Fated To Love You [Part 2]

Vyejungmin

For all, maaf buat keterlambatan saya yang ngepost ini ff. hehehe gomen ne!!

Ah, ini  flashback yah, jadi ini aku certain tentang awal mereka bisa jadi gitu. Kkk~

 

 

***

FLASHBACK

 

“Kalian melihat Jaekyung?” aku menolehkan kepalaku kearah samping kiriku saat telingaku mendengar suara orang yang sangat aku kenal. Dan saat aku melihat kepala itu menyembul dipintu lab komputer, dan aku langsung menelungkupkan badanku agar aku tidak ketahuan oleh temanku kalau aku sedang bersembunyi disini.

Hari ini adalah hari di mana semua kelas melakukan pertandingan, ini akhir semester pertama kami dan setiap akhir semester pasti akan di adakan acara seperti ini, jadi bisa disebut dengan nama Porak. Ugh! Aku malas sekali untuk mengikuti perlombaan atau menjadi pendukung teman-teman sekelasku.

Memang kedengarannya aku ini tidak kompak sekali dengan teman-temanku, tapi mau bagaimana lagi kalau aku sedang malas sekarang? Tapi dalam hatiku juga aku merasa tidak enak dengan mereka semua yang sedang teriak-teriak untuk menyemangati yang sedang berusaha di bawah sana.

Tapi sekali lagi, aku semakin menelungkupka badanku agar aku tidak terlihat lagi oleh temanku yang sangat aku pastikan akan menyeretku dengan paksa. Lebih baikan aku disini, bermain di dunia maya sepuas-puasnya. Biarkan kepala pusing karena terlalu lama memandang layar datar ini, yang terpenting hatiku terpuskan.

Tanganku semakin cepat menggerakn mouse yang sedang aku pegang, mataku juga semakin melotot memandang layar di depanku. Tapi beberapa detik kemudian kepalku langsung mundur sedikit jauh. “apa yang sedang kau lakukan sekarang?” wajah Min Ah berada di depanku sekarang dan aku langsung memandangnya dengan datar.

Sial, padahal tadi aku sangat yakin sekali kalau Min Ah sudah pergi dari ruangan ini. Aku juga yakin kalau Min Ah hanya muncul di depan pintu ruangan ini. Ah, kalau sudah ketahuan seperti ini aku sangat yakin kalau teman-temanku yang lain tidak akan melepaskaku begitu saja.

Aku tersenyum melihatnya yang masih memandangku begitu dengan senyumannya yang sangat mengerikan ini. “hallo, sebentar lagi bisa? Soalnya ini sangat tanggung sekali, ini sedang seru-serunya.” Ucapku memohon padanya. Aku tidak berbohong dengan ucapanku ini. Jadi disini aku sedang membaca komik, dan ini bagian yang sangat seru sekali. Tapi mau bagaimana lagi kalau Min Ah sudah menggangguku seperti ini.

“Matikan komputernya lalu kita turun kebawah!” ucapnya lalu melirik kearah jam tangannya, “tinggal lima menit lagi dan pertandingan voli kelas dua akan selesai, dan ini waktu untuk kelas kita yang akan bertanding dengan kelas satu.” Jelasnya panjang lebar. Min Ah, walaupun kau menjelaskannya dengan lantang tetap saja masuk telinga kanan keluar telinga kiri, jadi kesimpulannya adalah aku tidak mendengarkannya.

“Cepat atau kau akan tahu bagaimana nanti nasib ponselmu di tangan teman-teman kita di bawah!” Min Ah berucap kembali membuatku sadar bahwa ponselku tidak ada di dalam saku depanku atau di manapun aku bisa melihanya.

Aku menganggukan kepalaku mengikuti permintaanya, dengan sangat tidak rela sekali aku mematikan komputer yang ada di depanku. Ah, komik yang sedang ku baca tinggal beberapa page lagi, kenapa haru datang pengganggu seperti ini? Tapi sudahlah, aku bisa membacanya lain waktu saja.

Jadi aku bernajak dari dudukku, mengikuti langkah Min Ah yang sudah sedikit jauh dari tempatku berdiri. Hari ini aku yakin sekali akan pulang sore. Padahal aku berniat untuk pulang lebih cepat dan tidur di kamarku yang sangat nyaman itu.

***

Pertandingan kelasku dengan adik kelasku berjalan dengan lancar dan di menangkan oleh kelasku tentunya. Tangaku mengambil botol yang ada di depanku kemudian aku membuka penutupnya lalu meminumnya hingga tinggal setengah.

Lelah sekali dengan gerakan cepat aku langsung merebahkan tubuhku di atas rerumputan. Mataku memandang keatas, hari ini cerah dan hari ini badaku mengelurkan banyak sekali keringat.

“Jadi setelah kelas kita, pertandingan apa lagi?” tanyaku pada Jin Hye yang mengikuti apa yang aku lakukan.

“Basket laki-laki, Kelas 3-C dan kelas 1-E. Huh! Aku bingung harus mendukung kelas yang mana, soalnya kau tahu sendirikan?” aku hanya mendengus mendengar ucapannya, dia memang sedang menyukai adik kelas kami yang memang ada di kelas 1-E.

Aku bangkit dari rebahanku dan memandang kearah lapangan yang sudah di penuhi oleh pemain-pemainnya. Tanganku membuka penutup botol  dan kembali meminumnya. Mataku terus memandang kearah depan dengan sangat intens, entah perasaanku saja atau memang adik kelasku sedang menatapku dengan sangat tajam itu.

Kepalaku menoleh kebelakang, siapa tahu saja kalau dia sendang memandang seseorang di belakangku. Tapi saat aku sudah menoleh tidak ada seorangpun di belakangku. Jadi aku kembali menatap kearah depan dengan sedikit menyesal karena adik kelasku tidak memandangku kembali. Apa? Aku menyesal? Yang benar saja, padahal aku baru saja melihatnya hari ini.

