If This Was a Movie [Part 14]

image

Inspired: a Novel Separate Beds by LaVyrle Spencer

If This Was a Movie by Taylor Swift

VYEJUNGMIN

.

P.s; tolong bacanya sambil dengerin lagu Bauklötze by Mika Kobayashi *kalo ngga punya download xD

.

.

Jaekyung memperhatikan tubuhnya di depan cermin yang ada di hadapannya. Perutnya sudah sangat membesar dan Jaekyung merasakan bahwa bagian kakinya sedikit membengkak. Bukan hanya di kaki sebenarnya di seluruh tubuhnya kini kian ikut bertumbuh.

Siapa yang perduli? Setelah ia melahirkan bukankah ia akan menjadi seperti semula? Kalaupun tidak Jaekyung tidak akan perduli akan ada yang memandangnya atau tidak. Lagipula setelah ia bercerai dengan Lee Donghae nanti ia tidak akan berniat menacari pendamping hidupnya.

Kepalanya menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka, dan terlihatlah Lee Donghae yang sudah rapih dengan pakaian kantornya. Jaekyung menolehkan kembali kearah cermin untuk memandang kembali tubuhnya, dari pada memandang Lee Donghae lebih baik memandang tubuhnya sendirikan?

“Aku pergi dulu.” Jaekyung menatap Donghae dari cerminnya. Tidak menoleh ataupun menjawab ucapan Donghae. setelah beberapa menit akhirnya Donghae pergi keluar dari dalam kamarnya karena tidak di respon oleh Jaekyung.

Dalam hati, Jaekyung tersenyum sinis melihat sekilas wajah Donghae yang kecewa seperti itu. Dan apa perduli dirinya kalau raut wajah Lee Donghae seperti itu? Sekali lagi Han Jaekyung tidak akan perduli dengan Lee Donghae setelah melihat kejadian dimana Lee Donghae membuat hatinya semakin hancur.

Setelah mendengar suara mobil Donghae, Jaekyung segera berjalan keluar dari kamarnya. Keluar dari rumah yang dulunya sangat ia sukai kini ia sangat membenci rumah ini. Lebih baik meninggalkan rumahnya selama seharian penuh daripada mendekam bak orang tolol didalam rumahnya.

.

.

Setelah pertengkaran kemarin malam dengan Jaekyung, Donghae benar-benar tidak bisa memfokuskan dirinya saat ia mengerjakan berkas-berkas yang untuk ia teliti. Donghae mengusap wajahnya yang kusut sejak pagi tadi.

Perubahan Jaekyung benar-benar sangat drastis sekali, ia tidak menyangka bahwa Han Jaekyung bisa sebegitu dinginnya itu. Donghae merasa kemarin itu bukan Han Jaekyungnya. Hah? Apa ini tidak salah? Han Jaekyungnya? Yang benar saja, walaupun sudah mengandung anaknya, dan menikahi Han Jaekyung, dirinya dari dulu tidak pernah mengharapkan wanita itu untuk menjadi pendamping hidupnya, kan?

Tapi sekarang kenapa ia malah menyebut Han Jaekyung adalah miliknya? Jangan membuat dirimu tolol begitu, Lee Donghae. ucap iner lain untuk menyadarkannya. Tangannya melirik kearah layar ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk dan semuanya itu hampir dari Hye Mi.

Donghae sedang tidak mood untuk berurusan dengan Hye Mi yang pasti akan membuat kepalanya semakin pusing. Cukup Han Jaekyung yang membuatnya seperti ini. Tidak ada yang boleh untuk menambah beban di pikirannya.

Dengan pelan Donghae menyenderkan punggungnya di sandaran kursi yang sedang ia duduki sekarang. Matanya terpejam mengingat bagaimana kesehariannya dengan Jaekyung. dan bibir Donghae tersenyum miris saat mengingat dirinya kurang memperhatikan Jaekyung selama ini.

Bisa di bilang Donghae adalah suami yang sangat tidak baik sekali. Pantas Han Jaekyung begitu membencinya sampai seperti ini. Andaikan waktu bisa berputar ulang kembali untuk semuanya, Donghae akan benar-benar meminta maaf pada Han Jaekyung. mengulang semuanya dari awal. Tapi ia tahu ini sudah sangat terlambat lagi.

Tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Donghae tahu bahwa yang merusaknya adalah dirinya sendiri bukan orang lain. Coba kalau saja dirinya tidak tergiur dengan Hye Mi ia yakin semuanya tidak akan seperti ini.

Donghae bingung, disisi lain ia merasa mulai tertarik dengan Jaekyung nyaman dengan adanya Han Jaekyung yang ada disisinya. ah, tidak dirinya memang sudah tertarik dengan Han Jaekyung saat ia melihat Jaekyung yang sering membaca buku di bawah pohon, tidak jauh dari tempat favoritnya juga untuk membaca. Saat ia masih kuliah, walaupun tidak kenal dengan Han Jaekyung dan ia mulai berani untuk mengakrabkan diri dengan Jaekyung, setelah mengetahui sifat Jaekyung yang memang sedikit keras dan terkesan cuek ia malah mulai sedikit menyukainya

Walaupun terkesan tidak perdulian dan cuek Jaekyung itu diam-diam sangat pengertian. Saat ia sakit pasti Han Jaekyung akan merawatnya dengan sungguh-sungguh. Itu yang membuatnya semakin menyukai Han Jaekyung.

Dan pikirannya memutar ulang saat ia dimana dulu terkena demam karena menunggu lama Hye Mi yang melupakan janji kencannya. Kenangan itu sungguh sangat miris sekali. Dan di lihat dari sekarang saat dengan Jaekyung, begitu sangat di perhatikan sekali.

Yah, walaupun tanpa ucapan selamat pagi atau tanpa ciuman pagi, setidaknya Donghae sangat mensyukuri Han Jaekyung yang begitu perhatian. Dan otaknya memutar bagaimana untuk mengembalikan Han Jaekyung seperti itu lagi? Sepertinya itu tidak bisa, karena kesalahannya.

Matanya yang semula terpejam, kini ia membukanya dengan perlahan, menampakan seseorang yang ada dihadapannya dengan senyum khasnya. Cho Kyuhyun. “ada apa?” tanya Donghae sambil membuka kembali berkas yang sempat ia lupakan tadi.

“Hanya mengunjungi direktur muda saja. Kenapa? Tidak boleh?” Kyuhyun berjalan kearah dimana Donghae duduk, lalu langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Donghae. “sebenarnya aku kesini ingin meminta ijin untuk membawa Jaekyung pergi.” Ucapan Kyuhyun kali ini sontak membuat kepala Donghae langsung mendongak. Lalu matanya menyipit memandang Kyuhyun yang sedang memaikan beberapa bolpoin yang ada di mejanya.

“Tidak. Kandungannya sudah sangat membesar.” Tolak Donghae langsung membuat Kyuhyun mengecurutkan bibirnya.

“Hanya sehari saja. Aku merasa kasihan saja pada Jaekyung, aku yakin dia sangat kesepian dirumahnya.” Kyuhyun balas memandang Donghae, “ayolah hanya sehari ini saja. Aku membawa Jihyo, lagipula ini juga rencannya Jihyo, dia sudah sangat merindukannya.” Donghae diam mendengarkan ucapan Kyuhyun tadi.

