Fated To Love You [Part 1]

VYEJUNGMIN
Big Thank’s for Riri Chan eon yang ngasih judulnya hahahaha :* and specialy for my all lovely reader❤

***

Mataku menatap kearah depan dengan pandangan tidak percaya. Laki-laki itu duduk di hadapanku, dengan penampilan berbeda dari tujuh tahun yang lalu. Sekarang laki-laki yang aku benci dan tidak ingin ku lihat selama-lamanya ada di hadapanku.

Aku tidak tahu apakah ini yang di namakan takdir atau apa. Yang aku tahu sekarang hanya; do’aku yang tak di kabulkan oleh Tuhan yang ada di atas sana. Dengan terpaksa aku memberikan senyuman terbaikku selama ini. Dan dia masih dengan tampang kaget dan kemudian mengembalikan tampangnya menjadi datar.

“Selamat pagi, Direktur. Aku sekertaris baru anda.” Ucapku sambil membungkukan badanku sesopan mungkin. Hn, aku masih tidak percaya bahwa aku membungkuk seperti ini pada adik kelasku dulu.

Ah, iya, aku lupa kalau laki-laki yang ada di hadapanku ini adalah adik kelasku saat aku masih sekolah menengah atas. Kami berdua berbeda dua tahun. Aku di tingkat tiga dan dia di tingkat pertama.

“Iya, selamat pagi juga Han Jaekyung-ssi.” Ucapnya dengan suara dalam dan agak sangau. Tidak aneh sih, dia kan memang mempunyai suara sangau seperti dulu. Err—kalau boleh pengakuan aku dulu ini adalah penggemarnya. ingat dulu.

Yah, bagaimanapun dia di sekolah dulu mendapatkan sebutan: The Most Wanted Newbie Boy. Agak aneh sih memang, tapi itu lah sebutannya dulu yang di berikan oleh semua siswa permpuan di sekolah.

Setelah beberapa saat aku hanya berdiam diri di hadapannya, dan aku merasa tidak nyaman dengan tatapannya itu yang terus menerus menatapku. Ingin sekali aku membalas tatapannya itu dan mengatakan, “Dasar brengsek, apa yang kau lihat?” yah, itu yang ada di dalam pikiranku, tapi pikiranku yang lain menghalanginya.

Tidak lucu sekali kan kalau aku langsung di pecat di hari pertamaku bekerja karena berbicara tak sopan terhadapan atasanya. Jadi aku harus menahan kata-kata itu yang mungkin saja akan keluar. Jujur, dia menatapku seolah-olah aku sedang telanjang bulat disini. Hei, Direktur, kapan aku boleh keluar dan bekerja? Kenapa malah diam bengong seperti orang bodoh seperti itu? Dasar sialan.

“Han Jaekyung.” oh, lihat dia berucap dan memanggil namaku dengan intonasi yang seakan-akan aku adalah orang yang sudah lama hilang dari peradaban di bumi.

“Iya, Direktur!” dan aku tidak tahu pasti bagaimana bisa Direkturku ini langsung saja menubrukku dan hampir saja terjatuh kalau tidak di tahan olehnya.

Dengan sudut bibir terangkat, tanganku mencoba melepaskan diriku untuk lepas dari pelukannya. Entah disini siapa yang kuat dan siapa yang lemah, karena aku tidak bisa melepaskan pelukan sepihak yang di lakukan oleh Direkturku.

Dan aku berjengit ngeri saat aku merasakan hembusan napas dari si pemeluk ini. Kepalanya ia benamkan di lekukan leherku. Astaga! Aku semakin takut dengan kelakuannya seperti ini. Jadi sekali lagi aku berusaha untuk lepas dari pelukannya ini, tapi yah begitu tetap saja, tidak bisa lepas dari rengkuhannya ini yang sangat kuat.

Dan aku semakin takut saat kakiku tak merasakan menapak di lantai ruangan ini. Sekali lagi, astaga! Laki-laki ini gila, apa yang di lakukannya sekarang. Coba bayangkan sekarang dia malah mengangkat tubuhku dan kepalanya menyender di bagian dadaku yang membuat pipiku bersemu merah.