Pertandingan sudah di mulai, aku juga mulai sadar bahwa aku sudah sendirian duduk di atas rerumputan ini, teman-temanku sudah maju kearah depan. Sejak kapan mereka meninggalkanku saja? Hei, ini tidak adil. Jadi aku langsung bangun dan sedikit berlari kearah mereka yang sudah berteriak-teriak untuk mendukung kelas 3-C.

Aku juga sudah maju kedepan, tapi aku tidak mengikuti mereka yang sedang berteriak-teriak seperti itu. Mataku hanya memandang kearah depan dengan serius. Tapi mataku tanpa sengaja melihat adik kelasku tadi yang memandangku dengan tajam.

Nomor punggung dua belas dan dia paling terpendek di antara semua teman-temannya. Eh, aku juga baru sadar sekarang kalau dia memang paling terpendek di timnya. Ugh! Dia mengingatkanku akan Kuroko Tetsuya di anime yang sedang aku lihat setiap malamnya.

Tapi tentu saja berbeda, kalau Tetsuya itu sudah sangat jelas sekali tampannya. Kalau yang ini, ugh, oke aku mengaku dia tampan tapi tetap saja dia kalah tampan dengan seoarang Akash—astaga bicaraku sudah melang-langbuana entah kemana. Kenapa juga aku membicarakan tentang anime ini? Mungkin ini gara-gara adik kelasku itu.

“Kyaaaaa~” aku menoleh kesampingku, memandang Hyun Ji yang berteriak histeris tadi. Dia ini kenapa bisa berteriak seperti itu? Ah, aku juga lupa kalau Hyun Ji juga sedang menyukai seseorang. Dasar anak remaja sedang panas-panasnya.

Aku kembali memandang kearah depanku, entah kenapa mataku selalu saja menatap kearah adik kelasku yang bernomor punggung dua belas itu. Dia terus berlari, mendrable bola yang ia bawa lalu ia melempar kearah temannya kemudia temannya melempar kembali kearahnya kembali dan setelah itu dia melompat lalu melempar kearah ring milik lawan dan hasilnya masuk. Poin untuk adik kelas kami dan semuanya yang ada di seberang sana berteriak histeris, lain di kami yang mendesah kecewa.

Saat aku kembali menoleh kearah lapangan, aku tidak yakin kalau adik kelasku memandangku kembali. Apalagi sekarang dia memandangku dengan tatapan mesumnya itu. Astaga, itu tidak sopan sekali. Tapi kalau boleh jujur juga aku sedikit terpesona oleh senyumannya itu.

Tanpa sadar kedua pipiku bersemu merah. Apa-apaan ini? Padahal selama dua tahun tidak pacar, kenapa juga aku bersemu seperti ini? Ah, ini pasti gara-gara dia. Aku memalingkan wajahku untuk menatap kearah lain, aku tersipu oleh tatapan matanya itu. Jantungku juga tidak normal saat mataku menatap punggungnya yang berlari kesana kemari.

“Lee Donghae, 1-E dia yang selalu menjadi bahan gosip di majalah sekolah kita dan gelarnya menjadi The Most Wanted Newbie Boy. Dia memang tampan, dan aku juga yakin kalau kau juga sedang jatuh cinta padanya. Kau selalu memandangnya sedari tadi.” Aku hanya melirik kesal pada Sora yang ada di sampingku. Benar-benar sangat tidak yakin kalau dia bisa menebak seperti itu.

“Aku tidak menyukainya. Lagi pula aku baru melihatnya sekarang.” Ucapku sedikit ketus dan dia hanya tergelak pelan.

“Hanya orang bodoh yang tidak tahu raut wajahmu saja.” Ucapnya sambil mendengus kecil dan aku sedikit tergelak menyadari ucapannya, berarti teman-temanku bodoh seperti ucapnnya tadi.

“Hei, secara tak sadar kau mengatakan teman-teman kita ini bodoh, kan?” aku melirik diam-diam kearahnya, dia hanya diam dan kemudian memberikan teriakan semangat pada teman-temannya.

Dengan perlahan aku mengambil ponselku yang ada di dalam tasku dan dengan diam-diam juga aku mulai memotretnya. Sial, baru kali ini aku melakukan hal seperti ini. Aku memang cepat sekali menyukai orang-orang dengan wajah tampan seperti itu, tapi entah kali ini sepertinya cepat sekali aku untuk melakukan hal-hal yang di luar batas kedaranku.

***

Selama dua minggu libur sekolah dan hari ini aku melakukan hal rutin setiap harinya bersama teman-temanku untuk belajar. Hari ini hari pertama dan masih dalam suasana santai, masih bebas, tidak belajar selama sehari. Guru-guru yang masuk hanya menanyakan bagaimana liburkan kami selama dua minggu ini.

Aku memandang kearah luar jendela kelasku, tempat dudukku di bagian belakang dan di bagian pojok, aku menyukai tempat dudukku ini karena ini sangat strategis sekali untuk tidur selama jam pelajar berjalan.

Mataku dengan tak sengaja melihat seseorang di bawah sana, dia sedang berdiri dengan kepala mendongak keatas, perasaanku berkata bahwa dia sedang menatapku. Hah! Jangan membuatku tertawa. Mungkin saja dia sedang memandang kearah lain bukan? Lagi pula di sini ada banyak sekali orang jadi mungkin saja dia sedang memandang orang lain disini.

Tapi semua asumsi itu hialng sudah di dalam pikiranku, soalnya hanya aku seorang yang sedang menatap kearah pemandangan di luar dan hanya ada aku duduk di barisan ini, semuanya sedang sibuk berada di depan meja pojok sebelah sana.

Kembali aku menatap kearah bawah, berharap bahwa adik kelasku sudah pergi. Tapi harapan hanya harapan, dia masih ada di sana, tenang dengan wajah datarnya memandangku. Dan setelah itu ia pergi begitu saja. Ish! Dasar aneh. Ucapku dalam hati.

Kalau boleh jujur aku menyukai adik kelasku tadi yang berdiri disana tadi. Tapi aku begitu malu untuk menunjukannya, tapi itu lebih baik daripada aku mengumbar-umbar perasaanku pada teman-temanku. Bisa-bisa aku menjadi bahan ejekan oleh teman-temanku.