“Baiklah. Hanya hari ini saja.” Akhirnya Donghae memberikan ijin tersebut pada Kyuhyun yang langsung membuat Kyuhyun langsung tersenyum lebar.

“Sankyu~ sebenarnya Jaekyung sudah ada di dalam mobilku.” Kini Donghae melotot mendengar ucapan Kyuhyun kali ini. Benar-benar Cho Kyuhyun ini.

“Dasar! Kalau kau sudah membawanya untuk apa meminta ijin padaku?” Donghae menggeram, lalu beranjak bangun dari duduknya, “dia ada di bawahkan?” Kyuhyun memandang aneh Donghae, lalu menganggukan kepalanya untuk menjawa pertanyan Donghae tadi. Kemudian Kyuhyun mengikuti Lee Donghae yang keluar dari ruangannya.

.

.

“Bagaimana dengan kandunganmu?” tanya Jihyo sambil mengepang rambut panjang Jaekyung.

Jaekyung tersenyum lalu menjawab dengan bahagia, “mereka sangat sehat sekali.” Kening Jihyo mengerut mendengar jawaban Jaekyung.

“Maksudmu?”

“Mereka. Anakku kembar. Laki-laki, perempuan. Aku masih kesusahan untuk mencari nama untuk mereka berdua. Aku ingin menamai mereka dengan nama-nama orang jepang.” Jaekyung mengelus perutnya yang membulat besar, bibirnya terus saja tersenyum.

“Nama jepang, ya? bagaimana kalau dengan salah satu tokoh anime yang kau sukai?” usul Jihyo membuat kening Jaekyung mengerut, memikirkan tokoh-tokoh anime yang ia sukai.

“Banyak sekali yang aku sukai.” Ucap pelan Jaekyung yang membuat Jihyo menghela napasnya. “tapi sebenarnya aku sudah menyiapkannya, Haru, Sora. Bagaimana menurutmu?” kepala Jihyo mengangguk menyetujui.

“Tapi apa tidak aneh?” Jaekyung menghembuskan napasnya saat mendengar ucapan Jihyo tadi.

“Benar juga. Aku masih bingung. Kalau Lee Joon Ha, dan Lee Haneul?” Jaekyung mengelus-elus perutnya lagi saat merasakan tendangan pelan di perutnya.

“Nama yang bagus. Aku juga suka. Kalau begitu kalau kau memang masih bingung, kau ambil keempatnya saja. Kalau kau nanti pindah kejepangkan kau bisa menamai mereka dengan nama Haru dan Sora.” Jihyo kembali merapikan rambut Jaekyung yang sudah selesai ia kepang. “kau sudah mulai menyukai Lee Donghae lagi, ya?” tanya Jihyo yang membuat Jaekyung mendengus pelan.

“Apa maksudmu? Aku malah muak dengannya.” Jaekyung mengusap mata sebelah kanannya. Lalu menoleh kearah Jihyo yang menampilkan senyuman menggoda untuk Jaekyung.

“Dulu, saat kau masuk kuliah bukan kah kau menyukainya? Cinta pada pandangan pertama? Hum, aku masih ingat dulu saat kita sedang makan siang di belakang kampus dan kita mendapatkan Lee Donghae sedang membaca buku di bawah pohon yang tidak jauh dari kita. Kau memandanginya sampai kau lupa memakan roti yang ada di tanganmu dan melupakan ponselmu yang selalu ada di genggaman tanganmu. Ternyata ingatanku masih sangat tajam. Dan saat itu aku sangat senang sekali karena kau sudah melupakan Bang Yong Guk yang meninggalkanmu.” Jaekyung cemberut mendengar ucapan Jihyo yang mengingat masa saat ia menyukai Lee Donghae dulu. Ya dulu. Sebelum ia tahu Lee Donghae yang seperti itu, Jaekyung tidak menyukainya lagi.

“Tapi, karena aku mengajakmu dengan paksa menghadiri pesta itu, semua yang terjadi. Kau hamil. Maaf semua ini karena ulahku.” Ujarnya sambil menundukan kepalanya.

Jaekyung tergelak pelan, tangannya menyentuh perutnya yang sudah membesar ini. Memandang Jihyo yang tertunduk penuh penyesalan. Kemudian tangan Jaekyung menyentuh tangan Jihyo yang terkepal di saping tubuhnya.

“Tidak semuanya ini karena kesalahanmu. Walaupun di paksa aku juga sebenarnya tetap ingin pergi bersamamu ke pesat itu. Tapi karena aku begitu ceroboh malah mengikuti Donghae yang mengajakku untuk minum, jadi ya begini hasilnya. Aku hamil… aku menyukainya, di tidak menyukaiku dan aku tidak bahagia.” Ucapnya dengan pelan di kalimat terakhir membuat Jihyo mendongakan kepalanya.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

“Hm? Memang aku mengatakan apa?” tanyanya berpura-pura dengan menampilan senyum polosnya yang langsung di hadiahi cubitan pelan di lengan Jaekyung oleh Jihyo.

“Semua orang pasti tahukan kekasih Lee Donghae itu siapa? Park Hye Mi. Seniorku di kampus. Dia…cantik dan dia…sangat cocok dengan Donghae. lalu lihat, Donghae menikah denganku karena Donghae menghamiliku. Seharusnya Lee Donghae menikah dengan Hye Mi bukan denganku. Disini aku merasa lelah dengan segalanya. Kau pasti tidak mengerti dengan apa yang aku katakan, bukan?” Jihyo menganggukan kepalanya lalu langsung memeluk Jaekyung dari samping.

“Park Hye Mi, ya. saat itu hubungannya dengan Donghae sudah retak, maksudnya mereka tidak menjadi sepasang kekasih lagi setahuku. Ya Donghae memang sempat melamar Hye Mi tapi saat itu Hye Mi menolak lamaran Donghae. itu juga semuanya Kyuhyun yang memberitahuku.” Ujarnya sambil mengelus-elus pundak Jaekyung dengan lemnbut.

“Ya, karena itu dia jadi mencari pelampiasan untuk kekesalannya, kan? Dan saat itu pula aku yang menjadi korban pelampiasannya.” Balasnya pelan dengan mata yang memandang kearah depan.

“Tapi kau masih menyukainya, kan?” tanya Jihyo pelan.

“Aku tidak menyukainya.” jawabnya sambil memandang kosong didepannya.

“Untuk sekarang kau memang tidak menyukainya. Tapi aku yakin kau memang menyukainya.”

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu, apa boleh?” tanya pelan Jaekyung yang langsung di anggukan kepala oleh Jihyo. “Menurutmu apa yang akan kau lakukan jika kau melihat orang yang sudah terikat denganmu itu bermain di belakang—”

“Sebentar, aku tahu maksudmu. Jadi Lee Donghae bermain dibelakangmu?” Jaekyung menganggukan kepalanya. Melihat itu Jihyo menggeram kesal, “dengan Hye Mi?” tanyanya pelan dan langsung di jawab kembali dengan anggukan kepala Jaekyung yang sukses membuat Jihyo berdiri dan menggumam kata brengsek.