Ya ampun, aku kira selama tujuh tahun tidak bertemu dengannya, dia mungkin saja berubah dengan segala sifatnya dulu yang sangat mesum. Dan ini, dia melakukan hal ini kembali. Tanganku yang memang bebas dari rengkuhannya, kembali mencoba melepaskan diri darinya. Dan akhirnya aku terlepas juga.

“Noona!” ucapnya saat aku menjauh dari dirinya. Dia mendekatiku, dan tentu saja aku mundur kebelakang untuk menjaga jarak darinya. Aku masih tidak terima dengan apa yang di lakukannya tadi.

“Maaf, Direktur. Apakah aku bisa bekerja sekarang?” tanganku dengan siap menyentuh knop pintu ruangan milik atasannku.

“Noona, dengarkan aku, hari ini aku bebaskan kau dari semua pekerjaan kantor, dan hari ini kau cukup menemaniku di ruangan ini dan duduk di pangkuanku!” ujarnya kurang ajar yang membuatku siap melemparkan sepatu hak tinggiku. Tapi aku urungkan kembali, tidak ingin membuat masalah, tapi Direkturku ini selalu membuat api padaku dengan kata-kata tak sopan dan mesumnya.

“Sekali lagi maaf, Direktur. Ini adalah di jam kerja dan aku pribadi tidak ingin mengungkit masalah pribadi disini.” Ucapku dengan sesopan mungkin dan dengan menahan suaraku agar tak seketus biasanya.

“Tapi—”

“Maaf, Direktur. Apakah aku boleh bekerja?” ucapku menyelanya. Dia menundukan kepalanya, dan sedetik kemudian dia mendongakan kepalanya kembali, memamerkan senyuman manisnya—yang kutelan mentah-mentah kenyataan ini—dia kemudian tertawa tidak jelas yang membuatku menyeritkan keningku.

“Baiklah, hari ini kau cukup mengerjakan berkas-berkas yang ada di hatas mejaku.” Ucapnya sambil mengendikan dagunya kearah mejanya. Mataku menatap kearah mejanya dan mendapatkan dua tumpukan berkas yang memang tak bisa di bilang sedikit.

Aku mulai berjalan mendekat kearahnya, tidak lebih tepatnya kearah mejanya yang ada di belakang punggungnya. Aku meliriknya dari sudut mataku, takut-takut kalau tiba-tiba dia berbuat cabul padaku. Cukup saat aku dan dia satu sekolah saja.

Tanganku dengan cekatakan menumpuk kedua tumpukan tersebut menjadi satu tumpukan. Saat aku sedikit membungkukan badanku, di pantatku merasakan tangan seseorang sedang mengelusnya pelan, dan itu tentu saja membuatku tersentak kaget yang ternyata tak jauh-jauh kalau atasanku yang berbuat cabul.

Dengan sigap aku berbalik dan menampik tangannya agar jauh dari daerah pribadiku. Kutatap matanya dengan sorot mata tajam. Sialan, ingin sekali kata-kata seperti itu keluar dari dalam mulutku. Tapi tetap saja itu tidak bisa.

“Han Jaekyung, aku tidak bisa menghilangkan kebisaan saat di sekolah dulu.” Ucapnya dengan senyuman mesum yang ada di wajahnya.

Dengan sabar aku kembali membalikan tubuhku dan dengan cepat mengambil berkas yang belum sempat aku ambil dan sekarang sudah ada didalam pelukanku, dengan cepat aku berbalik dan langsung pergi keluar dari dalam ruangan atasanku ini.

Bisa-bisa aku menjadi gila kalau seperti ini. Hari pertama saja aku mendapatkan hal tak seronoh seperti tadi, apalagi nanti hari-hari berikutnya. Aku tidak bisa membayangkannya, kalau boleh jujur. Dan dalam hati aku masih tidak percaya bahwa tingkat kemesuman atasanku semakin meningkat saja.

Astaga! Lee Donghae aku harap untuk hari-hari kedepan kau tidak berbuat hal mesum seperti tadi. Do’aku yang ku panjatkan pada Tuhan yang di atas sana. Semoga saja doaku terkabulkan.

***

Kuregangkan tangakanku kedepan untuk melemaskan otot-otoku yang sedikit kaku. Mataku melirik kearah jam tanganku dan sekarang sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang dan itu artinya jam istirahat sebentar lagi.