Aku mulai menyukainya saat pertandingan waktu itu. Entah, sepertinya dia memang mempunyai daya magnet yang bisa membuatku menyukainya. Tapi ini benar-benar gila, hanya dengan sekali menatap aku langsung bisa menyukainya.

Jadi saat sudah pulang dan sampai di dalam kamarku, dengan segera aku langsung mencari akun sosial medianya. Tapi dengan wajah kecewa aku tidak menemukannya. Dan otakku tiba-tiba saja memberikan ide untukku agar aku bertanya pada Min Ah. Soalnya dia tahu semua laki-laki di sekolahku ini.

Dan hari berikutnya aku sudah menjadi temannya di akun sosial medianya. Setiap menit aku selalu mengecek akunnya, mengambil beberapa fotonya yang terpajang di sana. Terpujilah bahwa dia memang sangat tampan, walaupun tinggi badannya itu kurang sekali.

Aku menegakan tubuhku saat merasakan perutku yang sedikit berbunyi. Sial, padahal pagi tadi aku sudah makan sarapan, kenapa jam sepuluh sudah mulai berbunyi lagi? Jadi daripada lama aku duduk termenung disini lebih baik mengisi perutkan?

***

“Yo, Han Jaekyung!” panggil seseorang dari belakangku dan mendapatkan Eun Ji di belakangku. Tangannya mendekap beberapa bukunya yang aku yakin ia dapatkan dari perpustakaan.

“Hei, dari perpustakaan?” tanyaku dan dia menganggukan kepalanya.

“Kekantin? Ayo, aku juga lapar.” Ucapnya sambil menarik tanganku. Dan aku mengikutinya saja dari belakang.

Di sepanjang jalan menuju kantin temanku yang sangat menyukai fisika ini berceloteh terus menerus tentang materi fisika semester dua ini. Aku yang tidak menyukai pelajaran fisika hanya bisa menganggukan kepalaku saja. Aku tidak mengerti dengan ucapannya itu.

Kalau dia bertanya tentang bahasa inggris atau apa aku bisa menjawabnya atau membahasnya di sepanjang jalan, tapi kalau begini aku hanya bisa menguap kecil mendengarkannya. Dia benar-benar mengacuhkanku yang tidak menyukai fisika itu terus saja berceloteh.

Setelah sampai di kantin aku segera meninggalkannya yang masih saja berbicara. Bisa-bisa telingaku berdengung mendengarkannya itu. Kapan coba dia berhenti berbicara itu, membuat kepalaku pusing saja.

Setelah memesan akhirnya dia berhenti membicarakn tentang fisika itu. Aku hanya bisa menghembuskan napasaku pelan dan berucap bersyukur karena dia berhenti. Kami berdua mulai diam saat dari kami sedang menyantap makanan kami masing-masing. Soalnya dia sedikit tidak suka kalau sedang makan ada yang mengajaknya berbincang.

Tanganku mengambil air mineral yang ada di hadapanku lalu meneguknya dengan pelan. Ketika aku menurunkan minumanku, tidak sengaja aku melihat adik kelasku yang duduk di depan sana. Dia memandangku dengan diamnya, aku yang di pandangi seperti itu membuatku sedikit salah tingkah.

Dan kenapa pula kalau sudah di pandang oleh dirinya aku selalu menjadi gugup seperti ini. Benar-benar bukan seperti diriku yang biasanya. Kalau ada seseorang yang memandangku seperti itu, aku malah mengabaikannya. Tapi kali ini benar-benar sangat berbeda.

Dengan pelan aku melirik kearah Eun Ji yang sedang mengelap bibirnya dengan tisu yang sudah di sediakan oleh penjaga kantin kami. Dengan cepat aku langsung menarik tangan Eun Ji, agar ia mengikutiku kearah penjaga kantin untuk membayar semua yang kami pesan.

Eun Ji hanya bisa menyeritkan keningnya saja saat aku terus mengajaknya berjalan untuk menjauh dari kantin. Kalau aku bertemu lagi dengan adik kelasku, bisa-bisa aku selalu mengingatnya terus-menerus. Lagi pula ada apa dengannya yang selalu memandangku seperti itu. Dan dia kurang aja sekali dengan kakak kelas seperti aku ini

Setelah cukup jauh dari kantin dan kami sudah dekat dengan kelas kami, aku langsung melepaskan tangan Eun Ji yang sedari tadi memberontak ingin di lepas. Eun Ji hanya bisa menggerutu dengan sikap anehku tadi. Aku hanya bisa memandangnya tak suka, dia ini tidak mengerti dengan situasiku.

Tepat saat kami masuk kedalam kelas, bel pertanda masuk sudah di bunyikan. Pas sekali, huh.

***

Jam pulang sudah berbunyi dua jam yang lalu, dan aku masih bertahan di dalam kelasku. Kebiasaan yang tidak hilang dari aku masuk kesekolah ini. Ah, hari pertama aku langsung pulang terlambat, aku yakin ibuku pasti akan berkoar-koar memarahiku karena pulang telat.

Memastikan hari sudah sore, aku langsung mematikan laptopku kemudian membereskan semua yang bersekrakan di atas mejaku dan langsung ku masukan kedalam tasku. Aku pulang serta aku sudah puas untuk mendownload semua video yang aku inginkan.

Saat aku keluar dari dalam kelas tiba-tiba saja ada seseorang yang menyentuh pergelangan tanganku. Dengan cepat aku langsung menoleh kebelakang mendapatkan adik kelasku yang bernama Lee Donghae yang kini sedang menampakan senyumnya padaku.

Aku hanya bisa mengerutkan keningku aneh karena kenapa dia bisa ada di sini dan belum pulang kerumahnya itu. Dan kenapa dia bisa tahu aku ada di kelas ini dan belum pulang kerumah. Jangan-jangan dia memata-mataiku lagi.

