If This Was a Movie [Part 12]

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer
If This Was a Movie by Taylor Swift

VYEJUNGMIN
***

Hye Mi memejamkan matanya, ia masih memikirkan pertemuannya dengan Donghae tiga minggu yang lalu. Sudah lama sekali, bukan? Entah bagaimana pertemuannya saat itu selalu saja memenuhi otaknya. Tangannya dengan pelan mengusap keningnnya. Hye Mi benar-benar pusing akan semuanya.

Ia bagun dari tidurnya, hari sudah mulai gelap dan ia baru sampai di kamarnya beberapa menit yang lalu. Hari ini Hye Mi mengikuti Donghae kekampus dan kemanapun Donghae pergi pasti Hye Mi mengikutinya. Sampai Hye Mi tahu dimana tempat tinggal Donghae yang baru. Untung saja saat ia mengikuti Donghae beberapa hari ini, ia tidak ketahuan oleh Donghae itu patut sekali di syukuri.

Hye Mi membuka syal yang melilit lehernya bulan November yang sudah mulai agak dingin. Oh, Hye Mi sebenarnya tidak menyukai musim dingin yang akan datang. Tentu saja seorang Park Hye Mi tidak menyukai jika ia harus memakai pakaian yang sangat tebal untuk ia pakai.

Setelah membuka syal dan meletakan di meja riasnya, ia beranjak berjalan kearah kamar mandi yang sebelumnnya ia mengambil baju handuknya di dalam lemari miliknya. Setelah itu ia masuk, menimbang-nimbang apakah ia harus berendam di air hangat atau mandi biasa saja. Sialan, kenapa hal terkecil ini saja harus menimbang-nimbang seperti ini? Seperti orang bodoh pikirnya dalam hati.

Perkataan Donghae tiga minggu yang lalu itu yang sebenarnya mengusik semua ketenangannya. Kalau saja Donghae tak mengucapkan seperti itu tentu saja tidak akan membuatnya seperti ini. Hye Mi memejamkan matanya, setelah berdebad keras dengan dirinya sendiri akhirnya ia memilih berendam.

“Aku menghamili Jaekyung saat kita mengakhiri hubungan kita waktu itu. kau ingat saat bulan april itu? Kalau kau ingat saat itu juga aku meniduri Jaekyung karena aku merasa bingung dengan apa yang kau tolak waktu itu. Kalau saja kau tak menolak apa yang aku ucapkan waktu itu, ini akan sangat di pastikan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.”

Rahang Hye Mi sedikit mengeras. Ia benar-benar tidak menyangka apa yang terjadi sebenarnya seperti ini. Donghae sekarang masih tetap menjadi Donghaenya yang dulu. Tidak ada perubahan sedikitpun darinya. Ia berubah hanya berpura-pura untuk meninggalkannya.

Matanya memanas, perlahan air matanya mengalir di kedua pipinya, “maafkan aku, saat itu kau tahu bahwa aku masih bingung dengan pilihanku saat itu. Tapi setelah aku mendengar kau akan menikah, rasanya aku benar-benar tahu bagaimana rasanya akan kehilangamu. Aku menyesal.”

“Tidak ada gunannya juga untuk menyesal..”

“Kau tidak bisa menceraikannya sekarang? Kita kembali seperti dulu lagi.”

“Aku tidak bisa. Maaf aku tidak bisa.”

“Donghae-ah, kau bercanda kan? Aku tahu kau tak menyukainya.”

“Kau salah, aku menyukainya saat pertama kali ia masuk kuliah di kampus kita itu.”

“Kau bohong, kan?”

“Aku tidak bohong, aku tulus apa yang aku ucapkan sekarang.”

Dan Hye Mi segera keluar dari dalam rendamannya. Ia tidak bisa melupakan apa yang di ucapkan Donghae. Sungguh ini membuatnya bingung dan pasti semua kebingungan ini harus di salahkan pada Jaekyung itu,

***

Jaekyung membuka pintu kamarnya, mendapatkan Donghae yang masih asik tidur di atas kasurnya. Jaekyung yang melihat Donghae masih terlelap hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan. Padahal setengah jam yang lalu Jaekyung sudah membangunkannya, dan Donghae berkata akan menyusulnya kedapur lima menit lagi. Tapi apa? Setelah setengah jam Donghae tak muncul-muncul dan yang ia lihat sekarang Donghae masih tidur.

“Donghae-ah! Cepat bangun! Kau tidak masuk kuliah? Bukankah tadi malam kau mengatakan akan berangkat kekampus pagi-pagi sekali? Ini sudah hampir pukul delapan pagi. Pemalas!” tangan Jaekyung terus saja mengguncang-guncang bahu Donghae agar segera bangun, tapi tetap saja Donghae tak segera membuka kedua matanya.

“PEMALAS!!!!” teriak Jaekyung dengan tangan yang menarik keras rambut Donghae yang membuat Donghae yang masih terlelap kini matanya terbuka lebar akibat rasa sakit yang menyerang kepalanya tiba-tiba.

