If This Was a Movie [Part 13]

image

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer
If This Was a Movie by Taylor Swift

VYEJUNGMIN
***

Ke esokan harinya Jaekyung bangun pagi-pagi sekali dari biasanya. Setelah ia meninggalkan Donghae sendirian di ruang tv tadi malam Jaekyung tidak bisa tidur karena kejadian sore yang ia lihat dan ia dengar. Sampai saat Donghae masuk kedalam kamarnya Jaekyung langsung berpura-pura untuk tidur.

Sebenernya Jaekyung enggan sekali untuk tidur didalam kamarnya, karena menurut dirinya kamar itu sudah sangat menjijikan. Maka dari itu saat matahari belum menampakan keeksisentisannya Jaekyung langsung beranjak dari kasurnya meninggalkan Donghae yang masih terlelap dalam tidurnya.

Sebelum keluar dari kamarnya, Jaekyung membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah beberapa menit selesai membersihkan dirinya dan berpakaian rapi Jaekyung langsung keluar dari dalam kamarnya dan menunju kearah dapur untuk membuat sarapan paginya.

Tangannya mengambil pisau yang ada di rak tersebut. Kepalanya kembali mengingat kejadian kemarin sore. Gigi Jaekyung bergemelutuk sedikit bagaimana mengingat suara mereka yang memuakan itu. Dengan pelan Jaekyung menghembuskan napasanya. Kalau di ingat lagi itu bukan urusannya. Mulai sekarang dirinya tidak akan ikut campur dengan kehidupan Lee Donghae itu.

Mau dia selingkuh, mau dia apa Jaekyung tidak akan ikut campur. Lagi pula pernikahan ini bukan keinginan dari kedua belah pihak, keduanya sama-sama tidak setuju, itupun setuju karena keluarganya dan keluarga Lee Donghae tidak mau menanggung malu.

Kalaupun tidak menikah juga ia akan benar-benar mengurus anaknya. Tidak perlu bantuan dari laki-laki yang masih tertidur itu. Tangan Jaekyung memegang gagang pisau tersebut dengan kuat, rasanya ia ingin menusukan mata pisau ini kedalam perut Lee Donghae yang masih tertidur itu. Bukankah itu ide yang sangat bagus untuk menusuknya? Tapi Jaekyung masih mempunyai akal sehat, membunuh karena cemburu? Mati saja sana.

Dengan menundukan kepalanya dan menghembuskan napasnya pelan, Jaekyung melangkah kearah kulkas yang ada di belakangnya. Walapun dalam mood yang tidak bisa di bilang baik, Jaekyung akan melakukan tugasnya sebagai istri yang baik, menyiapkan sarapan untuk suaminya yang lelah karena kegiatan kemarin sore.

Beberapa menit sudah ia berkutat dengan dapur, akhirnya ada beberapa makanan yang sudah selesai. Tinggal mengangkat panci kecil yang berisi sup miso yang ia buat untuk sarapan paginya. Saat ia membalikan tubuhnya, ia tersentak pelan karena mendapatkan Lee Donghae yang sudah duduk di kursi sambil menuangkan air putih kedalam gelasnya. Sejak kapan dia sudah ada disana?

“Selamat pagi.” Sapanya pada Jaekyung yang masih terpaku di tempatnya. Setelah menenangkan rasa keterkejutannya tadi, Jaekyung kembali melangkah kearah meja makan untuk menaruh panci yang ia bawa tadi.

Jaekyung tidak membalas sapaan Donghae, hanya melenggang tidak perduli dan Donghae pun tak mempermasalahkannya. Setelah meletakan panci tersebut, Jaekyung langsung melepaskan apron yang ia pakai dan meletakannya di tempat semula.

“Kau ada rencana hari ini?” Jaekyung menolehkan wajahnya kesamping, memandang Donghae yang mengajaknya bicara, lalu ia membuang muka kearah lain, tidak memandang Donghae yang kelihatan sangat canggung dengan suasana pagi kali ini.

Tangan Jaekyung membuka pintu kulkas dengan pelan, lalu mengambil beberapa buah yang akan ia makan setelah sarapan pagi ini. Setelah menutup pintu kulkas dan menegakan tubuhnya, Jaekyung masih melihat Donghae yang masih menginginkan jawaban dari dirinya. Merasa kasihan juga pada Donghae yang mengaharapkan jawaban, Jaekyung hanya menggelangkan kepalanya pelan.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu untuk memeriksa kandunganmu.” Ucap Donghae bersemangat yang membuat Jaekyung tergelak pelan yang tidak di sadari oleh Donghae.

“Tidak perlu, karena aku sudah pergi kemarin.” Jawabnya sambil meletakan buah-buahan yang baru ia ambil.

“A—apa? Kenapa tidak membaritahuku?” Donghae tidak terima, bagaimana tidak masa Jaekyung tidak memberitahukan dirinya kalau ia akan memeriksa kandungannya itu. “Kau selalu seperti itu setiap bulannya,” ucap pelan Donghae sambil menerima mangkuk yang berisi nasi dari Jaekyung.

“Kalau aku memberitahukanmu, aku pasti akan di tinggalkan lagi.” Balas Jaekyung yang membuat gerakan tangan Donghae berhenti di udara, berhenti untuk mengambil lauk yang ada di depannya. Ucapan Jaekyung benar-benar mengingat kejadian saat dimana dirinya meninggalkan Jaekyung di rumah sakit dan dirinya malah pergi dengan mantan kekasihnya.