Dengan cepat aku langsung memberontak dari tangannya. Tapi dia dengan kekuh tetap memegang tanganku. Mataku menatap kearahnya agar ia dengan segera melepaskan tangannya dari tangannya. Tapi sepertinya dia tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti dengan raut mukaku dia hanya diam saja.

“Apa maumu?” akhirnya aku berucap setelah beberapa detik yang lalu hanya di isi dengan keheningan dariku dan dari Lee Donghae itu.

Adik kelasku hanya diam tak menjawab apa yang aku ucapkan tadi. Dia malah melangkah kakinya pergi dengan masih menggenggam tanganku. Dia akan membawaku pergi kemana? Aku mulai waspada apa yang akan dia lakukan.

Jadi aku kembali membrontak agar tangannya terlepas dari tanganku. Tapi layaknya hukum alam, laki-laki lebih kuat dari perempuan, adik kelasku ini sangat kuat untuk menahanku agar tak lepas darinya.

Dari pada aku terus menerus membrontak darinya, aku hanya diam mengikuti apa yang ia lakukan. Disini aku hanya menyeritkan keningku heran, aku tahu dia hanya sebatas adik kelas saja, kenal saat dia bermain basket saat pertandingan waktu itu. Dan aku disini sangat yakin bahwa adik kelasku ini tidak kenal dengan diriku.

Saat menuruni tangga, aku sengaja berhenti melangkah. Dia juga otomatis menghentikan langkahnya, menolehkan wajahnya kearahku. Saat aku melihat wajahnya, aku hanya bisa menahan napasku karena di lihat dari jarak yang dekat aku bisa meneliti wajahnya yang tampan dan manis itu.

“Kenapa berhenti?” aku memandanganya dengan mata menyipit saat mendengar suaranya yang sedikit sangau dan di buat-buat agak dingin. Disini aku ingin tertawa mendengar suaranya, dia kira aku takut dengan suaranya itu. Sangat tidak cocok sekali.

Kalau dia punya suara seperti Cho Kyuhyun yang datar, dingin itu mungkin saja aku akan sedikit tidak berani untuk memandanganya. “dan kenapa kau membawaku pergi begitu saja? Lagi pula kita tidak kenalkan?” aku berucap sambil melepaskan tanganku darinya yang sedikit lengah.

Aku langsung mengelus pergelangan tanganku yang sedikit memerah akibatnya. Mataku hanya bisa memandangnya tak mengerti, hingga tanpa persiapan dariku untuk menghindar darinya, dia langsung mencium bibirku dengan kasar.

Mataku hanya bisa membesar dengan apa yang ia lakukan. Tanganku langsung memegang kedua bahunya, dengan cepat aku mendorong bahunya dengan kasar. Aku mengusap bibirku yang sedikit basah akibatnya itu.

Dia hanya diam, memandangku dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya itu. Dia kembali meraih tanganku kembali dan membawaku pergi dari sekolah ini.

“Ternyata memang manis seperti apa yang aku bayangkan.” Aku hanya bisa menggeram kesal saat mendengar ucapannya yang sedikit keras itu. Aku masih tidak bisa melakukan apapun setelah apa yang ia lakukan padaku tadi. Kejadian beberapa detik yang lalu mengalihkan seluruh pikiran positive yang ada di otakku.

Kalau aku sudah sadar seperti biasanya aku akan memukul kepalanya itu.

***

Setelah kejadian ciuman paksa selama satu bulan ini, membuatku selalu menghindari dengan yang namanya Lee Dongae itu. Kami berada di kelas yang sangat jauh untuk di jangkau, tapi entah setiap kali aku berjalan entah kemana, aku selalu saja berpas-pasan dengan Lee Donghae.

Ketika ke perpustakaan, kekantin, atau keruang gurupun aku selalu bertemu dengannya. Aku berpikir bahwa Lee Donghae adalah seorang cenayang. Selalu ada dimanapun aku berada.

Seperti sekarang, aku sedang ada di dalam perpustakaan, hari ini aku ada tugas untuk mencari sejarah Perang Dunia II, di barisan rak buku yang paling ujung, jarang di tempati atau di kunjungi oleh siswa-siswa lainnya. Aku yang masuk tanpa melihat ada siapa yang ada disana.

Mataku yang sedari tadi melihat kumpulan buku yang tertata rapih di dalam rak buku tersebut, tanpa sengaja tubuhku menabrak seseorang yang sedang diam disana. Aku hanya menolehkan kepalaku dan langsung mataku membesar melihat siapa yang aku tbarak tadi.

Ternyata Lee Donghae sedang membaca buku yang aku cari sedari tadi. Dia hanya melirikku sekilas, lalu dia mengalihkan kembali tatapannya kearah buku yang ia baca. Aku hanya bisa menggeram dalam hati, bagaimana aku mengambil buku yang sedang di bacanya.

Jadi aku hanya diam berpura-pura mencari buku yang jelas-jelas sedang di baca oleh Lee Donghae itu. Aku pikir-pikir lagi, apa aku harus mengatakan padanya bahwa aku akan meminjamnya atau aku kembali kedalam kelasku tidak jadi untuk meminjam buku tersebut. Tapi buku itu sangat penting sekali, tugasnya akan di kumpulkan lusa nanti.

Dengan hembusan napas pelan, aku menoleh kearah Lee Donghae yang sedang membalikan halaman kertas tersebut. Disini aku hanya memandang wajahnya yang tatapan datar itu, dan nyaliku sedikit ciut hanya melihat wajahnya saja. Tapi ini demi tugas yang akan aku kerjakan nanti.

“Boleh aku meminjam bukunya?” aku bergumam rendah, mataku tak sengaja melihat matanya yang melirik kearahku, dan kemudian dia mengalihkan kembali kearah bukunya. Berpura-pura tak mendengarkanku.

Aku hanya bisa menggeram pelan, “maaf, bisa aku meminjamnya?” ucapku sedikit keras dan kasar, dia kembali menolehkan wajahnya kearahku.

“Tidak.” Jawabnya. A—apa? Dia ini kenapa?

“Aku harus mengerjakanya. Untuk lusa nanti.” balasku sedikit kasar, tidak terima dengan penolakannya.