” Tentu saja dengan Hye Mi. siapa lagi kalau bukan dia? Tapi, Sudahlah, aku akan meminta cerai padanya.”

“Tapi Jaekyung-ah, bukankah pernikahan hanya sekali untuk di jalankan? Aku tahu perbuatannya itu sangat brengsek, tapi kenapa memilih jalan seperti itu?” Jaekyung tertawa mendengar ucapan Jihyo yang kebingungan seperti itu.

“Itu memang sudah menjadi kesepakatan kami berdua. Setelah melahirkan dan berjalan sampai anakku berumur delapan bulan atau satu tahun, kami akan berpisah. Mencari jalan kami masing-masing. Bukankah itu kesepakatan yang sangat jenius?” Jihyo mendengar ucapan Jaekyung dengan sangat penuh kekhyusukan. Brengsek! Lee Donghae itu brengsek. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, kemudian kepalanya menoleh kesamping saat mendengar Jaekyung tertawa lebih keras lagi.

“Sudahlah lagipula aku tidak perduli lagi dengannya. Untuk apa aku mempertahankan pernikahanku dengannya? Itu sama saja bohong, mempertahankan tetap saja kami berpisahkan? Dan Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri, didalam kamarku dan dia, mereka bergerumul. Betapa panasnya permainan mereka. Jihyo-ya, aku tidak perduli.” Dengan cepat Jihyo langsung memeluk tubuh Jaekyung dengan erat dan telinganya mendengar isakan kecil Jaekyung.

“Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku mulai cepat menangis,” ucapnya sedikit tercekat di telinga Jihyo, tangan Jaekyung membalas pelukan erat yang di berikan oleh Jihyo, “aku butuh sandaran, aku tidak ingin menceritakan semuanya pada kedua orang tuaku. Aku bingung harus kesiapa. Kedua sahabatku, tapi aku tidak bisa karena aku yakin mereka sangat sibuk dengan tugas kuliah mereka, dan terakhir adalah sepupuku ini. Awalnya aku memang tidak akan membagikannya padamu, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak kuat lagi dengan semua yang sudah aku jalani dengan Lee Donghae. aku sudah sesabar mungkin dengannya. Tapi dia tetap seperti itu.”

“Kalau begitu menangislah sepuasmu di pundaku. Aku akan mendengar semua keluhanmu yang sangat banyak setelah kau menikah dengan Lee Donghae. kau mau pergi dari sini dan kita kerumahku?” tanyanya sambil melepaskan pelukannya dengan Jaekyung. setelah mendapatkan anggukan dari Jaekyung, Jihyo langsung membantu Jaekyung untuk berdiri.

Tangannya merapihkan rambut Jaekyung yang sudah ia kepang. Lalu menggenggam tangan Jaekyung untuk berjalan disampingnya.

.

.

.

Setelah sampai di bawah Donghae langsung menoleh kearah Kyuhyun yang sedang menggaruk belakang kepalanya. Matanya menatap kearah Kyuhyun dan dari matanya, Donghae bertanya dimana Jaekyung dan langsung di jawab gelengan kepala Kyuhyun.

“Kau membohongiku? Jaekyung ada dirumah setahuku.” Ucapnya sambil membalikan tubuhnya kearah Kyuhyun.

“Aku dan Jihyo kerumahmu untuk membawa Jaekyung keluar dari rumahmu. Dan sekarang tidak ada. Oke, tunggu sebentar, aku akan menelpon Jihyo, mungkin saja Jaekyung di bawa Jihyo untuk berkeliling terlebih dulu, kan?” ucapnya pada Donghae yang akan kembali masuk kedalam kantornya. Lalu tangan Kyuhyun mengambil ponsel yang ada di sakunya lalu langsung menghubungi Jihyo.

Setelah menunggu lama, akhirnya telponnya di jawab oleh Jihyo. Kyuhyun diam mendengar ucapan Jihyo disana dan setelah tidak ada yang harus di bicarakan Kyuhyun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya dan memasukannya kembali kedalam saku celananya.

“Jihyo membawa Jaekyung kerumahnya. Jaekyung lelah karena menunggu kita yang tidak keluar-keluar. Jadi Jihyo berinisiatif membawanya untuk istirahat. Kau sih, terlalu lama. Jadinya seperti ini kan? Aku kan sebenarnya ingin mengajak Jaekyung jalan-jalan.” Donghae langsung memukul belakang kepala Kyuhyun dengan pelan.

“Enak saja, Jaekyung milikku.”

“Yah, aku tahu dia memang milikmu. Ya sudah, aku pergi kerumah Jihyo dulu. Sampai jumpa Lee Donghae.” Kyuhyun pergi sambil berlari kecil kearah mobilnya, dan setelah masuk kedalam mobil Kyuhyum melambaikan tangannya pada Donghae.

Setelah melihat Kyuhyun pergi, Donghae segera kembali kearah kantornya lagi. Mengerjakan tugasnya yang tertunda akibat gangguan yang di lakukan oleh Kyuhyun.

.

.

Donghae merentangkan tangannya, matanya menatap kearah jam dinding yang ada di hadapannya. Masih jam dua siang. Tangannya menyanggah dagunya, ia bingung harus mengerjakan apa lagi karena pekerjaannya sudah selesai semua.

Dengan pelan punggungnya ia senderkan di kursi yang ia duduki. Rasanya ingin pulang dan tiduran. Hari ini entah kenapa membuatnya lelah, tidak seperti biasanya. Padahal setiap harinya seperti ini, tapi hari ini ia merasa sangat lelah sekali.

Pikirannya melayang saat akhir-akhir ini, Han Jaekyung dengan perubahan yang sangat drastisnya. Matanya memejam, mengingat Jaekyung yang awalnya memang sudah sarkatis kini bertambah sangat sarkatis.

Kurang perhatian, mengabaikannya begitu saja dan bermain di belakangnya. Walaupun pernikahan ini hanya pernikahan pertanggung jawaban pada Jaekyung yang hamil karenanya, seharusnya ia bisa menjaga perilakunya, bukannya malah bermain api di belakang Jaekyung yang kehamilannya sudah sangat besar itu.

Kalau saja Hye Mi tidak memasukan sesuatu pada minumannya waktu itu, dapat di pastikan ia juga menolak ajakan dan paksaan Hye Mi yang mengajaknya untuk melakukan hal yang ternista itu. Dan kesalahan itu semakin membuatnya semakin berdosa sangat besar saat ia melakukannya di dalam kamar pribadinya dengan Jaekyung dan di depan pigura besar yang menampilkan dirinya dan Jaekyung saat pernikahannya.

‘Oh, jadi kalau kau melakukannya tidak di dalam kamar pribadimu, kau merasa biasa-biasa saja?’ ucap inner yang ada di kepalanya. Tentu saja tidak, walaupun masih mempunyai perasaan sedikit pada Hye Mi, Donghae tidak pernah berpikiran untuk melakukan hal-hal keji seperti itu.

Tangannya mengacak pelan rambutnya yang sedikit berantakan kini semakin berantakan. Ia pusing hanya dengan memikirkan hal seperti ini. Tapi ini memang seharusnya terjadi kan? Dari awal semuanya ini memang kesalahan dari dua objek yang membawa satu objek yang tidak tahu apa-apa.