Mataku menatap kearah berkas yang tinggal beberapa lagi akan aku selesaikan. Hn, pekerjaan ini benar-benar sangat melelahkan, yah, walaupun aku sudah pernah merasakannya kurang lebih satu tahun, dan setengah tahun aku menganggur berhenti, dan sekarang kembali bekerja menjadi sekertaris tapi tetap saja aku selalu menaruh perhatian pada pekerjaan ini.

Tanganku kembali mengambil berkas yang sudah tinggal tersisa beberapa, dan kembali mengambilnya untukku baca dan pahami. Dan jam dua belas lebih Sembilan menit akhirnya aku menyelesaikannya. Ku rapihkan berkas-berkas tersebut untuk ku berikan kembali pada Direkturku.

Setelah membereskannya dan bersiap-siap untuk mengangkatanya, seseorang berhenti di hadapan mejaku. Dan aku sontak kembali menaruh berkas tersebut di atas mejaku.

“Bisa saya bantu?” ucapku pada wanita yang ada di hadapanku. Kalau di lihat lebih seksama, wanita di hadapanku benar-benar sangat cantik. Yah, dengan rambut lurus berwarna coklat kehitaman, wajahnya agak dewasa, dengan make up yang tidak terlalu tebal di wajahnya. Bibirnya yang terlapisi oleh lipblam itu semakin membuatnya bertambah cantik.

Dalam hati aku berteriak merasakan iri terhadap wanita di hadapanku. Tapi dengan segala tolakan penuh, aku kembali bersyukur karena aku sendiri tidak kalah cantik dengan wanita di hadapannya. Err—maaf untuk tingkat kepercayaan diriku disini.

“Kau sekertaris baru kekasihku?” kekasihku? Oh, aku mengerti! Jadi wanita di hadapanku ini adalah kekasih dari si laki-laki mesum itu? Yang benar saja, bagaimana wanita ini bisa menerima pernyataan laki-laki bejad itu.

“Ne, aku sekertaris barunya.” Ucapku sambil membungkukan badaku agar sopan. Tapi setelah aku menegakan tubuhku, dia hanya menatapku dengan tatapan sebal. Dan itu membuatku menyerit bingung, ada apa dengan wanita ini?

“Ne, selama kau bekerja disini, jangan sekali-kali kau menggoda kekasihku.” Dan aku hampir tergelak keras kalau saja dia hilang dari hadapanku ini. Apa dia bilang tadi? Menggoda kekasihnya? Huh! Maaf-maaf saja, aku sendiri tidak pernah sekali pun memikirkan untuk menggodanya.

“Tenang saja, aku pasti tidak akan sekali pun menggoda kekasihmu. Dan mari ku antarkan kau keruang kekasihmu.” Ucapku sambil mengangkat berkas tersebut. Dan telingaku mendengar dia mendengus kesal. Rasakan itu, enak saja, dia pikir aku ini perempuan penggoda begitu? Memang sepasang kekasih itu memiliki otak yang sama.

Ku ketuk pelan ruangan Direkturku, dan aku mendengar sahutan dari dalam yang menuruhku untuk masuk saja, dan tentu saja aku menyingkir sebentar agar si kekasih atasanku untuk terlebih dahulu masuk dari pada diriku.

Setelah si wanita itu masuk, aku juga masuk berada di belakangnya. Dan aku melihat si wanita tersebut berlari kecil menuju kearah Direktur yang sedang serius menatap layar laptopnya dengan jari-jari tangannya yang dengan lincah memaikan keyboard laptopnya, dan si wanita itu menerjak atasku yang langsung terlonjak kaget.

“Astaga! Oh SeungAh kau mengagetkanku saja!” ucapnya sambil memeluk pinggang milik si SeungAh itu. Mataku hanya menatap malas pada kedua insan tersebut.

Mereka ini tidak sadar berada dimana gitu? Atau yang harus di sadarkan adalah si SeungAh ini. Benar-benar tak tahu malau sepertinya. Mataku masih tetap menatap mereka, sampai Direktur yang mungkin merasakan tatapanku padanya, kini ia menatapku dan tidak lama kemudian seringaian muncul di sudut bibirnya.

Sontak saja mendapat pandangan tersebut membuatku menunduk dan mengetuk pelan ujung hak tinggiku agar cepat-cepat menyelesaikan melaporkan tentang berkas yang aku baca dan kerjakan tadi, dan agar bisa memakan sesuatu yang bisa mengenyangkan perutku.