“Aku tidak perduli.” Ucapnya ringan, aku hanya bisa menggertakan gigiku pelan, menahan amarah yang akan keluar dari dalam mulutku. Dan aku tidak ingin seluruh penghuni kebun binatang akan keluar nantinya.

Kuhembuskan napasku pelan, agar aku bisa meredakan emosiku yang akan keluar nantinya. Dengan perasaan yang campur aduk, aku membalikan tubuhku berniat untuk kembali kedalam kelasku. Tapi belum sempat aku melangkah, tiba-tiba tangan seseorang menarik pergelangan tanganku dan aku langsung menubruk tubuhnya.

Apa-apaan ini Lee Donghae ini? Tangannya yang tadi menyentuh pergelangan tanganku kini beralih kearah pinggangku yang langsung ia peluknya erat. Aku hanya bisa menggeratakan bibirku kesal, apa yang ia lakukan ini?

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku mendesis padanya, dan dia hanya terkikik menertawakanku karena aku terlihat kesal olehnya.

“Kenapa? Hal seperti ini biasa di lakukan oleh sepasang kekasih, kan? Dan kita ini sepasang kekasih, hm?” aku hanya bisa melongo mendengar ucapannya itu.

“Hm, kau lupa dengan kejadian satu bulan yang lalu saat aku menciummu dibawah tangga itu? Aku menganggap itu adalah kita menjadi sepasang kekasih. Dan kenapa setelah kejadian itu kau malah menghindariku, hm? Kau takut aku terkam lagi?” ucapnya di dekat telingku dengan setengah mendesah. Aky hanya bisa bergidik ngeri dengan apa yang ia lakukan padaku.

“Lepaskan aku!” setelah mendengar ucapannya, aku hanya bisa menjawabnya dengan jawaban seperti itu. Aku tidak tahu harus marah atau tidak, tapi sepertinya memang aku harus marah terhadapnya karena dia melakukanku dengan tidak sopan seperti ini.

Dia masih terkikik geli, aku hanya bisa menggeram dengan kelakuannya yang semakin semena-mena itu. Dia tidak hanya memeluku dengan satu tangan, tapi tangan yang sedang memegang buku itu malah melakukan hal yang sangat tercela.

JADI APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN JIKA SEORANG ADIK KELAS MALAH MEREMAS PANTAT KAKAK KELASNYA?

Pasti marahkan, jadi disini aku di perlakukan olehnya seperti itu. Tanganku dengan cepat langsung menahannya saat ia akan kembali meremas pantatku. Mataku menatapnya dengan tajam, tapi namanya juga dia bebal, dia malah tersenyum dan dia memajukan wajahnya untuk langsung mencium bibirku.

Dasar brengsek! Dengan cepat aku langsung menahan bahunya yang semakin maju kearahku. Dengan kesal aku memaksa dirinya menjauh dari diriku. dia hanya tersenyum melihat penolakanku ini. Aku hanya bisa membuang muka kearah lain, kesal dengan apa yang ia lakukan tadi.

Aku kembali membalikan tubuhku, tapi tetap saja dia menahan pergelangan tanganku agar aku tidak pergi meninggalkannya. Aku semakin geram dengan apa yang ia lakukan padaku. Aku tidak membrontak seperti yang ia lakukan tadi, mataku menatapnya dengan tatapan malasku. Dia ini benar-benar menyebalkan.

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku dengan menghembuskan napas kelasku. Dia diam, matanya melirik kearahku, menatapku dengan tatapan yang membuatku sangat kesal.

Waktu berhargaku benar-benar terbuang sia-sia karenanya. Aku kesini berniat untuk meminjam buku, mengerjakan tugas dan selesai, bukan malah jadinya seperti ini. Tidak mendapatkan buku, malah bertemu dengan pembuat onar ini.

Tangannya beralih kearah pinggangku, menarikku agar aku mendekat dengannya. Tapi maaf, maaf saja aku menahan gerakannya agar tidak mendekat kearahnya. Dia kembali tersenyum, tapi kali ini dengan kikikan kecil yang membuatku semakin kesal dan jengkel terhadapnya.

“Sunbae membuatku tertarik.” Ucapnya dengan seringaian yang membuatku muak. “Tapi, sayang kenapa dengan sifatmu, Sunbae? Padahal wajahmu yang cantik, tubuhmu yang bagus ini, seharusnya kau bersifat lemah lembut, bukannya kasar seperti tadi, dan ucapanmu tadi benar-benar sangat kasar sekali.” Ucapnya begitu pelan di dekat telingaku. Hembusan napasnya yang sangat hangat itu benar-benar membuatku diam seketika.

Tangannya dengan gampang membelai rambut panjangku kebelakang, mengekspos leherku yang sedang ia lihat sekarang. Aku benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Dan sejak kapan tubuhku sudah merapat kearahnya.

Aku hanya bisa menahan napasku ketika wajahnya yang mendekat kearahku, tidak, bukan kearahku melainkan kearah leherku. Aku kembali menahan napasku, tapi sekarang lebih dalam ketika dia menjilat dan menghisap leherku.

Sontak wajahku memerah saat ia melepaskannya, aku hanya bisa mematung bak orang bodoh setelah di kerjai habis-habisan oleh teman-temannya. Aku menatapnya dengan tatapan tak percayaku, dia hanya menyeringai melihat wajahku yang sudah sangat memerah, dan dia kembali memajukan wajahnya, kali ini bukan menjilat atau menghisap leherku, kali ini dia mengecup bibirku pelan lalu menjilatnya. Dan kemudia dia pergi meninggalkanku yang masih mematung dengan kedua tangku yang sedang memegang buku yang aku minta darinya.

***

Setelah kejadian dua minggu itu berlalu, aku kembali menghindarinya. Aku malu untuk bertemu dengannya. Sampai teman-temanku hanya bisa manatapku aneh kalau aku melihat Lee Donghae yang sedang berjalan kearah yang mengarah padaku.