Jaekyung yang diam-diam memperhatikan Donghae hanya bisa tersenyum tipis. Kali ini untuk membuat Donghae terpojokan membuatnya sangat senang. Membuatnya terus-terusan bersalah membuat Jaekyung ingin menghancurkan Lee Donghae lebih dari dirinya yang sudah hancur akibat apa yang di lakukan oleh Donghae.

“Kenapa? Kau tidak suka dengan sarapan pagi ini? Kau ingin makan roti saja?” tanya Jaekyung sambil menyendok nasi yang ada di dalam mangkuknya. Jaekyung melihat kepala Donghae menggeleng pelan lalu tangannya menyumpit beberapa sayuran yang ada di depannya.

“Aku suka dengan masakannya.” Ucap Donghae dengan canggung, tangannya dengan sedikit terburu-buru meletakan sumpitnya di samping mangkuknya lalu mengambil air putih yang ada di hadapannya.

“Bagus kalau begitu. Aku bisa setiap hari membuat sarapan seperti ini.” Jaekyung berucap tanpa memandang Donghae.

Setelah beberapa menit mengahabiskan sarapan dengan suasan canggung, Jaekyung langsung membereskan semua yang ada di meja makan tersebut. Sebelum melangkan kearah tempat mencuci piring, Jaekyung seklias melihat Donghae yang sedang memperhatikannya.

Jaekyung hanya mengangkat bahunya pelan, tidak perduli dengan Donghae tiba-tiba seperti itu. Lagi pula Jaekyung sudah tahu apa yang membuat Donghae seperti itu. Dari raut mukanya saja ia sudah tahu bahwa Lee Donghae merasa bersalah mungkin karena kejadian kemarin. Lagipula kenapa dia harus merasa bersalah? Bukankah itu hal yang wajar untuk sepasang kekasih? Jadi tidak perlu di khawatirkan, kalian bisa bersatu setelah aku melahirkan anakku yang ada di dalam kandunganku ini, atau kalau sudah tidak tahan lagi, aku bisa membicarakan tentang perceraian ini kepada keluarga kita masing-masing. Ucap Jaekyung dalam hatinya. Bibirnya tertarik ke sebelah kiri, membentuk sebuah seringai yang selama ini ia hilangkan semenjak ia lulus di bangku sekolah menengah atas dulu.

Ah, ia merindukan seringain serta tatapan merndahkan untuk orang-orang yang ia benci. Akhirnya Han Jaekyung dengan tatapan merendahkan sudah kembali lagi. Jaekyung sudah sangat merindukannya, ucapkan terima kasih untuk Lee Donghae yang sudah membuatnya kembali seperti dulu.

***

Setelah sarapan pagi selesai, Jaekyung bingung apa yang harus ia lakukan setelahnya. Apakah membersihkan rumahnya? Sepertinya itu tidak mungkin mengingat bagaimana keadaannya sekarang, lagi pula Jaekyung bukan orang yang begitu menyukai kebersihan, tapi itu bukan berarti Jaekyung tidak perduli dengan kebersihan.

Kepala Jaekyung menoleh saat mendengar langkah kaki yang sedang menuju kearahnya. Matanya mendapatkan Lee Donghae yang sudah rapih dengan celana jins hitam kebiruan serta kaos polos berwarna putih yang harus di akui Jaekyung bahwa Lee Donghae sedikit tampan, ya sedikit.

“Mau ikut denganku? Hari ini aku libur, tidak masuk ke kampus maupun ke kantor. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini.” Ucap Donghae sambil menampilan senyumnya yang membuat wajahnya semakin tampan.

Jaekyung kembali memandang halam rumahnya, “tidak, aku tidak mau lelah hari ini.” Jawaban telak dari Jaekyung membuat senyum yang ada di wajah Donghae hilang seketika. Bagaimana tidak membuat senyumnya hilang dari wajahnya, jawaban Jaekyung dengan intonasi dingin yang menandakan Jaekyung benar-benar tidak menginginkan pergi dengannya.

“Kau yakin? Aku akan mengajakmu ke toko buku.” Ucap Donghae yang masih teguh untuk mengajak pergi Jaekyung hari ini. Tapi tetap saja walapun tetap teguh seperti itu, Jaekyung tidak ingin keluar dengan Lee Donghae.

Jaekyung tidak menjawab ajakan Donghae yang mengajaknya ke toko buku. Jaekyung melangkah kearah ruang tv yang dekat dengan tempat ia berdiri tadi. Donghae yang melihat Jaekyung pergi begitu saja membuatnya sedikit geram. Bagaimana mungkin, Jaekyung mengacuhkannya dan membuatnya marah pagi ini. Tapi Donghae tetap bersabar, mungkin itu pengaruh orang yang sedang hamil. Dengan pelan Donghae menghembuskan napasnya lalu berjalan mengikuti Jaekyung yang pergi ke ruang tv.

Melihat Jaekyung yang kini sudah duduk nyaman di sofa merahnya, Donghae ikut menundukan dirinya di samping Jaekyung yang sedang membaca buku yang sengaja ia letakan di bawah meja yang ada di hadapannya. Mata Donghae melirik kesamping Jaekyung yang sudah fokus dengan terhadap bacaannya.