Matanya terbuka dengan pelan saat mendengar suara pintu yang di ketuk pelan. Agak lama Donghae menjawab untuk mempersilahkan masuk. Dan setelah menjawab ketukan pintu tersebut, pintu tersebut terbuka menampilkan wanita dengan rambut panjang sepinggang dengan berwarna hitam, wanita itu memakai dress yang sampai lutut, tanpa lengan dengan warna dress putih gading. Wanita itu cantik. Yah, tapi Donghae akui kalau Jaekyung yang berpakaian seperti itu pasti sangat cantik sekali.

Tapi sayang wanita itu bukan Han Jaekyung istrinya, melainkan Hye Mi mantan kekasihnya yang sekarang terus saja mengejar-ngejarnya.

Donghae memandang Hye Mi yang sedang membawa bungkusan di tangan kanannya. Kemudian tatapan Donghae beralih kearah wajahnya yang sedang menampilkan senyumannya yang menurutnya memang manis, tapi sekali lagi bahwa senyuman Han Jaekyung masih lebih manis dari Hye Mi.

Hari ini pikirannya penuh dengan Han Jaekyung.

Tapi siapa yang perduli, dirinya suami sahnya jadi ya sah-sah saja kan kalau pikirannya penuh dengan nama Han Jaekyung.

“Aku membawa makan siang untukmu. Yah, walaupun aku tahu ini terlambat, tapi aku mati-matian berusaha untuk memasak makan siang untukmu.” Ucapnya sambil berjalan kearah Donghae.

Donghae tidak merespon ucapan Hye Mi yang tertuju padanya. Setelah sampai di depan mejanya, Hye Mi langsung menaruh bungkusan tersebut dan membuka bungkusannya, memperlihatkan makanan yang di masak oleh dirinya.

Diam-diam Donghae menguap pelan, merasa mengantuk dengan kehadiran Hye Mi yang ada di sampingnya sekarang. Kemudian tatapannya ia alihkan kearah depan, memandang beberapa bangunan tinggi-tinggi yang di luar sana.

“Donghae-ah!” mata Donghae melirik sebentar kearah Hye Mi yang memanggilnya, lalu ia mengalihkan pandangannya semula. Ia sedang berfikir, memutuskan sesuatu yang jelas untuknya sendiri, kebahagiaan dari orang yang tepat.

“Aku sedang berfikir.” Ucapannya beberapa menit setelah panggilan dari Hye Mi tadi. Matanya masih menatap lurus kearah depan.

“Jangan memikirkan hal-hal yang bodoh, Lee Donghae. ayo, kita makan bersama. Aku memasak semuanya untuk kita berdua.” Hye Mi membalas ucapan Donghae yang aneh tadi.

“Aku tidak menyuruhmu untuk memasak, kan? Lagipula aku sudah makan siang saat jam istirahat tadi. Seharusnya kau tahu ini sudah jam berapa. Ini masih jam kerja, bukannya jam istirahar atau jam pulang.” Mendengar Donghae mengatakan seperti itu membuat Hye Mi geram. Apa yang terjadi dengan kekasihnya ini? Apa dia sedang di rasuki oleh makhluk halus sampai Donghae berkata seperti itu?

“Oke, aku tahu ini salah. Tapi bisa kan kau memakan masakanku? Aku sudah lelah-lelah memasknya untukmu.” Ucap Hye Mi sambil menyumpit sosis yang ada didalam kotak tersebut dan mengarahkan kearah Donghae, berharap sosisnya di makan oleh Hye Mi.

Tapi satu menit berlalu, mulut Donghae tak kunjung terbuka membuat Hye Mi langsung meletakan sumpitnya sebelumnya sosinya ia masukan kedalam mulutnya.

“Hari ini kau aneh, Lee Donghae.”

“Benar. Hari ini aku merasa sangat aneh.” Balasnya masih enggan untuk menatap Hye Mi yang berdiri di sampingnya. “aku memikirkan Jaekyung.” ucapnya pelan yang tetap saja masuk kedalam gendang telinga Hye Mi yang sedang berdiri di sampingnya.

“Bukankah, kau akan menceraikannya nanti?” tanyanya pelan sambil menyelipkan tambutnya kebelakang telinganya. Hatinya merasa was-wasa dengan ucapan Donghae sekarang.

“Aku berpikir ulang lagi untuk menceraikannya. Aku berfikir perceraian adalah bukan hal yang bagus. Aku memang tidak menyukai Han Jaekyung atau apa, tapi entahlah ada sesutau hal yang membuatku untuk berpikir ulang untuk menceraikanya.” Dan mulut Hye Mi hanya bisa terbuka dan bergetar pelan dengan ucapan Lee Donghae.

“Tapi kau sudah berjanji padaku, bahwa kalau anak kalian sudah besar, kau tetap akan menceraikannya dan menikahiku kan?” tanyanya yang langsung mendapatkan gelengan dari Donghae. matanya membulat tak percaya apa yang ia lihat. Donghae menolaknya.

“Kau mencintai Han Jaekyung?” kembali kepala Donghae menggeleng, “tapi kenapa kau malah menolak ajakanku?” tanyanya lagi membuat Donghae merasa kesal sendiri.

“Aku juga tidak tahu. Hanya ada satu yang membuatku untuk tidak ingin melepasnya dari diriku, dia…membuatku merasa nyaman untuk berada disisinya.” Setelah mengucapkan seperti itu Donghae mendengar suara benda yang terjatuh, dan itu tutup kotak bekal yang di bawa oleh Hye Mi.

“Tanpa sadar kau mengatakan bahwa kau sudah mulai menyukainya dan kau ingin kita berpisah, kan?” Donghae menoleh kearah Hye Mi yang sedang berkacak pinggang di sampingnya, lalu ia menolehkan kembali pandangannya yang ada di luar jendela kantornya.

“Aku juga tidak tahu. Tapi, benar, aku ingin mengakhiri hubungan kita yang konyol ini.”

“Apa? Konyol? Kau bilang hubungan kita ini konyol?” tanyanya dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Donghae. Hye Mi menghembuskan napasnya pelan kemudian ia menyentuh tangan Donghae yang ada di atas meja. “bukan kah dulu kau ingin menikah denganku?” tanyanya melupakan kekesalan dengan ucapan Donghae tadi.

“Benar, aku ingin menikah denganmu. Tapi itu dulu, Hye Mi. sekarang aku tidak bisa, karena aku sudah terikat dengan seseorang. Dengan Jaekyung dan kau bisa lihat bahwa istriku sedang hamil, bahkan sebentar lagi dia akan melahirkan. Dan kau tahu bahwa aku akan menjadi ayah, kan?” Balasnya sambil melepaskan tangannya dari Hye Mi. “aku sudah putuskan bahwa hubungan kita sampai disini saja. Oh, tidak, hubungan kita memang tidak ada setelah bulan april lalu itu. Kita telah berpisah saat itu.”

Hye Mi yang mendengar ucapan itu hanya bisa menggeram kesal. Donghae yang melihatnya hanya bisa menghela napas, yah semuanya sudah ia pikirkan matang-matang, mulai hari ini ia akan memutuskan semuanya.

