku masih memegang undangan milik Jaekyung, tanpa membacanya lagi aku langsung memasukannya kedalam tasku dan kembali berjalan yang sempat tertunda tadi.

Walau bukan takdirku, aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun.

Han Jaekyung, Saranghaeyo!

—TO BE CONTINUED—

4000WORD. PAS ITU WKWKWKW
HAI, kembali dengan Silvi. Wkwkwkw masih ada yang inget kan ya? uda berepa bulan ini ff ngga lanjut? Kayaknya lama wwkwkwkw kalo gitu yoo wis, maaf ya. kkkk~

Silvi Diah Septiyani, Indramayu Jawabarat
Kamar tercinta, November 25, 2013

40 thoughts on “Donghae Side: PERVERTING -8-

  1. Annnnnyeong!!
    Reader baru, nova disini..
    Salam kenal..
    Hiiii, bru smpet ninggalin jejak akunya, mianhe ya thor..
    Ff ini kluar juga akhirnya..
    Huwaaa, donghae-yaa, jgn sediih..
    Aku percaya Jae kyung hanya untukmu.. Kkkkk~
    Thor, jebal jgn sad ending..
    Athor fightiiing..!!

  2. Kyaaaakkk!!!
    Napa bukan ama Ongek nikah nya?!
    Poor c ikan,udah di pukulin ampe pingsan brminggu2,eh,setelah sadar dpt heartshocking lagi T_T

    Sabar ya abang ikan,mungkin tu cobaan sementara(?)

    Oia,td ad bbrpa typos yg nyempil,tp gk ngaruh kok,coz penasaran bgt ama crita ny…
    Tp,yg lain semua ny OK!!!

    TAPI
    Napa onge harus trsakiti(?) d part ini?!

    Ok,d tunggu next part ny ya…

    Authornim & Donghae ssi. FIGHTING

  3. saeng aku belum baca, tp mau comnent dulu.
    ini lanjutanya kah? akhirnya setelah sekian lama.
    luv U. muaachhh
    ITWaM juga jg lupa di lanjutin

  4. suummphhh kgn bgt ma ni ff…
    aigooi gk nyngka bngun” hae hrus mnrima knxtaan klw jaekyung mw nikh….
    hae jgn ptus asa msihh ad akk ni yg setia menunggu mu…
    nggu klnjtn If This Was a Movie mq bartender.
    oke hwaiting chingu

  5. HEOLLLLL~~

    Vyeee~ dr sekian banyak ff donge punyamu, ini 1 scene tergalau buat si ikan

    Kyanya 1 uratnya donge putus deh wkt dipukulin di klub. Scr sejak sadar dy jd beda banget. Lbh tenang, ga grasak grusuk n lebh melankolis

    Hm, d part ini yg ditunggu setelah seabad, q kesel sama si je krn ga ngasih hae kesempatan buat perbaikin hub d antara mrk.

    Ngeliat tekadnya si hae yg kyanya udh kya kompor mau keabisan minyak alias ogah2an di dalam kegalauan *alahhh bahasa w, sok puitis* .. Q lbh milih hae ketemu orang baru aja deh #lipet posterjaekyung# *simpen ke laci brankas* . Supaya si hae dpt suasana baru mksdnya hehehe

    Soalnya emg ga tega liat si hae jd pemurung, muram n penyendiri gitu. Hikzhikzhikz😥

    Btw, itu si hyukjae kemasukan setan mana vye, knp selera makannya jd kya penduduk ethiopia yg disediain pizza 1 truk setelah seabad?? Apa dy lg program penggemukan buat ngalahin program diet OCD nya dedy corbuzier y wkwkwkkwk

    Btw lagi, itu nama eike nongol di atas y..aduhh vyee ntar klo q jd terkenal truz ngalahin ketenaran suju gimana coba..kan bs gawat dunia perkepopan buahahahaha #komen somplak#

    Mv y vye, komen q jd rada gaje, maklum saking bahagianya. Ff paporit akhirnya dilanjutin. Thank u vyeee~ jgn ngelariin diri y klo ntar q menghantui dirimu disegala macam sosmed buat reqst lanjutan ff lama kkkk#bukaFB,TWIT, BBM# *ketiknamasilvi*

    PS: q ga kecewa kok vye sm part ini, malah puas coz ini part bs bikin q jg ngerasa galau ga karuan. Oia ada bbrp typo n kalimat yg penempatannya kurang pas. Tp ga masalah lah. Truz itu bukan ‘menyerit’ vye, tp yg bnr ‘mengernyit’. *kritik dikit vye, jgn ngamuk y ^^v*

  6. Akhirnya ff ini publish lagi setelah sekian lama…aq sempet lupa sama cerita sebelumny hehehehe bang ikan galau bgt di part ini….makin seruuu ditunggu kelanjutannya…yang if this was a movie juga ditunggu loh kelanjutannya thor….semangattt

  7. aq kira hae mank pantas dpatn karma atas perlakuanny ma je selama ini

    g bgt kn klo je d tinda mlu mski akhirny hae jatuh hati ma dy

    mskpn nyesk aq ttp suka^^

  8. Yaaaaaa ini apa? setelah sekian lama, Donghae dibuat sakit hati? patah hati? oh tidak… Donghae-ku…
    Sebenernya sedikit lupa dengan cerita sebelumnya. Oh iya ada typo, dan kata yg tidak baku… but, over all ceritanya keren. Tapi aku punya firasat, kalo nanti yg akan menjadi mempelai prianya itu Donghae. Merujuk kepada kalimat; “Aku mengharapkanmu datang di hari itu nanti. jangan
    membuatku kecewa yang kedua kalinya. Dan aku harus pergi,
    Eunkwang sudah menunggu disana,”

    oh.. sempga Jaekyung gak jadi nikah sama si Eunkwang…

  9. astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga astaga
    gak terima Jaekyung nikah😥

  10. Annyeong aku readers baru😀 ffnya kapan lanjut? Aku ga nemu part selanjutnya😦 penasaran banget sama ceritanya, oia ini pemainnya jaekyung rainbow kan? Jaekyung rainbow marganya bukan han tapi kim itu juga kalau ga salah😀

  11. yahhh kok gitu sihh ???
    kok aku sekarang yang jadi nyesek ??
    what the…. !! ahhh kasian bang donge ku merasakan sakit hati untuk yg kedua kalinya
    ahhh kok gitu sihh aku gak terima !!
    bukan cuma donge yg jadi galau beraat tapi aku yg baca juga !! huuuuuaaaaaa !!!

  12. kasian banget nasib kamu bang
    akhirnya jaekyung mau menikah juga dengan eunkwang
    yahhh agaknya jaekyung terlalu putus asa dengan keputusannya
    sabar ye bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s