Sampai hari ini aku sudah menyerah untuk menghindar dari dirinya. Kemarin aku bertemu dengannya saat aku baru keluar dari dalam ruang kesehatan. Dia semakin tampan semenjak aku selalu lari darinya. Saat aku melihatnya yang menghalangi jalanku untuk keluar, dia hanya diam saja sambil menatapku dengan tatapan matanya yang seperti orang malas itu.

Saat itu aku hanya diam, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, mau lari juga tidak bisa, soalnya pintu ruangan kesehatan itu di halangi olehnya, masa aku langsung mendorongnya begitu saja. Lagi pula aku sedikit kikuk dengannya.

“Kau menghindariku lagi.” Ucapan pertamanya saat ia bertemu lagi denganku.

Aku diam, tidak menjawab ucapannya. Mataku melirik kearah luar, ruangan kesehatan sedikit jauh dari kelas-kelas yang biasa kami gunakan, dan keadaan sekitar sangat sepi sekali, jadi usaha untuk meminta tolong sedikit sekali. Aku ingin lari dan kembali kekelasku untuk segera duduk disana dan menunggu bel pulang berbunyi.

Dan entah  sejak kapan Lee Donghae ini mendorong tubuhku sampai masuk kembali kedalam ruangan kesehatan ini. Aku melihat kakinya menendang pintu ruangan ini sampai terdengar bunyi kecil yang menandakan pintu itu tertutup.

Aku tidak siap ketika dia menciumku kembali, kali ini tidak seperti ciuman pertama kami dibawah tangga itu atau ciuman kedua kami didalam perpustakaan, kali ini dia lebih sedikit tergesa-gesa dan sedikit kasar. Aku hanya bisa mengerang saat tangannya yang menyentuh dadaku.

Sialan, aku segera membrontak dari dirinya, tapi sekasar-kasarnya aku, tetap saja aku tidak bisa menahan dirinya untuk menjauh dari diriku. aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai aku terlentang di kasur ruang kesehatan ini dan dia sudah ada di atasku, menindihku dengan napas yang terengah-engah akibatnya.

Lee Donghae melepaskan ciuman kami, aku memandangnya dengan mata membulat besar dan seketika wajahku memerah saat ia menjilat bibir bawahnya. Aku berpikir bahwa Lee Donghae melakukan hal yang seperti tadi itu sangat seksi sekali.

Dia segera turun dari tubuhku menyeringai pelan dan membalikan tubuhnya. Sebelum dia keluar dari dalam ruangan kesehatan ini, dia mengatakan padaku bahwa hari minggu nanti ia akan menjemputku untuk melakukan kencan kami yang pertama.

ASTAGA! AKU TIDAK TAHU KALAU DIA SUDAH SANGAT GILA!

Maaf, aku teralu emosi solanya, dia seenak jidatnya mengatakan itu padaku. Dia pikir aku ini adalah kekasih resminya? Dia bahkan tidak pernah menyatakan perasaannya terhadapku, tapi kenapa dia malah mengajakku berkencan hari minggu nanti.

Dan disini aku didalam kamarku, mengurung diriku sendiri untuk memikirkan ajaknya kemarin itu. Dia itu selain memikat hati, dia juga bisa mengikat pikiranku. Sampai sekarang aku selalu memikirkannya yang akan sampai di depan rumahku dan meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk mengajakku berkencan. Ah, aku bisa gila sekarang.

Dengan meraba permukaan kasurku, tanganku mencari ponsel yang tidak aku sentuh semalaman penuh, karena aku selalu sibuk dengan memikirkan Lee Donghae itu. Ku hembuskan napasku pelan, menghilangkan kegugupanku tentangnya.

Belum sempat satu menit aku memejamkan mataku, tiba-tiba saja pintu kamarku di ketuk pelan oleh seseorang yang di luar sana yang aku yakini adalah ibuku yang menyuruhku untuk turun kebawah. Ini tidak biasanya, ibuku tidak akan mengetuk pintuku selama hari minggu, bisanya kalau ia mengetuk pintuku seperti tadi pasti ada yang ingin di bicarakannya.

Hatiku sedikit tidak tenang,memikirkan bahwa Lee Donghae sudah ada di bawah sana. Aku benar-benar tidak siap sekali. Dan benar saja, pemikiranku benar bahwa Lee Donghae sudah ada di bawah sana, menungguku dengan pakain yang membuatnya semakin tampan.

Aku tidak bereaksi melihatnya yang berdiri sambil memberi hormat padaku dan ibuku yang baru turun dari kamarku. Sebelum aku keluar dan turun dari kamarku, ibuku memaksaku untuk berdandan agar aku terlihat pantas dengannya yang menurut ibuku sangat tampan itu.

Dan sekarang aku sudah ada di belakang tubuhnya, dia membawa motor untuk mengajakku pergi kencan. Aku hanya bisa memeluk pinggangnya dengan erat akibat ia mengendarainya sangat kencang ini. Aku tidak tahu kemana ia akan membawaku pergi.

Setelah merasa laju motornya memelan, kepalaku sedikit menjauh dari punggungnya yang sedari awal aku menyeder di punggungnya. Ini taman yang sedang mengadakan sesuatu acara, saat dia berhenti di tempat parkiran dan melepaskan helmnya, aku mengikutinya juga.

Aku memberikan helmku padanya, tanganku dengan cekatan merapikan rambutku yang sedikit kusut akibat terpaan angin yang kami terjang tadi. Dan kepalaku langsung mendongak saat tangan seseorang yang ikut membantuku untuk ikut merapihkan rambutku, aku hanya bisa diam dan berhenti merapihkan rambutku, sampai kesadaranku kembali saat ia menepuk pelan pipiku dan mengajakku pergi meninggalkan area parkir tadi yang cukup ramai.

***

Dan setelah dua hari yang lalu saat ia mengajakku pergi berkencan, ia memintaa maaf padaku tentang apa yang ia lakukan beberapa hari yang lalu di saat di depan ruangan kesehatan, dan saat dibawah tangga. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku, walapun masih enggan untuk memaafkannya.