“Tapi—”

“Tidak ada tapi-tapian. Aku sudah mengatakanya, kita berakhir.”

“Aku tidak yakin kalau kau menyukai atau mencintai Han Jaekyung itu.” Ucapnya masih tetap kekeuh agar hubungannya dengan Donghae tidak berakhir.

“Memangnya harus ada yang namanya cinta dan suka? Tapi tenang saja, aku menyukainya dan aku mencintainya mulai sekarang. Aku sudah sadar dengan semuanya, dia istriku sekarang dan seharusnya dia yang mendapatkan hal-hal seperti itu dariku.” Balasnya yang membuat Hye Mi diam seribu bahasa. Dalam hatinya Hye Mi menggeram kesal pada Han Jaekyung yang bisa merubah semua sifat Donghae. dan di depan matanya Donghae itu bukan Donghaenya dulu.

“Kau banyak berubahnya.” Ucapnya yang membuat alis kanan Donghae terangkat lalu ia tertawa kecil.

“Kurasa aku tidak berubah. Aku tetap seperti Lee Donghae yang biasanya.” Balasnya sambil memainkan bolpoin yang sudah tak ia sentuh beberapa menit yang lalu.

“Pengaruh Han Jaekyung padamu itu banyak sekali, ya?” Ucap Hye Mi ambigu.

“Pengaruh? Apa maksudmu?” tanyanya yang bingung dengan ucapan Hye Mi yang mabigu seperti itu.

“Yah, seperti itu.”

“Kurasa Jaekyung tidak memberikan pengaruh apapun padaku, hanya saja aku sudah sah di mata publik ataupun di mata Tuhan, bahwa aku adalah pendampingnya seumur hidup. Suaminya. Kau pasti mengertikan dengan maksudku? Begini, tidak seharusnya aku mempunyai hubungan gelap denganmu, aku sudah berisitri. Kalaupun dulu aku menjalin hubungan hanya sebatas kekasih dengan Jaekyung dan mempunya hubungan gelap itu tidak apa-apa walaupun sama saja mendapatkan dosa. Ini sudah berbeda lagi, Hye Mi.”

Setelah mendengar ucapan Donghae, Hye Mi langsung tergelak, tertawa keras yang membuat Donghae memandangnya malas. Wanita di depannya sudah gila. Ucapnya dalam hati.

“Kupikir kau sudah gila.” Ujar Donghae meletakan bolpoin miliknya kedalam tempat bolpoin lainnya.

“Benar aku sudah gila. Ini semua gara-gara kau, brengsek!” mata Donghae mendelik kearah Hye Mi yang memanggilnya brengsek.

“Sebenarnya aku tersinggung dengan panggilan brengsek darimu. Kau tahu? Padahal kita ini sama-sama brengsek, egois, semaunya sendiri, menyakiti hati orang dan melibatkan ia masuk kedalam masalah kita. Seharusnya dia tak masuk kedalam masalah kita.” Matanya terus saja menatap kearah Hye Mi yang berdiri di depannya itu dengan intens.

“Aku menyesal.” Ucap Hye Mi sambil menundukan kepalanya sedikit. Alis Donghae kembali terangkat kembali memikirkan ucapan Hye Mi tadi, lalu Donghae tergela mengerti dengan ucpan Hye Mi.

“Baru merasakannya kan? Kurasa itu cukup dengan semuanya. Setelah kau menolakku, itulah balasan yang kau dapat dari Tuhan yang ada di atas.”

“Aku membencimu!”

“Aku terima itu. Aku malah lebih membenci diriku sendiri. Alasanya karena aku mengingkari janjiku dengan Jaekyung saat pernikahku dengannya.” Jawabnya yang langsung membuat Hye Mi mendengus mendengarnya.

“Kau lucu sekali Lee Donghae!” ujarnya sarkatis lalu membalikan tubuhnya, melangkah meninggalkan Donghae sedang tergelak pelan.

Yah, semua keputusannya sudah ia tentukan. Semua perjanjian yang ia lakukan dengan Jaekyung akan ia hapus. Mulai sekarang ia akan memulainya dari nol lagi, lalu membangun keluarga kecilnya yang akan di bantu oleh Han Jaekyung.

.

.

.

Merasakan lelah, Jaekyung mengajak Jihyo untuk duduk sebentar di salah satu kursi yang sudah di sediakan untuk duduk. Jaekyung langsung duduk di atas kursi tersebut lalu Jihyo pun mengikuti apa yang di lakukan oleh Jaekyung.

Tangan Jaekyung mengelus pergelangan kakinya yang terasa sakit akibat jalan yang padahal tidak terlalu jauh dari rumah Jihyo tadi. Yah, Jaekyung yang merasa bosan karena harus bercerita bagaimana kehidupan sehari-harinya pada Jihyo, Jaekyung langsung mengajak Jihyo untuk berjalan-jalan sebentar.

Dan belum sampai sepuluh menit, Jaekyung sudah merasakan lelah yang luar biasa di pergelangan kakinya. Lalu di perutnya yang sangat besar karena di isi oleh dua kehidupan yang sebentar lagi akan lahir kedunia. Tangan kanannya mengelus lembut perutnya, mengelus dengan sayang kedua anaknya yang ada di dalam perutnya.

“Mereka pasti akan sangat cantik dan tampan.” Ucap Jihyo membuyarkan lamunan Jaekyung pada perutnya.

“Hn… benar, mereka pasti akan sangat cantik dan tampan.”

“Hahaha, tidak ragu sih, karena kau cantik dan Donghae tampan. Aku sih hanya khawatir saja dengan sifat kedua anak kalian nanti seperti apa.” Ujar Jihyo yang membuat Jaekyung mengerutkan keninganya.

“Memangnya kenapa?” tanya Jaekyung sambil menelengkan kepalanya.

“Hm.. kau itu sifatnya kadang dingin, tidak perdulian, ceria atau sebut saja campur, dan Donghae juga sama sih sebenarnya. Tapi aku yakin salah satu dari anak kalian akan bersifat dingin dan tidak perdulian sepertimu.” Mendengar itu Jaekyung langsung menutup mulutnya yang akan tertawa keras.

“Itu masalahnya? Aku rasa itu tidak masalah, Hyo.” Balasnya sambil membenarkan poni rambutnya yang sedikit berterbangan karena angin yang berhembus pelan, “dinginnya.” Ujarnya lagi.

“Kurasa itu masalah. Kalau anak kalian tampan tapi sifatnya dingin dan tidak perdulian itu sama saja bohong. Dan pasti tidak ada yang akan menyukainya.” Jaekyung terus saja melirik kearah Jihyo. Sepertinya Jihyo ini tidak sadar dengan apa yang di katakannya. Ucapan Jihyo itu seperti penggambaran seseorang, yah siapa lagi kalau bukan Cho Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun juga seperti itu.” Ucapnya sambil merapatkan mantel yang di pakainya.

“Eh? Iya, yah kau benar juga, Kyung! Si Cho Kyuhyun itu memang tampan tapi sifatnya kadang dingin dan tidak perdulian. Awalnya aku tidak menyukainya karena dia seperti itu, tapi pas tahu bagaimana sifat aslinya aku jadi menyukainya.” Ujarnya yang membuat kedua pipinya yang awalnya memerah karena hawa dingin kini bertambah merah.