“Jaekyung-ah, cepat lepas tanganmu! Rasanya rambutku akan lepas dari kulit kepalak—a ah, ini sangat, jangan menariknya keras-keras!!!”

“Kau mau bangun atau tidak?”

“Iya-iya aku akan bangun, tapi tolong lepaskan tangamu, ini sangat sakit!”

Jaekyung melepaskan rambut Donghae yang ada di genggamannya. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya. Kemudian Jaekyung berjalan kearah pintu kamarnya. Sebelum meninggalkan kamarnya, Jaekyung berbalik, menatap Donghae yang sedang mengusap kepalanya dengan tatap tajam.

Donghae yang merasakan tatapan dari Jaekyung dengan segera mendongakan wajahnya, dan Donghae segera mengalihkan tatapannya kearah lain untuk menghindari tatapan yang di berikan oleh Jaekyung.

“Ku tunggu kau tujuh menit di meja makan. Kalau lebih tujuh menit, malam ini kau tidur di luar rumah!” ucap Jaekyung sambil membanting pintu kamarnya.

Donghae yang melihat Jaekyung pergi dengan membanting pintu hanya bisa menghela napasnya yang tgang itu. Sejak dirinya di maafkan atas kesalahan yang meninggalkan Jaekyung saat itu, kini Jaekyung bertambah ganas dan dingin.

Apa Jaekyung tak melupakan semuanya saja? Itu kan sudah berlalu. Tapi kalau dirinya di posisi Jaekyung saat itu, mungkin saja dirinya akan seperti yang di lakukan oleh Jaekyung.

Donghae beranjak dari duduknya, berjalan kearah kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Akhir-akhir ini dirinya tidak bisa menikmati mandi berjam-jam lagi karena Jaekyung memberikan waktu untuk mandi, dan jika lebih dari waktu yang di tentukan dirinya pasti akan di jambak habis-habisan oleh Jaekyung.

Selain karena kesalahannya, mungkin karena factor kehamilan yang semakin mendekati melahirkan. Yah, perut Jaekyung sudah memasuki bulan delapan dan artinya mereka akan menjadi sepasang Ayah dan Ibu.

***

“Rapih sekali, mau kemana?” tanya Donghae menarik kursi, lalu mendudukinya. Tangannya mengambil roti yang di berikan oleh Jaekyung.

“Aku akan keluar sebentar hari ini.” Jawab Jaekyung sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya, lalu mengigitnya.

Donghae yang masih mengolesi rotinya, tiba-tiba berhenti. Keningnya berkerut mendengar jawaban Jaekyung. “Kemana?” tanyanya lagi. Donghae merasa ada yang aneh dengan Jaekyung.

“Jangan memandangku seperti itu. Aku hanya ingin keluar saja. Tidak usah khwatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Ucap Jaekyung saat melihat raut wajah Donghae yang tidak setuju dengan apa yang Jaekyung lakukan.

“Bukannya tidak boleh atau apa. Aku hanya khawatir saja.” Ucap Donghae sambil mengunyah roti yang sudah adah ada di atas piringnya.

“Maka dari itu aku akan mejaga diriku baik-baik!” Jaekyung menatap datar kearah Donghae yang masih asik dengan kunyahannya.

Setelah mengucapkan kata seperti itu, Jaekyung meletakan roti yang masih tersisa setengah. Tangannya mengambil gelas yang berisikan susu lalu dengan cepat meneguknya. Tangan lainnya mengambil tas yang ada di samping kursinya, matanya menatap mata Donghae yang hanya menatapnya.

“Tenang, aku hanya ingin berjalan-jalan saja!”

“Kemarinkan kau baru saja pergi jalan-jalan bersamaku.” Donghae terus berbicara agar Jaekyung membatalkan perginya.

“Itukan bersamamu. Hari ini aku ingin sendirian!” Jaekyung meletakan gelas yang tadi penuh dengan susu kini habis tak tersisakan. “Hari ini kau ada banyak sekali jadwal kuliah. Jadi cepat pergilah sebelum kau terlambat.”

“Kalau begitu kita pergi bersama. Dan jangan menolak!”

***

Jaekyung menyenderkan kepalanya di jedela mobil milik Donghae. laki-laki di sampingnya ini memang tidak bisa di bantah atau tidak bisa menerima penolakan. Tentu saja, saat ia mengacuhkan ucapan Donghae dan dirinya sudah berjalan enam langkah dari meja dapur, tiba-tiba dirinya di angkat oleh Donghae yang langsung memasukannya kedalam mobilnya.

Benar-benar menyebalkan sekali bukan? Kalau saja dirinya tidak berpakaian rapi terdahulu, sangat di pastikan kejadian seperti ini tidak akan ada, dan pasti dirinya akan pergi secara tenang tanpa adanya Donghae.

Tapi sebenarnya, semakin umur kehamilannya semakin tua, dirinya semakin ingin selalu berdekatan terus bersama Donghae. tapi mau bagaimana lagi, Donghae begitu sibuk dengan kuliahnya. Cukup tugas kuliahnya saja yang menyiksa Donghae, bukannya ditambah dengan tingkah lakunya yang merepotkan ini.