Aku tidak tahu apa yang membuatku semakin tertarik dengannya, entahlah setelah dia mengajakku berkencan, dia membuatku menyukainya. Dia benar-benar sangat manis saat dia berjalan di sampingku, membawakanku tas atau membangun suasana yang canggung menjadi lebih akrab.

Dan yah, dia membuatku menyukainya. Walaupun sifatnya yang mesum, tapi ah aku bingung aku benar-benar sangat menyukainya. Aku memandang kearah luar jendela kelasku, di sana terdapat beberapa siswa yang sedang duduk di tanah lapang sekolah kami karena sekarang sudah jam istirahat.

Sebenarnya teman-temanku sudah mengajakku untuk makan di kantin, tapi karena alasan aku sudah kenyang, aku menolak ajakan mereka. Sebenarnya aku malas untuk berjalan keluar dari dalam kelasku, lebih enak di dalam kelas dengan kesendirian.

Tanganku mengambil ponselku yang bergetar, ku buka flip ponselku, mataku menyipit tidak tahu nomer siapa yang tertera di layar ponselku. Ku abaikan pesan yang menyuruhku untuk turun kebawah. Siapa juga dia, aku tidak tahu kenapa malah menyuruhku untuk kebawah.

Belum sempat aku menaruh kembali ponselku, tiba-tiba saja ada panggilan masuk. Nomor yang mengirimku pesan. Dengan segera aku menekan tombol terima dan aku kaget saat mendengar suaranya, dia, Lee Donghae.

Setelah memutuskan telpon dari dirinya, aku segera keluar dari dalam kelasku. Dia sudah menungguku di bawah tangga yang dekat dengan kelasku. Setelah sampai, aku langsung mencari keberadaan Donghae yang entah dimana. Aku tidak melihatnya, sampai aku membalikan tubuhku, aku langsung di kejutkan oleh tubuh seseorang, dan seseorang itu adalah Lee Donghae.

dia mengatakan bahwa dirinya sudah menungguku untuk pergi kekantin bersama. Ini nilai plusnya, dia sangat manis. Wajahku sedikit memerah mengingat betapa manisnya dia.

***

Hari ini adalah satu bulan hubungan kami, aku ingin merayakannya, mengajaknya makan di café yang dekat dengan sekolah kami setelah sekolah selesai nanti. aku sudah tidak sabar untuk merayakannya bersamanya.

Ku pandangi jam tanganku yang melingkar di pergelangan tanganku. Lima menit lagi bel berbunyi, dan sekali lagi aku tidak sabar untuk menemuinya atau menunggunya di depan gerbang sekolah biasa aku menunggunya untuk pulang bersama.

Setelah mendengar bel berbunyi aku langsung membersekan perlaratan sekolahku yang berserakan di atas mejaku. Dengan senyum terkembang aku langsung melangkah keluar dari kelasku. Ah, baru kali ini aku seperti ini. Entah apa yang di berikan oleh Lee Donghae padaku hingga aku bisa mencintainya sedalam mungkin.

Saat aku melewati ruang olahraga aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Oh, iya aku lupa kalau Donghae mempunyai jadwa olahraga hari selasa di jam terakhir. Aku mengintip dari balik jendela yang untungnya mempunyai celah yang membuatku tahu apa yang sedang di lakukannya.

Aku melihat Donghae sedang melemaskan tubuhnya yang setelah lelah berolahraga. Aku ingin menghampirinya tapi niatan itu hilang saat aku mendengar temannya menanyakan hubungaku dengannya pada Donghae, aku mendengar Donghae terkikik geli, kepalanya ia dongakan lalu mengibas-ngibaskan kepalanya.

Dia kelihatan sangat tampan, pujiku dalam hati. Tapi pujian tersebut meruntuhkan hatiku saat mendengar jawaban yang di lontarkan Donghae. Dia menjawab bahwa aku adalah barang taruhan dari temannya yang ada di kelas dua. Aku diam, telingaku terfokus mendengarkan apa yang ia bicarakan.

Aku disini hanya bisa mematung, mendengar bahwa ia hanya main-main saja denganku. Dia terus mengatakan bahwa dia hanya menyukai tubuhku yang memang membuat gairahnya terbakar setiap kali aku berjalan atau apapun. Jadi kesimpulannya Lee Donghae hanya memanfaatkan tubuhku saja.

Dengan hati yang hancur berkeping-keping aku membalikan tubuhku untuk meninggalkan ruangan olahraga. Mati-matian aku menahan air mataku yang bisa keluar kapan saja.

Dasar brengsek! Aku tidak sudi untuk bertemu dengannya lagi.

***

Sampai beberapa hari aku menghindar dari Lee Donghae, hari ini aku di hadang kembali oleh Lee Donghae. aku hanya bisa diam melihat wajah Lee Donghae yang sedikit mengeras akibat aku selalu menghindarinya setiap kali kami bertemu.

Kalau saja aku tidak keperpustakaan terlebih dahulu dan memilih untuk langsung pulang, aku pasti tidak akan di hadang oleh Lee Donghae yang sepertinya marah padaku. Seharusnya disini akulah yang marah karena kau menganggapku hanya sebagai barang taruhan.

“Apa yang membuatmu seperti ini lagi?” dia membuka suara setelah keheningan melanda kami beberapa saat tadi.

“Minggir aku ingin pulang.” Jawabku seenaknya. Aku malas untuk meladeninya. Saat ia mengatakan hal seperti itu pada teman-temannya, aku sudah menganggap bahwa hubunganku dengan Lee Donghae berakhir, dan aku tidak ingin menjalin hubungan dengannya.

“Kau mengacuhkanku beberapa hari ini. Apa yang salah, dan bukannya hari selasa kemarin kau mengajakku untuk pergi? Kenapa saat aku menelponmu malah tidak kau angkat. Sekali lagi apa yang salah?” aku memalingkan wajahku, aku sudah benci dengannya, sikap manisnya selama ini hanya topeng belakang. Aku tidak akan percaya lagi dengannya.

“Aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Dia memblalakan matanya saat kata-kata itu meluncur dari mulutku.