“Ya sudahlah.” Ucap Jaekyung tidak perduli membuat Jihyo memutar bola matanya bosan. “aku ingin pulang.” Jaekyung berdiri dengan hati-hati yang langsung di bantu oleh Jihyo.

“Aku akan mengantarkanmu. Sebentar aku akan menghubungi Kyuhyun terlebih dulu.”

“Tidak usah. Aku bisa naik taksi saja. Aku tidak enak menganggu kalian.” Tolaknya halus membuat Jihyo melotot kearah Jaekyung.

“Jangan bercanda, kau hamil tua dan aku meninggalkanmu didalam taksi sendiran?” Jaekyung menganggukan kepalanya pelan, dan membuat Jihyo menghembuskan napasnya kesal. “Kita pulang bersama, aku akan mengantarmu sampai kedalam kamarmu. Mengerti?” Jaekyung menganggukan kepalanya bertanda ia mengerti.

Setelah menunggu taksi beberapa menit, akhirnya ada taksi yang berhenti dan mereka berdua langsung masuk kedalam taksi tersebut. Didalam tidak ada percakapan apapun yang di keluarkan oleh keduanya. Jaekyung yang merasa lelah dengan kegiatannya hari ini, lain lagi dengan Jihyo yang mengerti dengan keadaan Jaekyung sekarang.

Kurang lebih lima belas menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Jaekyung. Setelah memberikan uang pada supir taksi dan keluar Jihyo langsung membantu Jaekyung untuk berjalan sampai kedalam rumahnya.

“Aku merasa seperti orang yang lumpuh.” Ucapnya yang membuat Jihyo tergelak pelan akibat ucapan Jaekyung.

“Aku juga pasti akan sepertimu. Tapi aku pasti tidak terlalu lelah sepertimu yang mengandung langsung dua anak.”

“Yah, semoga Kyuhyun cepat melamarmu, ya, sepupu.” Jaekyung membuka pintu rumahnya, terus saja berjalan sampai didalam kamarnya dengan Donghae yang langsung membuat Jaekyung menyerit tidak suka dengan kamar yang digunakannya.

“Kurasa sore ini kau harus istirahat, Kyung. Kau terlihat lelah sekali.” Ujarnya sambil membantu Jaekyung merebahkan tubuhnya di atas kasurnya.

“Benar. Kurasa aku sudah sangat mengantuk.” Balasnya sambil membenarkan posisinya yang nyaman.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya. sampai jumpa.”

Setelah itu Jihyo keluar dari kemarnya, meninggalkan dirinya yang sudah terlelap dalam tidurnya.

.

.

Jaekyung mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara bel yang berasal dari pintu utama rumah ini. Rasanya belum sampai tiga puluh menit dirinya terlelap dan sekarang ia mendengar suara bel yang menandakan ada seseorang yang bertamu dirumahnya? Siapapula itu.

Dengan malas Jaekyung bangun dari tidurnya, dengan pelan-pelan dia berdiri tangannya memegang sandaran kasurnya. Sebelumnya ia mengusap wajahnya terlebih dulu agar tak terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur.

Setelah itu ia dengan hati-hati keluar dari kamarnya, berjalan menuju kearah pintu utama rumahnya untuk di buka karena bel rumahnya yang terus saja di tekan berulang kali membuat Jaekyung merasa kesal dengan tamu yang entah siapa itu.

Tanpa melihat siapa orang tersebut Jaekyung langsung membuka pintu rumahnya dan itu sukses membuat Jaekyung sedikit tersentak. Dalam hatinya ada apa Hye Mi datang kesini. Benar, setiap kali Hye Mi ada di dekatnya, hatinya selalu mengatakan bahwa Hye Mi akan membawa masalah padanya atau membuatnya geram.

Seperti kemarin itu, Hye Mi yang menamparnya. Dan sekarang apa yang dimaunya? Benar-benar menjengkelkan.

“Halo. Kau mau membiarkan tamumu ini hanya diam seperti patung dan tidak mempersilahkan masuk kedalm rumahmu yang megah ini?” ucapnya yang langsung membuat Jaekyung menyingkir dari hadapannya.

Hye Mi melenggang masuk seperti rumahnya sendiri. Dan itu membuat Jaekyung tertawa dalam hatinya, tentu saja ia melenggang masuk sesuka hatinya karena Donghae sudah membiarkan wanita itu masuk kedalam rumahnya dan juga kamarnya.

Menutup pintunya, Jaekyung berjalan kearah dapur bermaksud untuk membuat teh. Menyuruh Hye Mi untuk duduk di sofa yang ada di ruang tengah.

Jaekyung langsung memanaskan air untuk membuat teh, lalu baru saja ia akan mengambil teh dan gula yang ada di dalam rak atas di belakangnya,tiba-tiba saja rambutnya langsung ada yang menariknya kuat, dan ia langsung tahu siapa yang menariknya itu.

“Tck! Lee Donghae itu bodoh atau tolol, kenapa dia malah mau bersama dengan perempuan jalang sepertimu!” ucap Hye Mi sambil terus menarik rambut Jaekyung dengan kuat membuat erangan kecil keluar dari mulut Jaekyung.

Kemudian Jaekyung merasakan tangan kiri milik Hye Mi merambat kearah lehernya dan langsung mencekiknya membuat Jaekyung terbatuk. Kepalanya sakit, lehernya, pernapasannya juga mulai sesak. Apa yang ada di dalam pikiran perempuan yang sedang menyiksanya ini?

Mungkin aku akan di bunuh. Pikirnya miris. Tangan kanan Jaekyung lansung memaksa tangan Hye Mi untuk melepaskan dari rambutnya yang sudah mulai sangat sakit. Napasnya mulai sesak karena terus di cekik oleh tangan lain Hye Mi, membuat Jaekyung pasrah dengan semuanya.

Matanya memandang wajah Hye Mi yang sangat menyeramkan. Matanya merah wajahnya pun merah, bibirnya menampakan senyum jahat yang membuat Jaekyung merasa sangat marah pula. Jaekyung tahu bahwa Hye Mi sudah di ambang batas kemarahannya sekarang. Tapi kenapa harus melakukan seperti ini?

Jaekyung melemas sekarang. Tidak perduli dengan selanjutnya akan seperti apa.

Tapi otaknya begitu saja langsung memerintahkan tangan kanannya untuk terulur kearah kerah pakaian Hye Mi dan tangan kirinya langsung mencengram lengan Hye Mi yang masih mencekik lehernya. Dengan sekuat tenaga Jaekyung langsung mengangkat Hye Mi lalu membantingnya di lantai rumahnya.

Bantingan tubuh Hye Mi yang terdengar sangat keras itu langsung tak di sia-siakan oleh Jaekyung untuk segera berlari jauh dari jangkauan Hye Mi yang mungkin saja bisa mengerjarnya. Napasnya sesak akibat cekikan dari Hye Mi.

Jaekyung tidak perduli dengan kondisinya sekarang yang sangat kacau, tidak sempat memakai sandal. Tsk! Memikirkan untuk memakai sandal itu tidak ada di dalam pikirannya, yang ada hanya untuk jauh-jauh dari Hye Mi yang mungkin akan membunuhnya. Pikirnya gusar.