Yah, jadi Han Jaekyung tidak ingin merepotkan seorang Lee Donghae, jadi dengan sangat keyakinan bahwa Jaekyung bisa pergi sendirian tanpa adanya Donghae di sampingnya. Lagipula Donghae bukan public figure, bukan? Jadi kenapa harus takut. Terkecuali Lee Donghae itu adalah public figure yang mempunyai banyak fansnya, jadi dirinya takut kalau fansgirl Donghae akan datang dan menyerangnya membabi buta.

Jaekyung yang memikirkan Donghae seorang idola, dan mempunyai fansgirl yang sangat banyak dan kejam itu hanya bisa membuat Jaekyung meringis ngeri dan badannya bergidik ngeri membayangkannya.

Kepala Jaekyung dengan cepat menggeleng-geleng apa yang sedang di pikirannya tadi. Pikiran itu benar-benar tidak bermanfaat sekali. Oh, dirinya lupa kalau Donghae memang seorang idola di kampusnya. Saat Donghae berdekatan dengan dirinya saja banyak sekali gadis-gadis yang memandangnya tak suka bahkan benci jika ia berjalan di koridor saat tidak bersama kedua temannya.

Lagi pula untuk apa pula memberikan tatapan seperti itu pada Jaekyung? tentu saja Jaekyung tidak akan perduli dengan semeuanya. Kejadian-kejadian seperti itu selalu menggelikan jika untuk di ingat lagi.

***

Jaekyung mendudukan dirinya di deretan kursi halte. Setelah turun dari mobil Donghae di depan toko buku, Jaekyung langsung masuk kedalamnya. Dan ia menghabiskan beberapa jam untuk melihat-lihat buku yang mungkin saja menarik perhatiannya.

Setelah dari toko buku, Jaekyung juga Hari ini berniat akan pergi untuk memeriksa kandungannya. Ia tidak ingin merepotkan Donghae yang sedang sibuk itu. Atau ia kapok jika ia akan di tinggalkan lagi oleh Donghae.

Yah, tentu saja. Itu pengalaman yang paling menyakitkan baginya. Padahal waktu itukan Donghae memang sudah bernjanji untuk menemaninya untuk memeriksa kandungnnya, tapi apa faktanya? Ternyata pria itu meninggalkannya di rumah sakit sendirian.

Dan, oh! Tolong lupakan ingatan menyebalkan itu! Bisik inernya. Matanya terpejam menikmati angin musim gugur yang sedikit menyengat kulitnya. Padahal ia sudah memakai mantel yang cukup tebal dan syal yang melilit lehernya, tapi tetap saja dingin.

Jaekyung beranjak dari duduknya saat bus tujuannya berhenti di hadapannya. Isi kepalanya memikirkan kemana ia akan pergi setelah memeriksa kandungannya. Mungkin berkeliling Seoul atau kemana saja. Pikirnya dengan senyum yang mengambang di bibirnya.

Tangannya menyentuh perut buncitnya, kalau boleh dibilang Jaekyung sudah tak sabar untuk menunggu kedua buah hatinya. Kedua buah hatinya? Tentu saja, ternyata ucapan Donghae yang menginginkan anaknya kembar ternyata terkabulkan juga. Dan Jaekyung sendiri belum memberitahukan kepada Donghae, Jaekyung ingin menjadikannya kejutan untuk Donghae saat ia melahirkan nanti.

***

Setelah menunggu hampir satu jam lebih, akhirnya ia sudah selesai memeriksa kandungannya. Setelah selesai memeriksa bagaimana keadaan mereka yang ada di dalam perutnya, Jaekyung pergi berjalan-jalan di sekitar trotoar jalan, untuk melihat beberapa orang yang sedang sibuk berjalan dan duduk di kursi.

Mata Jaekyung tersenyum saat melihat kafe yang ada di depannya, pas sekali saat ini. Karena perutnya sudah mulai lapar lagi, padahal Jaekyung sudah meminum satu susu kotak khusus ibu hamil. Tapi tetap saja Jaekyung merasa lapar.

Dengan senyum yang terkembang di wajahnya, Jaekyung berjalan kearah kafe tersebut. Sesekali tangannya merapihkan helaian rambutnya yang terkena hembusan angin. Dalam hati ia menyesal tak menguncir rambutnya saja tadi. Kalau rambutnya di kuncirkan Jaekyung tak usah repot untuk merapihkan rambutnya ini.

Langkah Jaekyung berhenti ssesaat, Jaekyung menyipitkan matanya saat matanya tak sengaja melihat orang yang sedang melambai-lambaikan tangannya pada dirinya. Tidak, tidak, mungkin saja ada orang yang ada di belakangnnya.