“Apa maksudmu?” tanyanya sedikit geram.

“Kau punya dua telinga dan aku yakin keduanya masih berfungsi, kan?” dia melangkah kearahku dan aku tentu saja mundur kebelakang untuk menghindarinya. “dan aku punya alasan kenapa aku ingin mengakhiri hubungan kita. Jadi, bisakah kau jangan menghalangiku untuk pergi?” ucapku sedikit keras dan sarkatis. ku tatap matanya yang memincing tak suka dengan apa yang aku ucapkan tadi.

“Alasan? Alasan apa?”

“Alasan kau hanya mempermainkanku, menjadikanku sebagai taruhan, dan kau hanya tertarik pada tubuhku saja, kan?” Donghae terlihat kaget saat aku mengatakannya, tapi tidak lama kemudian dia terkikik geli.

“Wah, ternyata sudah terbongkar ya?” ucapnya sedikit geli. Aku menatapnya tidak percaya. Aku kira dia akan menyangkalnya sekeras mungkin, tapi apa yang terjadi, dia malah seperti ini. “hm.. benar aku hanya tertarik pada tubuhmu saja, kau tidak lihat bahwa dadamu ini besar membuat siapa saja ingin meremas—” dengan cepat aku langsung menampar pipinya. Dia hanya terkekeh sambil memegang pipinya yang memerah akibat aku menamparnya.

“Dasar brengsek!” umpatku dengan nada dingin. Tapi belum sempat aku pergi darinya, tiba-tiba saja dia mendorong tubuhku dengan keras hingga membentur dinding yang ada di belakang tubuhku. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan akibat apa yang ia lakukan.

Dan belum sempat aku menyeruakan protes apa yang ia lakukan padaku, tiba-tiba saja dia langsung mencium bibirku dengan kasar dan keras, serta kedua tangannya yang awalnya di bahu kini berpindah kearah kedua dadaku. Dan aku hanya bisa menahan napasku saat ia semakin gencar meremas kedua dadaku. Tanganku tidak tinggal diam, melancarkan penolakan lewat kedua tanganku yang berada pada bahunya untuk segera menjauh dari diriku.

Tapi namanya juga laki-laki dengan nafsu yang menggebu-gebu aku semakin tidak bisa menahan dirinya yang semakin mendorong tubuhku hingga merapat kearah dinding dan tubuhnya. Tangannya berhenti meremas kedua dadaku, melainkan kearah pahaku untuk menganggat tubuhku.

Donghae melepaskan ciuman kami agar aku bisa menghirup udara di sekitarku dengan rakur. Tapi tetap saja aku tidak bisa bernapas dengan normal karena dia mengalihkan bibirnya kearah leherku untuk ia kecup dan ia jilat.

Aku hanya bisa berdesis geli karena ulahnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku. Aku tidak ingin mendapatkan hal seperti ini, kenapa ini malah terjadi padaku? Seperti mendapat ide mendadak dari otakku, tanganku langsung menuju kearah pinggangnya, mencubitnya keras-keras, mencubit di area tubuhnya yang membuatnya sedikit berteriak akibat apa yang aku lakukan. Dan hasilnya benar-benar memuaskan, dia menurunkanku sambil mengusap pinggangnya. Aku memandangnya tak suka dan setelah itu aku langsung lari meninggalkannya.

Dasar brengsek! Aku tidak akan memaafkan selama-lamanya setelah apa yang ia lakukan padaku tadi.

—T B C—

 

SILVI DIAH SEPTIYANI, 14 MARET 2014, 05:14 pm

33 thoughts on “Fated To Love You [Part 2]

  1. yeah. ini alasan np dia membenci tuan hae ya.. huf bisa dimengerti skrg.. hahhahahahaa..

    adakah cerita lain selanjutnya?? ini hanya dr 1 sudut pandang smwnya apa nanti gantian??

  2. Ya ampun. Pantas saja JaeKyung marah banget ma Dong Hae, ternyata… Benar-benar mesum. Tapi ini sudut pandang JaeKyung kan, ada nggak untuk sudut pandang Dong Hae?

  3. aaaaasaaaaaaaaa
    jd ini penyeban jaekyung marah sama hae
    dsar ikan playboy aku kira beneran suka ehh digituin juga bukan ny sadar malah tambah gilaa yadong lagi

    aduhhh aku bayangin hae yang mau main drama sma jaekyung

  4. waah.. brondong mesum lee donghae. jadi tell me kenapa dia bersikap seperti itu? maksudku sikap donghae setelah jaekyung mengatakan kalau dia tau tentang taruhan? donghae sepertinya menyimpan suatu rahasia. bikin penasaran aja

  5. ini beneran yg nulis ff ini author??
    maaf ya thor sebelumnya, tp aku ngerasa d ff ini tulisannya kurang rapi, emang sih biasanya ada typo, tp engga sebanyak ini,,
    bahasanya jg kurang rapi thor, beda kayak ff author biasanya, apa mungkin karena ini school life jd dibuat gt bahasanya,,
    maaf ya thor klo tersinggung, tp aku cuma liat dari sudut pandang aku sbg reader yg biasanya baca ff author dan semoga bisa jd referensi author kedepannya,,
    soalnya ini engga kyk ff author biasanya,,
    keep writing,,
    eh iya ID ku sebelumnya itu MOKPO,,

  6. Kyaa. . .Hae mesum!!!
    Pntes Jae benci. Hbs brmesum2 ria malah kabur.
    D jdikn bhan truhan bnern ya si Jae? Ih. . .Jhat.
    Next. . Next

  7. yaampun aku baca ini greget sendiri masa haha disisi lain jadi gimana gitu. Kapan lanjutnya? Udah lama nih hehe ditunggu🙂

  8. jadi ini kenapa jaekyung benci ma donghae jadi gimana lanjutannya chingu setelah dipertemukan kembali tetep aja har masih mesum
    apa hae punya rencana licik lagi buat nahan jaekyung
    lama banget belum dilanjut chingu next chapter ditunggu ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s