Setelah jauh dari rumahnya, Jaekyung langsung duduk di kursi taman yang dilihatnya. Tangannya mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya. Dan ia bernapas lega karena di taman ini masih banyak orang dan kemungkinan Hye Mi yang bisa saja mengejarnya sampai sini tidak akan berani melakukan hal gila seperti tadi.

Jaekyung menetralkan pernapasannya, lalu tubuhnya tiba-tiba saja tegang dan merasakan perutnya sangat sakit, serta ada yang mengalir di bagian pahanya. Oh, tidak apa ia akan melahrikan sekarang? Tangannya dengan pelan terulur keaerah bagian pahanya dan setelah itu ia bisa melihat darah serta cairan yang ada di jarinya.

Matanya terpejam, menahan rasa sakit di bagian perutnya. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan sekaran. Ia sudah sangat lemah, tidak bisa membuka suaranya sedikitpun dan terakhir yang ia dengar hanyalah namanya yang di panggil sangat kencang oleh seseorang yang entah siapa orang itu.

.

.

.

Mata Jaekyung mengerjap pelan, menahan silau yang di akibatkan oleh cahaya lampu yang ada di atasnya. Kepalanya menoleh kearah sampingnya mendapatkan tangannya di genggam oleh seseorang dan ia tahu siapa orang tersebut.

Lee Donghae. suaminya. Orang yang dulu sangat ia sukai. Tapi entah untuk sekarang bagaimana.

Lalu tangan Jaekyung yang lainnya reflek meraba perutnya, dan merasakan perutnya yang rata dan tidak besar langsung membuat Jaekyung menegakan tubuhnya dengan paksa membuat Donghae yang tidur dengan menggenggam tangannya langsung terlonjak bangun.

“Lee Donghae, bayiku?” ucapnya langsung pada Donghae. tangannya terus saja meraba perutnya yang memang nyata sangat ramping seperti ia tidak sedang hamil.

Matanya menoleh kearah Donghae yang kini sudah berdiri memandanganya dengan mata yang berkaca-kaca yang membuat Jaekyung merasa ini adalah kabar yang sangat buruk untuk kandungannya yang mungkin saja kegururan.

Memikirkan hal seperti itu membuat Jaekyung langsung menundukan kepalanya, air matanya mengalir begitu saja dari kedua matanya yang hitam pekat itu.

Jaekyung merasakan tubuhnya di peluk oleh seseorang dan itu adalah Lee Donghae. isakan Jaekyung terdengar sedikit membuat Donghae mengeratkan pelukannya pada Jaekyung.

“Tenang. Mereka ada di ruang incubator. Mereka selamat. Sehat walaupun mereka terlahir di bulan yang kedelapan.” Ucapnya sambil mengelus tubuh Jaekyung yang menegang.

Tangannya memaksa melepas pelukan yang di lakukan oleh Donghae, “jadi aku tidak—”

“Tentu saja kau tidak keguguran. Kau mengalami pendaharan kecil dan melakukan operasi untuk melahirkan dua malaikat kita. Saat operasinya selesai kau tidak menampakan adanya kesadaran, dan kau mengalami koma selama dua minggu, hari ini kau baru bangun dari komamu. Dan itu yang membuatku senang dan bahagia.” Ucapnya menjelaskan, Jaekyung hanya memandang kosong kearah depannya.

“Kau tidak memberi tahuku tentang anak kita yang kembar, Kyung.” Ucap Donghae pelan sambil memeluk tubuh Jaekyung lagi.

“Kurasa itu tidak perlu, karena kau memang tidak perduli padaku saat aku mengandung.” Balasnya membuat Donghae mengerat pelukannya.

“Maafkan aku. Dan masalah Hye Mi sudah aku tangani karena mencoba pembunuhan padamu.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya, lalu Donghae mengecup kening Jaekyung dengan kembut.

“Ah, Hye Mi. aku ingat, saat aku membuat teh untuknya tiba-tiba saja ia menarik rambutku dengan kuat dan mencekikiku yang membuatku tidak bisa bernapas. Dan bagaimana kau tahu bahwa semua ini di perbuat oleh Hye Mi?” Ingatnya dengan kejadian saat Hye Mi mencoba membunuhnya.

“Tentu saja. Aku pulang dari kantorku dan mendapatkan Hye Mi yang terlentang begitu saja di dapur, dan aku langsung tegang saat tahu ia ada di rumah kita dan aku tidak mendapatkamu dimanapun. Saat itu aku langsung menghubungi ponselmu, tapi sayang aku mendengarnya di dalam kamarmu. Aku langsung menghubungi Jihyo yang katanya membawamu, kan? Siapa tahu saja kalau kau masih disana, tapi jawaban dari Jihyo bahwa kau sudah tidur di dalam kamarmu. Tapi aku mengatakan bahwa kau tidak ada saat itu aku langsung sadar bahwa kau sudah dalam bahaya dengan adanya Hye Mi. saat itu aku keluar dari kamar kita, aku mendapatkan Hye Mi yang sedang memegang kepalanya yang mungkin saja pusing dan dia mengatakannya entah sadar atau tidak dia hampir saja membunuhmu kalau kau tidak membanting tubuhnya begitu saja. Benar kau memabanting tubuhnya?” jelas Donghae panjang lebar yang hanya di anggukan pelan oleh Jaekyung sambil terus mengingat bagaimana kejadian itu sebenaranya. Dan kepalanya mengangguk, mengiyakan bahwa ia memang memabanting tubuh Hye Mi yang terus saja menjambak dan mencekiknya.

“dan Kyung, aku minta maaf untuk semuanya. Aku…aku..aku membatalkan perjanjian awal kita, aku sudah mengatakan semuanya pada kedua orang tua kita. Aku ingin memulainya dari awal bersamamu. Aku sudah sadar dengan semua yang aku lakukan padamu. Aku tahu aku kejam dan brengsek, aku juga tahu bahwa aku memang tidak pantas dengan—”

“Benar kau memang tidak pantas denganku,” Jaekyung memotong ucapan Donghae, membuat Donghae mendongakan kepalanya memandang kearah wajah Jaekyung. “Tapi walaupun kau itu brengsek kejam dan masih banyak lagi, yang namanya perceraian itu sangat tabu di keluargaku. Aku tidak ingin menikah untuk kedua kalinya. Dalam hidupku, menikah itu cukup satu kali seumur hidup. Dan kalaupun saat aku melahirkan, anakku sudah besar nanti kau meminta perceraian aku akan tetap menolak.” Ujarnya yang langsung mendapatkan genggaman erat dari Donghae.

“Kau memaafkanku?” tanyanya yang langsung di anggukan oleh Jaekyung. dan Donghae menggenggam tangan Jaekyung lagi.

“Memaafkanmu itu bukan berarti aku menerimamu dari awal lagi, Lee Donghae.” ujarnya sambil membalas genggaman tangan Donghae.

Donghae tersenyum mendapatkan balasan dari Jaekyung. dengan pelan Donghae memeluk tubuh Jaekyung. merasakan hangatnya tubuh Jaekyung yang ada di dekapannya seperti ini. Donghae menyesal karena tidak mendapatkan hal seperti ini dari dulu, dan kenapa dulu ia malah menjalin hubungan gelap dengan Hye Mi.