Tapi saat ia menolehkan kebelakang tidak ada siapapun dibelakangnya. Selain kebelakang Jaekyung menoleh kekanan dan kekiri. Tapi nihil tidak ada, hanya ada dirinya sendiri. Jaekyung menelengkan kepalanya kekanan saat melihat laki-laki itu masih saja melambaikan tangannya kearahnya.

Dan sepertinya Jaekyung merasa tak asing dengan wajah laki-laki itu? Siapa dia? Tanya Jaekyung pada dirinya sendiri. Jaekyung melupakan niatnya untuk pergi kearah kafe yang ada di depannya yang diseberang sana. Laki-laki itu baru saja keluar dari dalam kafe kalau Jaekyung tak salah lihat tadi.

Laki-laki itu berjalan kearahnya, dan Jaekyung masih saja diam. Bukannya pergi meninggalkan tempat ia berdiri atau pergi keawal tujuannya, kini Jaekyung seperti orang bodoh yang hanya diam saja. Saat laki-laki itu semakin dekat kearahnya, mata Jaekyung kini membesar tahu bahwa siapa laki-laki itu.

Sialan! Umpat Jaekyung dalam hati. Dengan cepat Jaekyung membalikan tubuhnya. Memegang erat tas yang menggantung di bahunya. Kepalanya menoleh kebelakang dan melihat laki-laki itu kini berlari untuk mengejar dirinya.

“Han Jaekyung! berhenti!” teriak laki-laki itu yang membuat Jaekyung terus saja berjalan. Tangan satunya memegang perutnya. Nafasnya tersengal-sengal padahal ia baru berlari sebentar.

“Hei, berhenti!” laki-laki itu muncul didepannya, membuat dirinya menahan napasnya. “Hei, kenapa kau malah pergi begitu saja?” tanya laki-laki itu sambil memegang kedua bahu Jaekyung.

Dengan cepat Jaekyung melengoskan wajahnya, tidak ingin menatap wajah laki-laki brengsek didepannya. Oh, iya laki-laki brengsek yang pernah menyakitinya saat ia baru mengenal cinta, dan tentu saja laki-laki didepannya ini adalah cinta pertamanya.

“Sudah lama bukan kita tak pernah bertemu?” ucap lagi laki-laki itu membuat Jaekyung ingin sekali menjambak rambutnya. Tangan laki-laki itu melepaskan kedua bahu Jaekyung, dan kini beralih kearah pergelangan Jaekyung untuk memegangnya, lalu mereka berjalan menuju kearah kafe yang ada didepannya.

***

Jaekyung menghembuskan napasnya pelan. Matanya terus saja menatap keatah pandangan yang ada diluar. Ia sudah bosan duduk bersama laki-laki brengsek ini. Mood hari ini yang awalnya cerah, kini mendung tak kauran. Kalau saja laki-laki ini tak muncul, mungkin ia akan menikmati makanan yang ada di kafe ini. Tapi apa boleh buat laki-laki ini muncul begitu tiba-tiba di hadapannya.

Merasakan kalau dirinya di perhatikan begitu intens, dengan cepat Jaekyung menolehkan kepalanya kesamping. Jaekyung melihat mata laki-laki brengsek ini terus saja menatap kearah perutnya dengan mata sedikit membesar.

“Apa?” tanya Jaekyung cukup keras dan sarkatis membuat laki-laki itu terlonjak kaget.

“O—oh. Perutmu membesar karena didalamnya ada—kau tau lah apa yang kumaksud.” Jawab laki-laki itu gugup, tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya yang Jaekyung yakini itu tidak gatal sama sekali.

“Kalau memang benar kenapa?” tantang Jaekyung yang membuat mata laki-laki itu semakin membesar.

“Astaga! Kita tidak bertemu selama lima tahun? Atau enam tahun? Ah, aku tidak perduli itu. Hanya saja, aku benar-benar tak menyangka kau sudah hamil.”

“Lalu urusanmu apa?”

“Ah, padahal aku kembali lagi kekorea ingin kembali lagi bersamamu, dan memperbaiki hubungan kita yang buruk saat masa-masa sekolah menengah pertama dulu.” Jaekyung memandang wajah laki-laki itu dengan datar. Kedua telinganya tetap mendengarkan apa yang diucapkannya.

Jaekyung tertawa pelan, “astaga, Bang Yong Guk!!!”

Dan yah, laki-laki itu adalah cinta pertama Jaekyung saat di masa sekolah menengah pertamanya. Jujur, Jaekyung tak menyangkan bila ia akan bertemu dengan Yong Guk disini, dan dalam keadaan yang seperti ini. Dalam hati Jaekyung terus saja tertawa melihat takdir yang mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya dulu.

“Padahal dulu kau memanggilku dengan sebutan Oppa, bukan?” Jaekyung tertawa pelan mendengar ucapan Yong Guk. Tangannya dengan pelan meraih cangkir yang berisikan the melati lalu Jaekyung meneguknya dengan pelan.

“Itu dulu. Dan dulu itu tidak ada artinya untuk sekarang.” Kini kebalikannya Yong Guk yang tertawa pelan mendengar ucapan Jaekyung.

“Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang aku perlakukan padamu dulu. Kau tahu aku menyesal.” Yong Guk menundukan kepalanya. Tidak berani untuk mendongak menatap kearah Jaekyung yang hanya menatapnya dengan pandagan yang datar, dan dirinya takut akan jika dirinya disiram kembali oleh Jaekyung dengan jus seperti dulu.

“Tidak ada manfaatnya juga aku tidak memaafkanmu. Hanya saja, kau tahu? Luka itu benar-benar sangat dalam!” ucap Jaekyung datar.

“Aku tahu. Dan aku merasakannya saat kau benar-benar jauh dari diriku.” Ucap Yong Guk pelan, Jaekyung mengalihkan tatapannya yang awalnya hanya memandang cangkir didepannya kini kearah pemandangan yang di luar jendela transparan.

“Sudahlah aku malas jika mengungkit masa lalu yang tak aku sukai. Kalau begitu aku akan pulang!” Jaekyung bersiap-siap mengambil tasnya lalu beranjak dari duduknya.

Yong Guk yang melihat Jaekyung akan pergi begitu saja dengan cepat pula Yong Guk menahan Jaekyung agar tidak pergi dengan cara memegang pergelangan tangannya. Yong Guk dengan sangat pasti kalau Jaekyung sekarang sedang mendengus kesal karena pergelangan tangannya di sendtuh oleh dirinya.

“Dudukklah. Kau tak merindukanku, ya? seharunya selama lima tahun tidak bertemu itu kau harusnya merindukanku. Hm, sekarang sudah tidak sebebas dulu lagi yang mungkin kau akan bersenang-senang di luar sana bersama teman-temanmu.” Ucap Yong Guk yang membuat ujung bibirnya berkedut. Ternyata sifat ceplas ceplosnya masih tetap ada.

Jaekyung dengan kasar menaruh lagi tasnya di atas meja dengan kasar. ‘Sabar aku sedang hamil.’ Ucap Jaekyung dalam hatinya.

Keduanya diam. Tak ada satu perkataanpun yang keluar dari mulut mereka berdua. Kalau Yong Guk sendiri ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakannya pada Jaekyung. Tentu saja mengingat perlakuannya dulu terhadap Jaekyung menjadikannya seperti ini.

“Canggung sekali.” Ucap Jaekyung sambil meletakan cangkir di atas meja. Matanya menatap bosan kedepan. Niatan awal yang hanya akan makan saja kini sudah hilang.

“Ngomong-ngomong siapa suamimu?” tanya Yong Guk akhirnya menemukan topik pembicaraan yang tidak membuatnya diam seperti tadi.

“Kau mau tahu? Sepertinya itu tidak terlalu penting memberitahukannya padamu.” Jawab Jaekyung yang membuat Yong Guk merasa kesal.

“Astaga dingin sekali. Seperti cuacana hari ini.” Balas Yong Guk menyindir. Tangannya mengambil cangkir kopinya lalu menyesapnya dengan pelan.

“Dan kalau tidak salah ingat kau kan akan menetap di amerika seumur hidup. Lalu sedang apa kau ada di korea?” Yong Guk mendelik, dengan cepat meletakan cangkir kopinya.

“Memangnya tidak boleh aku kembali ke negaraku sendiri?” kepalanya ia majukan kedepan membuat Jaekyung yang sedang menatap kosong depannya langsung memundurkan kepalanya.

“Tidak usah memajukan kepala juga! Aku kan hanya bertanya, memangnya tidak boleh?” balas Jaekyung tak terima.

“Dari nada bicaramu itu menunjukan bahwa kau itu tidak suka kalau aku kembali ke negaraku sendiri.” Yong Guk melirik Jaekyung tidak suka.

“Hm, benar. Seperti apa yang kau katakana tadi.” Ucap Jaekyung sambil menyesap minumannya.

“Kau jahat sekali.” Balas Yong Guk sambil melirik kearah Jaekyung yang memandang kearah luar jendela.

“Kau menelaktirku, kan? Kalau begitu bayari aku makan, aku lapar, minuman ini saja tidak cukup.” Jaekyung berucap tiba-tiba yang membuat Yong Guk memandang Jaekyung menjadi tersentak.

“Ngomong-ngomong sudah berapa bulan? Kelihatan sangat besar sekali,” Jaekyung diam dan Yong Guk bertanya dengan sangat hati-hati, dan berusaha untuk mengalihkan topic pembicaraan. Yong Guk tak menyangka jika Jaekyung bisa sarkatis seperti ini. Kalau di pikir-pikir lagi, Jaekyung kan memang sarkatis dari dulu.

Tapi sarkatis Jaekyung yang dulu dan sekarang memang sangat berbeda sekali. Kalau dulu itu yah biasa saja tidak seperti ini. Tidak juga sih, mungkin akibat kehamilannya yang semakin mendekati melahirkan, pikir Yong Guk.