“Maaf mengganggu, aku sudah menyelesaikan semuanya.” Aku membungkuk pelan, saat dia juga menganggukan kepalanya. Tubuhku berisap untuk pergi meninggalkan ruangan ini, tentu saja kalau Direktur sudah memberikan anggukan kepala, berarti tidak ada lagi kan hal yang di perlukan?

Tapi berbeda dengan Direkturku ini, dia berdeham untuk menghentikan gerakanku dan aku kembali menghadap kearahnya. Dia berbicara pada kekasihnya menanyakan tentang apakah si kekasih sudah makan atau belum yang ternyata langsung dibalas gelengan sok imut dari sang kekasih. Dan aku yang menjadi pihak ketiga alias setan yang ada di hadapan mereka mendapatkan firasat yang sangat buruk sekali.

Dan benar sekali, aku mendapatkan tugas yang benar-benar mendapatkan pekerjaan tambahan dari sang Direktur muda ini.

“Tolong belikan, nasi kare, kimbab, bulgogi dan makanan lainnya. Di depan kantorku ini.” Suruhnya tanpa memandang kearah mataku. Dasar sial, kalau dia bukan atasanku atau apa aku sudah akan menonjoknya dengan kedua tanganku yang mulus ini.

“Ada lagi yang ingin di pesan?” tanyaku dengan suara sedatar mungkin. SeungAh menegakan tubuhnya dan mengatakan menginginkan minuman cola dan aku menganggukan kepalaku.

Aku berjalan kearah Direktur saat dia menyuruhku untuk mendekatinya. Dia memberikan beberapa uang lembar padaku dan langsung menerimanya dengan cepat. Sebenarnya aku tidak terima, aku disini menjadi pihak yang di rugikan, aku juga merasa lapar enak saja mereka itu.

Dan setelah menatap mereka cukup lama aku membalikan tubuhku dan keluar dari ruangan yang mempunyai aura menyebalkan menurutku. Ya Tuhan, dosa apa aku bisa melamar pekerjaan di kantor ini. Dan kenapa pula aku langsung di terimanya, tanpa adanya test satupun untukku, hanya sebuah interview yang tidak dengan Direktur disini?

Sepertinya dunia sedikit gila. Rasanya untuk di hari pertama sudah ada keinginan untuk mengundurkan diri menjadi sekertarisnya ini.

***

Setelah mengantarkan pesanan di ruangan Direktur dan aku langsung kena omelan oleh sang kekasih atasanku. Dasar tolol, kalau tidak mau lama-lama seharusnya dia mempunyai inisiatif untuk membeli makanan tersebut dan makan bersama dengan Direkturku itu.

Dengan keasabaran dan keteguhan hatiku, tanganku menutup pintu ruangannya dengan sangat pelan. Biasanya kalau sudah kesal seperti ini aku bisa saja membanting pintu sekasar apapun. Dasar brengsek, aku disini juga merasakan lapar. Tapi mau bagaimana lagi, jam istirahat sudah habis dan aku pasti mendapatkan beberapa berkas lagi.

Dan benar sekali, baru saja aku mengatakannya sudah ada tiga tumpukan berkas di atas mejaku. Kuhembuskan napasku sepelan mungkin, dan aku mulai berjalan kearah meja kerjaku untuk menyelesaikan ini semua, tak ku hiraukan perutku yang sedikit berbunyi. Biarlah sudah biasa juga aku telat makan seperti ini.

“Han Jaekyung?” kepalaku mendongak saat mendengar suara lembut di hadapanku, dan mataku menatap kearah perumpuan yang tadi memanggilku. Alis kiriku terangkat dan kemudian aku menganggukan kepalaku pelan untuk membalas sapaannya.

“Ne, saya Han Jaekyung.” jawabku setelah beberapa saat aku hanya diam saja.

“Wah, aku tidak menyangka sekertaris direktur sangat cantik, dan berbeda sekali dengan sekertaris-sekertaris sebelumnya.” Ucapnya sedikit antusias, aku menyerit bingung dengan sambutannya itu. “Ne, ne. maaf karena antusias seperti ini. Hehehe. Meja kerjaku ada disana,” tunjuknya kearah ujung sana dan aku mengangguk pelan, “dan oh, aku melihat kau belum makan saat jam istirahat tadi jadi aku memberikan ini padamu,” dia memberikan satu cup coklat hangat padaku dan aku kembali menganggukan kepalaku untuk mengucapkan terima kasih padanya.