Matanya melirik kearah lain, yaitu kearah perut Jaekyung yang sangat besar itu. Donghae baru memperhatikan perut Jaekyung hari ini, biasanya Donghae tidak memperhatikannya, karena alasannya ia sedikit sibuk dengan tugas kampusnya dan tugas dari kantornya.

“Jangan menyentuhku!” itulah suara yang terlontar dari mulut Jaekyung saat tangannya ingin menyentuh perut Jaekyung, tangannya terhenti karena ucapan Jaekyung yang membuatnya mengerutkan keningnya. Kenapa ia tidak boleh menyentuhnya? Bukankah sebagi seorang suami memang di wajibkan untuk mengelus perut istrinya yang sedang hamil? Kenapa malah dirinya tidak di perbolehkan oleh Jaekyung?

“K—kenapa?” Donghae menatap kearah Jaekyung yang masih tenang sambil membaca bukunya. Donghae masih mengharapkan alasan kenapa tidak boleh menyentuh perutnya itu. Satu menit, dua menit Jaekyung diam membuat Donghae geram dengan tingkah Jaekyung

“Jaekyung-ah!” Donghae mencengkram pergelangan tangan Jaekyung, ini sudah pada batas kemarahannya karena Jaekyung yang entah kenapa bisa seperti itu. Ini aneh, bukan kah kemarin Jaekyung masih perhatian padanya, kenapa sekarang malah dingin seperti ini.

“Kau menggangguku, Lee Donghae!” ujar Jaekyung dengan suara pelan. Tangan kirinya berusaha melepas tangan Donghae yang masih memegang pergalangan tangan kanannya.

“Maka dari itu jawab pertanyaanku tadi!” Donghae kembali geram, berusaha membuat Jaekyung menghadap kearahnya.

“Apa yang harus aku jawab dengan pertanyanmu itu? Cepat lepaskan aku, kau mengangguku membaca, Lee Donghae!” tangan Jaekyung bukan lagi memaksa tangan Donghae untuk melepasnya, melainkan mendorong bahu Lee Donghae yang semakin merapat kearahnya.

Mata Jaekyung menatap rendah mata Donghae yang sedang menatapnya itu. Bibir tipis miliknya melengkung keatas, tersenyum kecil melihat tingkah Donghae yang seperti itu. Donghae yang melihat Jaekyung tersenyum kecil seperti itu hanya bisa membuatnya semakin geram.

“Pergilah, aku tahu kau ingin pergi keluar, kan?” ujar Jaekyung membuat Donghae tersadar dari diamnya itu.

Dengan hembusan napas pelan, Donghae melepaskan pergelangan tangan Jaekyung. mata Donghae menatap kearah pergelangan tangan Jaekyung yang ia cengkram tadi. Merah. Melihat pergelangan tangan Jaekyung merah seperti itu dengan cepat Donghae menyentuhnya dan mengelusnya dengan pelan.

“Maaf,” ucap Donghae sambil mengelus pergelangan tangan Jaekyung. “Maaf telah menyakitimu.” Ucapnya dengan nada menyesal.

“Ah, ini tidak apa-apanya,” jawab Jaekyung sambil menarik tangannya, menjauhkan dari jangakauan Donghae. dengan segera ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Donghae yang masih memandang punggung Jaekyung yang kini hilang didalam kamarnya.

***

Donghae menolehkan kepalanya saat merasakan bahunya di tepuk pelan oleh seseorang. Saat melihat siapa yang menepuknya, Donghae langsung memutar bola matanya bosan.

“Sudah lama aku tidak pernah melihatmu.” Ucap Kyuhyun sambil duduk di kursi depan Donghae.

“Aku selalu melihatmu di kampus, Kyuhyun-ah.” Balas Donghae smabil menyesap kopi yang ada di depannya.

“Aku tidak tahu kalau kau sering melihatku di kampus.” Ucap Kyuhyun sambil memanggil pelayan kafe untuk memesan makanan. Donghae mengacuhkan Kyuhyun yang ada di depannya. Tidak menyangkan akan bertemu dengan Kyuhyun di kafe langganannya.

Setelah Jaekyung masuk kedalam kamarnya, Donghae langsung pergi meninggalkan rumahnya, pergi seperti apa yang di katakan oleh Jaekyung tadi. Sikap Jaekyung benar-benar tidak bisa ia tebak. Padahal sudah hampir tujuh bulan lamanya ia dan Jaekyung hidup bersama. Seharusnya sebagai pasangan bisa memahami sikap masing-masing, bukannya malah mengacuhkan satu sama lain.

Dengan pelan Donghae mengehmbuskan napasnya. Tangannya mengusap kepalanya yang sedikit pening di akibatkan oleh Jaekyung pagi ini. Dan kepalanya di penuhi oleh mata Jaekyung yang menandakan seperti sedang memandang rendah seseorang.

Donghae baru kali ini melihat wajah serta mata Jaekyung yang seperti itu. Tidak, ia pernah melihat sekali saat dulu, saat pertama Jaekyung bertemu dengannya saat mengatakan bahwa Jaekyung hamil karena dirinya. Tapi kalau di ingat lagi, mata Jaekyung memang seperti itukan, selalu memandang orang dengan pandangan sinis. Tapi sepertinya pandangan kali ini lebih dari seperti biasanya.