Yah, semua penyesalan itu datangnya akhir. Kalau datanganya awal itu tidak tahu namanya.

Donghae melepaskan pelukannya. tangannya mengusap rambut Jaekyung yang tergerai di punggungnya. Wajah Donghae seketika menunduk dan langsung mengecup kening Jaekyung dengan hangat dan cukup lama, membuat Jaekyung yang merasakan hal seperti itu dari Donghae hanya bisa diam mematung.

Menyadarkan dari apa yang di lakukan oleh Lee Donghae, Jaekyung langsung mengucap dengan ketus, “aku ingin melihat anakku.”

Donghae tergelak pelan, “yah, anakmu, karena selama kau hamil aku tidak pernah mengantarmu untuk chek up kandunganmu sebulan sekali itu.” Ucapnya sambil berdiri dari duduknya, lalu ia langsung membantu Jaekyung untuk berdiri dari duduknya, “kau bisa berjalan?” tanyanya saat Jaekyung terhuyung pelan. “tunggu sebentar aku akan mengambil kursi roda untukmu.” Ucapnya cepat sambil berlari keluar dari kamarnya.

Sekitar tiga menit kemudian Donghae sudah kembali dengan kursi roda yang dibawanya. Jaekyung merasakan wajahnya sedikit memanas dengan apa yang di lakukan oleh Donghae. yah, tubuhnya di angkat a la bridal style oleh Donghae dan langsung didudukannya di kursi roda.

“Ngomong-ngomong siapa yang membawaku kerumah sakit?” tanya Jaekyung sambil menganggukan kepalanya saat seorang suster yang menyapanya.

“Katanya itu rahasia.” Jawabnya yang membuat Jaekyung geram.

“Dan kenapa kau tahu bahwa aku di rawat disini? Kau kan masih belum terkenal seperti ayahmu yang sangat terkenal itu.” Ujarnya membuat Donghae mengacak-acak rambut Jaekyung pelan.

“Walupun aku tidak terkenal seperti ayahku, tetap sajaperusahankukan terkenal. Orang tersebut langsung menghubungi nomor perusahaanku dan salah satu pegaiwaiku tentu saja langsung memberitahukan kepadaku, memberitahukan bahwa istrinya telah melahirkan di rumah sakit tersebut.” Jawabnya sambil meganggukan kepalanya.

Dorongan kursi roda akhirnya berhenti, Jaekyung mendongakan kepalanya pada Donghae dengan raut bertanya dan langsung di jawab dengan tangan Donghae yang membantunya untuk berdiri dari kursi roda tersebut.

Dan dari sinilah Han Jaekyung melihat kedua bayi mungil di dalam incubator tersebut sedang tertidur dengan pulasnya. Tanpa sadar kedua mata Jaekyung menitikan air matanya. Ia tidak menyangka bisa menjadi seorang ibu sekarang.

Tanpa sadar Jaekyung langsung memeluk Donghae yang ada di sampingnya. Donghae yang mendapatkan perlakuan seperti itu awalnya tersentak tapi kemudian dia merilekskan tubuhnya, membalas pelukan Jaekyung.

“Sepertinya kedua malaikat kita butuh nama.” Ucapnya sambil melepas pelukan Jaekyung. “yang pertama itu perempuan dan yang kedua laki-laki.” Tambahnya agar Jaekyung tahu mana yang kakak dan mana yang adik.

“Lee Sora untuk yang pertama dan Lee Haru untuk yang kedua.” Jawabnya sambil menatap intes bayinya. Bibirnya terus saja mengembangkan senyuman bahagia. Dan ya Jaekyung sangat bahagia, membuat Donghae yang ada di sampingnya mengluarkan airmatanya.

Tangan kanan Donghae langsung merengkuh bahu Jaekyung agar dekat dengannya. Hatinya terus mengatakan bahwa ia bersyukur karena ia masih ada kesempatan untuk sadar dengan semua yang ia lakukan dengan Hye Mi itu adalah salah. Dan lihat sekarang ia mendapatkan kebahagian yang tak terkira.

Bibirnya ikut mengulas senyuman, matanya terus memandang kedepan melihat anaknya walaupun dari kejauhan. Lalu bibirnya mengucap nama anaknya yang baru di berikan oleh Jaekyung. dan itu menambakan akan kebahagiannya.

“Lee Sora, Lee Haru.”

.

.

.

Owari

Holla, minna! Part 14 selesai ending, owari… part 15 depan nanti epilog yang artinya nampilin kehidupan mereka yang balik dari rumah sakit. Semuanya juga harus di lurusin kan ya? ngga harus Jae langsung maapin Hae.

Aku tau ending ini maksain banget, tapi mau gimana lagi, Cuma ini yang ada di otakku. Dan aku tahu kalian juga pasti merasa ending ini aneh banget. Tapi huahhhh, bukannya mau buru2 nyelesein aku juga merasa ngga kecewa tau2nya ini uda ending. Perasaan aku nulis ini ff baru bulan maret tapi u,u ternyata selesai.

Pokoknya begitu lah, maaf semua kalau ini ngecewain banget. Kalian nunggu lama selama satu bulan tau2nya jadinya kayak gini. Tapi bener deh ah sedih.

Oke deh cuap2nya

Thanks to;

Riri Chan, zhangdelion, Anggraw, hikari.K, AnisManis, park hye ra, quiny, khunong, Cho Anne, Bella N, haera, DessiBoub, kyuwonhae’s wife, Ayunie CLOUDsweetJewel, Helda-elf, parkcheonsa, vievie, dwi1202paturusi, eun vejun, Cheytha, shin hye min, Rahma, haekyura, Aida mustika, mimahsikyuhae, antir, Lilis Oey Moetz, niza, Arfianhyta, tia widhiarti, mokpo, wahyu love minsun. Novi utami, laily shim, salamah, lilydie_kyu, jewelchi, Nayakun. Intan WonKyu wife’s, Intan Andini WKH, Tri tiana, Mrs cho (kyuhyun wife’s), Kyutha sparkyu, funwithfanfiction, Je_JJS, miran yang, kiran lika, Donghae, leva nury, cemet, BabyBoo, maya, wanda, choihyeorie, LittleSparks, Silvia choi, elzi, hyuNI~L.U.V, Han Tae Hyo, Nova Susmala, elly, riana, Rhuky93, azizah_kyubie^^, Aya parkyu, yoon hae, tiwiw, MinMi, adelcho, belasiwon, baesuzyimut, I_gyuri, Tera Kamil, fisnaya, Ima, NNana, jangrihyun, ronnaKarisman, vero ziisoo, Kumako, abel, Aristyana, fransis01, song yoo jin, Fadilah umy, Iani, Gummy eunhyuk, icha violita, , D_cgiet, fitrimadonakyusso21, Fara, Park Sa Ra, yesung, PARK_angel, abrian, Nisamega52, kyuhaemi, rainkpopers, tartar, Laras Ambarsar ( larasambarsarii), Dian Farida, Ellen, yoonielf.

Selamat nunggu epilog part 15 nanti. see you next time dengan fanfic chapter baru kkkk~

64 thoughts on “If This Was a Movie [Part 14]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s