“Gomawo.” Ucapku untuk lebih sopan dan dia memberikan senyuman ramah padaku. Hn, di hari pertama aku mendapatkan tingkah menyebalkan dari atasanku dan sekaligus mendapatkan keramahan dari rekan seruangaku ini.

***

Kulirik kearah pergelangan tanganku yang di lingkari oleh jam tanganku. Sekarang sudah jam tujuh malam. Hn, aku kira masih jam empat sore tahu-tahunya sudah malam seperti ini. Jari-jariku terus saja berkutat dengan keyboard komputer kantorku ini. Dan sepertinya di hari pertama aku harus lembur untuk menyelesaikannya.

Jariku berhenti bergerak dan langsung memijat pelipisku. Kepalaku cukup pusing karena sedari tadi aku menatap layar komputer ini. Kepalaku menoleh kearah kanan dan kiri, mendapatkan beberapa pegawai disini yang masih sama sepertiku; menatap layar laptop dan tangannya mengetik di atas keyboard.

Hn. Ini sungguh melelahkan, rasanya aku ingin sekali mengistirahatkan tubuhku yang sudah agak tegang karena dari siang sampai sekarang duduk terus, dan mataku sedikit mengantuk. Tanganku menutup mulutku yang sedikit menguap. Mataku tak sengaja menagkap cahaya dari arah ruangan Direkturku, heh aku kira atasanku sudah pulang sedari tadi, ternyata dia juga masih berada di kantor sampai sekarang.

Aku mengalihkan pandanganku dari arah ruangannya dan kembali fokus dengan layar di depanku. Hn, pekerjaan ini harus aku selesaikan sekarang, dan aku tidak mau bermalam di kantor seperti ini.

Tapi karena mataku sudah tidak kuat lagi untuk menatap kearah layar komputer ini akhirnya mataku perlahan-lahan tertutup dan setelahnya aku tidak tahu apa yang terjadi.

***

Ku kerjapkan kedua mataku saat merasakan pergerakan si sekitarku. Tanganku dengan pelan meraba-raba di sekitarku, dan telapak tanganku merasakan lembut. Mungkin saja aku sudah sampai di kamarku dan sekarang aku sedang ada di atas kasurku.

Tapi sepertinya itu tidak mungkin sekali, karena yang aku ingat sepertinya aku tadi tertidur di meja kerjaku dan dengan rasa mengantuk yang mengganjal di mataku, dengan segera aku bangun dari rebahanku di atas kasur ini.

Dan pertama kali aku melihat ruangan ini, aku merasa asing dengan ruangan ini. Dimana aku sekarang? Apa jangan-jangan aku di culik oleh orang gila? Tapi sepertinya itu tidak mungkin sekali, mana ada orang gila yang masuk kedalam kantor, tapi itu bisa saja sih.

Telingaku mendengar gemercik air yang jatuh keatas lantai. Kepalaku menoleh keasmping kanan yang langsung mendapatkan pintu yang aku yakini pintu kamar mandi. Aku bertanya-tanya dimana sekarang ini?

Dan mataku tidak sengaja melihat pigura foto yang sedikit besar di atas meja sana. Mulutku hanya bisa menganga lebar. Jadi sekarang aku sedang ada kamar Direkturku? Astaga! Dengan segera mataku menunduk untuk melihat apakah aku masih berpakaian lengkap atau tidak dan aku hanya bisa menghembuskan napas lega karena bajuku masih lengkap selengkapnya.

“Aku bukan orang mesum!” aku menoleh kearah sumber suara tersebut. Dia di sana, di ambang pintu kamar mandi sana. Tangannya sedang mengusap bagian kepalanya dengan handuk kecil itu. Tiba-tiba saja pipiku bersemu merah karena mataku tidak sengaja menatap bagian dadanya yang tak terbalut oleh sehelai benangpun.

“Kenapa malah diam?” dia berucap kembali dan melangkah kearah lemari pakaian yang ada beberapa langkah di hadapanku. Dan disini aku menundukan kepalaku, dia ini tidak mempunyai urat malu apa? Dia berniat untuk memakai pakaian di hadapanku seperti itu?