“Bagaimana dengannya?” Donghae mendongakan kepalanya saat Kyuhyun membuka suaranya. Alis sebelah kanan Donghae terangkat sedikit, “maksudku, Han Jaekyung. bagaimana dengannya? Apa dia merepotkan?” kini alis Donghae terangkat semuanya, tidak mengerti dengan ucapan Kyuhyun yang ambigu.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae sambil mengambil buku milik Kyuhyun yang ada di atas meja.

“Begini, apa Jaekyung merepotkanmu selama ia hamil? Kalau tidak merepotkan itu hal yang patut di syukuri dan patut di sesalkan.” Jawabnya sambil menyendok makanan yang ada di hadapannya, “seperti ini, bukankan hal yang sangat wajar sekali kan untuk wanita hamil yang namanya mengidam? Nah, apakah Jaekyung seperti itu? Sebenarnya aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Han Jaekyung yang sedang mengidam itu, soalnya Han Jaekyung lebih merepotkan dari Nuna,”

“Ahra Nuna sedang hamil?” tanya Donghae pelan, masih mencerna ucapan Kyuhyun yang panjang lebar itu.

“Hm.. Ahra Nuna sedang hamil lima bulan, dia benar-benar sangat merepotkan sekali. Ingin ini, ingin itu, setelah semuanya terpenuhi, eh malah dia tidak menginginkannya. Seperti beberapa hari yang lalu, saat aku pulang kerumah, aku mendapatkan Ahra Nuna yang sedang menyuruh Leeteuk Hyung ini itu, aku yang melihatnya hanya bisa menepuk pundaknya untuk sabar menghadapi Ahra Nuna yang seperti itu. Jadi bagaimana?” mata Kyuhyun memandang wajah Donghae yang sedari tadi hanya diam membisu sambil mendengar ucapannya.

“Dia tidak merepotkan,” ucap Donghae berbohong. Donghae baru menyadarinya sekarang, selama Jaekyung hamil, Donghae tidak pernah memperhatikannya. Ia tidak pernah melihat Jaekyung yang ingin itu atau apapun yang di inginkan. Selama ini yang Donghae lihat adalah semua yang di lakukan oleh Jaekyung sendiri.

“Benarkan? Si galak itu, aku tidak yakin kalau tidak merepotkan.” Ucapnya lagi sambil meminum air yang ada di dalam gelas tersebut.

“Galak?” tanya Donghae. selama ini Donghae tidak tahu kalau Kyuhyun sangat dekat dengan Jaekyung. ah, ia lupa kalau Kyuhyun mempunyai hubungan dengan sepupu Jaekyung, jadi pasti mereka akrab, kan?

“Tentu saja, dia itu galak. Selain itu, dia keras, sering membantah, dan dingin. Kalau aku sudah membuatnya marah, dia tidak akan mau berbicara padaku, sekali bicara dia akan memakai intonasi dingin yang membuat Jihyo menyuruhku untuk segera meminta maaf.” Dalam hati, Donghae merasa cemburu dengan ucapan Kyuhyun. cemburu karena Cho Kyuhyun lebih tahu dari dirinya segala tentang Jaekyung.

“Dan bagaimana kau tahu bahwa Jaekyung sedang hamil?”

“Kemarin sore aku melihatnya yang sedang duduk termenung di kursi taman. Sebenarnya aku ingin menghampirinya, tapi kalau di lihat dengan teliti, aku langsung mengurungkan niatku. Kalau Jaekyung sudah diam dan tatapan matanya kosong, itu tandanya dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Termasuk kedua orang tuanya.” Hati Donghae semakin panas saat Kyuhyun kembali memberitahukan segala tentang Jaekyung. kyuhyun ini apa dia benar-benar tahu tentang Jaekyung? dan kenapa hatinya panas seperti ini? “Jadi dari situlah aku tahu bahwa Jaekyung hamil, kau tidak memberitahuku atau Jaekyung tidak memberitahukan pada Jihyo, karena itu aku akan mengatakan selamat untuk kalian. Hm… kau benar-benar hebat bisa langsung membuat Jaekyung berbadan dua seperti itu. Sudah, kalau begitu aku pergi dulu, Jihyo sudah menungguku di perpustakaan kampus. Sampai jumpa!”

Setelah Kyuhyun pergi meninggalkannya sendirian di meja kafe ini, Donghae memikirkan apa yang di ucapkan oleh Kyuhyun tadi. Ngidam? Donghae benar-benar tidak pernah melihat Jaekyung yang ingin ini itu atau apapun. Dan Donghae sedikit tidak memperhatikannya. Bukan sedikit, tapi memang setiap hari dia tidak memperhatikan bagaimana kondisi Jaekyung.

Donghae tidak pernah bertanya bagaimana dengan keadaan kandungannya, bagaimana dengan pola makannya. Yang Donghae lihat bahwa Jaekyung begitu memperhatikan pola makannya sendiri, jadi Donghae tidak pernah khawatir dengan Jaekyung. tapi walaupun seperti itu seharusnya sebagai suami yang baik harusnya memperhatikan istrinya kan?