“Delapan bulan. Kata Dokter, mereka akan lahir kedunia ini mungkin pertengahan bulan atau, mereka juga tidak tahu. Bisa saja kan hari ini mereka keluar dari dalam perutku?” Yong Guk memandang Jaekyung tidak percaya, bagaimana mungkin seorang ibu mengatakan seperti itu dengan datarnya? Biasanya setiap wanita yang sedang mengandung atau menanti kehadiran buah hatinya, mereka akan senangnya melebihi apapun, apa lagi Jaekyung akan melahirkan dua sekaligus. Seharusnya dia senang sekali kan?

Satu tahun menjadi pasangan Jaekyung, Yong Guk paham sekali dengan raut wajah Jaekyung Dan di mata Yong Guk saat melihat kearah manik mata Jaekyung, Yong Guk merasakan akan kesedihan yang ada di matanya.

Yong Guk hanya diam tidak mengatakan apapun pada Jaekyung. kalau sudah seperti ini, Jaekyung tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Tabiat seorang Han Jaekyung, kalau sudah kesal ataupun marah pasti akan menyendiri dan tidak akan pernah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain. Dan lagi pula, siapa dirinya bagi Jaekyung?

***

Ketika Jaekyung memasuki halaman rumahnya, Jaekyung hanya bisa menyeritkan keningnya saja. Pasalnya kenapa mobil Donghae ada di dalam bagasi rumahnya pada jam empat sore ini? Biasanya Donghae sampai di rumah itu kira-kira jam lima, atau setengah enam sore. Kalaupun sudah sampai di rumah lebih cepat, Jaekyung yakin pasti ada masalah dengan Donghae.

Seperti beberapa hari yang lalu saat Donghae pulang lebih awal karena Donghae demam akibat tidur terlalu larut karena mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Dan disini Jaekyung mulai berpikiran yang tidak-tidak, mungkin saja Donghae terkena demam lagi.

Dengan tergesa Jaekyung berjalan kearah pintu rumahnya, setelah masuk dan mengunci pintu, Jaekyung kini di kagetkan oleh sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah. Ini membuat Jaekyung merasa semakin curiga pada Donghae.

Jadi ini kesimpulan bahwa Lee Donghae membawa seorang wanita kedalam rumahnya, jadi Lee Donghae berniat untuk berselingkuh di belakangnya? Ah, lagi pula kalaupun Lee Donghae berselingkuh di belakangnya, memangnya dirinya ini mempunyai hak apa? Dirinya hanya seorang istri yang di jadikan status saja, kan?

Jaekyung dengan pelan melangkah kearah kamarnya, tangannya memegang perut yang membuncit besar karena di dalamnya ada kedua janin yang satu bulan lagi akan lahir kedunia, melihat berbagai warna yang ada di dunia ini. Telinganya mendengar suara yang menurutnya sangat aneh dan semakin ia dekat kearah kamarnya, suara tersebut semakin terdengar jelas di telinganya.

Suara desahan. Laki-laki dan perempuan.

Dengan hembusan napas pelan, Jaekyung menyentuh knop pintu kamarnya, membukanya dengan pelan. Setelah terlihat celah sedikit, napas Jaekyung hanya bisa tercekat melihat apa yang ada di dalam kamarnya, telinganya dengan jelas mendengar suara yang berasal dari kamarnya itu.

Tubuhnya diam mematung, tidak bisa bergerak sedikitpun, tidak tahu harus bagaimana, apakah harus masuk kedalam, atau malah keluar saja dari dalam rumah ini, meninggalkan semuanya. Napasnya semakin tercekat saat melihat wajah wanita itu. Ternyata dia adalah kekasih Lee Donghae. Jaekyung ingin menangis sekarang, tapi sepertinya itu tidak ada gunanya sama sekali.

Dengan sangat hati-hati sekali Jaekyung menutup pintu kamaranya. Tangan kanannya langsung membekap mulutnya yang mengeluarkan suara isakan, sedangkan tangan kirinya ia letakan di atas perutnya mengelus-elus agar mereka yang ada di dalamnya tetap tenang.

Jaekyung memejamkan matanya, berusaha menghilangkan bayangan dimana wajah Donghae yang terlihat sedikit puas dengan apa yang ia lakukan sekarang. Telinganya berusaha ia tulikan, berpura-pura tidak mendengar suara teriakan kepuasan yang di keluarkan oleh Hye Mi.

Dengan langkah sedikit tergesa Jaekyung langsung keluar dari dalam rumahnya, tidak lupa dia juga menutup pintunya dengan sangat hati-hati sekali agar mereka tidak mendengar suara pintu terbuka ataupun tertutup.

Jaekyung berjalan, terus berjalan. Entah ia akan pergi kemana, yang ia tahu ia ingin pergi meninggalkan semuanya yang membuatnya sakit hati seperti ini. Ini lebih menyakitkan di bandingkan saat Yong Guk mencampakannya dulu. Ini melebihi bagaimana Yong Guk menghancurkan hatinya. Kali ini Donghae yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Jadi ini adalah alasan bagaimana seorang Han Jaekyung tidak suka dengan sebuah hubungan yang dinamakan cinta.