“Aku ingin pulang,” ucapku pelan dan ku lihat dia menghentikan gerakan memilih pakaiannya kemudian memaikai kaos hitam polosnya kemudian dia melepaskan handuknya yang langsung kututup kedua mataku. Tentu saja aku tidak mau mataku sampai ternoda oleh pandangan tak seronok di hadapanku.

“Dasar bodoh, aku sudah memakai celan dari dalam kamar mandi.” Dan aku langsung melirik kearahnya, dia hanya bisa tersenyum kearahku sambil menyampirkan handuknya di atas bahunya. “Aku tidak tahu alamat rumah atau apartementmu, jadi aku bawa saja kau ke apartementku ini.” Dia berjalan kearahku dan duduk di hadapanku.

Aku menahan napasku saat menghirup aroma tubuhnya yang sehabis mandi ini. Sial, dari dulu laki-laki ini selalu saja menggoda di depan mataku. “Hei, Noona, kau tau? Selama kurang lebih tujuh tahun tidak bertemu denganmu, dan sekarang aku bertemu denganmu lagi, ini membuatku berpikir ulang lagi untuk menolakmu seperti dulu itu.” Ucapnya yang membuatku mau tak mau mengingat kilasan-kilasan pada saat masa sekolah kami dulu.

Aku menutup mataku dan menundukan kepalaku agar aku tak melihat seringaian yang ada di wajahnya itu. Kalau kejadian itu bisa hadir di kepalaku, rasanya aku ingin sekali lari dari sini dan menenggelamkan diriku di sungai Han dan aku tidak akan menampakan diriku kembali. Kejadian saat itu benar-benar membuatku malu setengah mati dan kesal terhadap laki-laki didepanku.

Tubuhku bergidik ngeri saat daguku disetuh olehnya dan kepalanya maju kearahku yang langsung sontak aku memundurkan kepalaku untuk menghindar darinya.

“Hei, kenapa malah menolak?” tanyanya padaku sambil mengelus pipiku lembut.

“Lee Donghae!” dan oh, apakah aku baru saja mengatakan namanya sekarang? Kalau tidak salah sedari tadi aku selalu menyebutnya dengan sebutan laki-laki itu, direkturku dan terakhir adalah adik kelasku. Jadi dia namanya adalah Lee Donghae. laki-laki mesum.

“Ne, Noona aku tahu kau juga pasti merindukanku, kan?” ucapnya percaya diri. Aku mendengus pelan dan dengan kasar melepaskan tangannya yang ada di pipiku, “hei, itu tidak sangat sopan!” ucapnya langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat. Apa-apaan ini?

“Lepaskan aku.” Ucapku sambil melepeskan lenganya yang melingkar di pinggangku.

“Hei, dengar, aku masih belum puas untuk memelukmu seperti ini, saat di kantor juga kau menolak seperti ini.” Ucapnya di dekat telingaku yang membuatku semakin bergidik ngeri dengan tingkah lakuknya.

“Lee Donghae, lepaskan aku dan kenapa kau semakin mesum?” dia terkikik geli saat mendengar suaraku yang begitu ketus padanya.

“Kau masih tetap membenciku ya? padahal itukan sudah sangat berlalu, kira-kira tujuh tahun yang lalu.” Ucapnya sambil mempererat pelukannya padaku, kepalanya juga ia benamkan diantara lekukan leherku. “Aromamu tidak pernah berubah ternyata, padahal dulu itu pelukan pertama dan terakhir denganmu, dan hanya berkisar dua, tiga menit aku memelukmu. Tapi, hidungku sangat peka sekali karena dengan waktu sesingkat itu aku masih bisa menghirup dan sekarang aku masih ingat aromamu ini.” Aku masih tetap berusaha agar aku bisa terlepas dari dirinya tapi yah semakin aku membrontak semakin erat pelukannya terhadapku.

“Bisa diam?” ucapnya memerintahku, dan aku tidak mau mendengerkannya sampai ia melakukan sesuatu padaku, dia mendorong yang membuat diriku tertidur kembali, dan dia menindih tubuhku. Sekarang aku di bawahnya dan dia di atasku.