Apalagi untuk mengantar Jaekyung untuk memeriksa kandungannya itu tidak pernah ia lakukan setelah ia meninggalkannya di rumah sakit waktu itu. Setiap ia akan mengajaknya untuk memeriksa kandungan, istrinya selalu mengatakan bahwa ia sudah memeriksa kandungannya kemarin atau beberapa hari yang lalu saat ia sedang sibuk dengan tugasnya.

Dan setiap kali ingin bertanya kenapa ia tidak mau di antar olehnya, Jaekyung selalu menjawab bahwa ia tidak mau di tinggalkan lagi olehnya. Dari pada di antar dan setelah itu di tinggalkan, lebih baik pergi sendiri saja, Jaekyung tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi.

Kalau di ingat lagi, Donghae benar-benar merasa sangat bersalah dengan Jaekyung, tidak-tidak, bukan merasa lagi, tapi memang sangat bersalah lagi dengan Jaekyung. Donghae memejamkan matanya, mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Jaekyung selama ini membuat hatinya perih. Donghae benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia dalam posisi Jaekyung.

Dan kesalahan terbesarnya adalah dengan bodohnya ia malah kembali menjadi kekasih dari Hye Mi dan melakukan hal yang paling nista. Donghae sudah bisa membayangkan bagaimana rekasi Jaekyung jika Jaekyung melihatnya sedang melakukan hal nista dengan mantan kekasihnya. Jaekyung pasti akan sangat, sangat marah, atau malah ia dan Hye Mi akan di bunuh oleh Jaekyung.

Untungnya Jaekyung tidak ada di rumah kemarin sore. Donghae tidak bisa memberitahukan hal seperti itu pada Jaekyung. memberitahukan sama saja melempar dirinya sendiri pada jurang kematian. Donghae menghembuskan napasnya pelan, lalu ia beranjak dari duduknya untuk pulang kerumah, menemui Jaekyung yang sedang mengurung di dalam kamar.

***

Jaekyung tidak tahu apa yang membuatnya bisa sampai di kafe yang dekat dengan kampusnya ini. Setelah diam-diam mengamati Donghae yang sudah keluar dari rumah, Jaekyung segera mengikuti apa yang di lakukan oleh Donghae. pergi dari rumahnya, Jaekyung merasa bosan karena ia tidak bisa melakukan hal apa saja di rumahnya.

Dan sampailah ia di kafe tempat favoritnya bersama dengan kedua sahabatnya saat ia masih kuliah dulu. Setelah menikah dengan Donghae, ia dilarang keras untuk berhubungan dengan kedua sahabatnya itu. Sebenarnya Jaekyung bisa saja sih bertemu diam-diam dengan temannya, tapi entahlah ada saja hal yang membuatnya lupa untuk menghubungi teman-temannya.

Sampai saat ini ia baru bisa melakukannya, karena ia sudah muak dengan kelakuan Donghae, apalagi kalau mengingat kemarin itu membuatnya ingin sekali segera mengakhiri hubungannya dengan Donghae. tapi disini Jaekyung berpikir berulang kali untuk melakukannya, ia masih menghormati keputusan yang di lakukan oleh Donghae, berpisah setelah melahirkan buah hatinya. Setelah bercerai, Jaekyung akan mengambil hak asuh anaknya, Jaekyung tidak akan sudi jika hak asuh di berikan oleh Lee Donghae itu.

Enak saja, dari awal Lee Donghae itu kan memang sudah tidak mengharapkan bayi yang sedang di kandungnya, untuk apa hak asuh di berikan pada Lee Donghae. bisa-bisa anaknya ini tidak di urus oleh Lee Donghae, dan Jaekyung tidak mau kalau anaknya ini di sentuh oleh Hye Mi.

“Wow! Kita bertemu disini.” Jaekyung mengalihkan tatapannya yang dari awal menatap kearah jalanan yang di luar kini kesamping setelah mendengar suara yang sengaja di kaget-kagetkan.

Setelah tahu siapa orang itu, Jaekyung hanya bisa memutar bola matanya bosan. Hye Mi. Jaekyung tidak menyangka akan bertemu dengan kekasih suaminya ini. Pandangan mata Jaekyung kini ia alihkan kembali pada pemandangan yang ada didepan sana.

“Benar-benar tidak sopan sekali.” Telinga Jaekyung terasa mendengung saat ia mendengar lagi suara Hye Mi. dan saat matanya melihat Hye Mi yang seenak jidatnya sendiri duduk di hadapannya itu membuat Jaekyung menatapnya dengan tatapan merendahkannya.

Hye Mi yang melihat tatapan Jaekyung seperti itu, langsung merasa kalau dirinya benar-benar di rendahkan. Selama ia hidup di dunia ini, hanya Han Jaekyung yang memandangnya seperti itu. Biasanya kalau ia berjalan dimana saja, ia pasti akan mendapatkan tatapan memuja dan iri dari siapapun.

Tapi kali ini benar-benar sangat membuatnya jengkel. Apalagi melihat mata Jaekyung yang datar serta sudut bibirnya yang tertarik keatas, menampakan bahwa dia memang sedang di rendahkan seperti itu. Apalagi sekarang mata Jaekyung menatapnya dari atas sampai bawah dan senyum bibirnya semakin tertarik keatas.