***

Donghae membuka pintu rumahnya, setelah mengantarkan Hye Mi keapartemennya, ia langsung pulang kerumah. Donghae mengacak-acak rambutnya, mengingat apa yang ia lakukan dengan Hye Mi sore tadi. Dia merasa sangat bersalah dengan Jaekyung. tidak, memang dirinya sangat bersalah sekali pada Jaekyung.

Hidung Donghae menangkap harum masakan yang seperti baru saja di angkat dari atas wajan. Dengan cepat Donghae langsung kearah dapurnya. Disana ia mendapatkan istrinya yang sedang memasak. Dia masih memakai pakaian yang ia kenakan pagi tadi. Baju terusan dengan warna biru muda. Baju itu sangat cocok sekali dengan Jaekyung.

Donghae hanya bisa diam berdiri di ambang pintu dapur tersebut. Ia tidak berani untuk menampakan wajahnya di depan istrinya itu. Walaupun tidak di ketahui oleh Jaekyung, Donghae tetap saja merasa sangat malu dan amat sangat bersalah pada Jaekyung. rasanya ia ingin menghilang dari peradapan muka bumi ini.

Menghembuskan napasnya pelan, Donghae menuju kearah Jaekyung yang masih sibuk dengan acara masaknya. Perempuan itu tidak menyadari kehadirannya, saat sudah hampir menyentuh pundak milik istrinya. Tapi, tiba-tiba saja Jaekyung menoleh kearah Donghae yang langsung membuat Jaekyung mundur beberapa langkah.

“Hn, kau mengagetkanku saja, Donghae-ah!” ucap Jaekyung sambil meletakan piring yang sudah terisi makanan tersebut keatas meja makan. “Kau baru pulang, kan? Sebaiknya kau segera membersihkan tubuhmu dulu, setelah itu kau bisa makan bersamaku.” Ujarnya sambil melangkah kearah kulkas. Donghae yang melihat Jaekyung seperti sedang senang itu hanya bisa meringis di dalam hatinya.

Dirinya bukan laki-laki baik. Seharusnya Han Jaekyung tidak dengan dirinya, dia harus bersama dengan orang yang baik dan mencintainya. Bukan seperti dirinya, membuat seorang Han Jaekyung menjadi istrinya hanya karena sebuah kecelakaan yang membuat Han Jaekyung berbadan dua seperti ini.

Donghae menundukan kepalanya. Tidak berani untuk melihat kepala Jaekyung yang bergerak pelan sambil menyandungkan sebuah lagu favoritnya. Astaga! Dirinya bukan laki-laki yang pantas dengan Han Jaekyung.

“Kenapa hanya diam saja? Cepat sana masuk kedalam kamar, aku tahu kau pasti lelah sekali dengan kegiatanmu di kampus kan?” melihat tingkah Jaekyung yang tiba-tiba menjadi sangat perhatian ini membuat Donghae mengerutkan keningnya. Pasalnya Jaekyung setiap hari selalu kasar terhadapnya. Tapi sekarang dia sedikit berbeda.

“Seperti bukan dirimu.” Ucap Donghae sepontan yang membuat Jaekyung berhanti melakukan kegiatan menuangkan susu kedalam gelasnya.

“Benarkah?” tanya Jaekyung sambil membawa susu tersebut kedekat bibirnya. Kemudian ia meminumnya sampai habis.

“Kau ramah, perhatian dan agak berbeda.” Jaekyung langsung tergelak pelan dengan ucapan Donghae. apa yang di pikirkan oleh laki-laki yang ada di depannya itu.

“Hmm.. mungkin ini kemauan anak kita yang ada di dalam perutku ini. Dia mungkin tidak ingin menjadi seorang sepertiku ini. Kau tahu kan, aku dingin, tidak berpedulian, tidak suka bersifat manja, apapun deh. Sepertinya dia perempua, dia menyukaimu.” Donghae hanya bisa diam setelah mendengar ucapannya. Dirinya sangat bersalah.

Tidak menanggapi ucapan Jaekyung, Donghae langsung menuju karah kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Donghae menghembuskan napasnya pelan. Merasa lega saat ia ingat ia sudah membereskan kamarnya yang awalnya berantakan kini menjadi rapi. Sprainya sudah di ganti terlebih dahulu karena kalau tidak bisa-bisa ia ketahuan oleh Jaekyung.

Menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh menit akhirnya Donghae sudah sampai di meja makannya, matanya memandang wajah Jaekyung yang sedang mengotak-atik ponselnya. Seperti tidak menyadari seseorang sudah duduk di hadapannya.

Donghae berdehem pelan, ingin membuat Jaekyung menyadari dirinya sudah ada di hadapannya. Deheman pelan tersebut berhasil ia lakukan, karena Han Jaekyung langsung mendongakan kepalanya dan menyimpan ponselnya di samping kirinya.