Tangannya menyingkirkan helaian rambutku yang ada di wajahku. “Apa aku pernah berkata bahwa kau ini semakin cantik saja selama tujuh tahun lalu itu?” ucapnya sedikit gombal yang membuat perutku sedikit melilit mendengarnya. Maksudku disini, aku muak dengan segala ucapannya itu.

“Menyingkirlah dari atas tubuhku, Direktur!” ucapku mendesis.

“Diamlah, ini sudah jam sebelas malam. Mari kita tidur.” Ujarnya sambil menyingkir dari atasku dan aku bisa bernapas lega karena dia sudah tidak menindih tubuhku lagi, jadi sekarang aku bisa pergi dari apartementnya.

Tapi perkiraanku salah ternyata, dia tidak melepaskanku begitu saja. Malah sekarang dia merapat kearahku dan memeluk pinggangku, menahanku agar aku tak lari dari dirinya.

“Kau menginap disini dan tidur di kamarku sampai besok. Dan kau tak usah pergi kekantor.” Aku menoleh dengan wajah bingungku.

“Maksudmu?” aku bertanya dan dia membuka matanya kembali.

“Aku meliburkanmu untuk besok.” Dia memutar bola matanya bosan, dengan tingkah seperti itu membuatku reflek mendengus begitu saja.

“Hei, aku tidak mau!” ucapku bersikeras dan mencoba melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Terserah kau saja, yang terpenting sekarang kau tidur saja dan aku sudah lelah berdebad denganmu. Aku butuh mengistirahatkan seluruh tubuhku. Berbicara denganmu selalu saja membuat ototku tegang semua.” Ucapnya menyebalkan. Dasar sialan, disini siapa coba yang menyalakan api begitu saja? Sudahlah aku juga sudah lelah dengan perdebatan ini.

Dan sepertinya aku harus menceritakan bagaimana kejadian dulu antara aku dengannya. Tapi aku begitu malu untuk menceritakan semuanya dan aku tidak ingin mengingat bagaimana dia begitu merendahkanku begitu saja. Rasanya kalau mengingat ucapannya dulu selalu membuatku ingin sekali menangis, tapi sudahlah walapun ucapannya membekas di hatiku itu hanya masa lalu.

“Kau tidak mau tidur ya?” dia membuka matanya kembali, menatapku dengan sorot memerintah agar aku segera tidur. Aku mengalihkan kearah lain tidak mau menatap kearah kedua matanya.

“Han Jaekyung kalau kau tidak segera tidur, aku tidak janji bahwa aku bisa saja menghabiskan malam ini bersamamu.” Ucapnya mengancam dan membuatku sedikit takut. Dasar sialan! Dia mengaku tidak mesum, tapi apa coba tadi ucapannya itu?

Baiklah, sepertinya untuk besok aku akan menceritakan bagaimana aku bisa membencinya. Untuk hari ini aku menuruti perintahnya, jadi, Oyasuminasai.

TO BE CONTINUED

Sebelumnya maad, karna buat ff chapternya kkk~ insyaallah bakaln nyampe 4 part aja wkwkwkw
Silvi Diah Septiyani, kamar tercinta, Desember 20, 2013, 03:48 pm

25 thoughts on “Fated To Love You [Part 1]

  1. Astaga astaga astaga, kenapa Lee Dong Dong jadi kayak ahjushi-ahjushi mesum gitu? Wkwkwk.. Epep yang tadi dia main elus-elus perut Jaekyung, sekarang di epep ini dia malah main elus-elus bokong??? ckckck..

  2. ya ampun, kenapa ikanku jd semesum itu,,
    yah kenapa cuma smpai part 4 ajah thor,, ya udah kalo gt sbgai gantinya author harus cepet lanjut ff if this was a movie ok^^

    • Iya dong, kasian kalo Donghae selalu di tindas mulu wkwkwkw di ibaratkan di tokoh anime Naruto, Donghae tuh bisa Neji, or Sasuke yah walaupun Hae ngga sedingin mereka tapi sedikit mesum wkwkw cuma keliatannya aja hahaha

  3. Donghae jadi mesum?! Aigoo kenapa bisa seperti itu ya.
    tapi menarik, apalagi karakter Donghae di sini beda dari ff yang lain. Penasaran sama kelanjutannya.

  4. Woaah unik ceritanya baru nemu ff dgn cast donghae yg umurnya lebih muda dari cast ceweknya but overall bagus ko ditunggu next part nya ya chingu😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s