Sungguh, Han Jaekyung kali ini benar-benar berbeda. Tidak seperti yang ia lihat di kampus. Tidak, walaupun ia jarang melihat Han Jaekyung di lingkungan kampus, Hye Mi kadang-kadang tak sengaja melihatnya di kantin, wajah Han Jaekyung saat itu benar sangat berbeda dari sekarang.

“Kau menyeramkan.” Ucap Hye MIi pelan yang membuat Jaekyung tertawa pelan.

“Benarkah? Mungkin ini hal yang wajar untuk orang yang sedang mengandung.” Balas Jaekyung sambil mengambil cangkir teh yang ada di hadapannya lalu menyesapnya pelan.

“Aku akan mengambil Lee Donghae lagi darimu!” Hye Mi berucap tegas, membuat kegiatan tangan Jaekyung yang akan menaruh cangkir tersebut berhenti. Alis Jaekyung terangkat keatas mendengar ucapan Hye Mi itu. Lalu ia tertawa pelan.

“Mengambil Lee Donghae lagi? Dari ucapanmu ini, kau menganggap bahwa aku adalah yang mengambil Lee Donghae darimu? Astaga, jangan membuatku tertawa sekeras-kerasnya disini.” Balas Jaekyung sambil menyesap tehnya lagi. Jaekyung benar-benar tidak menyangka apa yang ia dengar tadi. Mengambil Lee Donghae. ucapan itu benar-benar membuat perutnya tergelitik yang membuatnya ingin tertawa.

“Kau memang mengambilnya dariku.” Jaekyung menghembuskan napasnya pelan saat mendengar bahwa intonasi suara Hye Mi tadi semakin kasar dan keras, membuat beberapa pelanggan yang berkunjung disini menatapnya.

“Kau harus bersyukur karena penggunjung di kafe ini sedikit. Kalau tidak kau pasti akan benar-benar sangat malu. Lagi pula, kau itu bukan tipe-tipe yang mau di permalukan di depan publik, kan? Dan apa buktinya kalau aku mengambil Lee Donghae darimu?”

“Perutmu yang membesar itu!” tuding Hye Mi yang membuat tangan Jaekyung mengelus perutnya yang sudah membesar.

“Ah, dia menitipkan benihnya di tubuhku, ya? seharusnya kau sadar kenapa ia bisa menitipkan benihnya padaku. Kalau boleh jujur, ya, aku bahkan tidak sudi ia menitipkan benihnya padaku, membuatku sampai putus kuliah, walapun hanya sekedar cuti. Tidak bisa bertemu dengan kedua sahabatku. Tapi jangan salah sangka, walaupun aku tidak sudi, aku tetap mengharapkan bayi yang di kandunganku lahir dengan selamat dan sehat. Lagi pula, bayi yang di kandunganku ini tidak seharusnya di benci atau di salahkan, kan? Yang harus di salahkan itu Lee Donghae, dan aku juga menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak bisa menolak minuman yang di berikan oleh Lee Donghae!” ucap Jaekyung panjang lebar sambil menyeringai melihat wajah Hye Mi yang sudah pucat itu. Tangan Jaekyung kembali mengambil cangkir tehnya lalu ia menyesapnya lagi. Setelah berbicara panjang lebar seperti ini membuatnya haus.

Jaekyung tetap mengamati Hye Mi yang masih saja diam. Jaekyung tidak perduli dengan ekspersi atau perasaan Hye Mi sekarang. Yang Jaekyung rasakan sekarang adalah, Jaekyung benar-benar puas dengan apa yang ucapkan tadi pada Jaekyung.

“Dan, kalau kau mau mengambilnyanya lagi, silahkan saja. Bukankah bumi ini sangat luas? Pasti banyak sekali laki-laki yang ada di jagat bumi ini, kan? Bukan hanya Lee Donghae saja. Di luar sana mungkin saja ada yang lebih baik, tampan, tinggi, mapan dari Lee Donghae ini. Kenapa juga aku harus bersusah payah bersaing denganmu? Ini sama saja menghabiskan tenagaku dengan sia-sia.” Jaekyung semakin menyeringai senang saat ia melihat Hye Mi yang tidak bisa berkutik. Ternyata sifatnya yang suka asal bicara dan memojokan orang dulu sempat ia hilangkan, ternyata belum benar-benar hilang.

“Diam, jalang!” Jaekyung terkesiap mendengar panggilan yang di lontarkan oleh Hye Mi dan seketika ia langsung tertawa pelan.

“Jalang? Apa ini tidak salah? Bukankah panggilan itu seharusnya cocok denganmu?” Jaekyung menatap mata Hye Mi yang sedari tadi menatapnya dengan tajam. Dalam hati Jaekyung sangat puas sekali dan Jaekyung tidak menyesal untuk pergi keluar dari rumahnya.

“Benar bukan? Jalang itu cocok denganmu. Coba kau bayangkan, begini, kau sekarang ada di posisiku, sedang hamil delapan bulan. Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksa bagaimana keadaan kandunganmu. Saat kau pulang, kau mendapatkan mobil suamimu sudah terparkir di dalam bagasi rumahmu, kau khawatir dengan suamimu yang biasanya tidak pulang sore. Kau tergesa-gesa untuk masuk kedalam rumahmu, lalu saat kau masuk kau di kagetkan oleh sepatu hak tinggi berwarna merah—” mata Jaekyung menatap kearah bawah, menatap sepatu hak tinggi yang di pakai oleh Hye Mi.