Baru saja mengambil sebuah piring, tangan Jaekyung langsung mengambil alih piring tersebut. Mata Donghae masih tidak percaya apa yang di lihatnya. Malam ini Jaekyung agak terlihat aneh sekali di matanya, tapi mengingat perkataan Jaekyung tadi bahwa ia berperlakuan seperti ini akibat buah hatinya.

Menyebutkan buah hatinya saja membuat hati Donghae berdebar-debar pelan. Ia tidak sabar ingin melihat bagaimana kelahiran anakanya. Donghae membayangkan bagaimana rupanya, apakah seperti Jaekyung atau dirinya. Yang ia inginkan semoga sifat Jaekyung tidak turun kepada anaknya nanti.

Anaknya? Yang benar saja, mengingat bagaimana ia melakukan hal nista dengan sang mantan kekasih didalam kamar ia dan istrinya. Seharusnya dirinya tidak pantas menyebut dirinya sebagai ayah dari anaknya yang akan lahir nanti.

Setelah menerima piring dari Jaekyung, Donghae langsung menyantap makanan yang di masak oleh Jaekyung. entah kenapa makanan yang dibuat oleh Jaekyung malam ini benar-benar sangat nikmat. Jadi dirinya tidak sadar bahwa sudah menambah makannya dua kali pada Jaekyung.

Setelah makan dan membantu Jaekyung membersihkan semua piring kotor tersebut, kini mereka berdua sudah duduk berdampingan di atas sofa empuk berwarna merah marun. Di hadapannya terdapat beberapa cemilan dan dua gelas susu yang masih mengepulkan asap.

Mata Donghae mantap kearah layar tv yang ada di hadapannya. Acara musik, acara favorit Jaekyung. sesekali juga matanya melirik kearah Jaekyung yang hanya diam saja setelah lima menit mereka duduk berdampingan.

Ini tidak biasanya, pasalnya Jaekyung akan sedikit tersenyum atapun bersemu melihat idolanya yang tampil di layar kaca tersebut. Tapi Jaekyung hanya diam saja saat idolanya tampil membawa lagu andalan mereka yang menjadi comeback mereka malam ini.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae setelah mendengar helaan napas Jaekyung.

“Hm, aku tidak apa-apa.” Balas Jaekyung singkat. Tangannya mengambil susu yang ada di hadapannya, menyesapnya dengan pelan lalu ia letakan kembali keatas meja.

“Kau tadi pulang jam berapa?” tanya Donghae kembali, kali ini sambil menghadap kearah Jaekyung yang hanya menampilkan wajah yang datar.

“Sebenarnya aku berniat akan sampai di rumah jam empat sore, tapi mengingat bahwa bahan makan di kulkas mulai habis jadi aku pergi ke super market terlebih dahulu.” Balasnya sambil melirik kearah Donghae yang hanya diam membatu. Matanya menatap kosong kearah Jaekyung yang kini menampilkan sebuah senyuman yang belum pernah di lihat oleh dirinya.

Sebuah senyuman yang mengerikan, meremehkan, kesedihan, dan semuanya berkumpul disana. Entahlah itu membuat Donghae sedikit takut, dan dia merasakan firasatnya sedikit tidak enak.

Donghae tersadar saat merasakan Jaekyung beranjak dari duduknya. Dengan segara tangan Donghae langsung menahan Jaekyung pergi dari dirinya. Saat wajah Jaekyung menoleh, Donghae hanya bisa tersentak saat melihat wajah dingin nan datar milik Jaekyung, membuat tangannya terlepas dari pergelangan tangan Jaekyung.

“Aku akan tidur. Sekarang!” ucapnya pelan yang kemudian Han Jaekyung pergi meninggalkannya sendirian di ruang tengan rumahnya.

Entah kenapa hatinya sedikit gelisah saat Jaekyung meninggalkannya begitu saja. Dan perasaannya mengatakan bahwa untuk keesokan harinya akan semakin rumit dari yang ia alami sekarang atau beberapa minggu yang lalu.

TO BE CONTINUED

Aku merasa frustasi sama fict ini. Ya ampun beneran ini berhenti di tengah jalan, aku yakin ini beneran aneh banget. Ngga nyambung, bikin bosen dan emg bosen deh hahhahaha ngebut bikin buat nyelesaiin part ini beberapa jam. Hiks hiks ngerasa gagal yakin. Entah aku bingung lagi kalo bikin fict sama pov orang ketiga, biasanya pake orang pertama aja. Ya ampunnnnn ya udah deh kalo emg aneh n ngga dapet feel bilang aja yah hikseuuu ini datar sekaliiiiiii

Salam
Silvi Diah Septiyani, Senin, 03 Maret 2014, 22.25 pm

74 thoughts on “If This Was a Movie [Part 12]

  1. ya ampun nyesek banget kalo jadi jaekyung sumpah sakit banget pasti rasanya pengen gw gethok kepalanya donghae ma hye mi

  2. Itu uda Keterlaluan donghae-ya setidaknya kalo bukan jaekyung beratlah kau sama dua calon baby mu hiks..nappeun donghae
    jaekyung semangat!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s