Lalu Jaekyung melanjutkan lagi dengan sudut bibir yang terangkat, “—yang ada di didalam, kau merasa curiga dengan apa yang di lakukan oleh suamimu, kau berjalan dengan pelan, degup jantungmu tidak menentu, otakmu memikirkan apa yang sedang di lakukan oleh suamimu didalam sana. Saat kau berjalan kearah kamar kalian, kau bisa mendengar sayup-sayup desahan laki-laki dan perempuan. Karena kau penasaran dengan suara itu, kau semakin dekat dengan pintu kamarmu, dan saat kau menyentuh knop pintumu yang ternyata pintu itu tidak terkunci, kau melihat dari celah kecil yang kau buka dari pintu tersebut, menemukan suamimu dan perempuan yang kau kenal sebagai mantan kekasihnya sedang bergerumul di atas kasur dan ditutupi selimut tebal. Nah, apa yang kau rasakan? Apa yang ada di pikiranmu saat kau melihat mereka, apa kau akan menyebut mereka berdua jalang? Atau hanya untuk si perempuan itu yang kau sebut jalang? Nah, maka dari itu aku memberimu julukan itu yang sangat cocok untuk—”

PLAK!

Jaekyung terkesiap saat ia merasakan tamparan yang ia rasakan dari tangan Hye Mi. tamparan keras dari Hye Mi membuat kepalanya menoleh kesamping kiri. Jaekyung tertawa pelan saat ia benar-benar tidak menyangka apa yang di lakukan oleh Hye Mi. sayup-sayup Jaekyung mendengar beberapa orang berteriak mungkin karena kaget dengan apa yang sudah di lakukan oleh Hye Mi.

“Rasakan, dasar jalang!” Jaekyung membiarkan pipinya yang terasa panas akibat tamparan Hye Mi tadi. Ia tidak perduli keadaan pipinya yang pasti sangat memerah dan perih. Tentu saja tamparan Hye Mi tadi benar-benar sangat keras sekali.

“Kenapa kau selalu menyebutku jalang? Padahal kau bisa membayangkan apa yang aku ceritakan tadi. Bukankah ceritaku itu seperti kejadian kemarin sore yang kau lakukan dengan suamiku?” ucapnya sambil menyeringai penuh padah Hye Mi, “kenapa kau diam? Kalau diam, berarti apa yang aku bicarakan tadi itu benar, bukan? Kau bisa membayangkan bagaimana rasa sakit hatimu itu kalau kau ada di posisiku. Walaupun aku tidak menyukai atau mencintai Lee Donghae, aku merasakan bagaimana rasa sakitnya itu. Tapi tidak masalah, setelah aku melihat adegan itu aku benar-benar tidak akan perduli dengan apa yang akan kalian lakukan di belakangku nanti. kalian akan bergerumul lagi di atas ranjang milikku, kalian bercumbu di hadapanku atau apapun aku tidak akan perduli. Yang aku perdulikan adalah anakku, bayiku yang akan lahir satu bulan lagi. Seperti yang aku bilang sebelumnya, laki-laki bukan hanya Lee Donghae saja!”

Mata Jaekyung menatap penuh wajah Hye Mi yang sudah sangat memerah itu. Jaekyung tahu bahwa Hye Mi itu sedang menahan amarahnya, terlihat dari kepalan kedua tangannya. Jaekyung tidak perduli dengan Hye Mi sekarang. Tangan Jaekyung mengambil cangkir teh yang ada di hadapannya, saat ia akan meminumnya ternyata sudah habis, tangan Jaekyung melambai kearah pelayan yang sedang menatap kearah mejanya.

“Brengsek!” Jaekyung melirik dari ekor matanya saat mendengar ucapan Hye Mi tadi, dan bibirnya tersenyum mengejek kearah Hye Mi yang pergi meninggalkannya dengan tergesa-gesa. Hari ini Jaekyung benar-benar mendapatkan permainan yang sangat menyenangkan, walaupun ia mendapatkan sebuah tamparan yang menyakitkan dari Hye Mi. tapi siapa yang perduli, yang penting ia senang dengan mengungkapkan apa yang terjadi kemarin sore itu.

“Apa anda baik-baik saja?” Jaekyung memberikan senyuman manis pada pelayan yang menanyakan keadaannya itu. Kepala Jaekyung mengangguk pelan untuk menjawabnya.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk mencemaskanku. Boleh aku memesan satu cangkir teh lagi?” pelayan itu mengangguk dan berkata untuk menunggunya sebentar lalu pelayan itu kembali membalikan tubuhnya untuk membuat pesanan yang Jaekyung pesan.

Setelah menunggu beberapa menit minuman yang di pesannya telah datang. Jaekyung tidak menyangka bahwa pelayan tadi selain mengantarkan pesanan miliknya, juga memberikan es yang di bungkus oleh kain. Pelayan itu mengatakan untuk meredakan memar, kemerahan serta perih yang di rasakannya. Jaekyung langsung memberikan bungkukan terima kasih untuknya.

Jaekyung kembali memutar ingatan beberapa menit yang lalu ia sedang memojokan Hye Mi itu, membuatnya tertawa pelan. Jaekyung menyesap tehnya yang ada di tangannya. Kalau di ingat lagi, itu bukan seperti dirinya, melainkan seperti dirinya saat ia semasa sekolah dulu. Ah, Jaekyung merindukan bagaimana ia dulu sering membully teman-temannya.

***

Jaekyung membuka pintu rumahnya, tidak perduli dengan mobil Donghae yang sudah terparkir di dalam bagasi rumahnya. Setelah menutup pintu rumah sekaligus mengganti sepatu datarnya dengan sandal rumah, ia langsung masuk lebih dalam kedalam rumahnya.

Kepala Jaekyung yang sedari awal hanya menunduk, kini terangkat perlahan melihat kaki seseorang yang ada di hadapannya. Mata Jaekyung menatap datar Lee Donghae yang ternyata di hadapannya. Langkahnya yang sempat terhenti, kini ia melanjtukan untuk berjalan kearah sofa yang dekat dengannya. Tapi sayang niat itu terhenti akibat tangan Donghae mencengkram pergelangan tangannya.

“Dari mana saja?” tanya Donghae sambil membalikan tubuh Jaekyung kearahnya.

“Hn.. apa perdulimu?” Jaekyung membarikan pertanyaan balik kearah Donghae, “aku kira kau memang tidak mempunyai rasa kekhawatiran atau keperdulian itu padaku. Biasanya kan kau memang tidak seperti ini? Ah, aku tahu kau sedang kerasukan sampai-sampai mengekhawatirkanku dan perduli. Sudah, sudah lihat aku baik-baik saja. Dan kembalilah seperti biasanya yang tidak perduli padaku.” Jaekyung melepaskan tangan Donghae yang menggenggam tangannya. Jaekyung kembali berjalan kearah sofa yang memang jadi awal tempat tujuannya.

Lalu Lee Donghae yang mendengar ucapan Jaekyung tubuhnya hanya bisa mematung. Apakah ia benar-benar seperti yang di katakana oleh Jaekyung? apa benar? Donghae menatap punggung Jaekyung, lalu tatapannya beralih pada rambut panjang Jaekyung yang sedang di kuncir.

Pikiran Donghae kembali mengingat apa yang di katakan oleh Kyuhyun tadi. Mendengar apa yang di inginkan oleh sang istri. Tapi saat ia pulang tadi ia sadar, ia tidak pernah mendengar Jaekyung yang mungkin menginginkan apa saja, ataupun dirinya sendiri yang mungkin saja berinisiatif menanyakan pada Jaekyung.

Dengan pelan Donghae melangkah kearah Jaekyung, lalu duduk di samping Jaekyung yang tidak menoleh kearahnya. Dengan hembusan napas ia berkata, “apa kau menginginkan sesuatu?” ucapnya pelan yang membuat Jaekyung menoleh kearahnya.

“Menginginkan? Apa maksudmu?” tanya Jaekyung tidak mengerti.

“Maksudku, apa kau mengidam seperti wanita hamil lainnya?” Jaekyung sontak tertawa keras saat mendengar ucapan Donghae tadi. Membuat Donghae melirik kesal kearahnya.

Jaekyung langsung menghentikan tawanya, tangannya mengusap sudut matanya yang berair akibat ucapan Donghae tadi.

“Bulan kehamilanku ini sudah menginjak delapan bulan, aku sudah tidak menginginkan apapun lagi. Kalaupun masih, aku pasti tidak akan memintanya padamu. Walaupun saat itu aku menginginkannya sekali darimu, aku selalu menahannya terus menerus sampai-sampai aku terbiasa tanpa adanya campur tangan darimu. Ah, yah, ini permintaanku yang pertama di kehamilanku yang sudah memasuki bulan kedalam, aku tidak ingin di sentuh oleh tanganmu atau apapun! Dan aku tidak ingin tidur sekamar lagi denganmu, tidak, lebih tepatnya aku tidak sudi menempati kamar itu.” lalu Jaekyung menatap sinis kearah Lee Donghae yang hanya diam saja. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan. Siang tadi ia beradu dengan Hye Mi, sekarang malah dengan Donghae. betapa dunia ini menyenangkan. Dengan cepat

Ucapan tajam milik Jaekyung benar-benar membuat Donghae mematung. Baru kali ini ia mendengar ucapan tajam milik Jaekyung seperti itu. Benar apa yang di katakana oleh Kyuhyun, Jaekyung begitu menyeramkan. Ternyata ini sifat asli dari Han Jaekyung itu? Ini lebih parah dari biasanya.

Tangannya mengusap pelan kepalanya saat ia mendengar ucapan Han Jaekyung yang mengikut serta kamarnya. Ia jadi ingat dengan kejadian kemarin, dan dugaannya apa Jaekyung melihatnya?

Dengan kasar Donghae menendang kasar meja yang ada di hadapannya, lalu bergumam pelan, “brengsek!”

t b c

silvi diah septiyani, hometown, 29 maret 2014, 19:51 pm

57 thoughts on “If This Was a Movie [Part 13]

  1. nah lho dong dong rasakan!!!
    jaekyung sadis bgt y trnyata..
    smga anaknya gk kayak jae sifatnya amin..
    smkin complicated..
    hah *elapkringet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s